• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II: LANDASAN TEORI

B. Karakter dan Pembentukannya

Karakter dimaknai sebagai cara berfikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara (Samani, 2012:41). Karakter berasal dari Bahasa Yunani yang berarti to mark atau menandai dan memfokuskan bagaimana menerapkan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan nyata atau tingkah laku seseorang. Karakter juga dapat diartikan sebagai tabiat, yaitu perangai atau perbuatan yang selalu dilakukan atau kebiasaan. Karakter adalah mustika hidup yang membedakan manusia dengan binatang (Zubaedi, 2011:1). Karakter diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya yang bergantung pada faktor kehidupannya sendiri. Karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak, budi pekerti yang menjadi ciri khas seorang atau sekelompok orang (Fitri, 2012:20).

Kata akhlak sendiri berasal dari bahasa arab berupa jamak atau bentuk ganda dari kata khuluq yang secara etimologis berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat (Tebba, 2005:65). Akhlak merupakan kelakuan yang timbul dari hasil perpaduan antara hati nurani, pikiran, perasaan, bawaan, dan kebiasaan yang menyatu, membentuk suatu kesatuan tindak akhlak yang dihayati dalam kenyataan hidup keseharian. Dari kelakuan itu lahirlah perasaan moral yang terdapat dalam diri manusia sebagai fitrah, sehingga ia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, mana yang bermanfaat dan mana yang tidak berguna (Daradjat, 1995:10).

Sepintas memang kata moral, akhlak, dan karakter secara terminologi seolah bermakna sama. Namun, jika diselidiki dari makna akarnya kesemuanya memiliki perbedaan. Moral lebih cenderung pada penyampaian nilai yang berkembang dan berlaku di suatu masyarakat. Dengan kata lain moral kurang bersinggungan dengan ranah afektif dan psikomotorik. Sedangkan akhlak, kriteria benar salah dalam menilai suatu perbuatan merujuk pada Al-Quran dan Sunah. Telaah lebih lanjut mengenai akhlak adalah terbentuknya karakter positif dalam perilaku seseorang. Namun dalam implementasinya akhlak cenderung pada sebuah pengajaran right and wrong seperti halnya moral. Sedangkan karakter sendiri merupakan sifat yang mendasar yang ada pada diri manusia. Sering orang juga menyebutnya tabiat atau perangai. Karakter bisa dikatakan lebih tinggi dari moral, karena karakter tidak hanya berkaitan tentang benar salah, tetapi juga bagaimana menanamkan kebiasaan tentang hal baik dalam kehidupan. Jika dikaitkan dengan pendidikan, maka antara moral, karakter, dan akhlak mempunyai orientasi yag sama yaitu pembentuk watak.

Karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang membedakan dengan individu lain (Hidayatullah, 2009:9). Moral sendiri merupakan Karakter itu mengenai sesuatu yang ada dalam diri seseorang yang menyebabkan orang tersebut disifati (Wibowo, 2012:36).

Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut.

Dalam hal ini, M. Noor Rohinah (2012:35) menyatakan bahwa karakter erat kaitannya dengan kepribadian seseorang dimana seseorang bisa disebut orang yang berkarakter jika tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral. Menurut Masnur Muslich (2011:71), “karakter juga berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi positif, bukan netral”. Jadi orang yang berkarakter adalah orang yang mempunyai kualitas moral positif.

Berdasarkan beberapa pengertian yang telah disebutkan sebelumnya dapat diketahui bahwa karakter bersifat memancar dari dalam ke luar. Artinya, kebiasaan dilakukan bukan atas permintaan atau tekanan dari orang lain melainkan atas kesadaran dan kemauan sendiri. Dapat digarisbawahi pula bahwa karakter tidak lain adalah cara berfikir dan berperilaku seseorang. Dua hal ini tidak dapat dipisahkan dalam diri setiap manusia, artinya jika kita bisa berfikir tentang kebaikan maka sejatinya kita juga harus mampu melakukan kebaikan sebagaimana yang kita pikirkan. Tanpa penerapan semacam itu, maka sesuatu yang kita pikirkan hanyalah menjadi sesuatu tidak ada gunanya dalam kehidupan. Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan karakter adalah kualitas moral seseorang dalam berperilaku atas kesadaran diri sendiri sehingga menjadi ciri khas individu dan dapat membedakan dirinya dengan individu lainnya.

Kualitas moral seseorang dalam bertindak sangat dipengaruhi dengan lingkungan. Kenyataannya setiap individu akan terlibat pertemuan dengan orang lain di lingkungan mereka berada, peristiwa ini sangat rentan masalah. Jika masalah muncul bagaimanakah cara menyelesaikannya dengan baik?

Jika seorang individu dapat menguasai diri dengan baik, maka dia dapat menyelesaikan masalah dengan baik pula. Individu yang demikianlah yang dikatakan berkarakter. Kesimpulannya bahwa pembentukan karakter memang sangat penting bagi kehidupan manusia.

Pembentukan karakter pada intinya bertujuan membentuk pribadi yang tangguh, berakhlak mulia, bermoral, toleran, gotong royong dan berjiwa patriotik. Berkaitan dengan hal tersebut, Kesuma dkk (2011:11) menyatakan sebagai berikut:

Tujuan pembentukan karakter yaitu memfasilitasi penguatan dan pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga terwujud dalam perilaku anak,baik ketika proses sekolah maupun setelah lulus sekolah, mengoreksi perilaku peserta didik yang tidak bersesuaian dengan nilai-nilai yang dikembangkan sekolah, membangun koreksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarakat dalam memerankan tanggung jawab pendidikan karakter secara bersama.

Pembentukan karakter yang baik, akan menghasilkan perilaku individu yang baik pula. Pribadi yang selaras dan seimbang serta dapat mempertanggung jawabkan semua tindakan yang dilakukan. Tindakan itu dapat membawa kearah yang lebih baik dan kemajuan.

Terlepas dari tujuan pembentukan karakter, proses seseorang dalam membentuk karakter pastinya telah melalui proses yang panjang dan terus menerus. Dalam proses tersebut terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi sukses tidaknya dalam pembentukan karakter seseorang. Karakter seseorang diukur dengan apa yang dilakukan berdasarkan tindakan sadarnya. Dengan demikian, yang harus diperhatikan adalah faktor yang mempengaruhi

tindakan sadar tersebut. Karakter tidak akan terbentuk tanpa adanya faktor-faktor di dalamnya. Secara umum faktor-faktor-faktor-faktor tersebut terbagi atas dua kelompok yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan kumpulan dari unsur kepribadian atau sifat manusia yang secara bersamaan mempengaruhi perilaku manusia. Faktor internal tersebut diantaranya insting biologis, kebutuhan psikologis dan kebutuhan pemikiran. Insting biologis (dorongan biologis) seperti makan, minum dan hubungan biologis. Karakter seseorang sangat terlihat dari cara dia memenuhi kebutuhan atau insting biologis ini, contohnya adalah sifat berlebihan dalam makan dan minum akan mendorong pelakunya sersifat rakus. Seseorang yang bisa mengendalikan kebutuhan biologisnya akan memiliki karakter mulia yang membawanya kepada karakter sederhana.

Selain dari sisi biologis, faktor yang tidak kalah penting adalah dari sisi psikologi. Psikologi sendiri merupakan ilmu yang mempelajari tingkah laku, khususnya tingkah laku manusia (Islamuddin, 2012:1). Sebagai faktor internal, psikologi seseorang merupakan hal utama dalam menentukan intensitas belajar seseorang (Djamarah, 2011:191), dalam hal ini belajar mengenali diri sampai karakter terbentuk dengan baik. Kebutuhan psikologisseperti kebutuhan akan rasa aman, penghargaan, penerimaan dan aktualisasi diri. Seperti orang yang berlebihan dalam memenuhi rasa aman akan melahirkan karakter penakut, orang yang berlebihan dalam memenuhi kebutuhan penghargaan akan melahirkan karakter sombong dan lain-lain.

Apabila seseorang mampu mengendalikan kebutuhan psikologisnya, maka dia akan memiliki karakter rendah hati.

Kebutuhan pemikiran yaitu kumpulan informasi yang membentuk cara berfikir seseorang seperti mitos dan agama yang masuk ke dalam benak seseorang akan mempengaruhi cara berfikirnya yang selanjutnya mempengaruhi karakter dan perilakunya.

Selain faktor internal ada juga faktor eksternal yang merupakan faktor diluar diri manusia namun secara langsung mempengaruhi perilakunya. Bisa diartikan faktor ini merupakan lingkungan dimana seseorang itu berada. Lingkungan merupakan bagian dari kehidupan (Djamarah, 2011:176). Faktor eksternal paling utama yaitu lingkungan keluarga. Keluarga merupakan media untuk berkomunikasi yang akan mengantarkan dalam pembentukan karakter, Mukti Ali (2017:47) menyatakan:

Keluarga adalah media untuk menyalurkan dan meluapkan aspirasi hati yang terpendam. Sebagai salah satu sarana untuk kontrol diri, cermin, inspirasi, motivasi, dan pembentukan pandangan. Untuk itu komunikasi dalam keluarga harus terjalin dengan baik dan terbuka untuk pencapaian karakter dalam pertumbuhan menjadi seseorang.

Nilai-nilai yang berkembang dalam keluarga, kecenderungan-kecenderungan umum serta pola sikap kedua orang tua terhadap anak akan sangat mempengaruhi perilaku dalam semua tahap pertumbuhan seseorang. Orang tua yang bersikap demokratis dan menghargai anaknya secara baik, akan mendorong anak itu bersikap hormat pada orang lain. Sikap demokratis dalam keluarga ditandai oleh adanya peraturan dan kebebasan, sehingga setiap anak akan mengetahui bahwa setiap tindakan mengandung konsekuensi

(Mukti Ali, 2017:50). Sikap otoritatif yang berlebihan akan menyebabkan anak menjadi minder dan tidak percaya diri.

Selain lingkungan keluarga, lingkungan sosial juga merupakan faktor eksternal dalam pembentukan karakter. Nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat dan membentuk pola sistem sosial, ekonomi, dan politiknya serta mengarahkan perilaku umum mereka, kemudian kita sebut dengan budaya. Anak yang tumbuh di tengah lingkungan masyarakat yang menghargai nilai waktu, biasanya akan menjadi disiplin. Persaingan yang membudaya dalam suatu masyarakat akan mendorong anggota-anggotanya bersifat ambisius dan mungkin sulit mencintai orang lain.

Faktor eksternal yang terakhir yaitu lingkungan pendidikan. Institusi pendidikan normal yang sekarang mengambil begitu banyak waktu pertumbuhan setiap orang, dan institusi pendidikan informal seperti media massa dan masjid, akan mempengaruhi perilaku seseorang sesuai dengan nilai-nilai dan kecenderungan-kecenderungan yang berkembang dalam lingkungan tersebut. Orientasi pada sistematika dan akurasi pada pendidikan formal membuat orang bersikap hati-hati, teratur, dan jujur. Sementara nilai-nilai konsumerisme yang berkembang lewat media massa yang telah menjadi corong industri membuat orang menjadi konsumtif dan hedonis.

Pendapat lain menyatakan perkembangan karakter setiap individu dipengaruhi oleh faktor bawaan dan faktor lingkungan (Zubaedi, 2011:109). Kedua faktor ini pembentukan karakter dimulai. Faktor bawaan erat kaitannya dengan masing-masing individu dalam pembentukan karakternya

karena setiap manusia memiliki potensi bawaan dari lahir termasuk potensi yang berkaitan dengan karakter. Sedangkan faktor lingkungan berkaitan dengan nilai-nilai yang akan tertanam dalam diri seseorang baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun lingkungan yang lebih luas sehingga mempengaruhi seseorang.

Untuk membentuk karakter juga diperlukan syarat-syarat mendasar bagi terbentuknya karakter yang baik. Berkaitan dengan hal tersebut, Megawangi (dalam Zubaedi, 2011:111) menyatakan sebagai berikut.

Syarat pembentukan karakter yang harus dipenuhi yaitu, maternal bonding, rasa aman, dan stimulasi fisik dan mental. Maternal bonding merupakan dasar penting dalam pembentukan karakter anak karena aspek ini berperan dalam pembentukan kepercayaan orang lain pada anak. Kebutuhan rasa aman yaitu kebutuhan anak dalam lingkungan yang stabil dan aman.

Kebutuhan ini sangat penting bagi pembentukan karakter anak karena lingkungan yang berubah-ubah akan membahayakan perkembangan emosi anak yang akan berpengaruh pada perkembangan karakter anak. Kebutuhan stimulasi fisik dan mental juga merupakan aspek penting dalam pembentukan karakter.

Melihat faktor-faktor yang telah disebutkan, telah jelas sekali bahwa memang dalam sebuah karakter tidak dapat tumbuh begitu saja, ada banyak faktor yang melatarbelakangi adanya pembentukan karakter tersebut. Faktor internal yakni yang berasal dari diri sendiri, misalnya cara makan, cara berfikir, dan lain-lain. Faktor yang tidak kalah pentingnya yaitu faktor keluarga, faktor tambahan yang ikut membantu sebuah karakter anak terbentuk. Pada intinya karakter terbentuk berawal dari dalam diri

masing-masing individu, yang selanjutnya dipengaruhi banyak faktor eksternal yang berada di sekitarnya.

Dengan adanya faktor-faktor tersebut yang telah disebutkan, proses pembentukan karakter dilihat sebagai usaha sadar seseorang secara sadar, bukan usaha yang sifatnya terjadi secara kebetulan. Atas dasar ini pembentukan karakter merupakan usaha yang dilakukan secara sungguh-sungguh untuk memupuk nilai-nilai etika pada diri seorang individu. Upaya untuk mengimplementasikan pembentukan karakter perlu dilakukan dengan pendekatan yang holistis, yaitu mengintegrasikan pembentukan karakter ke dalam setiap sektor kehidupan, salah satunya di lingkungan pendidikan dengan adanya pendidikan ekstra. Banyak sekali pendidikian ekstra yang ada di lingkungan pendidikan salah satunya pramuka sebagai tempat pembentukan karakter yang berupaya memanfaatkan dan memberdayakan semua yang ada untuk membentuk, memperbaiki, menguatkan dan menyempurnakan karakter seseorang.

Muchlas Samani dan Hariyanto (2013) menyatakan bahwa pengembangan karakter terbagi dalam empat pilar; pertama, kegiatan pembelajaran di kelas, terintegrasi ke dalam KBM pada setiap mata pelajaran; kedua, kegiatan keseharian dalam bentuk budaya sekolah (school culture), dengan pembiasaan pada peserta didik; ketiga, kegiatan kokurikuler dan atau ekstra kurikuler, seperti pramuka, olahraga, dan sebagainya; sedangkan yang keempat, kegiatan keseharian di rumah dan di masyarakat, dengan menerapkan pembiasaan yang dilakukan di sekolah. Pastinya dari keempat

pilar tersebut perlu adanya keterkaitan satu sama lain agar pembentukan karakter dapat maksimal.

Karena penelitian ini fokus pada pembentukan karakter melalui pramuka di Racana Kusuma Dilaga-Woro Srikandhi pangkalan IAIN Salatiga maka tentunya pembentukannya juga sangat terkait dengan manajemen di dalamnya. Manajemen ini tentunya merupakan bagian dari pembentukan karakter yang direncanakan, dilaksanakan dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan yang telah disusun sebelumnya. Setiap kegiatan-kegiatan yang dilakukan mengandung dan mendorong setiap anggotanya dalam menghayati nilai-nilai dalam kode kehormatan pramuka yang berlandaskan pancasila. Muchlas Samani menyebutkan pusat kurikulum telah mengidentifikasi sejumlah nilai pembentuk karakter yang merupakan hasil kajian empirik. Nilai-nilai yang bersumber dari agama, pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional tersebut adalah: (1) Religius, (2) Jujur, (3) Toleransi, (4) Disiplin, (5) Kerja Keras, (6) Kreatif, (7) Mandiri, (8) Demokratis, (9) Rasa Ingin Tahu, (10) Semangat Kebangsaan, (11) Cinta Tanah Air, (12) Menghargai Prestasi, (13) Bersahabat/Komunikatif, (14) Cinta Damai, (15) Gemar Membaca, (16) Peduli Lingkungan, (17) Peduli Sosial, dan (18) Tanggung Jawab. Nilai-nilai ini sesuai dengan karakter bangsa Indonesia yang memiliki masyarakat majemuk.

Karakter yang telah terbentuk akan sulit untuk dirubah, akan tetapi tidak ada istilah terlambat dalam upaya pembentukan maupun mengubah karakter, kita tetap perlu membina dan mengembangkannya secara bertahap,

bertingkat dan berkelanjutan. Dalam hal ini, M. Noor Rohinah (2012:41) menyatakan ada tiga langkah dalam mengubah karakter seseorang yaitu terapi kognitif, terapi mental dan perbaikan fisik. Terapi kognitif merupakan cara paling efektif untuk memperbaiki karakter dan mengembangkannya adalah dengan memperbaiki cara berfikir. Terapi mental merupakan warna perasaan kita adalah cerminan bagi tindakan kita. Tindakan yang harmonis akan mengukir lahir dari warna perasaan yang kuat dan harmonis. Perbaikan fisik sebagaimana yang dikatakan ahli kesehatan, dasar-dasar kesehatan itu tercipta melalui perpaduan yang baik antara tiga unsur yaitu: gisi makanan yang baik dan mencukupi kebutuhan, olahraga yang terarur dalam kadar yang cukup, dan istirahat yang cukup dan memenuhi kebutuhan relaksasi tubuh.

Dokumen terkait