BAB III: PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
C. Temuan Penelitian
Setelah melakukan penelitian dengan menggunakan beberapa metode yang telah disebutkan sebelumnya, peneliti mendapatkan data mengenai pembentukan karakter mahasiswa melalui penerapan dasadarma butir ke delapan (disiplin, berani, dan setia), yaitu dengan cara wawancara kepada sebagian pengurus, anggota Racana dan juga pihak yang sesuai, dalam hal ini adalah beberapa alumni Racana Kusuma Dilaga-Woro Srikandhi. Dalam penelitian ini responden yang peneliti gunakan berjumlah 20 orang. Identitas responden sebagai berikut:
Tabel 3.3
Daftar Informan Pengurus dan Anggota Racana Kusuma Dilaga-Woro Srikandhi
NO. NAMA JABATAN
1. Arsyad Bagus Saputra Ketua Racana 02.237
2. Laili Safa’ah Ketua Racana 02.238
3. Rifa’atul Muna Sekretaris 02.238
4. Bayu Prasetyo Komandan Brigsus 5. Sofatun Jamilah Pemangku Adat Brigsus 6. Diah Ayu Sita Resmi Anggota Racana
7. Dyah Puspitasari Anggota Racana 8. Luzman Rifqi Anggota Racana 9. Khoirul Alfani Anggota Racana 10. Albarra R.A Anggota Racana 11. Kristina Mayasari Anggota Racana 12. Reigiana Dyah Antari Anggota Racana
13. Al Mu’kharomi Zailani Anggota Racana
14. Al Mu’rismillah Zailani Anggota Racana
15. Edy Setiyawan Anggota Racana
Tabel 3.4
Daftar Informan Racana Alumni Kusuma Dilaga-Woro Srikandhi
No. Nama
1. M. Nurul Huda, S.Pd.I 2. Nurrochim, S.Pd.I 3. Saiful Hadi, S.Pd.I
4. Noor Sahid Manggolo, S.Pd.I
Wawancara kali ini bertujuan untuk mengumpulkan data mengenai makna karakter, kandungan dasadarma butir ke delapan, dan penerapan dasadarma butir ke delapan dalam pembentukan karakter mahasiswa. Hasil wawancara dengan beberapa narasumber diketahui beberapa makna dari karakter antara lain karakter merupakan jati diri pembentuk watak dan juga akhlaqul karimah manusia. M. Nurul Huda mengatakan:
Karakter itu pembentuk watak atau perilaku seseorang, jika dikaitkan dengan pramuka karakter itu sebuah jati diri yang berlandaskan kode etik pramuka yaitu satya dan dasadarma pramuka, dan jika dikaitkan dengan agama karakter itu sebuah perilaku yang yang membentuk akhlaqul karimah manusia.(wawancara, 11/01/2017)
Noor Sahid Manggolo mempertegas tentang makna karakter selain sebagai jati diri juga karakter sebagai refleksi diri ke dunia luar. Setiap apa yang dilakukan mencerminkan apa yang ada di dalam diri seseorang.
Karakter itu jati diri seseorang, bisa juga dikatakan sebagai refleksi diri kita ke dunia luar, tanpa adanya itu pasti kita tak akan bisa memperlihatkan seberapa kemampuan kita bagi orang lain. (wawancara, 11/01/2017)
Sedangkan Saiful Hadi mengatakan bahwa karakter merupakan susunan cara berfikir yang membentuk pola pemikiran seseorang, bisa dikatakan setiap individu pasti memiliki perbedaan satu sama lain. Saiful Hadi berpendapat:
Karakter itu semacam pola pemikiran yang terpancar dari diri seseorang, dari sana kita bisa simpulkan mana orang yang berkarakter dan mana tidak. (wawancara, 11/01/2017).
Karakter juga dimaknai sebagai akhlaq, sifat, budi pekerti, dan tingkah laku. Akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang serta nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Laili Syafa’ah mengemukakan bahwa karakter itu akhlak atau budi pekerti.
Karakter adalah suatu tabiat, akhlaq atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain(wawancara, 20/12/2016). Dipertegas lagi pendapat Khoirul Alfani yang mengemukakan karakter merupakan perilaku yang membedakan antar individu. Perilaku disini yang dilakukan secara sadar tanpa ada paksaan dari manapun, sehingga perilaku yang nampak terlihat natural sebagai pembeda antar individu.
Karakter adalah watak, budi pekerti dan perilaku seseorang individu yang membedakan satu orang individu dengan individu lain (wawancara, 21/12/2016)
Edy Setiyawan mengemukakan bahwa karakter diartikan sebagai tingkah laku.
Karakter bisa diartikan sebuah tingkah laku yang terbentuk dan melekat pada individu,berarti setiap individu itu berbeda-beda. (wawancara, 31/01/2017)
Luzman Rifqi mengemukakan karakter itu merupakan sifat dari seorang individu.
Karakter adalah sifat yang melekat pada individu yang membedakan antar individu (wawancara, 21/12/2016).
Setelah mengetahui pendapat responden mengenai makna karakter kemudian peneliti menggali informasi lagi apakah karakter yang sudah terbentuk bisa dirubah atau tidak. Pada dasarnya karakter bisa dibentuk atau dirubah dengan cara pembiasaan. Proses pembiasaan diri memiliki arti penting dalam kesuksesan membentuk karakter. Untuk itu dalam berhasilnya sebuah pembentukan karakter bukanlah pada perbuatan semata melainkan sebuah pembiasaan, dan dalam mengawali pembiasaan yang positif itu melalui keteladanan yang baik pula di lingkungan seseorang tinggal.
M. Nurul Huda berpendapat: “karakter yang terbentuk bisa saja dirubah, dengan cara pendoktrinan nilai-nilai karakter, kalau ditataran mahasiswa ini lebih mudah untuk memasukkan doktrin-doktrin, entah itu doktrin yang baik atau buruk, nah setelah pendoktrinan ini tinggal pembiasaan saja.” (wawancara, 11/01/2017).
Khoirul Alfani juga berpendapat bahwa karakter yang telah dibentuk bisa dirubah dengan cara pembiasaan.
Menurut saya karakter yang sudah terbentuk itu bisa dirubah yaitu dengan cara pembiasaan dan dorongan motivasi yang kuat pastinya. (wawancara, 21/12/2016)
Menurut penuturan Sofatun Jamilah karakter yang terbentuk juga bisa dirubah dengan pembiasaan dikehidupan sehari-hari. (wawancara, 24/12/2016). Dipertegas lagi penuturan Kristina Mayasari:
Karakter yang terbentuk bisa saja dirubah, misalkan melalui pembiasaan yang baru,mungkin melalui terapi sikap juga bisa merubah karakter seseorang. (wawancara, 23/12/2016).
Menurut penuturan Reigiana Dyah Antari: “bisa, melalui pendidikan karakter kan bisa, atau mungkin dengan cara pembiasaan perilaku positif” (wawancara, 23/12/2016)
Sedangkan menurut penuturan Albarra R.A:
Menurut saya karakter yang terbentuk bisa dirubah, dengan pembiasaan sehari-hari atau mungkin diterapi psikologi, karena karakter kan berkaitan denganpsikologi (wawancara, 22/12/2016).
Data selanjutnya yang ingin diketahui dari wawancara adalah mengenai kandungan dasadarma butir ke delapan, dari hasil wawancara peneliti telah menghimpun beberapa jawaban responden mengenai hal tersebut. M. Nurul Huda berpendapat dengan adanya dasadarma ke delapan setiap anggota pramuka harus memiliki jiwa disiplin dan berani dalam hal apapun.
Dari dasadarma ke delapan itu kan mengharuskan kita untuk disiplin dalam hal apapun pastinya, berani, kalau saya mengartikan berani itu dengan slogan jangan bilang tidak bisa sebelum mencoba, nah itu yang saya pakai sampai sekarang dan saya juga berharap anggota Racana juga menerapkan hal seperti ini supaya bisa tertanam sifat berani dalam dirinya. (wawancara, 11/01/2017)
Rifa’atul Muna mengungkapkan dasadarma itu berisi aturan untuk disiplin, bersikap berani dan juga setia.
Dasadarma butir kedelapan itu ya aturan yang mengharuskan anggota pramuka agar disiplin, mempunyai sikap berani dan juga setia. (wawancara, 22/12/2016).
Hal ini dipertegas pernyataan Laili Syafa’ah yang menyatakan bahwa dasadarma ke delapan itu sebuah aturan yang mengharuskan anggota pramuka bersikap disiplin, lebih berani bertindak dan setia pada aturan. (wawancara, 20/12/2016). Diperkuat lagi pernyataan dari Diah Ayu Sita Resmi yang menyatakan:
Dasadarma ke delapan itu sebuah nilai yang dapat membuat diri kita disiplin waktu, menghargai waktu,berani dalam mengambil keputusan dan setia pada janji.(wawancara, 19/12/2016).
Dari beberapa pernyataan tersebut dapat diketahui dasadarma ke delapan mengandung nilai karakter disiplin, berani dan juga karakter setia, sesuai bunyi dari dasadarma ke delapan itu sendiri yaitu Disiplin, Berani dan Setia. Disiplin sendiri memiliki makna sikap untuk berusaha menjalankan aturan. Edy Setiyawan berpendapat: “disiplin merupakan sikap seseorang yang berusaha untuk menjalankan aturan yang mengikat.” (wawancara, 31/01/2017). Diperkuat lagi pernyataan Albarra R.A: “Disiplin itu melaksanakan segala sesuatu sesuai aturan yang berlaku, runtut,tertib dan rajin”. (wawancara, 22/12/2016).
Berani memiliki makna sebuah tindakan yang tidak mementingkan resiko, Rifa’atul Muna berpendapat: “berani itu sebuah tindakan yang tanpa melihat resiko yang dihadapi.”(wawancara, 22/12/2016).
Dipertegas pendapat Edy Setiyawan yang menyatakan: “berani adalah sikap individu yang dimana tanpa melihat resiko dari sebuah perbuatan, tetapi juga waspada.” (wawancara, 31/01/2017).
Bayu Prasetyo berpendapat: “menurut saya berani itu karakter yang tanpa mempedulikan akibat yang akan dihadapi.” (wawancara, 23/12/2016).
Setia memiliki makna berpegang teguh pada komitmen, Lu’luk Soraya berpendapat:
Setia itu berhubugan dengan komitmen, jadi setia bisa dikatakan sebuah sikap yang memegang teguh sebuah komitmen awal dalam sebuah hubungan.(wawancara, 26/01/2017).
Arsyad Bagus Saputra berpendapat: “Setia adalah bertahan dan mempertahankan, dalam situasi apapun pastinya.”(wawancara, 19/12/2016)
Edy Setiyawan berpendapat: “setia itu kalau menurut saya sebuah sikap yang mengharuskan seseorang untuk memenuhi sebuah komitmen awal mas.” (wawancara, 31/01/2017).
Setelah mengetahui makna karakter dan kandungan dasadarma butir ke delapan, perlu diketahui pula bagaimana penerapan dasadarma butir ke delapan dalam pembentukan karakter mahasiswa. Hasil penelitian dan hasil wawancara, pembentukan karakter memang ada di Racana Kusuma Dilaga-Woro Srikandhi. Saat penerimaan anggota baru pun pembentukan karakter sudah dilakukan, seperti yang diungkapkan Kristina Mayasari:
Di racana memang ada pembentukan karakter, seperti saat penerimaan anggota itu kan juga merupakan langkah awal Racana dalam pendidikan sekaligus pembentukan karakter. (wawancara, 23/12/2016).
Pembentukan karakter di Racana Kusuma Dilaga- Woro Srikandhi secara umum telah dikemas dalam kegiatan-kegiatan yang melibatkan seluruh anggota Racana. Kegiatan-kegiatan tersebut pembentukan karakter pun dapat dilakukan, hal ini seperti yang diutarakan Sofatun Jamilah:
Kan ada banyak kegiatan racana, nah setiap kegiatan itu pasti terselip pembentukan karakter, contohnya saat latihan rutin PBB diajarkan untuk disiplin, saat anggota racana bina SGT (Siaga,Galang, Tegak) di sekolahan-sekolahan,mereka dituntut untuk setia slalu membawa nama baik racana dan juga IAIN Salatiga. (wawancara, 24/12/2016)
Anggota racana dilatih untuk bisa membantu seorang pembina dalam melakukan kegiatan kepramukaan di suatu pangkalan. Bina SGT (Siaga, Galang, Tegak) disini maksudnya adalah menerjunkan langsung anggota Racana di suatu pangkalan Pramuka, baik itu tingkat Siaga, Penggalang, maupun Penegak. Racana bertugas memfasilitasi anggotanya dengan cara menyalurkan ke suatu pangkalan pramuka dan membuat kontroling didalamnya. Kegiatan ini dapat dijadikan kegiatan pembentukan karakter berani dan setia. Hal yang sama juga diungkapkan Laili Syafa’ah:
Di racana pembentukan karakter itu ada, kan memang di Racana kegiatan yang dilakukan untuk membentuk karakter anggotanya. (wawancara, 20/12/2016)
M. Nurul Huda juga mengutarakan bahwa pembentukan karakter di Racana dikemas dalam kegiatan, beliau berpendapat:
Banyak sekali kegiatan di Racana yang bisa membentuk karakter anggotanya, seperti yang saya alami saat pendidikan Brigsus, disana merubah karakter disiplin saya dalam makan dan sampai sekarangpun saya masih menerapkannya, bahwa makan itu harus sampai habis sampai titik butir nasi sekecil apapun, dan bagaimana cara saya menghargai waktu juga saya dapatkan di kegiatan Brigsus. Kalau saya
melihat yang sekarang juga tidak jauh beda dengan yang saya alami dulu. (wawancara, 11/01/2017)
Dipertegas lagi dengan pendapat Nurrochim:
Kalau selama saya jadi anggota Racana dulu pembentukan karakter itu terjadi saat ikut kegiatan, misalnya saat kegiatan laporan pertangungjawaban, secara otomatis itu membangun karakter tanggungjawab lho, ada lagi dalam kegiatan rapat yang memancing setiap anggota yang hadir untuk berani bicara menyampaikan unek-unek, itu juga membentuk karakter berani mereka dan mungkin sampai sekarangpun itu masih berlaku. (wawancara, 11/01/2017)
Pelaksanaan pembentukan karakter pada anggota Racana ini secara umum dilakukan melalui proses belajar di dalam suatu kegiatan. Dengan adanya kegiatan-kegiatan secara langsung maupun tidak langsung, setiap anggota akan belajar membentuk karakter. Konsep pembentukan karakter yang terkandung dalam setiap kegiatan menggunakan dasar berupa kode kehormatan pramuka yaitu dasadarma yang di dalamnya mengandung nilai-nilai baik. Dengan demikian pembentukan karakter bisa dilakukan dengan cara menerapkan kandungannya. Diah Ayu Sita Resmi berpendapat:
Karakter adalah sikap, jadi besar kemungkinan bisa dibentuk, apalagi melalui dasadarma, karena nilai dari karakter sama dengan nilai dasadarma, dengan metode dan prinsip yang benar maka karakter bisa dibentuk dengan baik.(wawancara, 19/12/2016)
Pernyataan serupa diungkapkan Arsyad Bagus Saputra:
Karena dalam dasadarma mengandung nilai-nilai baik maka dengan menerapkannya akan membentuk karakter seseorang. (wawancara, 19/12/2016)
Laili Syafa’ah berpendapat:
Karena di dalam dasadarma terkandung nilai-nilai baik yang pasti akan membentuk karakter siapapun yang menerapkannya. (wawancara, 20/12/2016)
Dari beberapa pernyataan narasumber tersebut dapat digaris bawahi bahwa dengan menerapkan dasadarma dapat membentuk karakter seseorang. Dari kesepuluh isi dasadarma penelitian ini memfokuskan pada pembentukan karakter melalui penerapan dasadarma butir kedelapan yaitu disiplin, berani dan setia. Ada beberapa kegiatan yang dapat membentuk karakter sesuai dasadarma ke delapan, contohnya kegiatan rapat rutin yang bisa membentuk keberanian. Menurut penuturan Albarra R.A:
Saya juga merasakannya, di racana pembentukan karakter itu dilakukan melalui kegiatan-kegiatan, contohnya kegiatan rapat, anggota diharapkan berani berpendapat, otomatis membentuk karakter berani. (wawancara, 22/12/2016).
Selain kegiatan rapat ada juga kegiatan yang mendorong anggota Racana untuk disiplin yaitu latihan rutin Peraturan Baris Berbaris (PBB). Seperti yang diungkapkan Dyah Puspitasari:
Melalui kegiatan-kegiatan di Racana banyak penerapannya, misalnya konservasi alam,itu kan penerapan dasadarma ke dua, latihan rutin Peraturan Baris Berbaris melatih disiplin sebagai penerapan dasadarma ke delapan. (wawancara, 21/12/2016).
Sebagai wujud bahwa anggota Racana memiliki karakter sesuai dengan Dasadarma butir kedelapan dapat dilihat dari perilaku yang dilakukan. Sebagai contoh anggota Racana melaksanakan sholat tepat waktu sebagai wujud disiplin waktu. Hal ini seperti yang diungkapkan Sofatun Jamilah dan Kristina Mayasari:
Contohnya ketika datang waktu sholat, banyak anggota racana yang langsung melaksanakan sholat, ini kan wujud disiplin waktu, terus saat menjadi panitia kegiatan anggota racana berani melaksanakan tugas sebagai panitia, kalau setia istu saat anggota mengajar ke sekolah-sekolah, mereka setia membawa nama baik racana. (wawancara, 24/12/2016).
Ya seperti yang saya utarakan tadi, bahwa anak racana setelah adanya pendidikan mengalami perubahan karakter disiplin, contohnya seperti sholat berjamaah di sanggar tepat waktu, selalu berusaha tepat waktu menghadiri undangan rapat, dalam forum diskusi maupun rapat lebih bisa berani mengungkapkan pendapat dan juga patuh terhadap aturan ketua. (wawancara. 23/12/2016).
Dalam pembentukan karakter perlu diadakannya kedisiplinan, salah satunya adalah kedisiplinan dalam melaksanakan ibadah shalat. Karena dengan disiplin melaksanakan shalat anggota Racana melatih pembinaan disiplin kepribadiannya. Dengan melakanakan shalat, seseorang akan menumbuhkan sikap disiplin, yang dimaksud disiplin disini adalah ketepatan waktu dan kekhusyuan seseorang dalam mengerjakan shalat setiap hari. Dengan pengaturan waktu shalat, akan membuat dampak atau efek disiplin dalam hidup kita. Dengan melaksanakan kewajiban shalat, seseorang dapat menumbuhkan kesadaran akan pentingnya waktu dalam kehidupan sehari-hari. Selain disiplin waktu anggota Racana juga disiplin diri, seperti penuturan Arsyad Bagus Syaputra:
Pastinya ada, contohnya seperti saat anggota selalu berusaha berpakaian rapi, berani berpendapat, setia iuran Gudep. (wawancara, 19.12.2016).
Proses pembentukan karakter disiplin ini didasari pengalaman dari setiap anggota Racana di setiap kegiatan yang dilakukan, pengalaman disini adalah keseluruhan peristiwa yang pernah dialami oleh seseorang baik secara langsung maupun tidak langsung dalam perjalanan hidupnya. Pengalaman seseorang juga mempunyai pengaruh terhadap pembentukan karakter.
Racana Kusuma Dilaga-Woro Srikandhi mengedepankan pembentukan karakter malalui kegiatan. Setiap anggota diarahkan untuk mengikuti setiap kegiatan yang telah direncanakan. Lingkungan yang dihadapi memberikan pengalaman bagi anggota yang akan membentuk karakternya dan juga mempengaruhi kepribadian. Lingkungan di Racana Kusuma Dilaga-Woro Srikandhi, keluarga, dan juga mayarakat yang baik terutama di bidang nilai dan kebiasaan-kebiasaan hidup akan membentuk kepribadian, dalam hal ini adalah karakter anggota Racana Kusuma Dilaga-Woro Srikandhi. Pembiasaan merupakan salah satu faktor penting dalam membentuk dan menempa disiplin, pembiasaan juga merupakan suatu proses yang di dalamnya ada beberapa aturan atau prosedur yang harus diikuti. Misalnya, gerakan-gerakan latihan, mematuhi atau mentaati ketentuan-ketentuan atau peraturan-peraturan, proses membiasakan hidup dalam kelompok, menumbuhkan rasa setia kawan, kerja sama yang erat dan sebagainya. Peraturan-peraturan tersebut merupakan faktor-faktor penting dalam suksesnya mencapai tujuan tertentu. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari nilai-nilai karakter tersebut juga sangat penting.
54
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Makna Karakter
Agus Zaenul Fitri berpendapat sebagaimana dikutip pada landasan teori karakter diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya yang bergantung pada faktor kehidupannya sendiri. Karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak, budi pekerti yang menjadi ciri khas seorang atau sekelompok orang. Dipertegas lagi pendapat M. Furqon Hidayatullah bahwa karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang membedakan dengan individu lain. Dari kedua pendapat tersebut dapat diketahui bahwa karakter merupakan pembeda antar individu satu dengan yang lainnya yaitu berwujud budi pekerti yang terpancar dari perilakunya. Hasil wawancara dengan beberapa anggota Racana Kusuma Dilaga-Woro Srikandhi juga ditemukan makna karakter adalah suatu perilaku yang membedakan individu satu dengan yang lainnya.
M. Noor Rohinah menyatakan sebagaimana dikutip pada landasan teori bahwa karakter erat kaitannya dengan kepribadian seseorang dimana seseorang bisa disebut orang yang berkarakter jika tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral. Kaidah moral dalam Pramuka terdapat dalam kode etik Pramuka yaitu Satya dan Dasadarma Pramuka, sebagaimana yang tertera pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka,
dasadarma dapat diartikan sebagai ketentuan moral bagi anggota Gerakan Pramuka golongan Penggalang, Penegak, Pandega, dan anggota dewasa. Maka jika dikaitkan dengan pramuka karakter merupakan jati diri yang berlandaskan kode etik pramuka yaitu dasadarma pramuka yang mengandung nilai moral. Hal ini didapat dari hasil wawancara dengan M. Nurul Huda beliau juga berpendapat bahwa karakter itu pembentuk watak atau perilaku seseorang, jika dikaitkan dengan pramuka karakter itu sebuah jati diri yang berlandaskan kode etik pramuka yaitu satya dan dasadarma pramuka, dan jika dikaitkan dengan agama karakter itu sebuah perilaku yang yang membentuk akhlaqul karimah manusia.
B. Kandungan Dasadarma Butir ke Delapan
Berdasarkan data yang diperoleh, dasadarma butir ke delapan apabila diterapkan dengan baik dan benar akan membentuk tiga karakter bagi siapa saja yang menerapkannya yaitu karakter disiplin, karakter berani dan karakter setia. Sebagaimana hasil wawancara dengan M. Nurul Huda beliau menyatakan dasadarma ke delapan itu mengharuskan kita untuk disiplin dalam hal apapun dan berani bertindak. Nilai disiplin, berani, dan setia secara nyata telah disebutkan pula dalam nilai-nilai pembangun karakter bangsa. Menurut Tulus Tu’u sebagaimana dikutip dalam landasan teori menyatakan istilah disiplin kerapkali terkait dan menyatu dengan istilah tata tertib dan ketertiban. Istilah ketertiban mempunyai arti kepatuhan seseorang dalam mengikuti peraturan atau tata tertib karena didorong atau disebabkan oleh
sesuatu yang datang dari luar dirinya. Sebaliknya, istilah disiplin sebagai kepatuhan dan ketaatan yang muncul karena adanya kesadaran dan dorongan dari dalam diri orang itu. Hasil wawancara beberapa responden juga menyatakan bahwa disiplin sebagai sebuah tindakan yang patuh terhadap aturan yang telah disepakati. Menurut Albarra R.A sebagaimana hasil wawancara dia berpendapat disiplin itu melaksanakan segala sesuatu sesuai aturan yang berlaku, runtut, tertib dan rajin. Sikap disiplin yang bisa dilihat di Racana Kusuma Dilaga-Woro Srikandhi adalah saat datang waktu sholat banyak anggota yang segera melaksanakannya. Contoh lain anggota Racana Kusuma Dilaga-Woro Srikandhi berusaha untuk tidak melanggar aturan.
Menurut Indra Munawar yang sudah dikutip pada landasan teori keberanian yaitu adalah suatu sikap untuk berbuat sesuatu dengan tidak terlalu merisaukan kemungkinan-kemungkinan buruk. Ada beberapa ciri-ciri keberanian menurut Indra Munawar antara lain adanya tekad, percaya diri, konsistensi, dan optimisme. Keberanian merupakan suatu kualitas karakter yang mesti dipupuk dalam diri seseorang, dengan demikian anggota Racana Kusuma Dilaga-Woro Srikandhi harus berani bertindak tanpa harus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Sebagai contoh harus berani merumuskan kegiatan dan juga berani mempertanggungjawabkan dari hasil kegiatan yang telah dilaksanakan. Hasil pertanggungjawaban semacam ini dilaksanakan pada kegiatan Laporan Pertanggung Jawaban, dari kegiatan inilah karakter berani anggota Racana Kusuma Dilaga-Woro Srikandhi dibentuk.
Sebagaimana data yang diperoleh pada landasan teori kandungan dasadarma ke delapan yang terakhir yaitu kesetiaan. Setia atau kesetiaan dua kata yang hampir mempunyai kesamaan makna, yaitu mengabdikan keyakinan hati terhadap orang lain yang membuat diri kita merasa aman dan terlindungi, yang membuat kita jadi bahagia, yang membuat kita bisa bertahan hidup dan bisa mengatasi segala permasalahan hidup kita, itulah setia yang hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang berhati tulus dan konsekuen.
C. Penerapan Dasadarma Butir ke Delapan Dalam Pembentukan
Karakter Mahasiswa
Berdasarkan data yang diperoleh, pembentukan karakter yang dilakukan Racana Kusuma Dilaga-Woro Srikandhi dikemas dalam kegiatan. Diantara nya kegiatan Latihan Rutin, Bina SGT (Siaga, Galang, Tegak), dan rapat koordinasi. Latihan rutin merupakan penerapan dari teori belajar behavioristik yang dikemukakan oleh para tokoh psikologi behavioristik seperti Thorndike, Pavlov, Watson dan Guthrie. Mereka berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran (reward) dan penguatan (reinforcement) dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioral dan stimulusnya