• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakter Fisik Permukiman

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

2.3 Karakter Fisik Permukiman

Dalam pembangunan permukiman, menurut Johan Silas (1993), suatu permukiman hendaknya mengikuti kriteria bagi permukiman yang baik dengan memenuhi yaitu yang berkaitan dengan aspek fisik yang meliputi letak geografis;

lingkungan alam dan binaan; sarana dan prasarana, dan non fisik yang meliputi aspek politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

2.3.1 Identifikasi kondisi fisik alam

Menurut Parwata (2004) permukiman terdiri dari: (1) isi, yaitu manusia sendiri maupun masyarakat; dan (2) wadah, yaitu fisik hunian yang terdiri dari alam dan elemen-elemen buatan manusia. Dua elemen permukiman tersebut, selanjutnya dapat dibagi ke dalam lima elemen yaitu: (1) alam yang meliputi: topografi, geologi, tanah, air, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan iklim; (2) manusia yang meliputi:

kebutuhan biologi (ruang,udara, temperatur, dsb), perasaan dan persepsi, kebutuhan emosional, dan nilai moral; (3) masyarakat yang meliputi: kepadatan dan komposisi penduduk, kelompok sosial, kebudayaan, pengembangan ekonomi, pendidikan, hukum dan administrasi; (4) fisik bangunan yang meliputi: rumah, pelayanan masyarakat (sekolah, rumah sakit, dsb), fasilitas rekreasi, pusat perbelanjaan dan pemerintahan, industri, kesehatan, hukum dan administrasi; dan (5) jaringan (network) yang meliputi: sistem jaringan air bersih, sistem jaringan listrik, sistem transportasi, sistem komunikasi, sistem manajemen kepemilikan, drainase dan air kotor, dan tata letak fisik.

2.3.2 Identifikasi kondisi bangunan

Pola penyebaran pembangunan perumahan dan permukiman di wilayah desa kota menurut Koestoer (1995), pembentukannya berakar dari pola campuran antara ciri perkotaan dan perdesaan. Ada perbedaan mendasar pola pembangunan permukiman di perkotaan dan perdesaan. Wilayah permukiman di perkotaan sering disebut sebagai daerah perumahan, memiliki keteraturan bentuk secara fisik. Artinya sebagian besar rumah menghadap secara teratur ke arah kerangka jalan yang ada dan sebagian besar terdiri dari bangunan permanen, berdinding tembok dan dilengkapi dengan penerangan listrik. Kerangka jalannya pun ditata secara bertingkat mulai dari jalan raya, penghubung hingga jalan lingkungan atau lokal.

Karakteristik kawasan permukiman penduduk perdesaan ditandai terutama oleh ketidakteraturan bentuk fisik rumah. Pola permukimannya cenderung berkelompok membentuk perkampungan yang letaknya tidak jauh dari sumber air, misalnya sungai. Pola permukiman perdesaan masih sangat tradisional banyak mengikuti pola bentuk sungai, karena sungai disamping sebagai sumber kehidupan sehari-hari juga berfungsi sebagai jalur transportasi antar wilayah.

Perumahan di tepi kota (desa dekat dengan kota) membentuk pola yang spesifik di wilayah desa kota. Pada saat pengaruh perumahan kota menjangkau wilayah ini, pola permukiman cenderung lebih teratur dari pola sebelumnya.

Selanjutnya pembangunan jalan di wilayah perbatasan kota banyak mempengaruhi perubahan pola penggunaan lahan dan pada gilirannya permukiman perdesaan berubah menjadi pola campuran. Ada bagian kelompok perumahan yang tertata baik

menurut kerangka jalan baru yang terbentuk, tetapi dibagian lain masih ada pula yang tetap berpola seperti sediakala yang tidak teratur dengan bangunan semi permanen.

Permukiman nelayan adalah perkampungan yang mendiami daerah kepulauan, sepanjang pesisir termasuk danau dan sepanjang aliran sungai. Penduduk tersebut tidak seluruhnya menggantungkan hidup dari kegiatan menangkap ikan tetapi masih ada bidang lain seperti usaha pariwisata bahari, pengangkutan antar pulau, pedagang perantara/eceran hasil tangkapan nelayan dan usaha-usaha lainnya yang berhubungan dengan laut dan pesisir (Pangemanan, 2002:2).

Daerah pesisir (pantai) dapat digolongkan menjadi dua yaitu pantai dataran tinggi dan perbukitan terjal serta pantai datar berpasir dan berlumpur (Tim Fakultas Perikanan dan Kelautan Undip:24).

Permukiman penduduk bisa digambarkan berdasarkan strata mereka. Rumah-rumah yang besar dan permanen yang berlokasi di sisi jalan utama adalah milik nelayan besar atau lebih dikenal dengan istilah juragan. Di bagian lebih dalam khususnya sepanjang tepi laut umumnya terkumpul rumah-rumah nelayan dari golongan miskin. Mereka tinggal berhimpitan dalam gubug-gubug kecil dengan lingkungan sekitar rumah tidak memenuhi syarat kesehatan. Hal tersebut terlihat adanya jamban-jamban darurat yang dibangun dalam bentuk panggung-pangung kecil yang menjorok ke laut. Tiang penyangga dan jembatan kecil untuk mencapainya yang terbuat dari bambu dengan sekedar penutup untuk melindungi mereka dari penglihatan orang. Cara demikian lebih membuat kotor tepi pantai yang sebelumnya telah dipenuhi sampah (Mubyarto, 1984:27-28).

Ciri khas yang melekat pada perumahan nelayan adalah rumah-rumah non atau semi permanen, dinding yang terbuat dari papan atau bambu serta atap dari seng.

Adapula rumah yang dibangun dengan model panggung dan seluruh bahan baku dari kayu. Model rumah panggung ini dibuat untuk menghindari banjir saat musim angin barat (Kimpraswil Propinsi Riau, 2002:27). Di sekitar perumahan tersedia tanah lapang tempat-tempat menjemur ikan dan perbaikan jarring. Pemilik tanah lapang umumnya adalah nelayan besar atau juragan, karena hanya juragan yang mampu memiliki tanah yang luas (Mubyarto, 1984:61).

Pada perkembangannya, kampong-kampung nelayan berkembang semakin padat dan tidak tertib karena pertumbuhan penduduk alami dan urbanisasi.

Ketidaktertiban tersebut semakin membesar akibat perencanaan tata ruang yang masih memarjinalkan masyarakat pesisisr dan masyarakat nelayan (Cahyanto, 2001).

Abdullah (2000), juga membedakan pola permukiman secara garis besar menjadi 2 tipe yaitu; pola permukiman yaitu:

1. Mengumpul (compact settlement), pola ini dapat berbentuk radial, linier, dan papan catur

2. Menyebar (scattered, dispersed), pola ini dapat berbentuk multi pusat dan tersebar murni.

Menurut Taylor (1980) pola permukiman terdiri dari (Gambar 2.3):

1. Sub Kelompok Komunitas (Cluster) yaitu pola permukiman tipe ini berbentuk cluster, terdiri dari beberapa unit atau kelompok unit hunian, memusat pada ruang-ruang penting.

2. Face to face yaitu pola permukiman tipe ini berbentuk linier, antara unit-unit hunian sepanjang permukiman dan secara linier terdapat perletakan pusat.

Menurut Taylor (1980) struktur ruang permukiman dikelompokan menjadi (Gambar 2.4):

1. Linier, yaitu suatu pola sederhana dengan peletakan unit-unit permukiman (rumah, fasum, fasos dan sebagainya) secara terus menerus pada tepi sungai dan jalan. Pada pola ini kepadatan tinggi, dan kecenderungan ekspansi permukiman dan mixed use function penggunaan lahan beragam.

2. Cluster, pola ini berkembang dengan adanya kebutuhan lahan dan penyebaran unit-unit permukiman telah mulai timbul. Kecenderungan pola ini mengarah pada pengelompokkan unit permukiman terhadap suatu yang dianggap memiliki nilai ”penting” atau pengikat kelompok seperti ruang terbuka komunal dalam melakukan aktivitas bersama.

3. Kombinasi, yaitu kombinasi antara kedua pola di atas menunjukkan bahwa selain ada pertumbuhan juga menggambarkan adanya ekspansi ruang untuk kepentingan lain (pengembangan usaha dan sebagainya).

Pola ini menunjukkan adanya gradasi dari intensitas lahan dan hirarki ruang mikro secara umum.

Gambar 2.3 Pola Permukiman Sumber: Taylor, 1980

Gambar 2.4 Struktur Ruang Permukiman Sumber: Taylor, 1980

2.3.3 Identifikasi kondisi sarana lingkungan

Manusia sebagai unsur penentu terbentuknya sustu sistem spasial cukup berpengaruh dalam pembentukan spasial pattern dari waktu ke waktu terhadap spasial konteks yang terdiri dari lingkungan yaitu fisik dan manusia (Physical enviroment dan human enviroment ) dan ruang (Mulyati, 1977). Perubahan sosial yang terjadi akan mengakibatkan perubahan pada lingkungan permukiman yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan yang dilengkapi dengan sarana dan prasaran lingkungan yang mempunyai kaitan erat dengan aspek sosial,

aspek kultur ekonomi, aspek kesehatan, dan lain sebagainya (Rapoport, 1977 dalam Mulyati, 1999).

Demikian dengan pengadaan sarana air bersih untuk minum, mencuci dan memasak tidak lagi sebanding dengan jumlah pemakai mengakibatkan mereka menggunakan air sungai maupun air hujan yang berakibat buruk terhadap kesehatan masyarakat. Demikian pula dengan masalah persampahan yang dibuang ditempat–

tempat yang tidak semestinya yaitu pada selokan-selokan atau sungai dalam kota sehingga akan membentuk timbunan kotoran dan mendatangkan penyakit yang merusak estetika dan kesehatan.

Hal ini menimbulkan masalah yaitu pembuangan kotoran manusia karena kurangnya jamban keluarga dan MCK membuat masyarakat membuang kotorannya ke sungai-sungai dan selokan pinggir jalan (Herlianto, 1997).

Kepadatan rumah pada lingkungan permukiman sebanyak 270 buah/ha rata-rata 36 m2, demikian juga untuk membangun lingkungannya mereka bersedia untuk hidup dibawah standar minimum tempat tinggal yang diperlukan, menggunakan jalan dan open space sebagai ruang umum dimana dimanfaatkan untuk mengelola kepentingan umum, kesehatan dan keamanan (Setiawan,1987). Dalam perencanaan suatu lingkungan permukiman ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan bagi suatu lokasi yaitu sebagai berikut:

a. Jarak antar rumah yang harus memenuhi suatu persyaratan.

b. Jarak antar rumah dengan prasarana jalan harus cukup.

c. Kelestarian lingkungan harus dijaga.

Lokasi lingkungan permukiman seharusnya menghindari lokasi pada daerah-daerah yang rawan terhadap gerakan pengikisan air seperti pada kelokan-kelokan sungai, hal ini sedapat mungkin dipindahkan ke daerah yang lebih aman serta mengamankan daerah kelokan air tersebut ( P3D Dinas Kimpraswil ).

Penataan pola jaringan prasarana secara umum mengikuti beberapa asas : a. Perkembangasn jaringan tersebut sesuai dengan perkembangan

daerah/wilayah terbangun.

b. Perluasan jaringan prasarana diarahkan untuk melayani kegiatan dan lingkungan permukiman

c. Peningakatan kualitas jaringan terfokus pada kawasan pusat kota

d. Pengaturan prasarana dalam sistem tata ruang tidak terlepas dari persyaratan teknis dan kondisi fisik wilayahnya.

Pertambahan penduduk mengakibatkan meningkatnya kebutuhan akan saluran pembuangan dimana peningkatan kualitas saluran terutama pada perluasan saluran pembuangan pada lingkungan suatu permukiman. Sistem pembuangan ada yang diterapkan secara sistem tercampur dan terpisah, dimana dalam jaringan tertentu penggunaan tercampur antara air limbah dan air hujan dan pada jaringan lainnya digunakan sistem saluran terpisah antar saluran air limbah dan air hujan. Sistem suatu pembuangan menurut teori yang ada terdiri dari :

a. Saluran Induk, dimana pada saluran ini digunakan sistem tercampur antara saluran air limbah dengan air hujan, dimana air hujan berfungsi sebagai penggelontor bagi air limbah.

b. Saluran cabang, pada saluran ini digunakan sistem terpisah, dimana untuk saluran air hujan digunakan saluran terbuka sedangkan untuk air limbah digunakan saluran tertutup.

c. Out fall, sebagai bangunan untuk menetralisir kadar polusi air buangan/limbah sebelum dibuang ke sungai.

Untuk pelayanan air minum/air besih pada suatu lingkungan permukiman dan kegiatan lainnya merupakan unsur penyempurnaan.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Dokumen terkait