P ada bab tiga, membahas tentang Mayarakat Pra Industri, akan dibahas beberapa hal tentang: Pengertaian
F. Karakterisitk Produkasi Masyarakat Industri
Marcuse yang dikenal juga sebagai perintis dari Mazhab Frankfurt juga melihat ciri perkembangan masyarakat industri saat ini. Menurutnya Maecuse ada tiga ciri masyarakat industri atau teknologi modern. Pertama, masyarakat berada di bawah kekuasaan prinsip teknologi. Suatu prinsip yang semua tekanannya dikerahkan untuk memperlancar, memperluas, dan memperbesar produksi. Kemajuan manusia disamakan dengan terciptanya perluasan teknologi. Kekuasaan teknologi sudah mencakup seluruh bidang kehidupan; tidak hanya melingkupi bidang ekonomi saja, melainkan juga bidang-bidang lain: politik, pendidikan, dan budaya. Kedua, masyarakatnya menjadi irasional secara keseluruhan, sebab terjadi kesatuan antara produktifitas dan destruktifitas. Kekuatan produksi tidak digunakan untuk perdamaian, melainkan untuk menciptakan potensi-potensi permusuhan
134
dan kehancuran, misalnya, untuk persenjataan. Semua pihak setuju jika anggaran senjata dan pertahanan perlu ditingkatkan, padahal ini tidak masuk akal. Namun demi kelangsungan pertahanan, anggaran militer harus terus bertambah. modern menampakkan sifat “rasional dalam detail, tetapi irasional dalam keseluruhan.” Ketiga, masyarakatnya berdimensi satu. Inilah ciri yang paling fundamental. Dalam segala kehidupan hanya diarahkan pada satu tujuan, yaitu meningkatkan dan melangsungkan satu sistem yang telah berlan, manusia tidak lagi memiliki dimensi-simenasi lain, bahkan dengan satu tujuan itu, pada dimensi lain dikesapingkan.
Sejarah telah mencatat bahwa manusia pada masyarakat industri modern memiliki kemungkinan yang objektif agar dapat merealisasikan pemuasan akan kebutuhan-kebutuhannya. Tetapi, yang terjadi sesungguhnya, manusia tetap saja terhalang karena adanya suasana represif. Peran dan peluang ilmu dan teknologi memang sangat besar. Ukuran rasionalitas masyarakat adalah rasionalitas teknologis. Manusia dan masyarakat masuk ke dalam perangkap, penguasaan, dan manipulasi teknologi. Teknologi mampu menggantikan tenaga manusia bukan saja dalam bidang industri, namun juga dalam seluruh mata rantai kehidupan. Asal manusia dan masyarakat dapat dikuasai, digunakan, diperalat, dimanipulasi, atau ditangani, berarti manusia dan masyarakat sudah terjerat dalam sistem yang mutakhir ini.
Teknologi yang awalnya diciptakan sebagai alat emansipasi dari kekejaman alam sekarang malah dipakai untuk menindas dan merepresi manusia. Oleh karen aitu, hal yang paling menonjol dalam masyarakat adalah industri modern adalah toleransi represi, yaitu toleransi yang memberikan kesan seakan menyajikan kebebasan yang luas padahak maksudnya tidak lain dari pada menindas. Kemanusiaan, kebebasan, otonomi, kehidupan sosial, tidak diberi kesempatan, semuanya sudah menjadi alat. Masyarakat demikian, menurut Marcuse, lebih suka memertahankan status-quo, baik bagi penganut sistem kapitalisme maupun para penganut sistem sosialisme. Masyarakat modern juga tidak menunjukkan adanya penghapusan kelas. Bedanya, rakyat banyak (termasuk kaum buruh) mendukung kelangsungan sistem tersebut dan
135
sekaligus ikut dalam sistem yang sudah begitu mapan. Jika Marx mengeluh akibat pekerjaan yang berat dan membosankan, ditambah akibat dari upah kerja yang sangat rendah dari kaum pemodal. Maka Marcuse mengatakan kini kaum buruh tidak mengeluh lagi dengan kerja kerasnya karena terpuaskan kebutuhannya. Kaum buruh tidak lagi revolusioner, mereka sudah menjadi pada pembela sistem kerja itu sendiri.
Setidaknya ada lima karakter masyarakat satu dimensi seperti dijelaskan oleh Marcuse. Pertama, Administrasi Total. Dari sejumlah kemajuan hebat dan keberhasilan terbesar yang diraih sistem kapitalis yang bertumpu pada keunggulan teknologi adalah kemampuan penguasa kapitalis mengalihkan dominasi ke dalam administrasi total. Administrasi total merupakan strategi pengaturan dan pengelolaan yang bertujuan mengharmoniskan pemusatan dan penyatuan kekuatan sosial, politik, ekonomi, militer, dan budaya ke dalam satu tangan. Sarana yang dimanfaatkan adalah menciptakan “musuh bersama” nasional guna memaksa semua warga agar memerlukan yang tidak diperlukan dan mengorbankan yang harus dilindungi dan dilestarikan. Kedua, Bahasa Fungsional. Medium utama administrasi total adalah bahasa, mengingat subjek utama yang dihadapi, diatur, dan dikelola adalah manusia. Bahasa merupakan ungkapan kemampuan berpikir dan proses perwujudan potensi individu. Karena itu, hal utama yang perlu digarap dalam upaya penaklukan total dan tuntas adalah pembentukan wacana berpikir, cara berkomunikasi, ban berwicara. Rezim kapitalis ingin mengubah wacana prateknologi dan memberikan muatan baru yang lebih sesuai dengan realitas teknologis dengan menciptakan bahasa sendiri: bahasa fungsional. Ketiga. Penghapusan Sejarah. Dalam hidup menyejarah, nalar manusia mengambil dua sikap yang berbeda. Di satu pihak, ada kontinuitas gerak dialektis nalar dalam rangka mengenal, mengerti, memahami, dan mengolah fakta, data, dan peristiwa. Kontinuitas mengacu pada karya nalar sebagai kemampuan yang otonom dan transenden. Di pihak lain, terdapat diskontinuitas sejarah nalar berada dalam kesatuan dengan badan. Dalam kesatuan ini, nalar terikat dengan ruang dan waktu sehingga aktifitasnya tunduk pada hukum sebelum dan sesudah, di sana dan di sini, kini dan
136
nanti. Berangkat dari pemakaian bahasa fungsional sebagai bahasa tunggal dalam masyarakat kapitalis, pernyataan Marcuse bahwa pemaksaan makna tunggal bahasa dalam semesta wacana merupakan keputusan dan tindakan politis, bukan sekadar persoalan dunia akademis, mendapat pembenarannya.
Promosi dan aplikasi bahasa fungsional yang bersikap anti oposisi dan selalu alergi pada kekaburan dan perbedaan makna merupakan strategi penguasa untuk menguasai kesadaran dan menutup ruang perbedaan dalam waktu. Secara sosial, bahasa fungsional memuat kandungan ideologis, sehingga menjadi bahasa anti historis yang radikal, dan radikalitas demikian memuat dan mengalir dari rasionalitas operasional yang cenderung menafikan relasi masa lampau dan masa kini. Keempat, Kebutuhan Palsu. Kebutuhan palsu merupakan suatu keperluan yang dibebankan oleh aneka kepentingan sosial tertentu kepada semua individu dengan maksud menindas dan menggerogoti mereka. Sekarang ini, terpampang jelas propaganda sistematis dan kontinu untuk semua kebutuhan palsu yang dijejalkan. Propaganda kebutuhan palsu dilakukan lewat aneka macam promosi, pameran dan iklan mengenai merek dagang, tempat wisata, pusat perbelanjaan, mode, apartemen, lokasi perumahan, ponsel, komputer, kendaraan bermotor, dan peralatan rumah tangga, hingga beragam jenis kursus. Kelima, Imperium Citra. Dewasa ini, citra (image) menjelma menjadi mantra gaib yang menyusup ke segala sisi kehidupan individu dan masyarakat, bahkan memainkan peranan besar dalam dunia politik dan kekuasaan. Para pemimpin negara, kandidat yang bersaing guna memerebutkan posisi sebagai presiden atau perdana menteri dan jabatan di bawahnya menaruh perhatian yang besar terhadap citra. Mereka sungguh serius merawat citra dirinya sebagai public figure dan sering berprilaku bagaikan selebritas dari dunia entertainment. Lebih parah lagi, dominasi citra merasuk pula ke wilayah praksis kekuasaan dan menjadi bahan pertimbangan utama dalam keputusan politik dan kebijakan pemerintah yang tergambar dalam istilah populis dan tidak populis.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa realitas sosial Herbert Marcuse telah memasuki tahap
137
kontemporer. Dalam tahap kontemporer realitas sosial tidak lagi dipandang sebagai kenyataan abadi seperti tahap parenial, melainkan menghindari asumsi yang bersifat metafisik. Tahap kontemporer juga berbeda dengan tahap dinamis-historis yang memandang realitas sosial selalu berkembang secara historis, melainkan memadukan unsur teknologi, bahasa, dan unsur kebudayaan lainnya. Pandangan Marcuse tentang realitas sosial masyarakat insustri seperti sekarang ini terpengaruh mulai dari aspek teknologi yang menindas manusia sampai manipulasi bahasa. Oleh karena itu realitas sosial masyarakat bagi Herbert Marcuse tak bisa lepas dari cengkraman kapitalisme yang telah berkembang menjadi late capitalism. G. Sistem Produksi dan Operasi
Manajemen produksi dan operasi merupakan manajemen dari suatu sistem informasi yang mengkonversikan masukan
(inputs) menjadi keluaran (outputs) yang berupa barang atau
jasa. Hal ini berkaitan dengan pelaksanaan fungsi produksi dan operasi memerlukan serangkaian kegiatan yang merupakan suatu sistem. Sistem produksi dan operasi mempunyai unsur, yaitu masukan, pertransformasian dan keluaaran. Sedangkan produksi dan operasi suatu sistem untuk menyediakan barang-barang dan jasa yang dituhkan dan akan dikombinasikan oleh anggota masyarakat, maksudnya adalah suatu rangkaian unsur-unsur yang saling berkaitan dan tergantung serta saling mempengaruhi antara yang satu dengan lainnya yang secara keseluruhan merupakan satu kesatuan dalam pelaksanaan kegiatan dalam pencapaian tujuan tertentu. Adapun yang dimaksud dengan sistem produksi dan operasi adalah suatu keterkaitan unsur-unsur yang berbeda secara terpadu, menyatu dan menyeluruh dalam proses transformasi masukan menjadi keluaran. Sistem produksi tidak hanya dimiliki pada soktor industri manufaktur, namunn terdapat juga dalam sektor jasa, seperti perbankan, asurnsi, pasar, swalayan dan rumah sakit. Dalam sebuah sistem produksi dan operasi pada industri jasa menggunakan bauran yang berbeda dari masukan yang dipergunakan dalam industri manufaktur, contohnya perusahaan telekomunikasi dalam pengoprerasiannya akan membutuhkan modal untuk suku cadang dan komponen elektronik serta peralatan yang terdapat dalam suatu
138
bangunan, disampig peralatan transmisi suara melalui kabel, menara microwave, station, computers dan operasi operator. Contoh sistem produksi dan operasi adalah sebagai berikut: dalam sistem produksi mempunyai masukan dapat berupa bahan baku, komponen atazu bagian dari produk, barang setengah jadi, formulir-formulir, para pemesan atau langganan dari para pasien. Keluaran dari sistem produksi dapat berupa barang jadi, bahan-bahan kimia, pelayanan kepada pembeli dan pasien. Formulir-formulir yang telah selesali diisi dan diproses. Sistem produksi yang sering dipergunakan dapat dibedakan sebagai berikut:
1. Proses produksi yang kontinyui (continuous proses)
Dalam peralatan produksi uang digunakan disusun dan diatur dengan memperhatikan urutan-urutan kegiatan atau
routing dalam menghasilkan produk tersebut, serta arus
bahan dalam proses telah distandarkan.
2. Proses produksi yang terputus-putus (interminitten proses) Dalam sebuah kegiatan produksi dilakauakan tidak standar, tetapi didasarkan para produk yang dikerjakan, sehingga peralatan yang digunakan disusun dan diatur dapat bersifat lebih luwes, untuk dapat dipergunakan untuk menghasilkan berbagai prosuk dan berbagai ukuran.
3. Proses produk yang bersifat proyek
Kegiatan produksi dilakukan pada tempat dan waktu yang berbeda, sehingga peralatan produksi yang digunakan ditempatkan di tempat atau lokasi di mana proyek tersbut dilaksanakan dan pada saat yang direncanakan.
Setiap sistem dari sub-sistem yang lebih kecil, sehingga adalam perusahaan sebagai suatu organisasi, sistem pengorganisasiannya terdiri dari beberapa sub-sistem berupa sus-sistem fungsional.
Sekurang-kurangnya ada macam subsistem dalam perusahaan yang dapat dibedakan yaitu :
1. Sistem Perumusan Kebijaksanaan (Policy Formulating
System)
Fungsinya adalah menyelarakan kebijaksanaan organisasi perusahaan yang mendasar dan menyeluruh dengan memproses dan mengolahserta menganalisis informasi yang mencerminkan keadaan perusahaan dan lingkungan sekarang ini , keadaan di masa depan bagi pencapaian
139
tujuan dan sasaran perusahaan jangka pendek maupun jangka panjang.
2. Sistem Pengendalian Umum (General Control System). Fungsi utamanya adalah mengubah dan mentransformasikan informasi untuk dasar pengukuran, pengevaluasian dan pemantauan terhadap keberhasilan pelaksanaan kebijakan, strategi dan program perencanaan serta sekaligus memberikan upaya-upaya yang harus dilakukan untuk perbaikan atau koreksi agar tujuan dan sasaran yang direncanakan dapat tercapai.
3. Sistem Pengorganisasian Antara (Intermediate Organisasi
System)
Fungsinya adalah untuk memberikan dukungan pelayanan yang dibutuhkan oleh subsistem yang terdapat dalam organisasi perusahaan atau sekaligus mendukung sistem organisasi perusahaan. Dukungan pelayanan yang tekait dengan fungsi dari sistem ini termasuk pengendalian, pelimpahan wewenang, penyampaian saran dan keputusan serta dukungan pelayanan lainnya.
Proses Trasformasi informasi pada sistem produksi dan operasi dapat dilakukan dengan menggunakan model-model matematis, yang guna menggambarkan dan memprediksi hubungan fungsi-fungsi yang ada dalam sistem produksi dan operasi. Misalnya dalam penggunaan model-model matematis dalam sistem produksi dan operasi terdapat dalam pecahan optimisasi produksi, optimisasi biaya produksi, optimisasi persediaan, optimisasi kesimbangan kapasitas dan lain-lain. Model-model yang digunakan sangat bermanfaat bagi penganalisaan dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.