• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

2. Karakteristik dan Jenis Tanah

Berdasarkan peta tanah Kabupaten Bogor yang bersumber dari BAPPEDA Kabupaten Bogor, kawasan WWPR memiliki jenis tanah hapludands dystrudepts

yang masuk dalam ordo Inceptisol menurut sistem klasifikasi USDA Soil

Taxonomy (Gambar 11). Tanah inceptisol adalah tanah yang mempunyai sedikit

horison atau horison yang tidak jelas. Inceptisol mempunyai karakteristik dari kombinasi sifat-sifat tersedianya air untuk tanaman lebih dari setengah tahun atau lebih dari 3 bulan berturut-turut dalam musim–musim kemarau (Darmawijaya 1990). Jenis tanah Inceptisol tergolong tanah yang peka terhadap erosi karena struktur tanahnya blok, massif, granuler dengan tekstur liat, kisaran permeabilitas sangat lambat sampai sedang dan kedalaman solum sangat dalam. Pada kawasan WWPR, erosi yang terjadi terdapat di daerah sekitar tebing. Dari faktor penyebab erosi, besar sudut dan panjang lereng yang menyebabkan terjadinya erosi di daerah tersebut. Kondisi ini diupayakan dapat ditanggulangi dengan tetap mempertahankan kondisi alami dan penanaman vegetasi pada area yang cukup terbuka.

Berdasarkan kriteria USDA, permukaan tanah dengan tekstur liat sesuai untuk aktivitas wisata. Kondisi ini ditunjang dengan drainase yang cepat sehingga tanah tidak mudah tergenang. Kondisi kedalaman muka air tanah yang tidak terlalu dalam mendukung aktivitas wisata. Hal ini didukung dengan dekatnya letak badan air yang dapat dimanfaatkan untuk aktivitas wisata. Sumber air tersebut dapat diambil dari air tanah atau dengan memanfaatkan badan air yang ada di beberapa lokasi kawasan WWPR.

3. Hidrologi

Badan-badan air yang ada pada tapak berupa tiga buah sungai yang mengalir dalam kawasan tersebut. Ketiga sungai tersebut yaitu sungai cibeet, sungai cinanggung, dan sungai cibogo. Sungai-sungai yang terdapat pada tapak merupakan sungai yang masih alami. Kondisi sungai sangat dipengaruhi oleh kondisi hulu dan kondisi lingkungan di bantarannya. Pada sungai cinanggung dan sungai cibogo, kondisi hulunya masih sangat terjaga karena merupakan kawasan yang masih alami. Kondisi air sungai yang ada termasuk air golongan A yaitu air yang dapat digunakan sebagai air baku untuk diolah menjadi air minum dan keperluan rumah tangga. Keadaan tersebut merupakan potensi yang ada dimanfaatkan untuk keperluan aktivitas wisata (Gambar 12).

4. Penutupan Lahan

Kondisi WWPR yang berada di kawasan hutan pegunungan bawah didominasi oleh tegakan hutan pinus dan pohon-pohon hutan yang masih terjaga. Pengembangan kawasan WWPR untuk wisata alam, perlu dilakukan evaluasi terkait penutupan lahan untuk dapat mengetahui alokasi RTH yang dapat dipertahankan, dibangun, serta diketahui dimana seharusnya area terbangun dikembangkan. Penilaian ini berdasarkan RTH yang diklasifikasikan pada Tabel 6 dan Gambar 13.

Tabel 6. Penilaian potensi penutupan lahan

Keterangan : Kelas (S1= sesuai, S2= cukup sesuai, S3=kurang sesuai) Sumber : USDA (1968);modifikasi

5. Iklim

a. Curah Hujan

Curah hujan di WWPR berdasarkan data dari Stasiun Iklim Citeureup Tahun 2011 adalah sebesar 3000-3500 mm/tahun. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Oktober dengan rata-rata curah hujan 614 mm, sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Februari sebesar 203 mm. Tingginya curah hujan di tapak tidak mempengaruhi kondisi tanah. Air hujan secara cepat langsung dapat diserap oleh tanah yang memiliki daya serap yang baik. Hal ini juga didukung oleh kondisi vegetasi yang baik yang dapat menahan curah hujan. Kondisi yang perlu diperhatikan terjadi pada daerah yang tidak tertutup oleh vegetasi dan memiliki kemiringan lereng yang cukup tinggi. Pada daerah ini perlu dilakukan tindakan konservasi dengan tetap menjaga kondisi lahan dan vegetasi diatasnya.

b. Suhu

Berdasarkan pengamatan Stasiun Iklim Citeureup, suhu rata-rata di WWPR adalah 26.4oC. Suhu maksimum di kawasan ini berkisar antara 28,3-32,1ºC, suhu minimumnya berkisar antara 23,9-25,1ºC. Karena lokasi WWPR yang berada pada daerah pegunungan dengan ketinggian yang berbeda-beda, maka suhu pada setiap lokasi juga berbeda. Grafik fluktuasi suhu di kawasan Wana Wisata Penangkaran ini dapat dilihat pada (Gambar 14)

c. Kelembaban Relatif (RH)

Menurut Laurie (1984), kelembaban udara yang ideal bagi kenyamanan manusia agar dapat melakukan aktivitasnya dengan baik adalah berkisar 40-75 %. Kelembaban udara di WWPR berdasarkan pengamatan di lapang, kelembaban udara di sekitar WWPR sebesar 62,3% dan tergolong cukup ideal. Kelembaban udara di WWPR cukup ideal karena di sepanjang jalan dalam kawasan terdapat jalur hijau dan koridor vegetasi sehingga aliran udara yang lembab tidak terhambat (mengalirkan dan mengurangi kelembaban udara yang tinggi).

Peubah Kategori Nilai Skor

Penutupan Lahan -Seluruh area tertutup RTH 3 S1

-Sebagian area tertutup RTH dan bangunan

2 S2

-Hampir seluruh area tertutup bangunan

Ga mbar 11. P eta tan ah

Ga mbar 12 . P eta hidrolo gi

Ga mbar 13. P eta p enutupan la ha n

Gambar 14. Grafik fluktuasi suhu

Biofisik

1. Vegetasi

Tipe vegetasi alam yang terdapat di lokasi penangkaran rusa adalah hutan hujan pegunungan bawah, umumnya berupa hutan sekunder. Selain hutan alam, sebagian kecil dari areal merupakan hutan tanaman pinus, puspa, dan tegakan jati. Luas total hutan tamanan ini diperkirakan kurang dari 10% dari keseluruhan komplek hutan Gunung Sanggabuana.

WWPR memiliki 55 jenis vegetasi yang terdiri dari 21 jenis pepohonan dan 34 jenis non-pepohonan. Wana Wisata Penangkaran Rusa ini merupakan bekas areal tanaman pinus (Pinus merkusii) milik Perhutani dari tahun 1945 yang telah mendominasi areal bagian dalam penangkaran rusa serta terdapat beberapa jenis lain seperti nangka (Arthocarpus heterophylla), bambu (Giganthochloa apus), karet (Havea brazilliensis), asam (Tamarindus indica), jati (Tectona grandis), kluih (Artocarpus communis) dan sebagian besar adalah semak-semak terdiri dari kirinyuh (Eupatorium spp), saliara (Lantana camara), gelaguh (Saccharum

spontaneum), takokak hutan (Solanum torvum), harendong bulu (Clidemia hirta),

dan ki beletrak (Eupatorium inulifolium).

Spesies tumbuhan yang dominan di bawah tegakan pinus adalah jukut babi (Ichaemum sp.), jukut pahit (Paspalum conjugatum), dan jukut bengala (Leersia

hexandra).Di bawah tegakan puspa,spesies tumbuhan bawah yang dominan

adalah alang-alang (Imperata cylindrica), jukut babi (Ichaemum sp.), dan nampong (Siegesbeckia orientalis). Di bawah tegakan kaliandra, spesies tumbuhan bawah yang dominan adalah kibeletrak (Eupatorium odoratum), seuseureuhan (Piper aduncum), dan jukut pahit (Paspalum conjugatum).

Di beberapa tempat di dalam kawasan terdapat kelompok pepohonan yang ditanam rapat dan tidak rapat. Kelompok pepohonan yang ditanam rapat ini membentuk kawasan hutan yang relatif alami terdapat di beberapa daerah penyangga yang membatasi kawasan dengan lingkungan sekitar. Pohon-pohon yang terdapat di dalamnya antara lain Tectona grandis, Swietenia mahogani, falcataria, Filicium decipiens, Alstonia scholaris, Acacia auriculiformis. Hutan alami di daerah penyangga ini berfungsi sebagai RTH penyangga yang akan memberikan dampak positif terhadap perbaikan lingkungan kawasan. Diantaranya, dalam hal meningkatkan produksi oksigen, mengurangi pencemaran udara, meningkatkan kualitas iklim mikro dan juga dapat bermanfaat bagi tempat kehidupan manusia dan satwa.Jenis pohon yang biasa digunakan untuk habitat

satwa khususnya burung adalah yang menghasilkan bunga, buah, dan mengundang serangga. Sedangkan untuk burung-burung pemakan biji-bijian, sumber biji-bijian didapat dari berbagai jenis varietas rumput-rumputan.Pohon yang bertekstur daun halus (Pelthoporom pterocarpum), berbuah (Ficus

benjamina), dan berbunga (Bauhinia acuminata) banyak mengundang serangga.

Penilaian terhadap vegetasi sebagai salah satu sumber daya wisata yang dapat dikembangkan, perlu dievaluasi kesesuaian lahannya terhadap jenis tanaman yang dapat dikembangkan menjadi objek wisata. Penilaian ini meliputi kondisi, heterogenitas, dan nilai kualitas visual yang diklasifikasikan pada Tabel 7 dan Gambar 15

Tabel 7.Penilaian potensi vegetasi

Peubah Kategori Nilai Skor

Vegetasi - Tegakan pohon alami, kondisi dan kualitas visual vegetasi baik dan beragam

3 S1

- Tegakan pohon budidaya, kondisi vegetasi cukup baik, kualitas visual baik, cukup beragam

2 S2

- Persawahan,lapangan rumput, kondisi vegetasi cukup baik, kualitas visual baik, cukup beragam

1 S3

Keterangan : Kelas (S1=sesuai, S2= cukup sesuai, S3=kurang sesuai) Sumber : USDA (1968);modifikasi

2. Satwa

Satwa utama yang terdapat pada kawasan WWPR ini yaitu rusa dengan berbagai jenis, diantaranya rusa jawa (Cervus timorensis), rusa bawean (Axis

khuhli), rusa totol (Axis axis). Selain berfungsi secara fisik sebagai hutan, kawasan

WWPR merupakan tempat hidup beberapa spesies satwa. Tercatat 25 spesies reptilia, 79 spesies burung, dan 16 spesies mamalia. Hasil penelusuran seluruh spesies yang ditemui, terdapat 12 spesies burung dan 4 spesies mamalia termasuk ke dalam satwa liar yang dilindungi Undang-Undang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati (UU No. 5 Tahun 1990). Spesies burung yang dilindungi dan populasinya masih cukup tinggi adalah cekakak (Halcyon cyanoventris), paok cacing (Pitta guajana) dan beberapa spesies mamalia yang dilindungi adalah tando (Galeopterus variegatus), trenggiling (Manis javanica), kancil (Tragulus

javanicus), dan kijang (Muntiacus muntjak),

Satwa predator besar tidak dijumpai, namun demikian menurut informasi penduduk setempat, di lokasi ini masih terdapat macan tutul (Panthera pardus) dan ular sanca (Phyton reticulatus), yaitu di kawasan hutan Gunung Sanggabuana, yang letaknya berdekatan dengan lokasi penangkaran rusa (±1km dari batas kawasan sebelah timur).

Jenis-jenis fauna lain yang terdapat di kawasan WWPR antara lain musang (Primodon sp.), ayam hutan (Gallus gallus), perkutut (Geopellia stiqata), tupai

(Lariscus insincis), kadal (Mobanya multifisciata), bunglon hutan (Conycephalus

dilophus), burung gagak (Cervus macrohinchus), kelelawar (Pteropus vampirus),

dan kera ekor panjang (Macaca fascicularis)

Dengan beragamnya jenis biota yang ada berpotensi untuk pengembangan aktivitas wisata seperti pengamatan satwa, pengenalan jenis satwa, dan interpretasi alam.

Ga mbar 15. P eta v ege tasi

Aspek Wisata

Menurut Gunn (1994) ada beberapa komponen utama yang perlu dipertimbangkan dalam merencanakan sebuah kawasan wisata yaitu keindahan (kualitas visual), potensi objek eksisting, serta kemudahan aksesibilitas transportasi dan fasilitas pendukung.

Dokumen terkait