HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Aspek Fisik dan Biofisik
3) Konsep Sirkulas
Konsep dasar sirkulasi yang akan direncanakan dimana pengunjung dapat menempuhnya tanpa adanya kesulitan (adanya kepuasan pengunjung) dengan tetap memperhatikan dan melihat kondisi ekologis serta keberlangsungan ekosistem yang ada sebagai objek-objek wisata yang perlu untuk dilestarikan keberadaannya. Jalur sirkulasi ini dibuat untuk menikmati objek wisata sebanyak mungkin dengan minimal kerusakan baik pada objeknya, maupun kawasan WWPR. Jalur ini menghubungkan setiap objek/atraksi wisata pada kawasan yang akan mengarahkan pengunjung untuk dapat menikmati dan mengikuti kegiatan serta atraksi wisata dengan nyaman. Disamping itu, adanya jalur ini diharapkan menghubungkan antar ruang utama yang terbentuk agar ruang ini termanfaatkan sesuai dengan kapasitas masing-masing ruangnya. Jenis jalur sirkulasi yang direncanakan ini terbagi 2 (dua) jalur, yang pembagiannya disesuaikan dengan daya dukung wisata maupun daya dukung lahan serta intensitas penggunaan dan fungsi dari masing-masing ruang yang dihubungkan oleh jalur sirkulasi tersebut. Jalur sirkulasi yaitu jalur primer dan sekunder, penjabaran tiap jalur sebagai berikut :
a. Jalur sirkulasi primer di kawasan wisata ini adalah berupa jalan aspal yang biasa dilalui kendaraan roda dua, roda empat, maupun pejalan kaki yang berfungsi menghubungkan ruang-ruang utama.
b. Jalur sirkulasi sekunder adalah jalur sirkulasi pada tiap ruangnya dan menghubungkan antar objek/atraksi wisata. Disamping itu, dapat dilalui pejalan kaki dengan pembatasan jumlah pengunjung sesuai dengan daya dukungnya. Jalur ini, dilengkapi dengan papan interpretasi yang memberikan informasi tentang tapak.
Perencanaan Lanskap
Rencana lanskap kawasanWWPR sebagai alternatif wisata di Kabupaten Bogor merupakan hasil akhir dari proses perencanaan yang akan terdiri dari rencana ruang, rencana aktivitas dan fasilitas, dan rencana sirkulasi. Perencanaan lanskap ini didasarkan pada konsep wisata alam yang bertujuan meningkatkan potensi alam sebagai wisata yang berkelanjutan. Penerapan wisata berkelanjutan ini harus memiliki prinsip yaitu nilai edukatif, nilai rekreatif, memberikan keuntungan bagi semua pihak, meningkatkan peran serta komunitas lokal, dan berorientasi pada konservasi kawasan.
Rencana lanskap ini akan menyajikan lokasi objek/atraksi wisata di kawasan perencanaan beserta fasilitas penunjangnya. Untuk dapat lebih memahami rencana lanskap tersebut, akan disajikan gambar perencanaan lanskap (landscape plan) seperti pada Gambar 25.
Rencana Ruang
Berdasarkan konsep yang telah disusun maka dibuat rencana ruang. Ruang- ruang ini dibagi berdasarkan jenis aktivitas utama yang akan didukung oleh tapak. Antar ruang dihubungkan oleh jalur sirkulasi. Ruang-ruang yang ada di kawasan ini terbagi menjadi ruang penerimaan, ruang pelayanan, ruang rekreasi aktif, ruang penangkaran rusa, ruang rekreasi pasif, dan ruang konservasi. Adapun hubungan antara fungsi, aktivitas, dan fasilitas disajikan pada Tabel 15.
1) Ruang penerimaan memiliki luas 2,60 ha (5,14% dari luas keseluruhan). Ruang penerimaan ini merupakan pintu masuk utama bagi para wisatawan untuk memasuki kawasan wisata WWPR. Penerapan ruang ini berdasarkan eksisting di tapak dan aksesibilitas yang memadai. Ruang ini ditujukan untuk memberikan kesan dan identitas awal dari suatu kawasan wisata. Selain itu, ruang ini memberikan kemudahan bagi pengelola kawasan dalam mengidentifikasi jumlah dan identitas pengunjung yang dating ke kawasan. 2) Ruang pelayanan memiliki luas 1,44 ha (2,85% dari luas keseluruhan).
Ruang pelayanan merupakan ruang pengenalan sebelum memasuki ruang utama. Ruang ini direncanakan agar para wisatawan mendapatkan informasi sekilas mengenai WWPR dan pelayanan yang disediakan oleh pihak pengelola. ruang ini terdiri dari kantor informasi, kios makanan dan minuman, toilet, mushalla, kios cinderamata, dan tempat peminjaman alat berkemping. Penyediaan pelayanan melibatkan masyarakat sekitar sebagai pengelola kawasan wisata seperti tenaga pemandu wisata/interpreter, penyediaan konsumsi dan petugaskeamanan, maupun mengelola kios cinderamata.
3) Ruang penangkaran rusa memiliki luas 5 ha (9,90% dari luas keseluruhan). Penangkaran rusa ini merupakan daya tarik utama di dalam kawasan WWPR. Ruang ini sebagai penghubung dengan sub ruang kemping, piknik, dan dapat menghubungkan dengan objek-objek wisata yang ada di kawasan WWPR. 4) Ruang rekreasi aktif dan pasif memiliki luas 2,74 ha (5,42%). Ruang ini
terdapat objek dan atraksi wisata berupa vegetasi alami dan satwa khas hutan pegunungan bawah. Aktivitas wisata yangdirencanakan bersifat non-intensif
seperti mendaki, penelusuran gua, panjat tebing. Pada wisata penunjang objek yang ditawarkan antara lainhutan, gua monyet, dan bukit laya dengan aktivitas meliputi camping, climbing, hiking, caving, dan outbond.
5) Ruang penyangga memiliki luas 16,86 ha (33,37% dari luas keseluruhan). Ruang penyangga ini merupakan ruang yang berfungsi menyangga ruang- ruang di dalam kawasan wisata alam WWPR dari gangguan yang berasal dari luar kawasan. Ruang ini direncanakan sebagai RTH (jalur hijau dan koridor) untuk menjaga keberlanjutan wisata dan melindungi keseimbangan ekosistem di dalamnya.
6) Ruang konservasi memiliki luas 23,31 ha (46,15% dari luas keseluruhan). Ruang konservasi merupakan ruang yang berfungsi melindungi kawasan wisata dari kerusakan,mengkonservasi tanah dan ketersediaan cadangan air tanah. Ruang ini direncanakan sebagai area vegetasi dengan tegakan pohon alami. Jenis kegiatan yang dapat dilakukan merupakan kegiatan yang bersifat konservasi seperti pengamatan, pengelolaan, dan pendidikan.
Rencana Sirkulasi
Konsep dasar dari jalur sirkulasi yang akan direncanakan adalah jalur sirkulasi dimana pengunjung dapat menempuhnya tanpa adanya kesulitan (adanya kepuasan pengunjung) dengan tetap memperhatikan dan melihat kondisi ekologis serta keberlangsungan ekosistem yang ada sebagai objek-objek wisata yang perlu untuk dilestarikan keberadaannya. Jalur ini dibuat untuk menikmati objek wisata sebanyak mungkin dengan minimal kerusakan baik pada objeknya, maupun kawasan WWPR. Jalur ini menghubungkan setiap objek/atraksi wisata pada kawasan yang akan mengarahkan pengunjung untuk dapat menikmati dan mengikuti kegiatan serta atraksi wisata dengan nyaman. Disamping itu, adanya jalur ini diharapkan menghubungkan antar ruang utama yang terbentuk agar ruang ini termanfaatkan sesuai dengan kapasitas masing-masing ruangnya.
Jenis jalur sirkulasi yang direncanakan ini terbagi 2 (dua) jalur, yang pembagiannya disesuaikan dengan daya dukung wisata maupun daya dukung lahan serta intensitas penggunaan dan fungsi dari masing-masing ruang yang
dihubungkan oleh jalur sirkulasi tersebut. Jalur sirkulasi tersebut yaitu jalur primer dan sekunder. Penjabaran tiap jalur sebagai berikut :