• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

2. PotensiDaya Tarik Wisata

Kawasan Wana Wisata Penangkaran Rusa memiliki beberapa potensi yang dapat menjadi daya tarik untuk dikembangkan antara lain potensi objek wisata penangkaran rusa, potensi alam kawasan WWPR, dan potensi edukasi.

a. Potensi Penangkaran Rusa

Lokasi penangkaran rusa pada kawasan WWPR terletak pada ketinggian 200-500 m dpl. Rusa yang dikembangkan adalah rusa jawa (Cervus timorensis), rusa bawean (Axis khuhli), rusa totol (Axis axis) yang masing-masing didatangkan dari Rancaupas, Blitar, Surabaya, dan Bogor. Populasi rusa di kawasan WWPR saat ini yaitu sebanyak 76 ekor rusa terdiri dari 42 ekor rusa jawa, 24 rusa bawean, dan 8 ekor rusa totol. Rusa pada penangkaran dikembangkan secara alami tanpa ada penanganan khusus dari petugas. Model perkandangan di penangkaran ini menggunakan model kandang ranch yaitu komunitas rusa dibiarkan bebas berada pada satu lapangan terbuka yang dikelilingi oleh pagar kawat. Hal ini menjadi daya tarik utama WWPR. Populasi rusa jawa pada penangkaran ini mendominasi, hal ini dikarenakan rusa jawa memiliki nilai ekonomis yang tinggi, daya adaptasi yang paling baik sehingga pemeliharaannya lebih mudah karena tidak mudah sakit, kemudian rusa yang jantan mempunyai tanduk yang besar sehingga memiliki keunikan tersendiri dan memiliki laju pertumbuhan populasi yang paling tinggi dibandingkan dua jenis rusa lainnya. Usaha penangkaran rusa ini merupakan salah satu upaya konservasi jenis fauna melalui perbanyakan anakan selain itu meningkatkan nilai tambah melalui aspek wisata, pendidikan, penelitian, dan budidaya. Dalam pengembangan wisata alam yang akan dilakukan maka pemanfaatan potensi penangkaran rusa ini dengan memberikan kesempatan pada pengunjung untuk berinteraksi langsung dengan rusa yang ada di penangkaran.

Gambar 17. Kualitas visual buruk (a) Lapak dagangan (b) Parkiran

b. Potensi Alam

Saat ini daya tarik utama yang paling menonjol adalah potensi alam kawasan WWPR. Bentukan alam di sekeliling WWPR berupa pegunungan dan perbukitan yang ditumbuhi oleh massa tanaman hutan pegunungan bawah menjadikan kawasan tersebut unik dan memiliki daya tarik untuk dikunjungi wisatawan. Masyarakat lokal juga sering memanfaatkan hasil kekayaan hutan dengan melakukan kegiatan pembukaan lahan atau dimanfaatkan hasil hutan tersebut.Kegiatan tersebut berpedoman dengan peraturan yang ada dalam pemanfaatan hasil hutan.

Sumberdaya air merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan dan penghidupan manusia yang perlu dikelola dan dimanfaatkan untuk berbagai keperluan dalam memenuhi hajat hidup masyarakat.Pemanfaatan sumberdaya air memerlukan adanya usaha konservasi, pengendalian daya rusak, dan pendayagunaan sumberdaya air melalui pengelolaan yang berkelanjutan. Hal ini tentunya dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjadi tambahan atraksi yang dapat meningkatkan daya tarik wisatawan untuk mengunjungi kawasan Wana Wisata Penangkaran Rusa.

Adapun objek wisata yang dapat berpotensi untuk kegiatan wisata alam dan wisata edukasi antara lain kawasan hutan dan perbukitan di sekitar WWPR serta badan air yaitu sungai yang berada di kawasan WWPR.

c. Potensi Edukasi

Potensi edukasi yang dapat dikembangkan di kawasan WWPR adalah berupa pengenalan terhadap kegiatan pendidikan lingkungan seperti konservasi alam dan pengenalan tanaman hutan. Adapun objek yang dapat berpotensi untuk kegiatan wisata alam adalah kawasan hutan pegunungan bawah yang berada di sekitar kawasan WWPR.

Namun demikian, potensi-potensi tersebut belum dapat terkelola dan dimanfaatkan secara maksimal dengan adanya beberapa masalah yang terjadi di lapangan. Masalah tersebut diantaranya adalah sering terjadinya penjarahan/penebangan hutan secara ilegal oleh masyarakat sekitar dan pembukaan lahan hutan untuk dikonversi menjadi perkebunan masyarakat tanpa berpedoman pada peraturan yang berlaku. Adapun analisis titik lokasi potensi objek dapat dilihat pada Tabel 8 dan Gambar 19.

Tabel 8. Potensi objek wisata WWPR

No Objek Wisata Keterangan

1. Penangkaran rusa

Daya tarik utama dari penangkaran rusa

di WWPR adalah model kandang ranch.

Model kandang ini membuat rusa dapat bergerak bebas sehingga pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan rusa. Luas kandang tersebut mencapai 2 ha dengan

2.

Gua Monyet

Gua ini terletak di sebelah timur WWPR. Gua tersebut dicapai melalui jalan setapak sejauh kurang lebih 2 km. Kedalaman gua ini kurang lebih 5 meter dan dapat dimasuki oleh manusia. Dari mulut gua ini dapat dinikmati pemandangan alam yang indah. Untuk

mencapai gua ini agak sulit karena

pengunjung harus memanjat tebing batu terlebih dahulu.

3. Curug Ciloseh

Keunikan dari Curug Ciloseh adalah keadaan air terjunnya yang dikelilingi tebing batu. Curug ini memiliki ketinggian kurang lebih empat meter dengan tebing yang bertingkat-tingkat. Air sungai yang jatuh melalui tebing tersebut membuat percikan air yang unik seperti air terjun Niagara. Sehingga banyak pengunjung menyebutnya dengan Niagara Mini.

4. Curug Kembar

Curug ini memiliki ketinggian kurang lebih 12 meter. Jarak tempuh menuju Curug kembar adalah ± 900 m dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki dengan waktu tempuh kurang lebih 30 menit dari pos sekretariat. Curug kembar memiliki dua air terjun. Letak air terjun yang bersebelahan, membuat air terjun ini dinamakan Curug Kembar.

5. Sungai Cibeet

Daya tarik utama dari sungai ini yaitu batu-batu besar terdapat pada sungai ini. Sungai ini memiliki aliran air yang deras. Kedalamannya mencapai 1,5 meter saat musim kemarau, sedangkan saat musim hujan kedalamannya mencapai 3 meter.

6. Hutan Pinus

Hutan ini ditumbuhi oleh berbagai jenis tumbuhan dari berbagai tingkatan dan habitat bagi berbagai jenis satwaliar. Penamaan kawasan sebagai hutan produksi juga didasari oleh keberadaan pohon pinus yang dominan menyusun kawasan tersebut sehingga disebut sebagai kawasan hutan pinus Perhutani.

d. Penilaian Kelayakan Objek dan Atraksi Wisata

Penilaian potensi objek dan atraksi wisata dilakukan untuk menilai kelayakan potensi objek dan atraksi wisata di setiap lokasi. Penilaian ini diklasifikasikan menggunakan lima kriteria berdasarkan Inskeep (1991). Penilaian dilakukan berdasarkan nilai suatu objek dan atraksi wisata, aksesibilitas yang tersedia untuk mencapai lokasi objek dan atraksi wisata, letak objek dan atraksi dari jalan utama, fasilitas wisata yang tersedia, dan dampak terhadap lingkungan (Tabel 9). Hasil penilaian yang ditunjukkan pada Tabel 10, memperlihatkan 6 objek dan atraksi wisata yang sangat potensial (SP) sebagai sumberdaya wisata alam dan satu objek cukup berpotensi (S).

Perhitungan penilaian kelayakan objek dan atraksi wisata sebagai berikut: Klasifikasi kondisi kelayakan objek dan atraksi wisata adalah

(∑Faksx 20) + (∑ Ffoax 30) + (∑Fjl x 10) + (∑Ffasx 10) + (∑Fdl x 30) Keterangan :

Faks = faktor aksesibilitas

Ffoa = faktor objek dan atraksi wisata Fjl = faktor letak dari jalan utama

Ffas = faktor fasilitas wisata yang tersedia Fdl = faktor dampak terhadap lingkungan

Tabel 9. Penilaian kelayakan objek dan atraksi wisata

Peubah Bobot Kategori Nilai

Aksesibilitas 30% Jalan primer dekat, mudah dicapai, kondisi

baik

Jalan sekunder, kondisi sedang

Jalan tersier, kondisi sedang

Tidak ada akses

4 3 2 1 Objek dan Atraksi

Wisata

40%  Semua atraksi bernilai tinggi

 Atraksi sedang-tinggi

 Atraksi sedang-rendah

 Tidak terdapat objek dan atraksi

4 3 2 1 Letak dari Jalan

Utama 10%  Dekat (<1 km)  Sedang (1-3 km)  Cukup jauh (3-5 km)  Jauh (>5 km) 4 3 2 1 Fasilitas Wisata yang

Tersedia

20%  Tersedia lengkap, kualitas baik, terawat

 Ada beberapa, cukup terawat

 Ada beberapa, kurang terawat

 Tidak tersedia

4 3 2 1 Sumber : Inskeep (1991); Rosmalia (2008); modifikasi

7. Bukit Laya

Bukit Laya merupakan Bukit di ujung kawasan WWPR. Daya tarik utama dari bukit ini yaitu bukit ini merupakan titik tertinggi dari kawasan ini. Dari bukit ini pengunjung dapat melihat pemandangan yang indah. Ketinggian dari Bukit Laya ini

sekitar 330 m dpl. Secara visual

pemandangan dari dan menuju tapak merupakan view yang menarik.

Hasil penilaian kelayakan objek dan atraksi wisata diklasifikasikan dalam tingkatan sebagai berikut:

SP : Sangat Potensial, dengan nilai 300-400

Objek dan atraksi wisata sangat potensial untuk dikembangkan sebagai sumberdaya wisata.

P : Potensial, dengan nilai 200-299

Objek dan atraksi wisata cukup potensial untuk dikembangkan sebagai sumberdaya wisata. Perlu perlakuan untuk meningkatkan kualitas menjadi

sangat potensial.

TP : Tidak Potensial, dengan nilai 100-199

Objek dan atraksi wisata yang tersedia tidak potensial dikembangkan sebagai sumberdaya wisata. Perlu perlakuan yang khusus dan mahal untuk meningkatkan kualitas menjadi sangat potensial.

Tabel 10. Tingkat kelayakan objek dan atraksi wisata Objek Potensi Wisata Parameter Kelayakan N K I S II S III S IV S Penangkaran Rusa Wisata Edukasi Interaksi dengan Rusa Panorama 90 S2 160 S1 40 S1 60 S2 350 SP

Gua Monyet Wisata Edukasi Panorama Wisata Alam 30 S4 40 S4 30 S2 20 S4 120 TP Curug Ciloseh Wisata Alam Panorama Aliran Air 90 S2 120 S2 30 S2 40 S3 280 P Curug Kembar Wisata Alam Panorama Aliran Air 90 S2 120 S2 30 S2 40 S3 280 P Sungai Cibeet Wisata Air Panorama 120 S1 80 S3 40 S1 60 S2 300 SP Hutan Pinus Perhutani Hutan Pegunungan Bawah Wisata Edukasi 90 S2 80 S4 30 S2 20 S4 220 P

Bukit Laya Panorama 60 S3 80 S4 30 S2 20 S4 190 TP

Keterangan: Parameter kelayakan ( I = aksesibilitas, II = potensi objek dan atraksi wisata,III = jarak dari jalan utama, IV = fasilitas wisata)

S = skor ( S1= sangat baik, S2 = baik, S3 = buruk, S4 = sangat buruk) N = nilai (maks = 400, min = 100)

Ga mbar 18. P eta ku ali tas visual

3. Aksesibilitas dan Fasilitas Pendukung

Dokumen terkait