• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Penelitian

1.1 Karakteristik Demografi

Responden penelitian ini berada pada rentang usia 14-61 yang penempatannya ada pada ruang rawatan dewasa (M=29,32, SD=12,21), lebih dari setengah responden (64,7%) berada pada rentang usia 30-45. Berdasarkan jenis kelamin, responden yang paling banyak adalah laki-laki (61,8%), sedangkan perempuan (38,2%). Agama yang dianut responden dalam penelitian ini islam (67,6%) dan Kristen Katolik (11,8%). Menurut kategori suku bangsa, seperdua jumlah responden (52,9%) bersuku batak, sedangkan responden bersuku aceh, dan melayu masing-masing memiliki persentase (2,9%). Lebih dari seperdua responden (61,8%) memiliki tingkat pendidikan SMA dan ressponden yang memiliki tingkat

pendidikan SD (2,9%). Pekerjaan karyawan, pegawai dan pelajar adalah pilihan terbanyak sebagai jenis pekerjaan keseluruhan responden dengan persentase yang sama yaitu sebanyak (20,6%). Tigaperempat dari jumlah responden (73,5%)

diberikan tindakan bedah ORIF pada ekstremitas bawah, dan pada ekstremitas atas (17,6%).

Tabel 1 Distribusi Data Responden di Rindu B3 Orthopedi RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2010 (n = 34)

Karakteristk Data Demografi Frekuensi Persentase 1. Usia (Tahun) 14-29 5 14,7 30-45 22 64,7 46-61 7 20,6 2. Jenis Kelamin Perempuan 13 38,2 Laki-laki 21 61,8 3. Agama Islam 23 67,6 Kristen Protestan 7 20,6 Kristen Katolik 4 11,8 4. Suku Bangsa Jawa 14 41,2 Batak 18 52,9 Aceh 1 2,9 Melayu 1 2,9

5. Pendidikan SD 1 2,9 SMP 7 20,6 SMA 21 61,8 DIPLOMA 2 5,9 SARJANA 3 8,8 6. Pekerjaan Karyawan 7 20,6 Pegawai 7 20,6 Wiraswasta 6 17,6

Ibu Rumah Tangga 4 11,8

Pelajar 7 20,6 Lain-lain 3 8,8 7. Lokasi ORIF Ekstremitas Atas 6 17,6 Ekstremitas Bawah 25 73,5 Mandibula 3 8,8

1.2 Intensitas Nyeri pada Pasien Pasca Bedah ORIF di Rindu B3 Orthopedi RSUP. H. Adam Malik Medan

Intensitas nyeri responden diukur dengan skala numerik PNRS, yang angka skalanya ditunjuk sendiri oleh responden pada saat peneliti menampilkan skala PNRS. Intensitas nyeri pasien pasca bedah ORIF

dikelompokkan menjadi beberapa kategori berdasarkan klasifikasi nilai skala yang ditunjuk pasien, tidak ada nyeri berarti nilai skala yang didapat adalah 0, penilaian skala 1-4 termasuk kategori ringan, sedangkan nilai 5-6 menunjukkan intensitas nyeri sedang dan nilai 7-10 menunjukkan intensitas nyeri berat. Kemudian hasil pengukuran intensitas nyeri langsung dilingkari pada nilai skala PNRS yang ditunjukkan pasien. Dari hasil pada hari ke-2 rawatan adalah hampir seluruh responden (97,1%, n=34) termasuk kategori nyeri berat dan hanya satu orang responden dari seluruh jumlah responden (2,9%, n=34) termasuk kategori intensitas nyeri sedang. Pada hari ke-3 rawatan didapatkan lebih dari setengah dari jumlah responden (64,7%, n=34) termasuk kategori intensitas nyeri sedang dan hanya 2 orang responden dari seluruh jumlah responden (5,9%, n=34) termasuk kategori intensitas nyeri ringan. Pada hari ke-4 rawatan sebanyak hampir dari tigaperempat responden (64,7%, n=34) termasuk kategori intensitas nyeri ringan dan kurang dari sepertiga jumlah responden (32,4%, n=34) termasuk kategori intensitas nyeri sedang.

Tabel 2 Distribusi Intensitas Nyeri Pasien Pasca Bedah ORIF di Rindu B3 Orthopedi RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2010

Intensitas Nyeri

Hari ke-2 Hari ke-3 Hari ke-4

F % f % F %

Tidak ada nyeri (0) 0 0 0 0 0 0

Nyeri ringan (1-4) 0 0 2 5,9 22 64,7

Nyeri sedang (5-6) 1 2,9 22 64,7 11 32,4

1.2.1 Intensitas Nyeri pada Pasien Pasca Bedah ORIF di Rindu B3 Orthopedi RSUP. H. Adam Malik Medan Berdasarkan Lama Hari Rawatan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh bahwa terdapat penurunan nilai skala intensitas nyeri yang ditunjukkan oleh responden dari hari ke hari masa rawatan. Semakin banyak hari rawatan semakin turun nilai skala intensitas nyeri yang ditunjukkan responden. Penurunan intensitas nyeri ini diperoleh dari pengukuran intensitas nyeri menggunakan skala numerik PNRS. Pengukuran ini dilakukan selama 3 hari berturut-turut, yaitu hari ke-2, 3 dan ke-4. Pengukuran intensitas nyeri dilakukan pada hari ke-2 karena banyak pertimbangan yang dianut oleh peneliti, salah satunya adalah kondisi dan kesedian responden, pada hari pertama rawatan banyak responden yang tidak setuju untuk diwawancarai.

Adapun hasil pengukuran intensitas nyeri yang didapatkan pada hari ke-2 rawatan adalah hampir seluruh responden mengalami intensitas nyeri kategori berat dan hanya satu orang responden dari seluruh jumlah responden termasuk kategori intensitas nyeri sedang (M=7,9, SD=0,9). Pada hari ke-3 rawatan didapatkan lebih dari setengah dari jumlah responden termasuk kategori intensitas nyeri sedang dan hanya 2 orang responden dari seluruh jumlah responden yang termasuk kategori intensitas nyeri ringan (M=5,9, SD=1,3). Pada hari ke-4 rawatan sebanyak hampir dari tiga per empat dari jumlah responden termasuk kategori intensitas nyeri ringan dan kurang dari sepertiga jumlah responden termasuk kategori intensitas nyeri sedang (M=4, SD=1,4).

Tabel 3 Distribusi intensitas nyeri pada pasien pasca bedah ORIF di RSUP. H. Adam Malik Medan Tahun 2010 berdasarkan lama hari rawatan

Intensitas Nyeri Hari ke-2 Hari ke-3 Hari ke-4

F % f % F %

Tidak ada nyeri (0) 0 0 0 0 0 0

Nyeri ringan (1-4) 0 0 2 5,9 22 64,7 Nyeri sedang (5-6) 1 2,9 22 64,7 11 32,4 Nyeri berat (7-10) 33 97,1 10 29,4 1 2,9 M=7,9 SD=0,9 M=5,9 SD=1,3 M=4 SD=1,4

1.3 Perilaku Nyeri pada Pasien Pasca Bedah ORIF di Rindu B3 Orthopedi RSUP. H. Adam Malik Medan

Prilaku nyeri responden diukur dengan the Ppain behavior observation protocol, adalah salah satu instrument yang dapat mengobservasi

perilaku nyeri pasien. Perilaku Nyeri akan diobservasi selama 10 menit laporan aktivitas, yaitu duduk selama satu menit dan selanjutnya duduk 2 menit, berbaring tiap satu menit, dilanjutkan berdiri selama satu menit kemudian dua menit, dan selanjutnya berjalan dua kali masing-masing satu menit. Perilaku nyeri akan diobservasi dan di beri penilaian dengan ketentuan: nilai 0 menunjukkan tidak ada perilaku nyeri, nilai 1 menunjukkan ada perilaku nyeri tetapi tidak sering terjadi, nilai 2 menunjukkan perilaku nyeri sering terjadi dan mendominasi.

Dari hasil pengukuran perilaku nyeri pada hari ke-2 rawatan adalah lebih dari setengah dari jumlah responden (64,7%, n=34) termasuk kategori

perilaku nyeri tinggi dan kurang dari setengah dari seluruh jumlah responden (35,3%, n=34) termasuk kategori perilaku intensitas nyeri sedang. Pada hari ke-3 rawatan didapatkan hampir dari seluruh jumlah responden (94,1%, n=34) termasuk kategori perilaku nyeri sedang dan masing-masing 1 orang jumlah responden (2,9%, n=34) termasuk kategori perilaku nyeri tingi dan rendah. Pada hari ke-4 rawatan lebih dari setengah jumlah responden (64,7%, n=34) termasuk kategori perilaku nyeri sedang dan hanya 1 orang responden (2,9%, n=34) termasuk kategori perilaku nyeri kategori tinggi.

Tabel 3 Distribusi Perilaku Nyeri pada Pasien Pasaca Bedah ORIF di RSUP. H. Adam Malik Medan Tahun 2010

Perilaku Nyeri

Hari ke-2 Hari ke-3 Hari ke-4

F % f % F %

Rendah (0-3) 0 0 1 2,9 11 32,4

Sedang (4-7) 22 64,7 32 94,1 22 64,7

Tinggi (8-10) 12 35,3 1 2,9 1 2,9

1.4 Perilaku Nyeri pada Pasien Pasca Bedah ORIF di Rindu B3 Orthopedi RSUP. H. Adam Malik Medan Berdasarkan Lama Hari Rawatan

Seperti halnya nilai skala intensitas nyeri nilai perilaku nyeri juga mengalami penurunan nilai. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh bahwa terdapat penurunan nilai yang ditulis di lembar observasi perilaku nyeri yang didapatkan peneliti dari hasil observasi terhadap responden dari hari ke hari lama hari rawatan. Semakin banyak hari rawatan semakin turun nilai perilaku

nyeri yang dilakukan responden. Penurunan perilaku nyeri ini diperoleh dari pengukuran intensitas nyeri menggunakan Protokol Perilaku Nyeri. Pengukuran ini dilakukan selama 3 hari berturut-turut, yaitu hari ke-2, 3 dan ke-4. Pengukuran intensitas nyeri dilakukan pada hari ke-2 karena banyak pertimbangan yang dianut oleh peneliti. Salah satunya adalah kondisi penerimaan dari pasien untuk mau diwawancarai.

Adapun hasil pengukuran perilaku nyeri yang didapatkan pada hari ke-2 rawatan adalah lebih dari setengah jumlah respondn responden termasuk kategori perilaku nyeri tinggi dan kurang dari setengah dari seluruh jumlah responden termasuk kategori perilaku intensitas nyeri sedang (M=7,4, SD=1,2). Pada hari ke-3 rawatan didapatkan hampir dari seluruh jumlah responden termasuk kategori perilaku nyeri sedang dan masing-masing 1 orang jumlah responden termasuk kategori perilaku nyeri tinggi dan rendah (M=5,5, SD=0,7). Pada hari ke-4 rawatan lebih dari setengah jumlah responden termasuk kategori perilaku nyeri sedang dan hanya 1 orang responden termasuk kategori perilaku nyeri kategori tinggi (M=3,3, SD=0,8).

Tabel 4 Distribusi Perilaku Nyeri pada Pasien Pasaca Bedah ORIF di RSUP. H. Adam Malik Medan Tahun 2010 berdasarkan Lama Hari Rawatan

Perilaku Nyeri

Hari ke-2 Hari ke-3 Hari ke-4

F % f % F %

Rendah (0-3) 0 0 1 2,9 11 32,4

Sedang (4-7) 22 64,7 32 94,1 22 64,7

Mean=7,4 SD=1,2 Mean= 5,5 SD=0,7 Mean=3,3 SD=0,8 2 Pembahasan

Penelitian ini membahas nilai dari intensitas dan perilaku nyeri dan juga memeriksa hubungan antara intensitas dan perilaku nyeri dari pada pasien yang memiliki nyeri pasca bedah ORIF. 34 pasien didapatkan dengan cara purposive sampling di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.

2.1Intensitas Nyeri pada Pasien Pasca Bedah ORIF di Rindu B3 Orthopedi RSUP. H. Adam Malik Medan

Intensitas nyeri di dalam penelitian ini telah dipaparkan sebagai nyeri sebar. Hasil penelitian pada hari ke-2 setelah pembedahan menunjukkan intensitas nyeri kategori berat dengan jumlah responden yang tinggi yaitu sebanyak 33 orang (97,1%), dan yang memiliki intensitas nyeri kategori sedang sebanyak 1 orang (2,9%). Kemudian pada hari ke-3 didapatkan lebih dari separuh jumlah responden (64,7%) yang memiliki intensitas nyeri kategori sedang, dan 2 orang memiliki intensitas nyeri kategori ringan. Sedangkan pada hari ke-4 setelah pembedahan intensitas nyeri berat hanya dengan 1 orang dari jumlah responden (2,9%, n=34), dengan jumlah responden yang paling tinggi ada pada intensitas nyeri kategori ringan yaitu hamper tigaperempat dari jumlah responden (64,7%).

Pengukuran intensitas nyeri pasien pasca bedah ORIF menggunakan skala nyeri numerik/skala pengukuran nyeri PNRS. Hasil pengukuran diatas sesuai dengan yang dijelaskan Brunner & Suddart (2002) bahwa sasaran

kebanyakan pembedahan ortopedi adalah memperbaiki fungsi dengan mengembalikan gerakan dan stabilitas, mengurangi nyeri, dan stabilitas. Walaupun pada dasarnya setelah pembedahan otopedi nyeri mungkin sangat berat, edema, hematoma dan spasme otot merupakan penyebab nyeri yang dirasakan. Beberapa pasien mengatakan bahwa nyerinya lebih ringan dibandingkan sebelumnya pembedahan, dan hanya memerlukan jumlah analgetik yang sedikit saja.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi nilai dari intensitas nyeri individu yang yang dipengaruhi oleh lokasi pemberian ORIF, atau tidak komplikasi bedah ORIF yang ada, obat anti nyeri yang telah digunakan (Tabel 1). Temuan riset telah mengarah pada pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana faktor-faktor persepsi, pembelajaran, kepribadian, etnik dan budaya dan lingkungan dapat mempengaruhi kualitas nyeri. Tingkat dan keparahan nyeri pascaoperatif tergantung pada anggapan fisiologi dan psikologi individu, toleransi yang ditimbulkan untuk nyeri, letak insisi, prosedur, kedalaman trauma bedah, jenis agens anastesia dan bagaimana agens tersebut diberikan (Sjamsuhidajat, 2001). Pada penelitian ini ditemukan nyeri berat dengan jumlah persentase yang paling tinggi hamper seperdua responden mengalaminya (44,1%), khususnya bagi responden yang melakukan tindakan bedah ORIF pada ekstremitas bawah (73,5%).

Berdasarkan usia, penelitian ini tidak menemukan signifikan yang berbeda diantara usia anak, remaja, dewasa sampai dengan lansia.. Hal ini disebabkan oleh karena pada penelitian ini hanya ditemukan 1 dari rentang usia

yang dominan yaitu pada rentang usia dewasa. Artinya peneliti hanya menemukan 1 rentang usia yaitu dewasa. Selain itu juga disebabkan karena jumlah sampel yang kecil, yaitu sebanyak 34 responden, yang dapat mewakili analisis data.

Dan jika intensitas nyeri pada pasien pasca bedah ORIF di Rindu B3 jika didasarkan pada jumlah hari rawatan menunjukkan semakin panjang hari setelah pembedahan semakin menurun intensitas nyeri yang dilaporkan responden. Pengukuran intensitas nyeri ini dilakukan selama 3 hari berturut-turut yang penyajiannya dalam bentuk general. Adapun responden yang memiliki intensitas nyeri pada hari ke-2 setelah pembedahan menunjukkan intensitas nyeri kategori berat dengan jumlah responden yang tinggi yaitu sebanyak 33 orang, dan yang memiliki intensitas nyeri kategori sedang sebanyak 1 orang (M=7,9, SD=0,9). Kemudian pada hari ke-3 didapatkan lebih dari setengah jumlah responden yang memiliki intensitas nyeri kategori sedang, dan 2 orang memiliki intensitas nyeri kategori ringan (M=5,9, SD=1,3). Sedangkan pada hari ke-4 setelah pembedahan intensitas nyeri berat hanya dengan 1 orang dari jumlah responden, dengan jumlah responden yang paling tinggi ada pada intensitas nyeri kategori ringan yaitu hampir tigaperempat dari jumlah responden (M=4, SD=1,4). Hasil ini didapatkan dari data subjektif yang ditunjukkan oleh pasien pada skala PNRS yang diberikan oleh peneliti.

Hal tersebut diatas sesuai dengan penelitian sebelumnya dalam Brunner & Sudart, (2001) yaitu beberapa pasien mengatakan bahwa nyeri hebat dirasakan setelah pembedahan, dan akan hilang setelah hari ke tiga atau empat pasca pembedahan. Tingkat dan respon nyeri pasien pasca bedah perlu dipantau

ketat, agar penambahan intensitas dan komplikasi nyeri tidak terjadi. Nyeri yang terus bertambah dan tak terkontrol perlu dilaporkan ke dokter bedah untuk dievaluasi.

2.2 Perilaku Nyeri pada Pasien Pasca Bedah ORIF di Rindu B3 Orthopedi RSUP. H. Adam Malik Medan

Perilaku nyeri merupakan perilaku fisik dan dapat diobservasi. Dalam penelitian ini, perilaku nyeri diobservasi dari perilaku pasien pasca bedah ORIF meliputi penjagaan, memegang area yang sakit, menggosok, meringis, dan mendesah saat mereka diserang nyeri dengan tingkatan tertentu. Hasil penelitian dari responden menunjukkan bahwa nilai yang dihasilkan pada perilaku nyeri berbanding lurus dengan intensitas nyeri yang dihasilkan. Hasil pengukuran perilaku nyeri pada hari ke-2 setelah pembedahan perilaku nyeri dengan kategori tinggi sebanyak 22 orang (64,7%), perilaku nyeri kategori sedang sebanyak 12 orang (35,3%). Pada hari ke-3 setelah pembedahan perilaku nyeri kategori sedang memiliki responden sebanyak 33 orang (94,1%), dan perilaku nyeri kategori tinggi memiliki responden sebanyak 1 orang (2,9%). Pada hari ke-4 pasca bedah ORIF perilaku nyeri kategori sedang sebanyak 22 orang (64,7%), perilaku nyeri kategori rendah memiliki responden sebanyak 11 orang (32,4%) dan perilaku nyeri kategori tinggi hanya 1 orang (2,9%). Beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku nyeri rendah adalah intensitas nyeri dan budaya.

Kelompok etnik dan budaya membedakan pengungkapan tentang perilaku nyeri (Lofvander & Furhoff, 2002 dalam Harahap, 2007). Budaya barat sangat berbeda dari budaya timur. Masyarakat dari budaya timur lebih cenderung lebih menahan keinginannya dan sedikit menerima nyeri yang dapat merusak

sebaliknya masyarakat dari budaya barat lebih liberal, bebas, dan banyak. Penelitian ini diadakan di Indonesia yang suku budayanya berbeda dari negara barat. Budaya batak lebih mengeksplorasi respons nyeri dalam bentuk perilaku nyeri yang memiliki kategori tinggi. Dalam penelitian ini jumlah responden yang bersuku batak ditemukan dalam persentase yang paling dominan (52,94%). Sesuai dengan pendapat Harahap 2007, yang menyatakan bahwa kebiasaan suku batak untuk laki-laki lebih disiapkan untuk tetap berdiri tegak kapanpun dimanapun dalam menerima penderitaan. Selain itu nilai diatas juga dipengaruhi oleh penelitian di Sumatera Utara, Medan yang mayoritas penduduknya bersuku batak.

Ungkapan perilaku nyeri tersebut menurut Anderson, Keefe, dan Bradkley dan koleganya dalam Harahap 2007 yang telah mengobervasi bahwa hampir seluruh pasien dengan penderita nyeri sering sekali menunjukkan penjagaan (guarding), menggosok pasif (passive rubbing) dan kekakuan (rigidity) sebagai ekspresi-ekspresi dari rasa nyeri mereka. Perilaku nyeri ini mungkin dipelihara, paling sedikit sebagian, oleh konsekuensi kekebelannya mungkin luar biasa, seperti perilaku rasa khawatir dari yang lain, atau fakta dari pengalaman menentang, seperti situasi pekerjaan yang tertekan atau konflik dengan kepentingan lainnya. Diantara lima dari perilaku nyeri, meringis (100%) dan mendesah (50%) adalah perilaku nyeri yang sering dilakukan responden.

Berdasarkan usia, penelitian ini tidak menemukan signifikan yang berbeda diantara usia anak, remaja, dewasa sampai dengan lansia.. Hal ini disebabkan oleh karena pada penelitian ini hanya ditemukan 1 dari rentang usia yang dominan yaitu pada rentang usia dewasa. Artinya peneliti hanya menemukan 1 rentang usia manusia yaitu dewasa. Selain itu juga disebabkan karena jumlah

sampel yang kecil, yaitu sebanyak 34 responden, yang dapat mewakili analisis data.

Pada pengukuran perilaku nyeri, peneliti menggunakan The Pain BehaviorObservation Protocol (PBOP). Perilaku Nyeri akan diobservasi selama

10 menit laporan aktivitas, yaitu duduk selama satu menit dan selanjutnya duduk 2 menit, berbaring tiap satu menit, dilanjutkan berdiri selama satu menit kemudian dua menit, dan selanjutnya berjalan dua kali masing-masing satu menit. Peneliti memodifikasi (PBOP) pada pasien yang diberikan tindakan bedah ORIF, yaitu pembatasan aktivitas dalam protokol selama pengkajian. Perilaku nyeri akan diobservasi dan di beri penilaian dengan ketentuan: nilai 0 menunjukkan tidak ada perilaku nyeri, nilai 1 menunjukkan ada perilaku nyeri tetapi tidak sering terjadi, nilai 2 menunjukkan perilaku nyeri sering terjadi dan mendominasi.

Berdasarkan lama rawatan, hasil penelitian tentang intensitas nyeri pada pasien pasca bedah ORIF di RSUP. H. Adam Malik Medan menunjukan jumlah yang berbanding lurus dengan intensitas nyeri pada pasien pasca bedah ORIF di RSUP. H. Adam Malik Medan. Sesuai dengan teori perilaku responden merupakan salah satu jenis perilaku refleks sebagai respon terhadap stimulus (Kats, 1998 dalam Harahap, 2007). Perilaku nyeri merupakan beberapa dan semua produksi-produksi dari individu yang mana observasi itu layak akan digolongkan sebagai nyeri yang berkesan seperti: (1)Gerakan Tubuh, (2)Ekspresi Wajah, (3)Pernyataan Verbal, (4) Perebahan badan, (5) Minum obat, (6)Pencarian resep obat dan (7) Penerima kerugian. Perilaku-perilaku nyeri adalah tindakan-tindakan yang berhubungan dengan ketidakmampuan (kecacatan) dan kegelisahan (contoh: kejang, lemas, aktivitas yang menurun) dan telah muncul untuk memainkan

peranan penting di dalam penurunan fungsi dari tingkatan yang dimiliki individu dan menambah kondisi nyeri (Fordyce, 1976 dalam harahap, 2007).

Pada penelitian ini didapatkan perilaku nyeri pada hari ke-2 setelah pembedahan perilaku nyeri dengan kategori tinggi sebanyak 22 orang, perilaku nyeri kategori sedang sebanyak 12 orang (M=7,4, SD=1,2). Pada hari ke-3 setelah pembedahan perilaku nyeri kategori sedang memiliki responden sebanyak 33 orang, dan perilaku nyeri kategori tinggi memiliki responden sebanyak 1 orang (M=5,5, SD=0,7). Pada hari ke-4 pasca bedah ORIF perilaku nyeri kategori sedang sebanyak 22 orang, perilaku nyeri kategori rendah memiliki responden sebanyak 11 orang dan perilaku nyeri kategori tinggi hanya 1 orang (M=3,3, SD=0,8).

Asmadi. (2008). Teknik Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta: Salemba Medika

Dokumen terkait