Intensitas Nyeri dan Perilaku Nyeri pada Pasien Pasca Bedah
ORIF di Rumah Sakit Umum Pusat Haji
Adam Malik Medan
SKRIPSI Oleh
Indah Septiani Pasaribu 091121064
FAKULTAS KEPERAWATAN UNUVERSITAS SUMATERA UTARA
PRAKATA Bismillahirrahmanirrahim
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, serta shalawat beriring salam saya hanturkan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW, karena berkat dan rahmat-Nya lah sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul “Intensitas Nyeri dan Perilaku Nyeri pada Pasien Pasca Bedah ORIF di RSUP H Adam Malik Medan”, yang merupakan syarat kelulusan penulis dalam menyelesaikan pendidikan S1 Keperawatan di Universtas Sumatera Utara. Dalam penyusunan skripsi ini, banyak kesulitan yang dihadapi penulis, namun karena rahmat Allah SWT disertai dengan usaha dan kemauan yang tinggi dari penulis serta bimbingan, bantuan dan motivasi dari berbagai pihak sehingga penulis dapat mengatasi kesulitan tersebut, berkenaan dengan hal itu dalam kesempatan ini penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada:
1. Bapak dr. Dedi Ardinata, M.Kes, sebagai Dekan Fakultas Keperawatan USU.
2. Bapak Ikhsanuddin Harahap, S.Kp, MNs sebagai dosen pembimbing I yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran serta memberikan masukan-masukan yang bermanfaat bagi skripsi ini.
3. Nur Asnah Sitohang S.Kep,Ns, M.Kep selaku pembimbing II yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga, dan memberikan motivasi yang bersifat membangun dalam pembuatan skripsi ini.
4. Bapak Mula Tarigan, S.Kp selaku dosen penguji yang telah banyak memberikan masukan-masukan bermanfaat dalam pembuatan skripsi ini.
5. Teristimewa kepada kedua orang tua saya, kepada ibunda tercinta yang terus memberikan motivasi dan doa yang tiada terhenti yang begitu berarti bagi saya, kepada Ayahanda tercinta yang terus memberikan dukungan moril dan materil kepada saya hingga saya masih bisa mengecap dunia perkuliahan, kepada adik-adikku terkasih yang tiada henti menjadi sumber motivator bagi saya. Rizky Aprianingsih Pasaribu, Rossy Annisa Pasaribu, dan Akbar Pasaribu.
yang sudah membantu dalam penerjemahan sumber-sumber dalam bentuk bahasa asing menjadi bahasa Indonesia.
7. Teman-teman Mahasiswa/I Fakultas Keperawatan terutama teman-teman Ekstensi stambuk 2009, yang terus memberikan dorongan agar tetap semangat.
8. Semua pihak yang dalam kesempatan ini tidak dapat seluruhnya disebutkan namanya satu-persatu yang banyak membantu saya dalam penyusunan skripsi ini.
Semoga segenap bantuan, bimbingan dan arahan yang telah diberikan kepada penulis mendapat imbalan yang setimpal dari Allah SWT. Penulis tidak menutup diri dari saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk meningkatkan pelayanan keperawatan, khususnya berguna bagi penelitian selanjutnya.
Medan, 07 Januari 2011
DAFTAR ISI
Halaman Judul... ii
Prakarta ... iii
Daftar Isi ... vi
Daftar Tabel ... viii
Daftar Skema ... ix
Abstrak ... x
BAB 1 Pendahuluan... 1
1 Latar Belakang Masalah ... 1
2 Tujuan Penelitian ... 5
3 Pertanyaan Penelitian ... 5
4 Manfaat Penelitian ... 5
4.1Bagi Praktek Keperawaan ... 5
4.2Bagi Pendidikan Keperawatan ... 6
4.3Bagi Penelitian Keperawatan ... 6
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 7
1. Nyeri ... 7
1.1 Pengertian Nyeri ... 7
1.2 Teori pengontrolan Nyeri ... 8
1.3 Fisiologi Nyeri ... 9
1.4Klasifikasi Nyeri ... 14
1.5Faktor-faktor yang Mempengaruhi Respon Nyeri ... 19
2. Intensitas Nyeri ... 22
2.1Defenisi Intensitas Nyeri... 22
2.2Pengukuran Intensitas Nyeri ... 22
2.3Intensitas Nyeri Pasien Pasca Bedah ... 26
2.4Nyeri Pasien Pasca Bedah ORIF ... 27
3. Prilaku nyeri ... 28
3.1Pengertian Perilaku Nyeri ... 28
3.2Jenis-jenis Perilaku Nyeri ... 30
3.3Perilaku Nyeri Pasien Pasca Bedah ORIF ... 34
4. Bedah ORIF ... 35
4.1 Defenisi bedah ORIF ... 36
4.2Tindakan Bedah Orif ... 36
4.3Sasaran Bedah ORIF ... 37
BAB 3 Kerangka Konsep Penelitian ... 38
1. Kerangka Konseptual ... 38
2. Kerangka Penelitian ... 39
BAB 4 Metode Penelitian... 42
7. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen ... 46
7. Proses Pengumpulan Data ... 46
8. Analisa Data ... 48
BAB 5 Hasil Penelitian ... 49
1 Hasil Penelitian ... 49
1.1 Deskipsi Data Responden ... 50
1.2 Deskripsi Intensitas Nyeri ... 52
1.3 Deskripsi Perilaku Nyeri ... 54
2 Pembahasan ... 57
2.1 Intensitas Nyeri Responden ... 57
2.2 Perilaku Nyeri Responden ... 60
BAB 6 Kesimpulan dan Saran ... 65
1 Kesimpulan ... 65
2 Saran ... 67
Daftar Pustaka ... 68
Lampiran 1. Lembar Persetujuan Menjadi Peserta Penelitian ... 70
2. Instrumen Penelitian ... 72
3. Jadwal Tentatif Penelitian ... 75
4. Taksasi Dana ... 76
5. Tabel Hasil Penelitian ... 77
6. Daftar Riwayat Hidup ... 82
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 5.1 Distribusi Data Responden di Rindu B3 Orthopedi RSUP H.
Adam Malik Medan ... 50 Tabel 5.2 Distribusi Intensitas Nyeri pada Pasien Pasaca Bedah ORIF
di RSUP. H. Adam Malik Medan……… 53 Tabel 5.3 Distribusi Perilaku Nyeri pada Pasien Pasaca Bedah ORIF
Judul : Intensitas Nyeri dan Perilaku Nyeri pada pasien Pasca Bedah ORIF di Rumah Sakit umum Pusat Haji Adam Malik Medan
Nama Mahasiswa : Indah Septiani Pasaribu Nim : 091121064
Jurusan : Sarjana Keperawatan (S.Kep) Tahun : 2011
ABSTRAK
Setiap individu membutuhkan rasa nyaman. Kebutuhan rasa nyaman ini dipersepsikan berbeda pada setiap orang. Kondisi ketidaknyamanan yang paling sering dihadapi klien adalah nyeri. Nyeri merupakan sensasi ketidaknyamanan yang bersifat individual. Klien merespon nyeri yang dialaminya dengan beragam cara, misalnya berteriak, meringis, dan lain-lain. Oleh karena nyeri bersifat subjektif, maka perawat mesti peka terhadap sensasi nyeri yang dialami klien Dalam konteks keperawatan, perawat harus memperhatikan dan memenuhi rasa nyaman. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, yang bertujuan untuk mengkaji nilai dari intensitas nyeri dan perilaku nyeri pada pasien pasca bedah ORIF. 34 pasien pasca bedah ORIF didapatkan dengan metode purposive sampling di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Data yang didapatkan bersumber dari hasil pengukuran menggunakan instrumen ukur data demografi, Skala Numerik Intensitas Nyeri/PNRS dan Laporan Observasi Perilaku Nyeri (Pain Behavior Observation Protocol). Uji validitas dan reabilitas instrument dalam penelitian ini tidak dilakukan karena penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dan juga penelitian ini telah mendapatkan uji validitas dan reabilitas dengan hasil valid oleh para peneliti sebelumnya. Pengukuran ini dilakukan selama 3 hari berturut-turut, yang penyajiannya dalam bentuk tabel distribusi. Hasil penelitian perilaku nyeri menunjukkan bahwa nilai yang dihasilkan berbanding lurus dengan intensitas nyeri yang dihasilkan. Hasil penelitian diatas dirincikan berdasarkan lama hari rawatan yaitu pada hari ke-2 hari rawatan pasca bedah ORIF, Intensitas nyeri terbanyak yang dimiliki responden adalah intensitas nyeri berat yaitu 33 orang (97,6%), dan jumlah responden yang memiliki intensitas nyeri sedang 1 orang (2,9%). Sedangkan perilaku nyeri hari ke-2 setelah pembedahan perilaku nyeri kategori tinggi sebanyak 22 orang (64,7%), perilaku nyeri kategori sedang sebanyak 12 orang (35,3%). Jadi semakin banyak hari rawatan pasca bedah ORIF, maka semakin sedikit respon nyeri yang dihasilkan
Judul : Intensitas Nyeri dan Perilaku Nyeri pada pasien Pasca Bedah ORIF di Rumah Sakit umum Pusat Haji Adam Malik Medan
Nama Mahasiswa : Indah Septiani Pasaribu Nim : 091121064
Jurusan : Sarjana Keperawatan (S.Kep) Tahun : 2011
ABSTRAK
Setiap individu membutuhkan rasa nyaman. Kebutuhan rasa nyaman ini dipersepsikan berbeda pada setiap orang. Kondisi ketidaknyamanan yang paling sering dihadapi klien adalah nyeri. Nyeri merupakan sensasi ketidaknyamanan yang bersifat individual. Klien merespon nyeri yang dialaminya dengan beragam cara, misalnya berteriak, meringis, dan lain-lain. Oleh karena nyeri bersifat subjektif, maka perawat mesti peka terhadap sensasi nyeri yang dialami klien Dalam konteks keperawatan, perawat harus memperhatikan dan memenuhi rasa nyaman. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, yang bertujuan untuk mengkaji nilai dari intensitas nyeri dan perilaku nyeri pada pasien pasca bedah ORIF. 34 pasien pasca bedah ORIF didapatkan dengan metode purposive sampling di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Data yang didapatkan bersumber dari hasil pengukuran menggunakan instrumen ukur data demografi, Skala Numerik Intensitas Nyeri/PNRS dan Laporan Observasi Perilaku Nyeri (Pain Behavior Observation Protocol). Uji validitas dan reabilitas instrument dalam penelitian ini tidak dilakukan karena penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dan juga penelitian ini telah mendapatkan uji validitas dan reabilitas dengan hasil valid oleh para peneliti sebelumnya. Pengukuran ini dilakukan selama 3 hari berturut-turut, yang penyajiannya dalam bentuk tabel distribusi. Hasil penelitian perilaku nyeri menunjukkan bahwa nilai yang dihasilkan berbanding lurus dengan intensitas nyeri yang dihasilkan. Hasil penelitian diatas dirincikan berdasarkan lama hari rawatan yaitu pada hari ke-2 hari rawatan pasca bedah ORIF, Intensitas nyeri terbanyak yang dimiliki responden adalah intensitas nyeri berat yaitu 33 orang (97,6%), dan jumlah responden yang memiliki intensitas nyeri sedang 1 orang (2,9%). Sedangkan perilaku nyeri hari ke-2 setelah pembedahan perilaku nyeri kategori tinggi sebanyak 22 orang (64,7%), perilaku nyeri kategori sedang sebanyak 12 orang (35,3%). Jadi semakin banyak hari rawatan pasca bedah ORIF, maka semakin sedikit respon nyeri yang dihasilkan
BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang
Setiap individu membutuhkan rasa nyaman. Kebutuhan rasa nyaman ini dipersepsikan berbeda pada setiap orang. Ada yang mempersepsikan bahwa hidup terasa nyaman bila mempunyai banyak uang. Ada juga yang indikatornya bila tidak ada gangguan dalam hidupnya. Dalam konteks keperawatan, perawat harus memperhatikan dan memenuhi rasa nyaman. Gangguan rasa nyaman yang dialami klien diatasi oleh perawat melalui intervensi keperawatan. Kondisi ketidaknyamanan yang paling sering dihadapi klien adalah nyeri. Nyeri merupakan sensasi ketidaknyamanan yang bersifat individual. Klien merespon nyeri yang dialaminya dengan beragam cara, misalnya berteriak, meringis, dan lain-lain. Oleh karena nyeri bersifat subjektif, maka perawat mesti peka terhadap sensasi nyeri yang dialami klien (Potter & Perry, 2001).
Asosiasi internasional untuk penelitian nyeri (International Association for the Study of Pain, IASP) mengatakan bahwa “Nyeri sebagai suatu sensori subjektif dan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau yang dirasakan dalam kejadian-kejadian dimana terjadi kerusakan” (IASP, 1979 dalam Potter, 2005).
yang klien rasakan. Nyeri bersifat subjektif, tidak ada dua individu yang mengalami nyeri yang sama dan tidak ada dua kejadian nyeri yang sama menghasilkan respons atau perasaan yang identik pada seorang individu. Nyeri merupakan sumber penyebab frustasi, baik klien maupun bagi tenaga kesehatan (Brunner & Suddart, 2001).
Mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan yang hebat merupakan intervensi keperawatan utama yang memerlukan keterampilan seni dan pengetahuan keperawatan. Hal tersebut juga memerlukan konsep yang berhubungan dengan nyeri, pengumpulan data terapi, terapi yang bermanfaat dan juga memerlukan kepekaan dan empati. Salah satu usaha perawat mencari tahu apa yang dialami oleh pasien dan mengkomunikasikan asuhan yang akan diberikan. Perawat memerlukan pendekatan yang sistematis (proses keperawatan) pada pasien yang menderita nyeri (Barbara, 1996).
Pengkajian karakteristik umum nyeri membantu perawat membentuk pengertian pola nyeri dan tipe terapi yang digunakan untuk mengatasi nyeri. Penggunaan instrumen untuk menghitung luas dan derajat nyeri bergantung kepada klien sadar secara kognitif dan mampu memahami instruksi perawat. Laporan tunggal klien tentang nyeri yang dirasakan merupakan indikator tunggal yang paling dapat dipercaya tentang keberadaan dan intensitas nyeri dan apapun yang berhubungan dengan ketidaknyamanan (NIH, 1986 dalam Brunner & Suddart, 2001).
Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri yang dirasakan individu. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologi tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Pengukuran subjektif nyeri dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai alat pengukur nyeri seperti visual analog, skala nyeri numerik, skala nyeri deskriptif atau skala nyeri Wong-Bakers untuk anak-anak (Tamsuri, 2007).
Ekspresi wajah atau gerakan tubuh yang bahkan tidak terlalu kentara seringkali lebih menunjukkan karekteristik nyeri dari pada pertanyaan yang akurat misalnya, klien menangis atau mulai mengguling kekiri dan kekanan dan akan kembali dalam waktu interval teratur. Jumlah gerakan gelisah. klien dan gerakan untuk melindungi bagian yang nyeri meningkat seiring proses pengkajian. Sifat nyeri menyebabkan seseorang merasa tidak nyaman, kemudian ia terus melawan rasa tidak nyaman tersebut atau menyerah, dan menarik diri dari masyarakat (Potter & Perry, 2005).
hematoma, dan spasme otot merupakan penyebab nyeri yang dirasakan. Beberapa pasien mengatakan bahwa nyeri hebat dirasakan setelah pembedahan, dan akan hilang setelah hari ke tiga atau empat pasca pembedahan. Tingkat dan respon nyeri pasien pasca bedah perlu dipantau ketat, agar penambahan intensitas dan komplikasi nyeri tidak terjadi. Nyeri yang terus bertambah dan tak terkontrol perlu dilaporkan ke dokter bedah untuk dievaluasi (Brunner & Sudart, 2001).
Berdasarkan data dari hasil survei awal peneliti di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan, pasien dengan bedah orthopedi memilki angka tertinggi kedua setelah bedah digestive. Ibu R, petugas di Ruang Rekam Medis Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan menyatakan bahwa:
“Setiap Bulannya di 1 tahun terakhir ini pasien yang diberikan tindakan pembedahan digestive meningkat dan pembedahan Orthopedi menempati urutan kedua setelahnya dengan penambahan angka kejadian yang melonjak dari dua tahun sebelumnya”.
Pada akhir tahun 2009 didapatkan data bahwa jumlah pasien bedah Orthopedi sebanyak 385 jiwa, yang didalamnya termasuk 136 jiwa, pasien yang diberikan tindakan bedah ORIF.
Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai intensitas nyeri dan perilaku nyeri pasien pasca bedah ORIF di RSUP Haji Adam Malik Medan.
2. Tujuan Penelitian
2.2 Mengkaji tingkah laku nyeri pada pasien pasca bedah ORIF di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.
3. Pertanyaan Penelitian
3.1 Berapa intensitas nyeri yang dialami pasien pasca bedah ORIF di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.
3.2 Bagaimana tingkah laku nyeri pada pasien pasca bedah ORIF di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.
4. Manfaat Penelitian
4.1 Bagi Praktek Keperawatan
Karena sasaran intervensi keperawatan pada pasien pasca bedah ORIF adalah pengurangan nyeri, maka hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi bagi perawat untuk menentukan intensitas nyeri dan perilaku nyeri pada pasien pasca bedah ORIF yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pemantauan nyeri dan pembenahan konsep diri pasien pasca bedah ORIF, baik dalam pemberian terapi farmakologi atau terapi nonfarmakologi yang disediakan.
4.2Bagi Pendidikan Keperawatan
Hasil penelitian ini berupa data objektif dan subjektif dari pasien pasca bedah ORIF, maka akan dapat menjadi pengkajian awal bagi mahasiswa sebagai bahan dasar dalam pembentukan intervensi keperawatan untuk menurunkan intensitas nyeri dan manajemen perilaku nyeri pasien pasca bedah ORIF.
4.3 Bagi Penelitian Keperawatan
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Penjelasan aspek-aspek terkait dalam penelitian ini akan dipaparkan sebagai berikut:
1. Nyeri
1.1 Pengertian Nyeri
Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan eksistensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Mc. Caffery, 1979 dalam Tamsuri, 2007). Nyeri adalah pengalaman sensori dan emsional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual atau potensial (Brunner & Suddarth, 2003). Sedangkan menurut International Association for Study of Pain (IASP) dalam Tamsuri (2007), nyeri adalah sensori
subjektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan. Dan Menurut Potter (2005) Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya.
sebagai bentuk pengalaman yang dapat dipelajari oleh pengaruh dari situasi hidup masing-masing orang.
1.2 Teori Pengontrolan nyeri (Gate control theory)
Terdapat berbagai teori yang berusaha menggambarkan bagaimana nosireseptor dapat menghasilkan rangsang nyeri. Sampai saat ini dikenal berbagai
teori yang mencoba menjelaskan bagaimana nyeri dapat timbul, namun teori gerbang kendali nyeri dianggap paling relevan (Tamsuri, 2007). Teori gate control dari Melzack dan Wall (1965) menyatakan bahwa impuls nyeri dapat
diatur atau dihambat oleh mekanisme pertahanan di sepanjang sistem saraf pusat. Teori ini mengatakan bahwa impuls nyeri dihantarkan saat sebuah pertahanan dibuka dan impuls dihambat saat sebuah pertahanan tertutup. Upaya menutup pertahanan tersebut merupakan dasar teori menghilangkan nyeri.
Suatu keseimbangan aktivitas dari neuron sensori dan serabut kontrol desenden dari otak mengatur proses pertahanan. Neuron delta-A dan C melepaskan substansi C melepaskan substansi P untuk mentranmisi impuls melalui mekanisme pertahanan. Selain itu, terdapat mekanoreseptor, neuron beta-A yang lebih tebal, yang lebih cepat yang melepaskan neurotransmiter penghambat. Apabila masukan yang dominan berasal dari serabut beta-A, maka akan menutup mekanisme pertahanan.
serabut delta A dan serabut C, maka akan membuka pertahanan tersebut dan klien mempersepsikan sensasi nyeri. Bahkan jika impuls nyeri dihantarkan ke otak, terdapat pusat korteks yang lebih tinggi di otak yang memodifikasi nyeri. Alur saraf desenden melepaskan opiat endogen, seperti endorfin dan dinorfin, suatu pembunuh nyeri alami yang berasal dari tubuh. Neuromedulator ini menutup mekanisme pertahanan dengan menghambat pelepasan substansi P. teknik distraksi, konseling, dan pemberian plasebo merupakan upaya untuk melepaskan endorfin (Potter & Perry, 2005).
1.3Fisiologi nyeri
1.2.1Reseptor Nyeri
Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima rangsangan nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulus kuat yang secara potensial merusak. Reseptor nyeri disebut juga nosireceptor, secara anatomis reseptor nyeri (nosireceptor) ada yang bermielien dan ada juga yang tidak bermielin dari syaraf perifer. Berdasarkan letaknya, nosireseptor dapat dikelompokkan dalam beberapa bagian tubuh yaitu pada kulit (Kutaneus), somatik dalam (deep somatic), dan pada daerah viseral, karena letaknya yang berbeda-beda inilah, nyeri yang timbul juga memiliki sensasi yang berberbeda-beda. Nosireceptor kutaneus berasal dari kulit dan sub kutan, nyeri yang berasal dari daerah ini
biasanya mudah untuk dialokasi dan didefinisikan (Tamsuri, 2007). Impuls saraf yang dihasilkan oleh stimulus nyeri menyebar di sepanjang saraf perifer aferen. Menurut Jones dan Cory (1990), ada dua tipe serabut saraf perifer yang mengonduksi stimulus nyeri yaitu:
a. Reseptor A-delta
Merupakan serabut komponen cepat (kecepatan tranmisi 6-30 m/det). memungkinkan timbulnya nyeri tajam, yang akan cepat hilang apabila penyebab nyeri dihilangkan (Tamsuri, 2007).
b. Serabut C
sulit dilokalisasi. Struktur reseptor nyeri somatik dalam meliputi reseptor nyeri yang terdapat pada tulang, pembuluh darah, syaraf, otot, dan jaringan penyangga lainnya. Karena struktur reseptornya komplek, nyeri yang timbul merupakan nyeri yang tumpul dan sulit dilokalisasi. Reseptor nyeri jenis ketiga adalah reseptor viseral, reseptor ini meliputi organ-organ viseral seperti jantung, hati, usus, ginjal dan sebagainya. Nyeri yang timbul pada reseptor ini biasanya tidak sensitif terhadap pemotongan organ, tetapi sangat sensitif terhadap penekanan, iskemia dan inflamasi (Tamsuri, 2007).
Contoh nyata adanya konduksi stimulus pada tubuh kita yaitu: seseorang yang baru saja terpijak paku mula-mula akan merasakan nyeri yang terlokalisasi dan tajam, yang merupakan hasil transmisi dari serabut A. dalam beberapa jam nyeri menjadi lebih difus dan menyebar sampai seluruh kaki terasa sakit karena persarafan serabut C. Serabut C tetap terpapar pada bahan-bahan kimia, yang dilepaskan ketika sel mengalami kerusakan ( Ketika serabut C dan A-delta mentransmisikan impuls dari serabut saraf perifer terjadi pelepasan mediator biokimia yang mengaktifkan respons nyeri. Contoh sederhana Mediator biokimia adalah kalium dan prostaglandin yang dilepaskan saat sel-sel lokal mengalami kerusakan (Potter & Perry, 2005).
berakhir di bagian kornu dorsalis medulla spinalis. Di dalam kornu dorsalis, neotransmiter, seperti substansi P dilepaskan, sehingga menyebabkan suatu transmisi sinapsis dari saraf perifer (sensori) ke saraf traktus spinotalamus (Paice, 1991 dalam Potter & Potter, 2005).
1.2.2Neuroregulator
Tamsuri (2007) menjelaskan bahwa, ada beberapa neuregulator yang berperan dalam penghantaran impuls nyeri antara lain:
a. Neurotransmitter
1). Substansi P (peptide)
Substansi P ditemukan di kornu dorsalis (peptide ektisator). Substansi ini diperlukan untuk mentransmisi impuls nyeri dari perifer ke otak. Substansi P menyebabkan vasodiladatasi dan edema (Potter&Perry, 2005).
2). Serotonin
Serotonin dilepaskan oleh batang otak dan kornu dorsalis untuk menghambat transmisi nyeri (Potter&Perry, 2005).
3). Prostaglandin
Prostaglandin dibangkitkan dari pemecahan pospolipid di membrane sel, prostaglandin dipercaya dapat meningkatkan sensitivitas terhadap sel (tamsuri, 2007).
b. Neuromodulator
1). Endorfin (Morfin Endogen)
nyeri, lokasinya berada pada otak, spinal, dan traktus gastrointestinal dan, endomorfin juga memberi efek analgesik (Tamsuri, 2007).
2). Bradikinin
Bradikinin dilepaskan dari plasma dan pecah di sekitar pembuluh darah pada daerah yang mengalami cedera. Bradikinin bekerja pada reseptor saraf perifer menyebabkan peningkatan stimulus nyeri dan bekerja pada sel menyebabkan reaksi berantai sehingga terjadi pelepasan prostaglandin (Tamsuri, 2007).
1.4 Klasifikasi Nyeri
Tamsuri, 2005 membagi klasifikasi nyeri berdasarkan 3 bagian, yaitu:
1.4.1 Klasifikasi Berdasarkan Awitan
persisten. Nyeri kronis dibedakan dalam dua kelompok besar, yaitu nyeri kronis maligna dan nyeri kronis nonmaligna. Karakteristik nyeri kronis adalah penyembuhannya tidak dapat diprediksikan meskipun penyebabnya mudah ditentukan. Nyeri kronis dapat menyebabkan klien merasa putusasa dan frustasi. Klien yang mengalami nyeri kronis mungkin menarik diri dan mengisolasi diri. Nyeri ini menimbulkan kelelahan mental dan fisik (Brunner&Suddart, 2003).
1.4.2 Klasifikasi Berdasarkan Lokasi
Berdasarkan lokasi nyeri, nyeri dapat dibedakan menjadi enam jenis, yaitu:
a. Nyeri Superfisial
Nyeri Superfisial biasanya timbul akibat stimulasi terhadap kulit seperti pada laserasi, luka bakar dan sebagainya. Nyeri jenis ini mempunyai waktu penyembuhan yang pendek, terlokalisir, dan memiliki sensasi yang tajam (Tamsuri, 2007). Pheriperal pain adalah nyeri yang terasa pada permukaan tubuh misalnya kulit, mukosa (Barbara, 1996).
b. Nyeri Somatik Dalam (Deep Somatik Pain)
c. Nyeri Viseral
Nyeri viseral adalah nyeri yang disebabkan oleh organ interna. Nyeri yang timbul bersifat difus dan durasinya cukup lama. Sensasi yang timbul biasanya tumpul (Tamsuri, 2007).
d. Nyeri Sebar (Radiasi)
Nyeri sebar adalah sensasi nyeri yang meluas dari daerah asal ke jaringan sekitar. Nyeri jenis ini biasanya dirasakan oleh klien seperti berjalan atau bergerak dari daerah asal nyeri ke sepanjang tubuh tertentu. Nyeri dapat bersifat intermitten atau konstan (Tamsuri, 2007).
e. Nyeri Fantom
Nyeri pantom adalah nyeri khusus yang dirasakan oleh klien yang mengalami amputasi. Nyeri oleh klien dipersepsikan pada organ yang mengalami amput asi seolah-olah organnya masih ada (Tamsuri, 2007).
f. Nyeri Alih
1.4.3 Berdasarkan Organ
Berdasarkan pada organ tempat timbulnya nyeri, nyeri dapat dikelompokkan dalam:
a. Nyeri Organik
Nyeri Organik adalah nyeri yang diakibatkan adanya kerusakan (aktual atau potensial) organ. Penyebab nyeri umumnya mudah dikenali sebagai akibat adanya cedera, penyakit atau pembedahan terhadap salah satu atau beberapa organ (Tamsuri, 2007).
b.Nyeri Neurogenik
Nyeri Neurogenik adalah nyeri akibat gangguan neuron, misalnya pada neuralgia. Nyeri ini terjadi secara akut amupun kronis (Tamsuri, 2007). Nyeri pada system neurologis timbul dalam berbagai bentuk. Neuralgia adalah nyeri yang tajam, seperti spasmus disepanjang satu atau beberapa jalur saraf. Dua bentuk neuralgia adalah saraf trigeminus pada muka dan saraf sciatic pada bagian bawah tubuh. Causalgia sejenis neuralgia adalah rasa nyeri yang terasa sangat membakar disertai dengan cedera saraf perifer pada eksremitas. Pasien biasanya akan merasakan jalur yang sangat panjangguna mencegah stimulus yang mengiritasi (seperti suara kapal terbang diatas kepala) (Barbara, 1996).
Nyeri Psikogenik adalah nyeri akibat berbagai faktor psikogenik. Gangguan ini lebih mengarah ke gangguan psikogenik dari pada gangguan organ. Klien yang menderita “benar-benar” mengalaminya. Nyeri ini umumnya terjadi ketika efek-efek psikogenik seperti cemas dan takut timbul pada klien (Tamsuri, 2007).
Nyeri psikogenik adalah tanpa diketahui adanya temuan pada fisik yaitu timbul dari pikiran pasien. Perasaan yang ditanggapi oleh seorang sebagai “nyeri” dan bisa segawat nyeri yang bersumber dari stimulus fisik. Nyeri psikologis yang murni tidak ada tanda-anda fisiologis dan sangat jarang. Seringkali nyeri psikologis adalah nyeri yang muncul dari landasan psikologis dan bukan fisiologis. Pada beberapa keadaan disebut nyeri psikogenik dan baru diketahui itu baru mempunyai landasan fisik dan tidak diketahui sebelumnya (Barbara, 1996).
1.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi Respon Nyeri
Dalam bukunya, harry dan potter menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri terdiri atas:
1.5.1 Usia
patologis dan mengalami kerusakan fungsi. Pada lansia cenderung memendam nyeri yang dialami, karena mereka menganggap nyeri adalah hal alamiah yang harus dijalani dan mereka takut kalau mengalami penyakit berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan (Potter&Perry, 2005).
1.5.2 Jenis kelamin
Gill (1990) mengungkapkan laki-laki dan wanita tidak berbeda secara signifikan dalam merespon nyeri, justru lebih dipengaruhi faktor budaya dan faktor biokimia. Dari data diatas penulis menyimpulkan tidak pantas jika laki-laki mengeluh nyeri sedangkan wanita boleh mengeluh nyeri (Potter&Perry,2005).
1.5.3 Kebudayaan
Gureje, Korff, Simon, & Gater, 1996, menyatakan bahwa, keyakinan dan nilai-nilai budaya mempengaruhi cara individu menyatakan atau mengekspresikan nyeri. Selain itu, latar belakang budaya dan sosial mempengaruhi pengalaman dan penanganan nyeri (Brannon & Feist, 2007). Budaya dan etnisitas mempunyai pengaruh pada bagaimana seseorang berespons terhadap nyeri, bagaimana nyeri diuraikan atau seseorang berperilaku dalam berespons terhadap nyeri. Namun budaya dan etnik tidak mempengaruhi persepsi nyeri (Zatzick&Dimsdale, 1990 dalam Brunner&Sudart, 2003).
bahwa persepsi dan reaksi mereka terhadap nyeri adalah normal dapat diterima. Nilai-nilai budaya perawat dapat berbeda dengan nilai-nilai budaya pasien dari budaya lain. Harapan dan nilai-nilai budaya perawat dapat mencakup menghindari ekspresi nyeri yang berlebihan seperti meringis, dan menangis berlebihan (Brunner&Sudart, 2003).
1.5.4 Makna nyeri
Individu akan mempersepsikan dengan cara berbeda-beda, apabila nyeri tersebut memberi kesan ancaman, suatu kehilangan, hukuman, dan tantangan. Derajat dan kualitas nyeri akibat cedera karena hukuman dan tantangan. Makna nyeri oleh seseorang akan berbeda jika pengalamannya tentang nyeri juga berbeda. Selain pengalaman, Makna nyeri juga dapat ditentukan dari cara seseorang beradaptasi terhadap nyeri yang dialami. Misalnya, seseorang wanita yang sedang bersalin akan mempersepsikan nyeri yang berbeda dengan seorang wanita yang mengalami nyeri akibat cedera pukulan pasangannya (Potter&Perry, 2005).
1.5.5 Perhatian
1.5.6 Ansietas
Hubungan antara nyeri dan ansietas bersifat kompleks. Ansietas seringkali meningkatkan persepsi nyeri, tetapi juga seringkali menimbulkan suatu perasaan ansietas. Pola bangkitan otonom adalah sama dalam nyeri dan ansietas(Gil, 1990 dalam Potter&Perry, 2005). Sama hubungan cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri bisa menyebabkan seseorang cemas. Sulit untuk memisahkan dua sensasi, stimulus nyeri mengaktifkan bagian sistem limbik yang diyakinkan
2. Intensitas Nyeri
2.1 Defenisi Intensitas Nyeri
Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun, pengukuran dengan teknik ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007).
2.2 Intensitas Pengukuran Nyeri
and Trauma, 1992, dalam Brunner dan Suddart, 2001 terdiri atas tiga bentuk, yaitu.
a. Skala Intensitas Nyeri Deskriptif
Keterangan: Pada skala verbal : 0= tidak nyeri, 1-3=nyeri ringan, 4-6=nyeri sedang, 7-9=nyeri terkontrol, 10=nyeri hebat tidak terkontrol
b. Skala intensitas nyeri numerik
Keterangan: 0=tidak nyeri, 1-9=nyeri sedang yang kriterianya dapat ditentukan, 10=nyeri hebat tak tertahankan
Skala penilaian numerik (Numerical rating scales, NRS) lebih digunakan sebagai pengganti alat pendeskripsi kata. Dalam hal ini, klien menilai nyeri dengan menggunakan skala 0-10. Skala paling efektif digunakan saat mengkaji intensitas nyeri sebelum dan setelah intervensi terapeutik. Apabila digunakan skala untuk menilai nyeri, maka direkomendasikan patokan 10 cm (AHCPR, 1992 dalam Tamsuri, 2007).
c. Skala analog visual
Tidak Nyeri Sangat
Nyeri Hebat
Skala analog visual (Visual analog scale, VAS) tidak melebel subdivisi. VAS adalah suatu garis lurus, yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. Skala ini memberi klien kebebasan penuh untuk mengidentifikasi keparahan nyeri. VAS dapat merupakan pengukuran keparahan nyeri yang lebih sensitif karena klien dapat mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian dari pada dipaksa memilih satu kata atau satu angka. Skala nyeri harus dirancang sehingga skala tersebut mudah digunakan dan tidak mengkomsumsi banyak waktu saat klien melengkapinya. Apabila klien dapat membaca dan memahami skala, maka deskripsi nyeri akan lebih akurat. Skala deskritif bermanfaat bukan saja dalam upaya mengkaji tingkat keparahan nyeri, tapi juga, mengevaluasi perubahan kondisi klien. Perawat dapat menggunakan setelah terapi atau saat gejala menjadi lebih memburuk atau menilai apakah nyeri mengalami penurunan atau peningkatan (Potter, 2005).
2.2.2 Skala nyeri menurut bourbanis
dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi, 10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul.
2.2.3 The Pain Numerical Rating Scale (PNRS)/Skala Numerik
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Tidak Nyeri Berat
Nyeri
PNRS digunakan untuk ukuran intensitas nyeri (segera atau sekarang). Skala terdiri dari 11 poin yang mana 0 menunjukkan “tidak ada nyeri” dan 10 menunjukkan “nyeri sangat berat”, penilaian dari 1-4 disamakan dengan nyeri ringan, 5-6 untuk nyeri sedang, dan 7-10 untuk nyeri berat (Serlin dkk, 1995 dalam Harahap, 2007).
2.3 Intensitas Nyeri Pasien Pasca Bedah
Menurut Benedetti (1990), nyeri yang hebat menstimulasi reaksi stress yang secara merugikan mempengaruhi sistem jantung dan imun. Ketika impuls nyeri ditransmisikan, tegangan otot meningkat, seperti halnya pada vasokonstriksi lokal. Iskemia pada tempat yang sakit rnenyebabkan stimulasi lebih jauh dari reseptor nyeri. Bila impuls yang menyakitkan ini menjalar secara sentral, aktivitas simpatis diperberat, yang meningkatkan kebutuhan miokardium dan konsumsi oksigen. Penelitian telah menunjukkan bahwa insufisiensi kardiovaskular terjadi tiga kali lebih sering dan insiden infeksi lima kali lebih besar pada individu dcngan kontrol nyeri yang buruk (Smeltzer & Bare, 2000).
Pada luka operasi, analgetik sebaiknya diberikan dengan rencana sesuai dengan letak dan sifat luka, bukan “diberikan kalau perlu”. Dosis yang diberikan pun bergantung pada reaksi penderita (Sjamsuhidajat, 2001). Peredaan nyeri komplit pada daerah dari insisi bedah dapat tidak terjadi selama beberapa minggu, tergantung pada letak dan sifat pembedahan. Namun demikian, perubahan posisi pasien, penggunaan distraksi, pemasangan washcloths dingin pada wajah, dan pemijatan punggung dengan losion yang menyegarkan dapat sangat membantu dalam menghilangkan ketidaknyamanan temporer dan meningkatkan medikasi lebih efektif ketika diberikan (Smeltzer & Bare, 2000).
2.4 Intensitas Nyeri pada Pasien Pasca Bedah Open Reduction and Internal Fixation (ORIF)
jaringan lunak diantara fragmen tulang dapat terlibat kerusakan pembuluh darah dan persyarafan.
Dalam Brunner & Suddart, 2002 dijelaskan sasaran kebanyakan pembedahan ortopedi adalah memperbaiki fungsi dengan mengembalikan gerakan dan stabilitas, mengurangi nyeri, dan stabilitas. Walaupun pada dasarnya setelah pembedahan otopedi nyeri mungkin sangat berat, edema, hematoma dan spasme otot merupakan penyebab nyeri yang dirasakan. Beberapa pasien mengatakan bahwa nyerinya lebih ringan dibandingkan sebelumnya pembedahan, dan hanya memerlukan jumlah analgetik yang sedikit saja.
Tingkat nyeri pasien dan respons terhadap upaya teraupetik harus dipantau ketat. Harus diupayakan segala usaha untuk mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan. Nyeri yang terus bertambah dan tak terkontrol perlu dilaporkan ke dokter bedah ortophedi untuk dievaluasi (Brunner & Suddart, 2002).
3. Perilaku Nyeri
3.1 Pengertian Perilaku Nyeri
Perilaku nyeri merupakan beberapa dan semua produksi-produksi dari individu yang mana observasi itu layak akan digolongkan sebagai nyeri yang berkesan seperti: (1)Gerakan Tubuh, (2)Ekspresi Wajah ,(3)Pernyataan Verbal, (4) Perebahan badan, (5) Minum obat, (6)Pencarian resep obat dan (7) Penerima kerugian. Perilaku-perilaku nyeri adalah tindakan-tindakan yang berhubungan dengan ketidakmampuan (kecacatan) dan kegelisahan (contoh: kejang, lemas, aktivitas yang menurun) dan telah muncul untuk memainkan peranan penting di dalam penurunan fungsi dari tingkatan yang dimiliki individu dan menambah kondisi nyeri (Fordyce, 1976 dalam harahap, 2007).
Perilaku nyeri merupakan tanda-tanda dari nyeri dan kekuatan dalam memperoleh perhatian dan respon dari yang lain. Anderson, Keefe, dan Bradkley dan koleganya telah mengobervasi bahwa pasien dengan penderita nyeri sering sekali menunjukkan penjagaan (guarding), menggosok pasif (passive rubbing) dan kekakuan (rigidity) sebagai ekspresi-ekspresi dari rasa nyeri mereka. Perilaku nyeri ini mungkin dipelihara, paling sedikit sebagian, oleh konsekuensi kekebelannya mungkin luar biasa, seperti perilaku rasa khawatir dari yang lain, atau fakta dari pengalaman menentang, seperti situasi pekerjaan yang tertekan atau konflik dengan kepentingan lainnya.
(3)Gerakan Tubuh: gelisah, imobilisasi, ketegangan otot, peningkatan gerakan jari dan tangan (4)Kontak dengan orang lain/interaksi social: menghindari percakapan, menghindari kontak social, penurunan rentamg perhatian, dan fokus pada aktivitas menghilangkan nyeri.
3.2 Jenis-jenis Perilaku Nyeri
Perilaku nyeri kronis secara khusus berdasarkan atas dasar pikiran sekurang-kurangnya di bagi dua jenis yaitu: perilaku responden dan perilaku operant (Harahap, 2007)
3.2.1Perilaku responden
Perilaku responden merupakan salah satu jenis perilaku refleks sebagai respon terhadap stimulus (Kats, 1998 dalam Harahap, 2007) yang muncul kapanpun (Fordyce, 1976 dalam Harahap, 2007). Stimulus yang muncul biasanya spesifik dan dapat diprediksi (Fordyce, 1976 dalam Harahap, 2007). Perilaku responden merupakan perilaku secara spontan. Ketika stimulus muncul dengan adekuat seperti stimulus nosiseptif, respon perilaku kemungkinan akan terjadi. Dalam perbandingan, ketika stimulus muncul tidak dengan adekuat, perilaku yang nampak tidak akan terjadi. Oleh karena itu, perilaku responden secara keras merupakan faktor-faktor dari stimuli (Harahap, 2007).
bahwa perilaku nyeri secara positif telah menghubungkan dengan intensitas nyeri dan nyeri hebat. (Ahles et all, 1983 dalam Harahap, 2007).
3.2.2 Perilaku operant
Perilaku operant biasanya tidak berhubungan dengan spesifik respon terhadap stimulus (Kats, 1998 dalam Harahap, 2007). Ini akan muncul sebagai respon secara langsung dan otomatis terhadap stimulus yang muncul, sama juga sebagai perilaku responden. Tetapi perilaku operant mungkin muncul karena perilaku-perilaku tersebut telah diikuti dengan positif atau konsekuensi yang kuat (Fordyce, 1976 dalam Harahap, 2007). Perilaku operant sering kali tidak berhubungan dengan spesifik respon terhadap stimulus yang muncul (Kats, 1998 dalam Harahap, 2007).
3.3 Respon perilaku nyeri
Pada saat nyeri dirasakan, pada saat itu juga dimulai suatu siklus. Apabila tidak diobati atau tidak dilakukan upaya untuk menghilangkannya, dapat mengubah kualitas kehidupan individu secara bermakna (Potter&Perry, 2005). Respons perilaku yang timbul pada klien yang mengalami nyeri dapat bermacam-macam. Menurut Brunner dan Suddart (2003) bahwa, respon perilaku yang biasa terhadap nyeri mencakup:
3.3.1 Pernyataan verbal (Mengaduh, Menangis, Sesak Nafas, Mendengkur).
3.3.3 Gerakan tubuh (Gelisah, Imobilisasi, Ketegangan otot, peningkatan gerakan jari & tangan).
3.3.4 Kontak dengan orang lain/interaksi sosial (Menghindari percakapan, Menghindari kontak sosial, Penurunan rentang perhatian, Fokus pada aktivitas menghilangkan nyeri).
Individu yang mengalami nyeri dengan awitan mendadak dapat bereaksi sangat berbeda terhadap nyeri yang berlangsung selama beberapa menit atau menjadi kronis. Nyeri dapat menyebabkan keletihan dan membuat individu terlalu letih untuk merintih atau menangis. Pasien dapat tidur, bahkan dengan nyeri hebat. Pasien dapat tampak rileks dan terlibat dalam aktivitas karena menjadi mahir dalam mengalihkan perhatian terhadap nyeri( Brunner&Suddart, 2001).
Meinhart & McCaffery (1983) dalam Potter (2005) mendiskripsikan 3 fase pengalaman nyeri:
a. Fase antisipasi (terjadi sebelum nyeri diterima)
b.Fase sensasi (terjadi saat nyeri terasa)
Fase ini terjadi ketika klien merasakan nyeri. karena nyeri itu bersifat subjektif, maka tiap orang dalam menyikapi nyeri juga berbeda-beda. Toleransi terhadap nyeri juga akan berbeda antara satu orang dengan orang lain. Orang yang mempunyai tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri tidak akan mengeluh nyeri dengan stimulus kecil, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah akan mudah merasa nyeri dengan stimulus nyeri kecil. Klien dengan tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri mampu menahan nyeri tanpa bantuan, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah sudah mencari upaya mencegah nyeri, sebelum nyeri datang. Keberadaan enkefalin dan endorfin membantu menjelaskan bagaimana orang yang berbeda merasakan tingkat nyeri dari stimulus yang sama. Kadar endorfin berbeda tiap individu, individu dengan endorfin tinggi sedikit merasakan nyeri dan individu dengan sedikit endorfin merasakan nyeri lebih besar.
Klien bisa mengungkapkan nyerinya dengan berbagai jalan, mulai dari ekspresi wajah, vokalisasi dan gerakan tubuh. Ekspresi yang ditunjukan klien itulah yang digunakan perawat untuk mengenali pola perilaku yang menunjukkan nyeri. Perawat harus melakukan pengkajian secara teliti apabila klien sedikit mengekspresikan nyerinya, karena belum tentu orang yang tidak mengekspresikan nyeri itu tidak mengalami nyeri. Kasus-kasus seperti itu tentunya membutuhkan bantuan perawat untuk membantu klien mengkomunikasikan nyeri secara efektif.
Fase ini terjadi saat nyeri sudah berkurang atau hilang. Pada fase ini klien masih membutuhkan kontrol dari perawat, karena nyeri bersifat krisis, sehingga dimungkinkan klien mengalami gejala sisa pasca nyeri. Apabila klien mengalami episode nyeri berulang, maka respon akibat (aftermath) dapat menjadi masalah kesehatan yang berat. Perawat berperan dalam membantu memperoleh kontrol diri untuk meminimalkan rasa takut akan kemungkinan nyeri berulang.
3.4 Klasifikasi Perilaku Nyeri
Perilaku Nyeri pada Pasien Pasca Bedah Open Reduction and Internal Fixation (ORIF)
4. Bedah ORIF
4.1 Defenisi Bedah ORIF
Reduksi terbuka adalah tindakan reduksi dan melakukan kesejajaran tulang yang patah setelah terlebih dahulu dilakukan diseksi atau pemajanan tulang yang patah. Fiksasi interna adalah stabilisasi tulang yang sudah patah yang telah direduksi dengan skrup, plat, paku dan pin logam. Maka, dapat ditarik kesimpulan Open Reduksi Internal Fiksasi (ORIF) adalah sebuah prosedur bedah medis, yang tindakannya mengacu pada operasi terbuka untuk mengatur tulang, seperti yang diperlukan untuk beberapa patah tulang, fiksasi internal mengacu pada fiksasi sekrup dan piring untuk mengaktifkan atau memfasilitasi penyembuhan (Brunner&Suddart, 2003).
4.2 Tindakan Pembedahan ORIF (Open Reduction And Internal Fixation) a. Reduksi Terbuka
Insisi dilakukan pada tempat yang mengalami cedera dan diteruskan sepanjang bidang anatomi menuju tempat yang mengalami fraktur. Fraktur diperiksa dan diteliti. Fragmen yang telah mati dilakukan irigasi dari luka. Fraktur direposisi agar mendapatkan posisi yang normal kembali. Sesudah reduksi fragmen-fragmen tulang dipertahankan dengan alat ortopedik berupa: pin, skrup, plate, dan paku (Wim de Jong,m, 2000).
1). Keuntungan
lebih singkat, dapat lebih cepat kembali ke pola ke kehidupan normal (Barbara, 1996).
2). Kerugian
Kemungkinan terjadi infeksi dan osteomielitis tinggi (Barbara, 1996). b.Fiksasi Internal
Metode alternatif manajemen fraktur dengan fiksasi eksternal, biasanya pada ekstrimitas dan tidak untuk fraktur lama Post eksternal fiksasi, dianjurkan penggunaan gips. Setelah reduksi, dilakukan insisi perkutan untuk implantasi pen ke tulang. Lubang kecil dibuat dari pen metal melewati tulang dan dikuatkan pennya. Perawatan 1-2 kali sehari secara khusus, antara lain: Observasi letak pen dan area, observasi kemerahan, basah dan rembes, observasi status neurovaskuler distal fraktur, fiksasi eksternal fiksasi internal pembidaian, fiksasi internal dilaksanakan dalam teknik aseptis yang sangat ketat dan pasien untuk beberapa saat mandapat antibiotik untuk pencegahan setelah pembedahan (Barbara, 1996).
4.3 Sasaran Bedah Orif a. Patah Tulang Panggul
Patah tulang panggul sering didapati di rumah sakit. Terjadi lebih sering pada pria (Barbara, 1996).
Patah tulang panggul dibagi dalam dua klasifikasi Intra Kapsul terjadi didalam persendian dan kapsul, yang meliputi:
Ekstra Kapsul terjadi di luar kapsul sendi panggul beserta kapsul pada darah 5 cm dibawah tochanter kecil ini disebut fraktur intertrochanterik.
b. Patah Tulang Belakang
Patah tulang spinal atau vertebral terjadi akibat jatuh, kecelakaan penerjun. Patah tulang vertebra dapat disertai dengan pergeseran atau tidak. Bila patah disertai dengan pergeseran fragmen, dapat menimbulkan tekanan sum-sum atau menimbulkan cedera. Tekanan menyebabkan gangguan fungsi sebagian tubuh yang tergangguan kepada tingkatan cederanya (Barbara, 1996).
BAB 3
KERANGKA KONSEP PENELITIAN
1. Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual pada penelitian ini disusun berdasarkan teori Gate Control dari Melzack dan Wall (1968). Dari teori tersebut penelitian mengambil dua varian ukur nyeri yang menjadi variabel pada penelitian ini. Adapun dua variabel tersebut adalah intensitas nyeri pada pasien pasca bedah ORIF dan Perilaku nyeri pada pasien pasca bedah ORIF.
Meskipun penelitian ini terdiri dari dua variabel peneliti melakukan pengukuran dua variabel dalam waktu yang bersamaan, karena tindakan pengukuran intensitas nyeri penentuannya secara subjektif dan pengukuran perilaku nyeri bersifat objektif, yang dapat diambil hasilnya hanya dengan observasi secara langsung terhadap pasien. Penelitian ini akan menggali dua variabel tersebut yang melalui penelusuran menggunakan skala pengukuran intensitas nyeri (PNRS) dan observasi tingkah laku perilaku nyeri (PBOP).
Kerangka penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi intensitas nyeri dan perilaku nyeri pada pasien pasca bedah ORIF di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.
Pada penelitian ini fokus yang akan diteliti mencakup variabel intensitas nyeri dan perilaku nyeri.
Skema 1. Kerangka penelitian Intensitas Nyeri dan Perilaku Nyeri pada Pasien Pasca Bedah ORIF
Keterangan :
: Variabel diteliti : Berhubungan 2. Definisi Operasional
Variabel Defenisi Alat Ukur Hasil Skala Skala
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa pada penelitian ini membahas 2 variabel yaitu intensitas nyeri dan perilaku nyeri pada pasien pasca bedah ORIF di RSUP. H. Adam Malik Medan. Intensitas nyeri didefenisikan sebagai gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual, nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda dalam bentuk perilaku. Skala pengukuran intensitas nyeri yang dipilih peneliti dalam penelitian ini adalah PNRS (The Pain Numerical Rating Scale). Skala ini tepat digunakan untuk mendapatkan data segera atau waktu sekarang. Skala terdiri dari 11 poin yang mana 0 menunjukkan “tidak ada nyeri” dan 10 menunjukkan “nyeri sangat berat”, penilaian dari 1-4 disamakan dengan nyeri ringan, 5-6 untuk nyeri sedang, dan 7-10 untuk nyeri berat (Serlin dkk, 1995 dalam Harahap, 2007). Hasil pengukuran intensitas nyeri disajikan dalam bentuk lembar observasi. Sedangkan Perilaku Nyeri memiliki pengertian sebagai respon psikologis yang dapat ditampilkan oleh perilaku positif maupun negatif yang dapat diamati dan dideskripsikan. Alat ukur yang digunakan untuk mengobservasi Perilaku Nyeri adalah The pain behavior Observation Protocol (PBOP)/Laporan Observasi Perilaku Nyeri, yang merupakan respon terhadap nyeri yang dialami oleh pasien pasca bedah yang dapat diobservasi pada ekpresi wajah, perilaku sosial, vokalisasi dan tanda-tanda fisiologi dimana observasi dilakukan pada nyeri ringan sampai sedang menggunakan daftar cek perilaku nyeri (checklist pain behavior). Hasil pengukuran perilaku nyeri disajikan dalam lembar observasi.
BAB 4
METODE PENELITIAN 1. Desain Penelitian
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Deskriptif suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran tentang suatu keadaan secara objekif, dan digunakan untuk menjawab dan memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang (Setiadi, 2007).
2. Populasi dan Sampel
2.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah Seluruh pasien pasca bedah ORIF (wanita dan pria) di Rindu B3 Orthopedi RSUP Haji Adam Malik Medan pada bulan Januari-Desember sebanyak 136 orang.
2.2 Sampel
Dari data yang diperoleh ternyata populasi dalam jumlah besar, sehingga sampel yang diambil yaitu sekitar 25% dari jumlah populasi karena dianggap telah dapat mewakili (Arikunto, 2006). Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 25% dari 136 penderita yaitu sebanyak 34 pasien.
Tekhnik pengambilan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini adalah purvosive sampling, yaitu suatu tehnik penetapan sampel dengan cara memilih
inklusi yaitu karakteristik umum subjek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau yang diteliti. Adapun kriteria yang digunakan:
2.2.1 Pasien pasca bedah ORIF dalam waktu 24 jam sampai dengan 96 jam pertama(1 sampai dengan 4 hari pasca ORIF).
2.2.2 Tanpa ada tanda-tanda infeksi.
2.2.3 Pria atau Wanita berusia sama dengan atau diatas 13 tahun. 2.2.4Bersedia menjadi responden.
3. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Rindu B3 Orthopedi Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Alasan penelitian memilih lokasi ini sebagai lokasi penelitian antara lain adalah jumlah pasien yang diberikan tindakan bedah ORIF cukup tinggi; pada akhir tahun 2009 didapatkan data melalui survey awal sebanyak 136 orang, lokasi mudah dijangkau oleh peneliti, adanya kerjasama fakultas keperawatan USU dengan institusi Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan terkait praktik lapangan mahasiswa.
4. Pertimbangan Etik
penelitian. Lembar Persetujuan Penelitian, Lembar persetujuan diedarkan sebelum penelitian dilaksanakan agar responden mengetahui maksud dan tujuan penelitian, serta dampak yang akan terjadi selama dalam pengumpulan data. Lalu peneliti menanyakan kesediaan menjadi responden setelah peneliti memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan, dan manfaat penelitian. Jika responden bersedia diteliti mereka harus menandatangani lembar persetujuan tersebut, jika tidak peneliti harus menghormati hak-hak responden. Tanpa Nama, Untuk menjaga kerahasiaan identitas responden, penelitian tidak mencantumkan nama subjek pada lembar pengumpulan data (kuesioner) yang telah diisi. Lembar tersebut hanya diberi kode tertentu. Kerahasiaan, Kerahasiaan informasi yang telah dikumpulkan dari subjek dijamin kerahasiannya. Hanya kelompok data tertentu saja yang disajikan atau dilaporkan pada hasil riset.
5. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan dalam pengumpulan data. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah data demografi, Skala Numerik Intensitas Nyeri/PNRS dan laporan observasi perilaku nyeri (pain behavior observation protocol).
5.1 Data Demografi
Data demografi meliputi usia klien, jenis kelamin, agama, budaya, tingkat pendidikan, pekerjaan, pendapatan, diagnosa medis, lokasi bedah ORIF, obat yang digunakan selama 24 jam, lama rawatan.
5.2 Lembar Observasi Intensitas Nyeri
skala The Pain Numerical Rating Scale (PNRS). Skala terdiri dari 11 poin yang mana 0 menunjukkan “tidak ada nyeri” dan 10 menunjukkan “nyeri sangat berat”, penilaian dari 1-4 disamakan dengan nyeri ringan, 5-6 untuk nyeri sedang, dan 7-10 untuk nyeri berat (Serlin dkk, 1995 dalam Harahap, 2007). Lembar observasi intensitas nyeri pada pasien pasca bedah ORIF dapat dilihat pada lampiran..
6. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Dalam penelitian ini uji validitas dan reabilitas tidak dilakukan karena dalam penelitian ini digunakan desain penelitian deskripstif terhadap dua variabel yang setara yaitu intensitas nyeri pada pasien pasca bedah ORIF dan perilaku nyeri pada pasien pasca bedah ORIF, selain itu instrument yang digunakan dalam penelitian ini juga telah mendapatkan uji validitas dan reabilitas oleh peneliti sebelumnya
7. Pengumpulan Data
Prosedur yang dilakukan dalam pengumpulan data yaitu pada tahap awal peneliti mengajukan permohonan izin pelaksanaan penelitian pada Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara kemudian dipublikasikan kepada direktur Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Kemudian peneliti mengidentifikasi calon responden berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, kriteria identifikasi pasien pasca bedah ini terdapat dalam lampiran. Peneliti menjelaskan terlebih dahulu tujuan, manfaat, dan prosedur penelitian kepada calon responden. Lalu peneliti memberikan lembar persetujuan (informed consent) kepada kelompok responden, dan mempersilahkan calon responden yang
bersedia menjadi responden menandatangani lembar persetujuan (informed consent) tersebut, dilanjutkan dengan pengisi kuisoner data demografi yang
dilakukan peneliti dengan melakukan wawancara pada responden.
yang dirasakan, setelah hasilnya didapatkan, peneliti melingkari angka yang ditunjukkan oleh pasien. Pengukuran intensitas nyeri ini dilakukan tiga hari berturut-turut oleh peneliti, antara hari kedua sampai dengan hari keempat hari rawatan pasca bedah ORIF.
Pengkajian perilaku nyeri dilakukan pada hari pertama setelah peneliti melakukan pengkajian intensitas nyeri. pengkajian tersebut menggunakan Pain Behavior Observation Protokol selama 10 menit. Peneliti meminta responden
melakukan kegiatan dan peneliti mengamati selama 10 menit. Data yang terkumpul dipaparkan sesuai dengan hasil yang didapatkan. Adapun kegiatan yang diperintahkan meliputi duduk selama 1 menit, dan selanjutnya 2 menit, berbaring tiap-tiap 1 menit sebanyak 2 kali, lalu berdiri selama 2 menit, dilanjutkan berjalan selama 2 menit. Peneliti memodifikasi protokol perilaku nyeri pada pasien yang diberikan tindakan bedah ORIF pada ekstremitas bawah, yaitu membatasi kegiatan responden sampai menit ke-4 atau ke-6 sesuai dengan kemampuan yang dimiliki responden yaitu (berbaring, duduk, sampai dengan berdiri).
8. Analisa Data
BAB 5
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian serta pembahasan mengenai intensitas nyeri dan perilaku nyeri pada pasien pasca bedah ORIF di Ruang Rindu B3 Orthopedi RSUP. H. Adam Malik Medan.
1. Hasil Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan mulai tanggal 23 Juli 2010 sampai dengan 31 agustus 2010. Penelitian ini melibatkan sejumlah 34 responden. Penelitian ini memaparkan karakteristik demografi responden, intensitas nyeri pasien pasca bedah ORIF, dan perilaku nyeri pasien pasca bedah ORIF.
1.1 Karakteristik Demografi
Responden penelitian ini berada pada rentang usia 14-61 yang penempatannya ada pada ruang rawatan dewasa (M=29,32, SD=12,21), lebih dari setengah responden (64,7%) berada pada rentang usia 30-45. Berdasarkan jenis kelamin, responden yang paling banyak adalah laki-laki (61,8%), sedangkan perempuan (38,2%). Agama yang dianut responden dalam penelitian ini islam (67,6%) dan Kristen Katolik (11,8%). Menurut kategori suku bangsa, seperdua jumlah responden (52,9%) bersuku batak, sedangkan responden bersuku aceh, dan melayu masing-masing memiliki persentase (2,9%). Lebih dari seperdua responden (61,8%) memiliki tingkat pendidikan SMA dan ressponden yang memiliki tingkat
diberikan tindakan bedah ORIF pada ekstremitas bawah, dan pada ekstremitas atas (17,6%).
Tabel 1 Distribusi Data Responden di Rindu B3 Orthopedi RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2010 (n = 34)
Karakteristk Data Demografi Frekuensi Persentase 1. Usia (Tahun)
14-29 5 14,7
30-45 22 64,7
46-61 7 20,6
2. Jenis Kelamin
Perempuan 13 38,2
Laki-laki 21 61,8
3. Agama
Islam 23 67,6
Kristen Protestan 7 20,6
Kristen Katolik 4 11,8
4. Suku Bangsa
Jawa 14 41,2
Batak 18 52,9
Aceh 1 2,9
5. Pendidikan
SD 1 2,9
SMP 7 20,6
SMA 21 61,8
DIPLOMA 2 5,9
SARJANA 3 8,8
6. Pekerjaan
Karyawan 7 20,6
Pegawai 7 20,6
Wiraswasta 6 17,6
Ibu Rumah Tangga 4 11,8
Pelajar 7 20,6
Lain-lain 3 8,8
7. Lokasi ORIF
Ekstremitas Atas 6 17,6
Ekstremitas Bawah 25 73,5
Mandibula 3 8,8
1.2 Intensitas Nyeri pada Pasien Pasca Bedah ORIF di Rindu B3 Orthopedi RSUP. H. Adam Malik Medan
dikelompokkan menjadi beberapa kategori berdasarkan klasifikasi nilai skala yang ditunjuk pasien, tidak ada nyeri berarti nilai skala yang didapat adalah 0, penilaian skala 1-4 termasuk kategori ringan, sedangkan nilai 5-6 menunjukkan intensitas nyeri sedang dan nilai 7-10 menunjukkan intensitas nyeri berat. Kemudian hasil pengukuran intensitas nyeri langsung dilingkari pada nilai skala PNRS yang ditunjukkan pasien. Dari hasil pada hari ke-2 rawatan adalah hampir seluruh responden (97,1%, n=34) termasuk kategori nyeri berat dan hanya satu orang responden dari seluruh jumlah responden (2,9%, n=34) termasuk kategori intensitas nyeri sedang. Pada hari ke-3 rawatan didapatkan lebih dari setengah dari jumlah responden (64,7%, n=34) termasuk kategori intensitas nyeri sedang dan hanya 2 orang responden dari seluruh jumlah responden (5,9%, n=34) termasuk kategori intensitas nyeri ringan. Pada hari ke-4 rawatan sebanyak hampir dari tigaperempat responden (64,7%, n=34) termasuk kategori intensitas nyeri ringan dan kurang dari sepertiga jumlah responden (32,4%, n=34) termasuk kategori intensitas nyeri sedang.
Tabel 2 Distribusi Intensitas Nyeri Pasien Pasca Bedah ORIF di Rindu B3 Orthopedi RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2010
Intensitas Nyeri
Hari ke-2 Hari ke-3 Hari ke-4
F % f % F %
Tidak ada nyeri (0) 0 0 0 0 0 0
Nyeri ringan (1-4) 0 0 2 5,9 22 64,7
Nyeri sedang (5-6) 1 2,9 22 64,7 11 32,4
1.2.1 Intensitas Nyeri pada Pasien Pasca Bedah ORIF di Rindu B3 Orthopedi RSUP. H. Adam Malik Medan Berdasarkan Lama Hari Rawatan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh bahwa terdapat penurunan nilai skala intensitas nyeri yang ditunjukkan oleh responden dari hari ke hari masa rawatan. Semakin banyak hari rawatan semakin turun nilai skala intensitas nyeri yang ditunjukkan responden. Penurunan intensitas nyeri ini diperoleh dari pengukuran intensitas nyeri menggunakan skala numerik PNRS. Pengukuran ini dilakukan selama 3 hari berturut-turut, yaitu hari ke-2, 3 dan ke-4. Pengukuran intensitas nyeri dilakukan pada hari ke-2 karena banyak pertimbangan yang dianut oleh peneliti, salah satunya adalah kondisi dan kesedian responden, pada hari pertama rawatan banyak responden yang tidak setuju untuk diwawancarai.
Tabel 3 Distribusi intensitas nyeri pada pasien pasca bedah ORIF di RSUP. H. Adam Malik Medan Tahun 2010 berdasarkan lama hari rawatan
Intensitas Nyeri Hari ke-2 Hari ke-3 Hari ke-4
F % f % F %
Tidak ada nyeri (0) 0 0 0 0 0 0
Nyeri ringan (1-4) 0 0 2 5,9 22 64,7
Nyeri sedang (5-6) 1 2,9 22 64,7 11 32,4
Nyeri berat (7-10) 33 97,1 10 29,4 1 2,9
M=7,9
SD=0,9
M=5,9
SD=1,3
M=4
SD=1,4
1.3 Perilaku Nyeri pada Pasien Pasca Bedah ORIF di Rindu B3 Orthopedi RSUP. H. Adam Malik Medan
Prilaku nyeri responden diukur dengan the Ppain behavior observation protocol, adalah salah satu instrument yang dapat mengobservasi
perilaku nyeri pasien. Perilaku Nyeri akan diobservasi selama 10 menit laporan aktivitas, yaitu duduk selama satu menit dan selanjutnya duduk 2 menit, berbaring tiap satu menit, dilanjutkan berdiri selama satu menit kemudian dua menit, dan selanjutnya berjalan dua kali masing-masing satu menit. Perilaku nyeri akan diobservasi dan di beri penilaian dengan ketentuan: nilai 0 menunjukkan tidak ada perilaku nyeri, nilai 1 menunjukkan ada perilaku nyeri tetapi tidak sering terjadi, nilai 2 menunjukkan perilaku nyeri sering terjadi dan mendominasi.
perilaku nyeri tinggi dan kurang dari setengah dari seluruh jumlah responden (35,3%, n=34) termasuk kategori perilaku intensitas nyeri sedang. Pada hari ke-3 rawatan didapatkan hampir dari seluruh jumlah responden (94,1%, n=34) termasuk kategori perilaku nyeri sedang dan masing-masing 1 orang jumlah responden (2,9%, n=34) termasuk kategori perilaku nyeri tingi dan rendah. Pada hari ke-4 rawatan lebih dari setengah jumlah responden (64,7%, n=34) termasuk kategori perilaku nyeri sedang dan hanya 1 orang responden (2,9%, n=34) termasuk kategori perilaku nyeri kategori tinggi.
Tabel 3 Distribusi Perilaku Nyeri pada Pasien Pasaca Bedah ORIF di RSUP. H. Adam Malik Medan Tahun 2010
Perilaku Nyeri
Hari ke-2 Hari ke-3 Hari ke-4
F % f % F %
Rendah (0-3) 0 0 1 2,9 11 32,4
Sedang (4-7) 22 64,7 32 94,1 22 64,7
Tinggi (8-10) 12 35,3 1 2,9 1 2,9
1.4 Perilaku Nyeri pada Pasien Pasca Bedah ORIF di Rindu B3 Orthopedi RSUP. H. Adam Malik Medan Berdasarkan Lama Hari Rawatan
nyeri yang dilakukan responden. Penurunan perilaku nyeri ini diperoleh dari pengukuran intensitas nyeri menggunakan Protokol Perilaku Nyeri. Pengukuran ini dilakukan selama 3 hari berturut-turut, yaitu hari ke-2, 3 dan ke-4. Pengukuran intensitas nyeri dilakukan pada hari ke-2 karena banyak pertimbangan yang dianut oleh peneliti. Salah satunya adalah kondisi penerimaan dari pasien untuk mau diwawancarai.
Adapun hasil pengukuran perilaku nyeri yang didapatkan pada hari ke-2 rawatan adalah lebih dari setengah jumlah respondn responden termasuk kategori perilaku nyeri tinggi dan kurang dari setengah dari seluruh jumlah responden termasuk kategori perilaku intensitas nyeri sedang (M=7,4, SD=1,2). Pada hari ke-3 rawatan didapatkan hampir dari seluruh jumlah responden termasuk kategori perilaku nyeri sedang dan masing-masing 1 orang jumlah responden termasuk kategori perilaku nyeri tinggi dan rendah (M=5,5, SD=0,7). Pada hari ke-4 rawatan lebih dari setengah jumlah responden termasuk kategori perilaku nyeri sedang dan hanya 1 orang responden termasuk kategori perilaku nyeri kategori tinggi (M=3,3, SD=0,8).
Tabel 4 Distribusi Perilaku Nyeri pada Pasien Pasaca Bedah ORIF di RSUP. H. Adam Malik Medan Tahun 2010 berdasarkan Lama Hari Rawatan
Perilaku Nyeri
Hari ke-2 Hari ke-3 Hari ke-4
F % f % F %
Rendah (0-3) 0 0 1 2,9 11 32,4
Sedang (4-7) 22 64,7 32 94,1 22 64,7
Mean=7,4
SD=1,2
Mean= 5,5
SD=0,7
Mean=3,3
SD=0,8
2 Pembahasan
Penelitian ini membahas nilai dari intensitas dan perilaku nyeri dan juga memeriksa hubungan antara intensitas dan perilaku nyeri dari pada pasien yang memiliki nyeri pasca bedah ORIF. 34 pasien didapatkan dengan cara purposive sampling di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.
2.1Intensitas Nyeri pada Pasien Pasca Bedah ORIF di Rindu B3 Orthopedi RSUP. H. Adam Malik Medan
Intensitas nyeri di dalam penelitian ini telah dipaparkan sebagai nyeri sebar. Hasil penelitian pada hari ke-2 setelah pembedahan menunjukkan intensitas nyeri kategori berat dengan jumlah responden yang tinggi yaitu sebanyak 33 orang (97,1%), dan yang memiliki intensitas nyeri kategori sedang sebanyak 1 orang (2,9%). Kemudian pada hari ke-3 didapatkan lebih dari separuh jumlah responden (64,7%) yang memiliki intensitas nyeri kategori sedang, dan 2 orang memiliki intensitas nyeri kategori ringan. Sedangkan pada hari ke-4 setelah pembedahan intensitas nyeri berat hanya dengan 1 orang dari jumlah responden (2,9%, n=34), dengan jumlah responden yang paling tinggi ada pada intensitas nyeri kategori ringan yaitu hamper tigaperempat dari jumlah responden (64,7%).
kebanyakan pembedahan ortopedi adalah memperbaiki fungsi dengan mengembalikan gerakan dan stabilitas, mengurangi nyeri, dan stabilitas. Walaupun pada dasarnya setelah pembedahan otopedi nyeri mungkin sangat berat, edema, hematoma dan spasme otot merupakan penyebab nyeri yang dirasakan. Beberapa pasien mengatakan bahwa nyerinya lebih ringan dibandingkan sebelumnya pembedahan, dan hanya memerlukan jumlah analgetik yang sedikit saja.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi nilai dari intensitas nyeri individu yang yang dipengaruhi oleh lokasi pemberian ORIF, atau tidak komplikasi bedah ORIF yang ada, obat anti nyeri yang telah digunakan (Tabel 1). Temuan riset telah mengarah pada pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana faktor-faktor persepsi, pembelajaran, kepribadian, etnik dan budaya dan lingkungan dapat mempengaruhi kualitas nyeri. Tingkat dan keparahan nyeri pascaoperatif tergantung pada anggapan fisiologi dan psikologi individu, toleransi yang ditimbulkan untuk nyeri, letak insisi, prosedur, kedalaman trauma bedah, jenis agens anastesia dan bagaimana agens tersebut diberikan (Sjamsuhidajat, 2001). Pada penelitian ini ditemukan nyeri berat dengan jumlah persentase yang paling tinggi hamper seperdua responden mengalaminya (44,1%), khususnya bagi responden yang melakukan tindakan bedah ORIF pada ekstremitas bawah (73,5%).
yang dominan yaitu pada rentang usia dewasa. Artinya peneliti hanya menemukan 1 rentang usia yaitu dewasa. Selain itu juga disebabkan karena jumlah sampel yang kecil, yaitu sebanyak 34 responden, yang dapat mewakili analisis data.
Dan jika intensitas nyeri pada pasien pasca bedah ORIF di Rindu B3 jika didasarkan pada jumlah hari rawatan menunjukkan semakin panjang hari setelah pembedahan semakin menurun intensitas nyeri yang dilaporkan responden. Pengukuran intensitas nyeri ini dilakukan selama 3 hari berturut-turut yang penyajiannya dalam bentuk general. Adapun responden yang memiliki intensitas nyeri pada hari ke-2 setelah pembedahan menunjukkan intensitas nyeri kategori berat dengan jumlah responden yang tinggi yaitu sebanyak 33 orang, dan yang memiliki intensitas nyeri kategori sedang sebanyak 1 orang (M=7,9, SD=0,9). Kemudian pada hari ke-3 didapatkan lebih dari setengah jumlah responden yang memiliki intensitas nyeri kategori sedang, dan 2 orang memiliki intensitas nyeri kategori ringan (M=5,9, SD=1,3). Sedangkan pada hari ke-4 setelah pembedahan intensitas nyeri berat hanya dengan 1 orang dari jumlah responden, dengan jumlah responden yang paling tinggi ada pada intensitas nyeri kategori ringan yaitu hampir tigaperempat dari jumlah responden (M=4, SD=1,4). Hasil ini didapatkan dari data subjektif yang ditunjukkan oleh pasien pada skala PNRS yang diberikan oleh peneliti.
ketat, agar penambahan intensitas dan komplikasi nyeri tidak terjadi. Nyeri yang terus bertambah dan tak terkontrol perlu dilaporkan ke dokter bedah untuk dievaluasi.
2.2 Perilaku Nyeri pada Pasien Pasca Bedah ORIF di Rindu B3 Orthopedi RSUP. H. Adam Malik Medan
Perilaku nyeri merupakan perilaku fisik dan dapat diobservasi. Dalam penelitian ini, perilaku nyeri diobservasi dari perilaku pasien pasca bedah ORIF meliputi penjagaan, memegang area yang sakit, menggosok, meringis, dan mendesah saat mereka diserang nyeri dengan tingkatan tertentu. Hasil penelitian dari responden menunjukkan bahwa nilai yang dihasilkan pada perilaku nyeri berbanding lurus dengan intensitas nyeri yang dihasilkan. Hasil pengukuran perilaku nyeri pada hari ke-2 setelah pembedahan perilaku nyeri dengan kategori tinggi sebanyak 22 orang (64,7%), perilaku nyeri kategori sedang sebanyak 12 orang (35,3%). Pada hari ke-3 setelah pembedahan perilaku nyeri kategori sedang memiliki responden sebanyak 33 orang (94,1%), dan perilaku nyeri kategori tinggi memiliki responden sebanyak 1 orang (2,9%). Pada hari ke-4 pasca bedah ORIF perilaku nyeri kategori sedang sebanyak 22 orang (64,7%), perilaku nyeri kategori rendah memiliki responden sebanyak 11 orang (32,4%) dan perilaku nyeri kategori tinggi hanya 1 orang (2,9%). Beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku nyeri rendah adalah intensitas nyeri dan budaya.