• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARAKTERISTIK FERTILITAS

HASIL DAN PEMBAHASAN

KARAKTERISTIK FERTILITAS

Alat Reproduksi

Perkembangan saluran reproduksi sangat besar peranannya pada itik petelur. Pada akhir penelitian yaitu pada minggu 32 diambil sampel untuk dilakukan pemotongan terhadap kedua asal itik. Sampel diambil mewakili produksi telur tinggi, sedang dan rendah. Bobot ovari dan jumlah ovum dapat dilihat pada Tabel 10.

Hasil analisis terhadap rataan bobot ovari menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata (P>0.05) antara itik asal Tasikmalaya (43.67 g) dan asal Garut (48.63 g). Bobot ovari itik asal Tasikmalaya apabila dibandingkan dengan bobot ovari itik Tegal umur 26 minggu 46.25±1.22 lebih besar namun untuk itik asal Garut lebih besar. Walaupun pada umur yang berbeda namun bobot ovari tidak berbeda terlalu besar, hal ini karena kedua jenis itik tersebut berada pada minggu-minggu produksi. Karena menurut McIndoe (1971) berat ringannya bobot ovari tergantung pada banyaknya folikel kuning telur yang sudah membesar. Pembentukan folikel kuning telur sangat dipengaruhi oleh kadar estradiol dalam plasma darah yang berperan dalam pr oses sintesis lemak dalam bentuk lipoprotein yang berlangsung dalam hati.

Bobot ovari pada penelitian ini bervariasi pada masing-masing individu. Perbedaan pertumbuhan ovari yang bervariasi pada masing-masing individu dipengaruhi potensi genetik masing-masing individu. Hal ini sesuai pernyataan Hardjosworo (1989) yang menyatakan bahwa itik yang mempunyai potensi

genetik pertumbuhan ovarinya cepat akan peka terhadap rangsangan pakan dan umur itik.

Tabel 10. Rerata bobot ovari dan jumlah ovum itik Cihateup.

Bobot ovari Jumlah ovum

Asal Itik N ± SB KK n ± SB KK Tasikmala ya Garut (eko r) 3 3 (g) 48.63±34. 96 43.67±34. 36 (%) 71.8 9 78.6 8 (ekor) (butir) 3 791.67±455.16 3 752.67±465.35 (%) 89.9 2 79.7 4

Keterangan : SB = simpangan baku, KK = koefisien keragaman

Hasil analisis uji-t menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata (P>0.05) pada jumlah ovum dari kedua kelompok itik tersebut. Jumlah ovum yang sama ini merupakan tanda potensi produksi kedua kelompok ini sama. Ovum ini akan berkembang menjadi telur yang mengandung kuning telur yang sempurna, kemudian matang dan diovulasikan.

Analisis uji-t menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata (P>0.05) pada bobot saluran reproduksi antara itik asal Tasikmalaya (62.40±56.11 g) dan asal Garut (68.23±54.41 g). Bobot saluran reproduksi yang sama ini menunjukkan perkembangan saluran ini yang sudah mencapai optimal, karena itik sudah mencapai masa produksi yang sama.

Fertilitas

Hasil analisis uji-t terhadap fertilitas itik Cihateup asal Tasikmalaya (90.94±4.57 %) menunjukkan hasil yang sama dengan fertilitas itik asal Garut (90.75±8.02 %). Fertilitas kedua kelompok itik dalam penelitian ini sangat tinggi, hasil ini menunjukkan bahwa teknik, waktu, interval pelaksanaan IB baik dan ketrampilan inseminator baik pula. Kemudian apabila dilihat

koefisien keragaman, itik Tasikmalaya (5.05 %) lebih seragam dibanding itik Garut (8.84 %), namun keduanya mempunyai nilai koefisien keragaman yang kecil sehingga seleksi untuk tin gkat fertilitas tidak efektif.

Apabila dibandingkan antara hasil penelitian ini dengan hasil penelitian Wulandari (2005) bahwa fertilitas itik Cihateup asal Tasikmalaya dan Garut masing-masing 36.75 % dan 61 %, menunjukkan bahwa hasil fertilitas penelitian ini lebih besar. Selisih fertilitas antara kedua penelitian ini untuk itik Cihateup asal Tasikmalaya sebesar 54.19 % dan asal Garut sebesar 29.75 %, kemungkinan disebabkan oleh perbedaan proses perkawinan. Penelitian sebelumnya merupakan perkawinan alami sedangkan penelitian ini

menggunakan Inseminasi Buatan (IB). Seperti dijelaskan oleh Gazali (2001) bahwa IB menyebabkan fertilitas yang tinggi karena spermatozoa yang dideposisikan pada daerah intrauterin tidak melalui seleksi yang ketat pada daerah vagina dan utero-vaginal junction sehingga sperma tidak banyak yang mati.

Fertilitas optimum pada IB dapat dicapai apabila jumlah spermatozoa yang diperlukan terpenuhi. Jumlah minimum spermatozoa yang dicapai sangat dipengaruhi oleh umur pejantan, umur induk, metode penampungan, interval dari

penampungan ke inseminasi dan ketrampilan dalam pelaksanaan IB (Etches 1996).

Setelah melalui proses penetasan, dilakukan pengukuran bobot meri dan nisbah meri jantan : betina. Bobot meri dan nisbah meri jantan : betina itik Cihateup asal Tasikmalaya dan Garut dapat dilihat pada Tabel 11.

Bobot meri jantan itik Cihateup asal Tasikmalaya (31.30±1.92 g) dan asal Garut (31.94±3.85 g) pada penelitian ini lebih kecil dibandingkan bobot meri itik Cihateup jantan asal Tasikmalaya (41.98±1.73 g) dan asal Garut (39.91±2.44 g) hasil penelitian Wulandari (2005).

Perbedaan bobot meri juga terjadi pada meri betina, pada penelitian ini bobot meri betina asal Tasikmalaya (33.09±2.97 g) dan asal Garut (33.42±3.87 g) lebih kecil dari hasil penelitian Wulandari (2005) yaitu 43.53±0.81 g

(Tasikmalaya) dan 40.60±2.20 g (Garut). Perbedaan ini disebabkan bobot tetas yang berbeda diantara kedua penelitian ini. Bobot tetas pada penelitian

Wulandari adalah 68.00±4.57 g (Tasikmalaya) dan 65.60±5.92 g (Garut) lebih besar dari bobot tetas pada penelitian ini yaitu 58.00±2.31 g (Tasikmalaya) dan 60.21±3.60 g (Garut).

Persentase meri jantan dan meri betina itik Cihateup asal Tasikmalaya hasil penelitian ini masing-masing 48.91 % dan 51.09 %, sedangkan asal Garut masing- masing 57.41 % dan 42.59 %. Jumlah meri jantan itik Cihateup asal Tasikmalaya yang menetas lebih sedikit daripada meri betina, tetapi itik asal Garut sebaliknya jumlah meri jantan lebih banyak dari meri betina. Sampai saat ini belum ada metode yang dapat menentukan jenis kelamin embrio dari mulai telur dihasilkan sampai telur tersebut menetas. Hal ini diperkuat oleh North (1984) yang

menyatakan bahwa bentuk telur, posisi kantong udara atau faktor lain tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin.

Tabel 11. Rerata bobot meri dan nisbah meri jantan dan betina itik Cihateup

Parameter Tasikmalaya Garut Rerata Bobot Meri

- Jantan (g)

- Betina (g)

Nisbah meri jantan : betina - Persentase (%) - Jumlah (ekor) 31.30±1.92 (6.13) 33.09±2.97 (8.98) 48.91 : 51.09 45 : 47 31.94±3.85 (12.05) 33.42±3.87 (11.78) 57.41 : 42.59* 62 : 46 Keterangan : a. angka dalam kurung merupakan koefisien keragaman (%).

b. * menunjukkan perbandingan nyata pada tingkat 20 %

Hasil analisis uji X2 terhadap meri itik Cihateup asal Tasikmalaya

menunjukkan bahwa nisbah meri jantan dan betina tidak nyata (X2>90 %), artinya nisbah meri jantan dan betina tersebut sesuai dengan rasio biologi atau rasio ideal. Nisbah meri jantan dan betina untuk itik Cihateup asal Garut menunjukkan

perbandingan yang nyata (X2<20 %), artinya nisbah meri jantan dan betina tersebut berbeda pada tingkat 20 % atau rasio tidak ideal.

Nisbah meri jantan dan betina itik Cihateup asal Garut hasil penelitian Wulandari (2004) dengan nisbah meri jantan dan betina hasil penelitian ini sama yaitu 1:1. Namun untuk itik Cihateup asal Tasikmalaya (1:2) berbeda dengan penelitian ini (1:1). Perbedaan ini rasio tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut penyebabnya.

Peluang untuk mendapat jenis kelamin jantan dan betina adalah sama pada saat pembuahan (primary sex ratio), tetapi kematian selama pertumbuhan embrio tidak sama sehingga rasio yang didapat pada saat telur menetas (secondary sex ratio) bervariasi. Variasi secondary sex ratio disebabkan oleh genetik, gen lethal dan waktu bertelur (North 1984)

Keeratan Hubungan antar Sifat

Keeratan hubungan antara sifat produksi dan antar sifat reproduksi diketahui dengan melakukan analisis korelasi. Hasil analisis korelasi untuk itik Cihateup asal Tasikmalaya dan asal Garut dapat dilihat pada Tabel 12.

Nilai korelasi yang tinggi dan bernilai positif antara rerata bobot telur dan bobot badan pertama bertelur hanya terjadi pada itik asal Garut, hal ini

menunjukkan bahwa untuk memperoleh bobot telur yang semakin tinggi maka bobot badan pertama bertelur harus semakin tinggi pula. Demikian juga bobot meri yang semakin besar didapatkan karena umur masak kelamin yang semakin tua. Umur masak kelamin yang semakin tua akan menghasilkan telur yang semakin besar, dengan demikian bobot telur tetas juga semakin besar.

Tabel 12. Nilai korelasi antara sifat produksi dan reproduksi itik Cihateup asal Tasikmalaya dan Garut.

Peubah T G

1. Rerata bobot telur dan bobot badan pertama bertelur

2. Lebar tulang pubis dan bobot badan pertama bertelur

3. Jumlah telur dan umur masak kelamin 4. Bobot meri dan umur masak kelamin 5. Clutches dan jumlah telur

6. Masa istirahat dan jumlah telur 7. Masa istirahat dan clutches

8. Rerata bobot telur dan bobot telur pertama

0.021 0.702* -0.022 0.349 0.597* -0.870** -0.528 0.870** 0.388* -0.028 -0.536** 0.435* 0.326 -0.110 -0.389* 0.346

Keterangan : T = Tasikmalaya, G = Garut

Hubungan yang erat pada itik asal Tasikmalaya dan bernilai positif terjadi lebar tulang pubis dengan bobot badan pertama bertelur, artinya semakin lebar jarak tulang pubis bobot badan pertama bertelurnya juga semakin berat. Hubungan yang erat bernilai positif pada itik asal Tasikmalaya juga terjadi antara Clutches dan jumlah telur, semakin panjang clutches akan menghasilkan telur yang semakin banyak.

Nilai korelasi yang tinggi bernilai negatif terjadi antara masa istirahat dan clutches pada itik asal Garut, masa istirahat yang semakin panjang pada itik asal Garut akan diikuti clutch yang semakin pendek.

Itik asal Tasikmalaya yang mempunyai nilai korelasi sangat tinggi dan bernilai positif terjadi antara rerata bobot telur dengan bobot telur pertama, artinya untuk mendapatkan rerata bobot telur yang besar kita harus memilih itik yang mempunyai bobot telur pertama yang besar pula.

Hubungan ya ng sangat erat tetapi bernilai negatif pada itik asal

Tasikmalaya terjadi antara masa istirahat dengan jumlah telur, semakin panjang masa istirahat dari itik yang sedang berproduksi jumlah telur yang dihasilkan akan semakin sedikit. Sedangkan untuk itik as al Garut nilai korelasi yang sangat tinggi terjadi antara jumlah telur dan umur masak kelamin, artinya semakin dini umur masak kelamin akan menghasilkan telur yang semakin banyak karena waktu berproduksi yang semakin panjang.

Bahasan Umum Performa Produksi dan Reproduksi Itik Cihateup.

Itik Cihateup sebagai salah satu itik unggulan Jawa Barat mempunyai beberapa keunggulan. Keunggualan yang pertama adalah habitat itik Cihateup ini. Habitatnya adalah daerah dataran tinggi 378 m diatas permukaan laut (dpl) dengan suhu udara yang dingin.

Penelitian ini memberikan gambaran performa produksi itik Cihateup, umur bertelur pertama atau umur masak kelamin itik ini dibawah 150 hari yang berarti termasuk masak kelamin dini, yaitu 141.56±8.81 hari. Masak kelamin dini akan menghasilkan telur yang lebih banyak. Hasil ini mendukung pendapat masyarakat daerah Tasikmalaya dan Garut yang memelihara itik Cihateup bahwa, itik tersebut merupakan itik petelur. Bobot badan pertama pertelur

1.523.93±149.57 g.

Puncak produksi mingguan terjadi pada minggu ke -3 sebesar 81.05±2.21 %, dengan produksi telur mingguan diatas 60 % terjadi selama 7 minggu produksi yaitu pada minggu ke-1 sampai minggu ke -7 produksi. Sedangkan potensi produksi diatas 60 % selama 7 minggu produksi sebanyak 77.50 % itik dan yang berproduksi dibawah 60 % sebanyak 22.50 %. Potensi

produksi yang baik ini ditunjang dengan itik yang berproduksi setiap minggunya juga tinggi yaitu 82. 50 %.

Jumlah telur yang dihasilkan selama penelitian yaitu 84 hari sebesar 37.98±8.69 butir. Clutches dan masa istirahat itik Cihateup ini termasuk baik. Clutches hasil penelitian ini adalah 7.14±4.31 hari, termasuk baik karena berada pada kisaran tiga sampai delapan (North 1984). Sedangkan masa istirahat 2.23±1.67 hari, termasuk baik karena berada pada kisaran dua sampai tiga hari (North 1984). Jarak tulang pubis itik Cihateup 6.34±1.08 cm, hasil ini berada dibawah jarak tulang pubis itik lokal hasil penelitian Hardjosworo (1984).

Sebagai indikator kualitas telur, indeks telur itik ini adalah 81.05±2.21 %. Apabila dilihat dari nilai indeks telur, telur itik Cihateup memberi penampilan lebih bulat. Bobot telur pertama sebesar 52.58±6.48 g dengan rata -rata bobot telur sebesar 57.99±3.62 g.

Performa reproduksi itik Cihateup asal Tasikmalaya dan asal Garut pada akhir penelitian yaitu pada minggu ke -32 adalah organ reproduksi yang meliputi bobot ovari dan bobot saluran reproduksi itik Cihateup berturut -turut

46.15±31.12 g dan 65.32±49.54 g. Jumlah ovum yang terlihat ole h mata telanjang adalah 772.17±663.60 butir. Fertilitas dari itik Cihateup ini bagus yaitu

90.79±7.26, hal ini menunjukkan keberhasilan Inseminasi Buatan yang dilaksanakan..

Bobot meri secara keseluruhan tanpa membedakan jenis kelamin adalah 32.47±3.34 g. Bobot meri jantan 32.45±4.84 g lebih kecil dibandingkan bobot meri betina 33.33±3.38 g. Nisbah meri jantan:meri betina kedua kelompok itik adalah 1:1.

Secara keseluruhan dari performa produksi dan performa reproduksi itik Cihateup pada penelitian ini ya ng dilakukan selama 18 minggu menunjukkan bahwa, itik Cihateup dapat dijadikan unggulan Jawa Barat sebagai penghasil telur yang baik.

Dokumen terkait