• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Fisikokimia Deterjen Cair 1 Nilai pH

RIWAYAT HIDUP

B. Karakteristik Fisikokimia Deterjen Cair 1 Nilai pH

Deterjen cair yang dihasilkan dalam penelitian ini digunakan untuk laundry secara manual, yaitu dengan tangan. Menurut Idris (2004), kontak langsung antara kulit dengan cairan pencuci dapat menyebabkan iritasi kulit. Pada pH yang relatif basa atau asam daya absorbsi kulit menjadi lebih tinggi sehingga memperbesar resiko iritasi kulit, oleh karena itu pH deterjen cair untuk laundry harus mendekati pH netral. Menurut standar SNI pH deterjen cair harus berada pada kisaran 6-8. Hasil analisis nilai pH deterjen cair yang dihasilkan berkisar antara 4,11 – 7,46. Dari hasil analisis ini, sampel yang memenuhi standar SNI hanya sampel dengan penambahan gelatin 1,5%. Sampel dengan penambahan gelatin 0, 1 dan 2% tidak memenuhi standar karena berada di bawah standar yang disyaratkan oleh SNI.

Gambar 1. Grafik hubungan antara konsentrasi MES dan konsentrasi gelatin dengan derajat keasaman (pH)

Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa faktor perlakuan konsentrasi gelatin berpengaruh (α = 0,05) nyata terhadap penurunan nilai pH deterjen cair. Semakin banyak gelatin yang ditambahkan, pH sampel menjadi meningkat kemudian turun setelah pH larutan mencapai titik isoelektris gelatin. Faktor perlakuan MES dan interaksi antara konsentrasi gelatin dan konsentrasi MES tidak menunjukkan hasil yang berbeda nyata terhadap nilai pH deterjen cair yang dihasilkan karena mempunyai nilai Fhitung yang lebih kecil dibandingkan Ftabel. Uji lanjut Duncan pada konsentrasi gelatin menghasilkan dua kelompok rata-rata, dimana konsentrasi gelatin 0, 1 dan 1,5 % berada pada kelompok rata-rata yang sama. Dengan demikian ketiga konsentrasi gelatin tersebut memiliki rata-rata nilai pH yang tidak berbeda nyata.

Penambahan MES dan gelatin pada formulasi deterjen cair menyebabkan penurunan nilai pH dari nilai awal blanko sebesar 7,50. Berdasarkan uji keseragaman nilai pH pada konsentrasi gelatin juga menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara rata-rata nilai pH deterjen cair dengan nilai pH blanko. Pada analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa pH produk mengalami penurunan yang berbeda nyata dengan kontrol (blanko). Hal tersebut dikarenakan nilai rata-rata populasi produk lebih kecil dari nilai rata-rata kontrol (µ<µo).

2. Analisis Viskositas

Viskositas merupakan salah satu parameter penting pada produk deterjen cair komersial. Hal ini berhubungan dengan persepsi konsumen yang pada umumnya mengasosiasikan kekentalan dengan konsentrasi (Woolat, 1985). Selain itu, menurut Waistra (1996), kekentalan dapat meningkatkan stabilitas emulsi karena dapat menghambat proses coalescence (bersatunya misel-misel). Hasil analisis viskositas deterjen cair yang dihasilkan berkisar antara 19,125 cp - 356,250 cp. Hasil analisis keragaman terhadap nilai viskositas pada tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05) menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi gelatin dan konsentrasi MES berpengaruh nyata terhadap nilai viskositas deterjen cair yang dihasilkan, tetapi interaksi antara konsentrasi MES dan konsentrasi gelatin tidak berpengaruh nyata. Semakin banyak MES dan gelatin yang ditambahkan nilai viskositasnya akan semakin tinggi.

Hasil uji lanjut Duncan untuk penambahan konsentrasi gelatin menunjukkan adanya tiga kelompok nilai rata-rata viskositas, dimana penambahan gelatin dengan konsentrasi 1,5 % dan 2 % mempunyai rata-rata nilai viskositas tertinggi. Konsentrasi gelatin 1,5 % tidak berbeda nyata dengan konsentrasi gelatin 1 % dan konsentrasi 2 %, tetapi konsentrasi gelatin 1 % dan konsentrasi gelatin 2 % berbeda nyata. Hasil uji Duncan untuk faktor perlakuan konsentrasi MES memperlihatkan adanya dua kelompok nilai rata-rata viskositas. Konsentrasi MES 9 % tidak berbeda nyata dengan konsentrasi 11 %. Berdasarkan analisis keragaman rata-rata nilai pH terhadap kontrol (blanko) menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan. Menurut Idris (2004), hal ini dapat diindikasikan dari dua sisi yaitu keberadaan impurities MES dan karakter alamiah surfaktan MES itu sendiri. Diduga keberadaan bahan pengotor nonpolar teradsorpsi ke dalam misel yang dibentuk oleh surfaktan SLES (Idris, 2004). Adsorpsi ini mengakibatkan penggelembungan misel SLES dan mengurangi rigiditasnya. Nilai rigiditas misel, diameter dan distribusi ukuran misel berpengaruh terhadap nilai viskositas yang didapat (Suryani et al., 2000). Surfaktan berbasis asam lemak laurat (sodium lauril eter sulfat/SLES) lebih mampu menaikkan nilai viskositas dibandingkan surfaktan turunan asam lemak oleat (MES) (Suryani et al., 2000).

Gambar 2. Grafik hubungan konsentrasi MES dan konsentrasi gelatin terhadap viskositas

3. Analisis Bobot Jenis

Nilai bobot jenis deterjen berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah 1,0-1,2 g/ml. Hasil analisis bobot jenis menunjukkan bahwa seluruh sampel memenuhi kriteria bobot jenis yang disyaratkan oleh SNI kecuali pada sampel P4S1 ulangan 1 (konsentrasi gelatin 2% dan konsentrasi MES 9%). Hasil analisis bobot jenis berkisar antara 0,9795 g/ml – 1,1288 g/ml. Hasil analisis keragaman terhadap bobot jenis deterjen cair yang dihasilkan menunjukkan bahwa konsentrasi MES maupun konsentrasi gelatin tidak memberikan pengaruh nyata. 0 2 4 6 8 0 1 1.5 2 pH Konsentrasi Gelatin (%) Blanko MES 9 % MES 11 % MES 13 % 0 50 100 150 200 250 300 0 1 1.5 2 Vi sko si tas (c p ) Konsentrasi gelatin (%) MES 9 % MES 11 % MES 13 %

Gambar 3. Grafik hubungan konsentrasi gelatin dan konsentrasi MES dengan bobot jenis

Grafik diatas menujukkan bahwa berat jenis deterjen tanpa penambahan gelatin terus menurun sesuai dengan peningkatan konsentrasi MES. Secara umum peningkatan konsentrasi MES di dalam formulasi deterjen cair mengakibatkan penurunan nilai bobot jenis. Penurunan ini dapat diakibatkan oleh nilai bobot jenis MES yang dibawah satu (Idris, 2004). Bobot jenis MES yang digunakan dalam penelitian ini adalah 0,87 g/ml.

4. Analisis Stabilitas Emulsi

Menurut Ningrum (2002), suatu sistem emulsi pada dasarnya merupakan suatu sistem yang tidak stabil karena masing-masing partikel mempunyai kecenderungan untuk bergabung dengan partikel lainnya. Stabilitas atau kestabilan suatu emulsi merupakan salah satu karakter terpenting dan mempunyai pengaruh besar terhadap mutu produk emulsi ketika dipasarkan. Hasil analisis stabilitas emulsi deterjen cair yang dihasilkan berkisar antara 63,61% - 81,70%. Analisis keragaman menunjukkan bahwa faktor perlakuan konsentrasi gelatin berpengaruh (α = 0,05) nyata terhadap tingkat stabilitas emulsi deterjen cair. Interaksi antara konsentrasi gelatin dan konsentrasi MES juga berpengaruh (α = 0,05) nyata terhadap stabilitas emulsi deterjen cair yang dihasilkan, sedangkan konsentrasi MES yang ditambahkan tidak memberikan pengaruh yang nyata.

Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa masing- masing konsentrasi gelatin saling berbeda nyata. Rata- rata nilai stabilitas emulsi tertinggi ada pada konsentrasi gelatin 1,5%. Interaksi konsentrasi gelatin dan konsentrasi MES memperlihatkan adanya lima kelompok rata-rata nilai stabilitas emulsi. Nilai stabilitas emulsi tertinggi terdapat pada konsentrasi P3S1 (konsentrasi gelatin 1,5 % dan konsentrasi MES 11 %.

Gambar 4. Grafik hubungan konsentrasi gelatin dan konsentrasi MES dengan stabilitas emulsi

Analisis keragaman nilai rata-rata stabilitas emulsi terhadap kontrol menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara stabilitas emulsi produk dengan stabilitas emulsi kontrol. Grafik diatas menunjukkan bahwa stabilitas emulsi produk lebih tinggi bila diandingkan dengan kontrol (blanko). Penambahan gelatin dalam formulasi dapat meningkatkan nilai stabilitas emulsi. Hasil pengukuran stabilitas emulsi menunjukkan bahwa penambahan gelatin secara umum meningkatkan stabilitas emulsi. Prinsip dasar tentang kestabilan emulsi adalah keseimbangan antara gaya tarik-menarik dan gaya tolak menolak yang terjadi antar partikel dalam sistem emulsi dapat dipertahankan agar tidak bergabung (Ningrum, 2002). Keseimbangan tersebut diduga terjadi pada konsentrasi gelatin 1,5%. Nilai stabilitas emulsi produk pada konsentrasi 1,5% merupakan nilai stabilitas emulsi tertinggi kemudian mengalami penurunan pada konsentrasi 2%.

C. Kinerja Deterjen Cair

Dokumen terkait