Deterjen cair yang dibuat dalam penelitian ini adalah deterjen cair yang digunakan dalam proses pencucian secara manual yaitu dengan tangan, sehingga nilai pH menjadi sifat fisikokimia yang penting untuk diperhatikan. Hal tersebut karena nilai pH mempengaruhi respon kulit saat kontak langsung terhadap deterjen cair pada proses pencucian. Pada pH yang relatif basa atau asam daya adsorpsi kulit menjadi lebih tinggi sehingga memperbesar resiko iritasi kulit. Menurut SNI pH deterjen cair harus berada kisaran 6-8, sehingga aman bagi kulit. Data hasil analisa pH selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 3.
Analisa keragaman (Lampiran 4) terhadap pH menunjukkan tidak adanya pengaruh yang nyata dari penambahan MES pada konsentrasi 9, 11, 13 persen, dekstrin pada konsentrasi 0, 2, 3, 4 persen, serta interaksi dari keduanya terhadap penurunan nilai pH deterjen cair. Analisa keragaman dilakukan pada tingkat kepercayaan 95 % (α = 0,05).
Nilai pH deterjen cair yang dihasilkan telah memenuhi persyaratan SNI (Standar Nasional Indonesia) yaitu nilai pH antara 6-8. Nilai pH deterjen cair bersifat netral yaitu antara 7,46-7,28. Nilai pH tersebut aman bagi kulit sehingga deterjen cair yang dihasilkan dapat digunakan dengan aman dan tidak menimbulkan iritasi kulit.
Penurunan nilai pH hanya terlihat jelas pada produk tanpa penambahan dekstrin, sedangkan pada konsentrasi dekstrin 2, 3, 4 % tidak terjadi penurunan pH secara jelas. Hal tersebut dikarenakan ada pengaruh dekstrin terhadap nilai pH deterjen cair. Grafik hubungan antara konsentrasi MES, konsentrasi dekstrin dengan nilai derajat keasaman (pH) dapat dilihat pada Gambar 11.
Kontrol: pH 7,55
Gambar 11. Grafik hubungan antara konsentrasi MES, konsentrasi dekstrin dengan derajat keasaman (
Penambahan MES pada pembuatan deterjen cair menyebabkan penurunan pH deterjen dari nilai awal (kontrol) sebesar 7,
tengah pada selang kepercayaan 95 %
rata-rata terhadap nilai pH kontrol menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Pada analisi
mengalami penurunan yang berbeda nyata dengan kontrol. Hal tersebut dikarenakan nilai rata-rata populasi produk lebih kecil dari nilai rata
(µ<µo). Penurunan nilai pH tersebut menyebabkan nila
mendekati netral, sehingga tingkat kualitasnya lebih baik dari pada kontrol. Penurunan nilai
asam. MES yang ditambahkan mempunyai nilai asam yaitu 4,2, sehingga dengan penambahan MES ke dalam deterjen cair menyebabkan peningkatan konsentrasi ion hidronium (H+) yang akan bereaksi dengan ion hidroksida
antara kedua ion-ion tersebut membentuk H pH deterjen cair.
Penambahan dekstrin
nilai penurunan pH deterjen cair, sehingga tidak lagi terjadi penurunan jelas. Hal ini dikarenakan dekstrin mempunyai bentuk struktur molekul
helix yang dapat berikatan dengan komponen 6,80 7,00 7,20 7,40 7,60 7,80 8,00 0 P H Konsentrasi Dekstrin (%)
. Grafik hubungan antara konsentrasi MES, konsentrasi dekstrin dengan derajat keasaman (pH)
Penambahan MES pada pembuatan deterjen cair menyebabkan penurunan nilai awal (kontrol) sebesar 7,55. Selain itu berdasarkan uji nilai pada selang kepercayaan 95 %, yang disajikan pada Lampiran 4,
rata terhadap nilai pH kontrol menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Pada analisis tersebut juga dapat disimpulkan bahwa pH produk mengalami penurunan yang berbeda nyata dengan kontrol. Hal tersebut rata populasi produk lebih kecil dari nilai rata-rata kontrol enurunan nilai pH tersebut menyebabkan nilai pH deterjen semakin mendekati netral, sehingga tingkat kualitasnya lebih baik dari pada kontrol.
Penurunan nilai pH oleh konsentrasi MES disebabkan oleh pH
asam. MES yang ditambahkan mempunyai nilai asam yaitu 4,2, sehingga dengan dalam deterjen cair menyebabkan peningkatan konsentrasi ) yang akan bereaksi dengan ion hidroksida (OH
ion tersebut membentuk H2O (air) yang akan menurunkan nilai
Penambahan dekstrin pada konsentrasi 2, 3, 4 % mempengaruhi grafik deterjen cair, sehingga tidak lagi terjadi penurunan
jelas. Hal ini dikarenakan dekstrin mempunyai bentuk struktur molekul yang dapat berikatan dengan komponen-komponen ester, keton, dan alkohol.
2 3 4
Konsentrasi Dekstrin (%)
MES 9% MES 11% MES 13%
batas atas SNI
23 . Grafik hubungan antara konsentrasi MES, konsentrasi dekstrin
Penambahan MES pada pembuatan deterjen cair menyebabkan penurunan itu berdasarkan uji nilai , yang disajikan pada Lampiran 4, nilai pH rata terhadap nilai pH kontrol menunjukkan adanya perbedaan yang
s tersebut juga dapat disimpulkan bahwa pH produk mengalami penurunan yang berbeda nyata dengan kontrol. Hal tersebut rata kontrol i pH deterjen semakin mendekati netral, sehingga tingkat kualitasnya lebih baik dari pada kontrol.
MES yang asam. MES yang ditambahkan mempunyai nilai asam yaitu 4,2, sehingga dengan dalam deterjen cair menyebabkan peningkatan konsentrasi (OH-). Reaksi O (air) yang akan menurunkan nilai
mempengaruhi grafik deterjen cair, sehingga tidak lagi terjadi penurunan pH secara jelas. Hal ini dikarenakan dekstrin mempunyai bentuk struktur molekul spiral en ester, keton, dan alkohol.
MES 9% MES 11% MES 13%
24 MES (Metil Ester Sulfonat) merupakan senyawa ester sehingga ketika bereaksi dengan dekstrin, komponen ester tersebut akan menggantikan posisi molekul air yang membentuk ikatan hidrogen dengan monomer-monomer dekstrin dan terperangkap di dalam matriks yang amorf. Semakin banyak MES yang terperangkap oleh dekstrin akan membuat semakin sedikit ion hidrogen yang terlarut dalam deterjen cair, sehingga penurunan pH akan lebih kecil.
2. Viskositas (Kekentalan)
Nilai viskositas dalam penelitian ini dihitung dengan menggunakan alat
Viscosimeter Brookfiled pada suhu ruangan. Viskositas merupakan kemampuan
suatu cairan untuk dapat mengalir atau dapat juga disebut dengan kekentalan. Nilai viskositas deterjen cair yang dihasilkan berkisar antara 15,8-48,2 cp. Nilai tersebut meningkat sesuai dengan penambahan konsentrasi MES. Data nilai viskositas deterjen cair dapat dilihat pada Lampiran 5.
Berdasarkan analisa keragaman (Lampiran 6) tehadap data nilai viskositas pada tingkat nilai kepercayaan 95 % (α = 0,05), penambahan MES mempunyai peningkatan nyata terhadap peningkatan nilai viskositas dalam taraf 9, 11, 13 %. Selain itu penambahan konsentrasi dekstrin dengan taraf 0, 2, 3, 4 % dan interaksi dari konsentrasi MES dan dekstrin juga mempunyai pengaruh nyata terhadap nilai viskositas deterjen cair yang dihasilkan.
Hasil uji lanjut Duncan (Lampiran 6) pada interaksi dari konsentrasi MES dan konsentrasi dekstrin memperlihatkan tujuh kelompok rata-rata, dimana nilai untuk penambahan MES 13 % dan dekstrin 2, 3, 4 % berada pada kelompok dengan nilai paling tinggi dan berbeda nyata pada taraf perlakuan yang lainnya. Hal tersebut dikarenakan semakin banyak konsentrasi MES maka akan semakin menaikkan nilai viskositas. Sedangkan penambahan dekstrin pada konsentrasi 2, 3, 4 % pada konsentrasi MES 13 % tidak mempunyai pengaruh yang berbada nyata. Hal tersebut menunjukkan pada formula tersebut penambahan dekstrin 2, 3, 4 % tidak menunjukkan perubahan nilai viskositas yang siginifikan.
Berdasarkan uji keragaman penambahan konsentrasi dekstrin 2, 3, 4 % memberikan pengaruh yang nyata terhadap nilai viskositas deterjen. Hal tersebut dikarenakan dekstrin merupakan pati termodifikasi yang mempunyai sifat kelarutan lebih baik dari pada pati aslinya dan akan menaikkan viskositas, akan
25 tetapi viskositas yang dihasilkannya tidak besar. Hal ini dikarenakan dekstrin mempunyai nilai viskositas yang lebih kecil dibandingkan dengan sifat pati aslinya. Dekstrin mempunyai struktur molekul yang lebih kecil dari pada pati aslinya sehingga untuk mendapatkan viskositas yang tinggi memerlukan konsentrasi dekstrin yang lebih tinggi.
Menurut Hamid (2000), pengolahan pati menjadi dekstrin telah mengubah sifat asli pati, yaitu jika ditambahkan dengan air, dekstrin akan menyerap air lebih sedikit sehingga kekentalannya (viskositas) yang sama volumenya menjadi lebih kecil.
Pentingnya nilai viskositas deterjen cair dikarenakan konsumen pada umumnya mengasosiasikan kekentalan (viskositas) dengan konsentrasi (Woolat, 1985). Selain itu menurut Waistra (1996), kekentalan dapat meningkatkan stabilitas emulsi karena dapat menghambat proses coalescence (bersatunya misel-misel).
Pada perlakuan penambahan konsentrasi MES 11 dan 13 % terjadi kenaikan nilai viskositas produk. Hal tersebut disebabkan karena adanya proses emulsifikasi yang terjadi antara molekul-molekul MES yang mempunyai sisi hidrofilik dan hidrofobik, sehingga dapat mengikat molekul-molekul polar dan nonpolar. Grafik hubungan antara penambahan MES, dan penambahan dekstrin dengan nilai viskositas produk dapat dilihat pada Gambar 12.
Berdasarkan pada grafik nilai viskositas produk deterjen cair yang paling tinggi adalah pada penambahan MES 13 % dengan nilai viskoistas 48,1875 cp. Menurut Nurhayati (1997), dalam penelitiannya tentang penentuan nilai CMC (Critical Micelle Concentration) surfaktan dan beberapa produk pembersih dengan melakukan proses emulsifikasi dengan kenaikan surfaktan yang berbeda-beda. Selanjutnya nilai CMC ditentukan berdasarkan kenaikan nilai viskositas yang tajam. Nilai CMC sangat berkaitan dengan pembentukan missel-missel (Tadros, 1992). Dengan begitu kenaikan nilai viskositas pada produk dapat disebabkan karena pembentukan misel-misel yang lebih sempurna, akibat penambahan surfaktan.
26 Kotrol : nilai viskositas 9281,25 cp
Gambar 12. Grafik hubungan antara konsentrasi MES, konsentrasi dekstrin dengan nilai viskositas (cp)
Nilai viskositas deterjen yang dihasilkan mengalami penurunan sebesar 99,67 % dari nilai viskositas kontrol (blangko) yang bernilai 9281,3 cp. Penurunanan nilai viskositas tersebut menunjukkan pengaruh yang nyata atas penambahan MES dan dekstrin, serta beda nyata antara kontrol dan produk deterjen. Hal tersebut diduga dikarenakan penambahan MES dalam formulasi deterjen cair mengakibatkan surfaktan SLS berikatan dengan senyawa minyak yang masih terkandung dalam MES. Peristiwa tersebut mengakibatkan minyak yang bersifat nonpolar teradsorpsi ke dalam missel yang dibentuk oleh surfaktan SLS.
Adsorpsi tersebut dapat mengakibatkan penggelembungan missel SLS dan mengurangi rigiditasnya. Menurut Suryani et al., (2000) nilai rigiditas missel, diameter dan distribusi ukuran misel berpengaruh terhadap nilai viskositas yang didapatkan. Semakin besar ukuran missel SLS yang terbentuk maka akan mengurangi viskositas yang terbentuk pada suatu emulsi. Oleh karena itu penambahan MES dapat mengurangi nilai viskositas produk.
Berdasarkan grafik hubungan antara penambahan MES dengan nilai viskositas dapat disimpulkan bahwa penambahan MES dapat menurunkan nilai viskositas dari nilai kontrol, tetapi penambahan MES juga dapat menyebabkan kenaikan nilai viskositas produk. Meskipun penambahan MES dapat menaikkan
0 10 20 30 40 50 60 0 2 3 4 N il ai V is k os it as ( cp ) Konsentrasi Dekstrin (%) MES 9% MES 11% MES 13%
27 nilai viskositas produk akan tetapi nilai viskositas produk tersebut jauh lebih rendah dari pada nilai viskositas kontrol (tanpa penambahan MES). Hal tersebut dikarenakan dalam MES yang digunakan masih mengandung minyak (bahan-bahan nonpolar), sedangkan di sisi lain MES juga mempunyai sifat untuk menaikkan viskositas.
3. Bobot Jenis
Bobot jenis merupakan sifat fisikokimia deterjen cair yang penting untuk diperhatikan. Nilai bobot jenis deterjen cair yang dihasilkan berkisar antara 1,0252-1,1158 g/ml. Nilai tersebut mengalami penurunan dari nilai bobot jenis awal (kontrol) yaitu 1,1197 g/ml. Nilai bobot jenis dari deterjen cair yang dihasilkan telah memenuhi syarat mutu SNI (Standar Nasional Indonesia) yaitu berkisar antara 1,0-1,2 g/ml. Data hasil analisa bobot jenis dapat dilihat pada Lampiran 7.
Analisis keragaman terhadap nilai bobot jenis deterjen cair yang dihasilkan (Lampiran 8) memperlihatkan tidak adanya pengaruh nyata dari penambahan MES pada konsentrasi 9, 11, 13 %, dekstrin pada konsentrasi 0, 2, 3, 4 %, serta interaksi dari keduanya. Analisis keragaman tersebut dilakukan pada taraf kepercayaan 95 % (α = 0,05).
Bobot jenis deterjen cair akan berpangaruh pada kemampuan deterjen untuk larut dalam air serta stabilitas emulsi dari deterjen cair tersebut. Bobot jenis deterjen cair sangat dipengaruhi oleh bobot jenis komponen-komponen penyusunnya. Semakin jauh selisih bobot jenis dari komponen penyusun deterjen akan menyebabkan penurunan stabilitas emulsi dari deterjen tersebut.
Penambahan MES ke dalam formulasi deterjen cair menyebabkan bobot jenis dari deterjen menurun. Penurunan nilai bobot jenis deterjen cair hanya terjadi pada formulasi tanpa penambahan dekstrin, sedangkan pada konsentrasi dekstrin 2, 3, 4 % tidak terjadi penurunan atau peningkatan bobot jenis deterjen cair secara jelas.
Penambahan dekstrin dengan konsentrasi 2, 3, 4 % tidak lagi terjadi penurunan atau peningkatan secara jelas dari nilai bobot jenis deterjen cair yang dihasilkan. Hal tersebut karena sebagian dari komponen MES yang terperangkap
ke dalam matriks amorf
yang tidak ikut terlarut dalam deterjen cair.
Reaksi antara MES, SLS dengan dekstrin akan menyebabkan nilai bobot jenis deterjen cair yang dihasilkan sulit untuk diperkirakan. Hal tersebut dikarenakan adanya persaingan antara MES dan SLS untuk dapat berikatan dengan dekstrin. Namun dari semua sampel d
memenuhi kriteri nilai bobot jenis yang ditetapkan oleh SNI.
antara konsentrasi MES, konsentrasi dekstrin dengan nilai bobot jenis deterjen cair dapat dilihat pada G
Kontrol: nilai bobot jenis 1,1197 g/ml
Gambar 13. Grafik hubungan antara konsentrasi MES, konsentrasi dekstrin dengan nilai bobot jenis (g/ml) deterjen cair
Nilai bobot jenis produk deterjen cair mempunyai beda nyata dengan kontrol. Hal tersebut dapat dilihat dari
dilakukan antara kontrol dan produk deterjen cair yang dihasilkan. uji nilai tengah tersebut dilakukan pada selang kep
tersebut membuat nilai bobot jenis deterjen semakin mendekati nilai 1 g/ml, sehingga akan menaikkan kualitas deterjen cair untuk dapat larut dalam air.
Penurunan nilai bobot jenis deterjen cair akibat penambahan M disebabkan karena nilai bobot jenis MES yang kurang dari 1 g/ml yaitu 0,87 g/ml. Hal ini disebabkan nilai bobot jenis MES deterjen cair dipengaruhi oleh nilai
0,9500 1,0000 1,0500 1,1000 1,1500 1,2000 0 B ob ot Je n is ( g/ m l) Konsentrasi Dekstrin (%)
amorf dekstrin, sehingga ada sebagian dari konsentrasi MES
yang tidak ikut terlarut dalam deterjen cair.
Reaksi antara MES, SLS dengan dekstrin akan menyebabkan nilai bobot jenis deterjen cair yang dihasilkan sulit untuk diperkirakan. Hal tersebut dikarenakan adanya persaingan antara MES dan SLS untuk dapat berikatan dengan dekstrin. Namun dari semua sampel deterjen cair yang dihasilkan telah memenuhi kriteri nilai bobot jenis yang ditetapkan oleh SNI. Grafik hubungan antara konsentrasi MES, konsentrasi dekstrin dengan nilai bobot jenis deterjen
Gambar 13.
Kontrol: nilai bobot jenis 1,1197 g/ml
. Grafik hubungan antara konsentrasi MES, konsentrasi dekstrin dengan nilai bobot jenis (g/ml) deterjen cair
bobot jenis produk deterjen cair mempunyai beda nyata dengan Hal tersebut dapat dilihat dari uji nilai tengah (Lampiran 8) yang dilakukan antara kontrol dan produk deterjen cair yang dihasilkan. uji nilai tengah tersebut dilakukan pada selang kepercayaan 95 %. Penurunan nilai bobot jenis tersebut membuat nilai bobot jenis deterjen semakin mendekati nilai 1 g/ml, sehingga akan menaikkan kualitas deterjen cair untuk dapat larut dalam air.
Penurunan nilai bobot jenis deterjen cair akibat penambahan M disebabkan karena nilai bobot jenis MES yang kurang dari 1 g/ml yaitu 0,87 g/ml. Hal ini disebabkan nilai bobot jenis MES deterjen cair dipengaruhi oleh nilai
2 3 4
Konsentrasi Dekstrin (%)
MES 9% MES 11% MES 13% batas bawah SNI batas atas SNI
28 dekstrin, sehingga ada sebagian dari konsentrasi MES
Reaksi antara MES, SLS dengan dekstrin akan menyebabkan nilai bobot jenis deterjen cair yang dihasilkan sulit untuk diperkirakan. Hal tersebut dikarenakan adanya persaingan antara MES dan SLS untuk dapat berikatan eterjen cair yang dihasilkan telah Grafik hubungan antara konsentrasi MES, konsentrasi dekstrin dengan nilai bobot jenis deterjen
. Grafik hubungan antara konsentrasi MES, konsentrasi dekstrin
bobot jenis produk deterjen cair mempunyai beda nyata dengan uji nilai tengah (Lampiran 8) yang dilakukan antara kontrol dan produk deterjen cair yang dihasilkan. uji nilai tengah ercayaan 95 %. Penurunan nilai bobot jenis tersebut membuat nilai bobot jenis deterjen semakin mendekati nilai 1 g/ml, sehingga akan menaikkan kualitas deterjen cair untuk dapat larut dalam air.
Penurunan nilai bobot jenis deterjen cair akibat penambahan MES disebabkan karena nilai bobot jenis MES yang kurang dari 1 g/ml yaitu 0,87 g/ml. Hal ini disebabkan nilai bobot jenis MES deterjen cair dipengaruhi oleh nilai
MES 9% MES 11% MES 13%
29 bobot jenis komponen-komponen penyusunnya. Semakin kecil nilai bobot jenis komponen-komponen penyusunnya maka akan semakin kecil nilai bobot jenis dari deterjen cair yang dihasilkan.
4. Stabilitas Emulsi
Stabilitas emulsi merupakan sifat fisikokimia yang penting untuk dianalisa pada suatu sistem emulsi. Stabilitas emulsi dari suatu campuran menunjukkan tingkat kualitas emulsi tersebut. Nilai stabilitas emulsi deterjen cair yang dihasilkan dapat dilihat pada Lampiran 9.
Berdasarkan analisa keragaman (Lampiran 10) pada data nilai stabilitas emulsi, peningkatan konsentrasi MES dan peningkatan konsentrasi dekstrin tidak memberikan pengaruh nyata teradap stabilitas emulsi produk, sehingga tidak bisa dilakukan uji lanjut Duncan. Analisa keragaman tersebut dilakukan pada tingkat kepercayaan 95 % (α = 0,05).
Nilai stabilitas emulsi produk yang dihasilkan berkisar antara 79,02-87,19%. Nilai tersebut mengalami kenaikan dari nilai awalnya (kontrol) yang bernilai 56,85 %. Nilai stabilitas emulsi tertinggi terukur pada produk dengan panambahan MES sebesar 11% dan dekstrin sebesar 4 %, yaitu 87,19%. Grafik hubungan antara penambahan konsentrasi MES, konsentrasi dekstrin serta interaksi antara keduanya terhadap nilai stabilitas emulsi dapat dilihat pada Gambar 14.
Dari grafik pada Gambar 14, dapat dilihat bahwa pada formula tanpa penambahan dekstrin, peningkatan konsentrasi MES dapat meningkatkan nilai stabilitas emulsi. Sedangkan pada penambahan konsentrasi dekstrin pada konsentrasi 2, 3, 4 % menyebabkan grafik stabilitas emulsi tidak lagi menunjukkan peningkatan atau penurunan nilai stabilitas emulsi. Hal tersebut dikarenakan adanya ikatan yang terjadi antara SLS dan MES dengan dekstrin dengan proporsi yang tidak pasti.
30 Kontrol: 56,85 %
Gambar 14. Grafik hubungan antara konsentrasi MES, konsentrasi dekstrin dengan nilai stabilitas emulsi (%) deterjen cair
Nilai stabilitas emulsi yang tertinggi dicapai pada produk dengan konsentrasi MES 11 % dan dekstrin 4 %. Pada formulasi ini diduga telah terbentuk proses emulsifkasi yang sempurna. Hal tersebut juga dapat dilihat pada grafik nilai bobot jenis, produk dengan penambahan konsentrasi MES 11 % dan dekstrin 4 % mempunyai nilai bobot jenis yang paling mendekati nilai 1 g/ml. Hal ini dikarenakan nilai bobot jenis yang semakin mendekati nilai 1 g/ml akan semakin membuat stabilitas emulsi suatu larutan menjadi lebih tinggi.
Berdasarkan uji nilai tengah (Lampiran 10) terhadap kontrol dan produk didapatkan bahwa penambahan MES menyebabkan nilai stabilitas emulsi produk deterjen cair berbeda nyata terhadap nilai stabilitas emusli kontrol. Hal ini dikarenakan penambahan MES yang digunakan dapat menurunkan tegangan diantara kedua fasa yang mempunyai nilai kepolaran yang berbeda. Sifat tersebut dapat meningkatkan nilai stabilitas emulsi suatu larutan. Ikatan yang terjadi antara MES dan SLS akan semakin meningkatkan stabilitas emulsi larutan tersebut. Hal tersebut karena MES akan membentuk ikatan yang kuat pada gugus hidrofiliknya dengan molekul-molekul polar dalam formulasi deterjen cair tersebut.
74 76 78 80 82 84 86 88 0 2 3 4 S tab il it as E m u ls i (% ) Konsentrasi Dekstrin (%) MES 9% MES 11% MES 13%
31 C.KINERJA DETERJEN CAIR
1. Daya Pembusaan
Pada penelitian ini daya pembusaan diukur sebagai kemampuan deterjen cair dalam menghasilkan busa pada konsentrasi deterjen 0,1 persen pada suhu ruang dengan menggunakan air suling (aquades) dan dalam waktu 0,5 menit. Hasil pengukuran daya pembusaan dinyatakan sebagai volume busa selama 0,5 menit (ml-0,5 menit). Data hasil analisa daya pembusaan deterjen cair dapat dilihat pada Lampiran 11.
Berdasarkan analisa keragaman (Lampiran 12) yang dilakukan terhadap hasil uji daya pembusaan didapatkan hasil bahwa penambahan MES dengan konsentrasi 9, 11, 13 %, penambahan dektrin dengan konsentrasi 2, 3, 4 % serta interaksi antara keduanya tidak memberikan hasil daya pembusaan yang berbeda nyata pada sampel deterjen cair yang dihasilkan. Analisa keragaman tersebut dilakukan pada tingkat kepercayaan 95 % (α = 0,05). Grafik hubungan antara konsentrasi MES, konsentrasi dekstrin dengan nilai daya pembusaan deterjen cair dapat dilihat pada Gambar 15.
Kontrol: nilai daya pembusaan 160 ml-0,5 menit
Gambar 15. Grafik hubungan antara konsentrasi MES, konsentrasi dekstrin dengan nilai daya pembusaan (ml-0,5 menit) deterjen cair
0 50 100 150 200 250 300 0 2 3 4 D aya P eb u saan ( m l-0, 5 m n t) Konsentrasi Dekstrin (%) MES 9% MES 11% MES 13%
32 Nilai daya pembusaan deterjen cair yang dihasilkan berkisar antara 220-130 ml-0,5 menit. Nilai tersebut mengalami penurunan pada penambahan konsentrasi MES sebesar 9 % dan dektrin sebesar 0 % pada formulasi deterjen cair. Penurunan daya pembusaan tersebut diduga karena konsentrasi MES dan dekstrin pada formulasi tersebut menyebabkan berkurangnya molekul SLS yang bereaksi dengan molekul-molekul udara. Penambahan SLS dalam formulasi ini bertujuan untuk menambah busa yang dihasilkan. MES yang digunakan dalam formulasi deterjen cair ini berasal dari minyak kelapa sawit, sehingga masih mengandung komponen minyak. Hal tersebut yang menyebabkan sisi hidrofobik dari SLS berikatan dengan MES.
Pada konsentrasi MES 11 % sudah mulai terjadi peningkatan daya pembusaan deterjen. Hal tersebut dikarenakan pada konsentrasi tersebut MES juga ikut membantu dalam menurunkan tegangan permukaan larutan deterjen cair. Semakin rendah tegangan permukaan deterjen cair maka akan semakin banyak busa yang dapat dihasilkan.
Penambahan dekstrin dengan konsentrasi 2, 3, 4 %, jika dilihat pada grafik menyebabkan penambahan daya pembusaan tidak teratur. Hal tersebut karena adanya pengikatan MES oleh matriks dekstrin yang amorf. Pada pengikatan MES oleh dekstrin selain dipengaruhi oleh konsentrasi dan tingkat kejenuhan dekstrin juga dipengaruhi oleh jumlah molekul SLS yang juga diikat oleh dekstrin.
Pada grafik hasil analisa terhadap daya pembusaan dapat diketahui bahwa nilai daya pembusaan yang paling tinggi yaitu 240 ml-0,5 menit terjadi pada konsentrasi dekstrin 4 % dan konsentrasi MES 13 %. Tingginya nilai daya pembusaan deterjen cair pada penelitian ini membuat deterjen tersebut cocok untuk diaplikasikan sebagai deterjen cair yang digunakan pada pencucian dengan tangan.
Pada blangko (kontrol) daya pembusaan besarnya yaitu 160 ml-0,5 menit. Berdasarkan uji nilai tengah (Lampiran12) antara kontrol dan produk, penambahan MES menyebabkan peningkatan nilai daya pembusaan yang berbeda nyata terhadap kontrol. peningkatan tersebut menyebabkan daya pembusaan produk menjadi lebih tinggi, sehingga jumlah busa yang dihasilkan produk menjadi lebih banyak.
33 2. Stabilitas Busa
Pengukuran terhadap stabilitas busa dilakukan dengan membadingkan nilai daya pembusaan pada selang waktu 5,5 menit dengan nilai pembusaan awal (0,5 menit). Hasil pengukuran terhadap stabilitas busa deterjen dinyatakan dalam satuan ml-5,5 menit/0,5 menit. Stabilitas busa adalah kemampuan busa deterjen untuk tetap ada pada larutan deterjen. Data hasil analisa stabilitas busa dapat dilihat pada Lampiran 11.
Analisis keragaman (Lampiran 13) yang dilakukan terhadap data stabilitas