• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. SPIRITUALITAS KONGREGASI SUSTER-SUSTER SPM

C. Spiritualitas Kongregasi SPM sebagai Dasar Profesionalitas Guru

2. Karakteristik Guru Perkumpulan Dharmaputri

Guru PDp ialah kompenen pendidikan yang melaksanakan tugas mencerdaskan generasi muda berlandaskan ciri khas Katolik dan spiritualitas serta kharisma Kongregasi SPM (AD-ART PDp, Pasal 5). Dengan kata lain, guru adalah pendidik dan pengajar dengan kualifikasi pribadi yang mampu menghayati iman Katolik dan spiritualitas serta kharisma Kongregasi SPM. Figur guru PDp tampak dalam karya pelayanan yang visioner, inovatif, memiliki integritas, dan ideal (AD-ART PDp, Pasal 5, Nomor 4). Mereka adalah sosok profesional yang melaksanakan profesinya dalam naungan Lembaga Pendidikan Katolik

Kongregasi Suster SPM. Mereka melaksanakan tugas dengan bertitik tolak pada 6 pilar atau nilai inti yang tertulis dalam Rencana Strategis

Perkumpulan Dharmaputri 2011/2012-2016/2017, yakni:

Setia pada pencerdasan kehidupan bangsa; setia pada ciri khas Katolik; setia pada spiritualitas kesamaan martabat manusia citra Allah dan kharisma Kongregasi SPM; kualitas kepribadian dan pendidikan yang unggul; profesional dalam penyelenggaraan, pengelolaan, dan pelaksanaan pendidikan; pendampingan generasi muda menjadi pribadi utuh.

Artinya, seorang guru PDp wajib menghayati dan ikut ambil bagian mewujudkan visi dan misi Perkumpulan Dharmaputri, dengan mengimplementasikan nilai-nilai inti di dalam tugasnya. Keenam pilar tersebut dapat diuraikan dalam konteks tugas dan panggilan seorang guru PDp, sebagai berikut:

a. Setia pada pencerdasan kehidupan bangsa

Kekuatan utama atau roh dari tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Dengan

demikian, proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru wajib memberikan penjabaran atas ideologi NKRI, yakni Pancasila, dengan memberi penekanan nilai-nilai: pluralisme, inklusif, demokratis, adil, dan berbudaya dalam berbangsa, dan bernegara. Nilai-nilai tersebut merupakan jiwa atau roh yang memberi kekuatan dan menggerakkan anak didik sebagai bangsa Indonesia. Karena itu, guru perlu menanamkan nilai-nilai kepada anak didik sedini mungkin; dan memperkembangkan anak didik menjadi warga bangsa yang cerdas dan berjiwa Pancasila (Pengurus Perkumpulan Dharmaputri, 2011: 53).

b. Setia pada Ciri Khas Katolik

Salah satu bentuk implementasi dari Nota Pastoral KWI 2008 tentang pendidikan ialah setia terhadap ciri khas Katolik. Pendidikan Katolik berusaha untuk mengintegrasikan iman dan kebudayaan, iman dan kehidupan melalui pengajaran, iman dan pencerdasan bangsa. Karena itu, Guru PDp senantiasa berupaya mewujudkan suasana kekeluargaan, dengan mengembangkan martabat kebebasan, dan cinta kasih Injili. Guru sebagai salah satu warga PDp yang bertugas mengajar dan mendidik perlu mengusahakan:

Sikap tanpa pamrih dan tulus dalam pelayanan, berani menyuarakan kebenaran, menciptakan lingkungan sekolah yang ramah dan diterangi oleh iman, membangun budaya kasih antar warga sekolah, meneladan Yesus sebagai Sang Guru Sejati, melayani seperti Yesus, perayaan nilai kristiani dalam sabda dan sakramen, mencipta suasana sekolah yang penuh kekeluargaan, menyenangkan, teduh, dan nyaman (Pengurus Perkumpulan Dharmaputri, 2011: 101-102).

Selain itu, Guru PDp hadir sebagai pengajar perlu mengusahakan proses pembelajaran yang mampu mengintegrasikan antara iman dan ilmu, dengan:

Mengembangkan pengajaran atas landasan iman; pengetahuan yang diberikan membawa pada kebenaran sejati; menumbuhkembangkan sikap keingintahuan anak didik bahwa alam semesta adalah ciptaan Allah; menumbuhkembangkan rasa cinta kepada kebenaran; membangkitkan sikap kritis; mendorong akal budi untuk belajar cermat, tepat, dan bertanggung jawab; mengembangkan sikap rela berkorban dan bertekun dalam karya intelektual; menumbuhkembangkan keberminatan terhadap karya akademik yang dipacu oleh perspektif baru; menumbuhkembangkan sikap percaya akan penyelenggaraan Ilahi (Pengurus Perkumpulan Dharmaputri, 2011: 102-103).

Karena itu, guru perlu melandasi seluruh proses pengajarannya dengan iman Katolik agar anak didik berkembang dalam dimensi kognitif atas dasar nilai-nilai iman Kristiani. Artinya, guru mengajak anak didik untuk sampai pada suatu pemahaman bahwa pengetahuan yang diperoleh dapat mengantarnya menemukan kebenaran (Ajaran dan Pedoman Gereja tentang Pendidikan Katolik, art. 41).

Sisi lain, proses pendidikan yang diusahakan oleh guru dalam mendukung terwujudnya transformasi nilai-nilai kristiani, antara lain:

Meningkatkan penghayatan iman yang diwujudkan dalam perbuatan nyata: peduli dan bela rasa; menciptakan kehidupan sekolah yang diinspirasi oleh Injil; mengembangkan perbuatan yang berakar pada kepekaan suara hati; meningkatkan sikap berani dan tangguh dalam menghadapi kesulitan; menghormati dan menghargai; sikap loyal dan cinta kepada sesama siswa; membangun sikap toleran, menciptakan pembelajaran yang diterangi iman kristiani; menumbuhkan kesadaran bahwa kehendak Allah ditemukan dalam kerja dan hubungan manusia sehari-hari; menumbuhkan semangat belajar seperti dicontohkan Sang Guru Sejati (Pengurus Perkumpulan Dharmaputri, 2011: 103-104).

Dengan demikian, guru menjadi agen perubahan bagi anak didik agar terjadi pembaharuan, di mana integrasi antara iman dan hidup konkret dalam pribadi pendidik terwujud. Selanjutnya, melalui teladan hidup seorang guru, anak didik didorong untuk mewujudkan nilai-nilai cinta kasih dalam kesaksian hidup (Ajaran dan Pedoman Gereja tentang Pendidikan Katolik, art. 46). Usaha pengintegrasian

antara iman dan pencerdasan kehidupan bangsa tampak dalam usaha seorang guru menciptakan lingkungan hidup bersama yang dijiwai oleh semangat Injil, kebebasan, dan cinta kasih.

c. Setia pada Spiritualitas dan Kharisma Kongregasi SPM

Roh yang menggerakkan para Suster SPM ialah mewujudkan kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah dalam hidup dan karya. Sedangkan, kharisma kongregasi Suster SPM ialah menghidupi kharisma ibu rohani, yakni iman yang kuat akan penyelenggaraan ilahi, solider kepada yang miskin dan terlantar, serta peka akan tanda-tanda zaman. Hal ini dapat diuraikan sebagai berikut:

1) Spiritualitas Kesamaan Martabat Manusia sebagai Citra Allah

Implementasi hakekat pribadi manusia sebagai citra Allah dalam pendidikan, mengedepankan nilai-nilai yakni kesetaraan, martabat pribadi, martabat akal budi, martabat hati nurani, dan martabat kebebasan (Renstra Perkumpulan Dharmaputri 2011/2012-2016/2017). Artinya, seorang guru PDp wajib mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam melaksanakan tugas dan panggilannya, dengan terlebih dahulu secara pribadi memahami, menyadari, dan mampu mewujudkan kelima nilai dalam hidupnya. Setelah lima nilai tersebut menjadi milik guru, maka diharapkan guru PDp mampu melaksanakan tugasnya sebagai pengajar dan pendidik yang memperjuangkan

kesamaan martabat manusia citra Allah (Pengurus Perkumpulan Dharmaputri, 2011: 109).

2) Kharisma Kongregasi Suster-Suster SPM

Para Suster SPM ingin mengidentifikasikan dirinya dengan Santa Maria (Konstitusi SPM, 1986: 15). Iman Maria dijadikan sebagai model penghayatan iman para Suster SPM, seperti yang dihidupi oleh Santa Yulia Billiart. Seluruh hidup Santa Yulia dipercayakan sepenuhnya pada kehendak Tuhan yang Mahabaik. Ia menghayati imannya seperti Bunda Maria yang mengatakan “sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu itu” (Luk 1: 38). Santa Yulia berani mengambil resiko dan bertindak kreatif dalam memulai suatu karya, karena imannya yang kuat akan penyelenggaraan ilahi. Berkat imannya yang kuat ia mampu membaca tanda-tanda zaman. Hatinya tergerak untuk menyelenggarakan pendidikan bagi generasi muda yang miskin dan terlantar di jamannya (Pengurus Perkumpulan Dharmaputri, 2011: 118-123). Karena itu, guru PDp pun harus mempunyai iman kuat dan mendalam di dalam menghayati tugasnya. Berkat imannya yang kuat, guru diharapkan mampu memberikan hatinya bagi semua anak didik, khususnya anak yang miskin dan lemah secara material, itelektual, emosional, sosial, dan spiritual. Kharisma Santa Yulia diharapkan menjadi inspirasi bagi guru SPM dalam mengaktualisasikan tugasnya sebagai pembaharu di dunia pendidikan.

d. Kualitas Kepribadian yang Unggul

Kualitas pribadi unggul ditunjukkan oleh guru PDp tentunya yang memiliki idealisme, visioner, inovatif, dan integritas. Guru yang mempunyai idealisme tampak pada pribadi yang mau mengembangkan panggilan jiwanya; sedangkan guru visioner ialah yang peka akan kebutuhan anak didik dan sesama di sekitarnya, kreatif dan aktif dalam mengaktualkan visi serta misi lembaga. Karena itu, guru wajib mengembangkan profesionalitas dengan mengusahakan kompetensi profesional, pedagogis, sosial, dan kepribadian (Pengurus Perkumpulan Dharmaputri, 2011: 32-33).

e. Profesional dalam Pelaksanaan Pendidikan

Kompetensi ini diolah dan dikembangkan melalui studi lanjut; pelatihan; pembinaan spiritualitas; belajar mandiri dan komunal, seperti TIK; memahami pokok-pokok penting Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, Ajaran Gereja tentang pendidikan; dan penguasaan bahasa internasional (Pengurus Perkumpulan Dharmaputri, 2011: 42-43). Karena itu, profesionalitas seorang guru PDp harus menjadi komitmen pribadi. Ia mampu menghayati tugasnya sebagai panggilan jiwa demi meningkatnya kualitas pendidikan. Dengan demikian seorang guru profesional benar-benar dituntut dalam mengembangkan profesionalitasnya. Ia harus belajar seumur hidup sebagai pelaksana pendidikan yang profesional. Maka profesionalitas guru yang tinggi tercermin dalam komitmen guru untuk mencintai tugas dan panggilannya sebagai pengajar dan pendidik.

f. Pendampingan Generasi Muda menjadi Pribadi Utuh

Guru PDp yang profesional diharapkan mampu mendampingi anak didik menjadi pribadi utuh. Proses pembelajaran diharapkan dapat mengembangkan

anak didik memiliki kecerdasan spiritual, intelektual, emosional, fisik, dan mengatasi kesulitan. Guru bertanggung jawab dalam mengembangkan

kecerdasan anak didik yang beraneka ragam; kritis, matang, tahan uji, dan mampu menghayati iman dalam hidup konkret (Pengurus Perkumpulan Dharmaputri, 2011: 45).

Dokumen terkait