BAB V. PENUTUP
B. Saran
Peneliti memberikan saran guru PDp dapat lebih meningkatkan penghayatan Spiritualitas Kesamaan Martabat Manusia sebagai Citra Allah, sebagai berikut:
1. Setiap suster SPM hendaknya memberi kesaksian hidup konkret dalam menghayati dan mengaktualisasikan nilai-nilai Spiritualitas Kongregasi SPM, yaitu “Kesamaan Martabat Manusia sebagai Citra Allah” di setiap unit karya khususnya bidang pendidikan.
2. Para suster SPM dan mitra kerja di bidang pendidikan hendaknya seiring untuk bersama-sama menghayati dan mengaktualisasikan spiritualitas Kongregasi SPM di unit-unit karya, sehingga spiritualitas SPM semakin disebarluaskan kepada banyak orang.
3. Pengurus Perkumpulan Dharmaputri:
a. Mengusahakan bentuk pembinaan spiritualitas Kongregasi SPM bagi para guru PDp secara berjenjang dan berkelanjutan.
b. Mengusahakan bentuk pembinaan spiritualitas Kongregasi SPM secara khusus bagi para guru PDp beragama non kristiani.
DAFTAR PUSTAKA
Anggaran Dasar Anggaran Rumah Tangga Perkumpulan Dharmaputri 2013 di Surabaya.
Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Cloos, H. (2010). Serigala yang Mengerkah dari Suku Benyamin. Yogyakarta: Kanisius.
Danim, Sudarwan. (2010). Profesionalitas dan Etika Profesi Guru. Bandung: Alfabeta.
Darminta, J. (1997). Sabda di Bukit Konstitusi Hidup Kerajaan Allah. Yogyakarta: Kanisius.
---. (1997). Yesus Mendidik Para Murid. Yogyakarta: Kanisius.
---. (2002). Spiritualitas Berpihak pada Kehidupan. Pusat Spiritualitas Girisonta.
---. (2006). Praksis Pendidikan Nilai. Yogyakarta: Kanisius.
---. (2013). Perspektif Hati dalam Etika Profesi. Diktat Mata Kuliah untuk Mahasiswa Semester VI, Program Studi Ilmu Pendidikan Agama, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Driyarkara. (1980). Kumpulan Karangan Driyarkara tentang Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.
Edy. http://www.edyscj.wordpress.com. accesed on 4 April, 2014.
Heuken, Adolf. (1994). Ensiklopedia Gereja. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka.
Irmine, Maria (tjr). (1998). St. Julie Billiart dan Sukacita Sebuah Harapan. Probolinggo: Komisi Dokumentasi SPM.
Karris, Robert. J. dan Dianne Bergant. (2002). Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius.
---. (2002). Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius.
KBBI Online. http:// www. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Online. accesed on 25 March, 2014.
Koehn, Daryl. (2000). Landasan Etika Profesi. Yogyakarta: Kanisius.
Konferensi Waligereja Indonesia. (1996). Iman Katolik Buku Informasi dan Referensi. Yogyakarta: Kanisius dan Jakarta: OBOR.
---. (2008). Nota Pastoral tentang Pendidikan Lembaga Pendidikan Katolik: “Media Pewartaan Kabar Gembira, Unggul dan Lebih Berpihak kepada yang Miskin”. Jakarta: Sekretariat Jendral KWI.
Konferensi Waligereja Indonesia Majelis Nasional Pendidikan Katolik. (1991). Ajaran dan Pedoman Gereja tentang Pendidikan Katolik. Jakarta: Grasindo.
Kongregasi Suster SPM. (2010). Keputusan Kapitel Provinsi Indonesia. Probolinggo: Dewan Pengurus Provinsi Indonesia.
Konsili Vatikan II. (1993). Dokumen Konsili Vatikan II. (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Obor. (Dokumen asli diterbitkan tahun 1965).
Konstitusi Suster-Suster SPM. (1984). Hasil Keputusan Kapitel Umum Kongregasi Suster-Suster Santa Perawan Maria di Amersfoort dan disyahkan di Roma tanggal 29 Maret 1988.
Kunandar. (2007). Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Mali, Mateus. (2010). Muatan Moral Profesionalitas Guru. Basis. hh. 7-11. ---. (2009). Perjumpaan Pancasila dan Kristianitas Reposisi Relasi Negara
dan Agama dalam Masyarakat Plural. Yogyakarta: Lamalera.
Mandagi, L. (1994). Identitas Pendidik Katolik Sumbangan dari Dokuman Gereja. Yogyakarta: Pusat Pastoral Yogyakarta.
Mary. (1996). Ibu Julia dan Spiritualitas Religius Aktif Masa Kini. Malang: Dioma.
Meehan, X. Francis. (1982). A Contemporary Social Spirituality. New York: Orbis Books.
Moleong, J. Lexy. (2013). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Nasution, Irwan dan Syafarudin. (2005). Manajemen Pembelajaran. Jakarta: Quantum Teaching.
Nasution, S. (1988). Metode Penelitian Naturalisktik-Kualitatif. Bandung: TARSITO.
Pedoman Kerja Kantor Perkumpulan Dharmaputri 2013 di Surabaya.
Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Bandung: Citra Umbara.
---. Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. Bandung: Citra Umbara.
Purwatma, M. (2008, Januari-Maret). Manusia sebagai Citra Allah. Praedicamus. hh. 11-16.
Rencana Strategis Perkumpulan Dharmaputri 2011/2012 - 2016/2017 di Surabaya tanggal 2 Mei 2011.
Romadon, Risa Maulana dan Rojai. (2013). Panduan Sertifikasi Guru Berdasarkan Undang-Undang Guru dan Dosen. Jakarta: Dunia Cerdas. Samana, A. (1994). Profesionalisme Keguruan. Yogyakarta: Kanisius.
Sufiyanta, A. Mintara. (2009). Roh Sang Guru. Jakarta: OBOR.
---. (2012). Jalan Sang Guru Spiritualitas Guru Kristiani. Jakarta: OBOR. Sumarno Ds., M. (2013). PPL PAK Paroki. Diktat Mata Kuliah untuk Mahasiswa
Semester VI, Program Studi Ilmu Pendidikan Agama, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Suparno, Paul. (2003). Guru Demokratis di Era Reformasi Pendidikan. Jakarta: Grasindo.
Suwanda Jampang. http://www.suwandajampang.blogspot.com. accesed on 1 March, 2014.
Tim Spiritualitas SPM Provindo. (2012). Retret Spiritualitas SPM bagi Mitra Kerja Perkumpulan Dharmaputri. Malang.
Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005. (2011). Guru dan Dosen. Bandung: Citra Umbara.
Hoeck, F. Van. (2011). Riwayat Hidup Pater Mathias Wolff SJ. Probolinggo: Pengurus Dokumentasi SPM Provindo.
Wahyudi, Imam (2012). Mengejar Profesionalitas Guru. Jakarta: Prestasi. Pustaka.
Widiastono, Tonny D. (edt). (2004). Pendidikan Manusia Indonesia. Jakarta: Kompas.
---.(edt). (2004). Pendidikan Manusia Indonesia. Jakarta: Kompas. ---. (edt). (2004). Pendidikan Manusia Indonesia. Jakarta: Kompas. Winkel, W.S.. (1996). Pendidikan Manusia Indonesia. Jakarta: Grasindo.
Yohanes Paulus II. (1995). Evangelium Vitae. (R. Hardawirjana, Penerjemah). Jakarta: Dokpen KWI.
(1) Lampiran 1
Instrumen Penelitian kepada Responden (R)
Paham Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah Aspek Pemahaman:
1. Apa yang bapak ibu pahami bahwa bapak ibu dicipta sebagai citra Allah?
2. Bagaimana bapak ibu memahami “kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah”?
3. Bagaimana bapak ibu memahami bahwa manusia dicipta istimewa dibanding ciptaan yang lain?
4. Apa yang membuat diri bapak ibu merasa berharga di hadapan: Tuhan, anak didik, dan rekan kerja?
5. Sebagai pendidik, Santa Yulia Billiart memberi teladan dalam memperjuangkan nilai-nilai kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah. Nilai-nilai keteladanan Santa Yulia Billiart apa saja yang bapak ibu pahami selama ini?
Aspek Penghayatan:
6. Bagaimana usaha bapak ibu menghargai keunikan: diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja?
7. Bagaimana usaha bapak ibu mewujudkan cinta kepada: Tuhan, diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja?
8. Apa usaha konkret bapak ibu dalam mengembangkan anugerah akal budi selama ini?
Kompetensi Kepribadian Guru
9. Dunia pendidikan jaman ini membutuhkan sosok pendidik yang memiliki kualitas kepribadian. Apa yang bapak ibu pahami tentang seorang pendidik yang berkompetensi kepribadian?
10. Berdasarkan pengalaman bapak ibu, kompetensi kepribadian mana yang telah berkembang berkat pemahaman spiritualitas kesamaan martabat manusia citra Allah?
Faktor-Faktor yang Mendukung dan Menghambat Baik Internal maupun Eksternal
11. Berdasarkan pengalaman bapak ibu, apa saja faktor-faktor yang mendukung dan menghambat dalam memahami dan menghayati kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah? (internal dan eksternal)
Usulan Program
12. Apa yang ingin bapak ibu usulkan agar pemahaman dan penghayatan
spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai Citra Allah para guru PDp lebih mendalam?
(2) Lampiran 2
Tabel 1a
Instrumen Observasi kepada Observer (O) Para Anak Didik dari Responden
Pertanyaan-pertanyaan Observasi Ya Tidak Kesamaan Martabat sebagai Citra Allah
1. Bapak ibu guru mengenal keunikan/ keistimewaan anak-anak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya?
2. Bapak ibu guru dapat menerima dan menghargai setiap keunikan/ keistimewaan anak-anak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya?
3. Bapak ibu guru memberi perhatian yang adil/ tidak pilih kasih kepada setiap anak di kelas?
4. Bapak ibu guru mencintai setiap anak di kelas tanpa membeda-bedakan, baik yang “lebih”/“kurang”, suku, atau agama?
5. Bapak ibu guru sabar dan pengertian/ menghargai proses setiap anak di kelas?
6. Bapak ibu guru bersikap tegas pada saat yang tepat kepada setiap anak di kelas dan setiap anak dapat menerima?
7. Bapak ibu guru menyapa/ menegur/ mengingatkan dengan hormat/ santun khususnya kepada anak yang
“tidak tertib/ membuat masalah” di kelas?
8. Bapak ibu guru memberi perhatian khusus kepada anak yang mengalami kesulitan dalam belajar?
9. Bapak ibu guru menghargai setiap anak sebagai pribadi berharga sehingga dapat menjadi teman/ sahabat/ bapak/ ibu saat di sekolah?
10. Bapak ibu guru memberikan pujian/ penghargaan kepada setiap anak di kelas sesuai dengan kemampuan/ keistimewaan masing-masing anak?
(3) Tabel 1b
Instrumen Observasi kepada Observer (O) Para Anak Didik dari Responden
Kompetensi Kepribadian Guru Ya Tidak
11. Bapak ibu guru memberi contoh nyata dalam mewujudkan iman misal: sikap saling kasih,
menghargai, mengampuni, berbela rasa di dalam kelas dan di sekolah?
12. Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kedisiplinan, misal: tepat waktu dan tidak terlambat?
13. Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kejujuran, misal: dengan rendah hati mengakui apabila bapak ibu guru salah/ keliru?
14. Bapak ibu guru dapat menerima masukan/ kritikan dari anak-anak di kelas?
15. Bapak ibu guru berani sportif, misal: meminta maaf saat melakukan kesalahan/ kekeliruan?
16. Bapak ibu guru mampu membuat anak-anak senang dan nyaman belajar di kelas dan si sekolah?
17. Bapak ibu guru selalu memberi dorongan/ motivasi untuk maju dan tidak putus asa kepada setiap anak di kelas?
18. Bapak ibu guru mengajak setiap anak untuk belajar mengoreksi diri dan berefleksi?
19. Bapak ibu guru adalah seorang guru yang berwibawa di hadapan anak-anak?
20. Bapak ibu guru berpenampilan rapi dan sopan sebagai seorang guru ?
(4) Lampiran 3
Tabel 1c
Instrumen Observasi kepada Observer (O) Para Rekan Kerja dari Responden
Pertanyaan-pertanyaan Observasi Ya Tidak Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah
1. Dia seorang guru yang mampu memahami dan mengenal pribadinya berharga dan unik dengan segala kemampuan dan keterbatasannya?
2. Dia seorang guru yang mampu menyadari bahwa pribadinya berharga dengan segala kekuatan dan keterbatasannya?
3. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai dirinya dengan segala potensi,
karakter, kekuatan dan keterbatasannya?
4. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai setiap rekan kerja dengan segala potensi, karakter, kekuatan dan keterbatasannya? 5. Dia seorang guru yang mampu menempatkan diri
dan rekan kerjanya setara sebagai pribadi citra Allah? Misal: tidak membedakan yunior atau senior, mempunyai jabatan fungsional atau tidak, guru atau karyawan, dsb.
6. Dia seorang guru yang mampu memancarkan sikap hidup yang membawa damai, pengampunan, keadilan, dan suka cita?
7. Dia seorang guru yang hidupnya penuh iman, harapan, dan syukur?
8. Dia seorang guru yang mampu menghargai hidup, secara jasmani, misal menjaga kesehatan dan mengatur pola hidup? Hidup rohani misal taat beribadah, berdoa, dan menekuni hidup rohani? 9. Dia seorang guru yang mampu menghargai dan
mengembangkan anugerah akal budi, hati nurani, dan kehendak sehingga dapat memilah, memilih, dan bertindak dengan kebebasan batin sebagai pribadi dewasa?
10. Dia seorang guru yang mampu mewartakan Allah yang baik misal: perhatian, membangun
persaudaraan sejati, solider, berbagi, empati, dan bersikap tanpa pamrih kepada setiap rekan kerja?
(5) Tabel 1d
Instrumen Observasi kepada Observer (O) Para Rekan Kerja dari Responden
Kompetensi Kepribadian Guru Ya Tidak
11. Dia seorang guru yang mampu menghayati dan mengaktualisasikan iman kepercayaannya: dengan hidup penuh kasih, berharapan, dan beriman? 12. Dia seorang guru yang taat pada agamanya, hidup
selaras dengan ajaran imannya dan norma-norma agama?
13. Dia seorang guru yang bijaksana, tulus dan setia? 14. Dia seorang guru yang mampu mendengarkan,
terbuka dan mau menerima masukan/ kritikan membangun?
15. Dia seorang guru yang memiliki kepribadian seimbang baik secara intelektual, emosional, sosial, dan spiritual?
16. Dia seorang guru yang percaya diri dan mantap dalam menghayati panggilan hidupnya sebagai guru? 17. Dia seorang guru yang mampu menjadi teman,
sahabat, dan saudara bagi rekan kerjanya? 18. Dia seorang guru yang mampu memberi teladan,
jujur, disiplin, dan bertanggung jawab?
19. Dia seorang guru yang mampu bersikap rendah hati dan sportif: menerima, mengakui kekeliruan/ kesalahan dan berani minta maaf?
20. Dia seorang guru yang mampu berintrospeksi diri, berefleksi, dan mengevaluasi diri demi kinerja yang lebih baik?
(6) Lampiran 4
Rangkuman Hasil Wawancara kepada Responden (R1-R12)
A.Paham Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah Aspek pemahaman:
1. Pemahaman guru dicipta sebagai citra Allah
a. Saya dicipta mirip/ segambar dengan Allah yang kasih, agung, dan baik (R1, R2, R3, R4, R5)
b. Saya dicipta Allah sebagai manusia “sempurna”, unik, dan yang memiliki
kekuatan dan kekurangan (R2, R4, R6, R10, R12) c. Saya dapat mengenal Sang Pencipta (R5)
d. Saya merasa berharga karena dihargai oleh Tuhan dan sesama (R7) e. Saya dan sesama di hadapan Tuhan sama (R8, R10, R11)
f. Saya mampu memanusiakan manusia (R9)
g. Saya merasa dapat menerima diri dan bangga dengan segala anugerah dari Tuhan (R12)
2. Pemahaman guru tentang Kesamaan Martabat Manusia sebagai Citra Allah
a. Satu dengan yang lain dapat saling berbagi (R1)
b. Saya dan sesama dicipta sederajat/ sama martabatnya di hadapan Allah dan mampu memartabatkan setiap pribadi dengan tidak pilih kasih (R1, R2, R3, R5)
c. Saya dan sesama memiliki hak hidup yang sama (R4)
d. Saya dan sesama sama, tidak ada perbedaan status antara guru dan
karyawan, senior dan yunior, seagama atau lain agama, anak yang mampu dan tidak mampu (finansial, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual) (R6, R7, R8, R11, R12)
e. Tidak membedakan dalam memberi pelayanan (R9) f. Dapat menerima keunikan sesama (R10)
3. Pemahaman guru dicipta istimewa dibanding ciptaan Allah yang lain a. Saya dianugerahi akal budi untuk dapat berpikir (R2, R5, R6, R8, R9) b. Saya dianugerahi kasih untuk dapat mengasihi (R7, R8, R9)
c. Saya dianugerahi pikiran dan hati untuk mampu membedakan antara yang baik dan tidak baik serta bertindak secara benar (R1, R3)
d. Saya dianugerahi hati nurani dan kehendak bebas (R5)
e. Saya dapat bekerja dengan kemampuan saya secara total (R4) f. Saya merasa dikasihi/ dicintai Allah (R3, R7, R10)
(7) Lanjutan: Lampiran 4
4. Guru merasa berharga di hadapan Tuhan, anak didik, dan rekan kerja a. Tuhan:
1) Saya dicintai Tuhan (R7, R10, R12)
2) Tuhan memberi semua anugerah talenta/ kemampuan dan ketidaksempurnaan saya (R1)
3) Saat mampu berdoa dengan tulus dan pasrah (R2, R8, R9) 4) Saya dapat berpikir dan bertidak benar (R3)
5) Saya dapat berbuat baik kepada sesama sebagai perpanjangan tangan Tuhan (R3, R4, R6, R9)
6) Saya menerima kepercayaan besar dari sekolah, Gereja, dan masyarakat (R5)
b. Anak didik:
1) Mereka membutuhkan kehadiran saya (R1, R6) 2) Mereka menyayangi saya (R4, R7, R12)
3) Mereka merindukan saya (R2, R6, R7, R8)
4) Saya dapat menjadi teladan yang baik bagi mereka (R3, R10, R11) 5) Mereka memahami dan menerima karakter pribadi saya (R4) 6) Saya dapat menghargai proses anak didik dalam belajar (R3)
7) Mereka mengucapkan kata “terima kasih” (R7)
8) Saya dapat membangkitkan semangat anak-anak yang “kesulitan” (R6) 9) Saya dapat mendekati anak yang bermasalah secara personal (R8) c. Rekan kerja:
1) Saya dipercaya sesuai dengan kemampuan dalam bidang keahlian saya dan kemampuan fungsional (R4, R8)
2) Dapat saling memberi dan menerima (R1, R10) 3) Saling dapat memberi kritik yang membangun (R1) 4) Mampu menerima kenyataan (R1)
5) Dapat menjadi teman sharing/ curhat (R11) 6) Dapat memberi solusi (R2, R9, R11)
7) Dapat bekerja sama dan menolong (R3, R9, R11)
8) Dapat merasakan keakraban, kekeluargaan, sehingga tidak ada pengkotak-kotakan (R5, R6, R12)
9) Saya diingatkan atau mendapat masukan dari yang lain (R6)
(8) Lanjutan: Lampiran 4
5. Pemahaman nilai-nilai keteladanan Santa Yulia sebagai seorang pendidik/ guru PDp
a. Memberikan pelayanan dengan kasih (R1, R2, R4, R11)
b. Sederhana dan rendah hati dalam iman seperti Bunda Maria (R1, R6, R10)
c. Memberi perhatian kepada anak didik: yang “khusus/ redup”, miskin/
terlantar, dan yang sedang dalam “masalah” untuk diangkat (R3, R5, R8,
R9)
d. Memahami anak didik dengan segala keunikannya (R3) e. Berani berkurban (R4)
f. Memberi perhatian bagi pendidikan generasi muda (R5) g. Mengandalkan kebaikan Allah (R7)
h. Belum memahami sepenuhnya (R12) Aspek Penghayatan:
6. Usaha guru menghargai keunikan diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja
a. Diri sendiri:
1) Bersyukur dan berani menerima diri (R2, R3, R4, R6, R9, R11, R12) 2) Mau mengembangkan kemampuan diri/ talenta dan berbagi dan
mengimani bahwa dengan semakin banyak memberi saya banyak diberi (R6, R7)
3) Menyadari, menerima, dan selalu mengolah kekuatan dan kelemahan diri (R1, R8)
4) Menyadari diri bahwa saya adalah manusia (R5) b. Anak didik:
1) Mengenal dan memahami kemampuan/ karakter anak yang
berbeda-beda, khususnya “anak-anak jaman” (R1, R2, R3, R4, R6, R9, R10, R11,
R12)
2) Memperlakukan anak sebagai subyek hidup, sesuai dengan karakter dan keunikannya dan tidak membeda-bedakannya. Bagi anak yang
“bermasalah” mendekati secara personal melalui pintu mereka. (R1, R4, R5, R6, R9, R10, R12)
3) Memberi pujian dan penghargaan kepada mereka (R3) 4) Dapat berdamai dengan mereka (R4)
5) Melakukan pendekatan personal kepada mereka yang dalam masalah (R8)
(9) Lanjutan: Lampiran 4
c. Rekan kerja:
1) Mengenal, memahami, menerima, dan mendalami karakter dari setiap pribadi (R1, R2, R3, R6, R7, R9, R11, R12)
2) Menghargai peran dan fungsi rekan kerja pada porsi masing-masing (R4) 3) Memberi semangat dan menyapa (R3, R7)
4) Menghargai rekan kerja dan mampu menempatkan diri (R2, R4)
5) Terbuka dan bersedia dipimpin oleh yang lebih “muda” dan mampu (R4,
R5)
6) Berani mengatakan ketidakcocokan dan berdiskusi demi kebaikan (R6, R8)
7) Berani mengingatkan dan ambil resiko (R6, R7)
8) Berbicara dan bersikap sopan serta menghormati rekan sebagai pribadi (R7)
9) Berani berdamai (R8)
7. Usaha konkret guru mengembangkan anugerah akal budi selama ini a. Mampu membedakan antara yang baik dan tidak baik dengan mengasah dan
mengolah hati serta iman (R1, R3, R6, R12)
b. Mengembangkan profesi, memperkaya pengetahuan dengan mengikuti misal: penataran, pelatihan, membaca buku-buku baru, dan belajar hal-hal yang baru (R1, R4, R5, R7, R8, R9, R10, R12)
c. Belajar dari orang lain yang lebih mampu (R7, R11)
d. Merencanakan, mengatur, merancang kelas dan alat peraga sebelum pembelajaran (R2)
e. Mampu bekerja dengan total (R4)
f. Berdiskusi yang melibatkan rasio/ nalar dan hati dengan orang lain/ sharing pengalaman (R5, R6)
g. Melakukan instrospeksi diri (R6)
8. Usaha guru mewujudkan cinta/ kasih kepada Tuhan, diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja
a. Tuhan:
1) Memelihara dan mengolah hidup rohani dan relasi dengan Tuhan dengan doa, membaca KS, mengikuti kegiatan rohani di lingkungan dan Gereja (R1, R3, R5, R6, R7, R10, R11, R12)
2) Berani menangggung salib dan menampakkan jati diri sebagai orang Katolik dalam kesaksian hidup (R2)
(10) Lanjutan: Lampiran 4
b. Diri sendiri:
1) Menjaga/ merawat diri dengan: mengatur pola hidup, olah raga, istiraharat cukup (R1, R2, R3, R5, R6, R7, R11)
2) Berpenampilan rapi dan sopan (R1)
3) Menerima dan mencintai diri (R4, R6, R10, R12) 4) Mengendalikan diri/ tidak emosional (R7)
5) Menciptakan keseimbangan hidup (R8) c. Anak didik:
1) Membimbing, memotivasi, dan mengangkat anak yang “kurang” untuk
belajar mencintai sesuatu yang “sulit untuk mereka” agar pertama-taman
disenangi dan selanjutnya tumbuh percaya diri (R1, R6, R8)
2) Memotivasi anak untuk saling menolong dan berbagi “kemampuan”
dengan berdiskusi (R1, R7)
3) Memahami dan mencintai mereka sesuai dengan karakter pribadi dan ada mereka (R3, R6, R7)
4) Akrab dan dekat dengan mereka (R3, R9) 5) Berbela rasa (R4)
6) Sabar namun tegas (R5)
7) Berkomunikasi secara personal kepada anak yang “bermasalah” (R2,
R6)
8) Mampu menjadi teladan/ contoh bagi mereka (R10)
9) Mendampingi anak “khusus” yang membutuhkan penanganan khusus
(R10, R12) d. Rekan kerja:
1) Menyapa dan “ngaruhke”, memberi perhatian, dan kunjungan (R1, R2,
R5, R9, R12)
2) Mengenal, memahami, dan menerima rekan kerja sesuai dengan karakter dan kemampuannya (R3, R6, R7, R10)
3) Membangun kerja sama dan kenyamanan (R6) 4) Berani mengingatkan hal yang kurang sesuai (R8) 5) Berbela rasa (R4, R6)
6) Total dalam memberikan diri dan melayani (R4)
7) Membantu memberi solusi untuk mencari jalan keluar (R6) 8) Berbicara sopan dan hormat kepada setiap rekan kerja (R7) 9) Tidak meningggalkan satu orang pun (R7)
(11) Lanjutan: Lampiran 4
9. Faktor yang mendukung dan menghambat pemahaman spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai Citra Allah
a. Faktor pendukung: Internal:
1) Memahami dan menghidupi visi dan misi sekolah (R1) 2) Ada semangat dan kemauan (R3)
3) Sabar, rendah hati, bertanggung jawab (R2, R6) 4) Kesetiaan dan peduli (R4)
5) Menikmati pekerjaan/ tidak di bawah tekanan (R4)
6) Bekerja maksimal “perfect” dan disiplin (R5)
7) Introspeksi dan refleksi diri (R7, R12) 8) Terbuka dan bergaul dengan siapapun (R8 ) 9) Dapat menjadi teladan bagi anak didik (R6, R8)
10) Merasa ikut memiliki/ “andarbeni” sekolah (R9)
Eksternal:
1) Ada budaya saling menghargai, peduli, dan pengertian di sekolah (R1,R2)
2) Dapat saling kerja sama (R3)
3) Ada waktu untuk berdoa bersama, kegiatan rohani: retret (R3, R4, R11, R12)
4) Ada pembinaan dan pelatihan dari lembaga (R4) 5) Team work kuat (solid) (ISO) (R5)
6) Terbuka belajar kepada yang muda dan lebih bisa (R5, R6)
7) Pemahaman nilai-nilai keSPMan dan peneguhan nilai keSPMan (R7) 8) Kebijakan sekolah yang memberi kesempatan bagi yang kurang mampu
untuk bisa sekolah (R8)
9) Semua guru memperjuangkan spiritualitas kesamaan martabat manusia
citra Allah, sehingga tidak ada satu anak didikpun yang merasa di”ceng”
(12) Lanjutan: Lampiran 4 b. Faktor penghambat: Internal: 1) Egoisme pribadi (R1, R2, R5) 2) Kurang terbuka (R1) 3) Kurang komunikasi (R1)
4) Person tertentu ada yang cuek (R3) 5) Kurang percaya diri (R3)
6) Malas (R2)
7) Ada rasa putus asa (R2) 8) Kelelahan fisik (R6)
9) Kurang dapat memanage waktu (R7) 10) Memahami namun kurang menyadari (R7) 11) Saat tertentu kurang sabar (R8)
12) Kurang menyempatkan waktu untuk Tuhan saat “lelah” (R12) Eksternal:
1) Kurang komunikasi sehingga ada mis komunikasi (R1, R6)
2) Kepsek tidak selalu menanggapi undangan terkait dengan kedinasan, sehingga ada berita yang tidak lekas sampai(R1)
3) Ada yang kurang menjaga privasi guru (R3)
4) Adakala kurang dukungan dari sekolah untuk pengadaan alat peraga (R2) 5) Sekolah kurang memberi penghargaan yang seimbang (R4)
6) Ada suster di suatu unit karya kurang “bersentuhan” dengan anak didik
(R5)
7) Rencana kerja yang tidak dapat terlaksana (R5)
8) Kelelahan fisik sehingga menjadi kurang kontrol diri (R6, R8) 9) Keteladanan suster di unit tertentu kadang kurang, misal: dalam cara
menyapa dan mengingatkan yang “salah” atau kurang pas (R10) 10) Perbedaan prinsip namun kurang berani konfrontasi sehingga bicara di
(13) Lanjutan: Lampiran 4
10. Pemahaman guru tentang kompetensi kepribadian guru a. Guru yang inovatif dan profesional (R1, R4, R6, R12) b. Guru yang memiliki jati diri positif (R1)
c. Guru memiliki loyalitas, motivasi, dan berpenampilan baik dan rapi sebagai guru (R2)
d. Guru yang jujur, percaya diri, disiplin (R1, R5)
e. Guru yang bertanggung jawab dan berani ambil resiko (R1, R5)
f. Guru yang memiliki keseimbangan antara rohani dan bidang pengetahuan (R3, R8)
g. Guru yang mampu memberi teladan baik kepada anak didik, berupa nilai-nilai hidup (R5, R6, R7, R8, R10, R12)
h. Guru yang mampu berelasi dekat dengan anak didik sebagai “anak jaman”
(R4)
i. Guru yang beriman mendalam sesuai ajaran agamanya (R6, R7) j. Guru yang mempunyai hati untuk anak didiknya (R9)
k. Guru yang mengamalkan ajaran iman kepercayaan/ agamanya, misal: kasih (R10)
l. Guru yang total dan menyadari tugas sebagai guru adalah panggilan (R10) 11.Kompetensi kepribadian guru yang semakin berkembang setelah
memahami dan menghayati spiritualitas kesamaan martabat manusia citra Allah
a. Saya semakin beriman salah satunya karena berada di lingkungan sekolah