• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.2 Landasan Teori

2.2.2 Hakikat HOTS

2.2.2.2 Karakteristik HOTS

I Wayan (2016) Based on the above notions can be formulated characteristics HOTS assessment is as follows: Measuring the ability of a high level, Based on contextual issues, and Not routine (not familiar).

Berdasarkan tiga karakter penilaian HOTS yang disebutkan oleh I Wayan (2016) dapat dijelaskan bahwa, (1) mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi, termasuk kemampuan untuk memecahkan masalah, keterampilan berpikit kritis, keterampilan berpikir kreatif, kemampuan berdebat, dan kemampuan untuk

membuat keputusan; (2) berdasarkan masalah kontekstual penilaian HOTS biasanya memuat stimulus dalam bentuk kasus (berdasarkan kasus). Stimulus dapat mengarahkan peserta didik untuk menghubungkan pengetahuan dalam situasi yang berbeda, kasus dapat dihilangkan dari situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari (kontekstual); dan (3) tidak rutin (tidak familier) penilaian HOTS digunakan berkali-kali pada peserta tes yang sama penilaian memori (mengingat), karena belum pernah dilakukan sebelumnya. Penilaian HOTS yang tidak biasa menuntut peserta didik benar-benar berpikir kreatif, karena masalah yang dihadapi belum pernah ditemui atau dilakukan sebelumnya.

Beyer (dalam Sani 2019:16) enam karakteristik inti dari berpikir kritis sebagaimana dideskripsikan dalam gambar berikut:

Gambar 2.1 Karakteristik inti berpikir kritis (Beyer, 1995)

Karakteristik inti dari berpikir kritis dapat dideskripsikan dengan jelas sebagai berikut:

a) Disposisi

Pemikir kritis adalah orang yang skeptic, berpikiran terbuka, bebas nilai dalam berpikir, menghargai bukti dan nalar, menghargai kejelasan dan presisi, melihat dengan berbagai sudut pandang, dan akan mengubah posisi atau pemikiran jika ada alasan untuk itu.

b) Kriteria

Kriteria harus digunakan dalam berpikir kritis, sehingga ada kondisi-kondisi yang harus dipenuhi oleh suatu pernyataan agar dapat diyakini atau disimpulkan.

Sebuah pernyataan tentang evaluasi dan resolusi harus didasarkan pada informasi yang signifikan dan presisi, serta berasal dari sumber yang terpercaya.

Karakteristik inti berpikir kritis

Disposisi Kriteria Argumen Bernalar Cara

Pandang

Prosedur Aplikasi

c) Argumen

Bukti logis harus diberikan untuk mendukung pernyataan. Berpikir kritis mencakup proses mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengkonstruksi argumen.

d) Bernalar

Orang yang berpikir kritis harus memiliki kemampuan untuk menginfer sebuah kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang mendukung kesimpulan (premis). Hubungan antar pernyataan atau data membutuhkan pemeriksaan yang logis,

e) Cara pandang

Cara pandang seorang akan membentuk makna atau signifikansi bagi orang tersebut. Seorang pemikir kritis perlu melihat sebuah fenomena dari berbagai sudut pandang dalam upaya memahami fenomena atau permasalahan.

f) Prosedur untuk menerapkan kriteria

Prosedur ini diperlukan untuk menganalisa proses berpikir. Beberapa prosedur yang dilakukan dalam berpikir kritis adalah: mengajukan pertanyaan, mengidentifikasi asumsi, dan membuat kesimpulan berdasarkan kasus.

Dalam menyusun soal dengan menggunakan level HOTS menurut Widana (2017: 3-6) untuk menyusun soal-soal HOTS di tingkat satuan Pendidikan, berikut ini dipaparkan karakteristik soal-soal higher order thinking skills (HOTS):

1) Mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi

Kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat dilatih melalui proses pembelajaran di kelas. Oleh karena itu, agar peserta didik memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi maka proses pembelajaranya juga memberikan ruang kepada peserta didik untuk menemukan konsep pengetahuan berbasis aktivitas. Aktivitas dalam pembelajaran dapat mendorong peserta didik untuk membangun kreativitas dan berpikir kritis.

Kreativitas menyelesaikan permasalahan dalam HOTS, terdiri atas: 1) kemampuan menyelesaikan permasalahan tidak familiar; 2) kemampuan mengevaluasi strategi yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dari berbagai sudut pandang yang berbeda; dan 3) menemukan model-model penyelesaian baru yang berbeda dengan cara-cara sebelumnya.

2) Berbasis permasalahan kontesktual

Soal-soal HOTS merupakan asesmen berbasis situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, dimana peserta didik diharapkan dapat menerapkan konsep-konsep pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan masalah. Permasalahan kontesktual yang dihadapi oleh masyarakat dunia saat ini terkait dengan lingkungan hidup, kesehatan, kebumian dan ruang angkas, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan, dan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan. Berikut uraian lima karakteristik assesmen kontekstual, yang disingkat REACT.

1. Relating, asesmen terkait dengan konteks pengalaman kehidupan nyata.

2. Experiencing, asesmen yang ditemukan kepada penggalian (exprolation), penemuan (discovery), dan penciptaan (creation).

3. Applying, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh di dalam kelas untuk menyelesaikan masalah-masalah nyata.

4. Communicating, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk mampu mengomunikasikan kesimpulan model pada kesimpulan konteks masalah.

5. Transferring, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk mentransformasikan konsep-konsep pengetahuan dalam kelas ke dalam situasi atau konteks baru.

3 Menggunakan bentuk soal beragam

Bentuk-bentuk soal yang beragam dalam sebuah perangkat tes (soal-soal HOTS) bertujuan agar dapat memberikan informasi yang lebih rinci dan menyeluruh tentang kemampuan peserta tes. Hal ini penting diperhatikan karena agar penilaian yang dilakukan dapat menjamin prinsip objektif. Bentuk soal yang dapat digunakan untuk menulis butir soal HOTS, sebagai berikut:

1. Pilihan ganda

Pada umunya soal-soal HOTS menggunakan stimulus yang bersumber pada situasi nyata. Soal pilihan ganda terdiri dari pokok soal (stem) dan pilihan jawaban (option). Pilihan jawaban terdiri atas jawaban dan pengecoh (distractor).

2. Pilihan ganda kompleks (benar/salah, atau ya/tidak)

Soal bentuk pilihan ganda kompleks bertujuan untuk menguji pemahaman peserta didik terhadap suatu masalah secara komperhensif yang terkait antara pernyataan satu dengan yang lainnya. Sebagaimana soal pilihan ganda biasa, soal-soal HOTS yang berbentuk pilihan ganda kompleks juga memuat stimulus yang bersumber pada situasi kontekstual.

3. Isian singkatan atau melengkapi

Soal isian singkatan atau melengkapi adalah soal yang menuntut peserta tes untuk mengisi jawaban singkat dengan cara mengisi kata, frase, angka atau simbol.

Karakteristik soal isian singkatan atau melengkapi adalah sebagai berikut:

(1) Bagian kalimat yang harus dilengkapi sebaiknya hanya satu bagian dalam ratio butir soal dan paling banyak dua bagian supaya tidak membingungkan peserta didik.

(2) Jawaban yang dituntut oleh soal harus singkat dan pasti yaitu berupa frase, kata, angka, simbol, tempat atau waktu.

4. Jawaban singkat atau pendek

Soal dengan bentuk jawaban singkat atau pendek adalag soal yang jawabannya berupa kata, kalimat pendek, atau frase terhadap suatu pertanyaan.

Karakteristik soal jawaban singkat adalah sebagai berikut:

a) Menggunakan kalimat pertanyaan langsung atau kalimat perintah,

b) Pertanyaan atau perintah harus jelas, agar mendapat jawaban yang singkat, c) Panjang kata atau kalimat yang harus dijawab oleh peserta didik pada semua

soal diusahakan relatif sama, dan

d) Hindari pernggunaan kata, kalimat atau frase yang diambil langsung dari buku teks, sebab akan mendorong peserta didik untuk sekadar mengingat atau menghafal apa yang ditulis di buku.

5. Uraian

Soal bentuk uraian adalah soal yang jawabannya menuntur peserta didik untuk mengorganisasikan gagasan atau hal-hal yang telah dipelajarinya dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut menggunakan kalimatnya sendiri dalam bentuk tertulis.

Berdasarkan uraian di atas peneliti dapat menyimpulkan bahwa untuk

memnyusun soal-soal yang mengandung berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking skills (HOTS) perlu memperhatikan karakteristik soal-soal HOTS berikut ini:

1. Mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi, meminimalkan aspek mengingat dan memahami;

2. Berbasis permasalahan kontekstual;

3. Menggunakan stimulus yang menarik dan terbaru;

4. Bentuk soal yang digunakan tidak sering digunakan pada bentuk soal lain; dan

5. Memiliki kebaruan pada setiap materi.