2.2 Landasan Teori
2.2.2 Hakikat HOTS
2.2.2.1 Pengertian HOTS
Keterampilan berpikir merupakan gabungan dua kata yang memiliki makna berbeda, yaitu berpikir (thinking) dan keterampilan (skills). Berpikir merupakan proses kognitif, yaitu mengetahui, mengingat, dan mempersepsikan, sedangkan arti dari keterampilan, yaitu tindakan dari mengumpulkan dan menyeleksi informasi, menganalisis, menarik kesimpulan, gagasan, pemecahan permasalahan, mengevaluasi pilihan, membuat keputusan dan merefleksikan (Wilson 2000:7).
Menurut Tomei (dalam Sani 2019:2), higher order thinking skill (HOTS) adalah transformasi informasi dan ide-ide. Transformasi ini terjadi jika peserta didik menganalisa, mensintesa atau menggabungkan fakta dan ide, menggeneralisasi, menjelaskan, atau sampai pada suatu kesimpulan atau interpretasi. Tomei (2005) juga menyatakan manipulasi informasi dan ide-ide melalui proses tersebut yang akan memungkinkan peserta didik untuk menyelesaikan permasalahan, memperoleh pemahaman, dan menemukan makna baru. Selanjutnya Underbakke dkk (dalam Sani 2019:3) menyatakan bahwa HOTS juga disebut kemampuan berpikir strategis yang merupakan kemampuan menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah, menganalisa argumen, negosiasi isu, atau membuat prediksi.
Haladyan (dalam Sani 2019:5) menyatakan kompleksitas berpikir dimensi
belajar dalam empat tingkatan proses mental, yakni: memahami, menyelesaikan masalah, berpikir kritis, dan kreativitas; yang dapat diaplikasikan pada empat jenis konten, yakni: fakta, konsep, prinsip, dan prosedur.
I Wayan (2016) states that the assessment HOTS is a measurement instrument used to measure the ability to think critically, the ability to think that not only recall (recall), restate (restate), or refer without processing (Recite) , Assessment HOTS measure the ability to: 1) transfer the concept to another concept, 2) process and apply information, 3) looking for connection of a variety of information that is different, 4) use information to solve problems, and 5) examines the ideas and information critical.
Berdasarkan definisi yang telah dijelaskan I Wayan tersebut, penilaian HOTS sebagai pengukuran yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir kritis, di dalamnya tidak hanya menggunakan kemampuan untuk mengingat kembali, mengungkapkan kembali. Tetapi, penilaian HOTS mengukur kemampuan untuk peserta didik dapat mentransfer konsep ke konsep lain, peserta didik dapat memproses dan menerapkan informasi, peserta didik mampu mencari koneksi dari berbagai informasi yang berbeda, peserta didik dapat menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah, dan peserta didik dapat meneliti ide-ide dari informasi kritis.
Berpikir adalah kegiatan akal untuk “mengolah” pengetahuan yang telah diterima melalui panca indera dan ditunjukkan untuk mencapai suatu kebenaran (Yani 2019:9). Menurut Resnick (dalam Kemdikbud 2019:6) kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah proses berpikir kompleks dalam menguraikan materi, membuat kesimpulan, membangun representasi, menganalisis, dan membangun hubungan dengan melibatkan aktivitas mental yang paling dasar. Keterampilan ini juga digunakan untuk menggarisbawahi berbagai proses tingkat tinggi menurut jenjang taksonomi Bloom. Secara rinci, Bloom (dalam Daryanto 2014:101) membagi enam kategori tingkatan kognitif yaitu dari level yang rendah ke level yang tinggi yang diurutkan secara hierarki piramidal: Knowledge (C-1), Comprehension (C-2), Application (C-3), Analysis (C-4), Synthesis (C-5), dan Evaluation (C-6). Khusunya tentang analisis, level ini merupakan tahap
kemampuan kognitif tinggi karena peserta didik dituntut untuk menelaah, memahami informasi, dan mengatasi masalah menjadi bagian-bagian atau komponen yang lebih rinci, menentukan bagaimana bagian-bagian tersebut berhubungan satu sama lain, mengidentifikasi faktor penyebab atau motif tertentu, membuat kesimpulan, dan menentukan bukti untuk mendukung makna yang lebih umum.
Menurut Piaget (dalam Safari 2019:354) keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skill) memiliki definisi yakni tahapan perkembangan berpikir merupakan kunci utama menuju kognitif tingkat tinggi. Untuk menuju berpikir tingkat tinggi dapat melalui beberapa tahapan salah satunya dengan cara mengembangkan cara berpikir tingkat tinggi kepada peserta didik baik itu di dalam kegiatan pembelajaran maupun pada kegiatan penilaian pembelajaran. Selanjutnya, menurut Marzano (dalam Safari 2019:354) tahapan berpikir mulai dari:
metakognisi, berpikir kritis dan kreatif, proses berpikir, keterampilan berpikir, dan hubungan wilayah konsep pemahaman sampai konsep berpikir.
High Order Thinking Skills (HOTS) atau keterampilan berpikir tingkat tinggi merupakan konsep reformasi pembelajaran yang didasarkan pada taksonomi belajar (seperti taksonomi Bloom). Hal ini didasarkan pada konsep bahwa semua jenis pembelajaran sangat memerlukan pemrosesan kognitif tingkat tinggi, sehingga proses dan hasil pembelajaran tersebut dapat bermanfaat maksimal.
Menurut Heong dkk, (dalam Safari 2019:351) keterampilan berpikir tingkat tinggi adalah kemampuan berpikir yang menggunakan pemikiran secara luas guna menemukan tantangan baru, atau kemampuan pemikiran tingkat tinggi yang menuntut seseorang untuk menerapkan informasi atau pengetahuan baru serta memanipulasi informasi guna mencapai kemungkinan jawaban dalam situasi baru.
The Australian Council for Educational Research (ACER) (dalam Ditjen Pendidik dan Tendik 2018:11) menyatakan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan proses menganalisis, merefleksi, memberikan argumen (alasan), menerapkan konsep pada situasi berbeda, menyusun, dan menciptakan.
Kemampuan berpikir tingkat tinggi bukanlah kemampuan untuk mengingat, mengetahui, atau mengulang. Dengan demikian, jawaban soal-soal HOTS tidak
tersurat secara eksplisit di dalam stimulus.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa keterampilan berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking skills (HOTS) merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang memiliki banyak tantangan yang perlu ditekankan pada kurikulum saat ini dan dikembangkan kepada peserta didik yang sudah menjadi kriteria utama dalam pembelajaran. Penilaian HOTS menjadikan instrumen pengukuran kemampuan berpikir kritis tidak hanya mengingat dan menyatakan kembali, tetapi penilaian HOTS mengukur kemampuan kepada peserta didik untuk dapat mentransfer konsep ke konsep lain, peserta didik dapat memproses dan menerapkan informasi, peserta didik dapat mencari koneksi dari berbagai informasi yang berbeda, peserta didik dapat menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah, dan peserta didik meneliti ide-ide dan informasi kritis. Untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) kepada peserta didik perlu dilakukan beberapa tahap seperti metakognisi, berpikir kritis dan kreatif, proses berpikir, keterampilan berpikir, dan hubungan wilayah konsep pemahaman sampai konsep berpikir. Kemampuan berpikir tingkat tinggi yaitu tentang bagaimana dalam pembelajaran yang memiliki kriteria pemikiran kognitif seperti peserta didik dituntut untuk berpikir kreatif dan kritis untuk bisa mencapai tahap menyelesaikan masalah, membuat keputusan hingga menciptakan makna baru dari masalah yang sudah peserta didik selesaikan tersebut. Kemampuan berpikir tingkat tinggi ini menerapkan konsep pada menganalisis, memecahkan masalah dan menciptakan sehingga soal-soal HOTS yang digunakan tidak memiliki jawaban tersurat di dalam stimulusnya.