• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

5.1 Karakteristik Ibu Balita .1 Umur

Menurut Khomsan ( 2004 ), angka kelahiran dipengaruhi beberapa faktor anatara lain, faktor biologis, sosio-budaya, ekonomi, pendidikan dan pengetahuan. Hampir semua wanita berumur 15-49 tahun memiliki potensi untuk hamil dan di beberapa negara banyak terjadi pernikahan pertama pada usia sangat muda yaitu 15-19 tahun, dengan usia perkawinan yang muda maka usia subur menjadi lebih panjang sehingga berpotensi untuk melahirkan dan memiliki anak dengan jumlah yang banyak. Konsekuensi lain dari kehamilan pada ibu muda adalah akan ada persaingan antara kebutuhan zat gizi ibu dan janin yang dikandungnya.

Komposisi responden berdasarkan umur yang diperoleh dari kuesioner penelitian bervariasi dari termuda 18 tahun hingga 44 tahun. Di Kecamatan Tanjung Beringin budaya kawin muda masih membudaya pada masyarakat dan diajarkan secara turun temurun, sehingga ditemukan umur responden 18 tahun yang merupakan kelompok umur anak SLTA. Pada penelitian ini kelompok umur yang terbanyak berada pada kelompok umur 25-29 tahun yaitu sebanyak 36 responden (40%).

Faktor lingkungan masyarakat dalam hal ini kawin muda dapat mempengaruhi asuhan terhadap Balita sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan

di bawah tiga tahun yang lebih dari satu, kemiskinan memiliki hubungan terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan anak.

5.1.2 Pendidikan

Pendidikan formal ibu balita gizi kurang merupakan salah satu unsur penting dalam memotivasi diri untuk meningkatkan status kesehatan diri dan keluarganya. Pendidikan diperoleh melalui proses belajar tidak hanya mempengaruhi kepercayaan seseorang, tetapi juga mempengaruhi kecenderungan perilaku. Perubahan sikap dapat berupa penambahan, pengalihan atau modifikasi, artinya ada kemungkinan satu atau dua komponen sikap itu berubah, tetapi komponen lain tetap sama (Depkes, 2010).

Pendidikan formal di Kecamatan Tanjung Beringin bukanlah hal yang penting bagi masyarakat. Menurut Khomsan, 2004, wanita yang berpendidikan lebih rendah atau tidak berpendidikan biasanya mempunyai anak lebih banyak dibandingkan yang berpendidikan tinggi dan umumnya mereka yang berpendidikan rendah sulit diajak memahami dampak negatif dari mempunyai banyak anak. Frekuensi kehamilan dan melahirkan akan menyebabkan ibu berpeluang besar untuk mengalami gangguan kesehatan.

Pada penelitian ini tidak ditemukan ibu Balita yang berpendidikan Diploma dan Sarjana. Distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan secara umum adalah SLTP sebanyak 34 responden (37,8%) hanya 26 orang ibu Balita (28,9%) yang berpendidikan SLTA, serta jumlah terkecil berpendidikan tidak tamat SD sebanyak 3 orang (3,3%), seperti tertera pada gambar 2. Lebih dari setengah

responden telah menempuh program pendidikan dasar sembilan tahun. Pendidikan merupakan suatu hal yang penting yang dapat mempengaruhi pola pikir seseorang, termasuk di dalamnya informasi tentang gizi dan makanan serta variasi pemilihan jenis makanan. Menurut Notoadmodjo, 2005, pemberian pengetahuan dapat dilakukan guru melalui pengajaran di sekolah baik tingkat SD hingga Perguruan Tinggi mengenai makanan yang baik bagi tubuh. Di balik pemberian pengetahuan ini juga dimaksud agar anak didik menyampaikan pengetahuan tersebut pada lingkungannya, memperaktekkannya dengan cara memberikan makanan yang baik sesuai kebutuhan tubuh. Seorang ibu yang berpendidikan tinggi akan lebih mudah menyerap berbagai informasi dan menerima berbagai intervensi seperti intervensi-intervensi kesehatan (Nainggolan dkk, 2007).

5.1.3 Pekerjaan

Menurut Barthos, 2004, bekerja adalah melakukan kegiatan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan selama paling sedikit satu jam dalam satu minggu yang lalu. Elastisitas pendapatan menunjukkan perubahan jumlah pangan yang diminta disebabkan oleh perubahan pendapatan. Keadaan ekonomi keluarga relatif mudah diukur dan berpengaruh besar pada konsumsi. Menurut Depkes, 2005, Keadaan gizi tergantung dari tingkat konsumsi yaitu kualitas hidangan yang mengandung semua kebutuhan tubuh. Akibat dari kesehatan gizi yang tidak baik, maka timbul penyakit gizi. Ketergantungan ibu dan keluarga terhadap penghasilan kepala keluarga untuk pemenuhan kebutuhan keluarga

mayoritas responden tidak bekerja yaitu sebanyak 86 responden (95,56%), hanya 3 responden (3,33%) yang bekerja dengan jenis pekerjaan sebagai petani.

Pemenuhan kebutuhan sehari-hari bagi keluarga akan terasa lebih berat dengan kepala keluarga yang hanya bekerja sebagai petani dan nelayan. Kemiskinan, pendidikan dan pengetahuan yang rendah tentang gizi inilah yang menjadi akar permasalahan dari ketidak mampuan rumah tangga petani dan nelayan untuk menyediakan pangan dalam jumlah, mutu, dan ragam yang sesuai dengan kebutuhan setiap individu, untuk memenuhi asupan karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral yang bermanfaat bagi pertumbuhan, kesehatan, dan daya tahan jasmani maupun rohani (Baliwati dkk, 2004).

Menurut Baliwati, dkk, (2004), meningkatnya pendapatan berarti memperbesar peluang untuk membeli pangan dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik. Sebaliknya, penurunan pendapatan akan menyebabkan penurunan dalam hal kualitas dan kuantitas pangan yang dibeli.

5.1.4. Pengetahuan

Menurut Mudanijah (2004), Konsumsi pangan anak tergantung pada sikap dan pengetahuan ibu terhadap pangan. Tujuan pemberian makan pada anak adalah untuk memenuhi kebutuhan zat gizi yang cukup dalam kelangsungan hidupnya, pemulihan kesehatan sesudah sakit, untuk aktifitas, pertumbuhan dan perkembangan. Dengan memberi makan, maka anak juga dididik agar dapat menerima, menyukai, memilih makanan yang baik serta menentukan jumlah yang cukup dan bermutu. Permasalahan pada anak usia 9-49 bulan pada penelitian ini adalah bahwa pada usia

ini seorang anak masih merupakan golongan konsumen pasif yaitu belum dapat mengambil dan memilih makanan. Mereka juga sukar diberi pengertian tentang makanan disamping kemampuan menerima berbagai jenis makanan masih terbatas sehingga pada usia ini anak amat rentan terhadap berbagai penyakit infeksi dan kurang gizi sehingga dibutuhkan pengetahuan ibu tentang cara pemberian makanan yang baik bagi Balitanya sesuai dengan kebutuhan anak.

Keberhasilan penanggulangan Balita gizi kurang akan lebih baik apabila didukung pengetahuan ibu yang baik tentang gizi buruk dan upaya penanggulangannya, karena anak Balita masih sangat tergantung pada pola asuh keluarga. Berdasarkan jawaban ibu Balita pada kuesioner tentang gizi buruk dan penanggulangan masalah gizi di tingkat keluarga hanya 1% yang mengetahuinya dengan baik dan 92% ibu balita lainnya tidak mengetahui tanda-tanda balita gizi buruk dan upaya penanggulangganya di tingkat keluarga.

Rendahnya pengetahuan ini disebabkan karena rata-rata responden masih memiliki pendidikan yang rendah. Pendidikan gizi sulit berhasil bila tidak disertai peningkatan pengetahuan mengenai sikap dan kepercayaan terhadap makanan. Pendidikan merupakan suatu hal yang penting yang dapat mempengaruhi pola pikir seseorang, termasuk di dalamnya informasi tentang gizi dan makanan serta variasi pemilihan jenis makanan. Pengetahuan gizi seseorang akan berdampak dalam memilih dan mengolah pangan sehari-hari. Seorang ibu yang berpendidikan tinggi akan lebih mudah menyerap berbagai informasi dan menerima berbagai intervensi

5.1.5. Sikap

Berdasarkan jawaban ibu Balita tentang sikapnya mengenai gizi buruk dan upaya penanggulangganya di tingkat keluarga, tidak ada ibu balita yang memiliki sikap yang tidak baik dan sebanyak 86 orang ibu balita (95,6%) memiliki sikap yang baik dan 4 orang ibu balita (4,4%) mempunyai sikap cukup setelah mendapat penyuluhan terjadi peningkatan sikap ibu dan semuanya menjadi baik. Hasil ini sesuai dengan penelitian Suparyono (2008), tentang pengaruh penyuluhan posyandu terhadap pengetahuan dan sikap ibu balita di Desa Purwoharjo menyimpulkan bahwa pemberian penyuluhan posyandu pada ibu balita mampu meningkatkan pengetahuan dan sikap terhadap posyandu.

Hasil ini juga sama dengan penelitian Agnes Widyani Palupi (2011) tentang pengaruh penyuluhan imunisasi terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap ibu tentang imunisasi dasar lengkap pada bayi usia 1 tahun menyimpulkan bahwa ada pengaruh penyuluhan imunisasi terhadap peningkatan sikap ibu tentang imunisasi dasar lengkap menjadi lebih baik.

5.2. Karakteristik Balita

Dokumen terkait