BAB V PEMBAHASAN
5.4 Pengaruh Motivasi Terhadap Kinerja Bidan Desa
Salah satu faktor yang menentukan kinerja seseorang maupun lingkungannya adalah motivasi. Besar atau kecilnya pengaruh motivasi pada kinerja seseorang tergantung pada seberapa banyak intensitas motivasi yang diberikan. Perbedaan motivasi kerja bagi seorang petugas biasanya tercermin dalam berbagai kegiatan dan bahkan prestasi yang dicapai. Motivasi juga merupakan dorongan dari dalam diri dan luar diri seseorang unruk melakukan sesuatu yang terlihat dari dimensi internal dan eksternal (Hamzah, 2008).
Berdasarkan hasil analisis jawaban responden pada variabel motivasi, masih terdapat beberapa responden yang menjawab pernyataan tidak pada pertanyaan “Saya mempunyai keinginan yang kuat untuk mengatasi tantangan yang timbul dalam pelaksanaan imunisasi”. Responden tidak mempunyai keinginan yang kuat untuk mengatasi tantangan yang timbul dalam pelaksanaan imunisasi, responden mengakui bahwa apabila ada imbalan dari atasan mereka akan sangat menyemangati pekerjaan mereka dan akan mempunyai
keinginan yang besar untuk mengatasi tantangan yang timbul namun pada kenyataannya imbalan itu tidak ada yang membuat semangat mereka menurun untuk mengatasi masalah tersebut.
Berdasarkan hasil wawancara didapatkan bahwa responden merasa bangga bila dapat melakukan pelayanan imunisasi kepada masyarakat dengan baik, mereka sangat senang apabila pelayanan imunisasi berjalan sesuai dengan harapan mereka, alasan lain responden akan merasa bersemangat apabila pihak atasan maupun rekan kerja memuji hasil kerjaan mereka. Mereka juga mengatakan bahwa dukungan dari pihak atasan, rekan kerja maupun masyarakat dapat meningkatkan motivasi mereka dalam melaksanakan tugas.
Mereka mengatakan bahwa keberhasilan program imunisasi sangat membutuhkan dukungan dari seluruh pihak , tetapi kurang terjalinnya kerjasama dengan kader, tokoh masyarakat dan tokoh agama membuat mereka kurang bersemangat dalam bekerja hal ini karena kurangnya kemampuan berinteraksi di lingkungan sekitar.
Dalam hal mengharapkan dukungan dan penghargaan dari segi materi dan kenaikan pangkat, masing-masing bidan desa melakukan pekerjaannya lebih baik lagi agar mencapai target imunisasi. Pada dasarnya mereka mau melaksanakan pekerjaannya namun dukungan yang diperoleh dari atasan belum sesuai harapan.
Bidan desa yang berumur >28 tahun lebih berpengalaman dan mereka menyemangati pekerjaannya karena bagi mereka program imunisasi harus tercapai, ditambah lagi dengan dukungan dari rekan kerja lainnya.
Motivasi bidan desa di wilayah kerja Puskesmas Siabu masih dalam kategori kurang baik. Dari hasil uji regresi linear berganda, terbukti bahwa variabel motivasi mempunyai pengaruh karena nilai p 0,002 lebih kecil dari nilai sig (0,05), yang artinya semakin kurang motivasi responden maka semakin kurang pula kinerja bidan desa tersebut, dan begitu juga sebaliknya semakin baik motivasi responden semakin baik pula kinerjanya.
Hasil penelitian Murdani (2011) di Kecamatan Jeunieb Kabupaten Bireun membuktikan bahwa dari hasil multivariat motivasi memiliki pengaruh terhadap kinerja bidan desa dengan taraf sig (0,019), dengan 50% responden memiliki motivasi buruk terhadap kinerjanya.
Sejalan dengan penelitian Hadi (2012) di Kabupaten Selatan mengatakan bahwa variabel motivasi memiliki pengaruh terhadap kinerja bidan desa dalam pelaksanaan dengan taraf signifikan (0,000) dengan kategori kurang (68,6%).
Dalam hal motivasi upaya responden mengunjungi rumah-rumah penduduk untuk pelaksanaan program imunisasi masih, dan dalam hal tanggung jawab responden sebagai pelaksana imunisasi dalam kategori kurang.
Hasil penelitian Rosmainun (2015) di Pijorkoling kota Padangsidimpuan membuktikan bahwa variabel motivasi memiliki pengaruh terhadap kinerja bidan desa, didapatkan bahwa motivasi bidan tidak baik sebesar 56,9%.
5.5 Variabel Yang Tidak Berpengaruh Terhadap Kinerja
Faktor karakteristik individu yang tidak memengaruhi adalah umur, ppendidikan, tempat tinggal, pelatihan, pengetahuan, persepsi dan sikap.
5.5.1 Umur
Berdasarkan hasil dilapangan bahwa bidan yang berumur 20-28 tahun lebih banyak, mereka menyukai pekerjaan mereka akan tetapi pengalaman yang mereka miliki tidak banyak dalam hal bekerja.
Variabel karakteristik bidan desa antara lain umur berdasarkan hasil uji regresi linear berganda nilai p variabel umur sebesar 0,074 > dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa umur tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja bidan desa, dengan demikian variabel tersebut tidak berpengaruh terhadap kinerja bidan desa.
Hasil penelitian ini sejalan dengan Harahap (2010) di Kecamatan Barumun Tengah Kabupaten Tapanuli Selatan menyebutkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara umur terhadap kinerja bidan desa. Selaras juga dengan Baihaqi (2016) di Kabupaten Bireun yang mengatakan bahwa variabel umur tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja bidan desa.
Namun hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian di Hadi (2012) Kabupaten Tapanuli Selatan yang mengatakan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara umur terhadap kinerja bidan desa dalam pelaksanaan program imunisasi.
5.5.2 Pendidikan
Berdasarkan hasil dilapangan yang dilakukan, menurut penanggungjawab imunisasi pendidikan bidan desa tidak menjadi tolak ukur tercapainya cakupan imunisasi, sebab menurutnya kebanyakan bidan desa belajar dari lapangan, ilmu tentang imunisasi yang didapatkan di jenjang pendidikan tinggi itu sama saja dan
balik lagi bagaimana bidan desa mengapresiasikannya di lapangan dan dari pengalamanlah bidan desa belajar.
Variabel karakteristik bidan desa yang berupa pendidikan berdasarkan hasil uji regresi linear berganda nilai p 0,478 > dari 0.05. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja bidan desa. Bidan desa di wilayah kerja Puskesmas Siabu sebagian besar adalah bidan desa tamatan D.III.
Sejalan oleh Murdani (2011) di Kecamatan Jeunieb Kabupaten Bireun yang menyatakan bahwa pendidikan tidak berpengaruh terhadap kinerja bidan desa. Namun berbeda dengan penelitian Hadi (2012) di Kabupaten Tapanuli Selatan yang mengatakan bahwa ada pengaruh antara pendidikan terhadap kinerja bidan desa dalam pelaksanaan program imunisasi.
5.5.3 Tempat Tinggal
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa mayoritas bidan desa tinggal dirumah sendiri. Bidan desa yang tinggal dirumah sendiri maupun rumah sewa menyatakan bahwa jarak dari rumah ke puskesmas tidak menjadi alasan mereka untuk melaksanakan kerjaannya dengan tepat waktu. Hasil pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa tempat tinggal bidan desa sesuai dengan wilayah kerjanya walaupun jarak dari wilayah kerjanya ke Puskesmas tidak dekat.
Variabel karakteristik bidan desa yang berupa tempat tinggal berdasarkan hasil uji regresi berganda diperoleh nilai p 0,939 > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa tempat tinggal tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja bidan desa.
Sejalan penelitian Harahap (2010) di Kecamatan Barumun Tengah Kabupaten Tapanuli Selatan yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh antara tempat tinggal dengan kinerja bidan desa. Namun hal ini tidak sejalan dengan Irawati (2016) di Kecamatan Balbul Makmur Kabupaten Aceh Tenggara yang menyatakan bahwa adanya pengaruh yang signifikan antara tempat tinggal terhadap kinerja bidan desa.
5.5.4 Pelatihan
Dari hasil dilapangan yang dilakukan didapatkan bahwa Bidan desa mengakui pelatihan yang dilakukan belum terlaksana secara berkala. Bidan desa juga mengakui bahwa mereka bekerja salama ini hanya berdasarkan pengalaman yang mereka tempuh dilapangan dan yang mereka dapat selama pendidikan formal di institusi tempat mereka ditamatkan.
Variabel karakteristik individu bidan desa yang berupa pelatihan berdasarkan hasil uji regresi linear berganda nilai p 0,405 > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap kinerja bidan desa, dengan demikian variabel pelatihan tidak memengaruhi kinerja bidan desa.
Hal ini sama dengan penelitian Harahap (2010) di Kecamatan Barumun Tengah Kabupaten Tapanuli Selatan yang membuktikan bahwa pelatihan tidak memengaruhi kinerja bidan desa. Namun berbeda dengan Santi (2012) di Kabupaten Tuban dan Irawati (2016) di Kecamatan Balbul Makmur Kabupaten Aceh Tenggara yang menyimpulkan bahwa pelatihan mempunyai pengaruh terhadap kinerja bidan desa.
5.5.5 Pengetahuan
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh pengetahuan bidan desa tentang imunisasi masih dalam kategori kurang, dimana masih banyak bidan desa yang belum memahami persiapan mereka sebagai pelaksana imunisasi. Persiapan petugas imunisasi dalam pelaksanaan yaitu penyuluhan lewat media, tetapi kebanyakan dari bidan desa yang menjawab bahwa persiapan mereka adalah lokasi penelitian. Mereka juga belum memahami secara benar kejadian ikutan pasca imunisasi. Dapat disimpulkan bahwa mereka tidak memahami dengan teliti apa yang dipertanyakan sehingga banyak jawaban yang tidak sesuai.
Variabel karakteristik individu bidan desa yang berupa pengetahuan berdasarkan hasil uji regresi linear berganda nilai p 0,405 > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja bidan desa, dengan demikian variabel pengetahuan tidak memengaruhi kinerja bidan desa.
Hasil penelitian ini sejalan dengan Purba (2010) di Kabupaten Tapanuli Tengah yang menyatakan bahwa pengetahuan tidak memiliki pengaruh terhadap kinerja bidan desa.
5.5.6 Persepsi
Dari hasil pengamatan yang dilakukan didapatkan bahwa masih banyak bidan desa yang tidak nyaman dengan lingkungan pekerjaannya, ada yang mengatakan bahwa dikarenakan mereka belum lama bekerja jadi belum terlalu mengenal lebih dekat dengan masyarakat ataupun rekan kerja sekitar, ada juga yang mengatakan bahwa mereka kurang nyaman karena adanya perlakuan yang
berbeda yang dilakukan atasan maupun rekan kerjanya. Mereka juga mengakui bahwa jarangnya diskusi yang dilakukan dengan kader membuat kerjasama mereka berkurang. dan kurangnya komunikasi dengan masayarakat yang menyebabkan mereka kesulitan ketika berinteraksi.
Variabel karakteristik bidan desa antara lain persepsi berdasarkan hasil uji regresi linear berganda nilai p variabel persepsi sebesar 0,499 > dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja bidan desa, dengan demikian variabel tersebut tidak berpengaruh terhadap kinerja bidan desa.
Sejalan dengan Baihaqi (2016) di Kabupaten Bireun yang menyimpulkan bahwa persepsi tidak memengaruhi kinerja bidan desa dalam pelaksanaan program imunisasi. Namun berbeda dengan Rosmainun (2015) di Pijorkoling Kota Padangsidimpuan yang mengatakan bahwa persepsi memengaruhi kinerja bidan desa.
5.5.7 Sikap
Dari hasil yang dilakukan dilapangan didapatkan bahwa bidan desa dapat melayani seluruh masyarakat yang berkunjung untuk imunisasi karena bantuan kader, mereka mengatakan apabila mereka tidak dapat melayani seluruh masyarakat yang berkunjung untuk imunisasi itu dikarenakan tidak adanya peran kader yang mengakibatkan terkadang mereka memilih sendiri orang-orang yang mau melakukan imunisasi. Diketahui dari penanggung jawab imunisasi bahwa masih banyak bidan desa yang lalai dalam bekerja, mereka mengakui bahwa mereka sering telat untuk melaporkan hasil imunisasi. Dan juga bidan desa
mengakui bahwa mereka jarang melayani keluhan orangtua bayi/balita dikarenakan pekerjaan mereka yang banyak dan mereka tidak mempunyai waktu yang banyak akan hal itu.
Variabel karakteristik individu bidan desa yang berupa sikap berdasarkan hasil uji regresi linear berganda nilai p 0,094 > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa sikap tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja bidan desa, dengan demikian variabel pelatihan tidak memengaruhi kinerja bidan desa.
Selaras dengan penelitian Purba (2010) di Kabupaten Tapanuli Tengah yang menyimpulkan bahwa variabel sikap tidak memiliki pengaruh yang terhadap kinerja bidan desa. Dan juga Baihaqi (2016) di Kabupaten Bireun yang menyimpulkan bahwa sikap tidak memengaruhi kinerja bidan desa dalam pelaksanaan program imunisasi.
Namun hal ini berbeda dengan Hadi (2012) di Kabupaten Tapanuli Selatan yang menyatakan bahwa sikap memiliki pengaruh terhadap kinerja bidan desa.
Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian yang telah dipaparkan pada bagian terdahulu, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Variabel umur, pendidikan, pelatihan, pengetahuan, tempat tinggal, sikap dan persepsi tidak memengaruhi kinerja bidan desa dalam pencapaian cakupan imunisasi di Wilayah Kerja Puskesmas Siabu Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2017.
2. Variabel lama kerja, kemampuan dan motivasi memiliki pengaruh terhadap kinerja bidan desa dalam pencapaian cakupan imunisasi di Wilayah Kerja Puskesmas Siabu Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2017, artinya semakin baik kemampuan dan motivasi yang dimiliki oleh bidan desa, maka semakin baik pula kinerja bidan desa tersebut dalam menjalankan tugasnya.
6.3 Saran
Dari hasil penelitian yang telah diuraikan diatas, dalam rangka meningkatkan pencapaian cakupan imunisasi dasar lengkap di wilayah kerja Puskesmas Siabu Kabupaten Mandailing natal, maka saran-saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut :
1. Dinas Kesehatan
Diharapkan kepada Dinas Kesehatan diharapkan memberikan pelatihan kepada bidan desa yang bekerja sebagai pelaksana imunisasi mengenai penyuluhan kepada masyarakat dan untuk meningkatkan kemampuan mereka dibidang imunisasi.
2. Puskesmas
Diharapkan kepada pihak Puskesmas setempat untuk tetap membina dan memberikan KIE (Komuniaksi Informasi dan Edukasi) pada bidan desa yang telah lama bekerja dan tetap memberdayakan mereka.
3. Diharapkan kepada bidan desa khususnya sebagai pelaksana imunisasi agar meningkatkan kemampuannya untuk melakukan pendekatan kepada masyarakat dan untuk meningkatkan motivasinya bidan desa perlu menyadari tanggung jawabnya sebagai pelaksana imunisasi agar kegiatan program mencapai cakupan yang telah ditargetkan.
4. Diharapkan bagi peneliti selanjutnya dapat menambah variabel lain dan dengan menggunakan desain penelitian lain terkait tentang kinerja bidan desa dalam pelaksanaan program imunisasi.
Baihaqi. 2016. Determinan Kinerja Petugas dalam Pencapaian Cakupan Imunisasi pada Dinas Kesehatan Kabupaten Bireun Tahun 2015.
Tesis. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Universitas Sumatera Utara.
Dharma S. 2005. Manajemen Kinerja. Pustaka Belajar, Jakarta.
Departemen Kesehatan R,I. 2006. Pedoman Supervisi Suportif Program Imunisasi. Jakarta : Direktorat PPM&PL
. 2007. Standart Pelayanan Kebidanan. Jakarta.
. 2009. Imunisasi Dasar bagi Pelaksana Imunisasi / Bidan. Jakarta.
Dinkes Kabupaten Mandailing Natal. 2016. Profil Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2015. Mandailing Natal.
Dinkes Provinsi Sumatera Utara. 2017. Profil Kesehatan Sumatera Utara Tahun 2016. Medan.
Gibson, James L Jhon M Ivancevich J.H Donelly, 1996. Perilaku-Struktur-Proses, Jilid I Edisi Kedelapan, Adiami N (Alih Bahasa). Bina Rupa Aksara, Jakarta.
Gibson, J.L., Jhon, M.I., dan James H.D. 2008. Organisasi dan Manajemen : Perilaku, Struktur, dan Proses. Terjemahan Djarkasih. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Gomes. 2003. Management Prentice Hail Inc. Texas : New Jersey.
Hadi H. 2012. Pengaruh Karakteristik Individu, Organisasi dan Psikologis terhadap Kinerja Bidan di Desa dalam Pelaksanaan Program Imunisasi di Kabupaten Tapanuli Selatan. Tesis. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Universitas Sumatera Utara.
Hamzah B,U. 2008. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta : Bumi Aksara.
Harahap, S,C,A. 2010. Pengaruh Karakteristik Individu, Faktor Organisasi dan Faktor Psikologis Terhadap KInerja Bidan Desa di Kecamatan barumun Tengah Kabupaten Tapanuli Selatan Tahun 2008. Tesis.
Ilmu Kesehatan Masyarakat. Universitas Sumatera Utara.
Aceh Tenggara. Tesis. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Universitas Sumatera Utara.
Kementrian Kesehatan R.I, 2014. Infodatin Situasi Bidan di Indonesia. Jakarta.
. 2016. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2015. Jakarta.
. 2017. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2016. Jakarta.
Keputusan Menteri Kesehatan R.I, Nomor 369/MENKES/SK/III/2007 Tentang Standar Profesi Bidan. Jakarta.
Makmuri M. 2004. Perilaku Organisasi. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Mangkunegara A.P. 2014. Evaluasi Kinerja Sumber Daya Manusia. Bandung : Refika Aditama.
Mukhlis. 2006. Hubungan Faktor-Faktor Individu Dan Organisasi Dengan Kinerja Petugas Vaksinasi Di Kabupaten Aceh Timur. Jurnal Universitas Gadjah Mada. 4(7) : 13-25.
Murdani. 2011. Pengaruh Karakteristik Individu dan Motivasi Terhadap Kinerja Bidan Desa di Kecamatan Jeunieb Kabupaten Bireun. Tesis.
Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat. Universitas Sumatera Utara.
Ngadarodjatun., Razak A., Haerani S., 2013. Determinan Kinerja Petugas Imunisasi di Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Jurnal AKK.
2(2) : 42-47.
Notoadmodjo. 2003. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku.
Jakarta : Rineka Cipta.
. 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
. 2012. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi. Jakarta.
Purba R. 2010. Pengaruh Karakteristik dan Peran Bidan Desa Terhadap Kinerja Dalam Memberikan Pelayanan Kebidanan di Kabupaten Tapanuli Tengah. Tesis. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Universitas Sumatera Utara.
Rakhmat J. 2004. Psikologi Komunikasi. Bandung : Rosdakarya.
Rivai V. 2007. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Edisi ke 2. Jakarta : Rajagrafindo Persada.
Rivai, D. 2011. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Edisi ke 3. Jakarta : Grafindo Persada
Rosmainun. 2015. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Bidan dalam Pemberian Imunisasi Hepatitis B pada Bayi Baru Lahir di Wilayah Kerja Puskesmas Pijorkoling Kota Padangsidimpuan Tahun 2014. Tesis.
Ilmu Kesehatan Masyarakat USU.
Santi, D.R. 2012. Analisis Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kinerja Bidan Desa Dalam Penerapan Manajemen Tatalaksana BBLR Saat Lahir di Kabupaten Tuban. Master Thesis, Universitas Diponegoro.Semarang.
Sasrtrohadiwiryo, S. 2002. Manajemen Tenaga Kerja Indonesia. Bumi Aksara, Jakarta.
Sedarmayanti. 2011. Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja. Jakarta:
PT. Mandar Maju.
Siagian S, 2006. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bumi aksara. Jakarta.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Wibowo. 2014. Perilaku Dalam Organisasi. Jakarta: PT. Grafindo Persada.
MANDAILING NATAL TAHUN 2017 Tanggal Penelitian :
No Responden :
Nama Responden :
A. Karakteristik Individu Responden
1. Umur Responden : tahun
2. Pendidikan Responden : a. Bidan D.I b. Bidan D.III c. Bidan D.IV 3. Tempat Tinggal : a. Rumah Dinas
b. Rumah Sendiri c. Rumah Sewa
4. Lama Kerja : a. ≥ 6 thn
b. 4 - 6 thn c. 1 - 3 thn
a. Khusus pertanyaan pengetahuan pilihlah salah satu jawaban yang paling sesuai dengan pendapat saudara.
b. Berikan tanda checklist (√) pada jawaban yang anda pilih
b. Pemberian obat kepada bayi atau anak agar menjadi sehat
c. Pemberian suatu zat kepada bayi atau anak untuk peningkatan gizi 2. Menurut saudara apa tujuan dari imunisasi?
a. Sebagai pencegahan terhadap penyakit b. sebagai penambah nafsu makan anak
c. Sebagai pengobatan terhadap penyakit menular
3. Menurut Saudara, apa arti Universal Child Immunization/UCI?
a. Cakupan imunisasi dasar lengkap merata pada bayi di 100%
desa/kelurahan
b. Presentase 80% bayi yang mendapat imunisasi di puskesmas
c. Cakupan imunisasi dasar lengkap merata pada bayi 100% di kabupaten/kota
4. Yang termasuk PD3I yaitu?
a. Demam kuning
b. Radang selaput paru-paru c. Rabies
5. Persiapan petugas imunisasi dalam pelaksanaan imunisasi yaitu?
a. Penyuluhan lewat media b. Lokasi pelayanan imunisasi c. Menghitung kebutuhan logistik
b. BCG c. Polio
7. Penyakit Polio salah satu penyakit infeksi yang dapat menyebabkan?
a. Kelumpuhan kaki b. Kejang – kejang c. Epilepsi
8. Menurut Saudara, apa arti KIPI?
a. Kejadian ikutan pra imunisasi yang merupakan kejadian medin dan dapat menyebabkan kematian yang disebabkan imunisasi.
b. Kejadian ikutan pasca imunisasi yang meruapakan suatu kejadian medic dan kematian terjadi setelah menerima imunisasi yang diduga disebabkan oleh imunisasi.
c. Kejadian ikutan pas imunisasi yang merupakan kejadian medic dan termasuk reaksi samping imunisasi, apabila dibiarkan dapat menyebabkan kematian.
9. KIPI pada Imunisasi DPT adalah
a. Lokal kemerahan, bangkak,demam ringan, nyeri pada lokasi injeksi, gelisah dan menangis
b. Lokal kemerahan, gejala pusing, bengkak, nyeri otot, demam dan diare ringan
a. Inventarisasi sasaran
b. Pemberian pelayanan imunisasi c. Koordinasi
11. Menurut Saudara, apa efek samping dari imunisasi BCG?
a. Ada berupa luka yang akan menimbulkan bekas ditempat suntikan b. Bayi akan demam karena pengaruh vaksin
c. Bayi akan rewel
imunisasi kepada bayi/balita secara baik dan
14 Apakah saudara pernah mendapatkan keluhan dari orang tua Bayi/Balita mengenai pemberian imunisasi?
15 Apakah saudara melakukan tindak lanjut terhadap sasaran yang tidak dating saat imunisasi?
16 Apakah menurut Saudara semua ibu yang memiliki balita datang untuk mengimunisasikan bayinya setelah Saudara memberikan informasi tentang imunisasi?
7. PELATIHAN
17 Saya pernah mendapatkan pelatihan tentang imunisasi, agar dapat mengenali kapan waktu yang tidak baik buat bayi/balita di dimunisasi 18 Saya pernah mengikuti seminar tentang program
imunisasi agar mampu mencapai target Renstra imunisasi
19 Sebaiknya saya hanya menangani pelayanan imunisasi saja, tidak perlu mengikuti pelatihan-pelatihan
20 Pelatihan-pelatihan yang pernah saya ikuti sangat bermanfaat untuk pelaksanaan tugas kerja di lapangan
21 Jarang mengikuti pelatihan dikarenakan harus siap siaga di desa 24 jam
8. PERSEPSI
22 Apakah saudara nyaman dengan lingkungan pekerjaan anda selama ini?
23 Apakah saudara mengalami kendala ketika berinteraksi dengan masyarakat di lingkungan pekerjaan
24 Apakah saudara puas atas kegiatan pelaksanaan pekerjan yang saudara lakukan dalam memberikan pelayanan imunisasi?
9. SIKAP
27 Apakah Saudara dapat melayani seluruh masyarakat yang berkunjung untuk melakukan imunisasi?
28 Apakah dalam melakukan pekerjaan saudara memilih/menentukan sendiri orang-orang yang mau melakukan imunisasi?
29 Apakah anda mempunyai keinginan yang kuat upaya pemenuhan target imunisasi pada wilayah kerja saudara?
30 Apakah saudara tidak melayani apabila mendapat respon yang kurang menyenangkan dari orangtua bayi/balita?
31 Apakah penjelesan Saudara tentang imunisasi di pahami dengan baik oleh semua orangtua bayi/balita?
10. MOTIVASI
32 Saya berupaya memberi pelayanan imunisasi secara maksimal dan penuh tanggung jawab 33 Bagi saya keberhasilan program imunisasi
adalah hal yang utama
34 Saya mempunyai keinginan yang kuat untuk mengatasi tantangan yang timbul dalam pelaksanaan imunisasi
35 Saya merasa bangga bila dapat memberikan pelayanan imunisasi kepada masyarakat dengan baik
36 Tugas-tugas yang saya hadapi, membuat saya tidak bersemangat lagi
kadang 1 Apakah saudara rutin melakukan penyuluhan
tentang pentingnya imunisasi kepada ibu-ibu yang mempunyai bayi?
2 Apakah Saudara selalu menginformasikan atau memberitahu jadwal imunisasi kepada masyarakat beberapa hari sebelum jadwal imunisasi?
3 Apakah Saudara menyusun program kerja terlebih dahulu sebelum melaksanakan tugas sebagai pelaksana imunisasi?
3 Apakah Saudara selalu melakukan persiapan lebih dahulu setiap kali ada jadwal pelayanan imunisasi?
4 Apakah Saudara selalu melakukan inventarisasi sasaran setiap kali ada jadwal pelayanan imunisasi?
5 Apakah Saudara selalu melakukan koordinasi tentang vaksin yang dipersiapkan sesuai SOP yang ada setiap kali ada jadwal pelayanan imunisasi?
6 Apakah Saudara selalu memeriksa peralatan rantai vaksin yang akan digunakan sesuai SOP dalam program imunisasi?
7 Apakah Saudara selalu mempersiapkan Auto Disable Syringe (ADS) sesuai kebutuhan setiap kali ada jadwal pelayanan imunisasi?
8 Apakah Saudara selalu membawa vaksin untuk pelayanan imunisasi ke tempat pelayanan imunisasi menggunakan vaccine carrier?
9 Apakah Saudara selalu melakukan pendataan wilayah kegiatan untuk mendukung pemberian imunisasi tepat sasaran sesuai dengan SOP pelayanan imunisasi?
10 Apakah Saudara selalu melakukan kegiatan dan menyusun laporan serta melakukan koordinasi dengan koordinator imunisasi
10 Apakah Saudara selalu melakukan kegiatan dan menyusun laporan serta melakukan koordinasi dengan koordinator imunisasi