• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN

B. Karakteristik Informan

Informan penelitian ini diambil berdasarkan pertimbangan tertentu yang ditetapkan oleh peneliti, sumber data dianggap paling tahu tentang apa yang diharapkan sehingga mempermudah peneliti menjelajahi obyek atau situasi sosial yang sedang diteiti. Informan tersebut sebagai berikut:

56

 Informan Utama

Informan utama yang di wawancara dalam penelitian ini adalah yang bertanggung jawab atas pelaksanaan risk assessment di Proyek Cibis Tower 9 yaitu Sekertaris K3LMP dan staf K3LMP.

 Informan Pendukung

Informan pendukung yang di wawancara dalam penelitian ini adalah safety koordinator, kepala proyek dan pekerja terkait.

Dalam penelitian ini peneliti didampingi oleh seseorang yang ahli dalam obyek yang diteliti guna memperkuat hasil penelitian pada saat dilapangan. Peneliti didampingi oleh orang yang berpengalaman di bidang K3 dan tersertifikasi manajemen risiko. Pada saat mewawancarai informan peneliti didampingi oleh seorang safety leader di salah satu perusahaan konstruksi swasta di Indonesia.

Tabel 5. 1 Karakteristik Informan

No. Kategori

Informan Informan Jabatan

1. Informan Utama PRA1 Sekertaris K3LMP

PRA2 Staf K3LMP

PRA3 Staf K3LMP

2. Informan

Pendukung

PRA4 Kepala Proyek

PRA5 Safety Koordinator

PRA6 Pekerja Besi

PRA7 Pekerja Kayu

C. Gambaran Pelaksanaan Risk Assessment pada Proyek Cibis Tower 9 Jakarta Selatan PT Waskita Karya Tahun 2015

Penilaian risiko merupakan salah satu bagian dari manajemen risiko. Manajemen risiko merupakan bagian dari sistem manajemen PT Waskita Karya yang dirancang untuk mengantisipasi dan pengendalian risiko potensial (PT Waskita Karya, 2013). Dalam prosedur penilaian risiko dengan nomor dokumen PW-K3LMP-01 memiliki detail pelaksanaan prosedur penilaian risiko harus mencakup identifikasi bahaya dan aspek lingkungan, penilaian dan pengendalian risiko serta persetujuan, pemantauan dan update penilaian risiko.

a. Tujuan Risk Assessment

Tujuan PT Waskita Karya (persero) membuat prosedur terkait penilaian risiko adalah guna memastikan bahwa seluruh proses penilaian risiko yang mencakup Keselamatan Kesehatan Kerja, Lingkungan, Mutu dan Pengamanan (K3LMP) ditetapkan, diterapkan dan dirawat.

Proyek Cibis Tower 9 membuat penilaian risiko yang dimulai dari HIRADC (Hazard Identification, Risk Assessment and Determining Control) dan IADL (Identifikasi Aspek Dampak Lingkungan) dan penyusunan program Kesehatan, Keselamatan Kerja dan lingkungan bertujuan dapat memenuhi peraturan hukum seperti Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor:05/PRT/M/2014 tentang pedoman SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum dan peraturan-peraturan lainnya yang berlaku di Indonesia khususnya serta di International umumnya untuk menjamin tidak terjadinya gangguan kesehatan, kecelakaan kerja dan

58

penurunan kualitas lingkungan di proyek seperti OHSAS 18001: 2007 tentang sistem manajemen K3.

Dalam RK3LMP Proyek Cibis Tower 9 PT Waskita Karya (Persero) menyebutkan bahwa tujuan risk assessment adalah untuk memastikan bahwa semua potensi bahaya teridentifikasi, dinilai risiko yang meliputi:

- Identifikasi Bahaya

Memperkirakan suatu aktifitas yang dilakukan terhadap sesuatu yang memiliki potensi bahaya yang dapat menyebabkan cidera, sakit atau kerusakan konstruksi / properti yang terkandung dalam suatu obyek atau aktifitas.

- Penilaian Risiko

Proses pembobotan yang dilakukan untuk mengklasifikasikan potensi-potensi bahaya ke dalam kategori tinggi, menengah atau rendah dengan menggunakan parameter atau skor.

- Pengendalian Risiko

Suatu upaya untuk meminimalkan atau menghilangkan celaka atau sakit atau kerusakan terhadap properti perusahaan dalam suatu proses kegiatan.

b. Tahapan Pelaksanaan Risk Assessment

Prosedur risk assessment secara tertulis tidak tercantum alur tahapan penerapan penilaian risiko akan tetapi berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber diketahui bahwa alur tahapan penerapan prosedur risk assessment dapat digambarkan sebagai berikut:

Bagan 5. 2 Alur Proses Risk Assessment K3LMP

Pada pelaksanaannya berdasarkan hasil studi pendahuluan yakni wawancara dengan narasumber sekertaris K3LMP selaku yang membuat risk assessment K3 mengatakan bahwa pelaksanaan penilaian risiko masih belum sesuai alur. Diketahui dalam alur proses bahwa penerapan risk assessment di proyek dilakukan setelah organisasi membuat metode kerja dan spesifikasi teknis, akan tetapi dalam pelaksanaannya penialaian risiko dilakukan sebelum metode kerja dan spesifikasi dibuat.

Dalam alur proses risk assessment, hasil risk assessment wajib ditanda tangani oleh organisasi, hal ini merupakan salah satu bentuk bahwa hasil penilaian risiko juga telah dikomunikasikan kepada pihak terkait. Namun dalam pelaksanaanya diketahui bahwa pada dokumen

K3LMP

Mempelajari Spesifikasi Teknis, Mengidentifikasi Bahaya & Aspek Lingkungan, Menilai Risiko, Menentukan Pengendalian Risiko, Melakukan

Pemantauan dan Pengukuran

Organisasi Organisasi

Membuat Metode Kerja Menyetujui Hasil Penilaian dan

Spesifikasi Teknis Risiko, Meninjau Hasil

Penilaian Risiko Periodik

Waskita Pusat

Membuat Organisasi Proyek

OWNER

60

Form PW-K3LMP-01-01 hasil penilaian risiko yang dibuat pada bulan oktober tersebut belum disetujui.

Sumber: Dokumen Proyek Cibis Tower 9 Cilandak Gambar 5. 2 Lembar Persetujuan Hasil Risk Assessment

Pada tahapan penilaian risiko hasil penilaian harus disetujui oleh pimpinan/ manajer yang terkait dalam organisasi perusahaan. Hal ini tertera dalam dokumen PW-K3LMP-01:

Sumber: Dokumen Proyek Cibis Tower 9 Cilandak Gambar 5. 3 Prosedur Persetujuan Hasil Penilaian Risiko

Identifikasi bahaya dan aspek lingkungan termasuk dalam prosedur wajib penilaian risiko di PT Waskita Karya (Persero). Dalam prosedur

penilaian risiko untuk melakukan identifikasi bahaya dan aspek lingkungan harus mempertimbangkan antara lain sebagai berikut:

a. Aktifitas rutin dan non rutin

b. Aktifitas seluruh personil yang mempunyai akses tempat kerja c. Perilaku/kebiasaan dan kemampuan adaptasi manusia

d. Bahaya-bahaya yang terjadi disekitar tempat kerja e. Bahaya-bahaya yang timbul dari luar tempat kerja

f. Prasarana, peralatan dan material di tempat kerja, baik milik sendiri maupun milik subkontraktor.

g. Perubahan-perubahan atau usulan perubahan di perusahaan, aktifitas-aktifitasnya atau material

h. Modifikasi sistem manajemen K3, termasuk perubahan semen tara dan dampaknya kepada operasional, proses dan aktifitas. i. Melihat kondisi saat ini, masa lampau dan pekerjaan yang akan

dilakukan.

j. Sumber daya yang akan dipergunakan termasuk sumber daya manusia, energi dan infrastruktur.

k. Kapan pekerjaan akan dikerjakan l. AMDAL/RKL/RPL/UKL/UPL

Dalam mengidentifikasi bahaya, aspek lingkungan menjadi salah satu perhatian dalam prosedur penilaian risiko. AMDAL/RKL/RPL/UKL/UPL merupakan salah satu alternatif untuk meminimalisasi dampak negatif. Berdasarkan hasil telaah dokumen diketahui bahwa dalam pelaksanaan pembangunan proyek Cibis Tower 9

62

tidak terdapat dokumen AMDAL. Tidak adanyanya dokumen AMDAL menjadi salah satu masalah penting dalam penilaian risiko. Berdasarkan hasil studi pendahuluan wawancaara dengan Sekertaris K3LMP mengungkapkan pengajuan AMDAL telah dilakukan akan tetapi belum disetujui oleh pihak terkait, akibatnya proyek Cibis Tower 9 dibangun tanpa adanya izin lingkungan.

D. Penyebab Ketidaktepatan Pelaksanaan Risk Assessment pada Proyek

Dokumen terkait