• Tidak ada hasil yang ditemukan

DESKRIPSI TEORI, KERANGKA BERFIKIR/ASUMSI DASAR PENELITIAN

HASIL PENELITIAN

4. GAMBARAN UMUM DINAS TATA KOTA KOTA SERANG Berdasarkan Peraturan Pemerintah Daerah Kota Serang Nomor 14

4.2 Deskripsi Data

4.2.2 Analisis DataPenelitian

4.2.2.3 Karakteristik Organisasi Pelaksana

Semakin banyak aktor-aktor dan badan-badan yang terlibat dalam suatu kebijakan tertentu dan saling berkaitan keputusan-keputusan mereka, semakin kecil kemungkinan keberhasilan implementasi. Dengan konteks kebijakan yang akan dilaksanakan pada beberapa kebijakan dituntut pelaksana kebijakan yang ketat dan disiplin juga diperlukannya pelaksana yang demokratis dan persuasive. Hal ini diungkapkan oleh I3 dan I1-2:

“Hambatan yang ditemukan sepertinya kurang sarana dan prasarana penunjang untuk kebutuhan lapangan, selain itu juga faktor cuaca dan kesadaran masyarakat yang kurang peduli terhadap lingkungan sekitar” (Wawancara oleh Bpk Sigit Julian selaku Kasi DTK Kota Serang pada tanggal 25 November 2015, jam 11:17 WIB di Dinas Tata Kota – Kota Serang.)

Dari hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa hambatan yang ditemukan selama ini mulai dari sarana dan prasarana sebagai penunjang kebuuhan lapangan, dan juga faktor cuaca serta kesadaran masyarakat untuk ikut peduli menjaga lingkungan sekitar. Hal yang sama juga di ungkapkan oleh I1-2:

“Hambatan yang sering kami temukan di lapangan pertama kurangnya armada siram, kedua kurangnya SDM untuk orang-orang lapangan, dan yang ketiga kurang dana karena sarana dan prasarana kami belum

cukup dan masih kurang”. (Wawancara oleh Bpk. M. Fajri selaku Prasarana Pertamanan dan Pemakaman Kota Serang, Pada tanggal 17 November 2015, jam 12:50 WIB di Kantor Bidang Pertamanan dan Pemakaman Kota Serang)

Dari hasil wawancara dapat diketahui bahwa hambatan yang sering ditemukan Bidang Pertamanan Kota Serang di lapangan seperti kurangnya armada siram, kurangnya SDM untuk orang-orang lapangan dan dana dalam emenuhi semua sarana dan prasarana penunjang. Hambatan yang ada tidak hanya dari Sumber daya maupun sumber dana hal ini diungkapkan oleh I2-1 :

“….. sejauh ini yang kita tahu kebijakan yang sedah dikeluarkan dan juga disahkan, kami usahakan semaksimal mungkin untuk menjalankannya, akan tetapi balik lagi kepada si pengguna dalam kasus ini penguna fasilitas adalah masyarakat. Apakah mereka selama ini ikut terus serta menjaga dan memelihara fasilitas yang sudah disediakan oleh pemerintah? sebelumnya di alun-alun Timur ada beberapa permainan tradisional seperti bakiak dan juga enggrang namun sekarang rusak dan hilang entah kemana”. (Wawancara oleh Bpk Amirul Mukminin pada tanggal 19 November 2015, jam 13:49 WIB di Kantor Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kota Serang)

Dari hasil wawancara tersebut dapat kita ketahui bahwa terdapat juga permainan tradisional yang disediakan pemerintah untuk alun-alun Timur Kota Serang untuk sarana permainan namun keberadaan permainan tersebut tidak jelas, sebagian rusak dan hilang. Menurut informan I2-1 masyarakat belum bisa ikut serta dalam menjaga dan merawat sarana dan prasarana umum. Hal yang sama juga di ungkapkan oleh I1-1:

Respon untuk kebijakan ini bagus, dari pihak kami sendiri pun kebijakan yang dibuat sejalan dengan tugas kami. Jadi tugas kami sesuai dengan tujuan Perda” (Wawancara oleh Bpk. Abdul Khodir selaku Kasi Pertamanan dan Pemakaman Kota Serang, Pada tanggal 8 Oktober 2015, jam 11:35 WIB di Kantor Bidang Pertamanan dan Pemakaman Kota Serang)

Dari hasil wawancara peneliti dapat diketahui bahwa respon dari Perda K-3 ini sudah cukup bagus, dan kebijakan Perda K-3 sesuai dengan tugas dari Bidang Pertamanan. Hal ini juga disampaikan oleh I2-2:

“Peraturan yang telah dibuat dan ditetapkan, sudah kami laksanakan dengan sebaik mungkin, Perda K-3 ini juga suda ditetapkan mulai dari tahun 2011. Kami juga sudah berusaha untuk melakukannya dengan sebaik mungkin”. (Wawancara oleh Bpk Sumardi selaku Sarana dan Prasarana Olahraga Dispora Kota Serang pada tanggal 11 Desember 2015 jam 11:49 WIB di Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kota Serang)

Dari hasil wawancara tersebut dapat kita ketahui bahwa peraturan yang telah dibuat dan ditetapkan diaksanakan dengan sebaik mungkin oleh Dispora, karena Perda K-3 ini sudah ditetapkan dari tahun 2011 dan Disopra sudah berusaha untuk melakukan sebaik mungkin. Hal ini juga di tanggapi oleh I3:

“Isi perda harus dipahami agar para pelaksana mangetahui tugas dari masing-masing pihak, supaya tidak ada ketimpangan tupoksi dan tanggung jawab” (Wawancara oleh Bpk Sigit Julian selaku Kasi DTK Kota Serang pada tanggal 25 November 2015, jam 11:17 WIB di Dinas Tata Kota – Kota Serang.)

Dari hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa isi Perda harus dipahami agak pelakasana mengetahui tugas dari

masing-masing pihak, supaya tidak terjadi ketimpangan tupoksi dan tanggung jawab. Hal yang sama juga diungkapkan oleh pengunjung alun-alun Timur Kota Serang I6-3 :

“Saya datang ke alun-alun untuk rekreasi, menurut saya alun-alun ini kurang pemeliharaan dan perawatan. Dilihat dari kolam-kolam ini saja sayang sekali tidak terawat dan menjadi tempat sarang nyamuk seperti ini, sehingga tidak enak dilihat saat siang hari. Barusan saja saya melihat anak kecil yang jatuh karena ayunan tiba-tiba miring, sangat berbahaya sekali jika dibiarkan terus seperti itu” (Wawancara oleh Jaka Putra tanggal 11 November 2015, jam 18.00 WIB di Alun-alun Timur Kota Serang)

Dari hasil wawancara pengunjung alun-alun oleh Jaka Putra mengatakan bahwa alun-alun Timur Kota Serang kurang pemeliharaan dan perawatan. Dilihat dari kolam yang kotor dan menjadi sarang nyamuk yang tidak pernah dibersihkan dan juga ayunan yang sudah tidak layak pakai dan sangat berbahaya. Berikut adalah gambaran salah satu fasilitas alat bermain di alun-alun Timur Kota Serang yang kondisinya tidak lagi layak di gunakan.

Gambar 4.4

Gambar diatas diambil oleh peneliti pada saat berada di Alun-alun Timur Kota Serang. Salah satu fasilitas alat bermain ayunan anak-anak ini kondisinya sangat memperihatinkan dan tidak layak lagi digunakan, karena anak-anak kecil yang bermain dengan permainan tersebut sering terjatuh akibat ayunan yang miring dan katrol ayunan yang sudah berkarat. Hal ini juga diungkapkan oleh pengunjung lainnya I6-1 :

“Saya datang kesini untuk rekreasi, sebenarnya alun-alun ini sudah cukup komplit ada trek jogging, fasilitas olahraga, rekreasi dan taman bermain. Disini masyarakat tertarik untuk datang pada pagi hari, sore dan malam, tapi penerangannya sangat kurang. Didekat kolam sama sekali tidak ada pencahayaan jika malam hari sehingga digunakan untuk tempat pacaran, sedangkan banyak anak-anak kecil juga datang kesini sehingga menjadi contoh yang tidak baik.” (Wawancara oleh Azzam M.D tanggal 11 November 2015 jam 18.38 WIB di Alun-alun Timur Kota Serang)

Dari hasil wawancara pengunjung oleh Azzam M.D mengatakan bahwa Alun-alun Tiur Kota Serang ini sudah lengkap ada track jogging, fasilitas olahraga dan juga rekreasi taman bermain. Masyarakat banyak berkunjung ke alun-alun pada saat pagi, sore dan juga malam hari. Namun pada saat malam hari pencahayaan disekitar kolam sangatlah kurang, dan hal tersebut dimanfaatkan oleh anak-anak muda dengan kegiatan negative seperti pacaran. Hal ini menjadi contoh yang sangat buruk jika dilihat oleh anak-anak kecil yang dating kesana.

Pembuatan alun-alun Timur Kota Serang melibatkan beberapa dinas. Awalnya alun-alun ini dibuat untuk memenuhi sarana public saja sebagai taman rekreasi, namun Walikota Kota Serang mengusulkan untuk menambahkan beberapa sarana dan prasarana juga RTH didalamnya. Hal ini di ungkapkan oleh I3 :

“Karena fungsi alun-alun Timur KotaSerang seagai RTH dan Olahraga, untuk RTH sendiri tentu belum cukup di Kota Serang keberadaannya hanya di beberapa tempat seperti Ciceri dan alun-alun Timur saja. Pemerintah harus menyediakan hutan kota. Dan untuk sarana olahraga seharusnya setiap kecamatan mempunyi sarana dan prasarana olahraga umum untuk masyarakatnya karena perasarana olahraga yang ada di alun-alun juga terbatas”.(Wawancara oleh Bpk Sigit Julian selaku Kasi DTK Kota Serang pada tanggal 25 November 2015, jam 11:17 WIB di Dinas Tata Kota – Kota Serang.)

Dari hasil wawancara tersebut peneliti dapat menganalisi bahwa para pelaksana mempunyai harapan yang sama dalam menanggapi dan meyelesaikan masalah K-3 yang ada, baik di Kota Serang mupun alun-alun Timur Kota Serang ini. Dapat dilihat dari sarana dan prasarana yang disediakan oleh para pelaksana dan juga keterlibatan mereka dalam mengawasi dan mengontrol fsilitas yang tersedia. Berikut adalah ketentuan (Ruang Terbuka Hijau) RTH Kota Serang, yang ada dalam Perda No.6 Tahun 2011 Tetang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Serang Tahun 2010-2030 Bagian Kedua Mengenai Kebijakan pada poin o yang menyebutkan bahwa :

Tabel 4.8

Perda Kota Serang No.6 Tahun 2011 Tetang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Serang Tahun 2010-2030 m. pengelolaan dan penataan ruang untuk sektor

informal;

n. penyediaan ruang dan jalur evakuasi bencana; penyediaan pedestrian di pusat kota;

o. penetapan RTH sebesar 30% (tiga puluh persen) dari luas wilayah Kota Serang;dan

p. peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan Negara.

Sumber : Perda Kota Serang No.6 Tahun 2011

Dari gambaran RTH Kota Serang dapat diketahui bahwa 30% dari wilayah kota Serang merupakan penetapan Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Hal ini juga diungkapkan oleh I1-2 :

“Menurut saya dinas yang terkait dalam kebijakan ini sudah tepat, semua dengan porsinya masing-masing. Sesuai dengan karakter dan kemampuannya masing-masing dibidangnya. Tinggal bagaimana disesuaikan saja kerjasama yang dapat memajukan kebijakan ini…”. (Wawancara oleh Bpk. M. Fajri selaku Prasarana Pertamanan dan Pemakaman Kota Serang, Pada tanggal 17 November 2015, jam 12:50 WIB di Kantor Bidang Pertamanan dan Pemakaman Kota Serang)

Dari hasil wawancara dapat dilihat bahwa karakter dan ciri dari para agen pelaksana yang terilbat sudah sesuai dengan kebijakan yang berlaku. Semua agen pelaksana mempunyai tanggung jawab dan keahlian dibidangnya masing-masing dalam menangani dan melaksanakan perda K-3 ini. Hal yang sama juga diungkapkan oleh I4 :

“ Saya rasa semuanya juga bersikap yang sama dalam menanggapi kebijakan ini, saya rasa tidak etis untuk menilai apakah karakter mereka sudah tepat dalam keterlibatan perda K-3 ini. Namun sejauh yang saya ketahui dan sudah hampir lima tahun Perda ini berjalan pelaksana yang terlibat sudah cukup sesuai dengan Perda K-3 terlebih lagi yang brada di alun-alun Kota Serang”. (Wawancara oleh Bpk Wasid selaku Kasi Operasional dan Angkutan Kebersihan Kota Serang pada tanggal 26 November 2015 jam 10:45 WIB di Kantor Bidang Kebersihan Kota Serang – DTK Kota Serang)

Dari hasil wawancara tersebut diketahui bahwa dalam pelaksanaan K-3 ini agen pelaksana yang terlibat sudah sesuai dengan pencapaian Perda. Dimulai dari pembuatan perda K-3 sudah lima tahun berjalan dan para agen pelaksana yang terlibat memenuhi kriteria untuk ikut mensukseskan dan menjadi bagian dari pelaksana Perda ini. Hal yang sama juga dikatakan oleh I3:

“Menurut saya pelaksana kebijakan yang terlibat sudah cukup sesuai dengan apa yang igin dicapai dari perda ini. hanya saja masih kurang dalam pemisahan tupoksinya antara agen pelaksana”. (Wawancara oleh Bpk Sigit Julian selaku Kasi DTK Kota Serang pada tanggal 25 November 2015, jam 11:17 WIB di Dinas Tata Kota – Kota Serang.)

Dari hasil wawancara tersebut diketahui bahwa pelaksana yang terlibat sudah cukup sesuai dengan keinginan yang ingin dicapai dari perda K-3 ini. Hanya saja kejelasan tupoksi dari masing-masing pelaksana masih kurang tegas.

Berdasarkan analisis hasil wawancara dapat diketahui bahwa para agen pelaksana yang terlibat dalam Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 10 Tahun 2010 mengenai Ketertiban,

Kebersihan dan Kindahan (K-3) ini sudah cukup tepat dan sesuai dengan karakter serta tujuan dari Peraturan Daerah Kota Serang No.10 Tahun 2010 Tentang Ketertiban, Kebersihan dan juga Keindahan (K-3).

4.2.2.4Komunikasi

Komunikasi dalam rangka penyampaian informasi kepada para pelaksana kebijakan tentang apa menjadi standar dan tujuan harus konsisten dan seragam dari berbagai sumber informasi. Dengan kejelasan seperti itu, para pelaksana kebijakan dapat ngetahui apa yang diharapkan darinya dan tahu apa yang dilakukan. Hal tersebut juga di sampaikan oleh I2-1 :

“Komunikasi antar pelaksana sejah ini lanncar saja, kami mempunyai rapat lintas sektoral dalam pengelolaan karena sudah jelas, masing-masing dengan tanggung jawabnya. Selama ini tidak ada masalah…”. (Wawancara oleh Bpk Amirul Mukminin pada tanggal 19 November 2015, jam 13:49 WIB di Kantor Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kota Serang)

Dari hasil wawancara ini dapat kita ketahui bahwa komunikasi antar agen pelaksana dalam pelaksanaan K-3 ini tidak ada masalah dan lancar. Hal yang sama juga di ungkapkan oleh I3 :

“Untuk komunikasi antar pelaksana kita tidak ada masalah, namun kalau kooordinasi rutin sejauh ini belum, kami hanya rapat koordinasi jika ada masalah. Dan tiap tahun kita memang selalu ada rapat yang dipimpin langsung oleh Bapak Walikota..” (Wawancara oleh Bpk Sigit Julian selaku Kasi DTK Kota Serang pada tanggal 25 November 2015, jam 11:17 WIB di Dinas Tata Kota – Kota Serang.)

Dari hasil wawancara tersebut dapat kita ketahui bahwa komunikasi antara agen pelaksana sejauh ini lancar dan dengan kordinasi yang baik. Namun untuk rapat rutin koordinasi bersama pelaksana untuk Perda K-3 belum ada. Hanya ada rapat koordinasi dengan Bapak Walikota Kota Serang saja.

Dalam analisis implementasi Perda No 10 tahun 2010 Tentang (K-3) ini komunikasi terbagi menjadi dua yaitu komunikasi internal dan juga komunikasi internal :

1) Komunikasi Internal

Komuniaksi Internal merupakan komunikasi yang terjalin dalam lingkungan kantor atau organisasi. Komunikasi ini bisa terjadi antara karyawan dengan karyawan, karyawan dengan atasan dan atasan dengan atasan. Komunikasi yang terjalin oleh para pelakasana implementasi perda K-3 ini di ungkapkan oleh I4 :

“Untuk komunikasi antar karyawan lancar karena selama ini tugas yang diberikan dapat di selesaikan dengan baik dan sesuai dengan harapan, sedangkan untuk komunikasi antar bawahan dan juga atasan ada sedikit masalah pengertian, karena kebanyakan pekerja kita dsini adalah Pekerja Harian Lepas (PHL) yang pendidikannya minim sehingga sedikit susah untuk memberikan penjelasan dengan bahasa yang formal, untuk komunikasi antara atasannya juga sudah cukup baik karena sama-sama saling mengetahui, kendalanya komunikasi kami dengan diatas kami yang sedikit susah”. (Wawancara oleh Bpk Wasid selaku Kasi Operasional dan Angkutan Kebersihan Kota Serang pada tanggal 26 November 2015 jam 10:45 WIB di Kantor

Bidang Kebersihan Kota Serang – DTK Kota Serang)

Dari hasil wawancara diatas dapat kita ketahui bahwa komunikasi internal dari Dinas Kebersihan sudah cukup baik dan terkordinasi dengan baik. Hambatan yang ditemui karena sebagian pekerja dari Dinas Kebersihan adalah Pekerja Harian Lepas (PHL) yang berpendidikan minim sehingga penyampaian secara formal sulit untuk diterima oleh para PHL tersebut. Kemudian komunikasi antar atasan dengan atasan juga sudah cukup baik, kendala yang ditemukan yaitu komunikasi antara atasan dengan atasannya yang dalam hal ini adalah pemerintah daerah. Hal ini juga di tanggapi oleh I7:

“Untuk tim pembersih di alun-alun ini di bagi jadi dua, yang untuk di dalam alun-alun Timur ini ada 3 orang. Sisanya di luar alun-alun sekitaran pinggir jalan alun-alun hingga alun-alun Barat ada 5 orang”.(Wawancara oleh Hasan (Tim Penyapu/Pembersih Bidang Kebersihan Kota Serang), pada tanggal 02 Februari 2016, jam 13:38 WIB di Alun-alun Timur Kota Serang)

Dari wawancara diatas dapat diketahui bahwa Tim Pebersih/Tim Sapu Bidang Kebersihan Kota Serang membagi anggotanya menjadi tim pembersih untuk didalam alun dan ada tim pembersih untuk sekitaran jalan alun-alun Timur hingga alun-alun-alun-alun Barat. Hal yang sama juga diungkapkan oleh I5 :

“Komunikasi kami selama ini baik-baik saja karena sudah saling mengetahui dan mengerti tugasnya masing-masing baik itu bawahan dan juga atasan. Kami berkomunikasi dengan baik dan juga lancar tidak terlalu bersekat antara bawahan dan juga atasan…” (Wawancara oleh Bpk Bambang Gartika Toyib selaku Kabid Penegakan Satpol-PP Kota Serang pada tanggal 27 November 2015 jam 10:53 WIB di Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Kota Serang)

Dari hasil wawancara tersebut dapat kita ketahui bahwa komunikasi sudah berjalan dengan baik diantara atasan juga bawahan dari segi komunikasi internal.

2) Komunikasi Eksternal

Komunikasi eksternal adalah komunikasi yang berlangsung antara organisasi atau perusahaan dengan pihak masyarakat atau public yang diluar organisasi atau perusahaan tersebut. Dalam hal ini adalah komunikasi antara agen pelaksana dengan masyarakat dengan sosialisasi. Hal ini di ungkapkan oleh I5 :

“Sebenarnya tidak hanya tidakan saja namun juga sosilaisasi juga sangat penting untuk diberikan sebagai informasi dan pengetahuan bagi masyarakat. Walaupun para dinas sudah melakukakan yang terbaik dalam pelaksanaan dan juga tindakannya, namun jika sebelumnya tidak disosialisasikan terlebih dahulu hasilnya akan nihil. Tidak ada bantuan dari masyarakat sehingga hal ini menjadi pekerjaan sepihak saja, sedangkan ini untuk kepentingan bersama. Sejauh ini saya kurang dan belum mengetahui kalau ada salah satu pelaksana yang sudah mensosialisakian perda mengenai K-3 ini ke masyarkat bahkan dari pihak kami sendiri mengingat kami hanya sebagai penindak saja dan biasanya sejenis baliho atau

papan pengumuman sudah disediakan dari pihak lain”. (Wawancara oleh Bpk Bambang Gartika Toyib selaku Kabid Penegakan Satpol-PP Kota Serang pada tanggal 27 November 2015 jam 10:53 WIB di Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Kota Serang)

Dari hasil wawancara diatas dapat dilihat bahwa para agen pelaksana yang terlibat sejauh ini belum ada yang mengeluarkan himbauan atau pemberitahuan umum mengenai K-3 untuk masyarakat. Tanpa sosialisasi pelaksanaan kebijakan apapun tidak akan berhasil karena ada pihak yang tidak tahu mengenai kebijakan tesebut. Melihat kebijakan atau peraturan daerah ini dikeluarkan untuk tujuan dan menyangkut kepentingan orang banyak. Hal yang sama juga di ungkapkan oleh I4 :

“Untuk sosilisasi secara umum sepertinya sudah, sedangkan sepengetahuan kami sudah mensosiliasasikan perda K-3 ini ke tiap-tiap kelurahan, karena Kota Serang ini memiliki 66 Kelurahan di 6 Kecamatan maka penyuluhan atau sosialisasi mengenai K-3 ini dilakuakan di 10 Kecamatan seetiap tahunnya secara berkala hingga merata…”. (Wawancara oleh Bpk Wasid selaku Kasi Operasional dan Angkutan Kebersihan Kota Serang pada tanggal 26 November 2015 jam 10:45 WIB di Kantor Bidang Kebersihan Kota Serang – DTK Kota Serang)

Hal yang sama juga di ungkapkan oleh I2-2: “Sosialisasi selama ini kita sudah lakukan di tiap-tiap Kecamatan yang ada di Kota Serang. Kita lakukan secara berkala dan merata. Kalau untuk sosialisasi secara umum ditempat umum sepertinya belum ada, tetapi mungkin ada yang

sudah memasang balihonya di tempat-tempat strategis. Kalau sosialisasi media kita focus terhadap fasilitas yang ada di alun-alun. Karena sosialisasi melalui kecamatan sudah cukup untuk memeberitahukannya kepada masyarakat karena pendekatannya lebih aktif …” (Wawancara oleh Bpk Sumardi selaku Sarana dan Prasarana Olahraga Dispora Kota Serang pada tanggal 11 Desember 2015 jam 11:49 WIB di Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kota Serang)

Dari hasil wawancara diatas dapat kita lihat bahwa sejauh ini sosialisasi mengenai perda K-3 sudah dilakukan di tiap-tiap Kecamatan yang ada di Kota Serang. Dengan 66 Kelurahan di 6 Kecamatan sosialisasi dilakukan dengan 10 kelurahan terlebih dahulu secara berkala dan merata hingga selesai. Namun untuk sosliasasi media seperti baliho, papan pengumuman atau selembaran belum ada agen pelaksana yang melakukannya. Hal ini juga diungkapkan oleh I1-2:

“Sosialisasi secara media sepertinya belum, tidak ada papan petunjuk atau larangan yang ada di alun-alun Timur Kota Serang, balik lagi kepada masyarakat untuk tetap menjaga keberrsihan dan ikut merawat fasilitas yang tersedia. Tanpa himbauan pun saya rasa masyarakat juga sudah mengetahuinya” (Wawancara oleh Bpk. M. Fajri selaku Prasarana Pertamanan dan Pemakaman Kota Serang, Pada tanggal 17 November 2015, jam 12:50 WIB di Kantor Bidang Pertamanan dan Pemakaman Kota Serang)

Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa sosialisasi secara media seperti papan petunjuk atau papan larangan belum dilakukan oleh para pelaksana. Kesadaran masyarakat sangat diperlukan ketika kekurangan dalam

implementasi kebijakan terjadi, untuk ikut menjaga dan juga merawat fasilitas yang tersedia tanpa adanya himbauan.

Hal yang sama diungkapkan oleh I6-2 :

“Saya datang kesini untuk jogging, alun-alun ini sebenarnya sudah cukup bagus akan tetapi kurang papan-papan petunjuk dan larangan saja, sedangkan untuk fasilitas yang sudah bertahun-tahun dibiarkan begitu saja yaitu kolam ini, yang penuh dengan lumut dan juga sampah. Dan saya baru mengetahui tentang K-3 ini setelah di jelaskan oleh anda…” (wawancara oleh Ayatullah Humaini tanggal 11 November 2015 jam 18.38 WIB di Alun-alun Timur Kota Serang)

Dari hasil wawancara pengunjung alun-alun Timur Kota Serang yang bernama Ayatullah Humaini yang datang dengan tujuan untuk olahraga di alun-alun Timur Kota Serang, menurutnya fasilitas yang ada tidak terawat salah satunya yaitu kolam yang ada di tengah alun-alun Timur Kota Serang yang penuh dengan sampah dan berlumut. Dan baru mengetahui tentang Perda K-3 setelah dijelaskan oleh peneliti. Berikut adalah gambaran keadaan kolam yang ada di alun-alun Timur Kota Serang.

Dokumen terkait