• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Pedagang Pengecer Gula Merah

BAB IV DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN

4.4 Karakteristik Pedagang Pengecer

4.4.2 Karakteristik Pedagang Pengecer Gula Merah

Pedagang pengecer dalam penelitian ini adalah pedagang yang menjual gula merah langsung ke konsumen akhir. Adapun karakteristik pedagang pengecer dalam penelitian ini adalah umur dan lama berdagang.

4.4.2.1 Karakteristik Pedagang Pengecer Gula Merah Pada Petani I Tabel 4.21. Karakteristik Pedagang Pengecer Gula Merah Pada Petani I

No Karakteristik (Tahun) Range Rataan

1. Umur 33-45 38

2. Lama Berdagang 4-8 6

Sumber: Lampiran 23 (Diolah), 2018

Dari Tabel 4.21 diatas dilihat bahwa rata-rata umur pedagang pengecer adalah 38 tahun dan lama berdagang rata-rata 6 tahun. Pendidikan rata-rata pedagang pengecer adalah SMA, hal ini menunjukkan bahwa pedagang pengecer memiliki pengetahuan yang baik untuk berdagang.

4.4.2.1 Karakteristik Pedagang Pengecer Gula Merah Pada Petani II Tabel 4.22. Karakteristik Pedagang Pengecer Gula Merah Pada Petani II

No Karakteristik (Tahun) Range Rataan

1. Umur 20-36 27

2. Lama Berdagang 2-8 4

Sumber: Lampiran 24 (Diolah), 2018

Dari Tabel 4.22 diatas dilihat bahwa rata-rata umur pedagang pengecer adalah 27 tahun dan lama berdagang rata-rata 4 tahun. Pendidikan rata-rata pedagang pengecer adalah SMA, hal ini menunjukkan bahwa pedagang pengecer memiliki umur yang produktif.

41

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Analisis Usahatani Tuak

5.1.1 Analisis Biaya Usaha Tuak di Desa Buluh Awar 5.1.1.1 Biaya Tetap

a) Biaya PBB (Pajak Bumi Bangunan)

Besarnya biaya PBB dalam usaha tuak selama periode produksi (1 Tahun) rata-rata sebesar Rp 93.700 per tahun. Untuk lebih jelasnya mengenai biaya pajak bumi bangunan dapat dilihat pada Tabel 5.1.

Tabel 5.1. Biaya PBB (Pajak Bumi Bangunan) pada Usaha Tuak Selama Periode Produksi (1 Tahun) di Desa Buluh Awar

No. Sampel Luas lahan (Ha) Biaya PBB (Rp/Tahun)

1 0,5 50,000.00

Sumber: Lampiran 7 (Diolah), 2018

b) Biaya Alat Perlengkapan

Besarnya biaya alat perlengkapan dalam usaha tuak selama periode produksi (1 tahun) rata-rata sebesar Rp 134.420,43 per usaha per tahun. Untuk lebih jelasnya mengenai biaya alat dan perlengkapan dapat dilihat pada Tabel 5.2.

Tabel 5.2. Biaya Penyusutan Alat Perlengkapan pada Usaha Tuak Selama Periode Produksi (1 Tahun) di Desa Buluh Awar

No.

Sumber: Lampiran 6 (Diolah), 2018

Tabel 5.2 memperlihatkan persentase yang terbesar dari penggunaan alat perlengkapan pada usaha pengolahan tuak adalah biaya alat perlengkapan jerigen besar yaitu sebesar 34,09 % dan terendah adalah biaya alat perlengkapan balbal yaitu sebesar 2,23 % dari keseluruhan biaya alat.

43

Dari uraian-uraian biaya tersebut diatas, maka rata-rata biaya tetap pada usaha pengolahan tuak selama periode produksi (1 tahun) di Desa Buluh Awar sebesar Rp 228.120,83 per usaha per tahun. Untuk lebih jelasnya mengenai biaya tetap ini dapat dilihat pada Tabel 26.

Tabel 5.3. Rata-Rata Biaya Tetap per Pertani pada Usaha Pengolahan Tuak Selama Periode Produksi (1 Tahun) di Desa Buluh Awar No. Uraian Biaya Biaya Rata-rata (Rp) Persentase (%)

1 Biaya PBB 93.700,00 41,07

2 Biaya Alat Perlengkapan 134.420,83 58,93

Total 228.120,83 100,00

Sumber: Lampiran 6,7 (Diolah), 2018

Tabel 5.3 memperlihatkan persentase yang terbesar dari komponen biaya tetap pada usaha tuak adalah biaya alat perlengkapan yaitu sebesar 58,93 % dan sisanya 41,07 % adalah biaya PBB.

5.1.1.2 Biaya Variabel

Biaya variabel terdiri dari biaya bahan pendukung dan tenaga kerja.

Besarnya biaya bahan pendukung dan tenaga kerja dalam usaha pengolahan tuak selama periode produksi (1 tahun) yaitu sebagai berikut:

A. Biaya Bahan Pendukung

Dalam pembuatan Tuak di Desa Buluh Awar bahan pendukung yang diperlukan adalah raru dan pupuk. Besarnya biaya bahan pendukung dalam usaha

pengolahan tuak selama periode produksi (1 tahun) rata-rata sebesar Rp 1.342.500,00 per usaha per tahun. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat

pada tabel berikut ini:

Tabel 5.4. Rata-Rata Biaya Bahan Pendukung per Petani pada Usaha Tuak Selama Periode Produksi (1 Tahun) di Desa Buluh Awar

No. Jenis Bahan Pendukung Biaya Rata-rata (Rp) Persentase (%) 1 Raru

1.323.000,00 98,55

2 Pupuk 19.500,00 1,45

Total 1.342.500,00 100

Sumber : Lampiran 7 (Diolah), 2018

Tabel 5.4 memperlihatkan persentase yang terbesar dari penggunaan bahan pendukung pada usaha pengolahan tuak adalah biaya raru yaitu sebesar 98,55% dan terendah adalah biaya pupuk yaitu sebesar 1,45% dari keseluruhan biaya bahan baku

B. Biaya Tenaga Kerja

Sumber tenaga kerja dalam penyelenggaraan usaha pengolahan tuak di Desa Buluh Awar seluruhnya menggunakan tenaga kerja dalam keluarga (TKDK). Curahan tenaga kerja dalam keluarga ini meliputi kegiatan persiapan pembukaan lahan, penanaman, pemupukan, pengendalian hama penyakit tanaman, pemanenan dan pengolahan. Dalam menghitung tenaga kerja digunakan hari kerja orang (HKO), dimana dalam 1 hari kerja sebesar 8 jam kerja.

5.1.1.3 Biaya Total (Total Cost)

Biaya total merupakan hasil dari penjumlahan antara biaya tetap dengan biaya variabel. Analisis ini digunakan untuk mengetahui total biaya yang dikeluarkan oleh petani tuak selama periode produksi (1 tahun) di Desa Buluh Awar. Besarnya biaya total yang dikeluarkan oleh petani pada usaha pengolahan

tuak selama periode produksi (1 tahun) di Desa Buluh Awar adalah

45

rata-rata Rp 1.570.620,83 per usaha per tahun. Untuk lebih jelasnya mengenai biaya total pada usaha pengolahan tuak dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.5. Rata-rata Biaya Total per Petani pada Usaha Tuak Selama Periode Produksi (1 Tahun) di Desa Buluh Awar

No. Uraian Biaya Biaya Rata-rata (Rp) Persentase (%)

1 Biaya Tetap 228.120,83 14,52

2 Biaya Variabel 1.342.500,00 85,48

Total 1.570.620,83 100

Sumber: Lampiran 7 (Diolah), 2018

Tabel 5.5 menjelaskan biaya total dari usaha pengolahan tuak selama periode produksi (1 tahun) di Desa Buluh Awar didominasi oleh biaya variabel yaitu sebesar 85,48 % dan sisanya 14,52% adalah biaya tetap.

5.1.2 Analisis Pendapatan

5.1.2.1 Total Penerimaan (Total Return)

Total penerimaan (Total Return) adalah perkalian antara produksi tuak yang diperoleh petani dengan harga jual tuak saat dilakukannya penelitian ini.

Analisis digunakan untuk mengetahui perolehan total penerimaan pada usaha pengolahan tuak selama periode produksi (1 tahun) di Desa Buluh Awar.

Produksi tuak yang diperoleh petani selama periode produksi (1 tahun)

rata-rata sebesar 15.720 ℓ per tahun, dimana harga yang berlaku pada saat penelitian Rp 2.000 per ℓ, maka penerimaan dari hasil pengolahan tuak rata-rata

sebesar Rp 31.440.000 per usahatani per tahun.

Tabel 5.6. Total Rata-rata Penerimaan pada Usaha Tuak Selama Periode Produksi (1 Tahun) di Desa Buluh Awar

No. Sampel Produksi Nira (ℓ) Harga (Rp/ℓ) Penerimaan (Rp)

Total 314,400 40,000 628,800,000

Rataan 15,720 2,000 31,440,000

Sumber: Lampiran 8 (Diolah), 2018 5.1.2.2 Pendapatan

Pendapatan adalah besar pendapatan yang diperoleh petani tuak dari usaha yang dijalankan. Dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 5.7. Total Pendapatan per Petani pada Usaha Tuak Selama Periode Produksi (1 Tahun) di Desa Buluh Awar

No. Uraian Biaya Biaya Rata-rata (Rp)

1 Penerimaan (TR) 31.440.000,00

2 Total Biaya (TC) 1.570.620,83

Total Pendapatan 29.869.379,17

Sumber: Lampiran 8 (Diolah), 2018

47

Pada Tabel 5.7 dapat dilihat bahwa pada usaha pengolahan tuak selama periode produksi (1 tahun) di Desa Buluh Awar rata-rata total penerimaan yang diperoleh petani tuak adalah sebesar Rp 31.440.000,00 per tahun dan rata-rata total biaya yang dikeluarkan oleh pengrajin tuak adalah sebesar Rp 1.570.620,83 per tahun sedangkan rata-rata pendapatan yang diperoleh petani tuak di Desa Buluh Awar adalah sebesar Rp 29.869.379,17 per tahun.

5.1.3 Analisis Kelayakan Tuak

Untuk menilai suatu usaha tuak dalam rangka memperoleh suatu tolak ukur yang mendasar dalam kelayakan investasi telah dikembangkan suatu metode analisis yaitu dengan kriteria investasi agar dapat ditarik beberapa kesimpulan apakah benefit suatu kesempatan dalam berinvestasi. Dengan demikian, kriteria investasi merupakan suatu alat apakah suatu usaha yang dilaksanakan layak atau tidak layak. Analisis kelayakan usaha tuak merupakan hal yang penting untuk dianalisis. Analisis kelayakan usaha yang dijalankan tentunya sangat membantu para petani untuk melanjutkan usahanya.

5.1.3.1 BEP Volume Produksi

BEP merupakan keadaan dimana produksi dalam satu perusahaan tidak ada untung dan tidak ada rugi, impas antara biaya yang dikeluarkan perusahaan dengan pendapatan yang diterima. BEP Volume Produksi dapat diperoleh dengan menggunakan perhitungan dengan membandingkan total biaya dengan harga jual di tingkat petani, yaitu sebagai berikut:

Total Biaya Produksi BEP Volume Produksi =

Tingkat Harga

BEP Volume Produksi =

= 785,31 ℓ

Hasil penelitian menunjukkan bahwa volume produksi yaitu rata-rata sebesar 785,31 ℓ per tahun, dimana produksi lebih besar daripada BEP volume produksi (15.720 > 785,31 ℓ) maka usaha tuak dinyatakan layak untuk

diusahakan.

5.1.3.2 BEP Harga Produksi

Selain BEP Volume Produksi analisis kelayakan usaha tuak juga dapat dianalisis melalui BEP harga produksi. BEP harga produksi dapat diperoleh dengan menggunakan perhitungan dengan membandingkan total biaya dengan total produksi, yaitu sebagai berikut :

BEP Harga Produksi =

BEP Harga Produksi =

= Rp 99.91

Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga produksi yaitu rata-rata sebesar Rp 99.91 dimana harga tuak lebih besar daripada BEP harga produksi (Rp 2.000 > Rp 99,91) maka usaha tuak dinyatakan layak untuk diusahakan.

5.1.3.3 Perhitungan R/C Ratio

R/C Ratio adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui apakah usaha yang dijalankan tersebut layak atau tidak, maka dapat digunakan perhitungan dengan membandingkan total penerimaan dengan total biaya.

Ratio Penerimaan dan Biaya = R/C

49

Dimana :

R = Penerimaan Usahatani (Revenue) (Rp/Ha).

C = Biaya Usahatani (Cost) (Rp/Ha).

Ratio Penerimaan dan Biaya =

= 20,01

Dari hasil pengolahan data pada usaha petani selama periode produksi (1 tahun) di Desa Buluh Awar menunjukkan bahwa nilai R/C Ratio yang diperoleh petani tuak rata-rata 20,01 dimana R/C lebih besar dari 1 (20,01 > 1) berarti usaha tersebut secara ekonomi layak untuk diusahakan, karena setiap pengeluaran investasi Rp 1.000 maka hasil yang diperoleh adalah Rp 20.010.

5.1.3.4 Upah Minimum Provinsi (UMP)

Upah minimum adalah upah bulanan terendah yang terdiri dari upah pokok termasuk tunjangan tetap, dan upah minimum provinsi adalah upah minimum yang berlaku untuk kabupaten/kota di satu provinsi. Upah Minimum Provinsi (UMP) bisa menjadi acuan untuk mengetahui apakah usaha yang dijalankan tersebut layak atau tidak dengan cara membandingkan pendapatan usahatani terhadap UMP tersebut. Dalam surat keputusan Gubernur Sumatera Utara No. 188.44/575/KPTS/2017 tersebut ditetapkan bahwa UMP Sumatera Utara tahun 2018 sebesar Rp. 2.132.188,68.

Jika dikonversikan dalam satu (1 tahun) UMP Sumatera Utara menjadi Rp. 25.586.264,20

Tabel 5.8. Pendapatan Petani dan UMP Sumatera Utara (1 Tahun)

No. Jenis Jumlah (Rp/Tahun)

1. UMP Sumatara Utara Rp. 25.586.264,20 2. Pendapatan Petani Tuak Rp. 29.869.379,17 Sumber: Pemprov Sumut dan Lampiran 8 (Diolah), 2018

Dari hasil tabel di atas menunjukan bahwa pada usaha petani tuak selama

periode produksi (1 tahun) yang mempunyai pendapatan rata-rata sebesar Rp. 29.869.379,17 dimana rata-rata pendapatan tuak lebih besar dari

UMP Sumatera Utara (Rp. 29.869.379,17 > Rp. 25.586.264,20).

Dari hasil analisis BEP Volume Produksi, BEP Harga Produksi, Perhitungan, Upah Minimum Provinsi (UMP), Perhitungan R/C Ration, maka dapat disimpulkan hipotesis 1 yang menyatakan bahwa usahatani aren yang diolah menjadi tuak di Desa Buluh Awar layak diusahakan dapat diterima.

51

5.2 Analisis Usahatani Gula Merah

5.2.1 Analisis Biaya Pengolahan Gula Merah di Desa Buluh Awar 5.2.1.1 Biaya Tetap

a) Biaya PBB (Pajak Bumi Bangunan)

Besarnya biaya PBB dalam usaha pengolahan gula merah selama periode produksi (1 Tahun) rata-rata sebesar Rp 187.857,14 per tahun. Untuk lebih jelasnya mengenai biaya pajak bumi bangunan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.9. Biaya PBB (Pajak Bumi Bangunan) pada Usaha Gula Merah Selama Periode Produksi (1 Tahun) di Desa Buluh Awar

No. Sampel Lahan (Ha) Biaya PBB (Rp/Tahun)

1 1.5 260,000

2 1.2 56,000

3 1 100,000

4 1 150,000

5 0.8 160,000

6 2 524,000

7 0.5 65,000

Total 8 1,315,000

Rataan 1.14 187,857.14

Sumber: Lampiran 19 (Diolah), 2018 b) Biaya Alat Perlengkapan

Besarnya biaya alat perlengkapan dalam usaha pengolahan gula merah selama periode produksi (1 tahun) rata-rata sebesar Rp 838.917,86 per usaha per tahun. Untuk lebih jelasnya mengenai biaya alat dan perlengkapan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.10. Biaya Penyusutan Alat Perlengkapan pada Usaha Gula Merah Selama Periode Produksi (1 Tahun) di Desa Buluh Awar No.

Sumber: Lampiran 18 (Diolah), 2018

Tabel 5.10 memperlihatkan persentase yang terbesar dari penggunaan alat perlengkapan pada usaha pengolahan gula merah adalah biaya alat perlengkapan jerigen besar yaitu sebesar 27,97 % dan terendah adalah biaya alat perlengkapan gayung yaitu sebesar 0,17 % dari keseluruhan biaya alat.

Dari uraian-uraian biaya tersebut di atas, maka rata-rata biaya tetap pada usaha pengolahan gula merah selama periode produksi (1 tahun) di Desa Buluh Awar sebesar Rp 1.026.775 per usaha per tahun. Untuk lebih jelasnya mengenai biaya tetap ini dapat dilihat pada Tabel berikut.

53

Tabel 5.11. Rata-rata Biaya Tetap per Petani pada Usaha Pengolahan Gula Merah Selama Periode Produksi (1 Tahun) di Desa Buluh Awar

No. Uraian Biaya Biaya Rata-rata (Rp) Persentase (%)

1 Biaya PBB 187,857.14 18,30

2 Biaya Alat Perlengkapan 838,917.86 81,70

Total 1.026.775 100,00

Sumber: Lampiran 19 (Diolah), 2018

Tabel 5.11 di atas memperlihatkan persentase yang terbesar dari komponen biaya tetap pada usaha Gula Merah adalah biaya alat perlengkapan yaitu sebesar 81,70 % dan sisanya 18,30 % adalah biaya PBB.

5.2.1.2 Biaya Variabel

Biaya variabel terdiri dari biaya bahan pendukung dan tenaga kerja.

Besarnya biaya bahan pendukung dan tenaga kerja dalam usaha pengolahan Gula Merah selama periode produksi (1 tahun).

A. Biaya Bahan Pendukung

Dalam pembuatan Gula Merah di Desa Buluh Awar bahan pendukung yang diperlukan adalah pupuk, kayu bakar, plastik kemas dan label. Besarnya

biaya bahan pendukung dalam usaha pengolahan nira selama periode produksi (1 tahun) rata-rata sebesar Rp 9,418,928.57 per usaha per tahun. Untuk

lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 5.12. Rata-rata Biaya Bahan Pendukung Per Petani pada Usaha Gula Merah Selama Periode Produksi (1 Tahun) di Desa Buluh Awar No. Jenis Bahan Pendukung Biaya Rata-rata (Rp) Persentase (%)

1 Pupuk 84,642.86 0.90

2 Kayu Bakar 8,871,428.57 94.19

3 Plastik Kemas 231,428.57 2.46

4 Label 231,428.57 2.46

Total 9,418,928.57 100

Sumber: Lampiran 19 (Diolah), 2018

Tabel 5.12 memperlihatkan persentase yang terbesar dari penggunaan bahan pendukung pada usaha pengolahan gula merah adalah biaya kayu bakar yaitu sebesar 94,19 % dan terendah adalah biaya pupuk yaitu sebesar 0,90 % dari keseluruhan biaya bahan baku.

B. Biaya Tenaga Kerja

Sumber tenaga kerja dalam penyelenggaraan usaha pengolahan gula merah di Desa Buluh Awar sebagian menggunakan tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) dan sisanya menggunakan tenaga kerja luar keluarga (TKLK). Curahan tenaga kerja dalam keluarga ini meliputi kegiatan persiapan pembukaan lahan, penanaman, pemupukan, pengendalian hama penyakit tanaman, pemanenan dan pengolaha.n Dalam menghitung tenaga kerja digunakan hari kerja orang (HKO), dimana dalam 1 hari kerja sebesar 8 jam kerja.

Dengan demikian biaya rata-rata tenaga kerja pada usaha pengolahan gula merah selama periode produksi (1tahun) di Desa Buluh Awar disetarakan berdasarkan upah tenaga kerja orang lain rata-rata sebesar Rp. 9.282.857,14 per tahun dengan curahan tenaga kerja sebesar 621,51 HKO. Untuk lebih jelasnya mengenai besarnya biaya tenaga kerja luar keluarga dapat diliat tabel berikut ini:

Tabel 5.13. Rata-rata Biaya TKLK per Petani pada Usaha Gula Merah Selama Periode Produksi (1 Tahun) di Desa Buluh Awar

No. Jenis Kegiatan Tklk Biaya Rata-Rata

(Rp) Persentase (%)

1 Pengendalian HPT 197,142.86 2.12

2 Pemanenan 3,085,714.29 33.24

3 Pengolahan 6,000,000.00 64.64

Total 9,282,857.14 100.00

Sumber: Lampiran 16 (Diolah), 2018

55

Dari uraian biaya variabel yang ada di bawah, maka rata-rata biaya variabel pada usaha pengolahan gula merah selama periode produksi (1 tahun) di Desa Buluh Awar sebesar Rp. 18,701,785.71 per usaha per tahun. Untuk lebih jelasnya mengenai biaya variabel ini dapat dilihat tabel berikut ini:

Tabel 5.14. Rata-rata Biaya Variabel per Petani pada Usaha Gula Merah selama Periode Produksi (1 Tahun) di Desa Buluh Awar

No. Jenis Bahan

Pendukung Biaya Rata-Rata (Rp) Persentase (%)

1 Bahan Pendukung 9,418,928.57 50.36

2 Tenaga Kerja 9,282,857.14 49.64

Total 18,701,785.71 100

Sumber: Lampiran 19 (Diolah), 2018

Tabel 5.14 di atas memperlihatkan persentase yang terbesar dari komponen biaya variabel pada usaha pengolahan gula merah adalah biaya bahan pendukung yaitu sebesar 50,36% dan sisanya 49,64 adalah biaya tenaga kerja.

5.2.1.3 Biaya Total (Total Cost)

Biaya total merupakan hasil dari penjumlahan antara biaya tetap dengan biaya variabel. Analisis ini digunakan untuk mengetahui total biaya yang dikeluarkan oleh petani gula merah selama periode produksi (1 tahun) di Desa Buluh Awar. Besarnya biaya total yang dikeluarkan oleh petani pada usaha pengolahan gula merah selama periode produksi (1 tahun) di Desa Buluh Awar adalah rata-rata Rp 19.728.560,71 per usaha per tahun. Untuk lebih jelasnya mengenai biaya total pada usaha pengolahan nira dapat dilihat pada Tabel 5.15.

Tabel 5.15. Rata-rata Biaya Total per Petani pada Usaha Gula merah selama Periode Produksi (1 Tahun) di Desa Buluh Awar

No. Uraian Biaya Biaya Rata-rata (Rp) Persentase (%)

1 Biaya Tetap 1.026.775 5,20

2 Biaya Variabel 18.701.785,71 94,80

Total 19.728.560,71 100

Sumber: Lampiran 19 (Diolah), 2018

Tabel 5.15 menjelaskan biaya total dari usaha pengolahan gula merah selama periode produksi (1 tahun) di Desa Buluh Awar didominasi oleh biaya variabel yaitu sebesar 94,80 % dan sisanya 5,20% adalah biaya tetap.

5.2.2 Analisis Pendapatan

5.2.2.1 Total Penerimaan (Total Return)

Total penerimaan (Total Return) adalah perkalian antara produksi gula merah yang diperoleh petani dengan harga jual gula merah saat dilakukannya penelitian ini. Analisis digunakan untuk mengetahui perolehan total penerimaan pada usaha pengolahan gula merah selama periode produksi (1 tahun) di Desa Buluh Awar.

Produksi gula merah yang diperoleh petani selama periode produksi (1 tahun) rata-rata sebesar 3.317 kg per tahun, dimana harga rata-rata

didaerah penelitian Rp 22.000 per kg, maka penerimaan dari hasil pengolahan gula merah rata-rata sebesar Rp 74,442,857 per usaha per tahun.

57

Tabel 5.16. Total Rata-rata Penerimaan pada Usaha Gula Merah selama Periode Produksi (1 Tahun) di Desa Buluh Awar

No. Produksi Gula

Merah (kg) Harga (Rp/Kg) Penerimaan (Rp)

1 4,320 20,000 86,400,000.00

Total 23,220 154,000 521,100,000.00

Rataan 3,317 22,000 74,442,857.14

Sumber: Lampiran 20 (Diolah), 2018 5.2.2.2 Pendapatan

Pendapatan adalah besar pendapatan yang diperoleh petani gula merah dari usaha yang dijalankan. Dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 5.17. Total Pendapatan per Petani Pada Usaha Gula Merah Selama Periode Produksi (1Tahun) di Desa Buluh Awar

No. Uraian Biaya Biaya Rata-rata (Rp)

1 Penerimaan (TR) 74,442,857,00

2 Total Biaya (TC) 19.728.560,71

Total Pendapatan 54.714.296,30 Sumber: Lampiran 20 (Diolah), 2018

Pada Tabel 5.17 dapat dilihat bahwa pada usaha pengolahan gula merah selama periode produksi (1 tahun) di Desa Buluh Awar rata-rata total penerimaan yang diperoleh petani nira adalah sebesar Rp 74,442,857,00 per tahun dan rata-rata total biaya yang dikeluarkan oleh petani gula merah adalah sebesar Rp 19.728.560,71 per tahun sedangkan rata-rata pendapatan yang

diperoleh petani gula merah di desa buluh awar adalah sebesar Rp 54.714.296,30 per tahun.

5.2.3 Analisis Kelayakan Gula Merah

Untuk menilai suatu usaha gula merah dalam rangka memperoleh suatu tolak ukur yang mendasar dalam kelayakan investasi telah dikembangkan suatu metode analisis yaitu dengan kriteria investasi agar dapat ditarik beberapa kesimpulan apakah benefit suatu kesempatan dalam berinvestasi. Dengan demikian, kriteria investasi merupakan suatu alat apakah suatu usaha yang dilaksanakan layak atau tidak layak. Analisis kelayakan usaha gula merah merupakan hal yang penting untuk dianalisis. Analisis kelayakan usaha yang dijalankan tentunya sangat membantu para petani untuk melanjutkan usahanya.

5.2.3.1 BEP Volume Produksi

BEP merupakan keadaan dimana produksi dalam satu perusahaan tidak ada untung dan tidak ada rugi, impas antara biaya yang dikeluarkan perusahaan dengan pendapatan yang diterima. BEP Volume Produksi dapat diperoleh dengan menggunakan perhitungan dengan membandingkan total biaya dengan harga jual di tingkat petani, yaitu sebagai berikut :

Total Biaya Produksi BEP Volume Produksi =

Harga Tingkat

BEP Volume Produksi =

= 896,75 kg

Hasil penelitian menunjukkan bahwa volume produksi yaitu rata-rata sebesar 896,75 kg per tahun, dimana produksi lebih besar daripada BEP volume

59

produksi (3,317 > 896,75 kg) maka usaha gula merah dinyatakan layak untuk diusahakan.

5.2.3.2 BEP Harga Produksi

Selain BEP Volume Produksi analisis kelayakan usaha gula merah juga dapat dianalisis melalui BEP harga produksi. BEP harga produksi dapat diperoleh dengan menggunakan perhitungan dengan membandingkan total biaya dengan total produksi, yaitu sebagai berikut :

BEP Harga Produksi =

BEP Harga Produksi =

= Rp 5.947,71

Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga produksi yaitu rata-rata sebesar Rp 5.947,71 dimana harga gula merah lebih besar daripada BEP harga

produksi rata-rata (Rp 22.000 > Rp 5.947,71) maka usaha gula merah dinyatakan layak untuk diusahakan.

5.2.3.3 Perhitungan R/C Ratio

R/C Ratio adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui apakah usaha yang dijalankan tersebut layak atau tidak, maka dapat digunakan perhitungan dengan membandingkan total penerimaan dengan total biaya dengan menggunakan dan juga dapat membandingkan .

Ratio Penerimaan dan Biaya = R/C Dimana :

R = Penerimaan Usahatani (Revenue) (Rp/Ha).

C = Biaya Usahatani (Cost) (Rp/Ha).

Ratio Penerimaan dan Biaya =

= 3,7

Dari hasil pengolahan data pada usaha petani gula merah selama periode produksi (1 tahun) di Desa Buluh Awar menunjukkan bahwa nilai R/C Ratio yang

diperoleh petani gula merah rata-rata 3,77 dimana R/C lebih besar dari 1 (3,77 > 1) berarti usaha tersebut secara ekonomi layak untuk diusahakan,

karena setiap pengeluaran investasi Rp 1.000 maka hasil yang diperoleh adalah Rp 3.770.

5.2.3.4 Upah Minimum Provinsi (UMP)

Upah minimum adalah upah bulanan terendah yang terdiri dari upah pokok termasuk tunjangan tetap, dan upah minimum provinsi adalah upah minimum yang berlaku untuk kabupaten/kota di satu provinsi. Upah Minimum Provinsi (UMP) bisa menjadi acuan untuk mengetahui apakah usaha yang dijalankan tersebut layak atau tidak dengan cara membandingkan pendapatan usahatani terhadap UMP tersebut. Dalam surat keputusan Gubernur Sumatera Utara No. 188.44/575/KPTS/2017 tersebut ditetapkan bahwa UMP Sumatera Utara tahun 2018 sebesar Rp. 2.132.188,68.

Jika dikonversikan dalam satu (1 tahun) UMP Sumatera Utara menjadi Rp. 25.586.264,20

61

Tabel 5.18. Pendapatan Petani dan UMP Sumatera Utara (1 Tahun)

No. Jenis Jumlah (Rp/Tahun)

1. UMP Sumatara Utara Rp. 25.586.264,20

2. Pendapatan Petani Gula Merah Rp. 54.714.296,43 Sumber: Pemprov Sumut dan Lampiran 20 (Diolah)

Dari Tabel 5.18 menunjukan bahwa pada usaha petani gula merah selama

periode produksi (1 tahun) yang mempunyai pendapatan rata-rata sebesar Rp. 54.714.296,43 dimana rata-rata pendapatan gula merah lebih besar

dari UMP Sumatera Utara (Rp. 54.714.296,43 > Rp. 25.586.264,20).

Dari hasil analisis BEP Volume Produksi, BEP Harga Produksi, Perhitungan, Upah Minimum Provinsi (UMP), Perhitungan R/C Ration, maka dapat disimpulkan hipotesis 2 yang menyatakan bahwa usahatani aren yang diolah menjadi gula merah di Desa Buluh Awar layak diusahakan dapat diterima.

5.3 Tataniaga Tuak

5.3.1 Pola Saluran Tataniaga Tuak

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Desa Buluh Awar, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang terdapat satu (1) saluran taaniaga tuak.

Saluran tataniaga yang dapat ditelusuri seperti terlihat pada gambar 2.

Gambar 5.1. Pola Saluran Tataniaga Tuak di Desa Buluh Awar Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang

Saluran tataniaga tuak di atas memperlihatkan bahwa petani tuak di daerah penelitian menjual hasil tuaknya kepada Pedagang Pengumpul. Pedagang

Saluran tataniaga tuak di atas memperlihatkan bahwa petani tuak di daerah penelitian menjual hasil tuaknya kepada Pedagang Pengumpul. Pedagang