• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARAKTERISTIK PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN REMAJA

Dalam dokumen Bahan Ajar Perkembangan Peserta Didik (Halaman 34-38)

BAB III. REMAJA DAN PERKEMBANGANNYA

B. KARAKTERISTIK PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN REMAJA

Istilah remaja sulit didefinikan secara mutlak karena sulitnya membedakan proses psikis pada masa pubertas dan mulainya proses psikis pada adolescene. Oleh karena itu dicoba untuk memahami remaja menurut berbagai sudut pandang, antara lain menurut hukum, pertumbuhan fisik, badan kesehatan dunia (World Health Organization/WHO), sosial psikologis, dan menurut pandangan masyarakat Indonesia.

1. Remaja Menurut Hukum.

Istilah remaja bukan berasal dari bidang hukum, melainkan dari bidang ilmu-ilmu sosial seperti antropologi, sosiologi, psikologi, dan paedagogi. Konsep remaja yang relatif baru, muncul kira-kira setelah era industrialisasi di Eropa, AS, dan negara-negara maju lainnya. Masalah remaja baru menjadi pusat perhatian ilmu-ilmu sosial dalam 100 tahun terakhir ini.

Dalam kaitannya dengan hukum di Indonesia, masalah remaja mulai tersirat dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang menyebut-kan usia perkawinan untuk perempuan 16 tahun, dan untuk laki-laki 19 tahun. Memang tidak secara tegas disebut usia 16 dan 19 tahun itu remaja, namun tentu bukan anak-anak lagi, tetapi juga belum dapat dianggap sebagai dewasa, sehingga masih diperlukan izin orang tua untuk menikahkan mereka. Akan tetapi, usia antara 16 dan 19 sampai 22 tahun ini dalam ilmu-ilmu sosial diseja-

31 jarkan dalam pengertian remaja.

Kemudian, pengertian remaja ini masuk juga dalam ranah hukum tatkala muncul Undang-Undang tentang Pemilihan Umun yang sudah beberapa kali berganti, yaitu orang yang berhak mengikuti Pemilu adalah mereka yang sudah berusia 17 tahun atau sudah menikah. Disebut remaja dengan mengikuti bahasan ilmu-ilmu sosial.

2. Batasan Remaja Menurut WHO.

Pengertian remaja menurut badan kesehatan dunia PBB ini (Muangman, dalam Sarlito, 1991:9) adalah suatu masa pertumbuhan dan perkembangan, yaitu : a. Individu berkembang dari saat pertama kali dia menunjukkan tanda seksual

sekundernya sampai saat mencapai kematangannya;

b. Individu mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari anak-anak menjadi dewasa;

c. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh pada keadaan yang relatif lebih mandiri.

WHO menetapkan usia 19-20 tahun sebagai batasan usia remaja. Hal ini didasarkan pada usia kesuburan (fertilitas) perempuan, tetapi berlaku juga bagi laki-laki. Kurun usia remaja dibagi dua, yaitu 10-14 tahun sebagai remaja awal, dan 15-20 tahun remaja akhir.

3. Remaja Ditinjau dari Pertumbuhan Fisik.

Dalam ilmu-ilmu sosial dan lebih khusus kedokteran, remaja dikenal sebagai suatu tahap pertumbuhan fisik di mana alat-alat kelamin manusia mencapai kematangannya. Secara anatomis, alat-alat kelamin khususnya dan keadaan tubuh pada umumnya memperoleh bentuknya yang sempurna, dan secara faali alat-alat kelamin tersebut sudah dapat berfungsi secara sempurna pula. Pada akhir pertumbuhan fisik laki-laki, dia akan berotot dan berkumis serta menghasil-kan beberapa ratus juta spermatozoa setiap kali berejakulasi, sementara pada perempuan mekar payudaranya dan berpinggul besar, yang setiap bulannya mengeluarkan sel telur dari ovum yang disebut menstruasi atau haid.

32

Masa pematangan fisik ini berjalan lk. dua tahun, dan biasanya dihitung dari saat haid pertama pada perempuan, atau sejak mimpi basah pertama pada laki-laki. Masa dua tahun ini disebut masa pubertas, akan tetapi persisnya mulai pubertas ini sulit ditetapkan, karena cepat atau lambatnya menstruasi atau mimpi basah sangat bergantung pada kondisi tubuh masing-masing individu, sehingga karenanya bervariasi. Misalnya, ada anak perempuan yang sudah menstruasi pada usia 9, 10, dan ada juga yang baru menstruasi pada usia 17 tahun.

4. Remaja Ditinjau dari Faktor Sosial Psikologis.

Menurut Sarlito (1991:11), salah satu ciri remaja di samping tanda-tanda seksual, adalah perkembangan psikologis dan pada identifikasi dari anak-anak menjadi dewasa. Puncak perkembangan jiwa itu ditandai dengan perubahan kondisi

entropy ke kondisi negentropy.

Entropy adalah keadaan di mana kesadaran manusia masih belum tersusun rapi. Kendati isinya sudah banyak (pengetahuan, perasaan, dsb.), namun belum saling terkait secara baik, sehingga belum bisa berfungsi secara maksimal. Isi kesadaran masih saling bertentangan, tidak saling berhubungan, sehingga mengurangi hasil kerjanya, dan menimbulkan pengalaman yang kurang menyenangkan bagi dirinya. Sedangkan negentropy adalah keadaan di mana isi kesadaran tersusun dengan baik, pengetahuan yang satu terkait dengan perasaan atau sikap. Orang dalam keadaan negentropy merasa dirinya sebagai kesatuan yang utuh dan dapat bertindak dengan tujuan yang jelas, sehingga tidak perlu dibimbing lagi untuk mempunyai tanggung jawab dan semangat yang tinggi.

5. Sikap yang Sering Ditunjukkan oleh Remaja.

Masa remaja sering dikenal dengan masa mencari jatidiri, yang oleh Erickson dalam Bischof (1983) disebut identitas ego (ego identity). Hal ini terjadi karena masa remaja merupakan peralihan antara masa kehidupan anak-anak dengan masa kehidupan dewasa. Dilihat dari aspek fisiknya mereka sudah bukan

anak-33

anak lagi, tetapi jika diperlakukan sebagai orang dewasa, ternyata belum dapat menunjukkan sebagai orang dewasa. Sejumlah sikap yang sering ditunjukkan oleh remaja adalah sebagai berikut :

a. Kegelisahan.

Remaja mempunyai banyak idealisme, angan-angan, atau keinginan yang hendak diwujudkan di masa depan. Namun sesungguhnya belum banyak kemampuan yang memadai untuk mewujudkan semuanya itu. Pada umumnya angan-angan dan keinginannya jauh lebih besar daripada kemampuannya, sehingga terjadi tarik-menarik yang menyebabkan mereka diliputi kege-lisahan.

b. Pertentangan.

Sebagai individu yang sedang mencari jatidiri, remaja berada pada situasi psikologis antara ingin melepaskan diri dari orang tua, dan perasaan masih belum mampu untuk mandiri. Karenanya remaja mengalami kebingungan sehingga terjadi pertentangan dalam dirinya. Remaja belum begitu berani mengambil resiko dari tindakan meninggalkan lingkungan keluarganya yang jelas lebih aman bagi dirinya, sementara melepaskan diri itu harus disertai kesanggupan berdikari tanpa bantuan orang tua terutama dalam hal keuangan.

c. Menghayal.

Keinginan untuk menjelajah dan berpetualang tidak semuanya dapat tersalur-kan, terutama adanya hambatan dalam hal keuangan atau pembiayaan, yang masih mengandalkan pemberian orang tua. Akibatnya, remaja kemudian mengkhayal, mencari kepuasan, bahkan menyalurkan khayalannya melalui dunia fantasi. Khayalan remaja putra biasanya berkisar pada soal prestasi dan jenjang karier, sedangkan remaja putri lebih pada romantika hidup. Khayalan-khayalan ini memang tidak selamanya negatif, sebab kadang menghasilkan sesuatu yang konstruktif, misalnya timbulnya ide-ide atau gagasan yang dapat diwujudkan kemudian.

d. Aktivitas Berkelompok.

34

terpenuhi karena banyak kendala, di antaranya masalah biaya. Larangan orang tua juga sering menghambat dan melemahkan, atau bahkan mematah-kan semangat. Kesempatan berkumpul dengan remematah-kan-remematah-kan sebaya merupa-kan jalan keluar untuk melakumerupa-kan kegiatan bersama. Mereka bekerjasama sehingga berbagai kendala dapat diatasi bersama.

e. Keinginan Mencoba Segala Sesuatu.

Pada umumnya remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (high curiosity). Didorong oleh rasa ingin tahu ini, maka remaja cenderung ingin berpetualang menjelajah dan mencoba segala sesuatu. Hal ini juga didorong oleh keinginan seperti halnya orang dewasa. Maka dengan sembunyi-sembunyi tidak jarang remaya putra mencoba merokok, demikian juga remaja putri mencoba memakai kosmetik atau perhiasan baru, meskipun sekolah melarangnya. Dalam hati kecil mereka seolah-olah ingin membuktikan jika sebenarnya mereka pun mampu berbuat seperti yang dilakukan orang dewasa. Di sinilah pentingnya ada bimbingan orang dewasa sehingga apa yang mereka ingin coba, terarah kepada hal-hal yang positif, kreatif, dan produktif.

Jika keinginan mencoba segala sesuatu mendapat bimbingan dan penyaluran yang baik, akan menghasilkan kreativitas remaja yang sangat bermanfaat, seperti kemampuan membuat alat-alat elektronika untuk komunikasi, temuan-temuan ilmiah remaja yang bermutu, kolaborasi musik, dsb. Jika tidak, dikhawatirkan akan terjerumus kepada kegiatan-kegiatan atau perilaku negatif, misalnya minuma beralkohol, narkoba, seks pranikah, dsb.

Dalam dokumen Bahan Ajar Perkembangan Peserta Didik (Halaman 34-38)