• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDEKATAN, TAHAP-TAHAP, DAN KARAKTERISTIK KREATIVITAS

Dalam dokumen Bahan Ajar Perkembangan Peserta Didik (Halaman 136-141)

BAB VI. PERKEMBANGAN KREATIVITAS REMAJA

C. PENDEKATAN, TAHAP-TAHAP, DAN KARAKTERISTIK KREATIVITAS

Pendekatan dalam studi kreativitas dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu pendekatan psikologis dan pendekatan sosiologis (Torrance, 1981; Dedi Supriadi, 1989). Pendekatan psikologis lebih melihat kreativitas dari aspek kekuatan yang ada dalam diri individu sebagai faktor yang menen-tukan kreativitas, seperti inteligensia, bakat, motivasi, sikap, minat, dan disposisi kepribadian lainnya. Salah satu pendekatannya holistic (menyelu-ruh). Clark (1988) menggunakan pendekatan holistik untuk menjelaskan konsep kreativitas dengan berdasarkan pada fungsi-fungsi berpikir (thinking), merasa (feeling), mengindra (sensing), dan intuisi (intuiting).

Thinking adalah berpikir rasional dan dapat diukur serta dikembangkan melalui latihan-latihan yang dilakukan secara sadar dan sengaja. Feeling menunjuk pada suatu tingkat kesadaran yang melibatkan segi emosional, yang merupakan proses aktualisasi diri, yaitu dilepaskannya energi emosio-nal dari individu untuk kemudian dipindahkan kepada individu lain sehingga muncul respon emosional. Sensing menunjuk pada suatu keadaan ketika dengan bakat yang ada, diciptakan suatu produk baru yang dapat dilihat atau didengar oleh orang lain, yang hal ini dimungkinkan jika memiliki perkembangan fisik, mental, dan keterampilan yang tinggi di bidang yang menjadi bakatnya. Sedangkan

intuiting menuntut adanya sua-tu tingkat kesadaran yang tinggi yang dihasilkan

dengan cara membayang-kan, berfantasi, dan melakukan terobosan ke daerah prasadar dan tak sadar.

Pendekatan sosiologis berasumsi bahwa kreativitas individu merupakan hasil

dari proses interaksi sosial, yang mana individu dengan segala potensi dan disposisi kepribadiannya dipengaruhi oleh lingkungan sosial tempat di mana individu itu berada, yang meliputi ekonomi, politik, kebudayaan, dan peranan keluarga. Upaya memperlajari kreativitas dengan menggunakan pendekatan sosiologis, mula-mula dilakukan oleh Kroeber pada tahun 1914 yang kemudian dilaporkan dalam tulisannya yang berjudul “Configuration of Culture”. (Dedi

133

Supriadi, 1989:84). Melalui pendekatan sosiologis ini Kroeber berusaha melacak faktor-faktor sosiologis yang saling berkaitan dan mengelompokkannya kepada orang-orang yang memiliki kreativitas tinggi pada periode waktu dan tempat tertentu dalam kurun sejarah, khususnya sejarah peradaban Barat. Dalam analisisnya dia menggunakan tiga konfigurasi, yaitu waktu, ruang, dan derajat prestasi suatu peradaban. Kesimpulan yang dikemukakannya adalah bahwa munculnya orang-orang kreatif tinggi dalam sejarah merupakan refleksi dari pola perkembangan nilai-nilai sosial, yang meliputi ekonomi, politik, kebudayaan, dan peranan keluarga. Orang-orang berprestasi kreatif luar biasa ini lahir dimungkinkan oleh karena kondisi ekonomi, politik, kebudayaan, dan peranan keluarga yang kondusif, serta semangat yang hebat.

Pendapat Kroeber ini didukung oleh Gray yang melakukan penelitian pada tahun 1958, 1961, dan 1966 yang menekankan dominannya peranan sosial dalam perkembangan kreativitas. Arieti (1976) dalam M. Ali & M. Asrori (2005: 46) mengemukakan beberapa faktor sosiologis yang kondusif bagi perkem-bangan kreativitas, yaitu :

a. Tersedianya sarana-sarana kebudayaan; b. Terbukanya terhadap keragaman cara berpikir;

c. Adanya keleluasaan bagi berbagai media kebudayaan;

d. Adanya toleransi terhadap pandangan-pandangan yang divergen;

e. Adanya penghargaan yang memadai terhadap orang-orang yang berprestasi. 2. Tahap-tahap Kreativitas.

Proses kreatif berlangsung mengikuti tahap-tahap tertentu. Tetapi tidak mudah mengidentifikasi secara persis pada tahap manakah suatu proses kreatif itu sedang berlangsung. Yang dapat diamati adalah gejalanya berupa perilaku yang ditampilkan oleh individu. Wallas Solso (1991) dalam M. Ali & M. Asrori (2005:51), mengemukakan empat tahapan proses kreatif, yaitu persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi.

a. Persiapan (Preparation).

134

memecahkan masalah yang dihadapi, dengan mencoba memikirkan berbagai alternatif. Berbekal ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, individu berusaha menjajagi berbagai kemungkinan jalan yang dapat ditempuh untuk memecahkan masalah itu. Namun dalam tahap ini belum ada arah yang tetap meskipun sudah mampu meng-eksplorasi berbagai alternatif pemecahan masalah. Pada tahap ini masih sangat diperlukan kemampuan berpikir divergen.

b. Inkubasi (Incubation).

Pada tahap ini, proses pemecahan masalah “dierami” dalam alam prasadar, individu sekan-akan melupakannya. Jadi, pada tahap ini individu seolah-olah melepaskan diri untuk sementara dari masalah yang dihadapinya, dalam pengertian, tidak memikirkannya secara sadar melainkan “mengendap-kannya” dalam alam prasadar. Proses inkubasi ini bisa berlangsung lama (berhari-hari atau bahkan bertahun-tahun) tetapi bisa juga sebentar (beberapa jam saja) sampai kemudian timbul inspirasi (ilham) atau gagasan untuk pemecahan masalah.

c. Iluminasi (Illumination).

Tahap ini sering disebut sebagai tahap timbulnya insight (keinsafan). Pada tahap ini sudah dapat timbul inspirasi atau gagasan-gagasan baru serta proses-proses psikologis yang mengawali dan mengikuti muncul-nya inspirasi atau gagasan baru. Hal ini timbul setelah diendapkan dalam waktu yang lama atau bisa juga sebentar pada tahap inkubasi.

d. Verifikasi (Verification).

Pada tahap ini, gagasan yang telah muncul dievaluasi secara kritis dan konvergen serta menghadapkannya pada realitas. Pemikiran divergen harus diikuti dengan pemikiran konvergen. Pemikiran dan sikap spontan harus diikuti oleh pemikiran selektif dan sengaja. Penerimaan secara total harus diikuti oleh kritik. Firasat harus diikuti oleh pemikiran logis. Keberanian harus diikuti oleh sikap hati-hati. Imajinasi harus diikuti oleh pengujian terhadap realitas. Jadi, jika pada tahap persiapan, inkubasi, dan iluminasi yang menonjol adalah proses berpikir divergen, maka dalam tahap verifikasi yang

135

lebih menonjol adalah proses berpikir konvergen. 3. Karakteristik Kreativitas.

Berbagai karakteristik atau ciri kreativitas yang dikemukakan di bawah ini merupakan serangkaian hasil studi terhadap kreativitas. Salah satu caranya dengan mengidentifikasikan sikap, kepercayaan, dan nilai pada orang-orang yang kreatif.

a. Piers (Adam, 1976) dalam M. Ali & M. Asrori (2005:52) mengemukakan bahwa karakteristik kreativitas adalah sebagai berikut.

1) Memiliki dorongan (drive) yang tinggi; 2) Memiliki keterlibatan nyang tinggi; 3) Memiliki rasa ingin tahu yang besar; 4) Memiliki ketekunan yang tinggi;

5) Cenderung tidak puas terhadap kemapanan; 6) Penuh percaya diri;

7) Memiliki kemandirian yang tinggi; 8) Bebas dalam mengambil keputusan; 9) Menerima diri sendiri;

10) Senang humor;

11) Memiliki intuisi yang tinggi;

12) Cenderung tertarik kepada hal-hal yang kompleks; 13) Toleran terhadap ambiguitas;

14) Bersifat sensitif.

b. Utami Munandar (1992) mengemukakan ciri-ciri kreativitas, antara lain : 1) Senang mencari pengalaman baru;

2) Memiliki keasyikan dalam mengerjakan tugas-tugas yang sulit; 3) Memiliki inisiatif;

4) Memiliki ketekunan yang tinggi; 5) Cenderung kritis terhadap orang lain;

6) Berani menyatakan pendapat dan keyakinannya; 7) Selalu ingin tahu;

136 8) Peka atau perasa;

9) Energik dan ulet;

10) Menyukai tugas-tugas yang majemuk; 11) Percaya kepada diri sendiri;

12) Mempunyai rasa humor; 13) Memiliki rasa keindahan;

14) Berwawasan masa depan dan penuh imajinasi.

c. Clark (1988) mengemukakan karakteristik kreativitas sebagai berikut : 1) Memiliki disiplin diri yang tinggi;

2) Memiliki kemandirian yang tinggi; 3) Cenderung sering menentang otoritas; 4) Memiliki rasa humor;

5) Mampu menentang takanan kelompok; 6) Lebih mampu menyesuaikan diri; 7) Senang berpetualang;

8) Toleran terhadap ambiguitas;

9) Kurang toleran terhadap hal-hal yang membosankan; 10) Menyukai hal-hal yang kompleks;

11) Memiliki kemampuan berpikir divergen yang tinggi; 12) Memiliki memori dan atensi yang baik;

13) Memiliki wawasan yang luas; 14) Mampu berpikir periodik;

15) Memerlukan situasi yang mendukung; 16) Sensitif terhadap lingkungan;

17) Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi; 18) Memiliki nilai estetik yang tinggi;

19) Lebih bebas dalam mengembangkan integrasi peran seks.

d. Torrance (1981) mengemukakan karakteristik kreativitas sebagai berikut : 1) Memiliki rasa ingin tahu yang besar;

2) Tekun dan tidak mudah bosan; 3) Percaya diri dan mandiri;

137

4) Merasa tertantang oleh kemajemukan atau kompleksitas; 5) Berani mengambil resiko;

6) Berpikir divergen.

Dalam dokumen Bahan Ajar Perkembangan Peserta Didik (Halaman 136-141)