• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik responden berdasarkan perwatan nifas

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian

5.2.2 Karakteristik responden berdasarkan perwatan nifas

Dari 24 pertanyaan mengenai perawatan nifas menurut standar kesehatan yang diambil dari teori Reeder, Martin, Griffit, antara lain:

5.2.2.1 Perawatan perineum

Responden melakukan terapi panas sesuai dengan yang teori yang terkait dalam penelitian ini, tetapi setiap masyarakat atau kebudayaan memiliki cara dan variasi yang bereda. Ibu Nagori Raya Huluan melakukan terapi panas yang mereka sebut dengan Martataring dan menduduki abu hangat.

Martataring adalah terapi panas dengan bara api, bara api ini berada di dapur dimana ibu nifas tidur disampingnya, maka selama 40 hari ibu nifas berada

Hotni Sari Dewi Siregar : Kebiasaan Ibu Dalam Melakukan Perawatan Nifas Di Nagori Raya Huluan, 2008. USU Repository © 2009

di dapur. Menurut mereka hal ini mempermudah para tetangga atau sanak saudara untuk mengunjungi ibu sesudah melahirkan. Pada masyarakat Lombok juga melakukan terapi panas yang mereka sebut dengan masa berdiang, dimana pada masa nifas ibu tidur dekat tungku api yang terus menyala sampai beberapa hari, agar ibu dan bayi dalam keadaan hangat (Swasono 1997). Tapi keadaan ini sangat membahayakan bagi ibu dan bayi karena dapur bukan merupakan tempat yang terjaga kebersihannya. Sehingga dapat menyebabkan infeksi bagi ibu. Begitu juga dengan asap dari bara api dapat mengganggu pernafasan bagi ibu dan bayi. Tetapi duduk diatas abu hangat merupakan perawatan yang hampir sama dengan konsep yaitu berupa terapi panas kering dengan menggunakan lampu atau sinar laser.

Semua ibu melakukan pembilasan khusus pada perineum menggunakan air garam, pembilasan ini sangat efektif untuk melenturkan dan mengurangi rasa nyeri pad otot yang sakit pada perineum, dan garam juga dapat menghambat pertumbuhan bakteri atau jamur pada perineum, karena garam dengan konsentrasi lebih dari 0,9% berupa larutan hipertonis yang mempunyai tekanan osmosis yang lebih besar dari cairan yang ada di dalam sel. Perbedaan tekanan osmosis ini dapat menyebabkan cairan dari sel bakteri tertarik keluar sehingga bakteri lama kelamaan akan menyusut, akibatnya sel akan mati atau tidak mapu berkembang biak.(Irwansyah, 2007)

Responden juga memakai pembalut untuk menampung darah nifas, tetapi pembalut yang responden gunakan adalah kain perca (kain bekas) dimana kebersihan dari kain ini kurang terjamin, dibandingkan dengan pembalut yang sudah tersedia diklinik, apotik, bidan

Hotni Sari Dewi Siregar : Kebiasaan Ibu Dalam Melakukan Perawatan Nifas Di Nagori Raya Huluan, 2008. USU Repository © 2009

5.2.2.2 Perawatan Payudara

Setelah melahirkan ibu sudah dapat menyusui bayinya tapi tidak langsung, karena setelah bayi dilahirkan harus dibersihkan dahulu, setelah bersih maka ibu sudah bisa menyusui bayinya, sementara menurut literatur peneliti setelah bayi keluar ibu langsung menyusui bayinya. Untuk membersihkan payudara responden menggunakan air sabun, sementara sabun ini dapat menyebabkan puting susu kering dan lecet, maka gunakan air hangat kemudian lap dengan handuk yang lembut. Untuk meningkatkan produksi ASI semua ibu mengkonsumsi daun Bangun-bangun (Coleus Ambonicus) .

Menurut Dr Boorsma (1987) dalam penelitian Sentosa (2005), menyatakan bahwa dalam daun Bangun-bangun ini mengandung minyak Atsiri (pada daun segar mengandung 0,043%, pada daun kering 0,2%). Minyak Atsiri pada daun Bangun-bangun berdaya sebagai antiseptik dan mempunyai aktifitas yang tinggi untuk melawan infeksi. Hastuti, supadmi (2000), menyatakan bahwa dalam daun Bangun-bangun terdapat berbagai macam vitamin,diantaranya, Vit C, B1, B12,

Betakaroten, Niasin, Oksalat, Asam lemak, yang sangat dibutuhkan oleh ibu menyusui, dan infus ekstrak pada daun tersebut dapat meningkatkan volume air susu ibu pada masa laktasi.

5.2.2.3 Pemulihan Kesehatan

Setelah melahirkan ibu selalu mengkonsumsi makanan bergizi seperti sup ikan, sayur-sayuran untuk memulihkan tenaga setelah proses melahirkan yang meletihkan dan untuk memperlancar produksi ASI. Makanan yang dikonsumsi berupa, daun bangun-bangun, tinuktuk, tuak yang menurut mereka dapat bermanfaat untuk, mengeluarkan darah kotor, dan menghangatkan tubuh ibu.

Hotni Sari Dewi Siregar : Kebiasaan Ibu Dalam Melakukan Perawatan Nifas Di Nagori Raya Huluan, 2008. USU Repository © 2009

Tuak adalah minuman yang berasal dari air nira dicampur dengan kulit raru yang difermentasikan, tuak mengandung kadar alkohol 3-5%, tuak biasa diminum bagi para ibu nifas di daerah batak yang menurut mereka bermanfaat untuk penambah darah, menghangatkan tubuh, serta memperlancar pengeluaran ASI, (Robin, 2008). Sementara jika ditinjau dari segi kesehatan alkohol tidak baik untuk dikonsumsi, karena jika zat tersebut diserap oleh lambung, masuk ke aliran darah dan tersebar kejaringan tubuh yang mengakibatkan terganggunya semua sistem yang ada dalam tubuh, dan jika dikonsumsi berlebihan alkohol dapat menimbulkan gangguan mental organik (GMO), yaitu gangguan dalam berpikir, merasakan, berperilaku. Bagi ibu menyusui alkohol dapat menghambat produksi hormon Oksitosin, sehingga mengurangi pengeluaran ASI, dan alkohol memberikan aroma yang tajam pada ASI, kemungkinan besar bayi menolak untuk menyusui. (Erabaru. 2008). Swasono (1997) mengatakan bahwa setiap kebudayaan memiliki kepercayaan mengenai berbagai makanan dan ramuan obat-obatan yang ditujukan bagi perawatan ibu melahirkan. Bahan-bahan ramuan itu digunakan untuk berbagai tujuan antara lain untuk mengembalikan tenaga, memperkuat tubuh ibu, mengembalikan tubuh ibu menjadi seperti sebelum hamil,

Pantangan makanan tidak terlalu dianjurkan untuk ibu nifas di Nagori Raya Huluan tetapi ada juga responden yang mematuhi pantangan makanan seperti makan sayur nangka, nenas, durian, cabai. Makanan ini dipercaya mengandung unsur panas. Makanan yang dilarang untuk dikonsumsi para ibu tidak terlalu mengkhawatirkan bagi kesehatan, karena makanan tersebut tidak dianjurkan untuk dikonsumsi para ibu nifas,

Hotni Sari Dewi Siregar : Kebiasaan Ibu Dalam Melakukan Perawatan Nifas Di Nagori Raya Huluan, 2008. USU Repository © 2009

5.2.2.4 Seksualitas dan penggunaan alat kontrasepsi

Semua responden sudah dapat kembali berhubungan suami istri setelah 6 minngu paska persalinan, dan responden menyatakan tidak mengalami kesulitan untuk kembali berhubungan dengan suami. Untuk menjarangkan kehamilan hanya 9,3% ibu yang menggunakan alat kontrasepsi. Keadaan ini tidak sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Sugiri (2008)bahwa peserta KB pada 2009 akan naik dari 61 persen menjadi 63 persen, angka kesuburan setiap wanita (TFT) dari 2,6 menjadi 2,1 anak, sementara angka keseburan wanita di Nagori Raya Huluan berjumlah 345 dan jumlah anak dalam setiap keluarga 4-6 orang (50%). Untuk angka pertumbuhan penduduk menurun kurang dari 1,3 persen pertahun. Sugiri menegaskan keberhasilan program KB di Indonesia bukan hanya dari pemerintah, tapi karena kerja keras peserta KB, petugas lapangan (PL) KB, para tokoh agama, tokoh masyarakat dan organisasi kemasyarakatan. Sementara untuk Nagori Raya

Dokumen terkait