• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Karakteristik Responden

Analisis karakteristik responden berperan untuk memahami faktor- faktor QWL apa saja yang mendukung dalam mencapai peningkatan kinerja karyawan. Karakteristik responden yang dibutuhkan meliputi : jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, jabatan, dan masa kerja. Sehingga karakteristik responden tersebut dianalisa secara deskriptif.

4.2.1. Jenis Kelamin

Sensus yang dilakukan kepada 32 responden baik karyawan tetap maupun karyawan lepas PT DaFa Teknoagro Mandiri pada kategori jenis kelamin diperoleh hasil bahwa karakteristik responden jenis kelamin laki-laki, sebanyak 20 orang atau 62%, dan karyawan berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 12 orang atau 38%.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa jumlah karyawan PT DaFa Teknoagro Mandiri didominasi oleh jenis kelamin laki-laki. Hal ini disebabkan sebagai bentuk penyesuaian dari kebutuhan perusahaan dalam menjalankan kegiatan produksi yang sebagian besar dilakukan di lapangan, sehingga butuh tenaga lapang untuk mencapai target produksi.

4.2.2. Usia

Karakteristik responden berdasarkan kategori usia dibagi menjadi lima kelompok, yaitu usia di bawah 20 tahun sebanyak 12 orang atau

38%, 20–30 tahun sebanyak 12 orang atau 38%, 31–40 tahun sebanyak 3 orang atau 9%, 41 –50 tahun sebanyak 2 orang atau 3% dan usia di atas 50 tahun sebanyak 3 orang atau 9%. Perbandingan sebaran usia dari responden dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3.Karakteristik responden berdasarkan usia

Dari Gambar 3 tersebut maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden berada pada kelompok usia di bawah 20 tahun dan 20– 30 tahun, sehingga dengan demikian karyawan perusahaan didominasi oleh kelompok umur produktif.

4.2.3. Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan karyawan menjadi tolok ukur perusahaan dalam menentukan posisi kerja di unit perusahaan dan jabatan. Berdasarkan tingkat pendidikan, karakteristik responden dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu: jenjang pendidikan di bawah SMP sebanyak 13 orang atau 41%, SMA sebanyak 11 orang atau 35%, Diploma sebanyak 2 orang, Sarjana Strata 1 sebanyak 2 orang, Sarjana Strata 2 sebanyak 1 orang atau 3%, dan sarjana Strata 3 sebanyak 9%. Perbandingan dari sebaran berdasarkan kelompok tingkat pendidikan dapat dilihat pada Gambar 4. 0 2 4 6 8 10 12 <20 tahun 20‐30 41‐50  tahun jumlah

Gambar 4.Karakteristik responden berdasarkan pendidikan akhir Berdasarkan Gambar 4 di atas, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar karyawan PT DaFa Teknoagro Mandiri memiliki tingkat pendidikan di bawah SMP (SMP dan SD). Hal ini dikarenakan perusahaan ingin memajukan warga di sekitar lingkungan perusahaan yang umumnya memiliki tingkat pendidikan yang rendah sebagai bentuk upayanya di bidang sosial, sehingga perusahaan mengangkat masyarakat setempat untuk menjadi karyawan perusahaan.

4.2.4. Masa Kerja

Lamanya masa kerja berpengaruh pada pengalaman, pengetahuan dan memiliki hubungan terhadap tingkat loyalitas karyawan terhadap

perusahaan. Masa kerja responden terbagi ke dalam lima kelompok,

yaitu kelompok masa kerja di bawah 5 tahun sebanyak 22 orang atau 71%, kemudian kelompok 5–15 tahun sebanyak 8 orang atau 26%, selanjutnya kelompok 16–25 tahun berjumlah 1 orang atau 3% dan yang terakhir tidak ada responden yang termasuk ke dalam kelompok masa kerja 26 –35 tahun.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden telah menjalani masa kerja selama kurang dari 5 tahun, hal ini disebabkan perusahaan baru resmi menjadi sebuah PT sejak tahun

2001 atau baru 10 tahun yang lalu. Disamping itu masalah turn over

yang cukup tinggi juga menjadi salah satu penyebab ketidakloyalan karyawan terhadap perusahaan.

0 5 10 15 ≤ SMP S2 Pendidikan

4.2.5 Jabatan

Tingkat jabatan memiliki hubungan yang sangat kuat dalam setiap pengambilan keputusan, khususnya kebijakan perusahaan. Semakin tinggi posisi jabatan maka peranannya pun akan semakin kuat, begitu pula dengan tanggung jawab terhadap pekerjaannya yang semakin besar.

Gambar 5. Karakteristik responden berdasarkan jabatan

Berdasarkan Gambar 5 di atas, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden adalah staf, hal ini disebabkan untuk mencapai target produksi yang banyak maka diperlukan tenaga fisik yang lebih banyak pula.

4.3.Uji Validitas dan Reliabilitas kuesioner 4.3.1. Uji Validitas

Uji validitas alat ukur berupa kuesioner digunakan untuk mengetahui apakah suatu alat ukur telah memenuhi syarat ketepatan dan kecermatan dalam menjalankan fungsinya. Alat ukur dapat dikatakan baik jika alat tersebut telah dinyatakan valid, yaitu ketika alat ukur mampu melakukan apa yang seharusnya dilakukan dan mampu mengukur apa yang seharusnya diukur.

Metode uji validitas dalam penelitian ini menggunakan bantuan

Microsoft Excel, melalui korelasi product moment pearson kemudian hasilnya dibandingkan dengan angka kritik tabel (nilai r-hitung). Tujuan melakukan uji validitas ini untuk mengetahui apakah pernyataan yang diajukan dalam kuesioner telah memenuhi syarat atau tidak, yang

0 5 10 15 20 25

Staf staf ahli

kemudian hasilnya dapat dijadikan data utama dan data untuk penelitian selanjutnya.

Dalam kuesioner sebagai langkah awal penelitian, terdapat 57 pernyataan tertutup meliputi 30 pernyataan berkaitan dengan sembilan faktor QWL meliputi kompensasi, pengembangan karir, komunikasi, lingkungan yang aman, kesehatan kerja, keselamatan kerja, penyelesaian konflik, kebanggaan, dan partisipasi karyawan serta 27 pernyataan tentang kinerja yang meliputi kedisiplinan, kerja sama, dengan skala pengukuran menggunakan skala Likert yang disebarkan kepada 32 responden. Setelah dilakukan pengujian validitas maka diperoleh hasil yang valid untuk semua pernyataan (Lampiran 1), yaitu

pada kondisi rhitung > rtabel, dimana rtabel 0,361 untuk selang kepercayaan

95%. Sehingga 57 pernyataan tersebut dapat digunakan dalam penelitian selanjutnya.

4.3.2. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas berkaitan dengan masalah adanya kepercayaan terhadap alat ukur. Suatu alat ukur memiliki tingkat kepercayaan atau konsistensi yang tinggi jika hasil dari pengujian alat ukur tersebut menunjukkan hasil yang tetap. Tujuan dilakukannya uji reliabilitas untuk mengetahui tingkat kestabilan suatu alat ukur. Hasil pengukuran dapat dipercaya jika digunakan dalam beberapa kali pengukuran terhadap kelompok yang sama diperoleh hasil yang relatif sama. Pengujian reliabilitas yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat

dari nilai Cronbach Alpha dengan bantuan software SPSS melalui

instrument atau kuesioner yang disebarkan kepada 32 responden. Hasil

perhitungan diperoleh αcronbach sebesar 0,970 pada seluruh pernyataan

dalam kuesioner itu artinya kuesioner yang disebarkan bersifat sangat reliabel, mengacu pada klasifikasi tabel alpha George (2003), selanjutnya perhitungan reliabilitas dilakukan secara lebih merinci

untuk faktor-faktor QWL, sehingga diperoleh nilai αcronbach sebesar

0,954 dan untuk kinerja memiliki nilai αcronbach sebesar 0,955. Dari

baik aspek QWL maupun kinerja bersifat sangat reliabel. Hasil perhitungan uji reliabilitas selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 2.

Dokumen terkait