• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2. Karakteristik Responden

Responden dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan khususnya tenaga pelaksana bagian Quality Inspection yang berjumlah 36 orang. Seluruh karyawan pada bagian ini adalah laki-laki sebanyak 36 orang karena pada bidang pekerjaan ini dibutuhkan kekuatan fisik dan keahlian teknisi dalam bidang automotif yang biasanya dikuasai oleh laki-laki.

5.2.2. Tingkat Jabatan

Jabatan karyawan secara berturut-turut dari yang terbesar hingga yang berjumlah lebih sedikit adalah pelaksana, asisten foreman dan foreman. Karakteristik responden berdasarkan tingkat jabatan dapat terlihat pada Gambar 4.

Persentase Jabatan pelaksana , 31, 86% Ass. Foreman, 4, 11% foreman, 1, 3% pelaksana Ass. Foreman foreman

Gambar 4. Karakteristik responden berdasarkan tingkat jabatan

5.2.3. Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan karyawan didominasi oleh lulusan SMA. Sedangkan lulusan diploma hanya sebagian kecil saja. Hal ini terjadi karena secara keseluruhan pekerjaan yang harus dilakukan tidak menuntut keahlian tinggi, karyawan hanya dituntut untuk menjalankan pekerjaan dengan keterampilan dan pengalaman yang telah didapatkan. Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada Gambar 5.

Persentase pendidikan SMA, 35, 97% Diploma, 1, 3% SMA Diploma

Gambar 5. Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan

5.2.4. Usia

Usia responden didominasi oleh rentang usia 20-30 tahun dan usia 31-40 tahun karena termasuk usia yang produktif. Sedangkan rentang usia 41-50 dan > 50 hanya sebagian kecil saja karena pada usia tersebut terdapat karyawan yang sudah pensiun sehingga populasi rendah. Karakteristik responden berdasarkan usia dapat dilihat pada Gambar 6.

Persentase Usia 20-30, 17, 46% 31-40, 15, 42% 41-50, 2, 6% >50, 2, 6% 20-30 31-40 41-50 >50

Gambar 6. Karakteristik responden berdasarkan usia

5.2.5. Lama Kerja

Lama bekerja karyawan didominasi oleh karyawan yang bekerja pada rentang 1-10 tahun. Sebagian kecil karyawan bekerja pada rentang lama bekerja secara berturut-turut yaitu lama bekerja 11-20 tahun, 21-30 tahun dan > 30 tahun. Karakteristik responden berdasarkan lama bekerja dapat dilihat pada Gambar 7.

Persentase Lama kerja 86% 8% 3% 3% 1-10 th 11-20 th 21-30 th > 30 th

Gambar 7. Karakteristik responden berdasarkan lama bekerja

5.3. Analisis Data Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner 5.3.1. Hasil Uji Validitas Kuesioner

Uji validitas dilakukan untuk melihat apakah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dapat memberikan jawaban yang sesuai dan mampu mengukur aspek-aspek yang ingin diukur. Uji validitas menggunakan rumus korelasi Product Moment dan hasilnya akan dibandingkan dengan nilai angka kritik tabel korelasi nilai r. Uji validitas dilakukan dengan cara uji coba kuesioner yang disebarkan kepada 30 orang responden. Setelah dilakukan uji validitas terdapat 50 pernyataan yang dinyatakan valid dari 58 pernyataan yang telah disebarkan melalui kuesioner. Hal ini membuktikan bahwa 50 pernyataan tersebut memenuhi syarat sah untuk diolah lebih lanjut (r hitung > r tabel, dimana r tabel = 0,361 untuk n = 30 pada selang kepercayaan 95 persen). Hasil dari pengujian validitas dapat dilihat pada Lampiran 3.

5.3.2. Hasil Uji Reliabilitas Kuesioner

Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran suatu instrumen relatif konsisten apabila instrumen tersebut digunakan lagi sebagai alat ukur suatu objek penelitian. Pengujian reliabilitas menggunakan metode Alpha Cronbach. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan teknik Alpha Cronbach diperoleh r hitung > r tabel, dimana r tabel = 0,361 untuk n = 30 pada selang kepercayaan 95 persen. Nilai ini jauh lebih besar dari r tabel pada selang kepercayaan 95 persen, maka kuesioner yang disebarkan

dapat diandalkan untuk dijadikan alat ukur pada penelitian ini. Tingkat reliabilitas metode Alpha Cronbach diukur berdasarkan skala alpha 0 sampai 1 yang dapat dilihat pada Tabel 2. Hasil uji reliabilitas dapat dilihat pada Lampiran 4.

Tabel 2. Tingkat reliabilitas metode alpha cronbach.

Alpha Tingkat Reliabilitas

00,00 − 0,20 Kurang reliabel > 0,20 − 0,40 Agak reliabel > 0,40 − 0,60 Cukup reliabel > 0,60 − 0,80 Reliabel > 0,80 − 1,00 Sangat reliabel

5.4. Deskripsi Sistem Pelatihan Mutu Produksi

PT. Krama Yudha Ratu Motor menyelenggarakan berbagai pelatihan untuk mengembangkan potensi karyawannya. Salah satu pelatihan yang sering dilakukan yaitu pelatihan mutu produksi pada bagian Quality Inspection. Pelatihan mutu produksi bertujuan untuk memperluas pengetahuan inspektor tentang konsep pengecekan produk berupa kendaraan niaga untuk mengurangi tingkat kecacatannya serta meningkatkan kualitas suatu produk.

Program pelatihan yang direncanakan oleh perusahaan yaitu pelaksanaan pelatihan dilakukan rutin satu bulan sekali. Topik pelatihan yang diberikan berkaitan dengan permasalahan teknis saat pengecekan kendaraan. Program pelatihan dirancang seefektif mungkin agar tepat sasaran yaitu karyawan mampu untuk menyelesaikan tugas sesuai dengan Standart Operation Procedure (SOP) yang berlaku di perusahaan.

Metode yang digunakan dalam pelatihan ini yaitu metode di dalam ruang kelas, kemudian instruktur menyampaikan materi pelatihan melalui infocus yang telah tersedia di ruangan. Selain itu, metode yang digunakan adalah aplikasi langsung dilapangan dengan mencari kecacatan pada kendaraan. Instruktur yang ditunjuk untuk mengajarkan materi pelatihan adalah kepala seksi dan kepala bagian dari Quality Inspection yang

mengetahui kompetensi dari karyawan. Instruktur pelatihan terdiri dari instruktur ruangan dan instruktur lapangan.

Fasilitas yang digunakan dalam pelatihan mutu produksi yaitu makalah, ruang kelas dan alat bantu penyampaian materi yang cukup lengkap seperti laptop, LCD dan alat pendukung lainnya. Selain itu, peserta juga mendapat fasilitas makan, snack dan cofee break serta voucher belanja di koperasi. Kebutuhan pelatihan berasal dari perusahaan agar mampu memenuhi target dalam menciptakan produk yang berkualitas. Selain itu, pelatihan dilaksanakan agar karyawan dapat meningkatkan kompetensi mereka sebagai seorang inspektor. Kompetensi yang dibutuhkan adalah memiliki kemampuan dalam mengendarai kendaraan produksi dengan baik, mengetahui nama part kendaraan, mengikuti proses pemeriksaan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan melaksanakan tugas sesuai dengan urutan pekerjaan.

Materi yang diajarkan pada pelatihan mutu produksi yaitu materi inspection manual type TD yang bertujuan agar operator QI mengetahui standar-standar kendaraan tipe TD dengan mudah dan mengaplikasikannya di lapangan untuk mengecek kendaraan serta mendeteksi kerusakan yang diakibatkan pemasangan kendaraan yang tidak sesuai dengan standar. Materi proses painting dan sealing bertujuan untuk mendalami proses painting, materi pengenalan part type TZ dan TW yang bertujuan untuk mengetahui part serta fungsi kendaraan TD agar mampu mendeteksi kesalahan pemasangan part yang besar atau kecil pada kendaraan. Sedangkan materi pembelajaran FTC (first time capability) bertujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan dalam memproduksi kendaraan yang berkualitas serta mengetahui masalah yang terjadi pada kendaraan dari line off sampai pre delivery.

Waktu pelatihan dilaksanakan pada hari Sabtu atau Minggu pada pukul 08.00 WIB sampai 16.00 WIB. Adapun manfaat yang dirasakan peserta setelah mengikuti pelatihan adalah kemampuan karyawan mengenai materi pelatihan menjadi meningkat dan karyawan dapat mengerjakan tugas

sesuai dengan Standart Operation Procedure (SOP) yang berlaku di perusahaan.

5.5. Analisis Persepsi Responden tentang Sistem Pelatihan Mutu Produksi Berdasarkan Karakteristik Responden

1. Analisis Persepsi Responden tentang Sistem Pelatihan Mutu Produksi Berdasarkan Jenis Kelamin

Sistem pelatihan mutu produksi yang telah diterapkan pada perusahaan sudah dinilai baik oleh karyawan menurut jenis kelamin. Hal ini dapat terlihat dari skor total pada Tabel 3 yaitu indikator program, metode, instruktur, fasilitas, kebutuhan, waktu dan manfaat menunjukkan intepretasi hasil yang baik. Sedangkan materi pelatihan masih dinilai kurang baik oleh karyawan menurut jenis kelamin. untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3 di bawah ini.

Tabel 3. Persepsi responden terhadap sistem pelatihan mutu produksi berdasarkan jenis kelamin

Jenis Kelamin Laki-laki Indikator Pelatihan Skor Ket Program 4,00 Baik Metode 4,00 Baik Instruktur 3,51 Baik Fasilitas 3,82 Baik Kebutuhan 3,75 Baik

Materi 3,37 Kurang baik

Waktu 3,63 Baik

Manfaat 4,11 Baik

2. Analisis Persepsi Responden tentang Sistem Pelatihan Mutu Produksi Berdasarkan Tingkat Jabatan

Sistem pelatihan mutu produksi sudah dinilai baik oleh karyawan berdasarkan karakteristik tingkat jabatan. Hal ini terlihat pada Tabel 4 yaitu skor total rataan dari masing-masing indikator sistem pelatihan menunjukkan intepretasi hasil yang baik. Pada tingkat jabatan foreman menunjukkan hasil persepsi yang baik pada semua indikator sistem pelatihan, kecuali indikator instruktur, fasilitas, kebutuhan dan waktu pelatihan masih dinilai kurang baik. Pada jabatan assistant foreman menunjukkan hasil persepsi yang sangat baik pada semua indikator sistem pelatihan, kecuali indikator materi pelatihan masih dinilai kurang baik. Hasil persepsi sistem pelatihan menurut pelaksana sudah dinilai

baik untuk semua indikator, kecuali materi pelatihan yang dinilai masih kurang baik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4 dibawah ini. Tabel 4. Persepsi responden terhadap sistem pelatihan mutu produksi

berdasarkan tingkat jabatan

Tingkat Jabatan

Foreman Ass. Foreman Pelaksana Indikator

Pelatihan

Skor Ket Skor Ket Skor Ket

Total

Program 4,00 Baik 4,25 Sangat Baik

3,97 Baik 4,07 Metode 4,00 Baik 4,30 Sangat

Baik

3,97 Baik 4,16 Instruktur 4,00 Baik 3,44 Baik 3,53 Baik 3,41 Fasilitas 4,00 Baik 3,70 Baik 3,85 Baik 3,65 Kebutuhan 4,00 Baik 4,05 Baik 3,72 Baik 3,72

Materi 4,00 Baik 3,13 Kurang Baik

3,38 Kurang Baik

3,50 Waktu 4,00 Baik 3,75 Baik 3,62 Baik 3,54 Manfaat 4,00 Baik 4,60 Sangat

Baik

4,05 Baik 4,22 3. Analisis Persepsi Responden tentang Sistem Pelatihan Mutu Produksi

Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Hasil persepsi karyawan tentang sistem pelatihan menurut tingkat pendidikan menunjukkan bahwa semua indikator sudah dinilai baik oleh karyawan, kecuali pada indikator materi pelatihan. Hal ini terlihat dari skor total rataan dengan intepretasi hasil baik dan intepretasi hasil kurang baik pada indikator materi pelatihan. Hasil persepsi karyawan dengan tingkat pendidikan tamatan SMA dan Diploma menunjukkan bahwa sistem pelatihan yang diterapkan sudah baik, tetapi pada materi pelatihan masih dinilai kurang baik oleh karyawan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5 di bawah ini.

Tabel 5. Persepsi responden tentang sistem pelatihan mutu produksi berdasarkan tingkat pendidikan

Tingkat Pendidikan

SMA Diploma Indikator

Pelatihan

Skor Ket Skor Ket

Total Ket

Program 3,98 Baik 5,00 Sangat Baik

4,49 Sangat Baik Metode 3,98 Baik 5,00 Sangat

Baik

4,49 Sangat Baik Instruktur 3,49 Baik 4,25 Sangat

Baik

3,87 Baik Fasilitas 3,78 Baik 5,00 Sangat

Baik

4,39 Sangat Baik Kebutuhan 3,73 Baik 4,40 Sangat

Baik

Lanjutan Tabel 5.

Tingkat Pendidikan

SMA Diploma Indikator

Pelatihan

Skor Ket Skor Ket

Total Ket Materi 3,38 Kurang Baik 2,75 Kurang Baik 3,06 Kurang Baik Waktu 3,60 Baik 4,50 Sangat

Baik

4,05 Baik Manfaat 4,08 Baik 5,00 Sangat

Baik

4,54 Sangat Baik

4. Analisis Persepsi Responden tentang Sistem Pelatihan Mutu Produksi Berdasarkan Usia

Sistem pelatihan mutu produksi sudah dinilai baik oleh karyawan berdasarkan tingkat usia. Sedangkan pada indikator materi pelatihan masih dinilai kurang baik oleh karyawan. Hasil persepsi karyawan pada rentang usia 20 – 30 tahun, 31 - 40 tahun dan 41 – 50 tahun menunjukkan hasil yang baik pada sistem pelatihan, kecuali materi pelatihan. Sedangkan karyawan dengan rentang usia diatas 50 tahun menunjukkan bahwa program, instruktur, fasilitas, kebutuhan dan waktu masih dinilai kurang baik. Sedangkan metode, materi dan manfaat pelatihan sudah dinilai baik.

Tabel 6. Persepsi responden tentang sistem pelatihan mutu produksi berdasarkan usia

Usia

20-30 th 31-40 th 41-50 th > 50 th Indikator

Pelatihan

Skor Ket Skor Ket Skor Ket Skor Ket Total

Program 3,93 Baik 4,16 Baik 4,25 Sangat Baik

3,25 Kurang Baik

3,89 Metode 3,88 Baik 4,19 Baik 4,10 Baik 3,70 Baik 3,96 Instruktur 3,50 Baik 3,53 Baik 3,62 Baik 3,37 Kurang

Baik 3,51 Fasilitas 3,81 Baik 3,88 Baik 4,00 Baik 3,20 Kurang

Baik 3,72 Kebutuhan 3,75 Baik 3,76 Baik 4,10 Baik 3,30 Kurang

Baik 3,73 Materi 3,31 Kurang Baik 3,42 Baik 3,25 Kurang Baik 3,63 Baik 3,40 Waktu 3,57 Baik 3,68 Baik 4,00 Baik 3,25 Kurang

Baik 3,63 Manfaat 4,05 Baik 4,25 Sangat

Baik

4,10 Baik 3,60 Baik 4,00

5. Analisis Persepsi Responden tentang Sistem Pelatihan Mutu Produksi Berdasarkan Lama Bekerja

Hasil persepsi karyawan tentang sistem pelatihan berdasarkan lama bekerja menunjukkan hasil yang baik. Hal ini terlihat dari skor total rataan yang menunjukkan intepretasi hasil yang baik. Hasil persepsi karyawan dengan lama bekerja pada rentang 1 - 10 tahun dan 11 – 20 tahun menunjukkan bahwa sistem pelatihan sudah baik pelaksanannya

pada semua indikator, kecuali materi pelatihan yang masih dinilai kurang baik. Karyawan dengan lama bekerja 21 – 30 tahun menunjukkan hasil yang kurang baik pada indikator program, metode, fasilitas, kebutuhan, materi, waktu dan manfaat. Sedangkan hasil persepsi karyawan dengan lama bekerja pada rentang 30 tahun keatas menunjukkan hasil persepsi yang baik pada indikator program, metode, materi dan manfaat. Indikator instruktur, fasilitas, kebutuhan dan waktu pelatihan masih dinilai kurang baik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 7 di bawah ini.

Tabel 7. Persepsi responden tentang sistem pelatihan mutu produksi berdasarkan lama bekerja

Lama Bekerja

1-10 th 11-20 th 21-30 th > 30 th Indikator

Pelatihan

Skor Ket Skor Ket Skor Ket Skor Ket

Total

Program 4,04 Baik 4,25 Sangat Baik

2,5 Buruk 4,00 Baik 3,69 Metode 4,00 Baik 4,33 Baik 3,20 Kurang

Baik

4,20 Baik 3,93 Instruktur 3,53 Baik 3,42 Baik 3,50 Baik 3,25 Kurang

Baik

3,43 Fasilitas 3,84 Baik 4,00 Baik 3,00 Kurang

Baik

3,40 Kurang Baik

3,56 Kebutuhan 3,73 Baik 4,27 Sangat

Baik 3,20 Kurang Baik 3,40 Kurang Baik 3,56 Materi 3,36 Kurang Baik 3,25 Kurang Baik 3,25 Kurang Baik 4,00 Baik 3,47 Waktu 3,60 Baik 4,08 Baik 3,25 Kurang

Baik

3,25 Kurang Baik

3,55 Manfaat 4,11 Baik 4,40 Sangat

Baik

3,20 Kurang Baik

4,00 Baik 3,93

5.6. Analisis Persepsi Responden tentang Kinerja Berdasarkan Karakteristik Responden

1. Analisis Persepsi Responden tentang Kinerja Berdasarkan Jenis Kelamin Hasil persepsi karyawan tentang kinerja berdasarkan jenis kelamin

menunjukkan bahwa indikator kinerja sudah baik. Selain itu, terjadi peningkatan pada skor total rataan antara sebeum pelatihan dengan setelah pelatihan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 8 di bawah ini.

Tabel 8. Persepsi responden terhadap kinerja berdasarkan jenis kelamin

Pengetahuan Keterampilan Sikap

Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Jenis

Kelamin

Skor Ket Skor Ket Skor ket Skor ket Skor Ket Skor Ket

Laki-laki 3,50 Baik 4,39 Sangat Baik

3,49 Baik 4,45 Sangat Baik

3,49 Baik 4,43 Sangat Baik

2. Analisis Persepsi Responden tentang Kinerja Berdasarkan Tingkat Jabatan

Hasil persepsi karyawan dengan jabatan pelaksana, assistant foreman dan foreman menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kinerja

karena pelatihan. Hal ini terlihat dari peningkatan skor total rataan pada kinerja sebelum dan setelah pelatihan pada indikator pengetahuan, keterampilan dan sikap. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Persepsi responden terhadap kinerja berdasarkan tingkat jabatan

Pengetahuan Keterampilan Sikap Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Tingkat

Jabatan

Skor Skor Skor Skor Skor Skor

Pelaksana 3,52 4,35 3,90 4,40 3,81 4,38 Ass. Foreman 3,85 4,83 3,44 4,80 3,41 4,92 Foreman 3,00 4,17 3,40 4,60 3,00 4,33 Total 3,46 4,45 3,58 4,60 3,41 4,54

3. Analisis Persepsi Responden tentang Kinerja Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Hasil analisis pesepsi tentang kinerja berdasarkan tingkat pendidikan menujukkan bahwa kinerja sudah baik dan terjadi peningkatan skor total rataan pada semua indikator kinerja. Hasil persepsi karyawan dengan tingkat pendidikan SMA menunjukkan bahwa indikator kinerja sebelum dan sesudah pelatihan sudah baik, tetapi pada indikator sikap sebelum diadakan pelatihan masih dinilai kurang baik. Karyawan dengan tingkat pendidikan diploma menunjukkan hasil persepsi sangat baik pada seluruh indikator kinerja sebelum dan setelah pelatihan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 10 di bawah ini.

Tabel 10. Persepsi responden terhadap kinerja berdasarkan tingkat pendidikan

Pengetahuan Keterampilan Sikap Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Tingkat

Pendidikan

Skor Skor Skor Skor Skor Skor

SMA 3,50 4,38 3,45 4,43 3,40 4,42 Diploma 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00

Total 4,25 4,69 4,23 4,71 4,20 4,71

4. Analisis Persepsi Responden tentang Kinerja Berdasarkan Usia

Analisis persepsi karyawan tentang kinerja berdasarkan usia menunjukkan bahwa hasil yang baik pada indikator kinerja sebelum dan setelah pelatihan. Pada indikator sikap sebelum pelaksanaan pelatihan masih dinilai kurang baik oleh karyawan. Hasil persepsi karyawan dengan rentang usia 20 - 30 tahun, 31 – 40 tahun dan 41 – 50 tahun menunjukkan bahwa kinerja sebelum dan sesudah pelatihan sudah baik. Hasil persepsi karyawan dengan rentang usia lebih dari 50 tahun kinerjanya sudah baik, tetapi indikator sikap sebelum pelatihan masih

dinilai kurang baik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 11 berikut.

Tabel 11. Persepsi responden terhadap kinerja berdasarkan usia

Pengetahuan Keterampilan Sikap Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Usia

Skor Skor Skor Skor Skor Skor

20-30 th 3,41 4,35 3,42 4,34 3,53 4,33 31-40 th 3,73 4,49 3,60 4,52 3,48 4,53 41-50 th 3,50 4,50 3,50 4,50 3,50 4,50 > 50 th 3,30 4,00 3,20 4,20 2,63 4,50 Total 3,49 4,33 3,43 4,41 3,29 4,47

5. Analisis Persepsi Responden tentang Kinerja Berdasarkan Lama Bekerja Analisis persepsi karyawan tentang kinerja sebelum dan sesudah pelatihan menunjukkan bahwa indikator kinerja sebelum pelaksanaan pelatihan yaitu pengetahuan dinilai sudah baik, tetapi keterampilan dan sikap masih dinilai kurang baik. Sedangkan indikator kinerja setelah pelatihan sudah dinilai baik oleh karyawan. Hasil persepsi karyawan dengan lama bekerja 1 – 10 tahun, 11 – 20 tahun dan 21 -30 tahun menunjukkan bahwa pengetahuan, keterampilan serta sikap sebelum dan setelah pelatihan sudah dinilai baik oleh karyawan. Hasil persepsi karyawan dengan lama bekerja diatas 30 tahun menunjukkan bahwa pengetahuan, keterampilan dan sikap sebelum pelatihan dinilai kurang baik, tetapi dengan pelaksanaan pelatihan kinerja karyawan yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap menjadi semakin baik. Tabel 12. persepsi responden terhadap kinerja berdasarkan lama bekerja

Pengetahuan Keterampilan Sikap Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Lama

Kerja

Skor Skor Skor Skor Skor Skor

1-10 th 3,55 4,39 3,48 4,45 3,47 4,41 11-20 th 3,67 4,67 3,73 4,67 3,67 4,67 21-30 th 3,60 3,83 3,00 3,80 2,25 4,67 >30 th 3,00 4,17 3,40 4,60 3,00 4,33

5.7. Analisis Persepsi Responden terhadap Pelatihan Mutu Produksi dan Kinerja Karyawan

1. Analisis Persepsi Responden terhadap Pelatihan Mutu Produksi a. Program pelatihan

Program pelatihan yang telah dilaksanakan oleh perusahaan sudah dinilai baik oleh karyawan. Hal ini dapat terlihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Persepsi responden terhadap pelatihan mutu produksi dari segi program pelatihan

No. Deskripsi Pernyataan tentang Pelatihan Skor Rataan

Ket Interpretasi Hasil

1. Karyawan merasa program pelatihan dapat memberikan informasi baru dalam menyelesaikan tugas.

4,22 Sangat setuju

Sangat baik

2. Program pelatihan yang diberikan sudah sesuai dengan materi pelatihan.

3,94 Setuju Baik 3. Program pelatihan dapat meningkatkan

semangat kerja karyawan.

4,03 Setuju Baik 4. Program pelatihan sudah berjalan dengan

baik dan terencana.

3,83 Setuju Baik

Total 4,00 Setuju Baik

Berdasarkan Tabel 13, persepsi karyawan terhadap pelatihan mutu produksi dari segi program pelatihan secara keseluruhan dinilai baik. Sebagian besar karyawan merasa bahwa program pelatihan sangat baik dalam memberikan informasi baru untuk menyelesaikan tugas. Hal ini karena dalam pelatihan mutu produksi, karyawan diberikan materi pelatihan tentang bagian kendaraan yang belum mereka ketahui sebelumnya dan standar yang harus dilakukan pada saat melakukan pengecekan kendaraan.

Program pelatihan yang diberikan karyawan juga sudah sesuai dengan materi pelatihan, karena program pelatihan yang dirancang oleh perusahaan sejalan dengan materi pelatihan. Pada saat karyawan membutuhkan materi pelatihan tentang FTC (First Time Capability), perusahaan merancang program pelatihan mengenai konsep-konsep yang diperlukan agar produk menjadi berhasil dalam suatu produksi.

Karyawan merasa program pelatihan baik untuk meningkatkan semangat kerja, karena karyawan memperoleh

pengetahuan baru dalam menjalankan tugas, sehingga semangat kerja karyawan dapat ditumbuhkan apabila mereka dapat menyelesaikan kesulitan dalam pekerjaannya. Karyawan merasa program pelatihan sudah berjalan baik dan terencana, karena perusahaan akan menyusun program apabila bagian Quality Inspection membutuhkan pelatihan. Selain itu, perusahaan akan menyediakan semua kebutuhan yang diperlukan dalam pelaksanaan pelatihan mutu produksi.

b. Metode pelatihan

Metode pelatihan dinilai sudah tepat oleh karyawan. Hal ini terlihat pada Tabel 14.

Tabel 14. Persepsi responden terhadap pelatihan mutu produksi dari segi metode pelatihan

No. Deskripsi Pernyataan tentang Pelatihan

Skor Rataan

Ket Interpreta si Hasil

1. Metode pelatihan di dalam ruang kelas sesuai dengan kebutuhan pekerjaan karyawan.

3,64 Setuju Baik

2. Metode pelatihan demonstrasi/ contoh sesuai dengan sasaran dan tujuan awal perusahaan.

4,03 Setuju Baik

3. Metode pelatihan di dalam pekerjaan dapat memberikan motivasi untuk menyelesaikan tugas.

4,19 Sangat setuju

Sangat baik

4. Metode pelatihan di bawah bimbingan spesialis terampil sangat sesuai dengan karyawan.

4,22 Sangat setuju

Sangat baik

5. Metode pelatihan simulasi menggambarkan keahlian yang diinginkan karyawan.

3,97 Setuju Baik

Total 4,01 Setuju Baik

Tabel diatas menunjukkan bahwa karyawan merasa metode pelatihan di dalam ruang kelas sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Hal ini karena materi pelatihan yang diberikan berupa teori, sehingga karyawan merasa materi pelatihan mudah dimengerti.

Metode pelatihan demonstrasi atau pemberian contoh sesuai dengan sasaran dan tujuan awal perusahaan, karena metode pelatihan demonstrasi diberikan dengan cara instruktur menunjukkan langsung contoh bagian pada kendaraan yang mengalami kecacatan. Hal ini

sesuai dengan tujuan awal perusahaan yaitu menciptakan produk yang memiliki standar dan kualitas yang terjamin.

Metode pelatihan di dalam pekerjaan sangat sesuai untuk memberikan motivasi kepada karyawan. Hal ini karena pemberian materi pelatihan saat jam kerja dapat membantu karyawan untuk mengurangi kesulitan yang timbul dalam menyelesaikan tugas, sehingga karyawan lebih termotivasi untuk bekerja karena kesulitan yang timbul dapat diatasi dengan metode pelatihan di tengah jam kerja karyawan.

Metode pelatihan simulasi sesuai dengan keahlian yang diinginkan oleh karyawan, karena metode simulasi membawa karyawan dalam situasi kerja yang sebenarnya. Selain itu, instruktur sebaiknya mempraktekkan langkah-langkah kerja dan keahlian apa saja yang dibutuhkan karyawan untuk mengecek kecacatan pada kendaraan.

c. Trainer atau instruktur

Instruktur yang memberikan materi pelatihan dinilai kurang baik oleh karyawan. Hal ini dapat terlihat pada Tabel 15, karyawan merasa instruktur kurang menguasai materi pelatihan, karena karyawan membutuhkan pengetahuan baru tentang perkembangan teknologi yang terjadi di luar perusahaan. Selain itu, materi pelatihan yang diberikan instruktur hanya materi pengecekan secara umum saja, karyawan menginginkan materi pengecekan yang lebih spesifik tentang penyebab terjadinya suatu kecacatan produk.

Karyawan merasa bahwa instruktur kurang memiliki kemampuan dalam memotivasi semangat kerja, karena materi yang diajarkan oleh instruktur hanya sebatas tentang materi pelatihan saja dan instruktur tidak memberikan materi tentang motivasi yang dapat menumbuhkan semangat kerja pada karyawan. Karyawan juga merasa instruktur selalu melakukan pengawasan pada saat pelatihan dilaksanakan, karena instruktur harus mengawasi dan

bertanggungjawab penuh saat peserta melakukan praktek mengecek

Dokumen terkait