Karakteristik Wilayah
Luas wilayah Kecamatan Pagelaran yaitu 63.28 km2 atau sebesar 8.09 persen dari total luas Kabupaten Pringsewu. Kecamatan Pagelaran adalah hasil pemekaran dari Kecamatan Pringsewu yang terdiri dari 22 pekon (desa). Adapun batasan wilayah Kecamatan Pagelaran yaitu :
a. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Kalirejo Kabupaten Lampung Tengah b. Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Sukoharjo
c. Sebelah barat dengan Kecamatan Banyumas
d. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Negeri Katon Kabupaten Pesawaran Kondisi alam Kecamatan Pagelaran adalah daerah datar dengan suhu maksimum 300C dan suhu minimum 210C, sehingga memiliki curah hujan yang cukup. Selain itu Kecamatan Pagelaran memiliki potensi lahan sebesar 618 Ha, baru termanfaatkan sebesar 322 Ha. Sehingga lahan yang belum termanfaatkan sebesar 296 Ha. Jumlah ini lebih besar potensinya dibandingkan kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Pringsewu. Besarnya potensi lahan tersebut dapat dimanfaatkan dalam bidang pertanian, perikanan, peternakan dan lainnya.
Gambaran Umum Demografis
Berdasarkan data dari dinas Kecamatan Pagelaran pada awal tahun 2013 jumlah penduduk di Kecamatan Pagelaran yaitu sebanyak 53 595 jiwa yang terdiri dari 27 731 perempuan dan 25 864 laki-laki. Dengan demikian jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan. Penduduk terbanyak terdapat di pekon (desa) Pagelaran yang berjumlah 5 601 jiwa atau sekitar 10.45 persen dari total jumlah penduduk Kecamatan Pagelaran yang terdiri dari perempuan sebanyak 2 868 dan laki- laki sebanyak 2 733 jiwa.
Penduduk Kecamatan Pagelaran umumnya bermatapencaharian di bidang pertanian yang meliputi perikananan dan peternakan. Penduduk yang bekerja di bidang pertanian yaitu sebanyak 17 624 jiwa atau sekitar 32.88 persen dari total jumlah penduduk Kecamatan Pagelaran. Sedangkan lainnya bekerja pada bidang perdagangan, wirausaha, industri dan instansi pemerintahan. Kecamatan Pagelaran dikenal sebagai sentra budidaya perikanan di Kabupaten Pringsewu, dengan komoditas unggulan yaitu ikan lele. Oleh karena itu, penduduk Kecamatan Pagelaran lebih banyak yang bermatapencaharian di bidang perikanan khususnya, sedangkan lainya bekerja sebagai petani sawah, pegawai negeri sipil, pegawai swasta dan pedagang. Terdapat lima desa di Kecamatan Pagelaran yang menjadi sentra perikanan yaitu desa Pagelaran, desa Lugu Sari, desa Sukaratu, desa Patoman dan desa Panutan.
Kegiatan Produksi Pembenihan Ikan Lele di Kecamatan Pagelaran
Umumnya kegiatan produksi yang dilakukan oleh petani pembenihan ikan lele baik itu lele sangkuriang maupun lele dumbo di Kecamatan Pagelaran adalah sama
30
yaitu mulai dari pemeliharaan induk, pemijahan induk, penetasan telur, pemeliharaan larva dan pemeliharaan benih hingga pemanenan benih. Ukuran benih yang dipanen oleh petani pembenihan lele di Kecamatan Pagelaran adalah ukuran 2–3 cm, 3–5 cm dan 4–6 cm tetapi umumnya yang sering dijual petani pembenihan lele dan diminta oleh petani pembesaran sebagai input untuk ditebar di kolam adalah ukuran 3–5 cm dengan waktu pemeliharaan yaitu 30 hingga 40 hari.
Pemeliharaan Induk
Induk merupakan faktor utama yang mempengaruhi kualitas telur yang dihasilkan. Bila telur yang dihasilkan dan yang menetas pun banyak, maka benih yang dihasilkan pun banyak. Sehingga hal tersebut dapat mempengaruhi jumlah benih akhir yang diperoleh saat panen. Untuk memperoleh induk yang baik, maka perlu diperhatikan dalam pemeliharaannya. Hal utama yang perlu diperhatikan yaitu pemberian pakan induk. Umumnya petani pembenihan lele sangkuriang dan lele dumbo di Kecamatan Pagelaran memberi pakan induk dengan pakan buatan yaitu berupa pelet ataupun pakan dari luar berupa keong mas, ayam dan ikan rucah. Petani tidak memiliki ukuran jumlah pakan yang diberikan. Petani mengestimasi jumlah pakan yang diberikan berdasarkan kondisi induk. Induk diberi pakan hanya 1x sehari yaitu saat sore hari. Bahkan terdapat beberapa petani yang hanya memberi pakan 3 hari sekali saja. Pertumbuhan induk akan lebih baik bila induk diberi pakan pelet 2 kali sehari dan diselingi dengan pemberian keong mas agar mempercepat pematangan gonad. Bobot induk yang dimiliki petani umumnya berkisar antara 1–2 kg per ekor.
Pemijahan Induk
Umur minimal induk lele siap mijah yaitu satu tahun. Oleh karena itu sebagian besar induk lele yang dimiliki petani di Kecamatan Pagelaran sudah memenuhi persyaratan mijah karena umumnya indukan sudah berumur diatas satu tahun. Selain umur, tingkat kematangan gonad sangat menentukan kesiapan induk untuk mijah. Induk jantan yang sudah matang gonad ditandai dengan alat kelaminnya yang meruncing melebihi pangkal sirip ekornya dan berwarna kemerahan, sedangkan induk betina ditandai dengan perut yang membesar dan terasa lembek bila ditekan serta alat kelaminnya membulat dan berwarna kemerahan. Oleh karena itu dilakukan pemilihan induk matang gonad yang siap untuk dipijahkan. Induk lele jantan dan betina yang sudah matang gonad dapat dilihat pada Gambar 8.
Pemijahan yang dilakukan oleh petani lele di Kecamatan Pagelaran secara alami dengan perbandingan induk jantan dan betina 1:1 sebanyak 2 hingga 3 pasang. Pemijahan dilakukan pada sore atau malam hari. Induk jantan dan betina ditempatkan dalam bak pemijahan ukuran 2x3 m yang sudah diletakkan kakaban/ijuk di dalam bak. Kakaban berfungsi sebagai tempat menempel telur. Pada bagian atas bak pemijahan ditutup oleh terpal atau bambu agar ikan tidak loncat. Saat memijah, induk jantan dan induk betina akan saling berkejaran. Ketika pagi hari, telur hasil pemijahan dapat dilihat menempel pada substrat kakaban atau dasar bak. Setelah telur keluar dari induk betina, induk jantan dan induk betina langsung dipindahkan atau dipisahkan dari bak pemijahan ke bak pemeliharaan.
31
Gambar 8 Induk lele jantan dan betina matang gonad
Sumber : Petani lele di Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung
Penetasan Telur
Telur hasil pemijahan akan menetas 24-48 jam setelah pembuahan. Penetasan telur dilakukan pada bak pemijahan. Telur yang baik adalah telur yang dibuahi dan memiliki warna hijau bening, kenyal dan tidak mudah hancur. Sedangkan telur yang tidak terbuahi berwarna putih pucat dan dikenal dengan istilah “ngampas”. Untuk menjaga kualitas air dalam bak, maka telur yang tidak terbuahi dibuang, karena telur tersebut dapat berjamur dan akan mempengaruhi penetasan telur yang terbuahi akibat terkena jamur.
Pemeliharaan Larva
Larva lele yang baru menetas memiliki cadangan makanan dalam tubuhnya yaitu kuning telur (yolksac) yang akan habis selama 3 hari. Ketika kuning telur akan habis, maka dalam wadah pemeliharaan sudah disediakan pakan alami yaitu cacing sutera. Pemberian cacing sutera dilakukan hingga larva berumur 10-13 hari. Keterlambatan pemberian cacing sutera pada larva dapat menyebabkan larva terkena “masuk angin”. Istilah “masuk angin” merupakan sebutan dari petani pembenihan lele terhadap larva lele yang terlambat diberi cacing sutera. Masuk angin yang dimaksud yaitu perut larva yang membesar dengan posisi terbalik berada diatas permukaan air, sehingga perut yang membesar tersebut seolah-olah seperti masuk angin. Larva lele yang terkena masuk angin lama kelamaan akan mati, karena tidak mendapat pasokan makanan. Sehingga dalam tubuhnya terdapat udara dan air yang menyebabkan perutnya membesar dengan posisi tubuh terbalik.
Dalam pemeliharaan larva dilakukan penjarangan. Penjarangan yaitu mengurangi kepadatan larva dalam satu wadah pemeliharaan ke beberapa wadah. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kanibalisme dan memberikan ruang gerak bagi ikan. Saat pemeliharaan larva dilakukan pengelolaan kualitas air yaitu dengan mengganti air pemeliharaan secara parsial ketika air pemeliharaan sudah keruh dan berbau. Selain itu larva yang mati dibuang agar tidak berjamur dan menimbulkan penyakit bagi larva yang hidup.
Pemeliharaan Benih
Pemeliharaan benih meliputi pemberian pakan, pengelolaan kualitas air, sortasi dan pengurangan kepadatan benih. Benih yang berumur 10-13 hari akan diganti pakan
32
dari cacing sutera menjadi pakan buatan yaitu pelet CP. Ketika pemberian pakan cacing sutera akan berganti dengan pelet CP, maka saat benih masih makan cacing sutera, ikan dilatih untuk makan pelet CP terlebih dahulu. Hal tersebut bertujuan agar ikan menjadi terbiasa untuk memakan pelet.
Benih memerlukan adaptasi untuk memakan pelet, karena pada awalnya benih memakan cacing sutera yang hidup dan berbau amis. Ketika overlapping, pada media pemeliharaan diberikan pelet yang diletakkan menggantung seperti bola. Ketika benih sudah lepas makan cacing dan beralih ke pakan CP, maka dilakukan pergantian air secara parsial. Pergantian air dilakukan bersamaan dengan sortasi yaitu memisahkan benih dengan ukuran yang seragam agar tidak terjadi kanibalisme. Selain itu dilakukan penjarangan kepadatan benih dan membuang benih yang mati. Terdapat petani yang melanjutkan tahapan pakan dari CP ke pakan merk Fengli, karena ukuran dan kandungan nutrisi berbeda disesuaikan dengan bukaan mulut dan pertumbuhannya. Benih dipelihara dalam bak ukuran 3x5 m yang beralaskan terpal, dapat dilihat pada Gambar 9.
Gambar 9 Bak terpal pemeliharaan benih lele
Sumber : petani lele di Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung
Pemanenan Benih
Ukuran benih lele yang dipanen dalam penelitian ini yaitu 3-5 cm dengan masa pemeliharaan 30 hingga 40 hari. Benih lele yang sering dijual oleh petani yaitu ukuran 3-5 cm. Permintaan dari petani pembesaran sebagai pembeli utama petani pembenih yaitu ukuran 3-5 cm karena daya tahan tubuhnya mampu beradaptasi dilingkungan baru. Benih tersebut dijadikan sebagai input yang ditebar pada kolam pembesaran. Benih ukuran 3-5 cm dijual dalam bentuk gelasan, dalam satu gelas benih ukuran 3-5 cm berisi 300 ekor dengan standar harga Rp15 000/gelas. Pemanenan dilakukan pada pagi atau sore hari dengan tujuan agar ikan tidak stress, karena pada pagi atau sore hari suhu udara cenderung rendah. Umumnya wadah pemeliharaan benih yang dimiliki petani pembenihan lele di Kecamatan Pagelaran adalah bak terpal yang berukuran 3x5m. Sehingga ketika panen air disurutkan dengan menggunakan selang atau pompa. Peralatan yang digunakan petani untuk panen yaitu waring, baskom, saringan sortir dan gelas takar, dapat dilihat pada Gambar 10. Petani tidak menyediakan pengemasan atau
packaging benih. Umumnya pembeli berasal dari lingkungan Kecamatan Pagelaran saja, sehingga pembeli menyediakan sendiri packaging dan sarana pengangkutan.
33
Gambar 10 Baskom, saringan sortir dan gelas takar
Sumber : petani lele di Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung
Karakteristik Petani
Responden petani dalam penelitian ini berjumlah 20 orang yang terdiri dari 10 orang petani pembenihan lele sangkuriang dan 10 orang petani pembenihan lele dumbo di Kecamatan Pagelaran. Beberapa karakteristik petani pembenihan lele yang dianggap penting yaitu usia, pendidikan, lama usaha, status usaha dan asal induk. Karakteristik tersebut penting diketahui karena merupakan indikator yang dapat mempengaruhi keberhasilan usaha dan produksi yang dihasilkan, serta untuk mengetahui pengaruhnya terhadap biaya, penerimaan dan pendapatan usaha pembenihan lele di Kecamatan Pagelaran.
Usia
Berdasarkan tingkat usia petani responden dikelompokkan menjadi petani responden dibawah 31 tahun, 31-40 tahun, 41-50 tahun dan kelompok usia lebih dari 51 tahun. Data mengenai karakteristik petani responden berdasarkan usia dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7 Karakteristik petani berdasarkan usia di Kecamatan Pagelaran Tahun 2013 Usia (tahun) Petani Lele Sangkuriang Petani Lele Dumbo
Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%)
< 30 1 10 3 30
31 – 40 4 40 6 60
41 – 50 4 40 1 10
> 51 1 10 0 0
Jumlah 10 100 10 100
Berdasarkan Tabel 7 diketahui bahwa petani lele sangkuriang yang berusia kurang dari 30 tahun hanya 1 orang atau 10 persen, sedangkan petani lele dumbo berjumlah 3 orang atau 30 persen. Hal tersebut menunjukkan bahwa jumlah petani yang berusia muda dibawah 30 tahun lebih banyak berkecimpung di usaha pembenihan
34
lele dumbo dibandingkan lele sangkuriang. Usia dibawah 30 tahun merupakan periode terbaik dalam permulaan usaha karena usia masih muda dan produktif, memiliki semangat tinggi serta ketahanan fisik yang baik. Sehingga dapat mendukung performa dalam usahanya.
Pada kelompok usia 31 hingga 40 tahun, petani lele dumbo berjumlah 6 orang atau 60 persen sedangkan petani lele sangkuriang berjumlah 4 orang atau 40 persen. Hal ini menunjukkan bahwa petani berusia 31 hingga 40 tahun lebih banyak pada usaha pembenihan lele dumbo dibandingkan lele sangkuriang. Secara umum petani lele sangkuriang maupun lele dumbo lebih banyak berada pada kelompok usia 31 hingga 40 tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa petani pembenihan lele masih tergolong usia produktif karena memiliki etos kerja dan semangat tinggi serta ketahanan fisik yang baik. Sehingga mampu meningkatkan produktivitas usaha.
Petani lele sangkuriang yang berada pada kelompok usia 41 hingga 50 tahun berjumlah 4 orang atau 40 persen, sedangkan petani lele dumbo berjumlah 1 orang atau 10 persen. Sehingga jumlah petani responden pada kelompok usia 41 hingga 50 tahun lebih banyak di usaha pembenihan lele sangkuriang dibandingkan lele dumbo. Pada kelompok usia tersebut masih tergolong produktif, memiliki etos kerja dan semangat tinggi serta ketahanan fisik yang cukup baik. Pada kelompok usia lebih dari 51 tahun, terdapat 1 orang atau 10 persen petani lele sangkuriang, sedangkan petani lele dumbo tidak ada. Hal tersebut menunjukkan bahwa faktor usia tidak menjadi kendala dalam menjalankan usaha pembenihan lele, meskipun kegiatan yang dilakukan sudah terbatas.
Pendidikan
Tingkat pendidikan yang ditempuh petani responden dibedakan dalam tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Diploma dan Sarjana. Tingkat pendidikan memiliki pengaruh dalam pelaksanaan kegiatan usaha, pengelolaan usaha dan penyerapan teknologi baru yang berkenaan dengan usaha. Sehingga petani mampu meningkatkan usaha dengan lebih baik karena didukung oleh kemampuan dan pengetahuan yang luas. Karakteristik petani lele sangkuriang dan lele dumbo berdasarkan tingkat pendidikan ditunjukkan pada Tabel 8.
Tabel 8 Karakteristik petani berdasarkan tingkat pendidikan di Kecamatan Pagelaran Tahun 2013
Tingkat Pendidikan
Petani Lele Sangkuriang Petani Lele Dumbo Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%)
SD 1 10 1 10 SMP 3 30 0 0 SMA 5 50 6 60 DIPLOMA 0 0 3 30 SARJANA 1 10 0 0 Jumlah 10 100 10 100
Berdasarkan Tabel 8 diketahui bahwa sebagian besar responden petani menempuh pendidikan hingga tingkat SMA yaitu sebanyak 5 orang atau 50 persen petani lele sangkuriang dan 6 orang atau 60 persen petani lele dumbo. Hal ini
35 menunjukkan bahwa sebagian besar tingkat pendidikan yang ditempuh petani responden sudah cukup baik. Sehingga mampu mendukung keberhasilan usaha baik secara teknis maupun non teknis. Meskipun sebagian besar petani responden berpendidikan SMA, namun ada juga petani yang hanya menempuh pendidikan hingga tingkat SD dan SMP.
Petani lele sangkuriang dan lele dumbo yang menempuh pendidikan hingga SD masing-masing berjumlah 1 orang atau 10 persen. Sedangkan petani yang menempuh pendidikan hingga SMP yaitu berjumlah 3 orang petani lele sangkuriang atau 30 persen, sedangkan petani lele dumbo tidak ada yang menempuh hingga tingkat SMP. Petani yang berada pada kategori pendidikan rendah, dimungkinkan kurang dalam penerapan teknologi baru secara teknis dan manajemen usaha. Hal ini dikarenakan umumnya teknis produksi yang dilakukan petani tersebut masih tergolong konvensional atau mengikuti kebiasaan yang sudah dilakukan secara umum atau turun temurun.
Di samping itu, terdapat petani pembenihan lele yang merupakan lulusan dari perguruan tinggi. Pada jenjang diploma terdapat sebanyak 3 orang atau 30 persen petani lele dumbo, sedangkan petani lele sangkuriang tidak ada. Pada jenjang sarjana terdapat 1 orang atau 10 persen petani lele sangkuriang, sedangkan petani lele dumbo tidak ada. Meskipun jumlah petani lulusan perguruan tinggi masih sedikit, namun hal tersebut menunjukkan bahwa para akademisi masih memiliki minat dalam sektor on farm. Seperti diketahui bahwa petani yang bergerak dalam bidang on farm umumnya adalah petani yang tidak memiliki pendidikan tinggi, bahkan masih merupakan pekerjaan yang diwariskan secara turun temurun.
Pengalaman dalam Usaha Pembenihan Ikan Lele
Karakteristik petani dalam hal pengalaman usaha pembenihan lele perlu untuk diketahui karena dapat memengaruhi kemampuan dan pemahaman dalam mengelola usaha dan penanganan masalah yang terjadi secara baik. Tingkat pengalaman petani dapat diketahui dari berapa lama petani berkecimpung dalam usaha pembenihan lele. Pengalaman cukup lama yang dimiliki petani memberikan pemahaman yang lebih baik dalam pengelolaan usaha secara teknis maupun non teknis dibandingkan petani yang memiliki pengalaman usaha belum lama. Karakteristik petani berdasarkan pengalaman usaha ditunjukkan pada Tabel 9.
Tabel 9 Karakteristik petani berdasarkan pengalaman usaha di Kecamatan Pagelaran Tahun 2013
Pengalaman Usaha (tahun)
Petani Lele Sangkuriang Petani Lele Dumbo Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%)
< 5 3 30 5 50
6 - 10 1 10 4 40
11 - 15 4 40 1 10
> 15 2 20 0 0
Jumlah 10 100 10 100
Berdasarkan Tabel 9, petani yang memiliki pengalaman usaha kurang dari 5 tahun sebanyak 3 orang dengan persentase 30 persen petani lele sangkuriang dan 5 orang dengan persentase 50 persen petani lele dumbo. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian petani lele dumbo memiliki pengalaman usaha kurang dari 5 tahun. Pada
36
pengalaman usaha 6 hingga 10 tahun, terdapat 1 orang petani lele sangkuriang dan 4 orang petani lele dumbo. Pada pengalaman usaha 11 hingga 15 tahun terdapat 4 orang atau 40 persen petani lele sangkuriang dan 1 orang atau 10 persen petani lele dumbo.
Petani yang memiliki pengalaman usaha terlama lebih dari 15 tahun hanya terdapat 1 orang atau 10 persen saja dari petani lele sangkuriang, sedangkan petani lele dumbo tidak ada yang memiliki pengalaman usaha diatas 15 tahun. Dengan demikian umumnya pengalaman usaha yang dimiliki petani lele dumbo masih tergolong belum lama bila dibandingkan pengalaman usaha petani lele sangkuriang. Lamanya pengalaman usaha yang dimiliki petani mengindikasikan bahwa petani memilki keahlian, kemampuan dan ketrampilan lebih banyak dalam bidang usahanya. Sehingga menjadikan usahanya tetap survive hingga saat ini.
Status Usaha
Karakteristik petani responden berdasarkan status usaha mencerminkan tentang sumber penghasilan usaha petani lele sangkuriang dan petani lele, apakah usaha pembenihan lele sebagai mata pencaharian utama atau sebagai mata pencaharian sampingan. Status usaha petani responden dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10 Karakteristik petani berdasarkan status usaha di Kecamatan Pagelaran Tahun 2013
Status Usaha Petani Lele Sangkuriang Petani Lele Dumbo Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%)
Utama 9 90 7 70
Sampingan 1 10 3 30
Jumlah 10 100 10 100
Berdasarkan Tabel 10 diketahui bahwa petani yang menjadikan usaha pembenihan lele sebagai pekerjaan utama yaitu sebanyak 9 orang petani lele sangkuriang, sedangkan petani lele dumbo sebanyak 7 orang. Dengan demikian petani lele sangkuriang lebih banyak yang menjadikan usaha pembenihan lele saebagai pekerjaan utama dibandingkan petani lele dumbo. Petani lele sangkuriang yang menjadikan usaha pembenihan lele sebagai pekerjaan sampingan yaitu sebanyak 1 orang dengan pekerjaan utamanya yaitu sebagai petani padi. Petani lele dumbo yang menjadikan usaha pembenihan lele sebagai pekerjaan sampingan berjumlah 3 orang dengan persentase 30 persen. Petani lele dumbo yang menjadikan usaha pembenihan sebagai usaha sampingan memiliki pekerjaan utama sebagai petani padi, perawat di unit kesehatan pemerintah dan tenaga honorer.
Petani yang menjadikan usaha pembenihan lele sebagai pekerjaan utama, menunjukkan tingkat keseriusan berbeda dalam mengelola usahanya dibandingkan yang menjadikan usaha pembenihan lele sebagai usaha sampingan. Petani yang pekerjaan utamanya adalah usaha pembenihan lebih fokus dalam pengelolaannya, dibandingkan petani yang menjadikan usaha pembenihan lele sebagai usaha sampingan karena fokus utamanya adalah pekerjaan pokok mereka. Meskipun demikian terdapat beberapa petani yang memiliki usaha sampingan diluar usaha utamanya dalam usaha pembenihan lele yaitu usahatani padi dan usaha pembesaran ikan lele dan ikan mas.
37 Usaha sampingan tersebut mereka lakukan untuk menambah penghasilan dan dilakukan ketika sudah menyelesaikan pekerjaan utama mereka.
Asal Induk
Induk merupakan faktor penting dalam usaha pembenihan lele. Induk yang berkualitas akan menghasilkan benih berkualitas dengan jumlah banyak. Induk lele sangkuriang sudah dikenal memiliki keunggulan dibanding induk lele dumbo. Namun pada kenyataannya, petani pembenihan lele di Kecamatan Pagelaran masih banyak yang menggunakan induk lele dumbo. Hal tersebut dikarenakan pemerolehan induk lele sangkuriang tidak mudah dan membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Pengadaan induk lele sangkuriang harus didatangkan dari BPPBAT Sukabumi, karena BPPBAT Sukabumi merupakan Broodstock Center induk berkualitas lele sangkuriang. Sehingga hal tersebut menjadi kendala bagi petani yang ingin mendapatkan induk lele sangkuriang, karena petani harus ke Sukabumi atau menunggu bantuan dari dinas.
Induk lele sangkuriang yang dimiliki oleh petani lele sangkuriang umumnya berasal dari bantuan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Pringsewu. Petani lele sangkuriang yang mendapatkan bantuan induk dari dinas memiliki proporsi 80 persen atau sebanyak 8 orang dan 2 orang memperoleh induk dengan membeli sendiri. Dua orang petani yang membeli induk lele sangkuriang sendiri, berinisiatif sendiri untuk membeli karena bila menunggu bantuan dari dinas belum diketahui secara pasti waktu pemberian bantuan induk lele sangkuriang.
Seluruh petani lele dumbo mendapatkan induk dengan membeli sendiri yang berjumlah 10 orang. Dinas tidak memberikan bantuan kepada petani lele dumbo, karena di dinas tidak ada program bantuan induk lele dumbo. Hal tersebut dikarenakan perolehan induk lele dumbo mudah yaitu berasal dari lele dumbo ukuran konsumsi dapat dibesarkan menjadi induk, ataupun dapat membeli dari petani yang menjual langsung ukuran induk siap mijah. Karakteristik petani berdasarkan asal induk lele dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11 Karakteristik petani berdasarkan asal induk lele di Kecamatan Pagelaran Tahun 2013
Asal Induk Lele Petani Lele Sangkuriang Petani Lele Dumbo Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%)
Bantuan Dinas 8 80 0 0
Beli Sendiri 2 20 10 100
Jumlah 10 100 10 100
Sumber Risiko Produksi Pembenihan Lele di Kecamatan Pagelaran
Berdasarkan hasil penelitian terdahulu yaitu Dewiaji (2011), Ferdian (2011), Farman (2013) dan Fektoria (2013) menyebutkan bahwa sumber risiko produksi pada usaha pembenihan lele adalah perubahan cuaca, serangan hama, penyakit, kualitas pakan, kualitas air, kanibalisme dan kawin liar atau pemijahan sendiri. Berdasarkan hasil identifikasi dan wawancara pada usaha pembenihan lele di Kecamatan Pagelaran