HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3 Karakteristik Responden .1 Tingkat Pendidikan Formal
Kualitas sumber daya manusia sangat penting perananya dalam proses pembangunan. Salah satu ukuran kualitas sumber daya manusia adalah pendidikan formal yang pernah diikuti atau ditamatkan. Tingkat pendidikan seseorang yang semakin baik akan memberikan dukungan baik secara sosial maupun ekonomi untuk melakukan aktivitas dalam kelangsungan hidupnya. Tingkat pendidikan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah lamanya pendidikan yang pernah ditempuh oleh kepala keluarga.
Tabel 4.3.1 Kelompok Responden Menurut Tingkat Pendidikan Formal Kota Makassar Tahun 2011
Tingkat Pendidikan Kaya Miskin
Frekuensi % Frekuensi % SD 0 0 22 44 SLTP 3 6 13 26 SLTA 10 20 15 30 Sarjana 37 74 0 0 Jumlah 50 100 50 100
Sumber : Hasil Olahan Data Primer,2011
Berdasarkan tabel 4.3.1 dapat dilihat pola distribusi tingkat pendidikan formal responden. Dari 100 kepala keluarga rumah tangga yang menjadi responden terdapat berbagai jenis pendidikan formal diantaranya Sekolah Dasar, SLTP, SLTA, sarjana. Pada rumah tangga kaya, tidak ada responden yang
mengecap pendidikan formal SD sedangkan pada rumah tangga miskin ada 22 responden atau 44 persen yang memilki pendidikan SD, untuk pendidikan SLTP keluarga kaya terdapat 3 responden atau 6 persen sedangkan keluarga miskin terdapat 13 responden atau 26 persen, sedangkan untuk pendidikan SLTA rumah tangga kaya sebanyak 10 responden atau 20 persen sedangkan rumah tangga miskin sebanyak 15 responden atau 30 persen. Kemudian pada rumah tangga kaya lebih banyak mengecap pendidikan pada tingkat sarjana yaitu sebanyak 37 responden atau 74 persen sedangkan pada keluarga miskin tidak terdapat responden yang mengecap pendidikan sarjana.
Rata-rata lama bersekolah keluarga miskin adalah 9 tahun. Artinya keluarga miskin rata-rata menyelesaikan studinya pada tingkat SLTP. Sedangkan keluarga kaya rata-rata bersekolah selama 16 tahun. Artinya bahwa rata-rata lama sekolah keluarga kaya adalah telah menyelesaikan studinya pada tingkat sarjana.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan suatu rumah tangga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan kepala keluarga. Hal ini ditunjukkan pada tabel di atas bahwa rumah tangga kaya pada umumnya tingkat pendidikanya adalah sarjana. Sedangkan rumah tangga miskin tingkat pendidikanya adalah tamatan SLTP.
4.3.2 Pekerjaan
Lapangan pekerjaan dapat dijadikan sebagai salah satu indikator untuk melihat perbedaan karakteristik pekerjaan penduduk perkotaan dan pedesaan. Pekerjaan kepala keluarga di lokasi penelitian mencerminkan karakteristik
penduduk perkotaan dimana sebagian besar responden PNS, pegawai swasta, wiraswasta, buruh, dan lain-lain.
Tabel 4.3.2 Kelompok Pekerjaan Kepala Rumah Tangga di Kota Makassar Tahun 2011 Pekerjaan Kepala Keluarga Kaya Miskin Frekuensi % Frekuensi % PNS/Pensiunan 19 38 3 6 Pegawai swasta 13 26 2 4 Wiraswasta 18 36 4 8 Buruh 0 0 13 26 Lain 0 0 28 56 Jumlah 50 100 50 100
Sumber : Hasil Olahan Data Primer,2011
Berdasarkan tabel 4.3.2 dapat dilihat pola distribusi responden rumah tangga miskin dan kaya menurut pekerjaanya. Pada rumah tangga miskin, lebih banyak menggeluti kelompok pekerjaan lain-lain yang terdiri dari tukang becak, sopir angkot, tukang bersih-bersih, tukang bengkel, tukang tambal ban, penjual buah-buahan sebanyak 28 responden atau 28 persen. Sedangkan pada rumah tangga kaya tidak ada responden yang bekerja pada kelompok pekerjaan lain-lain. Justru orang kaya lebih banyak bekerja sebagai PNS dan wiraswasta yaitu masing-masing sebanyak 19 dan 18 responden, dan ada juga yang bekerja sebagai kontraktor sebanyak 5 responden.
4.3.3 Tingkat Pendapatan
Perubahan kondisi ekonomi mempengaruhi perilaku masyarakat dalam menentukan pola konsumsi. Pendapatan rumah tangga yang terdiri dari pendapatan kepala keluarga dan anggoa keluarga akan mempengaruhi alokasi
untuk setiap kebutuhan keluarga. Kebutuhan tersebut terdiri dari kebutuhan untuk konsumsi pangan dan non pangan. Alokasi pola pengeluaran keluarga setidaknya ditentukan oleh prioritas atau pilihan menurut tingkat pemenuhan kebutuhan baik kebutuhan pangan maupun non pangan.
4.3.3.1 Kelompok Pendapatan Kepala Rumah Tangga Berdasarkan Rumah Tangga Kaya dan Miskin di Kota Makassar Tahun 2011
Berikut adalah tabel yang memperlihatkan pendapatan kepala rumah tangga di Kota Makassar
Tabel 4.3.3.1 Kelompok Pendapatan Kepala Rumah Tangga Berdasarkan Rumah Tangga Kaya dan Miskin di Kota Makassar Tahun 2011 Pendapatan Kepala Keluarga (Rp/Bulan) Kaya Miskin Frekuensi % Frekuensi % 500.000-1.000.000 0 0 27 54 1.000.100-1.500.000 0 0 14 28 1.500.100-2.000.000 0 0 7 14 2.000.100-2.500.000 0 0 2 4 2.500.100-3.000.000 0 0 0 0 3.000.100-3.500.000 1 2 0 0 3.500.100-4.000.000 3 6 0 0 4.000.100-4.500.000 1 2 0 0 4.500.100-5.000.000 4 8 0 0 5.000.000 + 41 82 0 0 Jumlah 50 100 50 100
Sumber : Hasil Olahan Data Primer,2011
Berdasarkan Tabel 4.3.3.1 dapat dilihat pola distribusi responden rumah tangga kaya dan miskin menurut tingkat pendapaan kepala keluarga. Pada rumah tangga kaya kelompok tingkat pendapatan, ternyata paling banyak pada kelompok pendapatan lebih dari Rp. 5.000.000 perbulan yakni sebanyak 41 responden atau 41 persen, kemudian menyusul pada kelompok pendapatan
Rp.4.500.100-5.000.000 sebanyak 4 responden sedangkan untuk rumah tangga miskin kelompok pendapatan kepala keluarga terbanyak adalah Rp.500.000-1.000.000 yaitu sebanyak 27 responden atau 27 persen kemudian menyusul kelompok pendaptan Rp.1.000.100-1 .500.000 sebanyak 17 responden.
Dari data diatas menggambarkan bahwa terjadinya perbedaan tingkat pendapatan yang nantinya akan mempengaruhi pola konsumsi. Rumah tangga yang memiliki pendapatan tinggi akan mempunyai kesempatan lebih besar untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu, jumlah dan ragam, baik barang maupun jasa yang akan dibeli rumah tangga. Untuk rumah tangga yang memilki pendapatan rendah, sebagian pendapatanya akan dialokasikan untuk membeli barang kebutuhan primer dan hanya sebagian kecil untuk untuk membeli barang kebutuhan sekunder.
4.3.3.2 Kelompok Pendapatan Anggota Rumah Tangga Berdasarkan Rumah Tangga Kaya dan Miskin di Kota Makassar Tahun 2011
Berikut adalah tabel data pendapatan anggota rumah tangga di Kota Makassar berdasarkan rumah tangga kaya dan miskin di Kota Makassar adalah:
Tabel 4.3.3.2 Kelompok Pendapatan Anggota Rumah Tangga Berdasarkan Rumah Tangga Kaya dan Miskin di Kota Makassar Tahun 2011 Pendapatan Anggota Keluarga (Rp/Bulan) Kaya Miskin Frekuesn i % Frekuensi % Tidak Bekerja 26 52 27 54 <500.000 3 6 5 10 500.100-1.000.000 1 2 10 20 1.000.100-1.500.000 2 4 3 6 1.500.100-2.000.000 5 1 5 10
2.000.100-2.500.000 4 8 0 0
2.500.100-3.000.000 3 6 0 0
3.000.100-3.500.000 3 6 0 0
3.500.100-4.000.000 3 6 0 0
Jumlah 50 100 50 100
Sumber: Hasil Olahan Data primer,2011
Berdasarkan Tabel 4.3.3.2 dapat dilihat pola distribusi responden menurut pendapatan anggota rumah tangga berdasarkan kategori rumah tangga. Baik rumah tangga kaya dan miskin, anggota rumah tangga yang tidak memiliki pendaptan atau yang tidak bekerja menempati urutan pertama. Artinya bahwa tumpuan satu-satunya keluarga hanya pada kepala keluarga dan masih tergantung pada orang tua. Untuk responden yang mempunyai anggota keluarga dengan pendapatan rendah umumnya mereka bekerja sebagai tukang cuci, tukang becak, tukang bentor ,sopir angkot, tukang tambal ban, tukang bersih-bersih, dan buruh bangunan. Sedangkan untuk anggota rumah tangga kaya, umumnya mereka bekerja sebagai wiraswasta dan PNS, pegawai swasta.
4.3.3.3 Kelompok Pendapatan Total Rumah Tangga Berdasarkan Rumah Tangga Kaya dan Miskin di Kota Makassar Tahun 2011
Berikut adalah tabel kelompok pendapatan total rumah tangga berdasarkan rumah tangga kaya dan miskin di Kota Makassar Tahun 2011 adalah sebagai berikut:
Tabel 4.3.3.3 Kelompok Pendapatan Total Rumah Tangga Berdasarkan Rumah Tangga Kaya dan Miskin di Kota Makassar Tahun 2011
Pendapatan Total
keluarga (Rp/Bulan) FrekuensiKaya % FrekuensiMiskin %
<1.000.000 0 0 6 12 1.000.100-1.500.000 0 0 29 58 1.500.100-2.000.000 0 0 6 12 2.000.100-2.500.000 0 0 4 8 2.500.100-3.000.000 0 0 3 6 3.000.100-3.500.000 1 2 2 4 3.500.100-4.000.000 1 2 0 0 4.000.100-4.500.000 9 18 0 0 4.500.100-5.000.000 4 8 0 0 5.000.100-5.500.000 2 4 0 0 5.500.100-6.000.000 2 4 0 0 6.000.100 + 31 62 0 0 Jumlah 50 100 50 100
Sumber: Hasil Olahan Data Primer, 2011
Berdasarkan tabel 4.3.3.3 dapat dilihat pola distribusi responden menurut pendapatan total rumah tangga. Pada rumah tangga kaya ada sebanyak 31 responden atau 31 persen yang masuk kelompok pendapatan lebih dari Rp.6.000.100 perbulan. Sedangkan pada keluarga miskin ada 29 respondonden yang masuk kelompok pendapatan Rp.1.000.100-1.500.000 perbulan.
Rata-rata pendapatan total dari rumah tangga miskin sebesar Rp 1.504.000 perbulan dengan pendapatan total keluarga terendah sebesar Rp.700.000 serta pendapatan tertinggi sebesar Rp.3.200.000. Sedangkan rata-rata pendapatan total dari rumah tangga kaya adalah sebesar Rp.7.286.000 pendapatan tertinggi sebesar Rp.15.000.000, sedangkan pendapatan terendah sebesar Rp.3.800.000. Dari data tersebut menggambarkan bahwa rata-rata pendapatan total rumah tangga sudah berada di atas Upah Minimum Propinsi (UMP) tahun 2010 sebesar Rp. 1.000.100, namun masih ada keluarga yang mempunyai pendapatan di bawah UMP sebanyak 14 responden.
4.3.4 Jumlah Tanggungan Keluarga
Jumlah Tanggungan Keluarga adalah banyaknya anggota keluarga yang
terdiri dari; istri, dan anak, serta orang lain yang turut serta dalam keluarga berada atau hidup dalam satu rumah dan makan bersama yang menjadi tanggungan kepala keluarga. Informasi banyaknya anggota keluarga dalam setiap rumah tangga dapat dilihat sebagai berikut.
Tabel 4.3.4 Kelompok Jumlah Tanggungan Keluarga Responden Di Kota Makassar Tahun 2011
Jumlah Tanggungan
Keluarga
Kaya Miskin JumlahAnak Kaya Miskin
Frek % Frek % Frek % Frek %
2 10 20 1 2 1 10 12 0 0 3 12 24 6 14 2 17 34 8 16 4 10 20 10 16 3 12 24 8 16 5 10 20 7 14 4 6 12 17 34 6 5 10 15 30 5 4 8 10 20 7 3 6 11 16 6 1 2 7 14 Jumlah 50 100 50 100 jumlah 40 100 50 100
Sumber: Hasil Olahan Data Primer,2011
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah tanggungan keluarga yang paling banyak pada rumah tangga kaya berada pada kelompok sama dengan 3 orang per rumah tangga yaitu sebanyak 12 responden atau 24 persen , kemudian jumlah tanggungan keluarga yang paling sedikit berada pada kelompok sama dengan 7 orang per rumah tangga yaitu sebanyak 3 responden atau 6 persen. Sedangkan pada rumah tangga miskin, jumlah tanggungan keluarga yang paling banyak berada pada kelompok sama dengan 6 orang per rumah tangga yaitu sebanyak 15 responden atau 30 persen, kemudian jumlah tanggungan keluarga yang paling sedikit berada pada kelompok sama dengan 2 orang per rumah tangga
yaitu sebanyak 1 responden atau 2 persen. Rata-rata jumlah tanggungan rumah tangga miskin adalah 5,2. Artinya setiap kepala keluarga harus menanggung 5 anggota rumah tangga. Sedangkan rata-rata jumlah tanggungan rumah tangga kaya adalah 3. Artinya setiap kepala keluarga harus menanggung 3 anggota keluarga. Semakin banyak anggota rumah tangga maka semakin besar pengeluaran untuk konsumsi pangan pokok
Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah anak yang paling banyak pada rumah tangga kaya yaitu 2 dan 3 orang anak yang dijumpai pada masing-masing rumah tangga yaitu 17 responden (34%) dan 12 responden (24%). Sedangkan jumlah anak yang paling banyak pada rumah tangga miskin yaitu 4 dan 5 orang anak yang dijumpai pada masing-masing rumah tangga yaitu 17 responden (34%) dan 10 responden (20%).
Dari data diatas menjelaskan bahwa umumnya rumah tangga kaya memiliki jumlah tanggungan keluarga lebih sedikit dibandingkan rumah tangga miskin dengan kata lain orang miskin memiliki banyak anak dibandingkan orang kaya. Hal ini karena anak bagi masyarakat miskin dipandang sebagai suatu investasi ekonomi yang nantinya diharapkan akan mendatangkan suatu hasil baik dalam bentuk tambahan tenaga kerja maupun sebagai sumber finansial orang tua di usia lanjut. Sedangkan pada umumnya orang kaya, menggangap bahwa jika memiliki anak sedikit ( 2 atau 3 orang) maka mereka bisa disekolahkan sampai setinggi,dibina sebaik mungkin sehingga diharapkan anak-anak mereka akan lebih baik dari orang tuanya. Sehingga nantinya mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan penghasilan yang tinggi juga.
4.4 Pola Pengeluaran Konsumsi Pangan dan Non Pangan Rumah Tangga