HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4 Pola Pengeluaran Konsumsi Pangan dan Non Pangan Rumah Tangga Kaya dan Miskin di Kota Makassar Tahun 2011
Akibat adanya kendala keterbatasan pendapatan serta keinginan untuk mengkonsumsi barang dan jasa sebanyak-sebanyaknya agar diperoleh kepuasan yang maksimal, maka rumah tangga akan berusaha untuk mengalokasikan pendapatanya sesuai dengan daya guna dari barang dan jasa yang diinginkan. Berikut adalah beberapa pembagian yang memperlihatkan Pola pengeluaran pangan masyarakat.
4.4.1 Kelompok Alokasi Pengeluaran untuk Kebutuhan Pangan Menurut Kategori Rumah Tangga Kaya dan Miskin di Kota Makassar Tahun 2011
Berikut adalah tabel yang memperlihatkan alokasi pengeluarn untuk kebutuhan pangan menurut kategori rumah tangga kaya dan miskin.
Tabel 4.4.1 Kelompok Alokasi Pengeluaran untuk Kebutuhan Pangan Menurut Kategori Rumah Tangga Kaya dan Miskin Di Kota Makassar Tahun 2011 Pengeluaran Pangan (Rp/bulan) Miskin Kaya Frekuens i % Frekuensi % ≤500.000 17 34 0 0 500.100-1.000.000 30 60 16 32 1.000.100-1.500.000 3 6 23 46 1.500.100 + 0 0 11 22
Jumlah 50 100 50 100 Sumber ; Hasil Olahan Data Primer,2011
Alokasi pola pengeluaran menurut kategori rumah tangga untuk konsumsi pangan dapat dilihat pada tabel 4.4.1 terlihat secara jelas perbandingan alokasi pola pengeluaran menurut kategori rumah tangga yaitu kaya dan miskin. Untuk pengeluaran pangan sebesar Rp 5.00.000 perbulan kebawah pada keluarga miskin sebanyak 17 responden atau 34 persen sedangkan pada rumah tangga kaya tidak ada responden yang masuk kategori tersebut. Kemudian untuk pengeluaran pangan sebesar Rp.500.100-1.000.000 perbulan, pada rumah tangga miskin sebanyak 30 responden atau 60 persen sedangkan pada keluarga kaya sebanyak 16 responden atau 32 persen. Pengeluaran pangan di atas Rp.1.500.100 perbulan, tidak ada responden pada rumah tangga miskin sedangkan pada rumah tangga kaya sebanyak 11 responden atau 22 persen.
Dari data tersebut menggambarkan bahwa rumah tangga miskin mengalokasikan pengeluaran untuk pangan relative lebih sedikit dibanding rumah tanga yang kaya, hal itu terjadi karena keterbatasan angggaran atau biaya yang dimiliki. Perbedaan tingkat pendapatan akan menimbulkan perbedaan pola konsumsi.Rumah tangga kaya yang memiliki pendapatan yang lebih tinggi akan memiliki kesempatan lebih besar untuk meningkatkan mutu,jumlah dan ragam baik barang maupun jasa yang dibeli oleh rumah tangga.Untuk rumah tangga miskin, sebagian pendapatanya akan dialokasikan untuk membeli barang kebutuhan pokok dan hanya sebagian kecil untuk membeli barang kebutuhan sekunder.
4.4.2 Kelompok Alokasi Pengeluaran untuk Kebutuhan Non Pangan Menurut Kategori Rumah Tangga Miskin dan Kaya Di Kota Makassar Tahun 2011
Berikut adalah alokasi pengeluaran untuk kebutuhan non pangan menurut kategori rumah tangga miskin dan kaya di Kota Makassar
Tabel 4.4.2 Kelompok Alokasi Pengeluaran untuk Kebutuhan Non Pangan Menurut Kategori Rumah Tangga Miskin dan Kaya di Kota Makassar Tahun 2011. Pengeluaran Non Pangan (Rp/bulan) Miskin Kaya Frekuens i % Frekuensi % ≤350.000 12 24 0 0 350.100-500.000 11 22 0 0 500.100-1.000.000 25 50 2 4 1.000.100-1.500.000 2 4 9 18 1.500.100 + 0 0 39 78 Jumlah 50 100 50 100
Sumber : Hasil Olahan data Primer,2011
Berdasarkan tabel 4.4.2 dapat dilihat kelompok responden menurut pola alokasi pengeluaran untuk konsumsi non pangan pada rumah tangga miskin dan kaya. Dimana responden kaya terdiri dari 50 responden dan rumah tangga miskin terdiri dari 50 responden. Untuk pengeluaran non pangan sebesar Rp.350.000 perbulan ke bawah, pada rumah tangga miskin sebanyak 12 responden atau 24 %, sedangkan pada rumah tangga kaya kaya tidak ada responden yang masuk kriteria tersebut. Pada pengeluaran non pangan sebesar Rp. 350.100-500.000 perbulan , rumah tangga miskin sebanyak 11 responden atau 22 persen sedangkan rumah tangga kaya tidak ada responden yang masuk kriteria tersebut. Sedangkan untuk pengeluaran non pangan Rp.1.00.100-1.500.000 perbulan, pada rumah tangga miskin sebanyak 2 responden atau 4 persen sedangkan pada rumah tangga kaya
sebesar 9 responden atau 18 persen. Pada pengeluaran non pangan diatas Rp.1.500.100 perbulan pada rumah tangga miskin tidak ada responden, sedangkan pada rumah tangga kaya lebih besar pengeluaranya yaitu sebanyak 39 responden atau 78 persen .
Rata-rata alokasi pengeluaran pangan untuk rumah tangga miskin sebesar Rp.641.620 perbulan, sedangkan untuk rumah tangga kaya sebesar Rp.1.080.320 perbulan, yang terdistribusi ke dalam ; makanan pokok, protein hewani, potein nabati, sayur-sayuran, buah-buahan, jajanan dan kelompok kebutuhan lain-lain (teh, kopi, gula, minyak goreng, bumbu dapur, dll). Persentasi dan tingkatanya dapat dilihat pada tabel berikut
4.4.3 Persentasi Rata-rata Pengeluaran Untuk Kebutuhan Pangan Menurut Rumah Tangga Kaya dan Miskin di Kota Makassar Tahun 2011
Berikut adalah data rata-rata pengeluran untuk kebutuhan pangan menurut kategori rumah tangga kota makassar tahun 2011 adalah sebagai berikut:
Tabel 4.4.3 Persentasi Rata-rata Pengeluaran Untuk Kebutuhan Pangan Menurut Rumah Tangga Kaya dan Miskin di Kota Makassar Tahun 2011
Pangan Miskin Kaya
% Urutan % Urutan Makanan Pokok 22,85 1 13,27 5 Protein Hewani 17,39 2 18,12 1 Protein nabati 14,70 3 13,94 4 Sayur-sayuran 13,78 4 12,07 6 Buah-buahan 8,91 7 10,65 7
Jajanan 10,72 6 14,3 3
Lain-lain 11,64 5 17,71 2
Jumlah 100 100
Sumber: Hasil olahan data primer,2011
Berdasarkan tabel di atas ,dapat dilihat perbedaan alokasi dan prioritas pengeluaran untuk kebutuhan pangan pada rumah tangga miskin dan kaya. Pada rumah tangga miskin yang menduduki urutan pertama adalah kebutuhan makanan pokok berupa beras, yaitu sebesar 22,85 persen atau rata-rata sebesar Rp.140.500,00 perbulan. Sedangkan untuk rumah tangga kaya beras menduduki urutan kelima yaitu sebesar 13,27 persen atau rata-rata alokasi anggaranya sebesar Rp.183.400 perbulan.
Sementara jenis konsumsi makanan yang relatif kecil pada rumah tangga kaya adalah pada sub kelompok konsumsi buah, sayur, dan beras . Sebagai barang inferior rata-rata keluarga kaya mengkonsumsi buah-buahan Rp.147.200 per keluarga per bulan. Untuk konsumsi sayur juga relatif kecil yang hanya Rp.165.980,dan beras Rp.183.400. Beras bagi rumah tangga miskin merupakan barang superior yang paling banyak diminta oleh rumah tangga miskin. Hal ini karena pendapatanya yang rendah dan banyaknya jumlah tanggungan keluarga sehingga sebagian besar dari pada pendapatan digunakan untuk membeli beras.
Alokasi pengeluaran untuk kebutuhan protein hewani yang terdiri dari daging ,susu, telur, dan ikan pada keluarga miskin menempati urutan kedua yaitu sebesar 17,39 persen atau rata-rata sebesar Rp.113.100 perbulan, sedangkan untuk keluarga kaya menempati prioritas utama yaitu sebesar 18,12 persen atau rata-rata sebesar Rp.250.400,00 perbulan.
Alokasi pengeluaran untuk kelompok kebutuhan lain-lain yang terdiri dari teh, kopi ,gula, bumbu dapur ,minyak goreng, dan lain-lain pada rumah tangga miskin menduduki uruan kelima sebesar 11,6,4 persen atau rata-rata sebesar Rp.78.980 perbulan, sedang pada rumah tangga kaya menduduki urutan yang kedua sebesar 17,71 persen atau rata-rata sebesar Rp.244.800 perbulan.
Karena keterbatasanya anggaran yang dimilki rumah tangga miskin untuk memenuhi kebutuhan panganya maka ia akan berusaha memenuhi kebutuhanya dengan jalan memilih jenis pangan yang relatif murah. Salah satunya adalah beras. Sedangkan pada rumah tangga yang kaya makanan pokok atau beras hanya menduduki prioritas keempat, yang menjadi prioritas utama adalah protein hewani yang terdiri dari daging, susu, ikan dan telur. Hal in terjadi karena mereka memiliki anggaran yang cukup untuk alokasi kebuuhan panganya. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Sediaoetama (1985) bahwa, semakin rendah tingkat ekonomi suatu masyarakat, semakin tinggi persentasi energi yang digunakan berasal dari karbohidrat atau beras, karena energi dari karbohidrat termasuk yang paling murah harganya. Lebih lanjut dikatakan bahwa, masyarakat yang mengalami kemajuan pada sektor ekonomi menunjukkan pergeseran sumber energi dari karbohidrat kearah protein atau lemak.
4.4.4 Persentasi Rata-rata Pengeluaran Untuk Kebutuhan Non Pangan Menurut Rumah Tangga Kaya dan Miskin Di Kota Makassar Tahun 2011
Berikut adalah tabel yang memperlihatkan rata-rata pengeluaran untuk kebutuhan Non Pangan di Kota Makassar.
Tabel 4.4.4 Persentasi Rata-rata Pengeluaran Untuk kebutuhan Non Pangan Menurut Rumah Tangga Kaya dan Miskin Di Kota Makassar Tahun 2011
Non Pangan Miskin Kaya
% Urutan % Urutan Sandang 6,09 7 10,22 3 Papan 1,11 11 0,79 11 Pendidikan 8,99 5 25,51 1 Kesehatan 1,27 10 3,61 10 Transportasi 17,51 3 10,19 4
Perabotan rumah tangga 4,72 8 8,47 6
Hiburan 6,68 6 9,21 5
Tabungan 1,48 9 11,09 2
Minyak tanah,gas 18,46 1 4,33 9
Rekening(listrik,air,tlp,koran) 15,99 4 8,33 7
Lain-lain 17,71 2 8,21 8
Sumber: Hasil Olahan Data Primer, 2011
Pada tabel 4.4.4 alokasi pengeluaran untuk kebutuhahn non pangan pada rumah tangga miskin yang menduduki urutan pertama yaitu kelompok pengeluaran minyak tanah, gas yaitu sebanyak 18,46 persen atau rata-rata sebesar Rp.115.940,00. Ini menunjukkan bahwa kebtuhan untuk minyak tanah bagi keluarga yang menjadi responden sangat penting karena mereka memasak banyak menggunakan minyak tanah karena rata-rata rumah tangga masih banyak yang menggunakan kompor. Sedangkan pada rumah tangga kaya yang menduduki urutan pertama yaitu biaya pendidikan rata-rata sebesar Rp.965.000 per keluarga per bulan. Menyusul adalah tabungan rata-rata sebesar Rp.419.400 per keluarga per bulan. Sebagian dari pendapatan mereka alokasikan untuk tabungan, alasan melakukan saving adalah untuk membiayai keperluan/konsumsi di masa mendatang terutama untuk membiayai pendidikan.
Rata-rata alokasi pengeluaran non pangan pada rumah tangga kaya adalah sebesar Rp 12.419.730,00 perbulan. Sedangkan untuk keluarga miskin hanya sebesar Rp 628.000,00 perbulan
4.5 Perbandingan Pola Konsumsi Rumah Tangga Kaya dan Miskin