BAB III FENOMENA AJAKAN BUNUH DIRI DALAM TWITTER DI
3.2 Dampak Fenomena Ajakan Bunuh Diri dalam Twitter di
Setiap fenomena memiliki dampak yang ditimbulkan baik dampak positif mau pun negatif. Tidak hanya itu, dampaknya hanya memengaruhi kalangan tertentu. Ada pun deskripsi mengenai dampak Fenomena Ajakan Bunuh Diri Dalam Twitter Di Jepang ini dibagi atas beberapa golongan.
Berikut dampak negatif yang ditimbulkan oleh fenomena ajakan bunuh diri dalam twitter di jepang.
1. Masyarakat yang menggunakan social media dan melihat konten, dalam kondisi kejiwaan yang sehat maupun tidak, rentan terdoktrin untuk melakukan tindakan yang serupa. Jika melihat konten yang serupa secara berulang-ulang dapat menyebabkan orang yang semula jiwanya sehat, mulai mengalami pemikiran untuk bunuh diri, meningkatkan stres dan depresi, atau efek samping lainnya..
2. Penyebaran konten juga dapat memicu bunuh diri tiruan (copycat suicide). Informasi bunuh diri yang terlalu mendetail seperti alasan
melakukan tindakan bunuh diri dan cara yang dipakai untuk bunuh diri dapat mendorong orang yang sedang depresi, memiliki masalah pribadi, atau memiliki pemikiran bunuh diri untuk ikut melakukan bunuh diri dengan alasan dan cara yang sama.
3. Orang-orang yang kenal dekat dengan orang yang melakukan tindakan bunuh diri social media bisa saja terganggu kenyamanannya. Hal ini dapat terjadi karena beragam penyebab, seperti karena munculnya komentar yang tidak baik di media massa.
4. Jika berbicara seputar bunuh diri, tentunya tindakan ini akan mengakibatkan turunnya angka populasi penduduk yang membuat pemerintah semakin resah.
5. Dapat menimbulkan tindak kejahatan baru seperti pembunuhan, perdagangan manusia, dan lain-lain.
Ada pun dampak positif yang ditimbulkan fenomena ajakan bunuh diri dalam twitter di jepang adalah sebagai berikut.
1. Meningkatkan pendapatan bagi pihak twitter karena semakin banyak yang membuat akun khusus untuk tindakan bunuh diri.
2. Sebagai data untuk bahan penelitian sosial.
3. Semakin berkembangnya perusahaan yang bergerak di bidang konseling, baik bimbingan secara langsung mau pun tidak langsung.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di bab-bab sebelumnya, maka kesimpulan yang dapat diambil yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas pada skripsi yang berjudul ―Fenomena Ajakan Bunuh Diri Dalam Twitter Di Jepang‖ adalah sebagai berikut.
1. Bentuk postingan konten yang ditulis dalam bentuk tweet pada fenomena konten social media di twitter yang mengatakan ingin bunuh diri bersama tidak selalu memiliki format yang sama persis. Ada beberapa yang dilengkapi dengan informasi lengkap yang bersifat pribadi sehingga usia dan jenis kelamin pelaku diketahui, namun ada pula yang hanya sebatas ungkapan ingin turut serta melakukan tindakan bunuh diri.
2. Pada fenomena ini beberapa akun ada yang sudah lama dibuat dan digunakan untuk curhatan sehari-hari mengenai keluh kesah pelaku namun ada pula yang mengkhususkan membuat sebuah akun untuk melakukan tindakan bunuh diri bersama.
3. Respon yang didapat beragam, ada yang setuju dan ingin melakukan hal yang serupa sehingga mereka dapat melakukan tindakan bunuh diri bersama dan ada pula yang mencoba menahan pelaku untuk melakukan hal tersebut.
4. Bentuk atau cara bunuh diri yang dominan dilakukan pada fenomena ini adalah dengan cara meracuni diri sendiri. Cara bunuh diri yang dipaparkan melalui cuplikan kasus pertama adalah dengan meminum obat tidur dalam dosis tinggi sedangkan, dalam cuplikan kasus kedua dan ketiga digunakan briket atau arang untuk melakukan tindakan bunuh diri. Keduanya memilik persamaan, yaitu sama-sama melakukan tindakan bunuh diri dengan cara meracuni diri sendiri.
5. Tindakan bunuh diri pada fenomena konten social media suicide di twitter pada masyarakat Jepang didominasi jenis bunuh diri egoistik. Dapat dilihat pada beberapa postingan-postingan tweet yang ada sebelum mereka berkeinginan melakukan tindakan bunuh diri. Hal ini dipicu karena kepribadian orang Jepang yang merasa tidak dapat memenuhi peran yang dituntut oleh masyarakat, hingga berujung frustasi.
4.2. Saran
Saran yang dapat penulis sampaikan dalam penulisan ini adalah yang paling utama yaitu perlu adanya penanaman sejak dini tentang betapa berharganya pribadi seseorang dilahirkan. Lalu, perlunya pemahaman agama yang cukup agar tidak dengan mudahnya berpikir bahwa masalah dapat diselesaikan dengan cara bunuh diri. Selain itu, perlunya ada pengawasan khusus dari orang terdekat terkait penggunaan social media bagi seluruh kalangan agar tidak disalah gunakan.
Hendaklah bijak dalam menggunakan social media. Social media bukanlah hal yang dapat disalahkan karena selama menjadi pengguna yang bijak tentu social media akan baik bagi siapa pun.
DAFTAR PUSTAKA
Agung, G. 2003. Panduan Praktis Berinternet Untuk Pemula. Yogya: Panduan.
Al-Husain. Sulaiman. 2005. Mengapa Harus Bunuh Diri. Jakarta : Qisthi Press.
Alwisol. 2009. Psikologi Kepribadian. Malang : UMM Press.
Baudrillard, J. 1994. Simulacra and Simulations. Ann Arbor: University of Michigan Press
Corr, C. A., Corr, D. M., & Nabe, C. M. (2003). Death and Dying Live and Living (4th ed.). USA: Wadsworth.
Durkheim, E. 1857. Suicide: A Study in Sociology (terj., 1952). London:
Routledge.
Friedman, Thomas L. 2007. The World is Flat. Picador Edition
Fuchs, C. 2014. Social Media a Critical Introduction. Los Angeles: SAGE Publication, Ltd
Gane, N., & D. Beer. 2008. New Media, The Key Concept. New York: Berg
Hunter, Richard. 2002. World Without Secrets: Business, Crime, and Privacy in the Age of Ubiquitous Computing. New York : John Wiley &Sons,Inc
Jenkins, H. 2002. ―Interactive Audiences? The „Collective Intelligence‟ Of Media Fans”. Retrieved from http://web.mit.edu/
Jordan, T. 1999. Cyberpower, The Culture and Politics of Cyberspace and the Internet. New York: Routledge
Juditha, Chistiany. 2014. Jurnal Pekommas Volume 17 Nomor 2. Opini Publik Terhadap Kasus “KPK Lawan Polisi” dalam Media Sosial Twitter.
Kartono, K. 2000. Hygiene Mental.Jakarta : CV. Mandar Maju
Laughey, D. 2007. Themes in media theory. New York: Open University Press Lister, Martin et al. 2003. New Media: a Critical Introduction. London: Routledge
McLuhan, M. Fiore, Q.1967. The Medium is the Message: An Inventory of Effects.
NewYork: Bantam
Nasrullah, R. 2012. Komunikasi Antar Budaya di Era Budaya Siber. Jakarta:
Prenada Media
Nasrullah, R. 2015. Media Sosial: Prespektif Komunikasi, Budaya dan Sosioteknologi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media
Nazir, Moh. 1988. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia
Prabowo, Sigit. 2016. Wacana Volume XV Nomor 3. Reaksi Mahasiswa Public Relation Terhadap Komunikasi Online Melalui Media Sosial Twitter.
Pusat Bahasa. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama
Putri, Eivirt Duta Prathami. 2012. Hubungan Penggunaan Akun Twitter @infobdg dengan Sikap Followers Terhadap Perusahaan (Skripsi). Bandung:
Universitas Padjajaran.
Rakhmat, Jalaludin. 2004. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung :Rosdakarya
Reddick, R. dan King, E. 1996. Internet Untuk Wartawan – Internet Untuk Semua Orang (Terjemahan). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Semiawan, Conny R. 2010. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Grasindo
Sukmadinata, 2006. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Graha Aksara Suparmo, Ludwig. 2011. Aspek Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT. Indeks
Syafira, Bella. 2017. Fenomena Bunuh Diri di Hutan Aokigahara Jepang (Skripsi). Medan: Universitas Sumatera Utara
Wirawan, Ida Bagus. 2012. Teori-teori Sosial Dalam Tiga Paradigma. Jakarta:
Kencana Prenadamedia Group
http://www.omanobserver.om/social-media-suicide-focus-japan-twitter-killer/
(diakses pada tanggal 12 Maret 2018)
https://en.wikipedia.org/wiki/Social_media_and_suicide (diakses pada tanggal 17 Maret 2018)
https://id.wikipedia.org/wiki/Media_sosial (diakses pada tanggal 23 Maret 2018)
https://www.bbc.com/indonesia/majalah-41952561 (diakses pada tanggal 12 Maret 2018)
https://www.motionpoint.com/blog/social-media-in-japan/ (diakses pada tanggal 21 September 2018)
1.1 Pengguna akun Moka pertama kali bergabung di twitter
1.2 Tweet pertama yang diposting oleh Moka
1.3 Postingan tweet yang ditulis oleh Moka atas keinginannya untuk melakukan tindakan bunuh diri bersama
1.4 Respon pengguna lain yang mengatakan agar Moka tidak melakukan tindakan bunuh diri tersebut
1.5 Respon pengguna lain yang tertarik untuk ikut melakukan tindakan bunuh diri bersama Moka
1.7 Postingan tweet yang ditulis oleh Inoue atas keinginannya untuk melakukan tindakan bunuh diri bersama
1.8 Respon pengguna lain yang tertarik untuk ikut melakukan tindakan bunuh diri bersama Inoue
1.9 Pengguna akun Zetsubō pertama kali bergabung di twitter
1.10 Postingan tweet yang ditulis oleh Zetsubō atas keinginannya untuk melakukan tindakan bunuh diri bersama
1.11 Respon pengguna lain yang mengatakan agar Zetsubō tidak melakukan tindakan bunuh diri tersebut
Jepang merupakan Negara yang dikenal dengan perkembangan teknologinya yang canggih, salah satunya ialah kehadiran ponsel. Hal yang paling berpengaruh terhadap penggunaan ponsel di Jepang antara lain akses internet khususnya penggunaan social media. Penggunaan social media yang sangat akrab dengan masyarakat Jepang menjadikannya kebutuhan primer.
Social media yang beragam tidak semuanya digemari oleh masyarakat Jepang. Beberapa social media yang digemari oleh masyarakat Jepang di antaranya, Mixi, Facebook, Gree, Line, Mobage dan Twitter. Salah satu yang paling populer di kalangan masyarakat Jepang adalah social media twitter.
Walau pun penggunaan social media membuat kehidupan lebih mudah bagi masyarakat Jepang namun, ternyata penggunaannya dapat memberikan dampak negatif.
Hal ini berkaitan dengan budaya yang lekat dengan masyarakat Jepang yakni, bunuh diri.
Saat ini masyarakat Jepang dapat dengan mudah melakukan tindak bunuh diri
dengan didukung oleh social media khususnya twitter. Fenomena ini dikenal dengan istilah Social Media Suicide. Cara kerja dari Social Media Suicide pada twitter ini tidak begitu jauh dengan Internet Suicide yang sudah lahir lebih dahulu di kalangan masyarakat Jepang. Jika Internet Suicide mengandalkan website, maka Social Media Suicide di Twitter memanfaatkan following yang bisa berasal dari berbagai asal daerah. Sehingga tanda tagar atau hashtag yang bisa dilihat oleh semua pengguna Twitter. Pelaku dalam fenomena Social Media Suicide pada awalnya akan menuliskan tweet berisi keinginannya untuk bunuh diri dan tentu saja ajakan pada siapa pun yang membaca tweetnya. Hal ini dilakukan agar orang-orang yang berkeinginan melakukan tindakan bunuh diri tahu bahwa mereka juga memiliki tujuan yang sama. Tweet ini biasanya juga disertakan tanda tagar untuk mempermudah pencarian bagi orang-orang yang memiliki tujuan serupa.
Walau pun memiliki tujuan yang sama yakni melakukan tindakan bunuh diri, tetapi tweet yang disampaikan tidak selalu sama. Ada ajakan yang ditujukan untuk pengguna yang lokasinya secara menyeluruh, lalu ada pula ajakan yang ditujukan untuk satu wilayah tertentu. Tidak hanya itu, dalam beberapa kasus ada yang memaparkan bagaimana cara atau bentuk bunuh diri yang akan dilakukan. Selain itu pelaku social media suicide melalui twitter ini bila melihat halaman akunnya ada yang sudah cukup lama menulis tweet berupa kekecewaan dengan hidup mereka. Namun, ada pula yang sengaja membuat akun baru hanya untuk melakukan perekrutan bunuh diri bersama.
Hal itu membuat fenomena ini semakin meresahkan banyak pihak. Bunuh diri yang sudah menjadi masalah yang sulit untuk diselesaikan hingga saat ini, kini semakin diperburuk dengan hadirnya social media. Masalah ini butuh perhatian lebih dari banyak pihak. Mulai dari orang terdekat hingga pemerintah.
日本
に自殺方を詳しく伝わることもある。この現象でどんな優勢の自殺の種類か知ることができ