BAB I PENDAHULUAN
1.6 Metode Penelitian
Metode (method) secara harfiah berarti cara. Selain itu metode atau metodik berasal dari bahasa Greeka, metha (melalui atau melewati) dan hodos (jalan atau cara), jadi metode bisa berarti jalan atau cara yang harus di lalui untuk mencapai tujuan tertentu.
Metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.
Sukmadinata (2006) menyatakan bahwa metode deskriptif merupakan suatu bentuk metode penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu dapat berupa bentuk, aktivitas, perubahan, karakteristik, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya
Penulis juga menggunakan metode kepustakaan. Metode kepustakaan adalah studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan (Nazir, 1988:111).
Di samping itu penulis juga memperoleh data-data dari beberapa situs di internet yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti. Seluruh data-data yang didapat baik dari proses studi kepustakaan maupun data internet, akan dianalisa dan kemudian diinterpretasikan untuk mendapatkan hasil berupa kesimpulan.
BAB II
TINJAUAN UMUM TERHADAP FENOMENA AJAKAN BUNUH DIRI DALAM TWITTER DI JEPANG
2.1 Internet
2.1.1 Sejarah Internet
Internet berasal dari kata Interconnection Networking, yang berarti semacam jaringan yang mampu menghubungkan seseorang dengan informasi dunia dan masyarakat global (Agung, 2003: 2). Sementara menurut Reddick dan King (1996: 100), internet adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan saling hubungan antara jaringan-jaringan komputer yang sedemikian rupa, sehingga memungkinkan komputer-komputer itu berkomunikasi satu sama lain.
Sejarah mengenai internet dijabarkan dengan cukup baik oleh Reddick dan King (1996:
107-110). Berawal pada tahun 1957, Departemen 13 Pertahanan Amerika Serikat melalui Advanced Research Projects Agency (ARPA), bertekad mengembangkan jaringan komunikasi terintegrasi yang saling menghubungkan komunitas sains dan keperluan penelitian militer.
Sehingga memungkinkan para peneliti yang tersebat di Amerika Serikat dapat dengan mudah saling bertukar file komputer dan saling berkirim surat. Hal ini dilatar belakangi oleh terjadinya perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet.
Pada tahun 1960 penelitian menghasilkan temuan bernama paket switching. Paket switching adalah pengiriman pesan yang dapat dipecah dalam paket-paket kecil yang masing-masing paketnya dapat melalui berbagai alternatif jalur jika salah satu jalur rusak untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan. Paket switching juga memungkinkan jaringan dapat digunakan secara bersamaan untuk melakukan banyak koneksi, berbeda dengan jalur telepon yang memerlukan jalur khusus untuk melakukan koneksi.
Pada tahun 1969 diluncurkan sebuah jaringan percobaan yang bernama, ARPA-net. Maka ketika ARPANET menjadi jaringan komputer nasional di Amerika Serikat pada 1969, paket switching digunakan secara menyeluruh sebagai metode komunikasinya menggantikan circuit switch (TCP) dan di tahun yang sama pula, sudah lebih dari 10 komputer yang berhasil dihubungkan satu sama lain sehingga mereka bisa saling berkomunikasi dan membentuk sebuah jaringan. Dengan protokol yang standar dan disepakati secara luas, maka jaringan lokal yang tersebar di berbagai tempat dapat saling terhubung membentuk jaringan raksasa bahkan sekarang ini menjangkau seluruh dunia. Jaringan dengan menggunakan protokol internet inilah yang sering disebut sebagai jaringan internet.
Tahun 1972, Roy Tomlinson berhasil menyempurnakan program e-mail yang ia ciptakan setahun yang lalu untuk ARPANET. Program e-mail ini begitu mudah sehingga langsung menjadi populer. Pada tahun yang sama, icon (@) juga diperkenalkan sebagai lambang penting yang menunjukkan ―at‖ atau ―pada‖.
Tahun 1973, jaringan komputer ARPANET mulai dikembangkan ke luar Amerika Serikat. Jaringan ARPANET menjadi semakin besar sejak saat itu dan mulai dikelola oleh pihak swasta pada tahun 1984, maka semakin banyak universitas tergabung dan mulailah perusahaan komersial masuk. Protokol TCP/IP menjadi protokol umum yang disepakati sehingga dapat saling berkomunikasi pada jaringan internet ini. Untuk menyeragamkan alamat di jaringan komputer yang ada, maka pada tahun 1984 diperkenalkan sistem nama domain, yang kini kita
kenal dengan DNS atau Domain Name System. Komputer yang tersambung dengan jaringan yang ada sudah melebihi 1000 komputer lebih. Pada 1987 jumlah komputer yang tersambung ke jaringan melonjak 10 kali lipat manjadi 10.000 lebih.
Pada tahun 1988 Jarko Oikarinen dari Finland menemukan dan sekaligus memperkenalkan IRC atau Internet Relay Chat. Setahun kemudian, jumlah komputer yang saling berhubungan kembali melonjak 10 kali lipat dalam setahun. Tak kurang dari 100.000 komputer kini membentuk sebuah jaringan. Pada tahun 1990, Tim Berners Lee menemukan program editor dan browser yang bisa menjelajah antara satu komputer dengan komputer yang lainnya, yang membentuk jaringan itu. Program inilah yang disebut WWW atau World Wide Web. Aplikasi World Wide Web (WWW) ini menjadi konten yang dinanti semua pengguna internet. WWW membuat semua pengguna dapat saling berbagi bermacam-macam aplikasi dan konten, serta saling mengaitkan materi-materi yang tersebar di internet. Sejak saat itu pertumbuhan pengguna internet meroket.
2.2 Social Media
2.2.1 Pengertian Social Media
Salah satu bentuk baru dalam berkomunikasi yang ditawarkan dalam dunia internet adalah social media. Dengan menggunakan media sosial dalam internet, pengguna bisa meluaskan perkataan ataupun hal yang dialami.
Kata media merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah mempunyai arti perantara atau pengantar. Media juga dapat diartikan sebagai alat atau sarana yang dipergunakan untuk menyampaikan pesan seseorang (komunikator) kepada orang lain (khalayak). Media pada umunya ―bertujuan memfasilitasi komunikasi antartempat (jarak) tanpa harus disaksikan langsung secara fisik‖ (Ludwig Suparmo, 2011:25).
Media memiliki kekuatan yang juga berkontribusi menciptakan makna dan budaya.
Kesadaran akan kekuatan media ini pada kenyataannya melihat bahwa media tidak lagi membawa konten semata, tetapi juga membawa konteks di dalamnya. Ungkapan ―the medium is the message‖ yang dipopulerkan McLuhan (McLuhan & Fiore, 2001) membawa kesadaran awal bahwa medium adalah pesan yang bisa mengubah pola komunikasi, budaya komunikasi, sampai bahasa dalam komunikasi antar manusia (Nasrullah, 2015:4).
Kata ―sosial‖ dalam social media secara teori semestinya didekati oleh ranah sosiologi.
Dalam teori sosiologi disebutkan bahwa media pada dasarnya adalah sosial karena media merupakan bagian dari masyarakat dan aspek dari masyarakat yang direpresentasikan dalam bentuk perangkat teknologi yang digunakan (Nasrullah, 2015:6). Sebagai manusia individu tidak bisa terlepas dari komunikasi dan komunitasnya. Komunikasi menjadi sarana bagi individu untuk berinteraksi dengan individu lain, sedangkan komunitas merupakan salah satu bentuk relasi
sosial yang melibatkan emosi, perasaan, dan bentuk-bentuk lainnya. Individu-individu yang ada di dalam komunitas itu tidak hanya berada dalam sebuah lingkungan. Anggota komunitas harus berkolaborasi hingga bekerja sama karena inilah karakter sosial itu sendiri (Nasrullah, 2015:7).
Menurut Wikipedia, social media adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual.
Berikut ini adalah beberapa definisi dari social media yang berasal dari berbagai literatur penelitian dalam Fuchs (2014: 35-36):
1. Mandiberg (2012) mengungkapkan social media adalah media yang mewadahi kerja sama diantara pengguna yang menghasilkan konten (user-generated content).
2. Menurut Shirky (2008), social media dan perangkat lunak sosial merupakan alat untuk meningkatkan kemampuan pengguna untuk berbagi (to share), bekerja sama (to co-operate) di antara pengguna dan melakukan tindakan secara kolektif yang semuanya berada di luar kerangka institusional maupun organisasi.
3. Evans (2008:34), mengatakan bahwa social media adalah demokratisasi informasi, mengubah orang dari pembaca konten ke penerbit konten. Hal ini merupakan pergeseran dari mekanisme siaran ke model banyak ke banyak, berakar pada percakapan antara penulis, orang, dan teman sebaya. Berdasarkan definisi tersebut diketahui unsur-unsur fundamental dari social media yaitu pertama, social media melibatkan saluran sosial yang berbeda dan online menjadi saluran utama. Kedua, social media berubah dari waktu ke waktu, artinya social media terus berkembang. Ketiga, social media adalah partisipatif.
Dari beberapa definisi tersebut penulis menyimpulkan bahwa social media adalah media yang memungkinkan penggunanya untuk saling melakukan aktivitas sosial secara virtual melalui jaringan internet.
2.2.2 Karakteristik Social Media
Ada batasan-batasan dan ciri khusus tertentu yang hanya dimiliki social media dibanding dengan media lainnya. Salah satunya adalah social media beranjak dari pemahaman bagaimana media tersebut digunakan sebagai sarana sosial di dunia virtual. Ada pun karakteristik social media, yaitu:
1. Jaringan (Network) Antarpengguna
Social Media memiliki karakter jaringan sosial.Social Media terbangun dari struktur sosial yang terbentuk di dalam jaringan atau internet (Nasrullah, 2015:16).
Karakter social media adalah membentuk jaringan di antara penggunanya. Tidak peduli apakah di dunia nyata (offline) antarpengguna itu saling kenal atau tidak, namun kehadiran social media memberikan medium bagi pengguna untuk terhubung secara mekanisme teknologi.
Jaringan yang terbentuk antarpengguna ini pada akhirnya membentuk komunitas atau masyarakat yang secara sadar maupun tidak akan memunculkan nilai-nilai yang ada di masyarakat sebagaimana ciri masyarakat dalam teori-teori sosial (Nasrullah, 2015:16-17).
2. Informasi (Information)
Informasi menjadi entitas yang penting dari social media. Di social media, informasi menjadi komoditas yang dikonsumsi oleh pengguna. Komoditas tersebut pada dasarnya merupakan komoditas yang diproduksi dan didistribusikan antarpengguna itu sendiri. Dari
kegiatan konsumsi inilah pengguna dan pengguna lain membentuk sebuah jaringan yang pada akhrinya secara sadar atau tidak bermuara pada institusi masyarakat berjejaring (network society) (Nasrullah, 2015:19).
Untuk melihat karakter informasi di social media bisa dilihat dari dua segi. Pertama, social media merupakan media yang bekerja berdasarkan informasi. Informasi menjadi landasan pengguna untuk saling berinteraksi dan membentuk masyarakat berjejaring di internet. Kedua, informasi menjadi komoditas yang ada di social media. Salah satu alasan terbentuknya jaringan di social media adalah adanya kesamaan, seperti asal daerah, kegemaran, dan identitas lain yang diunggah oleh pengguna lain. Informasi disini menjadi komoditas yang dikonsumsi antarpengguna (Nasrullah, 2015:22).
3. Arsip (Archive)
Bagi pengguna social media, arsip menjadi sebuah karakter yang menjelaskan bahwa informasi telah tersimpan dan bisa diakses kapan pun dan melalui perangkat apa pun (Nasrullah, 2015:22).
Teknologi online telah membuka kemungkinan-kemungkinan baru dari penyimpanan gambar (bergerak atau diam), suara, juga teks yang secara meningkat dapat diaskses secara massal dan dari mana pun, kondisi ini terjadi karena pengguna hanya memerlukan sedikit pengetahuan teknis untuk menggunakannya. (Gane & Beer, 2008)
Kehadiran social media memberikan akses yang luar biasa terhadap penyimpanan.
Pengguna tidak lagi terhenti pada memproduksi dan mengonsumsi informasi, tetapi juga informasi itu telah menjadi bagian dari dokumen yang tersimpan. Pengandaian sederhana yang
media tersebut, secara otomatis pengguna telah membangun ruang atau gudang data. Gudang data tersebut diisi oleh pengguna dan pintunya terbuka untuk dimasuki oleh siapa pun (Nasrullah, 2015:23).
4. Interaksi (Interactivity)
Karakter dasar dari media sosoial adalah terbentuknya jaringan antarpengguna. Jaringan ini tidak sekedar memperluas hubungan pertemanan atau pengikut (follower) di internet semata, tetapi juga harus dibangun dengan interaksi antarpengguna tersebut (Nasrullah, 2015:25).
Interaksi dalam kajian media merupakan salah satu pembeda antara media lama (old media) dengan media baru (new media). Di media baru pengguna bisa berinteraksi, baik diantara pengguna itu sendiri maupun dengan produser konten media (Nasrullah, 2015:26).
Menurut Gane & Beer (2008:97), interaksi juga bisa diartikan sebagai konsep yang menghapuskan sekat atau batasan ruang dan waktu. Interaksi di ruang virtual bisa terjadi kapan saja dan melibatkan pengguna dari berbagai wilayah.
5. Simulasi (Simulation) Sosial
Social media memiliki karakter sebagai medium berlangsungnya masyarakat (society) di dunia virtual. Social media memiliki keunikan dan pola yang dalam banyak kasus bisa berbeda dan tidak dijumpai dalam tatanan masyarakat yang real. Misalnya, pengguna social media bisa dikatakan warga negara digital (digital citizenship) yang berlandaskan keterbukaan tanpa adanya batasan-batasan (Nasrullah, 2015:28).
Jean Baudrillard dalam Simulacra and Simulations (1994) mengungkapkan gagasan simulasi bahwa kesadaran akan yang real di benak khalayak semakin berkurang dan akan
tergantikan dengan realitas semu. Kondisi ini disebabkan oleh imaji yang disajikan media secara terus-menerus. Khalayak seolah-olah tidak dapat membedakan antara yang nyata dan yang ada di dalam layar. Khalayak seolah-olah berada di antara realitas dan ilusi sebab tanda yang ada di media sepertinya telah terputus dari realitas.
6. Konten Oleh Pengguna (User-Generated Content)
Karakteristik social media lainnya adalah konten oleh pengguna atau lebih populer disebut dengan user generated content (UGC). Term ini menunjukkan bahwa di social media konten sepenuhnya milik dan berdasarkan kontribusi pengguna atau pemilik akun (Nasrullah, 2015:31).
UGC merupakan relasi sombiosis dalam budaya media baru yang memberikan kesempatan dan keleluasaan pengguna untuk berpartisipasi (Lister et al., 2003:221). Media baru, termasuk social media, menawarkan perangkat atau alat serta teknologi baru yang memungkinkan khalayak (konsumen) untuk mengarsipkan, memberi keterangan, menyesuaikan, dan menyirkulasikan ulang konten media (Jenkins, 2002) dan ini membawa pada kondisi produksi media yang Do-It-Yourself.
Konten oleh pengguna ini adalah sebagai penanda bahwa di social media khalayak tidak hanya memproduksi konten di ruang yang disebut sebagai ‗their own individualized place‘, tetapi juga mengonsumsi konten yang diproduksi oleh orang lain (Jordan, 1999). Bentuk teknologi yang memungkinkan produksi serta sirkulasi konten yang bersifat massa dan dari pengguna atau User Generated Content ini adalah format baru dari budaya interaksi (interactive culture) di mana para pengguna dalam waktu yang bersamaan berlaku sebagai produser pada
satu sisi dan sebagai konsumen dari konten yang dihasilkan di ruang online pada sisi lain (Fuchs, 2014; Gane & Beer, 2008).
Penyebaran konten ini tidak terbatas pada penyediaan teknologi semata, tetapi juga menjadi semacam budaya yang ada di social media. Upaya menyebarkan konten, baik milik sendiri maupun orang lain atau berasal dari sumber lainnya, menjadi semacam kebiasaan digital yang baru bagi pengguna social media. Praktiknya ada semacam kesadaran bahwa konten yang disebar itu patut atau layak diketahui oleh pengguna lain dengan harapan ada konsekuensi yang muncul, seperti aspek hukum, politik, edukasi maupun perbincangan sosial.
7. Penyebaran (Share/Sharing)
Penyebaran atau sharing merupakan karakter lainnya dari social media. Sharing merupakan ciri khas dari social media yang menunjukkan bahwa khalayak aktif menyebarkan konten sekaligus mengembangkannya. Maksud dari pengembangan ini misalnya, komentar yang tidak sekadar opini, tetapi juga data atas fakta terbaru. Pada social media, konten tidak hanya diproduksi oleh khalayak pengguna, tetapi juga didistribusikan secara manual oleh pengguna lain.
Penyebaran ini terjadi dalam dua jenis. Pertama, melalui konten. Pada social media, konten tidak hanya diproduksi oleh khalayak pengguna, tetapi juga didistribusikan secara manual oleh pengguna lain. Tentu secara otomatis program yang ada tiap-tiap platform social media juga menyebarkan setiap konten yang telah terpublikasi dalam jaringan tersebut.
Kedua, melalui perangkat. Penyebaran melalui perangkat bisa dilihat melalui teknologi yang menyediakan fasilitas untuk memperluas jangkauan konten, misalnya pilihan share yang terdapat pada laman social media.
Penyebaran ini tidak terbatas pada penyediaan teknologi semata, tetapi juga menjadi semacam budaya yang ada di social media. Banyak kasus yang bisa dijadikan contoh bagaimana kekuatan penyebaran konten di social media ini memiliki konsekuensi tidak hanya di dunia maya, tetapi juga di dunia nyata (Nasrullah, 2015:34).
2.2.3 Jenis-Jenis Social Media
Pembagian jenis social media ke dalam kategori merupakan upaya untuk melihat bagaimana jenis dari social media itu sendiri. Dari banyaknya social media yang beredar, setidaknya ada 6 kategori besar untuk melihat pembagian social media, yaitu:
1. Jejaring sosial (Social Networking)
Social networking atau jaringan sosial merupakan medium yang paling populer dalam kategori social media. Medium ini merupakan sarana yang bisa digunakan pengguna untuk melakukan hubungan sosial, termasuk konsekuensi atau efek dari hubungan sosial tersebut, di dunia virtual, contohnya facebook.
Medium ini memungkinkan pengguna untuk berinteraksi satu sama lain. Interaksi terjadi tidak hanya pada pesan teks tetapi juga termasuk foto dan video yang mungkin menarik perhatian pengguna lain. Semua posting (publikasi) merupakan real time, memungkinkan anggota untuk berbagi informasi seperti apa yang sedang terjadi.
2. Blog
Blog merupakan social media yang memungkinkan penggunanya untuk mengunggah aktivitas keseharian, saling mengomentari, dan berbagi, baik tautan web lain, informasi, dan sebagainya. Pada awalnya, blog merupakan suatu bentuk situs web pribadi yang berisi kumpulan tautan ke situs lain yang dianggap menarik dan diperbarui setiap harinya, pada perkembangan selanjutnya blog memuat banyak jurnal (tulisan keseharian pribadi) pemilik media dan terdapat kolom komentar yang bisa diisi oleh pengunjung. Blog juga menawarkan alamat web pribadi, ruang web gratis, dan sistem manajemen konten yang memungkinkan untuk membuat,
menerbitkan, dan berbagi konten secara harfiah bebas dari biaya. Contoh social media jenis blog ialah wordpress.
3. Mini Blog (Micro-blogging)
Tidak berbeda dengan blog, micro-blogging merupakan jenis social media yang memfasilitasi pengguna untuk menulis dan memublikasikan aktivitas serta pendapatnya. Secara historis, kehadiran jenis social media ini merujuk pada muculnya twitter yang hanya menyediakan ruang tertentu untuk berkicau (tweet). Sama seperti social media lainnya, di twitter pengguna bisa menjalin jaringan dengan pengguna lain, menyebarkan informasi, mempromosikan pendapat/pandangan pengguna lain, sampai membahas isu terhangat (trending topic) saat itu juga dan menjadi bagian dari isu tersebut dengan turut berkicau menggunakan tagar (hashtag) tertentu.
4. Media Sharing
Media sharing atau media berbagi merupakan jenis social media yang memfasilitasi penggunanya untuk berbagi media mulai dari dokumen (file), video, audio, gambar, dan sebagainya. Kebanyakan dari social media jenis ini adalah gratisan meskipun beberapa juga mengenakan biaya keanggotaan, berdasarkan fitur dan layanan yang mereka berikan. Beberapa contoh dari media berbagi ini adalah youtube, flickr, dan snapfish.
5. Penanda Sosial (Social Bookmarking)
Penanda sosial atau social bookmarking merupakan social media yang bekerja untuk mengorganisasi, menyimpan, mengelola, dan mencari informasi atau berita tertentu secara online. Informasi yang diberikan di media sosial ini bukanlah informasi yang utuh. Artinya, pengguna hanya di sediakan informasi bisa teks, foto, atau video singkat sebagai pengantar yang kemudian pengguna akan diarahkan pada tautan sumber informasi itu berada. Beberapa situs social bookmarking yang populer adalah delicious.com, digg.com, dan lintasme.
6. Wiki
Media sosial wiki adalah media konten bersama. Disebut media konten bersama karena social media ini merupakan situs yang kontennya hasil kolaborasi dari para penggunanya. Mirip dengan kamus atau ensiklopedia, wiki menghadirkan kepada pengguna pengertian, sejarah, hingga rujukan buku atau tautan tentang satu suku kata. Dalam praktiknya, penjelasan-penjelasan tersebut dikerjakan oleh pengunjung. Artinya, ada kolaborasi atau kerja bersama dari semua pengunjung untuk mengisi konten dalam situs ini. Kata ―wiki‖ merujuk pada Wikipedia yang popular sebagai media kolaborasi konten bersama.
2.2.4 Dampak Penggunaan Social Media
Penggunaan social media saat ini menjadi hal yang lumrah. Tidak hanya sebagai pendukung dalam aspek kehidupan namun, social media sendiri telah menjadi hal pokok yang sulit dilepaskan. Penggunaannya ini tentu memiliki dampak yang dapat ditimbulkan, baik dampak positif mau pun dampak negatif.
Beberapa dampak positif penggunaan social media yaitu, dapat menghimpun keluarga atau kerabat jauh, sebagai media penyebaran informasi yang up to date, dapat memperluas jaringan pertemanan, sebagai sarana untuk mengembangkan keterampilan dan social, sebagai media komunikasi, sebagai media pertukaran data serta sebagai media promosi dalam bisnis.
Ada pun dampak negatif yang ditimbulkan dari penggunaan social media antara lain, sulit bersosialisasi di dunia nyata, melahirkan kepribadian yang membuat seseorang lebih mementingkan diri sendiri, mengurangi kinerja, berkurangnya privasi pribadi, memperluas kejahatan dunia maya dan pornografi mudah diakses.
2.3 Twitter
Twitter adalah layanan jejaring sosial dan micro-blog yang didirikan pada tahun 2006.
Twitter memungkinkan penggunanya mengirim dan membaca pesan (tweets) dari pengguna lainnya. Menurut Elcom dalam Juditha (2014) Twitter adalah social media yang dapat memberikan update (pembaruan) berbagai informasi melalui status yang disebut sebagai tweets.
Kesederhanaan tampilan dan keringkasannya tidak membuat pengguna kesulitan dalam mengakses berbagai informasi. Pengguna Twitter justru dapat leluasa mengakses berbagai informasi yang paling up to date.
Scanfeld, Larson (2010:185) menyatakan bahwa penulisan teks update status di Twitter dapat diposting melalui 3 metode : web form, instant message online, atau text message melalui ponsel. Pengguna Twitter dapat mengikuti update status satu sama lain dan dapat mencari semua berita-berita up to date hanya dengan mengetik kata kunci yang menarik (dalam Sigit, 2016:248). Keterbatasan dalam membuat status (tweet) menjadikan pengguna Twitter dituntut
sekreatif mungkin dalam membuat tweet yang benar-benar sesuai dengan tujuan dilakukannya tweet tersebut.
Menurut Lewis dan Holton (dalam Sigit, 2016:248), ada empat alasan orang-orang menggunakan Twitter, yaitu untuk berbincang-bincang setiap harinya (daily chatter), percakapan (conversation), berbagi informasi (sharing information) dan melaporkan berita (reporting the news).
2.3.1 Karakteristik Twitter
Twitter sebagai media baru memiliki karakteristik yang dijabarkan oleh Lister (dalam Putri, 2012 :19-20) diantaranya :
1. Digitality
Pada Twitter, semuanya terdigitalisasi, karena berbagai format yang dikirimkan oleh kita,
Pada Twitter, semuanya terdigitalisasi, karena berbagai format yang dikirimkan oleh kita,