C. Aspek Keterampilan
2. Variabel Dependen
5.2. Karakteristik Sosial, Ekonomi dan Budaya
Karakteristik sosial, ekonomi dan budaya petani merupakan suatu kondisi masyarakat yang ditinjau dari pendidikan, jumlah keluarga, umur, kepemilikan lahan, pengalaman berusaha tani dan penerapan suatu teknologi.
5.2.1. Karakteristik Sosial
Kondisi umur petani di Desa Tanggaran, Kecamatan, Pule Kabupaten Trenggalek tergolong dalam umur produktif yaitu 30-64 tahun akan tetapi tingkat pendidikan rata-tata masih rendah yaitu SD. Sebagian besar penduduk di Desa Tanggaran bermata pencaharian sebagai petani. Hal tersebut tidak terlepas dari kondisi lingkungan yang ada di Desa Tanggaran dengan ketersediaan lahan yang cukup. Desa Tanggaran memiliki potensi lahan tegal sebesar 657.07 Ha dan hutan rakyat sebesar 405 Ha. Pemanfaatan lahan di Desa Tanggaran sebagian besar digunakan sebagai lahan pertanian dan hutan. Dalam penerapannya oleh petani lahan masih belum dimanfaatkan secara optimal. Hal tersebut ditunjukan pada kondisi lahan petani yang dibiarkan dan hanya ditumbuhi oleh tanaman tahunan seperti kayu sengon, mahoni dan jenis kayu lainnya, sedangkan disekitar pohon tersebut masih terdapat ruang yang cukup untuk ditanami dengan tanaman budidaya. Adapun rata-rata kepemilikan lahan setiap petani dari hasil penelitian yaitu 0,5-1 ha. Artinya petani memiliki ketersediaan yang cukup untuk melakukan usaha tani.
Untuk menunjang kegiatan usaha tani di Desa Tanggaran terdapat kelembagaan petani. Kelembagaan pertanian yang ada di Desa Tanggaran diantaranya adalah kelompok tani sebagai wadah petani dalam menerima informasi pertanian, pelatihan dan kegiatan yang berkaitan dengan usaha tani.
Desa Tanggaran terdapat 5 kelompok tani yaitu, Kelompok tani Tani Makmur, Margo Rukun, Tani Subur, Sumber Jaya dan Suka Maju dengan jumlah populasi 1.057 petani. Selain itu juga terdapat Balai Penyuluhan Pertanian yang menaungi kelompok tani yang ada dalam lingkup wilayah Kecamatan Pule. Adanya kelembagaan petani menjadikan petani mengetahui adanya teknologi inovasi dalam bidang pertanian Salah satunya adalah teknologi budidaya tanaman porang. Tanaman porang memiliki syarat tumbuh yang sesuai dengan kondisi
yang ada di Desa Tanggaran. Disamping itu tanaman porang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Ketertarikan petani terhadap keuntungan dan kesesuaian itu menjadikan petani mulai mencoba untuk melakukan budidaya tanaman porang. Namun dalam penerapannya petani berbudidaya tanaman porang berdasarkan pengalaman usaha taninya sendiri sehingga petani belum sepenuhnya memahami teknologi budidaya tanaman porang. Sehingga, keuntungan dan kesesuaian tanaman porang untuk di budidayakan belum dirasakan sepenuhnya oleh petani. Hal tersebut ditunjukan dari hasil kajian bahwa petani menyatakan keuntungan relatif budidaya tanaman porang dan kesesuaian inovasi untuk diterapkan di Desa Tanggaran termasuk pada kategori sedang.
Artinya, budidaya porang dapat dilakukan di Desa Tanggaran, namun perlu adanya peningkatan perilaku petani untuk mengoptimalkan penerapan budidaya secara baik dan benar serta meningkatkan adopsi petani.
5.2.2. Karakteristik Ekonomi
Karakteristi ekonomi penduduk di Desa Tanggaran yang dominan adalah aktivitas ekonomi pada sektor pertanian. Pada umumnya masyarakat di Desa Tanggaran bermatapencaharian sebagai petani untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan kelangsungan hidupnya. Data profil Desa Tanggaran tahun 2021 menunjukan dari 4.948 penduduk yang ada, sebanyak 2.365 jiwa diantaranya bermata pencaharian sebagai petani. Hal tersebut didukung kondisi lingkungan di Desa Tanggaran sebagian besar terdiri dari lahan tegal dan hutan yang cukup luas. Namun, meskipun sebagian besar penduduk di Desa Tanggaran bermata pencaharian sebagai petani, hal tersebut tidak menjamin kesejahteraan ekonominya. Hal tersebut ditunjukan bahwa ekonomi petani yang ada di Desa Tanggaran masih tergolong pada kategori rendah dengan pendapatan rata-rata per bulan kurang dari Rp.1.000.000. Artinya, nilai ekonomi petani yang diperoleh dari usaha taninya masih tergolong rendah. Kegiatan pertanian hanya sebatas
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan belum berorientasi bisnis. Disamping itu berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, petani menyatakan bahwa akses bantuan permodalan untuk mengembangkan usaha tani dapat secara mudah untuk diakses. Bantuan usaha tani tersebut salah satunya adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR) Cluster Porang dan bantuan perolehan pupuk organik untuk berbudidaya tanaman porang. Apabila dikelola dengan baik, bantuan permodalan yang diperoleh dapat digunakan untuk mengembangkan usaha taninya dari skala kecil menjadi skala bisnis yang pada akhirnya dapat mensejahterakan kondisi ekonomi petani di Desa Tanggaran.
5.2.3. Karakteristik Budaya
Seiring berkembangnya teknologi pertanian, budaya bertani mulai menggunakan alat mesin pertanian. Namun petani di Desa Tanggaran tidak jarang masih menggunakan cangkul dan alat alat tradisional lainnya untuk melakukan kegiatan pertaniannya. Masyarakat di Desa pada umumnya masih memegang pola kebiasaan, norma atau adat yang diyakini dalam menjalankan kehidupannya.
Termasuk masyarakat di Desa Tanggaran yang memiliki kebiasaan dalam kesehariannya, salah satunya adalah dalam berusaha tani. Budaya atau kebiasanaan petani dalam berusahatani di Desa Tanggaran terbentuk berdasarkan pengalaman turun temurun. Sebagai contoh, petani menggunakan pranoto mongso sebagai penetapan awal musim tanam, mengadakan selamatan pada saat panen dan lain sebagainya.
Pranoto mongso merupakan sistem penentuan tanggal atau kalender yang berkaitan dengan aktivitas pertanian. Pranoto mongso pada umumnya digunakan untuk kepentingan bercocok tanam yang disusun berdasarkan peredaran matahari. Dalam penerapannya di lapangan, petani masih memperhatikan penentuan awal musim tanam sesuai dengan keyakinannya terhadap pranoto mongso, salah satu bentuk penerapannya yaitu pada budidaya tanaman porang
dilakukan diantara masa kanem sampai dengan kapitu atau pada 9 November -21 Desember dan 22 Desember- 2 Februari pada waktu tersebut mulai masuk pergantian musim dari musim kemarau ke musim penghujan.
Selain ditinjau dari pranoto mongso hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa rata-rata lama berusahatani petani di Desa Tanggaran adalah 10-20 tahun. Hasil tersebut menunjukan bahwa petani sudah cukup lama dalam melakukan usaha tani, akan tetapi dengan pola kebiasaan yang di lakukan dan kurangnya informasi yang diperoleh, petani belum banyak mengetahui tentang inovasi teknologi pertanian utamanya pada budidaya tanaman porang. Dari hal tersebut perlu adanya peningkatan perilaku petani dalam berusaha tani berbasis penyuluhan yang sesuai dengan karakteristik petani.