HASIL PENELITIAN
4.2 Karakteristik Subjek .1 Umur
Secara keseluruhan, rerata umur Subjek pada 30-40 tahun sebanyak 47,95%
dan yang berumur di atas 40 tahun sebanyak 52,05%.
Distribusi Subjek pekerja wanita di PT. X Kabupaten Simalungun berdasarkan umur disajikan pada tabel 4.1 berikut ini :
Tabel 4.1. Distribusi Subjek Berdasarkan Umur (Tahun) di PT. X Kabupaten Simalungun
Umur Perlakuan I Perlakuan II Kontrol
n % N % n %
30-40 tahun 10 41,7 13 54,2 12 48
>40 tahun 14 58,3 11 45,8 13 52
Jumlah 24 100 24 100 25 100
Dari Tabel 4.1 di atas menunjukkan bahwa pada kelompok perlakuan I yaitu yang diberi suplemen Fe, asam folat dan vitamin A kelompok umur terbanyak adalah
>40 tahun yaitu sebesar 58,3%, begitu juga pada kelompok kontrol yang diberi plasebo berisi laktosa yaitu sebesar 52%. Sementara pada kelompok perlakuan II yang diberi suplemen Fe, asam folat dan vitamin B12 kelompok umur terbanyak adalah 30-40 tahun yaitu sebesar 54,2%. Pada ketiga kelompok perlakuan, rerata umur Subjek yaitu kelompok perlakuan I dengan rata-rata umur 41,38 tahun, kelompok perlakuan II dengan rata-rata umur 41,42 tahun dan kelompok kontrol dengan rerata umur 40,68 tahun. Berdasarkan uji Kruskal Wallis (Lampiran 10.1) perbedaan umur dari masing-masing kelompok tidak berbeda secara signifikan dimana nilai p (0,805) > 0,005. Umur termuda 32 tahun dan umur tertua 45 tahun.
Hal ini menunjukkan bahwa umur Subjek di PT. X Kabupaten Simalungun masih tergolong usia produktif.
4.2.2 Pendidikan
Pendidikan adalah gambaran kemampuan seseorang dalam menyerap pengetahuan yang ada di sekitarnya. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin baik kemampuan seseorang dalam menyerap ilmu (Apriadji, 1996). Pada
ketiga kelompok perlakuan, pendidikan Subjek tidak berbeda yaitu pendidikan SD pada kelompok perlakuan I sebanyak 66,7%, pada kelompok perlakuan II sebanyak 58,3% dan pada kelompok kontrol sebanyak 72%, Untuk pendidikan SMP pada kelompok perlakuan I sebanyak 20,8%, kelompok perlakuan II sebanyak 29,2% dan kelompok kontrol sebanyak 28%. Untuk pendidikan SMA hanya terdapat pada kelompok perlakuan I dan II, yaitu masing-masing sebanyak 12,5%, sedangkan pendidikan tinggi tidak terdapat sama sekali (0%).
Distribusi Subjek pekerja wanita di PT. X Kabupaten Simalungun berdasarkan pendidikan disajikan pada tabel 4.2 berikut ini :
Tabel 4.2. Distribusi Subjek Berdasarkan Pendidikan di PT. X Kabupaten Simalungun
Pendidikan Perlakuan I Perlakuan I Kontrol
n % n % n %
SD 16 66,7 14 58,3 18 72
SMP 5 20,8 7 29,2 7 28
SMA 3 12,5 3 12,5 0 0
Jumlah 24 100 24 100 25 100
Jika diukur dari segi tingkat pendidikan, maka tingkat pendidikan pekerja wanita masih tergolong rendah, seperti yang terdapat pada tabel 4.3 di bawah ini :
Tabel 4.3. Distribusi Subjek Berdasarkan Tingkat Pendidikan di PT. X Kabupaten Simalungun
Tingkat Pendidikan Perlakuan I Perlakuan II Kontrol
n % N % n %
Rendah 16 66,7 14 58,3 18 72
Menengah 8 33,3 10 41,7 7 28
Tinggi 0 0 0 0 0 0
Jumlah 24 100 24 100 25 100
Berdasarkan tabel 4.3 di atas, sebagian besar Subjek memiliki tingkat pendidikan rendah. Pada kelompok perlakuan I sebanyak 66,7%, kelompok perlakuan II sebanyak 58,3% dan kelompok kontrol sebanyak 72%. Sementara untuk tingkat pendidikan menengah, pada kelompok perlakuan II sebanyak 33,3%, kelompok perlakuan II sebanyak 41,7% dan kelompok kontrol 28%. Untuk tingkat pendidikan tinggi pada semua kelompok perlakuan tidak ada (0%). Dengan uji Kruskal Wallis (Lampiran 10.1), tingkat pendidikan dari masing-masing kelompok tidak berbeda secara signifikan dimana nilai p (0,478) > 0,005.
4.2.3 Pendapatan Keluarga
Rerata pendapatan Subjek adalah di atas Upah Minimum Regional Propinsi Sumatera Utara Tahun 2012 (UMR Sumut Rp. 1.250.000), yaitu Rp. 1.829.954.8.-, dimana pendapatan minimal Rp 700.000 dan maximal Rp 5.000.000,-. Pendapatan ini adalah pendapatan keluarga karena seluruh Subjek sudah menikah. Pada ketiga kelompok perlakuan rerata pendapatan yaitu pada kelompok perlakuan I yaitu sebesar Rp. 1.631.115,5,-, kelompok perlakuan II yaitu sebesar Rp. 1.802.083,3,- dan kelompok kontrol yaitu sebesar Rp. 2.047.600,-. Berdasarkan uji Kruskal Wallis (Lampiran 10.1) perbedaan pendapatan dari ketiga kelompok tidak berbeda secara signifikan dimana nilai p (0,535) > 0,005.
Distribusi Subjek pekerja wanita di PT. X Kabupaten Simalungun berdasarkan pendapatan disajikan pada tabel 4.4 berikut ini :
Tabel 4.4. Distribusi Subjek Berdasarkan Pendapatan di PT. X Kabupaten Simalungun
Jumlah Pendapatan Perlakuan I Perlakuan II Kontrol
n % n % n %
<Rp. 1.250.000,- 7 29,17 3 12,50 3 12
Rp. 1.250.000,- 17 70,83 21 87,50 22 88
Jumlah 24 100 24 100 25 100
Dari Tabel 4.4. terlihat bahwa rata-rata pendapatan di atas upah minimum propinsi (UMR), yaitu perlakuan I sebesar 70,83%, perlakuan II sebesar 87,50% dan kelompok kontrol sebesar 88%. Namun walaupun demikian, jika rerata pendapatan dibagi dengan jumlah anggota keluarga minimal 2 orang (suami istri pekerja) dalam satu keluarga maka pendapatan per kapita per bulan sebesar Rp. 914.977,4,-.
Berdasarkan rerata pendapatan per kapita per bulan tersebut, maka pendapatan keluarga masih berada di bawah rerata kebutuhan hidup layak (KHL) yaitu sebesar Rp. 1.035,028,-. (SK. Gubernur Sumatera Utara No. 188.44/988/KPTS/2011).
4.3 Konsumsi Makanan
Sebelum suplementasi, dilakukan food recall dengan cara wawancara dan mencatat jenis, jumlah bahan makanan yang dikonsumsi pada periode 24 jam yang lalu pada Subjek yang dituliskan ke dalam formulir food recall. Kemudian setelah suplementasi selama 8 minggu dilakukan kembali food recall. Berdasarkan hasil wawancara tersebut maka diperoleh hasil konsumsi energi, protein, Fe, asam folat, vitamin A, vitamin B12 dan vitamin C.
4.3.1 Konsumsi Energi
Secara keseluruhan rerata konsumsi energi Subjek sebelum suplementasi yaitu sebesar 1878,86 Kkal/hr. Begitu juga pada rerata konsumsi energi sesudah suplementasi yaitu sebesar 1879,18 kkal/hr. Berdasarkan angka kecukupan gizi tahun 2004, dapat disimpulkan bahwa konsumsi energi Subjek baik sebelum maupun sesudah suplementasi dikategorikan cukup. Berdasarkan uji Wilcoxon test (Lampiran 10.13) perbedaan konsumsi energi Subjek sebelum dan sesudah suplementasi dari ketiga kelompok tidak berbeda secara signifikan dimana nilai p (0,715) > 0,005.
Rerata konsumsi energi sebelum suplementasi pada masing-masing kelompok perlakuan yaitu pada kelompok perlakuan I sebesar 1914,17 kkal/hr, pada kelompok perlakuan II sebesar 1903 kkal/hr dan pada kelompok kontrol sebesar 1822,3 kkal/hr.
Berdasarkan angka kecukupan gizi tahun 2004 dari ketiga kelompok perlakuan tersebut sebagian besar memenuhi kecukupan yang dianjurkan (1900 kalori).
Berdasarkan uji Kruskal Wallis (Lampiran 10.2) konsumsi energi sebelum suplementasi dari ketiga kelompok perlakuan tidak ada perbedaan yang signifikan p (0,056) > 0,05.
Rerata konsumsi energi sesudah suplementasi pada masing-masing kelompok perlakuan tidak berbeda yaitu pada kelompok perlakuan I sebesar 1911,67 kkal/hr, pada kelompok perlakuan II sebesar 1908 kkal/hr dan pada kelompok kontrol sebesar 1820,3 kkal/hr. Walaupun plasebo berisi laktosa sebanyak 1 mg, namun tidak mempengaruhi jumlah total kalori yang dikonsumsi oleh kelompok kontrol, karena 1
mg laktosa mengandung energi sebesar 0 kkal. Berdasarkan angka kecukupan gizi tahun 2004 dari ketiga kelompok perlakuan tersebut sebagian besar memenuhi kecukupan yang dianjurkan (1900 kalori). Berdasarkan uji Kruskal Wallis (Lampiran 10.2) konsumsi energi sesudah suplementasi dari ketiga kelompok perlakuan tidak ada perbedaan yang signifikan p (0,315) > 0,05.
Tabel 4.5. Distribusi Konsumsi Energi Subjek menurut Kelompok Perlakuan Kelompok Konsumsi Energi (kkal) P. Value
Sebelum Sesudah
Perlakuan I 1914,17±198,56 1911,67±81,25 0,950a
Perlakuan II 1903±209 1908±103 0,458b
Kontrol 1822,3±174,88 1820,3±234 0,627b
a(Paired Sample T test) b(Wilcoxon Test)
Hasil uji Paired-Sample T test ataupun Wilcoxon test terhadap konsumsi energi sebelum dan sesudah suplementasi pada kelompok perlakuan I, kelompok perlakuan II dan kelompok kontrol menunjukkan (p>0,05) hal ini berarti tidak ada perbedaan yang signifikan antara konsumsi energi sebelum dan sesudah suplementasi pada kelompok perlakuan I, kelompok perlakuan II dan kelompok kontrol.
Tabel 4.6. Distribusi Tingkat Konsumsi Energi Subjek di PT. X Kabupaten Simalungun
Tingkat Perlakuan I Perlakuan II Kontrol
Konsumsi Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
Energi n % n % n % N % n % n %
Berdasarkan tabel 4.6. di atas sebelum suplementasi, hanya terdapat 4,2%
tingkat konsumsi energi yang defisit pada kelompok perlakuan II dan 4% pada kelompok kontrol, selebihnya termasuk dalam tingkat konsumsi cukup dan baik.
4.3.2 Konsumsi Protein
Secara keseluruhan rerata konsumsi protein Subjek sebelum suplementasi yaitu sebesar 47,60 g/hr. Begitu juga pada rerata konsumsi protein sesudah suplementasi yaitu sebesar 47,03 g/hr. Berdasarkan angka kecukupan gizi tahun 2004, dapat disimpulkan bahwa konsumsi Subjek baik sebelum maupun sesudah suplementasi dikategorikan cukup. Berdasarkan uji Wilcoxon test (Lampiran 10.13) konsumsi protein dari ketiga kelompok perlakuan sebelum dan sesudah suplementasi tidak ada perbedaan yang signifikan p (0,810) > 0,05.
Rerata konsumsi protein sebelum suplementasi dari ketiga kelompok tidak berbeda yaitu kelompok perlakuan I sebesar 48,17 g/hr. Pada kelompok perlakuan II sebesar 48,13 g/hr dan pada kelompok kontrol sebesar 46,56 g/hr. Berdasarkan Angka kecukupan Gizi (AKG 2004), rerata konsumsi ketiga kelompok tersebut sebagian besar tidak memenuhi standar kecukupan yang dianjurkan (50 g/hr).
Berdasarkan uji Kruskal Wallis (Lampiran 10.3) konsumsi protein sebelum suplementasi dari ketiga kelompok perlakuan tidak ada perbedaan yang signifikan p (0,486) > 0,05.
Rerata konsumsi protein sesudah suplementasi dari ketiga kelompok juga tidak berbeda yaitu kelompok perlakuan I sebesar 48,13 g/hr, pada kelompok perlakuan II sebesar 50,13 dan pada kelompok kontrol sebesar 41,08 g/hr.
Berdasarkan Angka kecukupan Gizi (AKG 2004), ketiga kelompok tersebut sebagian besar tidak memenuhi standar kecukupan yang dianjurkan (50 g/hr). Berdasarkan uji Kruskal Wallis (Lampiran 10.3) konsumsi protein sesudah suplementasi dari ketiga kelompok perlakuan tidak ada perbedaan yang signifikan p (0,107) > 0,05.
Tabel 4.7. Distribusi Konsumsi Protein Subjek menurut Kelompok Perlakuan
Kelompok Konsumsi Protein (g) P. Value
Sebelum Sesudah
Perlakuan I 48,17±17,97 48,13±20,12 0,994
Perlakuan II 48,13±8,58 50,13±20,37 0,333
Kontrol 46,56±16,98 41,08±11,7 0,134
Hasil uji Paired-Sample T test terhadap konsumsi protein sebelum dan sesudah suplementasi pada kelompok perlakuan I, kelompok perlakuan II dan kelompok kontrol menunjukkan (p>0,05) hal ini berarti tidak ada perbedaan yang signifikan antara konsumsi protein sebelum dan sesudah suplementasi pada kelompok perlakuan I, kelompok perlakuan II dan kelompok kontrol.
Tabel 4.8. Distribusi Tingkat Konsumsi Protein Subjek di PT. X Kabupaten Simalungun
Tingkat Perlakuan I Perlakuan II Kontrol Konsumsi Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
Protein n % n % n % N % n % N %