Perlakuan I I Kontrol P Value
DAFTAR LAMPIRAN
3.7 Pelaksanaan Penelitian .1 Pre-Intervensi
a. Seluruh populasi dikumpulkan
b. Kemudian dilakukan pengambilan darah untuk memeriksa kadar hemoglobin, tetapi untuk Subjek yang sedang menstruasi diperiksa kadar hemoglobinnya setelah selesai masa menstruasinya.
c. Adapun prosedurnya adalah
1) Isaplah darah dari ujung jari yang sudah ditusuk lancet steril sebanyak 0,02 ul dengan menggunakan pipet hemoglobin.
2) Darah tersebut diteteskan ke kertas Whotman, lalu darah yang melekat pada kertas whotman tersebut dibiarkan mengering, kemudian masukkan ke dalam plastik transparan.
3) Darah yang menempel pada kertas digunting sampai sekecil mungkin, dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang sudah berisi 5 ml larutan drabkins
(NaHCO3, KCN, K3Fe(CN)6, Aquadest) campur sampai homogen selama 24 jam, lalu saring.
4) Tuangkan ke dalam kuvet, dibaca dengan alat spkterofotometer pada panjang gelombang 540 nm kadar hemoglobin terlihat pada monitor Spektrofotometer.
5) Satuan hemoglobin dinyatakan dalam g/dl (Bakara, 2012). Pengambilan darah Subjek dilakukan oleh seorang dokter dan untuk analisis dilakukan pada laboratorium RSUD Deli Serdang dan dilaksanakan oleh seorang analis.
3.7.2 Intervensi
a. Sebelum pemberian suplemen Fe, asam folat, vitamin A dan vitamin B12, seluruh Subjek diberikan obat cacing pirantel pamoat yang dipesan dari apotik. Bagi yang mengkonsumsi obat cacing 3 bulan terakhir tidak diberi lagi obat cacing. Obat cacing dosis tunggal ini dapat membasmi Ascariasis, Ancylostomiasis, Oksioriasis, Nekatoriasis
b. Pemberian obat cacing dilakukan pada siang hari sehabis makan siang (pukul 13.00 wib).
c. Dua hari setelah pemberian obat cacing lalu pemberian suplemen. Untuk kelompok kontrol diberikan plasebo (kapsul yang warna, dan bentuk menyerupai suplemen yang di dalamnya berisi laktosa 1 mg), untuk kelompok perlakuan I diberikan kapsul berisi 60 mg besi elemental, 0,25 mg asam folat dan 0.15 mg vitamin A (setara dengan 150 RE vitamin A) dan untuk kelompok perlakuan II diberikan kapsul berisi 60 mg besi elemental, 0,25 mg asam folat dan 0,72 ug vitamin B12. Kapsul dipesan dari apotik.
d. Pemberian suplemen diberikan setiap hari pada pagi hari pukul 06.00 wib, selama 8 minggu.
e. Pengawasan dilakukan dengan ketat dan dibantu 8 orang enumerator yaitu 3 asisten kepala dari 3 Afdeling PTPN IV Kebun Aek Nauli dan 5 ahli gizi dengan menggunakan formulir pemantauan.
f. Dalam pelaksanaan intervensi, peneliti juga didampingi oleh seorang dokter.
3.7.3 Post-Intervensi
Setelah pemberian plasebo dan suplemen selama 8 minggu lalu dilakukan : a. Pemeriksaan hemoglobin dilakukan pada pukul 06.00 wib (apel pagi)
Pengukuran konsumsi makanan (energi, protein, Fe, asam folat, vitamin A, vitamin B12 dan vitamin C) dengan metode food recall 24 jam selama 2 hari tidak berturut-turut.
Adapun prosedur food recall adalah sebagai berikut :
1) Subjek diwawancara dengan menggunakan metode food recall 24 jam selama 2 hari pada hari yang berbeda. Hari pertama melakukan recall pada waktu tenaga kerja sehari setelah gajian (awal bulan) dan recall yang kedua pada waktu akhir bulan
2) Tempat pelaksanaan recall di kantor pada pukul 13.00 wib (jam istirahat) dibantu oleh enumerator.
3) Kemudian zat gizi ini dianalisa dengan menggunakan program Nutrisurvey, lalu membandingkannya dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG) 2004.
Tabel 3.1. Aspek Pengukuran
Variabel Definisi Operasional Kategori Alat
Ukur
Pendidikan ijazah tertinggi yang diperoleh pekerja
wanita dari
pembelajaran formal.
Kategori tingkat pendidikan pekerja wanita dibagi tiga yaitu
1. Pendidikan rendah : SD
2. Pendidikan menengah : SMP-SMA 3. Pendidikan Tinggi : Diploma-PT
Wawancara Ordinal
Alur Penelitian seperti pada gambar di bawah ini :
3.8 Metode Analisa Data
Data yang telah diperoleh dianalisis melalui proses pengolahan data dilakukan melalui tahap-tahap sebagai berikut :
1) Editing, penyuntingan data yang dilakukan untuk menghindari kesalahan atau kemungkinan adanya kuesioner yang belum terisi
2) Coding, pemberian kode dan skor pada tiap jawaban untuk memudahkan proses entry data.
3) Entry Data, memasukkan data-data ke dalam komputer.
4) Cleaning, sebelum analisa data dilakukan pengecekan dan perbaikan terhadap data yang sudah masuk.
5) Analisa data diperoleh dengan menggunakan perhitungan uji statistik memakai progam Statistik Package For The Social Science (SPSS) 16.0.
6) Analisa data Univariat, untuk mendeskripsikan setiap variabel penelitian, yaitu:
umur, pendapatan, pendidikan, kadar Hemoglobin awal, Kadar Hemoglobin akhir, perubahan kadar Hemoglobin, Asupan zat gizi sebagai bahan informasi dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi.
7) Analisis bivariat, dilakukan untuk uji perbedaan kadar Hemoglobin awal, Hemoglobin akhir, pada masing-masing kelompok. Apabila data berdistribusi normal dilakukan uji Paired-Sample T test dan apabila data berdistribusi tidak normal dilakukan uji Wilcoxon Sign Test. Untuk menguji perbedaan pada masing-masing kelompok digunakan uji Anova apabila data berdistribusi normal dan digunakan uji Kruskal Wallis apabila data berdistribusi tidak normal.
BAB 4
HASIL PENELITIAN
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
PT. X Kabupaten Simalungun terletak di Kabupaten Simalungun Sumatera Utara. PT. X Kabupaten Simalungun dari Kota Medan ± 183 km dan ± 85 km dari Kota Pematang Siantar. PT. X Kabupaten Simalungun merupakan salah satu unit usaha dari PTPN-IV dengan komoditi tanaman kelapa sawit seluas 7.300 Ha yang hanya bergerak di bagian pemeliharaan tanaman kelapa sawit dan pemanenan.
Pemeliharaan kelapa sawit meliputi penyiangan gulma/ tanaman penggangu lain dan rumput yang ada disekitar kelapa sawit, pemupukan dan melepaskan pelepah pohon (mencabang). Penyiangan dilakukan secara manual dan secara kimia. Secara manual yaitu menggaruk/ mencabut/ mendongkel dan secara kimia yaitu penyemprotan (kemis). Untuk rotasi secara manual dilakukan 2 minggu sekali, sedangkan secara kimia 4 kali dalam setahun. Proses pemupukan juga dilakukan 2 minggu sekali, begitu juga dengan kegiatan mencabang, yaitu 2 minggu sekali. Proses pemeliharaan tanaman kelapa sawit yang lain adalah memberantas hama dan kumbang tanduk.
Secara manual dilakukan dengan mengutip dan membunuh hama ataupun secara pengasapan (poging). Jika batang kelapa sawit busuk maka dilakukan pembongkaran dan membuang tanaman serta membakar sumber penyakit yang terinfeksi untuk kemudian disisip tanaman baru lagi. Jika selama pemeliharaan tandan kelapa sawit siap untuk dipanen, maka pemanenan dapat dilakukan. Proses panen biasanya 2
minggu sekali oleh pekerja pria dengan mengegrek, kemudian dimasukkan ke dalam angkong untuk dikumpulkan dalam satu tempat yang telah ditentukan dibantu oleh pekerja wanita. Dari tempat tersebut truk kelapa sawit akan mengangkutnya ke pabrik pengolahan pabrik minyak sawit PTPN-IV Kebun Tinjowan.
Jumlah pekerja di PT. X Kabupaten Simalungun ada sebanyak 533 orang dimana pada pekerja wanita bagian lapangan berjumlah 176 orang. Adapun waktu bekerja dimulai pukul 06.00-14.00 Wib (8 jam), dengan waktu istirahat pukul 09.30-10.00 Wib dan pukul 12.00-13.00 Wib. Untuk pelayanan kesehatan bagi pekerja dan masyarakat sekitar perusahaan, PT Perkebunan Nusantara IV (persero) memiliki 3 Unit Rumah Sakit yaitu RS Laras, RS Balimbingan dan RS Pabatu. Khusus di kebun Aek Nauli, PTPN-IV menyediakan poliklinik kesehatan. Namun perusahaan belum pernah melakukan pemeriksaan kadar hemoglobin maupun memberikan tablet zat besi sebagai tablet tambah darah (TTD) kepada pekerja khususnya pekerja wanita.
4.2 Karakteristik Subjek 4.2.1 Umur
Secara keseluruhan, rerata umur Subjek pada 30-40 tahun sebanyak 47,95%
dan yang berumur di atas 40 tahun sebanyak 52,05%.
Distribusi Subjek pekerja wanita di PT. X Kabupaten Simalungun berdasarkan umur disajikan pada tabel 4.1 berikut ini :
Tabel 4.1. Distribusi Subjek Berdasarkan Umur (Tahun) di PT. X Kabupaten Simalungun
Umur Perlakuan I Perlakuan II Kontrol
n % N % n %
30-40 tahun 10 41,7 13 54,2 12 48
>40 tahun 14 58,3 11 45,8 13 52
Jumlah 24 100 24 100 25 100
Dari Tabel 4.1 di atas menunjukkan bahwa pada kelompok perlakuan I yaitu yang diberi suplemen Fe, asam folat dan vitamin A kelompok umur terbanyak adalah
>40 tahun yaitu sebesar 58,3%, begitu juga pada kelompok kontrol yang diberi plasebo berisi laktosa yaitu sebesar 52%. Sementara pada kelompok perlakuan II yang diberi suplemen Fe, asam folat dan vitamin B12 kelompok umur terbanyak adalah 30-40 tahun yaitu sebesar 54,2%. Pada ketiga kelompok perlakuan, rerata umur Subjek yaitu kelompok perlakuan I dengan rata-rata umur 41,38 tahun, kelompok perlakuan II dengan rata-rata umur 41,42 tahun dan kelompok kontrol dengan rerata umur 40,68 tahun. Berdasarkan uji Kruskal Wallis (Lampiran 10.1) perbedaan umur dari masing-masing kelompok tidak berbeda secara signifikan dimana nilai p (0,805) > 0,005. Umur termuda 32 tahun dan umur tertua 45 tahun.
Hal ini menunjukkan bahwa umur Subjek di PT. X Kabupaten Simalungun masih tergolong usia produktif.
4.2.2 Pendidikan
Pendidikan adalah gambaran kemampuan seseorang dalam menyerap pengetahuan yang ada di sekitarnya. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin baik kemampuan seseorang dalam menyerap ilmu (Apriadji, 1996). Pada
ketiga kelompok perlakuan, pendidikan Subjek tidak berbeda yaitu pendidikan SD pada kelompok perlakuan I sebanyak 66,7%, pada kelompok perlakuan II sebanyak 58,3% dan pada kelompok kontrol sebanyak 72%, Untuk pendidikan SMP pada kelompok perlakuan I sebanyak 20,8%, kelompok perlakuan II sebanyak 29,2% dan kelompok kontrol sebanyak 28%. Untuk pendidikan SMA hanya terdapat pada kelompok perlakuan I dan II, yaitu masing-masing sebanyak 12,5%, sedangkan pendidikan tinggi tidak terdapat sama sekali (0%).
Distribusi Subjek pekerja wanita di PT. X Kabupaten Simalungun berdasarkan pendidikan disajikan pada tabel 4.2 berikut ini :
Tabel 4.2. Distribusi Subjek Berdasarkan Pendidikan di PT. X Kabupaten Simalungun
Pendidikan Perlakuan I Perlakuan I Kontrol
n % n % n %
SD 16 66,7 14 58,3 18 72
SMP 5 20,8 7 29,2 7 28
SMA 3 12,5 3 12,5 0 0
Jumlah 24 100 24 100 25 100
Jika diukur dari segi tingkat pendidikan, maka tingkat pendidikan pekerja wanita masih tergolong rendah, seperti yang terdapat pada tabel 4.3 di bawah ini :
Tabel 4.3. Distribusi Subjek Berdasarkan Tingkat Pendidikan di PT. X Kabupaten Simalungun
Tingkat Pendidikan Perlakuan I Perlakuan II Kontrol
n % N % n %
Rendah 16 66,7 14 58,3 18 72
Menengah 8 33,3 10 41,7 7 28
Tinggi 0 0 0 0 0 0
Jumlah 24 100 24 100 25 100
Berdasarkan tabel 4.3 di atas, sebagian besar Subjek memiliki tingkat pendidikan rendah. Pada kelompok perlakuan I sebanyak 66,7%, kelompok perlakuan II sebanyak 58,3% dan kelompok kontrol sebanyak 72%. Sementara untuk tingkat pendidikan menengah, pada kelompok perlakuan II sebanyak 33,3%, kelompok perlakuan II sebanyak 41,7% dan kelompok kontrol 28%. Untuk tingkat pendidikan tinggi pada semua kelompok perlakuan tidak ada (0%). Dengan uji Kruskal Wallis (Lampiran 10.1), tingkat pendidikan dari masing-masing kelompok tidak berbeda secara signifikan dimana nilai p (0,478) > 0,005.
4.2.3 Pendapatan Keluarga
Rerata pendapatan Subjek adalah di atas Upah Minimum Regional Propinsi Sumatera Utara Tahun 2012 (UMR Sumut Rp. 1.250.000), yaitu Rp. 1.829.954.8.-, dimana pendapatan minimal Rp 700.000 dan maximal Rp 5.000.000,-. Pendapatan ini adalah pendapatan keluarga karena seluruh Subjek sudah menikah. Pada ketiga kelompok perlakuan rerata pendapatan yaitu pada kelompok perlakuan I yaitu sebesar Rp. 1.631.115,5,-, kelompok perlakuan II yaitu sebesar Rp. 1.802.083,3,- dan kelompok kontrol yaitu sebesar Rp. 2.047.600,-. Berdasarkan uji Kruskal Wallis (Lampiran 10.1) perbedaan pendapatan dari ketiga kelompok tidak berbeda secara signifikan dimana nilai p (0,535) > 0,005.
Distribusi Subjek pekerja wanita di PT. X Kabupaten Simalungun berdasarkan pendapatan disajikan pada tabel 4.4 berikut ini :
Tabel 4.4. Distribusi Subjek Berdasarkan Pendapatan di PT. X Kabupaten Simalungun
Jumlah Pendapatan Perlakuan I Perlakuan II Kontrol
n % n % n %
<Rp. 1.250.000,- 7 29,17 3 12,50 3 12
Rp. 1.250.000,- 17 70,83 21 87,50 22 88
Jumlah 24 100 24 100 25 100
Dari Tabel 4.4. terlihat bahwa rata-rata pendapatan di atas upah minimum propinsi (UMR), yaitu perlakuan I sebesar 70,83%, perlakuan II sebesar 87,50% dan kelompok kontrol sebesar 88%. Namun walaupun demikian, jika rerata pendapatan dibagi dengan jumlah anggota keluarga minimal 2 orang (suami istri pekerja) dalam satu keluarga maka pendapatan per kapita per bulan sebesar Rp. 914.977,4,-.
Berdasarkan rerata pendapatan per kapita per bulan tersebut, maka pendapatan keluarga masih berada di bawah rerata kebutuhan hidup layak (KHL) yaitu sebesar Rp. 1.035,028,-. (SK. Gubernur Sumatera Utara No. 188.44/988/KPTS/2011).
4.3 Konsumsi Makanan
Sebelum suplementasi, dilakukan food recall dengan cara wawancara dan mencatat jenis, jumlah bahan makanan yang dikonsumsi pada periode 24 jam yang lalu pada Subjek yang dituliskan ke dalam formulir food recall. Kemudian setelah suplementasi selama 8 minggu dilakukan kembali food recall. Berdasarkan hasil wawancara tersebut maka diperoleh hasil konsumsi energi, protein, Fe, asam folat, vitamin A, vitamin B12 dan vitamin C.
4.3.1 Konsumsi Energi
Secara keseluruhan rerata konsumsi energi Subjek sebelum suplementasi yaitu sebesar 1878,86 Kkal/hr. Begitu juga pada rerata konsumsi energi sesudah suplementasi yaitu sebesar 1879,18 kkal/hr. Berdasarkan angka kecukupan gizi tahun 2004, dapat disimpulkan bahwa konsumsi energi Subjek baik sebelum maupun sesudah suplementasi dikategorikan cukup. Berdasarkan uji Wilcoxon test (Lampiran 10.13) perbedaan konsumsi energi Subjek sebelum dan sesudah suplementasi dari ketiga kelompok tidak berbeda secara signifikan dimana nilai p (0,715) > 0,005.
Rerata konsumsi energi sebelum suplementasi pada masing-masing kelompok perlakuan yaitu pada kelompok perlakuan I sebesar 1914,17 kkal/hr, pada kelompok perlakuan II sebesar 1903 kkal/hr dan pada kelompok kontrol sebesar 1822,3 kkal/hr.
Berdasarkan angka kecukupan gizi tahun 2004 dari ketiga kelompok perlakuan tersebut sebagian besar memenuhi kecukupan yang dianjurkan (1900 kalori).
Berdasarkan uji Kruskal Wallis (Lampiran 10.2) konsumsi energi sebelum suplementasi dari ketiga kelompok perlakuan tidak ada perbedaan yang signifikan p (0,056) > 0,05.
Rerata konsumsi energi sesudah suplementasi pada masing-masing kelompok perlakuan tidak berbeda yaitu pada kelompok perlakuan I sebesar 1911,67 kkal/hr, pada kelompok perlakuan II sebesar 1908 kkal/hr dan pada kelompok kontrol sebesar 1820,3 kkal/hr. Walaupun plasebo berisi laktosa sebanyak 1 mg, namun tidak mempengaruhi jumlah total kalori yang dikonsumsi oleh kelompok kontrol, karena 1
mg laktosa mengandung energi sebesar 0 kkal. Berdasarkan angka kecukupan gizi tahun 2004 dari ketiga kelompok perlakuan tersebut sebagian besar memenuhi kecukupan yang dianjurkan (1900 kalori). Berdasarkan uji Kruskal Wallis (Lampiran 10.2) konsumsi energi sesudah suplementasi dari ketiga kelompok perlakuan tidak ada perbedaan yang signifikan p (0,315) > 0,05.
Tabel 4.5. Distribusi Konsumsi Energi Subjek menurut Kelompok Perlakuan Kelompok Konsumsi Energi (kkal) P. Value
Sebelum Sesudah
Perlakuan I 1914,17±198,56 1911,67±81,25 0,950a
Perlakuan II 1903±209 1908±103 0,458b
Kontrol 1822,3±174,88 1820,3±234 0,627b
a(Paired Sample T test) b(Wilcoxon Test)
Hasil uji Paired-Sample T test ataupun Wilcoxon test terhadap konsumsi energi sebelum dan sesudah suplementasi pada kelompok perlakuan I, kelompok perlakuan II dan kelompok kontrol menunjukkan (p>0,05) hal ini berarti tidak ada perbedaan yang signifikan antara konsumsi energi sebelum dan sesudah suplementasi pada kelompok perlakuan I, kelompok perlakuan II dan kelompok kontrol.
Tabel 4.6. Distribusi Tingkat Konsumsi Energi Subjek di PT. X Kabupaten Simalungun
Tingkat Perlakuan I Perlakuan II Kontrol
Konsumsi Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
Energi n % n % n % N % n % n %
Berdasarkan tabel 4.6. di atas sebelum suplementasi, hanya terdapat 4,2%
tingkat konsumsi energi yang defisit pada kelompok perlakuan II dan 4% pada kelompok kontrol, selebihnya termasuk dalam tingkat konsumsi cukup dan baik.
4.3.2 Konsumsi Protein
Secara keseluruhan rerata konsumsi protein Subjek sebelum suplementasi yaitu sebesar 47,60 g/hr. Begitu juga pada rerata konsumsi protein sesudah suplementasi yaitu sebesar 47,03 g/hr. Berdasarkan angka kecukupan gizi tahun 2004, dapat disimpulkan bahwa konsumsi Subjek baik sebelum maupun sesudah suplementasi dikategorikan cukup. Berdasarkan uji Wilcoxon test (Lampiran 10.13) konsumsi protein dari ketiga kelompok perlakuan sebelum dan sesudah suplementasi tidak ada perbedaan yang signifikan p (0,810) > 0,05.
Rerata konsumsi protein sebelum suplementasi dari ketiga kelompok tidak berbeda yaitu kelompok perlakuan I sebesar 48,17 g/hr. Pada kelompok perlakuan II sebesar 48,13 g/hr dan pada kelompok kontrol sebesar 46,56 g/hr. Berdasarkan Angka kecukupan Gizi (AKG 2004), rerata konsumsi ketiga kelompok tersebut sebagian besar tidak memenuhi standar kecukupan yang dianjurkan (50 g/hr).
Berdasarkan uji Kruskal Wallis (Lampiran 10.3) konsumsi protein sebelum suplementasi dari ketiga kelompok perlakuan tidak ada perbedaan yang signifikan p (0,486) > 0,05.
Rerata konsumsi protein sesudah suplementasi dari ketiga kelompok juga tidak berbeda yaitu kelompok perlakuan I sebesar 48,13 g/hr, pada kelompok perlakuan II sebesar 50,13 dan pada kelompok kontrol sebesar 41,08 g/hr.
Berdasarkan Angka kecukupan Gizi (AKG 2004), ketiga kelompok tersebut sebagian besar tidak memenuhi standar kecukupan yang dianjurkan (50 g/hr). Berdasarkan uji Kruskal Wallis (Lampiran 10.3) konsumsi protein sesudah suplementasi dari ketiga kelompok perlakuan tidak ada perbedaan yang signifikan p (0,107) > 0,05.
Tabel 4.7. Distribusi Konsumsi Protein Subjek menurut Kelompok Perlakuan
Kelompok Konsumsi Protein (g) P. Value
Sebelum Sesudah
Perlakuan I 48,17±17,97 48,13±20,12 0,994
Perlakuan II 48,13±8,58 50,13±20,37 0,333
Kontrol 46,56±16,98 41,08±11,7 0,134
Hasil uji Paired-Sample T test terhadap konsumsi protein sebelum dan sesudah suplementasi pada kelompok perlakuan I, kelompok perlakuan II dan kelompok kontrol menunjukkan (p>0,05) hal ini berarti tidak ada perbedaan yang signifikan antara konsumsi protein sebelum dan sesudah suplementasi pada kelompok perlakuan I, kelompok perlakuan II dan kelompok kontrol.
Tabel 4.8. Distribusi Tingkat Konsumsi Protein Subjek di PT. X Kabupaten Simalungun
Tingkat Perlakuan I Perlakuan II Kontrol Konsumsi Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
Protein n % n % n % N % n % N % Berdasarkan tabel 4.8. di atas sebelum suplementasi tingkat konsumsi protein yang defisit dan kurang terdapat 29,2% dan 25% pada kelompok perlakuan I, 0% dan
16,7% pada kelompok perlakuan II, serta 20% dan 20% pada kelompok kontrol.
Begitu juga sesudah suplementasi tingkat konsumsi protein yang defisit dan kurang terdapat 16,7% dan 20,8% pada kelompok perlakuan I, 16,7% dan 8,3% pada kelompok perlakuan II, serta 32% dan 16% pada kelompok kontrol. Konsumsi di atas jika dibandingkan dengan angka kecukupan gizi, maka hampir separuhnya berada di bawah kecukupan gizi.
4.3.3 Konsumsi Fe
Rerata konsumsi Fe sebelum suplementasi adalah sebesar 5,56 mg/hr dan rerata konsumsi Fe sesudah suplementasi adalah sebesar 45,36. Jika dibandingkan dengan angka kecukupan gizi tahun 2004 (26 mg/hr), rerata konsumsi Fe sebelum suplementasi tergolong kurang dan sesudah suplementasi tergolong cukup.
Rerata konsumsi Fe sebelum suplementasi pada masing-masing kelompok adalah pada kelompok perlakuan I sebesar 5,62 mg/hr, pada kelompok perlakuan II sebesar 5,41 mg/hr dan pada kelompok kontrol sebesar 5,66 g/hr. Berdasarkan Angka kecukupan Gizi (AKG 2004), konsumsi Fe pada ketiga kelompok tersebut tidak memenuhi standar kecukupan yang dianjurkan (26 mg/hr). Secara uji Anova konsumsi Fe sebelum suplementasi dari ketiga kelompok perlakuan tidak ada perbedaan yang signifikan p (0,812) > 0,05.
Rerata konsumsi Fe sesudah suplementasi pada kelompok perlakuan I adalah sebesar 65,78 mg/hr. Pada kelompok perlakuan II rerata konsumsi Fe sebesar 65,59 m/hr, sementara rerata konsumsi Fe pada kelompok kontrol 6,36 mg/hr. Berdasarkan Angka kecukupan Gizi (AKG 2004), konsumsi Fe pada kelompok perlakuan I dan
perlakuan II sudah memenuhi standar kecukupan yang dianjurkan (26 mg/hr) sedang pada kelompok kontrol tidak memenuhi standar. Berdasarkan uji Kruskal Wallis (Lampiran 10.4) konsumsi Fe sesudah suplementasi dari ketiga kelompok perlakuan ada perbedaan yang signifikan p (0,000) < 0,05.
Jika dibandingkan rerata konsumsi Fe sebelum dengan rerata konsumsi sesudah suplementasi, terdapat peningkatan yang sangat tinggi pada kelompok perlakuan I dan II (uji Duncan pada Lampiran 10.4), hal ini dikarenakan adanya konsumsi tambahan melalui suplementasi yang mengandung Fe. Berdasarkan uji Wilcoxon test (Lampiran 10.13) konsumsi Fe sebelum dan sesudah suplementasi terdapat adanya perbedaan yang signifikan p (0,000) < 0,05.
Tabel 4.9. Distribusi Konsumsi Fe Subjek menurut Kelompok Perlakuan
Kelompok Konsumsi Fe (mg) P. Value
Sebelum Sesudah
Perlakuan I 5,62±1,68 65,78±1,75 0,000b
Perlakuan II 5,41±1,35 65,59±1,30 0,000a
Kontrol 5,66±1,35 6,36±1,28 0,019a
a(Paired Sample T test) b(Wilcoxon Test)
Hasil uji Paired-Sample T test ataupun Wilcoxon test terhadap konsumsi Fe sebelum dan sesudah suplementasi pada kelompok perlakuan I dan kelompok perlakuan II menunjukkan (p<0,05) hal ini berarti ada perbedaan yang signifikan antara konsumsi Fe sebelum dan sesudah suplementasi, sementara pada kelompok kontrol hasil uji Paired-Sample T test juga menunjukkan (p<0,05), artinya ada perbedaan yang signifikan konsumsi Fe sebelum dan sesudah suplementasi.
Tabel 4.10.Distribusi Tingkat Konsumsi Fe Subjek di PT. X Kabupaten Simalungun
Tingkat Perlakuan I Perlakuan II Kontrol
Konsumsi Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
Fe n % n % n % N % n % N %
Cukup 0 0 24 100 0 0 24 100 0 0 0 0
Kurang 24 100 0 0 24 100 0 0 25 100 25 100
Jumlah 24 100 24 100 24 100 24 100 25 100 25 100 Berdasarkan tabel 4.10. di atas sebelum suplementasi, terdapat 100% tingkat konsumsi Fe yang kurang pada ketiga kelompok perlakuan., tetapi sebaliknya sesudah suplementasi, terdapat masing-masing 100% tingkat konsumsi Fe yang cukup pada kelompok perlakuan I dan kelompok perlakuan II sementara pada kelompok kontrol 100% tingkat konsumsi kurang.
4.3.4 Konsumsi Asam Folat
Rerata konsumsi asam folat sebelum suplementasi adalah sebesar 341,1 µg/hr dan rerata konsumsi asam folat sesudah suplementasi adalah sebesar 508,44 µg/hr.
Jika dibandingkan dengan angka kecukupan gizi, maka rerata konsumsi asam folat sebelum dan sesudah suplementasi tergolong cukup.
Rerata konsumsi asam folat sebelum suplementasi pada masing-masing kelompok perlakuan yaitu pada kelompok perlakuan I sebesar 344 µg/hr, pada kelompok perlakuan II sebesar 345 µg/hr dan pada kelompok kontrol sebesar 333 µg/hr. Jika dibandingkan dengan angka kecukupan gizi, maka rerata konsumsi asam folat sebelum suplementasi tergolong cukup ( 65% AKG). Berdasarkan uji Anova
(Lampiran 10.5) konsumsi asam folat sebelum suplementasi dari ketiga kelompok perlakuan tidak ada perbedaan yang signifikan p (0,834) > 0,05.
Rerata konsumsi asam folat sesudah suplementasi pada kelompok perlakuan I adalah sebesar 596,67 µg/hr. Pada kelompok perlakuan II rerata konsumsi asam folat sebesar 597,08 µg/hr, sementara rerata konsumsi asam folat pada kelompok kontrol 338,64 µg/hr. Berdasarkan angka kecukupan gizi, maka rerata konsumsi asam folat sesudah suplementasi tergolong cukup ( 65% AKG). Berdasarkan uji Kruskal Wallis (Lampiran 10.5) konsumsi asam folat sesudah suplementasi dari ketiga kelompok perlakuan ada perbedaan yang signifikan p (0,000) < 0,05.
Jika dibandingkan antara rerata konsumsi asam folat sebelum dengan rerata konsumsi sesudah suplementasi, terdapat peningkatan konsumsi asam folat yang sangat tinggi pada kelompok perlakuan I dan II (uji Duncan Lampiran 10.5), hal ini dikarenakan adanya konsumsi tambahan melalui suplementasi yang mengandung asam folat. Berdasarkan uji Paired-Sample T test (Lampiran 10.13) konsumsi asam folat sebelum dan sesudah suplementasi dari ketiga kelompok perlakuan ada perbedaan yang signifikan p (0,000) < 0,05. Berdasarkan Angka kecukupan Gizi (AKG 2004), kelompok perlakuan I dan II telah memenuhi standar kecukupan yang dianjurkan (400 g/hr), sementara pada kelompok kontrol ada yang tidak memenuhi standar kecukupan yang dianjurkan.
Tabel 4.11. Distribusi Konsumsi Asam Folat Subjek menurut Kelompok Perlakuan
Kelompok Konsumsi Asam folat ( g) P. Value
Sebelum Sesudah
Perlakuan I 344,17±72,22 596,67±71,66 0,000 Perlakuan II 345,83±72,35 597,08±67,88 0,000
Kontrol 333,60±85,9 338,64±85,6 0,054
Hasil uji Paired-Sample T test terhadap konsumsi asam folat sebelum dan sesudah suplementasi pada kelompok perlakuan I dan kelompok perlakuan II menunjukkan (p<0,05) hal ini berarti ada perbedaan yang signifikan antara konsumsi asam folat sebelum dan sesudah suplementasi pada kelompok perlakuan I dan kelompok perlakuan II, sementara pada kelompok kontrol hasil uji Paired-Sample T test menunjukkan (p>0,05), artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara konsumsi asam folat sebelum dan sesudah suplementasi.
Tabel 4.12. Distribusi Tingkat Konsumsi Asam Folat Subjek di PT. X Kabupaten Simalungun
Tingkat Konsumsi Asam folat
Perlakuan I Perlakuan II Kontrol Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
n % n % n % n % n % n %
Cukup 23 95,83 24 100 22 91,67 24 100 22 88 22 88
Kurang 1 4,17 0 0 2 8,33 0 0 3 12 3 12
Jumlah 24 100 24 100 24 100 24 100 25 100 25 100 Berdasarkan tabel 4.12. di atas sebelum suplementasi, terdapat tingkat
Jumlah 24 100 24 100 24 100 24 100 25 100 25 100 Berdasarkan tabel 4.12. di atas sebelum suplementasi, terdapat tingkat