• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS. Oleh : LUSYANA GLORIA DOLOKSARIBU /IKM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TESIS. Oleh : LUSYANA GLORIA DOLOKSARIBU /IKM"

Copied!
224
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH SUPLEMENTASI Fe, ASAM FOLAT, VITAMIN A DAN VITAMIN B12 TERHADAP PENINGKATAN KADAR HEMOGLOBIN (Hb) PEKERJA WANITA DI PT. X KABUPATEN SIMALUNGUN

2012

TESIS

Oleh :

LUSYANA GLORIA DOLOKSARIBU 107032090/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2013

(2)

PENGARUH SUPLEMENTASI Fe, ASAM FOLAT, VITAMIN A DAN VITAMIN B12 TERHADAP PENINGKATAN KADAR HEMOGLOBIN (Hb) PEKERJA WANITA DI PT. X KABUPATEN SIMALUNGUN

2012

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Administrasi dan Kebijakan Gizi Masyarakat

pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Oleh :

LUSYANA GLORIA DOLOKSARIBU 107032090/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2013

(3)
(4)

Telah diuji

Pada Tanggal : 25 Nopember 2013

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Ir. Albiner Siagian, M.Si Anggota : 1. Dra. Jumirah, Apt, M.Kes

2. Dr.Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes 3. Dr. Ir. Evawany Y. Aritonang, M.Si

(5)

PERNYATAAN

PENGARUH SUPLEMENTASI Fe, ASAM FOLAT, VITAMIN A DAN VITAMIN B12 TERHADAP PENINGKATAN KADARHEMOGLOBIN (Hb) PEKERJA WANITA DI PT. X KABUPATEN SIMALUNGUN 2012

TESIS

Dengan ini Saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan Saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, Desember 2013

Lusyana Gloria Doloksaribu 107032090/IKM

(6)

ABSTRAK

Masalah anemia pada pekerja wanita masih merupakan masalah kesehatan yang cukup tinggi di Indonesia. Prevalensi anemia pada pekerja wanita di Indonesia sebesar 30-46,6% dan khususnya di PT. X Kabupaten Simalungun sebesar 60,8%.

Untuk itu perlu perhatian khusus terhadap salah satu masalah kesehatan ini.

Penelitian ini adalah eksperimen dengan desain randomize controlled trial.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suplementasi Fe, asam folat, vitamin A dan vitamin B12 terhadap kadar hemoglobin pekerja. Intervensi dilakukan selama 8 minggu, yaitu pemberian obat cacing dosis tunggal sebelum suplementasi dan pemberian suplemen berupa kapsul Fe, asam folat dan vitamin A serta kapsul Fe, asam folat dan vitamin B12. Sesuai kriteria inklusi sampel sebanyak 73 orang, yang dibagi menjadi 3 kelompok kontrol yaitu yang mendapatkan plasebo, sebanyak 25 orang, kelompok Perlakuan I yaitu yang mendapatkan suplemen berisi Fe, asam folat dan vitamin A sebanyak 24 orang, dan kelompok perlakuan II yaitu yang mendapatkan suplemen berisi Fe, asam folat dan vitamin B12 sebanyak 24 orang.

Pengukuran Hemoglobin menggunakan metode Cyanmethemoglobin dan menggunakan alat Spektrofotometer. Konsumsi energi, protein, Fe, asam folat, vitamin A, vitamin B12, dan vitamin C diperoleh melalui metode food recall. Data dianalisis dengan uji Paired Sample T Test.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum suplementasi Fe, asam folat, vitamin A dan vitamin B12 rerata konsumsi energi tergolong cukup/baik, protein cukup, asam folat cukup vitamin A kurang, vitamin B12 kurang dan vitamin C defisit.

Namun sesudah suplementasi rerata konsumsi Fe, asam folat, vitamin A dan vitamin B12 meningkat menjadi baik karena ada tambahan asupan dari suplemen yang diberi pada pekerja wanita.

Ada pengaruh suplementasi terhadap peningkatan kadar hemoglobin pekerja wanita yang signifikan (p<0,05), yaitu dengan suplementasi Fe, asam folat, vitamin A (perlakuan I) dan suplementasi Fe, asam folat dan vitamin B12 (perlakuan II) berhasil meningkatkan kadar hemoglobin, masing-masing sebesar 1,08 g/dl dan 1,85 g/dl, dilanjutkan dengan uji Duncan menunjukkan bahwa suplementasi Fe, asam folat dan vitamin B12 paling berpengaruh (paling efektif dan cepat) dalam meningkatkan kadar Hb dibandingkan dengan suplementasi Fe, asam folat dan vitamin A.

Kata Kunci : Suplementasi Fe, Asam folat, Vitamin A dan Vitamin B12, Kadar hemoglobin, Pekerja wanita.

(7)

ABSTRACT

The incident of anemia in female workers is still a serious health problem in Indonesia. The prevalence of anemia in female workers in Indonesia is 30% to 46.6%, and especially in PTPN IV, Kebun Aek Nauli, it is 60,8%. Therefore, this health problem should be paid more attention.

The research was an experiment with randomized control trial design. The object of the research was to find out the influence iron, folic acid, vitamin A, and vitamin B12 supplementation on hemoglobin level in workers. Intervention was done within eight weeks by giving de-worming medicine of single dosage before taking and giving the iron, folic acid and vitamin A supplementation and iron, folic acid and vitamin B12 supplementation. In accordance with the inclusive samples criteria, 73 respondents were divided into three groups: the control group which consisted of 25 respondents took placebo; the treatment group 1 which consisted of 24 respondents took supplement containing Iron, folic acid and vitamin A; and the treatment group II which consisted of 24 respondents took supplement containing iron, folic acid, and vitamin B12.

Hemoglobin was measured by using Cyanmethemoglobin. The consumption of energy, protein, iron, folic acid, vitamin A, vitamin B12, and vitamin C were obtained through the method of food recall. The data were analyzed by using Paired Sample T Test.

The result of the research showed that before supplementation of iron, folic acid, vitamin A, and vitamin B12 were given, the average consumption of energy was adequate/good, protein and folic acid were adequate, vitamin A and vitamin B12

were inadequate, and vitamin C was deficit. However, after supplementation were given, the average consumptions of iron, folic acid, vitamin A, and vitamin B12 gradually became good because there was additional intake from the supplements given to female workers.

Statistic analysis showed that supplementation of iron,folic acid, vitamin A and vitamin B12 can increase haemoglobin level of the female workers significantly (p

< 0.05). The supplements of iron, folic acid, and vitamin A (treatment I) and the supplements of iron, folic acid, and vitamin B12 (treatment II) were successful in increasing hemoglobin level of 1.08 g/dl and 1.85 g/dl. The result of Duncan test showed the supplements of iron, folic acid, and vitamin B12 had more dominant (effective and rapid) influence on increasing Hb level than the supplements of iron, folic acid, and vitamin A.

Keywords : Iron, Folic acid, Vitamin A and Vitamin B12 Supplementation, Hemoglobin level, Female workers

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas berkat dan anugerahNya penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “Pengaruh Suplementasi Fe, Asam Folat, Vitamin A dan Vitamin B12 terhadap Peningkatan Kadar Hemoglobin (Hb) Pekerja Wanita di PT. X Kabupaten Simalungun 2012”. Tesis ini disusun sebagai salah satu persyaratan untuk menyelesaikan Program Magister di Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Penulis menyadari begitu banyak yang memberi dukungan, bimbingan, informasi, bantuan moril maupun materis dan kemudahan dari berbagai pihak, sehingga tesis ini dapat diselesaikan. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM & H, M.Sc (CTM), Sp.A (K), selaku Rektor Universitas Sumatera Utara Medan.

2. Dr. Drs. Surya Utama, M.S, selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Dr. Ir. Evawany Y. Aritonang, M.Si, selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara sekaligus sebagai komisi pembanding yang telah banyak memberikan arahan dan masukan demi kesempurnaan tesis ini

(9)

4. Prof. Dr. Ir. Albiner Siagian, M.Si, selaku ketua komisi pembimbing yang penuh perhatian dan kesabaran untuk membimbing, mengarahkan, penulis mulai proposal hingga penulisan tesis ini selesai.

5. Dra. Jumirah, Apt, M.Kes, selaku anggota komisi pembimbing yang penuh kesabaran untuk membimbing, mengarahkan, penulis mulai proposal hingga penulisan tesis ini selesai.

6. Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes, selaku komisi pembanding yang telah banyak memberikan arahan, masukan demi kesempurnaan penulisan tesis ini.

7. Dosen dan Staf di lingkungan Program Studi Pasca Sarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Gizi Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

8. Ir. Zuraidah Nasution, M.Kes, selaku Direktur Poltekkes Kemenkes Medan yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melanjutkan pendidikan pasca sarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara.

9. Oslida Martony, SKM, M.Kes, selaku Ketua Jurusan Gizi Lubuk Pakam yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melanjutkan pendidikan pasca sarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

10. Manajer Pusat X (Persero), Manajer Unit X, yang telah memberikan izin penelitian, Asisten Kepala, Asisten Afdeling, pekerja wanita serta berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah banyak membantu dalam penyelesaian tesis ini.

(10)

11. Suami tercinta Iptu. Fredly Parlindungan, S.H. dan ananda tersayang David atas doa dan kasih sayang, pengorbanan, pengertian, dorongan selama penulis mengikuti perkulihan sampai selesai pendidikan ini.

12. Keluarga besarku, terkhusus Ibuku tercinta dan kakakku Melva Doloksaribu yang telah begitu banyak memberikan pengorbanan, doa, dan dukungan selama penulis mengikuti perkulihan sampai selesai pendidikan ini.

13. Teman-teman baik Ibu Riris Oppusunggu, Ibu Mincu Manalu, Bapak Urbanus Sihotang dan kakakku Lasma, Kak James, Kak Maria, Grace, Intan, Boy dan Fery Sihotang yang telah memberikan bantuan, perhatian dan semangat serta dorongan untuk penyelesaian penulisan tesis ini.

14. Seluruh rekan-rekan Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Minat studi Administrasi Kebijakan Gizi Masyarakat Angkatan 2010.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan keterbatasan, untuk itu diharapkan kritik dan saran untuk penyempurnaan tesis ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih, semoga tesis ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Desember 2013 Penulis

Lusyana Gloria Doloksaribu 107032090/IKM

(11)

RIWAYAT HIDUP

Lusyana Gloria Doloksaribu, lahir pada tanggal 15 Nopember 1979 di Tinjowan, anak keenam dari delapan bersaudara dari pasangan ayahanda S.

Doloksaribu (+) dan ibunda T. br Napitupulu, Am.Pd.

Pendidikan formal penulis dimulai dari sekolah dasar di Sekolah Dasar Negeri, selesai tahun 1992, Sekolah Menengah Pertama, selesai tahun 1995, Sekolah Menengah Atas, selesai tahun 1998, Akademi Gizi Dep.Kes.RI, selesai tahun 2001, S1-KFM USU, selesai tahun 2006.

Pada tahun 2005 bekerja sebagai staf di jurusan gizi Poltekkes Kemenkes Medan sampai sekarang.

Penulis mengikuti pendidikan lanjutan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, minat studi Administrasi Kebijakan Gizi Masyarakat, Universitas Sumatera Utara sejak tahun 2010 hingga sekarang.

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Permasalahan ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Hipotesis Penelitian ... 6

1.5 Manfaat Penelitian ... 7

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 8

2.1 Anemia ... 8

2.1.1 Anemia karena Kekurangan Zat Besi (Fe) ... 11

2.1.2 Anemia karena Kekurangan Asam Folat ... 13

2.1.3. Anemia karena Kekurangan Vitamin A ... 14

2.1.4. Anemia karena Kekurangan Vitamin B12 ... 16

2.2 Hemoglobin (Hb) ... 16

2.3 Kaitan Fe, Asam Folat dan Vitamin A dengan Hemoglobin ... 19

2.4 Konsumsi Makanan ... 23

2.5 Kerangka Konsep ... 26

BAB 3. METODE PENELITIAN ... 27

3.1 Jenis Penelitian ... 27

3.2 Lokasi dan Waktu penelitian ... 28

3.3 Populasi dan Sampel ... 29

3.4 Instrumen dan Bahan Penelitian ... 30

3.5 Metode Pengumpulan Data ... 31

3.5.1 Jenis Data ... 31

3.5.2 Cara Pengumpulan Data ... 31

3.6 Variabel dan Definisi Operasional ... 32

3.6.1 Variabel Penelitian ... 32

3.6.2 Definisi Operasional ... 33

3.7 Pelaksanaan Penelitian ... 34

3.7.1 Pre-Intervensi ... 34

(13)

3.7.2 Intervensi ... 35

3.7.3 Post-Intervensi ... 36

3.8 Metode Analisa Data……….. ... 39

BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 40

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 40

4.2 Karakteristik Sampel ... 41

4.2.1 Umur ... 42

4.2.2 Pendidikan ... 43

4.2.3 Pendapatan Keluarga ... 44

4.3 Konsumsi Makanan ... 45

4.3.1 Konsumsi Energi ... 46

4.3.2 Konsumsi Protein ... 48

4.3.3 Konsumsi Fe ... 50

4.3.4 Konsumsi Asam Folat ... 52

4.3.5 Konsumsi Vitamin A ... 55

4.3.6 Konsumsi Vitamin B12 ... 57

4.3.7 Konsumsi Vitamin C ... 60

4.4 Kadar Hemoglobin (Hb) ... 62

4.4.1 Status Anemia ... 64

4.5 Pengaruh Suplementasi Fe, Asam Folat, Vitamin A dan Vitamin B12 terhadap Kadar Hemoglobin (Hb) ... 65

4.6 Perbedaan Pengaruh Suplementasi Fe, Asam Folat, Vitamin A dengan Suplementasi Fe, Asam Folat dan Vitamin B12 ... 65

BAB 5. PEMBAHASAN ... 68

5.1 Karakteristik Sampel ... 68

5.1.1 Umur Sampel ... 68

5.1.2 Pendidikan ... 69

5.1.3 Pendapatan ... 69

5.2 Konsumsi Makanan ... 70

5.3 Kadar Hemoglobin (Hb) ... 76

5.4 Pengaruh Suplementasi Fe, Asam Folat, Vitamin A dan Vitamin B12 terhadap Kadar Hemoglobin (Hb) Pekerja Wanita 78 5.5 Perbedaan Pengaruh Suplementasi Fe, Asam Folat, Vitamin A dengan Suplementasi Fe, Asam Folat dan Vitamin B12 ... 82

5.6 Keterbatasan Penelitian ... 85

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 87

6.1 Kesimpulan ... 87

6.2 Saran ... 88

(14)

DAFTAR PUSTAKA ... 90 LAMPIRAN

(15)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul ... Halaman

2.1. Batas Kadar Hemoglobin ... 19 2.2. Batas Hemoglobin untuk Anemia pada Wanita Dewasa ... 19 2.3 Kebutuhan Gizi perhari Pekerja Wanita Menurut Umur,

dan Aktivitas Fisik ... 25 2.4. Tingkat Konsumsi Makanan ... 25 3.1. Aspek Pengukuran ... 37 4.1. Distribusi Sampel Berdasarkan Umur (Tahun) di PTPN-IV

Kebun Aek Nauli ... 42 4.2. Distribusi Sampel Berdasarkan Pendidikan di PTPN-IV

Kebun Aek Nauli ... 43 4.3. Distribusi Sampel Berdasarkan Tingkat Pendidikan di

PT. X Kabupaten Simalungun ... 43 4.4. Distribusi Sampel Berdasarkan Pendapatan di PTPN-IV

Kebun Aek Nauli ... 45 4.5. Distribusi Konsumsi Energi Sampel menurut Kelompok

Perlakuan.. ... 47 4.6. Distribusi Tingkat Konsumsi Energi Sampel di PTPN-IV

Kebun Aek Nauli ... 47 4.7. Distribusi Konsumsi Protein Sampel menurut Kelompok

Perlakuan. ... 49 4.8. Distribusi Tingkat Konsumsi Protein Sampel di PTPN-IV

Kebun Aek Nauli ... 49 4.9. Distribusi Konsumsi Fe Sampel menurut Kelompok Perlakuan .. … 51

(16)

4.10. Distribusi Tingkat Konsumsi Fe Sampel di PTPN-IV

Kebun Aek Nauli ... 52 4.11. Distribusi Konsumsi Asam Folat Sampel menurut

Kelompok Perlakuan ... 54 4.12. Distribusi Tingkat Konsumsi Asam Folat Sampel di

PT. X Kabupaten Simalungun ... 54 4.13. Distribusi Konsumsi Vitamin A Sampel menurut

Kelompok Perlakuan Perlakuan ... 56 4.14. Distribusi Tingkat Konsumsi Vitamin A Sampel di PTPN-IV

Kebun Aek Nauli ... 57 4.15. Distribusi Konsumsi Vitamin B12 Sampel menurut

Kelompok Perlakuan Perlakuan ... 59

4.16. Distribusi Tingkat Konsumsi Vitamin B12 Sampel di

PT. X Kabupaten Simalungun ... 59 4.17. Distribusi Konsumsi Vitamin C Sampel menurut

Kelompok Perlakuan ... 61 4.18. Distribusi Tingkat Konsumsi Vitamin C Sampel di PTPN-IV

Kebun Aek Nauli ... 61 4.19. Distribusi Kadar Hb Sampel menurut Kelompok Perlakuan…….. 63 4.20. Perubahan Status Anemia setelah Suplementasi pada Sampel

di PT. X Kabupaten Simalungun ... 64

(17)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul ... Halaman

2.1. Sintesis Heme ... 17

2.2. Kerangka Konsep Penelitian ... 26

3.1. Rancangan Penelitian ... 27

3.2. Alur Penelitian ... 38

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul ... Halaman

1. Surat Izin Penelitian ... 93

2. Formulir Data Identitas Pekerja Wanita untuk Penyaringan Awal 94

3. Kuisioner Data Sosial Ekonomi Keluarga ... 95

4. Pernyataan Kesediaan menjadi Sampel ... 96

5. Formulir Recall Makanan Sehari ... 97

6. Formulir Pemantauan Kepatuhan Mengkonsumsi Plasebo pada Pekerja Wanita... 98

7. Formulir Pemantauan Kepatuhan Mengkonsumsi Suplemen Fe, Asam Folat dan Vitamin A Pekerja Wanita ... 99

8. Formulir Pemantauan Kepatuhan Mengkonsumsi Suplemen Fe, Asam Folat dan Vitamin B12 ... 100

9. Master Tabel ... 101

10. Uji Statistik ... 103

11. Dokumentasi Penelitian ... 117

(19)

ABSTRAK

Masalah anemia pada pekerja wanita masih merupakan masalah kesehatan yang cukup tinggi di Indonesia. Prevalensi anemia pada pekerja wanita di Indonesia sebesar 30-46,6% dan khususnya di PT. X Kabupaten Simalungun sebesar 60,8%.

Untuk itu perlu perhatian khusus terhadap salah satu masalah kesehatan ini.

Penelitian ini adalah eksperimen dengan desain randomize controlled trial.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suplementasi Fe, asam folat, vitamin A dan vitamin B12 terhadap kadar hemoglobin pekerja. Intervensi dilakukan selama 8 minggu, yaitu pemberian obat cacing dosis tunggal sebelum suplementasi dan pemberian suplemen berupa kapsul Fe, asam folat dan vitamin A serta kapsul Fe, asam folat dan vitamin B12. Sesuai kriteria inklusi sampel sebanyak 73 orang, yang dibagi menjadi 3 kelompok kontrol yaitu yang mendapatkan plasebo, sebanyak 25 orang, kelompok Perlakuan I yaitu yang mendapatkan suplemen berisi Fe, asam folat dan vitamin A sebanyak 24 orang, dan kelompok perlakuan II yaitu yang mendapatkan suplemen berisi Fe, asam folat dan vitamin B12 sebanyak 24 orang.

Pengukuran Hemoglobin menggunakan metode Cyanmethemoglobin dan menggunakan alat Spektrofotometer. Konsumsi energi, protein, Fe, asam folat, vitamin A, vitamin B12, dan vitamin C diperoleh melalui metode food recall. Data dianalisis dengan uji Paired Sample T Test.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum suplementasi Fe, asam folat, vitamin A dan vitamin B12 rerata konsumsi energi tergolong cukup/baik, protein cukup, asam folat cukup vitamin A kurang, vitamin B12 kurang dan vitamin C defisit.

Namun sesudah suplementasi rerata konsumsi Fe, asam folat, vitamin A dan vitamin B12 meningkat menjadi baik karena ada tambahan asupan dari suplemen yang diberi pada pekerja wanita.

Ada pengaruh suplementasi terhadap peningkatan kadar hemoglobin pekerja wanita yang signifikan (p<0,05), yaitu dengan suplementasi Fe, asam folat, vitamin A (perlakuan I) dan suplementasi Fe, asam folat dan vitamin B12 (perlakuan II) berhasil meningkatkan kadar hemoglobin, masing-masing sebesar 1,08 g/dl dan 1,85 g/dl, dilanjutkan dengan uji Duncan menunjukkan bahwa suplementasi Fe, asam folat dan vitamin B12 paling berpengaruh (paling efektif dan cepat) dalam meningkatkan kadar Hb dibandingkan dengan suplementasi Fe, asam folat dan vitamin A.

Kata Kunci : Suplementasi Fe, Asam folat, Vitamin A dan Vitamin B12, Kadar hemoglobin, Pekerja wanita.

(20)

ABSTRACT

The incident of anemia in female workers is still a serious health problem in Indonesia. The prevalence of anemia in female workers in Indonesia is 30% to 46.6%, and especially in PTPN IV, Kebun Aek Nauli, it is 60,8%. Therefore, this health problem should be paid more attention.

The research was an experiment with randomized control trial design. The object of the research was to find out the influence iron, folic acid, vitamin A, and vitamin B12 supplementation on hemoglobin level in workers. Intervention was done within eight weeks by giving de-worming medicine of single dosage before taking and giving the iron, folic acid and vitamin A supplementation and iron, folic acid and vitamin B12 supplementation. In accordance with the inclusive samples criteria, 73 respondents were divided into three groups: the control group which consisted of 25 respondents took placebo; the treatment group 1 which consisted of 24 respondents took supplement containing Iron, folic acid and vitamin A; and the treatment group II which consisted of 24 respondents took supplement containing iron, folic acid, and vitamin B12.

Hemoglobin was measured by using Cyanmethemoglobin. The consumption of energy, protein, iron, folic acid, vitamin A, vitamin B12, and vitamin C were obtained through the method of food recall. The data were analyzed by using Paired Sample T Test.

The result of the research showed that before supplementation of iron, folic acid, vitamin A, and vitamin B12 were given, the average consumption of energy was adequate/good, protein and folic acid were adequate, vitamin A and vitamin B12

were inadequate, and vitamin C was deficit. However, after supplementation were given, the average consumptions of iron, folic acid, vitamin A, and vitamin B12 gradually became good because there was additional intake from the supplements given to female workers.

Statistic analysis showed that supplementation of iron,folic acid, vitamin A and vitamin B12 can increase haemoglobin level of the female workers significantly (p

< 0.05). The supplements of iron, folic acid, and vitamin A (treatment I) and the supplements of iron, folic acid, and vitamin B12 (treatment II) were successful in increasing hemoglobin level of 1.08 g/dl and 1.85 g/dl. The result of Duncan test showed the supplements of iron, folic acid, and vitamin B12 had more dominant (effective and rapid) influence on increasing Hb level than the supplements of iron, folic acid, and vitamin A.

Keywords : Iron, Folic acid, Vitamin A and Vitamin B12 Supplementation, Hemoglobin level, Female workers

(21)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia yang berakibat buruk bagi penderita terutama golongan rawan gizi yaitu anak balita, anak sekolah, remaja, ibu hamil dan menyusui serta pekerja terutama yang berpenghasilan rendah.

Berdasarkan hasil penelitian WHO tahun 1998, diketahui bahwa prevalensi anemia defisiensi besi di Asia >75%, di Afrika Timur 47%, Afrika Barat sebesar 56%, Australia dan New Zealand sebesar 20% (ACC/SCN, 2000). Di Indonesia, kasus anemia gizi mencapai 63,5%. Pada pekerja wanita prevalensi anemia masih cukup tinggi yaitu berkisar 30-46,6%. Hal ini dapat menyebabkan penurunan produktivitas kerja, sehingga pekerja yang menderita anemia produktivitas kerja 20% lebih rendah dibandingkan dengan pekerja yang sehat dengan gizi baik (Suharno, 1993).

Pekerja wanita merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap anemia gizi. Hal ini disebabkan oleh kurangnya zat besi dalam makanan dan pekerjaan yang berat, serta secara alamiah wanita setiap bulan mengalami haid. Salah satu tanda seseorang mengalami anemia dapat dilihat dari pemeriksaan kadar hemoglobin yang menunjukkan angka kurang dari normal (Dep. Kes. RI, 2002).

Survei Nasional tahun 2001 menunjukkan prevalensi anemia khusus pada Wanita Usia Subur (WUS) kawin dan tidak kawin masing-masing sebesar 26,9% dan 24,5% (BPPN, 2007), sementara banyak wanita, terutama dari golongan bawah sudah

(22)

berpartisipasi dalam berbagai lapangan pekerjaan. Selain perannya sebagai istri atau ibu dalam keluarga, wanita juga berperan sebagai tenaga kerja. Jumlah pekerja wanita di Indonesia setiap tahun meningkat. Pada tahun 2007 mencapai 2,12 juta orang (35,37%). Peningkatan ini dilihat dari segi positif yaitu bertambahnya tenaga produktif, namun dari segi negatif status kesehatan maupun gizi pekerja umumnya belum mendapat perhatian yang baik. Terdapat bukti adanya gangguan kesehatan yang dialami oleh sebagian pekerja wanita, seperti gangguan haid, gangguan kehamilan, pendarahan, dan keguguran. Jika dilihat lebih rinci, ternyata prevalensi anemia pekerja wanita lebih besar dibandingkan dengan hasil yang ditemukan survei nasional tersebut. Hal ini terbukti dari temuan-temuan beberapa penelitian, seperti penelitian Mulyawati tahun 2003 di PT. Plywood (Jakarta) sebesar 64%. Penelitian Sari dkk tahun 2008 di PT. X. Belawan (Sumatera Utara) sebesar 42,5%. Penelitian Oppusunggu, tahun 2009 di PT. X Kabupaten Deli Serdang (Sumatera Utara) sebesar 48,5%. Penelitian Muwakidah tahun 2009 (Kabupaten Sukoharjo) sebesar 60,38%, dan penelitian Widiastuti pada bulan Mei 2011 di PT. Asaputex Jaya Desa Wangandawa Kabupaten Tegal ditemukan kasus anemia sebesar 37,5%.

Penyebab langsung terjadinya anemia beraneka ragam antara lain : defisiensi asupan gizi dari makanan (zat besi, asam folat, protein, vitamin C, ribovlavin, vitamin A, seng dan vitamin B12), konsumsi zat-zat penghambat penyerapan besi, penyakit infeksi, malabsorpsi, perdarahan dan peningkatan kebutuhan (Ramakrishnan, 2001).

Penyakit infeksi dapat menghambat absorpsi besi dalam tubuh, dikarenakan besi akan dipergunakan sebagai makanan essensial untuk pertumbuhan bakteri dan

(23)

mikroorganisme sehingga akan memperparah keadaan infeksinya. (Linder, 1992). Zat gizi seperti protein, besi, asam folat dan vitamin B12 dan lain-lain diperlukan dalam pembentukan sel darah merah. Pembentukan sel darah merah akan terganggu apabila zat gizi yang diperlukan tidak mencukupi. Faktor tidak langsung yang mempengaruhi anemia adalah sosial ekonomi, pendidikan, pengetahuan gizi, umur, dan status perkawinan.

Penanganan anemia defisiensi gizi yang paling efektif dalam jangka pendek adalah suplementasi tablet besi. Namun walaupun suplementasi besi sudah diberikan, defisiensi vitamin seperti vitamin A, riboflavin, asam folat dan vitamin B12 dapat menyebabkan anemia. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian Hertanto (2002) di Karangawen Demak menemukan bahwa prevalensi anemia sebesar 77,1%, ternyata yang menderita anemia defisiensi besi murni hanya 3,7%, dan 55,6% adalah anemia dengan disertai berkurangnya salah satu zat gizi mikro seperti (seng, vitamin A dan vitamin B12). Penelitian Ahmed F (2001) di Bangladesh menunjukkan bahwa anemia pada pekerja tidak hanya disebabkan oleh defisiensi besi saja namun juga defisiensi asam folat dan vitamin A. Penelitian Subagio (2002) menunjukkan bahwa defisiensi seng dan vitamin A merupakan faktor risiko terhadap kegagalan suplementasi besi.

Penelitian oleh Zarianis (2006) dan Jannah (2006) menunjukkan bahwa defisiensi besi disebabkan juga karena defisiensi vitamin C dan vitamin A. Dengan demikian, pemberian tablet besi bersamaan dengan zat gizi mikro lain (multiple micronutrients) lebih efektif dalam meningkatkan status besi, dibandingkan dengan hanya

(24)

memberikan suplementasi besi dalam bentuk dosis tunggal. Hasil-hasil penelitian ini menunjukkan bahwa defisiensi besi bukan satu-satunya penyebab anemia.

Berdasarkan survey pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di PT. X Kabupaten Simalungun pada pekerja wanita yang berjumlah 176 orang, bekerja selama 8 jam/ hari. Dari hasil skrining pada 120 orang yang dapat diperiksa kadar hemoglobinnya terdapat 73 orang (60,8%) yang mempunyai kadar hemoglobin <12 g/dl. Mereka bekerja di perkebunan sawit yang terpapar dengan tanah sehingga berisiko kecacingan. Untuk makan siang, mereka membawa bekal dari rumah atau makan setelah pulang dari pekerjaan karena pihak perusahaan tidak menyediakan makan siang/ makanan tambahan. Perusahaan juga tidak pernah melakukan pemeriksaan kadar hemoglobin, tidak pernah memberikan tablet tambah darah (TTD). Keluhan seperti lelah, pusing dan pegal-pegal juga diungkapkan oleh beberapa pekerja. Berdasarkan gambaran konsumsi makanan yang diperoleh melalui food recall pada 10 orang pekerja wanita menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi energi sebesar 100%, protein sebesar 80%, zat besi sebesar 75%, asam folat sebesar 70%, vitamin A sebesar 70%, vitamin B12 70% dan vitamin C sebesar 70% dari yang dianjurkan. Jika rata-rata konsumsi tersebut dibandingkan dengan tingkat konsumsi, maka tingkat konsumsi untuk energi dikategorikan baik, protein cukup, zat besi, asam folat, vitamin A dan vitamin B12 dikategorikan kurang.

Untuk mencegah keluhan di atas, dan memenuhi kebutuhan akan kekurangan zat gizi yang ada, maka perlu adanya upaya pemberian suplemen tablet tambah darah mengingat pekerja wanita merupakan aset perusahaan yang harus dijaga

(25)

kesehatannya. Dalam penelitian ini, peneliti memberi suplemen tambah darah yang berisi Fe, asam folat, vitamin A dan vitamin B12. Dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan kadar hemoglobin yang akhirnya akan meningkatkan produktivitas kerja. Jika produktivitas meningkat, maka keuntungan yang diperoleh perusahaan pun akan meningkat sehingga target perusahaan tercapai.

1.2 Permasalahan

Hasil skrining hemoglobin dari 120 orang pekerja wanita terdapat 73 orang (60,8%) yang mempunyai kadar hemoglobin <12 g/dl. Berdasarkan kondisi pekerjaan bahwa pekerja wanita selalu terpapar dengan tanah sehingga beresiko kecacingan, tidak pernah mendapat makanan tambahan, tidak pernah diperiksa kadar hemoglobin ataupun diberikan tablet tambah darah (TTD), mengeluh lelah, pusing dan pegal- pegal serta gambaran tingkat konsumsi untuk zat besi, asam folat, vitamin A dan vitamin B12 dikategorikan kurang. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang suplementasi Fe, asam folat, vitamin A dan vitamin B12 terhadap peningkatan kadar Hemoglobin pekerja wanita di PT. X Kabupaten Simalungun, apakah ada pengaruh pemberian suplemen Fe, asam folat vitamin A dan vitamin B12

terhadap peningkatan kadar hemoglobin pekerja wanita PT. X Kabupaten Simalungun.

(26)

1.3 Tujuan Penelitian

1. Mengetahui konsumsi energi, protein, Fe, asam folat, vitamin A, vitamin B12 dan vitamin C pekerja wanita di PT. X Kabupaten Simalungun.

2. Mengetahui pengaruh pemberian suplemen Fe, asam folat dan vitamin A terhadap kadar hemoglobin pekerja wanita di PT. X Kabupaten Simalungun.

3. Mengetahui pengaruh pemberian suplemen Fe, asam folat dan vitamin B12

terhadap kadar hemoglobin pekerja wanita di PT. X Kabupaten Simalungun.

4. Mengetahui perbedaan pengaruh pemberian suplemen Fe, asam folat dan vitamin A dengan suplemen Fe, asam folat dan vitamin B12 terhadap kadar hemoglobin pekerja wanita di PT. X Kabupaten Simalungun.

1.4 Hipotesis

1. Ada pengaruh pemberian suplementasi Fe, asam folat, dan vitamin A terhadap kadar hemoglobin pekerja wanita.

2. Ada pengaruh pemberian suplementasi Fe, asam folat, dan vitamin B12

terhadap kadar hemoglobin pekerja wanita.

3. Ada perbedaan peningkatan kadar hemoglobin pekerja wanita yang mendapat suplementasi Fe, asam folat dan vitamin A dibandingkan dengan yang mendapat suplementasi Fe, asam folat dan vitamin B12

(27)

1.5 Manfaat Penelitian

1. Memberikan informasi tentang status anemia pekerja wanita kepada pihak perusahaan sekaligus menurunkan prevalensi anemia pekerja wanita PT. X Kabupaten Simalungun tersebut sehingga produktivitas pekerja wanita meningkat.

2. Bagi PTPN-IV juga dapat menjadi contoh/ model penangggulangan anemia.

(28)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anemia

Anemia adalah suatu keadaan menurunnya kadar hemoglobin, hematokrit dan jumlah sel darah merah di bawah nilai normal yang dipatok untuk perorangan.

Sedangkan anemia gizi adalah keadaan dimana kadar hemoglobin, hematokrit dan sel darah merah lebih rendah dari nilai normal sebagai akibat dari defisiensi dari salah satu atau beberapa unsur makanan yang esensial yang dapat mempengaruhi timbulnya defisiensi besi (Arisman, 2004).

Menurut Ramakrishnan, 2001 ada dua faktor penyebab anemia gizi yaitu defisiensi besi dan defisiensi mikronutrien lain. Defisiensi besi dapat diakibatkan oleh (1) meningkatnya kebutuhan akan zat besi, seperti pada masa kehamilan, menstruasi, masa pertumbuhan pada bayi dan remaja, (2) asupan dan ketersediaan zat besi dalam tubuh yang rendah, dan (3) infeksi dan parasit, seperti malaria, infeksi HIV, dan infeksi cacing. Infeksi parasit terutama cacing tambang dapat menyebabkan kehilangan darah yang banyak, karena cacing tambang menghisap darah. Malaria khususnya Plasmodium falciparum juga dapat menyebabkan pecahnya sel darah merah. Sedangkan defisiensi karena mikronutrien lain adalah defisiensi vitamin A, riboflavin, asam folat dan vitamin B12.

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya anemia adalah sosial ekonomi, pendidikan, pengetahuan, umur, dan status perkawinan. Faktor sosial ekonomi

(29)

menentukan kualitas dan kuantitas makanan dan mempunyai hubungan yang erat dengan masalah gizi. Pendapatan keluarga yang rendah akan mempengaruhi permintaan pangan sehingga menentukan hidangan dalam keluarga tersebut baik dari segi kualitas makanan, kuantitas makanan dan variasi hidangannya (Supariasa dkk, 2002). Risiko terjadinya anemia pada pekerja wanita dengan penghasilan di bawah UMR (Upah Minimum Regional) adalah 9 kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang berpenghasilan di atas UMR. Hal ini dikarenakan dengan penghasilan yang rendah maka daya beli terhadap makanan sumber zat gizi berkurang dan akses terhadap pelayanan kesehatan juga berkurang (Raharjo, 2003). Dalam bidang pendidikan, ada kecenderungan pendidikan makin tinggi maka jumlah kejadian anemia makin menurun, karena tingkat pendidikan dapat menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami ilmu pengetahuan yang diperoleh.

Tingkat pengetahuan gizi seseorang diperoleh dari pengalaman sendiri maupun dari pengalaman orang lain, serta dari latar belakang pendidikannya, semakin baik pengetahuan gizinya, semakin kecil kemungkinan menderita anemia (Apriadji, 1996).

Berdasarkan umur, penelitian Raharjo, 2003 diketahui bahwa usia 20-35 tahun lebih banyak menderita anemia dibanding usia <20 tahun. Hal ini dikarenakan usia 20-35 tahun merupakan periode yang penting dalam kehidupan wanita, karena pada periode tersebut pada umumnya mereka menikah, hamil dan menyusui anak.

Berdasarkan status perkawinan, penelitian Mulyawati (2003) diketahui bahwa risiko anemia pada Subjek yang menikah adalah 3,32 kali dibandingkan dengan Subjek yang belum menikah.

(30)

Menurut Departemen Kesehatan RI (1999) upaya pencegahan dan penanggulangan anemia pada dasarnya adalah mengatasi penyebabnya. Pada anemia berat (kadar Hb <8 g %) biasanya pada penyakit yang melatarbelakangi, yaitu antara lain penyakit TBC, infeksi cacing atau malaria sehingga selain penanggulangan pada anemianya, harus dilakukan pengobatan terhadap penyakit-penyakit tersebut. Upaya yang dilakukan untuk pencegahan dan menanggulangi anemia akibat kekurangan konsumsi besi adalah (1). Meningkatkan konsumsi besi dari sumber alami melalui penyuluhan gizi, terutama makanan sumber hewani besi heme yang mudah diserap, seperti : hati, ikan dan daging. Selain itu perlu ditingkatkan juga makanan yang banyak vitamin C dan vitamin A untuk membantu penyerapan besi dan membantu proses pembentukan hemoglobin. (2). Fortifikasi bahan makanan yaitu menambahkan besi, asam folat, vitamin A dan asam amino essensial pada bahan makanan yang dimakan secara luas oleh kelompok sasaran. (3). Suplementasi besi-folat secara rutin selama jangka waktu tertentu untuk meningkatkan kadar hemoglobin secara cepat.

Dengan demikian, suplementasi tablet besi hanya merupakan salah satu upaya pencegahan dan penanggulangan anemia, dan perlu diikuti dengan cara lain, seperti pengobatan terhadap penyakitnya. Untuk anemia berat yakni kadar hemoglobin kurang dari 8 g/dl harus dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penangganan dan pengobatan lebih lanjut.

(31)

2.1.1 Anemia karena Kekurangan Zat Besi (Fe)

Anemia karena kekurangan Zat Besi adalah suatu keadaan dimana jumlah sel darah merah atau hemoglobin (protein pengangkut oksigen) dalam sel darah berada di bawah normal, yang disebabkan karena kekurangan zat besi.

Menurut Media Indonesia, 1996, sekitar 50% dari 25 juta pekerja wanita di Indonesia menderita anemia gizi atau kekurangan zat besi. Salah satu penyebabnya adalah mereka tidak bisa mengkonsumsi makanan bergizi. Hal ini dikarenakan upah yang mereka terima masih rendah sehingga membeli dan mengkonsumsi makanan yang berkualitas pun rendah. Akibatnya produktivitas kerja mereka menjadi rendah.

Untuk menanggulangi masalah tersebut, perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan tenaga wanita dihimbau memberikan vitamin yang dibutuhkan.

Selain zat besi, harus pula diberikan vitamin A, yodium dan obat cacing.

Pemenuhan Fe oleh tubuh memang sering kurang tercukupi disebabkan oleh rendahnya tingkat penyerapan Fe di dalam tubuh, terutama dari sumber Fe nabati yang hanya diserap 1-2%. Penyerapan Fe asal bahan makanan hewani dapat mencapai 10-20%. Fe bahan makanan hewani (heme) lebih mudah diserap daripada Fe nabati (non heme). Sumber bahan makanan yang tinggi zat besi adalah makanan yang berasal dari hewan seperti daging, ikan dan telur yang sering disebut zat besi heme mempunyai bioavailabilitas tinggi dibanding zat besi dalam bentuk non heme.

Makanan yang dapat menghambat absorbsi zat besi adalah tanin (pada teh), polifenol (vegetarian), oksalat, fosfat dan fitat (serealia), albumin pada telur dan yolk, kacang- kacangan, kalsium pada susu dan hasil olahannya, serta mineral lain seperti Cu, Mn,

(32)

Cd dan Co. Teh yang diminum bersama-sama dengan hidangan lain ketika makan akan menghambat penyerapan besi non hem sampai 50 % (Muchtadi et al, 1993).

Keanekaragaman konsumsi makanan sangat penting dalam membantu meningkatkan penyerapan Fe di dalam tubuh. Kehadiran protein hewani, vitamin C, vitamin A, zink (Zn), asam folat, zat gizi mikro lain dapat meningkatkan penyerapan zat besi dalam tubuh. Manfaat lain mengkonsumsi makanan sumber zat besi adalah terpenuhinya kecukupan vitamin A. Makanan sumber zat besi umumnya merupakan sumber vitamin A. Berdasarkan penelitian Raharjo, 2003 diketahui bahwa risiko Subjek dengan asupan zat besi tidak mencukupi sesuai AKG (Angka Kecukupan Gizi) adalah sebesar 7 kali lebih tinggi untuk menderita anemia dibandingkan dengan Subjek yang asupan zat besinya sesuai AKG.

Anemia gizi besi dapat mengakibatkan gangguan kesehatan dari tingkat ringan sampai berat. Anemia sedang dan ringan dapat menimbulkan gejala lesu, lelah, pusing, pucat, dan penglihatan sering berkunang-kunang. Bila terjadi pada anak sekolah, anemia gizi akan mengurangi kemampuan belajar. Sedangkan pada orang dewasa akan menurunkan produktivitas kerja. Selain itu, penderita anemia lebih mudah terserang infeksi. Anemia pada ibu hamil akan menambah risiko mendapatkan bayi yang berat badannya rendah, risiko perdarahan sebelum dan pada saat persalinan, bahkan dapat menyebabkan kematian ibu dan bayi jika ibu hamil menderita anemia berat.

(33)

2.1.2 Anemia karena Kekurangan Asam Folat

Asam folat atau folic acid, folate, folacin, vitamin B9, pteroyl-L-glutamic acid, pteroyl-L-glutamate, pteroylmonoglutamic acid adalah vitamin yang diperlukan oleh anak-anak dan orang dewasa untuk memproduksi sel darah merah dan mencegah anemia. Tanpa asam folat, tubuh akan mudah terserang penyakit seperti depresi, kecemasan, kelelahan, insomnia, kesulitan mengingat, lidah merah dan luka hingga gangguan pencernaan. (Uraeka.com).

Asam folat terdapat pada sayuran mentah, buah segar dan daging; tetapi proses memasak biasanya dapat merusak vitamin ini. Karena tubuh hanya menyimpan asam folat dalam jumlah kecil, maka suatu makanan yang sedikit mengandung asam folat, akan menyebabkan kekurangan Asam folat dalam waktu beberapa bulan.

Kekurangan asam folat terjadi karena tidak cukup memakan sayuran berdaun yang mentah, adanya gangguan penyerapan asam folat itu sendiri ataupun karena kebutuhuhannya yang sedang meningkat, seperti pada penderita penyakit usus halus tertentu, terutama penyakit Crohn dan sprue, pada orang yang mengkonsumsi obat anti-kejang tertentu dan pil KB, terjadi gangguan penyerapan asam folat, dan pada wanita hamil dan wanita menyusui, serta penderita penyakit ginjal yang menjalani hemodialisa, karena kebutuhan akan asam folat meningkat.

(34)

2.1.3 Anemia karena Kekurangan Vitamin A

Vitamin A berperan dalam memobilisasi cadangan besi di dalam tubuh untuk dapat mensintesa hemoglobin. Status vitamin A yang buruk berhubungan dengan perubahan metabolisme besi pada kasus kekurangan besi (Gillespie, 1998). Beberapa hasil studi cross sectional menunjukkan bahwa peningkatan asupan vitamin A dapat mendorong ke arah peningkatan status besi. Penelitian tersebut membuktikan bahwa vitamin A mempunyai peranan yang penting dalam meningkatkan kadar hemoglobin.

Pemberian suplemen vitamin A 110 mg pada anak yang kekurangan vitamin A (retinol < 0,60 mol/L) dapat meningkatkan hemoglobin dan transferrin saturasi (Bloem, 1990).

Suplementasi besi yang dikombinasi dengan vitamin A selama 2 bulan pada anak-anak yang menderita anemia mempunyai pengaruh yang lebih besar pada peningkatan kadar hemoglobin dan transferin saturasi, dibandingkan dengan yang hanya diberikan suplemen besi atau vitamin A saja (Meijia and Chew, 1988).

Pemberian dosis tunggal vitamin A 200.000 IU pada anak yang menderita xerossis conjuctival setelah dua minggu ternyata dapat meningkatkan hemoglobin, hematokrit, serum besi dan transferin saturasi (Bloem, 1995). Hasil penelitian yang dilakukan terhadap ibu hamil di Indonesia menghasilkan kesimpulan yang sama. Ibu hamil yang anemia dengan kadar retinal < 1.1 mol/L yang diberikan suplementasi vitamin A dan besi (besi 60 mg dan vitamin A 2.4 mg) mempunyai perubahan yang lebih besar pada peningkatan kadar hemoglobin dan transferin saturasi, dibandingkan

(35)

dengan kelompok yang hanya mendapat suplementasi besi atau vitamin A saja (Suharno, 1993).

Penelitian pada tikus menunjukkan bahwa kekurangan vitamin A marginal mengganggu eritropoeisis, tetapi tidak mempengaruhi penyerapan dalam intestinal terhadap besi dalam makanan sehari-hari (Roodenburg, 1994). Beberapa hasil penelitian cross sectional menyimpulkan bahwa peningkatan asupan vitamin A dapat mendorong ke arah peningkatan status vitamin A dan status besi (Schultink dan Goss, 1998).

Penelitian lainnya telah menemukan suatu korelasi signifikan antara serum retinol dan konsentrasi hemoglobin, diantara anak pra sekolah di India pada studi ini menunjukkan kadar hemoglobin lebih rendah pada mereka yang mempunyai serum retinol di bawah 20 g/dL, dibandingkan dengan yang mempunyai kadar hemoglobin normal. Suplementasi vitamin A pada anak yang defisiensi meningkat secara signifikan pada kadar hemoglobin, hematokrit dan besi serum. Observasi ini menunjukkan bahwa defisiensi vitamin A bisa memberikan kontribusi terhadap anemia dan akan mepunyai efek positif pada status besi (IVACG, 1998).

Vitamin A (retinol) terdapat pada minyak ikan, hati, kuning telur, mentega dan krim. Sayuran berdaun hijau dan sayuran berwarna kuning mengandung karoten (misalnya beta-karotin), yang secara perlahan akan diubah oleh tubuh menjadi vitamin A. Penelitian Bernado, menyatakan bahwa bone mineral density optimal bila konsumsi vitamin A antara 2000-2800 IU (0,6-0,9 mg) per hari (Arena, 1951).

(36)

2.1.4 Anemia karena Kekurangan Vitamin B12

Defisiensi vitamin B12 hampir sama dengan asam folat yaitu menyebabkan anemia makrositik. vitamin B12 ini sangat penting dalam pembentukan RBC (Red Blood Cell), yaitu sebagai co-enzim untuk mengubah folat menjadi bentuk aktif dan juga dipergunakan dalam fungsi normal metabolisme semua sel, terutama sel-sel saluran cerna, sumsum tulang, dan jaringan saraf (Almatsier, 2001). Manifestasi defisiensi vitamin B12 terjadi pada tahap awal dengan konsentrasi serum yang rendah kemudian ada indikasi transcobalamin II yang rendah, pada tahap berikutnya konsentrasi vitamin dalam sel yang rendah dan selanjutnya defisiensi secara biokimia dengan terjadinya penurunan sintesis DNA. (Goff, et al, 2005). Anemia pernisiosa yang disertai rasa letih yang parah merupakan akibat dari defisiensi vitamin B12.

Vitamin B12 hanya terdapat pada produk hewani seperti daging, susu dan telur terutama hati, dan tidak terdapat pada sayuran atau tumbuhan, itu sebabnya vegetarian sering ditemukan kekurangan vitamin ini (Linder, 1992).

2.2 Hemoglobin

Hemoglobin merupakan protein utama tubuh manusia yang berfungsi mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan perifer dan mengangkut CO2 dari jaringan perifer ke paru-paru (Martin, 1984). Sintesis hemoglobin merupakan proses biokimia yang melibatkan beberapa zat gizi atau senyawa-senyawa. Proses sintesis ini terkait dengan sintesis heme dan protein globulin. Mekanisme sintesis heme dapat digambarkan pada Gambar 1

(37)

Suksinil-KOA + Glisin

Aminolevulenat sintase Vitamin B6 aktif ( B6-PO4) Asam aminolevulenat

Aminolevulenat dehidratase

Porfobilinogen Uroporfirinogen I sintase

Hidroksimetilbilane Uroporfirinogen III kosintase

Uroporfirinogen III Uroporfirinogen Dekarboksilase

Koproporfirinogen III Koproporfirinogen Oksidase

Protoporfirinogen III Protoporfirinogen oksidase

Protoporfirin III

Ferroketolase Fe2+

HEME

Gambar 2.1. Sintesis Heme (Murray, Ganner, Robert, Peter & Victor, 1996) Berdasarkan Gambar 1. dapat diketahui keterlibatan beberapa zat gizi atau senyawa-senyawa seperti asam amino glisin dan vitamin B6 pada reaksi awal.

Selanjutnya, di dalam sitosol dua molekul Asam Aminolevulenat (ALA) dikondensasi oleh enzim ALA dehidratase membentuk 2 molekul air dan 1 molekul

(38)

porfobilinogen. Keterlibatan besi adalah dalam proses sintesis hemoglobin, yaitu pada tahap akhir proses pembentukan heme. Pada tahap ini terjadi penggabungan besi ferro ke dalam protoporfirin III yang dikatalis oleh enzim ferroketalase. Untuk sintesis globin diperlukan asam amino, biotin, asam folat, vitamin B6 dan vitamin B12. Selanjutnya interaksi antara heme dan globin akan menghasilkan hemoglobin.

Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa untuk sintesis hemoglobin diperlukan beberapa zat gizi yang saling terkait (Murray, Ganner, Robert, Peter & Victor, 1996).

Faktor - faktor yang dapat mempengaruhi kadar hemoglobin adalah variasi biologis individu, umur dan jenis kelamin, ras, ketinggian, defisiensi zat besi, defisiensi mikronutrien lain, infeksi parasit dan berbagai status penyakit. Variasi biologis individu akan mempengaruhi kadar hemoglobin. Kadar hemoglobin cenderung lebih rendah pada saat sore hari dibanding pagi hari (Gibson, 2005). Umur dan jenis kelamin adalah faktor penting yang menentukan kadar hemoglobin. Nilai median hemoglobin naik selama 10 tahun pada masa kanak-kanak selanjutnya akan meningkat pada masa pubertas dan dewasa. Perbedaan kadar hemoglobin pada jenis kelamin yang berbeda jelas nyata pada usia enam bulan. Anak laki-laki mempunyai kadar hemoglobin lebih rendah dibandingkan dengan anak perempuan (DeMaeyer, 1993; Gibson, 2005).

Menurut WHO (1989) patokan batas kadar anemia berdasarkan umur, jenis kelamin adalah sebagai berikut :

(39)

Tabel 2.1. Batas Kadar Hemoglobin

Kelompok Batas Nilai Hemoglobin (g/dl)

Anak 6 bulan - 6 tahun 11,0

Anak 6 tahun – 14 tahun 12,0

Pria Dewasa 13,0

Wanita Dewasa 12,0

Ibu Hamil 11,0

Sumber : WHO, 1989.

Tabel 2.2. Batas Hemoglobin untuk Anemia pada Wanita Dewasa

Kelompok Batas Nilai Hemoglobin (g/dl)

Normal 12

Anemia Ringan 10-11,9

Anemia Sedang 8-9,9

Anemia Berat <8

Sumber : WHO, 1989.

2.3 Kaitan Fe, Asam folat, Vitamin A dan Vitamin B12 dengan Hemoglobin Sebagian besar pekerja, terutama wanita, memiliki masalah kurang gizi.

Selain disebabkan oleh stres, baik lingkungan maupun beban kerja, wanita juga mengalami menstruasi secara berkala dan cenderung melakukan diet. Faktor lainnya adalah kurang memperhatikan asupan nutrisi karena alasan sibuk. Padahal, asupan gizi yang kurang dapat menyebabkan penyakit salah satunya anemia (Kompas, 2010).

Pada umumnya anemia gizi di Indonesia terjadi karena kekurangan unsur besi dan asam folat, oleh karena itu suplementasi besi atau tablet tambah darah perlu mengandung besi dan asam folat. Penyertaan zat lain yang membantu penyerapan besi dan mempercepat hematofoesis juga dianjurkan, misalnya dengan vitamin A dan vitamin C (Departemen Kesehatan RI, 1996). Pada beberapa penelitian melaporkan penambahan vitamin A akan meningkatkan respon hemoglobin terhadap

(40)

suplementasi besi (Meija & Chew, 1988; Suharno, West, Karyadi, & Hautvast, 1993).

Selanjutnya penelitian Mulyawati (2003) menunjukan bahwa suplementasi besi dengan vitamin C mempunyai efek peningkatan kadar hemoglobin lebih tinggi dibandingkan dengan suplementasi besi tanpa vitamin C.

Vitamin A adalah vitamin larut lemak yang pertama ditemukan. Vitamin ini esensial untuk pemeliharaan kesehatan dan kelangsungan hidup. Defisiensi vitamin A dapat meningkatkan risiko anak terhadap penyakit infeksi seperti infeksi saluran pernafasan dan diare, serta keterlambatan pertumbuhan (Almatsier, 2003). Beberapa penelitian telah mengkonfirmasikan interaksi antara defisiensi Vitamin A dan status besi. Suplementasi vitamin A pada orang yang mengalami defisiensi besi dapat meningkatkan kadar hemoglobin sekitar 10 g/ L (Sommer dan West, 1996).

Retinol dan besi, sama-sama diangkut oleh negative phase protein, yaitu Retinol Binding Protein (RBP) dan transferin. Sintesis kedua protein ini tertekan bila ada infeksi. Apabila asupan Vitamin A diberikan dalam jumlah cukup, maka dengan kemampuan vitamin A melawan infeksi, akan terjadi penurunan derajat infeksi.

Akibatnya sintesis retinol binding protein dan transferin kembali normal. Kondisi ini memungkinkan besi retinol yang semula terjebak di tempat penyimpanan dapat dimobilisasi kembali. Dengan menghilangnya infeksi, besi yang semula ditahan makrofag akan dilepas kembali ke sirkulasi dan diangkut transferin untuk kepentingan eritropoeisis (Turnham, 1993). Vitamin A juga berperan dalam pembentukan sel darah merah, kemungkinan melalui interaksi dengan besi.

(Almatsier, 2003). Dengan demikian jelas bahwa status vitamin A yang tidak adekuat

(41)

berdampak pada metabolisme besi dan eritropoeisis yang gilirannya akan menurunkan kadar hemoglobin.

Vitamin A berperan dalam memobilisasi cadangan besi di dalam tubuh untuk dapat mensintesa hemoglobin. Status vitamin A yang buruk berhubungan dengan perubahan metabolisme besi pada kasus kekurangan besi (Gillespie, 1998). Beberapa hasil studi cross sectional menunjukkan bahwa peningkatan asupan vitamin A dapat mendorong ke arah peningkatan status besi. Vitamin A mempunyai peranan yang penting dalam meningkatkan kadar hemoglobin. Pemberian suplemen vitamin A 110 mg pada anak yang kekurangan vitamin A (retinol < 0,60 mol/L) dapat meningkatkan hemoglobin dan transferrin saturasi (Bloem, 1990). Suplementasi besi yang dikombinasi dengan vitamin A selama 2 bulan pada anak-anak yang menderita anemia mempunyai pengaruh yang lebih besar pada peningkatan kadar hemoglobin dan transferin saturasi, dibandingkan dengan yang hanya diberikan suplemen besi atau vitamin A saja (Meijia and Chew, 1988). Pemberian dosis tunggal vitamin A 200.000 IU pada anak yang menderita xerossis conjuctival setelah dua minggu ternyata dapat meningkatkan hemoglobin, hematokrit, serum besi dan transferin saturasi (Bloem, 1995). Hasil penelitian yang dilakukan terhadap ibu hamil di Indonesia menghasilkan kesimpulan yang sama. Ibu hamil yang anemia dengan kadar retinal <1.1 mol/L yang diberikan suplementasi vitamin A dan besi (besi 60 mg dan vitamin A 2.4 mg) mempunyai perubahan yang lebih besar pada peningkatan kadar hemoglobin dan transferin saturasi, dibandingkan dengan kelompok yang hanya mendapat suplementasi besi atau vitamin A saja (Suharno, 1993).

(42)

Vitamin A berpengaruh terhadap transferin saturasi, tetapi tidak berpengaruh pada peningkatan cadangan besi dalam tubuh. Mekanisme yang pasti tentang peranan Vitamin A terhadap status besi belum jelas benar. Diperkirakan bahwa kekurangan Vitamin A dapat menghambat penggunaan kembali cadangan besi yang disimpan dalam hati (Bloem, 1995 ; Schultink dan Goss, 1998).

Penelitian pada tikus menunjukkan bahwa kekurangan vitamin A marginal mengganggu eritropoeisis, tetapi tidak mempengaruhi penyerapan dalam intestinal terhadap besi dalam makanan seharihari (Roodenburg, 1994). Beberapa hasil penelitian cross sectional menyimpulkan bahwa peningkatan asupan vitamin A dapat mendorong ke arah peningkatan status vitamin A dan status besi (Schultink dan Goss, 1998). Penelitian lainnya telah menemukan suatu korelasi signifikan antara serum retinol dan kosentarsi hemoglobin, diantara anak pra sekolah di India pada studi ini menunjukkan kadar hemoglobin lebih rendah pada mereka yang mempunyai serum retinol di bawah 20 g/dL, dibandingkan dengan yang mempunyai kadar hemoglobin normal. Suplementasi vitamin A pada anak yang defisiensi meningkat secara signifikan pada kadar hemoglobin, hematokrit dan besi serum. Observasi ini menunjukkan bahwa defisiensi vitamin A bisa memberikan kontribusi terhadap anemia dan akan mempunyai efek positif pada status besi (IVACG, 1998).

Vitamin A juga diperlukan untuk mengubah Asam folat dalam bentuk aktif, meningkatkan penyerapan besi dan meningkatkan proses pembentukan hemoglobin dalam tubuh sehingga kadar hemoglobin menjadi lebih tinggi. Pemberian tablet besi bersamaan dengan zat gizi mikro lain (multiple micronutrients) lebih efektif dalam

(43)

meningkatkan status besi, dibandingkan dengan hanya memberikan suplementasi besi dalam bentuk dosis tunggal.

Defisiensi vitamin B12 hampir sama dengan asam folat yaitu menyebabkan anemia makrositik. Vitamin B12 ini sangat penting dalam pembentukan RBC (Red Blood Cell), yaitu sebagai co-enzim untuk mengubah folat menjadi bentuk aktif dan juga dipergunakan dalam fungsi normal metabolisme semua sel, terutama sel-sel saluran cerna, sumsum tulang, dan jaringan saraf (Almatsier, 2001). Manifestasi defisiensi vitamin B12 terjadi pada tahap awal dengan konsentrasi serum yang rendah kemudian ada indikasi transcobalamin II yang rendah, pada tahap berikutnya konsentrasi vitamin dalam sel yang rendah dan selanjutnya defisiensi secara biokimia dengan terjadinya penurunan sintesis DNA. (Goff, et al, 2005). Anemia pernisiosa yang disertai rasa letih yang parah merupakan akibat dari defisiensi vitamin B12.

2.4 Konsumsi Makanan

Konsumsi makanan merupakan banyaknya atau jumlah pangan, secara tunggal maupun beragam, yang dikonsumsi seseorang atau sekelompok orang yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis, psikologis dan sosiologis. Tujuan fisiologis adalah upaya untuk memenuhi keinginan makan (rasa lapar) atau untuk memperoleh zat-zat gizi yang diperlukan tubuh. Tujuan psikologis adalah untuk memenuhi kepuasan emosional atau selera, sedangkan tujuan sosiologis adalah untuk memelihara hubungan manusia dalam keluarga dan masyarakat (Sedioetama, 1996).

Konsumsi pangan merupakan faktor utama untuk memenuhi kebutuhan gizi yang

(44)

selanjutnya bertindak menyediakan energi bagi tubuh, mengatur proses metabolisme, memperbaiki jaringan tubuh serta untuk pertumbuhan (Harper et al, 1986).

Konsumsi, jumlah dan jenis pangan dipengaruhi oleh tiga faktor. Menurut Harper et al. (1986), faktor-faktor yang sangat mempengaruhi konsumsi pangan adalah jenis, jumlah produksi dan ketersediaan pangan. Untuk tingkat konsumsi (Sedioetama, 1996), lebih banyak ditentukan oleh kualitas dan kuantitas pangan yang dikonsumsi. Kualitas pangan mencerminkan adanya zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh yang terdapat dalam bahan pangan, sedangkan kuantitas pangan mencerminkan jumlah setiap gizi dalam suatu bahan pangan. Untuk mencapai keadaan gizi yang baik, maka unsur kualitas dan kuantitas harus dapat terpenuhi. Apabila tubuh kekurangan zat gizi, pada tahap awal akan meyebabkan rasa lapar dan dalam jangka waktu tertentu berat badan akan menurun yang disertai dengan menurunnya produktivitas kerja. Kekurangan zat gizi yang berlanjut akan menyebabkan status gizi kurang dan gizi buruk. Apabila tidak ada perbaikan konsumsi energi dan protein yang mencukupi, pada akhirnya tubuh akan mudah terserang penyakit infeksi yang selanjutnya dapat menyebabkan kematian (Hardinsyah dan Martianto, 1992).

Metode yang digunakan untuk pengukuran konsumsi makanan adalah metode Recall 24 jam dengan mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi pada periode 24 jam hari kemarin, dimulai sejak bangun pagi hingga tidur malam.

Biasanya dilakukan minimal 2 kali pada hari yang berbeda, sehingga diperoleh gambaran asupan zat gizi yang lebih optimal dan memberikan variasi yang lebih besar tentang intake harian individu. Pengukuran konsumsi makanan dapat

(45)

mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan zat gizi dengan cara mengkonversikan konsumsi makanan tersebut kedalam bentuk zat gizi dengan menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM) (Supariasa, 2002)

Kebutuhan gizi per hari bagi pekerja menurut umur, jenis kelamin dan aktivitas fisik dapat dilihat pada Tabel 2.3.

Tabel 2.3. Kebutuhan Gizi per hari Pekerja Wanita Menurut Umur, dan Aktivitas Fisik

Umur (thn)

Aktivitas Energi (kkal)

Protein (g)

Zat Besi (mg)

As. Folat (µg)

Vit A (RE)

Vit B12

(µg)

Vit C (mg)

19-29 Ringan 1800 50 26 400 500 2,4 75

Sedang 1900 50 26 400 500 2,4 75

Berat 2150 50 26 400 500 2,4 75

30-49 Ringan 1700 50 26 400 500 2,4 75

Sedang 1900 50 26 400 500 2,4 75

Berat 2050 50 26 400 500 2,4 75

(Sumber : berdasarkan AKG 2004)

Berdasarkan tabel di atas, selain dapat diketahui jumlah asupan zat gizi, dapat juga dinilai tingkat konsumsi. Kategori tingkat konsumsi dapat dilihat pada tabel 2.4 :

Tabel 2.4. Tingkat Konsumsi Makanan

Konsumsi Kategori

Zat Gizi Makro (Energi, Protein, Lemak)

100 % dari AKG 80 - 99 % dari AKG 70 – 79 % dari AKG

< 70 % dari AKG

Baik Cukup Kurang

Defisit Zat Gizi Mikro

(Vitamin dan Mineral)

65% AKG

< 65% AKG

Cukup Kurang Sumber : Dep. Kes. RI (1990), Hardinsyah (2004).

(46)

2.5 Kerangka Konsep

Gambar 2.2. Kerangka Konsep Penelitian

Kadar hemoglobin dipengaruhi oleh proses eritropoeisis (pembentukan sel darah merah) dan oksigenasi sel (penyediaan oksigen bagi sel). Agar proses eritropoeisis dan oksigenasi sel terjadi secara maksimal, maka perlu konsumsi zat gizi (energi, protein, Fe, asam folat, vitamin A, vitamin B12 dan vitamin C) yang cukup dan suplementasi Fe, asam folat, vitamin A dan vitamin B12. Fe, asam folat dan vitamin B12 adalah zat pembentuk sel darah merah, Vitamin B12 juga mengaktifkan kerja asam folat sehingga penyerapan asam folat menjadi maksimal. Sementara vitamin A berperan membantu proses mobilisasi Fe dari simpanan besi dalam hati, meningkatkan proses penyerapan Fe dan mengatasi anemia yang disertai infeksi.

Status sosial ekonomi (pendidikan, pendapatan) juga secara tidak langsung mempengaruhi kadar hemoglobin karena dapat mempengaruhi konsumsi.

- Suplementasi Fe, asam folat dan vitamin A

- Suplementasi Fe, Asam folat dan Vitamin B12

Status Sosial Ekonomi (pendidikan, pendapatan) keluarga

Kadar Hemoglobin

Konsumsi energi, protein, zat besi, asam folat, vitamin A, vitamin B12 dan vitamin C pekerja wanita harian

Eritropoeisis dan oksigenasi sel

(47)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah eksperimen dengan metode acak terkendali (randomized controlled trial) (Sastroasmoro, 2002). Subjek dibagi atas tiga kelompok, yaitu kelompok kontrol (mendapat plasebo, berupa kapsul yang mirip warna, dan bentuk dengan suplemen yang di dalamnya berisi laktosa), kelompok perlakuan I (mendapat suplemen Fe, asam folat dan vitamin A) dan kelompok perlakuan II (mendapat suplemen Fe, asam folat dan vitamin B12). Gambar rancangan penelitian dapat dilihat pada bagan 3.1. berikut ini :

P I

X1a X1b

P II

R X2a X2b

P III

X3a X2b

Gambar 3.1. Rancangan Penelitian Keterangan :

X1a = kadar Hemoglobin sebelum pemberian plasebo

X2a = kadar Hemoglobin sebelum pemberian suplemen Fe, asam folat dan vitamin A X3a = kadar Hemoglobin sebelum pemberian suplemen Fe, asam folat dan vitamin B12

P I = Pemberian plasebo (kelompok kontrol)

P II = Pemberian suplemen Fe, asam folat dan vitamin A (kelompok perlakuan I) P III = Pemberian suplemen Fe, Asam folat dan Vitamin B12 (kelompok perlakuan II) X1b = kadar Hemoglobin setelah pemberian plasebo

X2b = kadar Hemoglobin setelah pemberian suplemen Fe, asam folat dan vitamin A X3b = kadar Hemoglobin setelah pemberian suplemen Fe, asam folat dan vitamin B12

Gambar

Gambar 2.1. Sintesis Heme (Murray, Ganner, Robert, Peter &amp; Victor, 1996)  Berdasarkan  Gambar  1
Gambar 2.2. Kerangka Konsep Penelitian
Gambar 3.2. Alur Penelitian
Gambar 2.1. Sintesis Heme (Murray, Ganner, Robert, Peter &amp; Victor, 1996)  Berdasarkan  Gambar  1
+3

Referensi

Dokumen terkait

Metode penelitian ini meggunakan analitk komulatif dengan terjun lapang yang bertujuan untuk menganalisis secara langsung asuhan keperawatan pada pasien yang mengalami

konsep surat izin penelitian 1 hari surat izin penelitian Jika pejabat tidak berada di tempat. Menulis dalam buku register dan

Setelah produk tersebut memiliki diferensiasi dan memiliki keunggulan maka yang perlu dilakukan selanjunya adalah dengan mempromosikan, promosi adalah istilah

Penilaian saham bertujuan untuk menentukan apakah saham yang akan dibeli atau dijual akan memberikan tingkat return yang sesuai dengan return yang diharapkan, sebagai alat

Yaitu perancangan sistem teknologi informasi yang memberikan gambaran yang jelas atau rancang bangun (desain) yang lengkap kepada programmer. Pada perancangan sistem ini

– Aplikasi bisnis dari teknologi informasi dirancang sebagai suatu arsitektur yang terintegrasi dari sistem perusahaan.. yang mendukung srtategic e-business iniatives, juga

dibandingkan dengan tingkat kebutuhan kompetensi dari jabatan lain untuk satu jenis kompetensi yang sama.. Implikasinya, seluruh jabatan yang terdapat dalam organisasi

Hal ini mungkin bisa terjadi karena memang belum ada wilayah yang terbuka akibat operasional penambang-an karena pada saat itu, wilayah area konsesi PT Kaltim Prima