BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Karakteristik Subyek Penelitian
Pada periode Januari sampai dengan Desember 2011 dijumpai 121 pasien DBD dirawat di bagian anak, RSUD Tangerang. Dari 121 pasien tersebut hanya 98 pasien yang memiliki data lengkap dan digunakan untuk analisis data. Kriteria pasien anak dalam penelitian ini adalah anak dengan usia 0-14 tahun.
Tabel 4.1 Karakteristik subyek penelitian (n=98)
Karakteristik n % Rerata (SD) Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Umur 0-5 tahun 6-10 tahun 11-14 tahun
Berat Badan (kilogram)
Status Gizi Lebih Baik Kurang 51 47 27 54 17 - 22 46 30 52 48 27,6 55,1 17,3 22,4 46,9 30,6 - - - - - 25,69 (13,597) - - - Bulan Perawatan
Musim Hujan (Oktober – April) Musin Kemarau (Mei - September)
61 37 62,2 37,8 - -
Lama Rawat Inap (hari) - 4,96 (2,149)
Demam hari (hari) - 4,15 (1,187)
Ruang rawat inap
Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Ruang ICCU 18 18 59 3 18.4 18,4 60,2 3,1 - - - -
Kadar Trombosit saat hari pertama rawat inap
- 89.084 (60.873)
Kadar Hematokrit awal - 38.33 (6.075)
Kadar Hematokrit tertinggi selama rawat inap - 48,13 (2,693) Outcome Sembuh Meninggal 95 3 96,9 3,1 - -
Subyek penelitian berdasarkan jenis kelamin dari 98 pasien anak terdiri dari 51 orang (52%) anak laki-laki, dan 47 orang (48%) anak perempuan, dengan rentang umur antara 0-14 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa laki-laki lebih banyak terkena DBD dibandingkan dengan perempuan.
Temuan ini tidak jauh berbeda dari penelitian yang dilakukan di bagian anak RSUD Ulin Banjarmasin yang mendapatkan bahwa distribusi jenis kelamin pada anak laki-laki 66 orang (54,6%) lebih banyak dibandingkan dengan anak perempuan 57 orang (45,4%) dari 123 kasus.21
Anak laki-laki memiliki angka kesakitan yang lebih tinggi dibanding anak perempuan, tetapi pada dasarnya tidak ada perbedaan dalam hal jenis kelamin terhadap angka kesakitan DBD. Meskipun hasil penelitian lain menunjukkan pola kejadian yang sama.22
Gambar 4.1 Karakteristik Jenis Kelamin
Berdasarkan penggolongan umur, subjek penelitian ini didominasi oleh anak berumur 6-10 tahun sebanyak 54 orang (55,1%), selanjutnya kelompok umur 0-5 tahun sebanyak 27 orang (27,6%), dan kelompok 11-14 tahun 17 orang (17,3%).
Hasil tersebut hampir sama dengan penelitian yang dilakukan di bagian anak RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta yang mendapatkan bahwa kasus DBD lebih banyak terjadi pada anak usia 6-10 tahun (usia sekolah dasar).22 Hal ini ditemukan
51 47 45 46 47 48 49 50 51 52 Laki-laki Perempuan 52% 48%
juga pada penelitian di RS. M. Djamil Padang yang mendapatkan kelompok usia terbanyak 5 – 10 tahun (49,8%).23
Menurut penelitian oleh Raihan dkk di bagian anak RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta mendapatkan bahwa kerentanan untuk terjadi syok relatif konstan antara umur 4 sampai 12 tahun dan menurun pada usia remaja. Kemungkinan disebabkan karena pada anak yang lebih muda endotel pembuluh darah kapiler lebih rentan terjadi pelepasan sitokin sehingga terjadi peningkatan permeabilitas kapiler. Selain itu perbedaan ini kemungkinan disebabkan karena terjadinya perubahan pola transmisi. Awal era DBD transmisi umumnya terjadi di rumah namun saat ini telah beralih ke fasilitas publik seperti sekolah dan tempat bermain anak-anak sehingga banyak kasus ditemukan pada usia sekolah.24
Kejadian DBD pada usia lebih dari 5 tahun bahkan dewasa berhubungan dengan teori secondary heterolog infection bahwa penyakit akan muncul apabila seseorang setelah terinfeksi virus dengue untuk pertama kali kemudian mendapatkan infeksi kedua dengan virus dengue serotipe lain dalam jarak waktu 6 bulan sampai 5 tahun.9
Gambar 4.2 Karakteristik Umur Pasien Anak
Rerata berat badan subyek penelitian adalah 25,69 ± 13,597 kg dengan berat badan terkecil 6 kg dan berat badan terberat 62 kg. Kekurangan dari rerata berat badan ini adalah perbedaan yang terlalu jauh antara berat badan yang teringan dan terberat. Hal ini disebabkan karena rerata berat badan yang dinilai umur 0-14 tahun. Subyek penelitian berdasarkan status gizi sebagian besar yaitu
27 54 17 0 10 20 30 40 50 60
0-5 tahun 6-10 tahun 11-14 tahun
27,6%
55,1%
memiliki status gizi baik 46 orang (46,9%), selanjutnya status gizi kurang 30 orang (30,6%), dan status gizi lebih 22 orang (22,4%).
Penelitian yang dilakukan oleh Saniathy E, Arhana BNP, Suandi IKG, Sidiartha IGL di bagian rawat inap anak Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar Bali memperoleh rerata berat badan pada kasus DBD syok yaitu 29,5 ± 13,0 kg sedangkan pada kasus DBD tidak syok yaitu 26,4 ± 12,2 kg.9
Berat badan merupakan salah satu indikator untuk menentukan status gizi anak. Semakin tinggi angka berat badan anak, maka anak tersebut mempunyai status gizi lebih. Status gizi seseorang sangat berkaitan dengan respon imun tubuh. Seorang anak yang memiliki status gizi lebih akan terjadi peningkatan dalam mensekresikan dan melepaskan sitokin pro inflamasi, sehingga mempunyai peluang besar menjadi SSD.9
Berdasarkan bulan perawatan dijumpai sebagian besar 61 orang (62,2%) pasien anak menderita saat musim hujan periode bulan Oktober sampai dengan April. Saat musim kemarau periode bulan Mei sampai dengan September didapatkan 37 orang (37,8%) pasien anak.
Hasil tersebut di temukan juga pada penelitian di Palembang yang menghubungkan antara peningkatan curah hujan dengan peningkatan kasus DBD anak yang dirawat di tiga rumah sakit di Palembang. Terdapat korelasi antara curah hujan dengan peningkatan jumlah kasus DBD yang dirawat.25
Gambar 4.3 Karakteristik Bulan Perawatan 61 37 0 10 20 30 40 50 60 70 musim hujan (oktober-april) musim kemarau (mei-september) 62,2% 37,8%
Rerata lama rawat inap subyek penelitian ini adalah 4,96 ± 2,149 hari dengan rawat inap terlama 16 hari. Rerata pasien masuk rumah sakit demam hari ke 4,15 ±1,187 dengan riwayat demam masuk terlama hari ke 7.
Hasil penelitian tersebut hampir sama dengan penelitian di bangsal anak RSUP Dr. Kariadi Semarang ditemukan hasil rerata lama perawatan adalah 5,2 ± 4,41 hari, dengan lama perawatan terpanjang 23 hari. Rerata hari demam sebelum dirawat adalah 4,1 ± 1,57 hari.26
Penelitian pada bagian anak RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, hampir 80% pasien anak dirawat setelah mengalami demam tiga hari di rumah atau sakit hari keempat.24
Lama sakit menentukan perjalanan penyakit DBD berada pada suatu fase dari tiga fase yang ada yaitu fase demam (hari sakit ke 1-3), fase kritis/syok (hari sakit ke 4-7) kebocoran plasma terhebat terjadi setelah demam 3 hari dan berlangsung selama 24-48 jam. Fase penyembuhan yaitu apabila fase kritis terlewati dan terjadi pengembalian cairan dari ekstravaskuler ke intravaskuler secara perlahan pada 48-72 jam setelahnya (hari sakit lebih dari 7).24
Berdasarkan penggolongan kelas rawat inap, subjek sebagian besar berada di kelas 3 sebanyak 59 orang (60,2%), selanjutnya kelas 2 sebanyak 18 orang (18,4%) dan kelas 1 sebanyak 18 orang (18,4%). Pasien anak yang datang dengan keadaan kritis langsung masuk ke ruang ICCU sebanyak 3 orang (3,1%).
Gambar 4.4 Karakteristik ruang rawat inap
18 18 59 3 0 10 20 30 40 50 60 70
Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Ruang ICCU 18,4%
60,2%
Kadar trombosit saat hari pertama penderita masuk rumah sakit atau demam hari ke 4 , rata-rata 89.084/mm3 ± 60.873/mm3. Ditemukan juga hal yang sama, di bagian anak RSUPN CM Jakarta yaitu kadar trombosit 50.000-100.000/mm3 sebesar 67,4%.24
Mekanisme terjadinya trombositopenia pada DBD/SSD kemungkinan bersifat multifaktorial. Terdapat beberapa asumsi mengenai keadaan ini, diantaranya menyatakan bahwa kombinasi dari difusi cedera sel endotel, peningkatan aktivasi platelet, dan disseminated intravascular coagulation akan mengakibatkan peningkatan konsumsi trombosit.
Trombositopenia di bawah 100.000/mm3 merupakan salah satu kriteria diagnosis DBD, nilai trombosit mulai menurun pada masa demam hari ke 3 dan mencapai nilai terendah pada masa syok. Beberapa studi menunjukkan bahwa keadaan trombositopenia tidak dapat digunakan dalam menilai derajat suatu penyakit DBD/SSD. Sehingga trombositopenia hanya digunakan sebagai salah satu kriteria laboratoris dalam menegakkan diagnosis DBD/SSD.27
Kadar hematokrit awal pada pasien anak DBD dalam penelitian ini antara 25-53% dengan rerata kadar hematokrit 38,33% ± 6.075. Kadar hematokrit tertinggi selama rawat inap pada pasien anak DBD dalam penelitian ini antara 42-55% dengan rerata 48,13 ± 2,693.
Hal ini ditemukan sama pada penelitian yang dilakukan pada RS. M. Djamil Padang, terdapat pasien anak DBD dengan kadar hematokrit <42% pada saat masuk.23 Berbeda dengan penelitian yang dilakukan di RSUPN CM Jakarta berdasarkan karakteristik hematokrit, ditemukan kadar hematokrit >42% sebesar 54,3% dari pasien DBD anak.24
Nilai hematokrit yang tinggi diasosiasikan dengan kebocoran plasma. Makin besar kebocoran yang terjadi makin tinggi nilai hematokritnya. Kebocoran plasma ini mencapai puncaknya pada saat syok. Hemokonsentrasi yang ditandai dengan peningkatan hematokrit 20% atau lebih mencerminkan peningkatan permeabilitas kapiler, perembesan plasma, dan berhubungan dengan beratnya penyakit. Hemokonsentrasi dengan peningkatan hematokrit 20% atau lebih dianggap menjadi bukti definitif adanya peningkatan permeabilitas vaskular dan
kebocoran plasma. Namun kadar hematokrit juga dipengaruhi oleh penggantian
dini volume, intake kurang, loss, dehidrasi, dan perdarahan.24 Keaadaan akhir pasien keluar dari rumah sakit sebagian besar 95 orang
pasien sembuh (96,9%) dan 3 orang pasien yang meninggal (3,1%) dengan status gizi kurang.
Ditemukan pada penelitian yang dilakukan oleh Saniathy E, Arhana BNP, Suandi IKG, Sidiartha IGL di bagian rawat inap anak Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar Bali memperoleh keadaan akhir pasien keluar rumah sakit sebagian besar sembuh, dan hanya 2 orang pasien yang meninggal.9
Pada sebagian besar kasus, dengan pengelolaan yang tepat didapatkan
outcome yang baik. Penderita DBD yang mengalami syok dengan awitan akut dan cepat teratasi mengalami perbaikan klinis yang seringkali dramatis. Hal ini berkaitan dengan kenyataan bahwa tidak terjadi kerusakan atau lesi vaskuler akibat inflamasi DBD, pada penyakit ini perubahan fungsional vaskuler sangat mungkin disebabkan oleh sekresi mediator-mediator inflamasi.28
Gambar 4.5 Karakteristik Keadaan Akhir Pasien