BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.3 Karakteristik Usaha Laundry
Pada bagian ini akan dijelaskan tentang karakteristik usaha laundry seperti pemakaian pewangi, pemakaian deterjen, pemakaian sabun, penggunaan plastik, penggunaan tenaga kerja, dan hasil produksi laundry, variabel- variabel tersebut akan di uraikan dibawah ini:
4.3.1 Pemakaian Pewangi
Untuk mencapai hasil yang memuaskan dalam bersaing, maka pengusaha menggunakan pewangi yang baik. Pewangi yang digunakan oleh setiap pengusaha laundry bervariasi, tergantung dari jumlah pakaian dan jenis pewangi yang digunakan. Adapun distribusi responden menurut banyaknya pewangi yang digunakan dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut:
Table 4.7 Distribusi Responden Berdasarkan Pemakaian Pewangi Pada Pakaian Laundry Di Kecamatan Syiah Kuala
Sumber: Pengelolahan Data Primer, Tahun 2019
Dari tabel 4.7, dapat disimpulkan bahwa pengusaha laundry yang menggunakan pewangi antara 0,11 – 0,49 kg sebanyak 7 orang atau 58%, 0,5-1 kg sebanyak 5 orang atau 42% jumlah tersebut disesuaikan dengan berbagai faktor seperti banyaknya pakaian, semakin banyak pakaian yang akan diberi pewangi maka akan semakin banyak pewangi yang digunakan.
No Jumlah pewangi (kg) Banyaknya (orang) Persentase (%) 1. 0,11 – 0,49 7 58 2. 0,5 - 1 5 42 Jumlah 12 100
4.3.2 Pemakaian Deterjen
Deterjen merupakan bahan campuran yang terbuat dari bahan turunan minyak bumi. Deterjen berfungsi untuk membantu pembersihan pakaian atau berbagai alat rumah tangga. Deterjen yang digunakan pada setiap cucian bervariasi, tergantung dari jumlah pakaian yang akan dicuci. Adapun distribusi responden menurut banyaknya deterjen yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 4.8 berikut:
Table 4.8 Distribusi Responden Berdasarkan Pemakaian Pewangi Pada Pakaian Laundry Di Kecamatan Syiah Kuala
Sumber: Pengolahan Data Primer, Tahun 2019
Berdasarkan table 4.8 diketahui bahwa sebanyak 7 orang atau 58% menggunakan deterjen antara 0,11 – 0,49 dan sebanyak 5 orang atau 42% menggunakan 0,5 – 1 kg deterjen. Jumlah tersebut disesuaikan dengan jumlah banyak sedikitnya pakaian yang dicuci. Sedikit pakaian yang akan dicuci maka sedikit pula deterjennya. Begitupun sebaliknya, semakin banyak pakaian maka deterjen yang digunakan pun banyak.
No Jumlah deterjen (kg) Banyaknya (orang) Persentase (%) 1. 0,11 – 0,49 7 58 2. 0,5 - 1 5 42 Jumlah 12 100
4.3.3 Pemakaian Sabun
Zat-zat yang terdapat dalam deterjen belum mencukupi untuk membersihkan pakaian yang kotor. Untuk membersihkan kotoran secara optimal yang terdapat pada pakaian, maka pengusaha laundry menambahkan bahan luar seperti sabun melalui pencucian yang dilakukan sebelum pencucian pada mesin cuci.
Sabun adalah salah satu unsur penting dalam proses pencucian pakaian. Penggunaan sabun disesuaikan dengan keadaan pakaian yang akan dicuci. Beberapa jenis sabun digunakan untuk membersihkan pakaian yang kotor yang sulit dijangkau oleh mesin cuci. Jumlah sabun yang digunakan juga tergantung dari banyak atau sedikitnya pakaian yang kotor. Jenis sabun yang digunakan pada laundry yang terdapat di Kecamatan Syiah Kuala adalah jenis sabun krim dan batangan.
4.3.4 Pemakaian Plastik
Pemakaian plastik pada usaha laundry dimaksudkan untuk pakaian yang sudah diproduksi atau yang sudah dilakukan pencucian dengan bersih dikemas ke dalam plastik. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi pakaian agar tidak terkontraminasi kotor kembali. Untuk mengetahui jumlah pemakaian plastik yang sering digunakan oleh pengusaha laundry di Kecamatan Syiah Kuala, dapat dilihat pada tabel 4.9 dibawah berikut:
Table 4.9 Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Pemakaian Plastik Pada Pakaian Laundry Di Kecamatan
Syiah Kuala
Sumber: Pengolahan Data Primer, Tahun 2019
Dari Table 4.9, dapat disimpulkan bahwa pengusaha laundry yang menggunakan plastik antara 0,11 – 0,49 kg sebanyak 7 orang atau 58%, 0,5-1 kg sebanyak 5 orang atau 42%. Pemakaian plastik ini tergantung dari jumlah banyak sedikitnya pakaian yang akan dikemas. Semakin banyak pakaian maka semakin banyak juga plastik yang digunakan untuk pengemasan pakaian laundry, begitu pula sebaliknya. Sedikit pakaian yang akan dikemas maka sedikit pula pemakaian plastik.
4.3.5 Penggunaan Tenaga Kerja
Kegiatan usaha laundry membutuhkan tenaga lebih dalam memproduksi pakaian konsumen agar terlihat lebih bersih. Tenaga kerja merupakan salah satu input yang harus dikeluarkan pada saat proses kegiatan produksi pakaian konsumen yang bersih. Penggunaan tenaga kerja ini terbagi menjadi dua yakni tenaga kerja dalam proses pencucian dan tenaga kerja dalam proses
No Jumlah plastik (kg) Banyaknya (orang) Persentase (%) 1. 0,11 – 0,49 7 58 2. 0,5 - 1 5 42 Jumlah 12 100
penyetrikaan. Untuk mengetahui upah tenaga kerja, dapat dilihat pada tabel 4.10 berikut:
Table 4.10 Distribusi Responden Berdasarkan Rata-Rata Penggunaan Tenaga Kerja Pada Laundry Di Kecamatan Syiah
Kuala Kegiatan Tenaga Kerja (Orang) Biaya Upah / kg Pencucian 1 1000 Penyetrikaan 1 1000 Jumlah 2 2000
Sumber: Pengolahan Data Primer, Tahun 2019
Dari Tabel 4.10, dapat dilihat bahwa rata-rata upah pencuci pakaian laundry sebesar Rp.1000,00 per kg dan rata-rata penyetrikaannya sebesar Rp. 1000,00 per kg. Setiap usaha laundry yang ada di Kecamatan Syiah Kuala diupah per kg.
4.3.6 Biaya Tetap Usaha Laundry
Penggunaan alat-alat usaha laundry dalam proses produksi dimaksudkan untuk memudahkan pengusaha laundry dalam melakukan usaha laundrynya. Adapun alat-alat yang digunakan dalam usaha laundry adalah mesin cuci, setrika, mesin pompa air. Biaya yang dikeluarkan untuk alat-alat yang digunakan berdasarkan nilai penyusutan peralatan yang digunakan tiap tahun. Biaya penyusutan adalah selisih antara harga beli dan harga jual saat dibagi dengan lama penggunaan alat tersebut. Adapun biaya
tetap yang digunakan dalam kegiatan produksi usaha laundry adalah sebagai berikut:
Table 4.11 Rata-Rata Rekapitulasi Biaya Tetap Usaha Laundry Di Kecamatan Syiah Kuala
No Jenis biaya tetap
Jumlah
biaya tetap Rata-rata 1. Mesin Cuci 770.833 64.236 2. Setrika 67.500 5.625 3. Mesin Pompa Air 114.930 9.577 4. Sewa Tempat Usaha 159.500.000 14.500.000 Jumlah 160.453.263 3.644.860
Sumber: Pengolahan Data Primer, Tahun 2019
Dari Tabel 4.11 dapat dilihat bahwa selama proses produksi usaha laundry, rata-rata biaya tetap yang dikeluarkan pengusaha laundry adalah sebesar Rp3.644.860,-. Rata-rata biaya terkecil yang dikeluarkan oleh pengusaha laundry adalah biaya setrika sebesar Rp5.625,- dan rata-rata biaya terbesar yang dikeluarkan adalah biaya sewa tempat usaha sebesar Rp14.500.000,- Jumlah tersebut merupakan rekapitulasi dari jumlah biaya sewa tempat usaha ditambah dengan peralatan yang digunakan selama proses produksi.
4.3.7 Biaya Tidak Tetap (Variabel)
Biaya variable merupakan biaya yang dapat berubah mengikuti besar kecilnya produksi atau biaya yang habis terpakai dalam sekali produksi. Biaya sarana produksi yang dikeluarkan secara rutin oleh pengusaha laundry yang terdiri biaya pewangi, deterjen, sabun, dan plastik.besarnya biaya sarana produksi yang dikeluarkan oleh pengusaha laundry dapat dilihat pada tabel 4.12.
Table 4.12 Rata-Rata Rekapitulasi Biaya Tidak Tetap Usaha Laundry Di Kecamatan Syiah Kuala
No Jenis biaya tidak tetap Jumlah biaya tidak tetap Rata-rata 1. Pewangi 191.180 15.931,7 2. Deterjen 88.520 7.376,67 3. Sabun 25.000 2.083,33 4. Plastik 180.300 15.025 5. Listrik 150.500 12.541,66 6. PDAM 15.000 5.000 7. Tenaga Kerja 1.196.000 99.667 Jumlah 1.846.500 39.897,33
Dari Tabel 4.12 dapat dilihat bahwa selama proses produksi, pengusaha laundry mengeluarkan biaya pewangi rata-rata sebanyak Rp15.931,7, rata-rata biaya deterjen sebanyak Rp7.376,67, rata-rata biaya sabun sebanyak Rp2.083,33, rata-rata biaya plastik sebanyak Rp15.025, rata-rata biaya listrik sebanyak Rp12.541,66, rata-rata biaya PDAM sebanyak Rp5.000,- dan rata-rata biaya tenaga kerja sebanyak Rp99.667,-. Jumlah tersebut diperoleh dari perhitungan jumlah biaya keseluruhan pewangi, deterjen, sabun, plastik, listrik, PDAM dan tenaga kerja yang digunakan.
4.3.8 Hasil Produksi Usaha Laundry
Produksi usaha laundry yang dihasilkan pada satu hari oleh setiap usaha laundry bervariasi, hal ini disebabkan oleh adanya berbagai macam perbedaan banyak atau sedikitnya pakaian konsumen. Rata-rata hasil produksi usaha laundry dari 12 responden di Kecamatan Syiah Kuala adalah sebanyak 50 kg. Berikut distribusi responden menurut jumlah produksi usaha laundry yang dihasilkan responden di tahun 2019.
Table 4.13 Rata-Rata Rekapitulasi Hasil Produksi Usaha Laundry Di Kecamatan Syiah Kuala
No Banyaknya produksi (kg) Banyaknya orang Persentase (%) 1. 10 - 50 9 75 2. 51 - 100 3 25 Jumlah 12 100
Sumber: Pengolahan Data Primer, Tahun 2019
Berdasarkan Tabel 4.13, menunjukkan bahwa produksi usaha laundry dalam sehari di lihat lihat dari 2 responden terdapat 9 orang atau 75% yang memproduksi 10-50 kg, sebanyak 3 orang atau 25% responden memproduksi 51-100 kg. Jumlah tersebut disebabkan oleh adanya berbagai macam perbedaan banyak atau sedikitnya pakaian konsumen.