HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.2. Karakteritik Petani Kopi Arabika Spesialti
5.2.1. Karakteristik sosial
Karakteristik sosial petani kopi arabika spesialti di wilayah penelitian disajikan pada Tabel 30 (Lampiran 2). Dari sisi umur, baik petani yang mengelola usahatani kopi spesialti non-sertifikat maupun usahatani kopi spesialti sertifikat masih tergolong usia produktif. Rerata umur petani kopi spesialti adalah 44,5 tahun (45 tahun pada usahatani non-sertifikat dan 44 tahun pada usahatani kopi spesialti bersertifikat).
Dari segi pendidikan, petani kopi arabika spesialti di wilayah penelitian masih berpendidikan SLTP, yaitu rata-rata 10 tahun, baik petani kopi spesialti non-sertifikat maupun petani kopi spesialti non-sertifikat. Pengalaman mengelola usahatani kopi arabika spesialti diharapkan mampu menjadi faktor positif untuk peningkatan produktivitas dan kualitas kopi arabika di Kabupaten Simalungun. Petani kopi spesialti sertifikat memiliki pengalaman yang lebih tinggi (10 tahun) dibandingkan dengan petani kopi spesialti non-sertifikat (7 tahun).
Sementara dari sisi alokasi tenaga kerja yang diupah (hired labor) untuk pemeliharaan kebun kopi (membersihkan gulma, mengendalikan hama dan penyakit, memupuk, panen, dan pulping) lebih dominan dilakukan oleh tenaga kerja
Silimakuta 9% Purba 22% Dolok Pardamean 15% Sidamanik 7% Pamatang Sidamanik 4% Pamatang Silimahuta 17% Lainnya 26% 937 1.439 1.444 1.525 1.550 1.556 1.584 Lainnya Pamatang Sidamanik Sidamanik Purba Silimakuta Pamatang Silimahuta Dolok Pardamean (kg/ha/tahun)
120
perempuan yaitu 78% (76% pada usahatani kopi spesialti non-sertifikat dan 84% pada usahatani kopi spesialti sertifikat). Keragaan karakteristik sosial dan distribusi pendidikan petani kopi arabika dapat dilihat pada Gambar 18.
Tabel 30. Karakteristik sosial ekonomi dan ekologi usahatani kopi arabika
No. Variabel Satuan
Spesialti gabungan (n=289) Spesialti non-sertifikat (n=210) Spesialti sertifikat (n=79)
1. Umur petani tahun 44,5 45 44
2. Pendidikan tahun 9,89 9,99 9,63
3. Pengalaman tahun 8,05 7,34 9,94
4. Peran perempuan % 78,37 76,33 83,80
5. Likuiditas petani % 35 31 46
6. Jumlah tenaga kerja HKO/ha/tahun 164 137 235
7. Jumlah tanaman kopi pohon/ha 2.194 1.942 2.867
8. Lama produktif tahun 4,94 5,00 4,90
9. Luas kebun ha 0,74 0,69 0,88 10. Produktivitas* kg/ha/tahun 2.299 (951) 2.350 (973) 2.164 (896) 11. Harga Rp/Kg 19.508 19.313 20.027 12. Penerimaan Rp/ha/tahun 49.181.587 51.585.103 42.792.494 13. Biaya Rp/ha/tahun 9.721.619 9.483.209 10.355.369 14. Modal Rp/ha/tahun 831.188 200.189 2.508.528 15. Pendapatan Rp/ha/tahun 39.459.968 42.101.894 32.437.125 16. Pengendalian PBKo: Sanitasi kebun Beauveria bassiana Perangkap (trap) % 46 93 6 1 34 94 5 1 76 92 7 1 17. Konservasi lahan: Mulsa Rorak Teras individu Teras bangku % 60 90 4 5 1 56 92 3 4 1 70 88 5 6 1 18. Pemangkasan tan. kopi:
Pangkas ringan Pangkas produksi Pangkas lepas panen
% 40 75 16 9 38 85 10 5 47 65 22 13 19. Pupuk organik % 27 26 27
20. Pohon pelindung pohon/ha 13 7 30
21. Kopi monokultur % 35 42 32
22. Tumpangsari (Kopi + TS)
Kopi berpelindung (Kopi + PP) Multistrata (Kopi + TS + PP) % % % 33 18 14 33 13 12 30 24 14 Keterangan: * Produktivitas dalam wujud kopi tanduk (parchment), angka dalam kurung setara dengan bobot kopi biji (green coffee); TS = tanaman semusim, PP = pohon pelindung
5.2.2. Karakteristik ekonomi
Karakterisitik ekonomi yang dikaji dalam penelitian ini adalah terkait dengan variabel-variabel ekonomi yang diharapkan berpengaruh langsung dalam
121
peningkatan produktivitas kopi arabika spesialti. Luas kebun dinilai merupakan faktor produksi utama dalam usahatani kopi arabika. Luas rata-rata kebun kopi arabika spesialti adalah 0,74 ha (pada usahatani spesialti non-sertifikat adalah 0,69 ha, sementara luas rata-rata kebun kopi spesialti sertifikat lebih tinggi yaitu 0,88 ha. Akibat penerapan jarak tanam yang berbeda, maka jumlah populasi tanaman kopi per ha juga berbeda.
a b
Gambar 18. Kinerja karakteristik sosial (a) dan distribusi pendidikan petani (b)
Jumlah tanaman kopi rata-rata adalah 2.194 tanaman/ha (pada usahatani kopi spesialti non-sertifikat 1.942 tanaman/ha, sementara populasi pada usahatani kopi spesialti sertifikat jauh lebih tingi yaitu 2.867 tanaman/ha). Jarak tanam yang diterapkan petani di wilayah penelitian adalah 2 m x 3 m, 2½ m x 2 m, 2 m x 2 m, 2 m x 1½ m, dan bahkan masih ada sebagian kecil menggunakan jarak tanam tidak beraturan. Jarak tanam yang digunakan oleh petani di Kecamatan Sidamanik dan Pamatang Sidamanik, sebagai bagian dari lokasi usahatani kopi spesialti sertifikat adalah 2 m x 2 m, 2 m x 1½ m. Umumnya kebun kopi mereka berada pada lahan di pinggiran perkebunan teh PT Perkebunan Nusantara 4 (PTPN 4). Sementara petani di empat kecamatan lainnya (Dolok Pardamean, Purba, Silimakuta, dan Pamatang Silimahuta) sebagian besar menggunakan jarak tanam 2 m x 2½ m, 2 m x 3 m, 3 m x 2½ m, dan 6 m x 2½ meter agar lebih leluasa untuk menanam tanaman
76 7 10 45 84 10 10 44
Tenaga kerja perempuan (%) Pengalaman (thn) Pendidikan (thn) Umur (thn)
Spesialti sertifikat Spesialti non-sertifikat
22% 29% 48% 1% SD SMP SMA S1
122
tumpangsari. Jarak tanam yang direkomendasikan untuk kopi arabika varietas Sigarar utang mulai ketinggian di atas 1.000 m dpl adalah 2 m x 2½ atau 2½ m x 2½ m (Mawardi et al., 2008).
Jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk pemeliharaan kebun kopi lebih tinggi pada usahatani kopi arabika spesialti sertifikat dibandingkan dengan usahatani kopi arabika spesialti non-sertifikat. Tenaga kerja yang diupah (hired labor) untuk pemeliharaan kebun (pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit, pemupukan, panen, pulping, dan lain-lain) pada usahatani kopi arabika spesialti sertifikat sebesar 235 HKO/ha/tahun, sementara pada usahatani non-sertifikat sebesar 137 HKO/ha/tahun). Hal ini disebabkan kondisi lahan miring dengan kualitas lahan yang relatif rendah di lokasi usahatani kopi sertifikat di sekitar perkebunan teh PTPN 4 yaitu Kebun Sidamanik, Tobasari, dan Bah Butong, sehingga diperlukan lebih banyak tenaga kerja dalam pemeliharaan kebun dan lebih banyak modal untuk membeli pupuk organik dan pupuk kimia.
Aspek likuiditas petani, yang dilihat dari ketersediaan relatif pendanaan petani untuk investasi pemeliharaan usahatani kopi arabika spesialti dengan pendekatan adanya penghasilan tetap petani dari luar usahatani, menunjukkan bahwa sejumlah 35% petani kopi arabika di Simalungun memiliki likuiditas keuangan yang relatif baik. Sebesar 46% petani kopi spesialti sertifikat memiliki likuiditas keuangan untuk melakukan investasi usahatani, sementara likuiditas keuangan pada petani kopi arabika spesialti non-sertifikat hanya sebesar 31% (Gambar 19). Likuiditas keuangan yang lebih baik pada petani kopi spesialti sertifikat karena sebagian petani kopi bekerja sebagai karyawan PTPN 4 di unit kebun teh Tobasari, Sidamanik, dan Bah Butong, selain yang bekerja sebagai PNS.
Aspek ekonomi lainnya adalah terkait dengan produktivitas usahatani, harga kopi gabah (parchment) di tingkat petani, penerimaan usahatani, biaya total, dan pendapatan (keuntungan) usahatani kopi arabika. Produktivitas usahatani kopi
123
arabika spesialti non-sertifikat (2.350 kg/ha/tahun) lebih tinggi daripada usahatani kopi arabika spesialti sertifikat (2.164 kg/ha/tahun) dengan selisih 186 kg/ha/tahun (7,91%).
Gambar 19. Kinerja variabel ekonomi usahatani kopi arabika spesialti
Mengapa modal dan tenaga kerja yang lebih besar serta GAPs yang lebih meluas pada usahatani kopi sertifikat tidak menghasilkan produktivitas yang lebih baik? Jawaban logis didasarkan pada pengamatan lapangan terhadap usahatani sertifikat dan usahatani non-sertifikat. Pertama, lokasi usahatani kopi arabika sertifikat (Sidamanik dan Pamatang Sidamanik) pada umumnya berada pada lahan miring dengan kualitas lahan yang relatif rendah dibandingkan dengan sebagian besar lokasi usahatani non-sertifikat (Dolok Pardamean, Purba, Silimakuta, dan Pamatang Silima-huta). Lokasi usahatani kopi sertifikat umumnya berada pada lahan miring di pinggir perkebunan teh PTPN 4 (Kebun Sidamanik, Tobasari, dan Bah Butong). Dengan kondisi lahan tersebut diperlukan lebih banyak tenaga kerja untuk pemeliharaan kebun dan lebih banyak modal untuk pupuk organik dan pupuk kimia.
Kedua, lokasi usahatani non-sertifikat. Meskipun jumlah tenaga kerja dan modal yang digunakan untuk tanaman kopi relatif lebih kecil dibandingkan dengan usahatani sertifikat, namun kenyataannya bisa berbeda. Sejumlah 68% petani kopi non-sertifikat melakukan sistem tumpangsari kopi dengan tanaman semusim. Sistem
17 rante = 0,69 ha 19,42 137 31 22 rante = 0,88 ha 28,67 235 46
Luas Kebun (rante) Jumlah tanaman kopi (100 ph/ha) Tenaga kerja (HKO/ha) Likuiditas petani (%)
124
tumpangsari mengalokasikan tenaga kerja dan pupuk secara intensif untuk tanaman semusim (seperti cabai, kentang, tomat, kubis, wortel, jagung). Secara tidak langsung pupuk dan tenaga kerja yang digunakan untuk tanaman semusim tersebut merupakan biaya bersama (joint cost) dengan tanaman kopi arabika. Bahkan kondisi ini diduga kuat sebagai faktor yang berpengaruh positif terhadap produksi dan pendapatan usahatani yang lebih tinggi pada usahatani kopi arabika non-sertifikat. Sebagaimana diketahui, empat kecamatan lokasi petani kopi non-sertifikat (Kecamatan Dolok Pardamean, Purba, Silimakuta, dan Pamatang Silimahuta) merupakan sentra hortikultura yang sangat penting di Provinsi Sumatera Utara, bahkan di Indonesia.
Akibat produktivitas yang lebih tinggi pada usahatani kopi spesialti non-sertifikat, penerimaan dan pendapatan petani juga lebih tinggi yaitu mencapai Rp51.585.103/ ha/tahun (penerimaan) dan Rp42.101.894/ha/ tahun (pendapatan) pada tahun 2011 (Gambar 20). Sementara penerimaan usahatani kopi sertifikat
„hanya‟ Rp42.792.494 dan pendapatan mencapai Rp32.437.125. Secara gabungan
(kopi sertifikat + non-sertifikat), penerimaan usahatani kopi arabika spesialti di Kabupaten Simalungun mencapai Rp49.181.587, sementara pendapatan mencapai Rp39.459.968. Distribusi frekuensi atau pola penyebaran karakterisitik sosial ekonomi dan ekologi dapat dilihat pada Lampiran 3.
Gambar 20. Kinerja variabel ekonomi usahatani kopi arabika spesialti 2.164 20.027 42.794 10.355 32.437 2.350 19.313 51.585 9.483 42.102 Produktivitas (kg/ha/thn) Harga (Rp/kg) Penerimaan (Rp/ha/thn) x 1.000 Biaya Total (Rp/ha/thn) x 1.000 Pendapatan (Rp/ha/thn) x 1.000
125
Harga penjualan kopi gabah di tingkat petani untuk kopi sertifikat (Rp20.027/kg) lebih tinggi dibandingkan dengan kopi spesialti non-sertifikat (Rp19.313/kg). Selisih harga antara keduanya mencapai Rp714/kg (3,57%). Selisih harga yang relatif kecil ini tidak dapat memberikan keuntungan bagi petani sebab tidak mampu mengimbangi produktivitas yang lebih rendah (7,91%) pada usahatani kopi spesialti sertifikat. Berkaitan dengan harga premium kopi bersertifikat, dilaporkan mencapai 12,5% untuk kopi Toraja (Marsh dan Neilson, 2007a), dan 66–68 sen US$ per kg untuk kopi Gayo (Mawardi et al., 2008).
Hal ini menunjukkan bahwa program sertifikasi kopi di Kabupaten Simalungun belum memberikan keuntungan bagi petani. Rekomendasi yang dapat diajukan berdasarkan hasil penelitian ini adalah jika sertifikasi kopi arabika diperluas untuk sentra produksi lain, proses sertifikasinya harus ditangani oleh Pemerintah Kabupaten Simalungun melalui BUMD pertanian yang dimilikinya, yaitu PD. Agromadear. Pengalaman PD. Genap Mupakat memfasilitasi sertifikasi kopi di dataran tinggi Gayo sejak tahun 1992, tentu dapat menjadi wilayah sebagai kajian komparatif. Produk kopi dari dataran tinggi Gayo telah berhasil memperoleh sertifikasi organik, fairtrade, C.A.F.E. Practices, dan Utz Certified atas proses produksinya (Mawardi et al.,2008).
Berkaitan dengan hal tersebut, diperoleh informasi tentang rencana perluasan wilayah sertifikasi kopi arabika Simalungun. Informasi ini diperoleh pada saat penulis mendampingi Tim dari IFC saat melakukan kunjungan lapangan ke kelompok tani di Kecamatan Pamatang Sidamanik pada tanggal 14 Oktober 2011. Program sertifikasi yang diusulkan adalah Utz Certified dan Rainforest Alliance untuk kelompok Gapermas dan Mekar Sari. Rencana ini, jika berhasil, akan menambah produk kopi Simalungun yang memperoleh pengakuan sertifikasi, menyusul sertifikasi C.A.F.E. Practices yang diperoleh kelompok Karya Bakti (Kecamatan Sidamanik dan Pamatang Sidamanik). Sertifikat kopi ini masih
126
ditangani dan dipegang oleh pihak eksportir, bukan oleh petani atau institusi pemerintah daerah. Program sertifikasi dinilai akan sangat bermanfaat bagi petani kopi, karena menurut Mawardi (2008), laju permintaan kopi bersertifikat diperkirakan sekitar 10% per tahun. Kondisi yang diharapkan antara lain sebagaimana yang ditemukan oleh Kamau et al. (2010) tentang dampak program Utz Certified terhadap usahatani kopi skala kecil di Kenya, yaitu harga kopi dan pendapatan petani lebih tinggi, peningkatan akses dan jumlah kredit pertanian, peningkatan pendapatan dari tanaman lain atau kegiatan off-farm, peningkatan jumlah tabungan dan investasi usahatani.
Risiko fluktuasi harga kopi antar-petani pada usahatani kopi sertifikat lebih rendah dibandingkan dengan usahatani kopi non-sertifikat. Indikator yang digunakan untuk melihat faktor risiko harga adalah dengan melihat nilai varian harga. Semakin rendah varian harga, maka semakin kecil risiko fluktuasi harga kopi antar-petani, dan sebaliknya. Berdasarkan output SPSS ver. 17 dapat diketahui bahwa varian harga untuk usahatani kopi sertifikat sebesar 1,77 x 105 dimana jauh lebih kecil dari varian harga pada usahatani kopi non-sertifikat sebesar 2,33 x 106.
Berdasarkan penelitian Lyngbæk et al. (2001), ditemukan bahwa jumlah tenaga kerja yang digunakan lebih tinggi pada usahatani kopi spesialti sertifikat (693 jam/ha/tahun) dibandingkan dengan usahatani kopi konvensional (495 jam/ha/tahun). Sementara itu, variabel produktivitas juga menunjukkan hal yang sama dengan hasil penelitian ini, dimana produktivitas usahatani kopi spesialti lebih rendah yaitu 6 ton kopi buah/ha/tahun (1.080 kg kopi biji) daripada usahatani kopi konvensional yaitu 7,7 ton kopi buah/ha/tahun (1.386 kg kopi biji). Produktivitas yang lebih rendah pada usahatani kopi spesialti ini semestinya dikompensasi dengan harga premium minimal sebesar 38%.
Karena produktivitas yang lebih rendah dan modal yang lebih tinggi pada usahatani kopi arabika sertifikat maka pendapatan usahataninya juga lebih rendah
127
dibandingkan dengan usahatani kopi non-sertifikat. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Lyngbæk et al. (2001) yang menyatakan bahwa pendapatan usahatani kopi spesialti sertifikat (US$1.448/ha) di Kosta Rika lebih rendah daripada usahatani kopi konvensional (US$1.483/ha).
Permintaan terhadap kopi sertifikat diperkirakan akan meningkat di tahun-tahun mendatang. Tahun 2009 kopi sertifikat hanya 8% dari kopi yang diperdagangkan, maka tahun 2015 diperkirakan akan mencapai 20-25%. Permintaan kopi spesiati terutama berasal dari Belanda (40%), Amerika Serikat (16%), Denmark, Swedia, dan Norwegia (masing-masing 10%), dan Jerman (5%). Pasar yang baru muncul (emerging market) antara lain adalah Jepang (6%), Republik Korea, Australia, Singapura, China, India, Chile, dan Brazil (ITC, 2011). Konsumsi kopi spesialti, terutama kopi organik, mengalami peningkatan di seluruh dunia yakni selaras dengan kecenderungan mengonsumsi produk-produk berkelanjutan secara sosial dan ekologi (Moreira et al., 2008).
Ibanez (2010) menyimpulkan bahwa usahatani kopi organik memerlukan biaya produksi yang lebih rendah (31%) dan produksi yang lebih rendah (40%) daripada produksi kopi non-sertifikat. Meskipun dikenakan harga premium, profitabilitas usahatani kopi organik juga lebih rendah (15%) daripada kopi non-organik. Karenanya, agar produksi kopi organik menjadi menarik bagi petani, maka harga premium kopi organik harus lima kali lebih tinggi dari sebelumnya (pada tahun 2007). Penelitian Ibanez (2010) mendukung hasil penelitian ini dimana program sertifikasi kopi di Kabupaten Simalungun harus memberikan harga premium yang lebih tinggi dari kondisi saat ini untuk mengimbangi produksi yang lebih rendah pada kopi sertifikat.
128
5.5.3. Kondisi ekologis
Berkaitan dengan faktor ekologi, penerapan good agricultural practices (GAPs) lebih meluas pada usahatani kopi arabika spesialti sertifikat (Gambar 21). GAPs adalah seperangkat rekomendasi untuk memperbaiki kualitas dan keamanan produk pertanian (Ellis et al., 2004). Pengendalian hama penggerek buah kopi (PBKo) atau
Hypothenemus hampei (Ferrari) dilakukan oleh sejumlah 76% petani. Di kalangan petani, PBKo dikenal sebagai hama bur-bur. Pengendalian PBKo tersebut masih didominasi oleh cara sanitasi kebun (92%), hanya sebagian kecil petani yang pernah mengaplikasikan Beauveria bassiana (7%) dan perangkap hama PBKo (1%). Hal yang hampir sama terjadi pada praktik konservasi lahan. Sebanyak 70% petani telah melakukan praktik konservasi lahan pada kebun kopi mereka. Sebagian besar praktik konservasi lahan tersebut (88%) dilakukan dengan perlakuan mulsa. Sumber mulsa berasal dari sisa pangkasan tanaman kopi, limbah tanaman semusim dan/atau mengembalikan kulit buah kopi ke kebun, dengan atau tanpa pengomposan terlebih dahulu.
Gambar 21. Kinerja variabel ekologi usahatani kopi arabika spesialti
42 25 13 33 7 26 38 56 34 32 38 24 30 30 27 47 70 76 Kopi monokultur (%) Multistrata (%) Simple shade coffee (%) Tumpangsari (%) Pohon pelindung (ph/ha) Pupuk organik (%) Pemangkasan kopi (%) Konservasi lahan (%) Pengendalian PBKo (%)
129
Selain itu, sebanyak 47% petani kopi arabika sertifikat telah melakukan pemangkasan tanaman kopi, yang didominasi oleh praktik pemangkasan ringan yaitu membuang tunas air (a), cabang balik (b), cabang liar (c,d), cabang kering/tua/mati (e), dan terserang hama/penyakit (f). Penerapan pemangkasan ringan diilustrasikan pada Gambar 22. Hartatri dan de Rosari (2011) melaporkan praktik pemangkasan pemeliha-raan dan pemangkasan produksi
pada tanam-an kopi di Provinsi NTT. Di Kabupaten Manggarai, 68,04% dan 54,64% petani melakukan pemangkasan pemeliha-raan dan pemangkasan produksi. Sementara di Kabupaten Manggarai Timur hanya 34% yang melakukan pemangkasan pemeliharaan dan 34% juga yang melakukan pemangkasan produksi.
Sebagai komoditas ekspor yang mempersyaratkan mutu standar, pemupukan kopi hendaknya dilakukan secara tepat dan berimbang, bahkan sertifikasi organik menghendaki praktik usahatani tanpa pemakaian pupuk kimia. Data dari wilayah penelitian menunjukkan bahwa petani masih lebih banyak menggunakan pupuk kimia daripada pupuk organik. Biaya untuk membeli pupuk organik hanya 27% dari total biaya pupuk (kimia dan organik) dalam satu tahun. Alasan yang umum dikemukakan petani adalah pupuk kimia dapat direspon oleh tanaman kopi relatif lebih cepat daripada menggunakan pupuk organik. Padahal kondisi ini agaknya berlaku untuk pningkatan produksi dalam jangka pendek. Untuk jangka panjang, pemakaian pupuk organik yang lebih banyak dapat menjamin masa produktif yang lebih panjang.
Salah satu kelemahan mendasar pada usahatani kopi arabika adalah masih rendahnya kesadaran lingkungan para petani terkait penanaman pohon pelindung
Gambar 22. Ilustrasi pemangkasan ringan pada tanaman kopi arabika
130
pada kebun kopi. Jumlah pohon pelindung pada usahatani kopi spesialti non-sertifikat hanya 7 pohon/ha dan pada usahatani kopi spesialti non-sertifikat jauh lebih banyak yaitu 30 pohon/ha. Berdasarkan penelitian Hartatri dan de Rosari (2011) di Provinsi NTT, sebesar 37,16% petani menyatakan bahwa pohon pelindung pada tanaman kopi bermanfaat untuk kesuburan tanah/sumber bahan baku. Sementara yang menyatakan sebagai sumber kayu bangunan (39,32%), sebagai sumber kayu bakar (21,17%), produk konsumsi/tambahan pendapatan (2,39%), dan sebagai sumber pakan ternak (6,00%).
Terdapat empat jenis sistem usahatani yang dilakukan petani dalam budidaya kopi arabika spesialti di Kabupaten Simalungun, yaitu kopi monokultur (sun-coffee), tumpangsari (intercropping), kopi dengan pelindung (simple shade coffee), dan multistrata (multistrata shade coffee). Kopi monokultur dan tumpangsari lebih banyak dilakukan pada usahani kopi arabika non-sertifikat (42% dan 33%) dibandingkan dengan usahatani kopi arabika sertifikat (32% dan 30%). Sementara sistem simple shade coffee dan multistrata lebih bayak diterapkan pada usahatani kopi arabika sertifikat (24% dan 14%) dibandingkan dengan usahatani kopi arabika non-sertifikat (13% dan 12%).
Simple shade coffee adalah sistem usahatani kopi dengan pohon pelindung, tanpa tanaman tumpangsari; sementara sistem multistrata adalah kopi ditanam di bawah pohon pelindung serta bercampur dengan beberapa tanaman lain yang memberikan hasil seperti tanaman buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan tanaman obat-obatan (Verbist et al., 2004).