• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Produksi dan Produktivitas Pertanian

Fungsi produksi menggambarkan suatu hubungan antara input dan output atau menjelaskan transformasi input (sumberdaya) menjadi output (komoditas). Secara simbolik, fungsi produksi dapat ditulis sebagai: Y = f (X1, X2, X3, ..., Xn), dimana Y

adalah output, X1 ... Xn adalah input yang digunakan untuk menghasilkan Y

(Debertin, 1986; Doll dan Orazem, 1984).

Fungsi produksi menggambarkan respon produksi pada semua tingkat dan kombinasi input dalam kaitannya dengan teori penawaran, dan memperhatikan variasi dalam masing-masing input. Fungsi produksi merupakan model ekonomi yang berfungsi membantu dalam pembuatan prediksi, rekomendasi kebijakan, dan proyeksi (Lewis, 1969). Fungsi produksi merupakan representasi matematis yang menunjukkan jumlah output maksimum yang dapat dihasilkan dari sejumlah input yang digunakan (Besanko, 2004).

Tabel 8. Indikator pembangunan wilayah Basis Kelompok Indikator-indikator operasional

Tujuan

pembangunan 1. Produktivitas, efisiensi, dan pertumbuhan (growth)

a. Pendapatan wilayah (PDRB, PDRB per kapita, pertumbuhan PDRB)

b. Kelayakan finansial/ekonomi (NVP, BCR, IRR, BEP) c. Spesialisasi, Keunggulan komparatif/kompetitif

(Location Quotient, Shift-Share Analysis) d. Produktivitas produk unggulan

2. Pemerataan, keberimbangan, dan keadilan

(equity)

a. Distribusi pendapatan (Gini ratio, struktural)

b. Ketenagakerjaan/pengangguran (terbuka, terselubung, setengah)

c. Kemiskinan (Good-service ratio, garis kemiskinan, % konsumsi makanan)

d. Keseimbangan wilayah (spatial, central, capital, dan

sector balance) 3. Keberlanjutan (sustainability) a. Dimensi lingkungan b. Dimensi ekonomi c. Dimensi sosial Sumberdaya 1. Sumberdaya manusia a. Pengetahuan

b. Keterampilan

c. Kompetensi d. Etos kerja/sosial

e. Pendapatan/produktivitas f. Kesehatan

g. Indeks pembangunan manusia (IPM)

2. Sumberdaya alam a. Tekanan

b. Dampak c. Degradasi 3. Sumberdaya buatan/

sarana dan prasarana

a. Skalogram fasilitas pelayanan b. Aksesibiltas terhadap fasilitas 4. Sumberdaya sosial

(social capital) a.b. Regulasi/aturan adat/budaya (Organisasi sosial (network) norm) c. Rasa percaya (trust)

Proses pembangunan 1. Input 2. Proses/implementasi 3. Output 4. Outcome 5. Benefit 6. Impact

a. Input dasar (SDA, SDM, infrastruktur, SD Sosial) b. Input antara, transparansi, efisiensi manajemen,

tingkat partisipasi masyarakat/stakeholders

c. Total volume produksi

Sumber: Rustiadi et al. (2009)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), produksi pertanian merupakan barang, baik berupa tanaman maupun hewan atau yang lain, yang dihasilkan oleh suatu usahatani atau perusahaan pertanian; sementara produktivitas adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu atau daya produksi (Pusat Bahasa, 2008). Produktivitas merupakan isu sentral penting dalam perekonomian sebab menjadi penentu utama kesejahteraan ekonomi. Analisis produktivitas pertanian mendapat tempat khusus dalam ekonomi pertanian karena: (1) ketergantungan sektor pertanian

pada sumberdaya alam, (2) keterbatasan ketersediaan sumberdaya alam dalam mendukung produksi pertanian, dan (3) dalam jangka panjang produktivitas pertanian berimplikasi pada pengurangan kemiskinan di negara sedang berkembang dan tantangan lingkungan global seperti perubahan iklim (Fuglie dan Schimmelpfennig, 2010).

Produktivitas pertanian merupakan rasio antara output pertanian dan input pertanian. Produktivitas faktor total (PFT) didefinisikan sebagai rasio antara nilai output dengan nilai semua input yang digunakan. Namun PFT sulit diukur karena kendala menilai input-input utama ketika pasar tidak berfungsi dengan baik. Suatu pendekatan alternatif adalah produktivitas faktor parsial (PFP). PFP diukur dengan membagi output fisik (Q) dengan input faktor fisik (Xi), PFP = Q/Xi. Produktivitas dapat bervariasi sebagai akibat dari penerapan teknologi yang berbeda atau variasi dalam input-input yang tidak terukur, dalam suatu fungsi produksi sebagai berikut:

Q = f (X1, X2, … Xn; t). Ukuran parsial yang dibangun secara hati-hati merupakan ukuran yang sah mengukur variasi output dan variasi input (Alston et al., 1994; Ramaila et al., 2011; Owuor, 1998).

Dalam sektor pertanian, Diskin (1997) memperkenalkan delapan indikator kinerja produktivitas pertanian secara umum yaitu hasil panen per hektar, kesenjangan antara hasil aktual dan potensial, variabilitas hasil dengan berbagai kondisi, nilai produksi per rumah tangga, jumlah bulan ketersedian pangan rumah tangga, kehilangan hasil selama penyimpanan, luas lahan dengan perbaikan budidaya, dan jumlah fasilitas penyimpanan yang dibangun dan digunakan.

Komisi Eropa (2001) merilis indikator efisiensi produksi yang antara lain adalah: produktivitas modal, produktivitas tenaga kerja, dan produktivitas lahan. Ruttan (2002) menyatakan bahwa rasio produktivitas parsial dapat berupa produktivitas lahan (output/ha), produktivitas tenaga kerja (output/tenaga kerja), dan rasio lahan-tenaga kerja (luas lahan pertanian/lahan-tenaga kerja). Sementara input umumnya terdiri dari lahan, tenaga kerja, ternak, modal, dan pupuk.

Brambilla dan Porto (2006) mendefinisikan produktivitas sebagai hasil per hektar dalam unit fisik. Definisi ini berbeda dengan definisi standar yang digunakan dalam analisis industri, yang biasanya menggunakan ukuran nilai tambah pada harga konstan. Definisi produktivitas dalam unit fisik secara ekonomi lebih memiliki makna karena merefleksikan teknologi yang digunakan; sementara nilai tambah tergantung pada situasi pasar melalui harga.

Odhiambo et al. (2004) menemukan bahwa tenaga kerja dan lahan merupakan faktor yang sangat penting sebagai penentu pertumbuhan dan produktivitas pertanian. Faktor penting lainnya adalah kebijakan perdagangan, iklim, dan pengeluaran pemerintah untuk sektor pertanian. Handayani dan Dewi (2006) mendefinisikan produktivitas tenaga kerja sebagai pendapatan dalam satu musim panen (merupakan output) dibagi dengan curahan jam kerja selama musim panen tersebut (merupakan input).

Studi tentang perubahan produktivitas pertanian dalam ekonomi global pada negara produsen pertanian besar di negara sedang berkembang telah dilakukan di China, India, Indonesia, negara-negara eks Uni Soviet dan Eropa Timur. Negara-negara ini merupakan produsen pertanian besar yang memiliki konsekuensi besar bagi ekonomi pangan global. Selain itu, kebijakan dan kelembagaan yang dibutuhkan untuk menjaga pertumbuhan produktivitas yang lestari seperti sistem penelitian dan pengembangan (R&D system) dan pasar yang efisien belum mantap, dan karenanya prospek pertumbuhan ke depan menjadi kurang meyakinkan dibandingkan dengan negara-negara industri maju (Fuglie dan Schimmelpfennig, 2010).

Merujuk Heimlich (2003), perubahan output pertanian (ΔO) merupakan hasil dari perubahan input pertanian (ΔI) dan pertumbuhan produktivitas (ΔY). Dalam formula sederhana dituliskan sebagai: ΔO = ΔI + ΔY. Output pertanian diukur dengan output yang dapat dipasarkan, input pertanian merupakan faktor-faktor produksi seperti

Sementara pertumbuhan produktivitas ditentukan oleh penelitian dan pengembangan pertanian (agriculture R&D), penyuluhan, pendidikan, infrastruktur, dan program-program pemerintah.

Hal yang menarik dari Heimlich (2003) adalah bahwa produktivitas diukur bukan hanya untuk memperoleh informasi tentang peran faktor penentu produktivitas tersebut secara terpisah, tetapi yang terpenting adalah memahami sumber-sumber pertumbuhan produktivitas dalam memformulasi kebijakan yang tepat untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat. Brambilla dan Porto (2006) menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi produktivitas usahatani. Beberapa faktor yang dikaji antara lain adalah: umur, gender, pendidikan, teknologi, akses kredit, penyuluhan pertanian, dan pemanfatan lahan.

Penm (2012) menyatakan bahwa pertumbuhan produktivitas pertanian dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu kondisi makroekonomi, input di tingkat usahatani, dan faktor eksternal. Ketiga faktor tersebut harus didukung oleh kondisi oprasional yang inovatif yang dapat dicapai melalui pendekatan kebijakan pemerintah. Kebijakan yang ditempuh pemerintah difokuskan pada pengembangan sumberdaya manusia, pengembangan infrastruktur, investasi dalam penelitian dan pengembangan (investing in R&D), insentif harga, dan perbaikan fleksibilitas operasional (Gambar 1).