METODE PENELITIAN
4.4. Teknik Pengambilan Sampel
no/N = 210/16.416 = 0,0128. Dengan demikian, = 210
1+ 0,0128
=
207,35yang berarti no/N dalam perhitungan ini (0,0128) dapat diabaikan, sehingga jumlah sampel ditetapkan sebanyak 210 rumah tangga petani.
4.4. Teknik Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik cluster sampling. Teknik ini dilakukan dengan memilih sampel dari kelompok unit-unit
81
yang kecil, yang disebut klaster. Teknik ini dapat digunakan jika catatan lengkap tentang unit elementer dalam populasi tidak diperoleh. Karena kelompok atau klaster dalam penelitian ini berupa wilayah tertentu yang jelas batas-batasnya –yaitu enam kecamatan terpilih-- (Gambar 3), maka teknik sampling yang digunakan disebut area sampling. Untuk sampai pada pemilihan sampel di tingkat petani, diperlukan beberapa tahap sampling, sehingga teknik yang digunakan dinamakan
multi-stage cluster sampling (Nazir, 2009; Sudjarwo dan Basrowi, 2009; Bungin, 2008; Sudarso, 2007; Lubis, 2002; Magnani, 1997; Mantra dan Kasto, 1995). Wollni dan Zeller (2006) menggunakan multi-stage cluster sampling (MSCS) dalam pemilihan rumah tangga sampel dalam penelitian partisipasi petani kopi di Kosta Rica.
Klaster merupakan satuan sampling yang di dalamnya berisi satuan-satuan sampling yang lebih kecil (Lubis, 2002). Magnani (1997) menyatakan suatu klaster harus memenuhi empat kriteria: (1) klaster memiliki batas-batas fisik yang relatif jelas untuk memudahkan identifikasi di lapangan; (2) lokasi antar-klaster berdekatan; (3) klaster tidak mencakup terlalu banyak orang untuk meminimalkan jumlah
sampling frame; dan (4) informasi tentang ukuran klaster idealnya tersedia sebelum pemilihan sampel. Sampling frame umumnya dilakukan dengan dua tahap: (1) pemilihan tahap pertama (primary unit), yaitu desa atau sub-wilayah kabupaten; dan (2) pemilihan elementary sampling unit dalam primary unit, yaitu rumah tangga.
Penentuan sampel klaster dilakukan dengan menggunakan purposive sampling
sementara penentuan sampel rumah tangga menggunakan teknik probability-proportional-to-size (PPS) sebab ukuran klaster relatif diketahui. PPS berarti klaster yang lebih besar memiliki peluang sampel yang lebih besar daripada klaster yang lebih kecil.
Kabupaten Simalungun terdiri dari 31 kecamatan, namun hanya 9 kecamatan yang menghasilkan kopi arabika spesialti. Sembilan kecamatan penghasil kopi Arabika di Kabupaten Simalungun dapat dilihat pada Tabel 19.
83
Tabel 19. Luas areal, produksi serta jumlah petani kopi arabika di Kabupaten Simalungun berdasarkan kecamatan tahun 2010
No Kecamatan Luas (ha) Produksi Produktivitas Jumlah
TBM TM Jumlah (ton) (kg/ha/tahun) petani
1. Silimakuta 104 407 511 632 1.553 763 2. Purba 212 1.006 1.218 1.534 1.525 1.457 3. Dolok Pardamean 134 693 827 1.099 1.586 1.465 4. Sidamanik 62 320 382 463 1.447 1.127 5. Girsang Sp. Bolon 40 295 335 426 1.444 968 6. Raya 328 764 1.092 1.158 1.516 3.778 7. Dolok Silau 113 522 635 690 1.322 1.203 8. Pam. Sidamanik 95 205 300 296 1.444 781 9. Pam. Silimahuta 178 772 950 1.201 1.556 1.045 Kab. Simalungun 1.385 5.384 6.769 7.077 1.314 16.416
Sumber: Dinas Perkebunan Kabupaten Simalungun, 2011
Dari sembilan kecamatan penghasil kopi Arabika tersebut, ditetapkan secara sengaja atau purposive sampling (Sudjarwo dan Basrowi, 2009) sebanyak enam kecamatan dengan pertimbangan lebih dari 75% produksi kopi arabika Kabupaten Simalungun dipasok dari enam kecamatan tersebut. Metode purposive sampling
dapat digunakan pada penelitian yang lebih mengutamakan tujuan penelitian daripada sifat populasi (Bungin, 2008). Cochran (1977) menyebutnya sebagai
purposive selection, yaitu pemilihan sampel dengan pertimbangan tertentu.
Metode purposivesampling dalam menentukan klaster wilayah digunakan untuk penelitian yang mengutamakan tujuan yang hendak dicapai, yaitu penelitian pengaruh faktor sosial ekonomi dan ekologi terhadap peningkatan produktivitas kopi arabika spesialti di Kabupaten Simalungun. Selain itu, tujuan penelitian adalah untuk membangun model pengembangan komoditas kopi arabika spesialti. Fraksi penarikan sampel (f) adalah 67%, yaitu rasio antara besarnya sampel dengan besarnya populasi (n/N) (Cochran, 1977). Dalam hal ini, fraksi penarikan sampel klaster adalah rasio antara sampel klaster dengan populasi klaster kecamatan. Dengan demikian, jumlah klaster pada tahap pertama (primary sampling unit, PSU) adalah enam kecamatan produsen kopi arabika spesialti (Tabel 20).
84
Tabel 20. Luas kebun, produksi dan jumlah petani kopi arabika di Kabupaten Simalungun berdasarkan kecamatan sebagai Primary Sampling Unit
tahun 2010
No. Kecamatan Produksi (ton) Luas kebun (ha) Jumlah petani (KK) Jumlah petani (%) 1. Silimakuta 632 511 763 10,90 2. Pamatang Silimahuta 1.201 949 1.405 20,08 3. Purba 1.534 1.218 1.457 20,82 4. Dolok Pardamean 1.099 827 1.465 20,93 5. Sidamanik 759 382 1.127 16,10 6. Pamatang Sidamanik 292 300 781 11,16 Kab. Simalungun 7.077 6.769 16.416 100
Pengambilan sampel untuk setiap kecamatan dilakukan secara proporsional (probability-proportional-to size) berdasarkan persentase jumlah petani (yaitu jumlah petani di kecamatan yang bersangkutan dibandingkan dengan total jumlah petani kopi di enam kecamatan sampel). Bungin (2008) menyatakan bahwa teknik proporsional dapat digunakan antara lain pada populasi area atau populasi klaster. Jumlah sampel untuk masing-masing kecamatan dapat dilihat pada Tabel 21.
Tabel 21. Jumlah sampel untuk masing-masing kecamatan
No. Kecamatan Jumlah petani (KK) petani (%) Jumlah Jumlah sampel (KK)
1. Silimakuta 763 10.90 23 2. Pamatang Silimahuta 1.405 20.08 42 3. Purba 1.457 20.82 44 4. Dolok Pardamean 1.465 20.93 44 5. Sidamanik 1.127 16.10 34 6. Pamatang Sidamanik 781 11.16 23 Jumlah 10.776 100,00 210 Kab. Simalungun 16.416
Dari enam kecamatan tersebut ditetapkan masing-masing dua nagori sampel sebagai secondary sampling unit (SSU), sehingga terdapat 12 nagori (desa) sampel di enam kecamatan. Penentuan nagori di masing-masing kecamatan dilakukan secara acak berdasarkan data/daftar nagori produsen kopi arabika dari Dinas Perkebunan dan Badan Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Simalungun.
85
Selanjutnya, dari masing-masing nagori terpilih, ditetapkan masing-masing satu gabungan kelompok tani (gapoktan) yang anggotanya mengelola usahatani kopi arabika. Dari masing-masing gapoktan didaftarkan nama-nama kelompok tani (poktan) yang aktif dan sebagian besar anggotanya mengelola usahatani kopi arabika. Daftar poktan ini ditentukan oleh tim enumerator bersama pengurus gapoktan. Dari daftar poktan tersebut dipilih secara acak masing-masing satu poktan dari setiap gapoktan terpilih, sehingga terdapat 12 poktan sampel (Tabel 22). Penerapan multi-stage cluster sampling (MSCS) diringkas pada Gambar 4.
Tabel 22. Jumlah petani sampel untuk setiap kelompok tani No. Kecamatan gapoktan Nagori/
Jumlah poktan Jumlah petani Jumlah petani sampel/poktan 1. Silimakuta 2 2 23 11 2. Pam. Silimahuta 2 2 42 21 3. Purba 2 2 44 22 4. Dolok Pardamean 2 2 44 22 5. Sidamanik 2 2 34 17 6. Pam. Sidamanik 2 2 23 12 Jumlah 12 12 210 --
Sembilan kecamatan sentra kopi arabika spesialti (Kecamatan Sidamanik, Pam. Sidamanik, Dolok Par-damean, Purba, Silimakuta, Pam. Silimahuta, Raya, Dolok Silau, dan Girsang Sipangan Bolon)
N = 9
Dari sembilan kecamatan tersebut, ditentukan enam kecamatan penghasil utama kopi arabika spesialti sebagai satuan sampel tingkat pertama (primary sampling unit, PSU), yaitu kecamatan Sidamanik, Pamatang Sidamanik, Dolok Pardamean, Purba, Silimakuta, Pamatang Silimahuta n = 6 Dari masing-masing kecamatan dipilih dua nagori (desa) dan gapoktan secara acak sebagai satuan sampel tingkat kedua (secondary sampling unit, SSU) 12 nagori (desa) atau gapoktan
……… 18 kelompok tani Dari masing-masing nagori (desa) dipilih 1 - 2 kelompok tani sebagai satuan sampel tingkat ketiga (tertiary sampling unit, TSU) 18 kelompok tani
……… Anggota semua kelompok tani merupakan kerangka sampling (sampling frame)
…. 210 rumah tangga Dari 18 kelompok tani dipilih secara acak dan proporsional sejumlah petani sebagai sampel penelitian 210 rumah tangga
Gambar 4. Diagram dari proses multi-stage cluster sampling Sumber: modifikasi dari Lubis (2002) dan Nazir (2009)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 2 3 4 5 6
86
Daftar kelompok tani sampel ini disebut sebagai tertiary sampling unit (TSU). Daftar petani anggota kelompok tani merupakan daftar unit penarikan sampel yang disebut sebagai kerangka sampling atau sampling frame (Nazir, 2009; Lubis, 2002; Cochran, 1977; Mantra dan Kasto, 1995). Dari masing-masing kerangka sampling tersebut ditetapkan petani sampel sedemikian rupa sehingga jumlah sampel keseluruhan (210 petani) dapat dipenuhi. Pengambilan petani sampel dilakukan dengan metode penarikan sampel acak sederhana atau simple random sampling
(Cochran, 1977; Nazir, 2009; Mantra dan Kasto, 1995; Arikunto, 2009).
Berdasarkan Tabel 22 dan Gambar 4 di atas, maka ditetapkan lokasi kecamatan, nagori, gapoktan, poktan dan jumlah petani sampel dari setiap poktan (Tabel 23).
Tabel 23. Lokasi sampel penelitian
Kecamatan Nagori/kelurahan Gapoktan Poktan/lokasi Sampel
Pam. Silimahuta Silimakuta Barat Silimakuta Barat Sapanriah
Saurma Tani 21
Mardingding Mardingding Mitra Tani
Sada Uhur
21
Silimakuta Sibangun Mariah Mekar Jaya Marsiurupan 11
Saribudolok Sigambiri Adil Jaya 11
Purba Pamatang Purba Dosriah Bagotraja
Marubun
22
Tigarunggu Maju Bersama Mekar Sari
Tani Jaya 22
Dolok Pardamean
Sirube-rube Gunung Purba
Sirugun Mari Bersama
Sauhur
22
Buttu Bayu Panei Raja Makmur Tani Manik Saribu Pane
Sipintu Angin 22
Sidamanik Bah Butong II Pasir Putih Kebun Sayur 17
Manik Hataran Karya Karya 17
Pam. Sidamanik Saitbuttu Tani Sejahtera Karya Putra 12
Saitbuttu Saribu Sarmadear Gapermas 12
Jumlah 12 12 18 210