KEGIATAN OPERASIONAL
3.2. KARANTINA TUMBUHAN
Menurut Undang-Undang Nomor 16 tahun 1992 tentang KarantinaHewan, Ikan dan Tumbuhan, Karantina tumbuhan adalah tindakan sebagai upaya pencegahan masuk dan tersebarnya organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dari luar negeri dan atau dari suatu area ke area lain di dalam negeri, atau keluarnya dari dalam wilayah negara RI. Karantina Tumbuhan sebagai upaya pencegahan penyebaran OPT dapat dilakukan secara optimal tidak terlepas dari peran serta Unit Pelaksana Teknis (UPT) di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Balai Karantina Pertanian Kelas I Denpasar (BKP Kelas I Denpasar) sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Badan Karantina Pertanian (Barantan) berperan penting dalam melaksanakan kegiatan operasional Karantina Tumbuhan dan Pengawasan Keamanan Hayati Nabati. Pelaksanaan Kegiatan Operasional di lingkup BKP Kelas I Denpasar dilakukan di seluruh wilayah kerja sebagai fungsi pelaksanaan Pengawasan Keamanan Hayati Nabati dan pelaksanaan pemberian pelayanan operasional Karantina Tumbuhan.
Kegiatan Operasional di Balai karantina tumbuhan terbagi menjadi 4 kegiatan yaitu Impor,Ekspor, Domestik Masuk, Domestik Keluar. Selain kegiatan-kegiatan tersebut, dilakukan juga pelaksanaan pengawasan Fumigasi Methyl Bromida dan ISPM#15 serta pelaksanaan monitoring PSAT
3.2.1. Tindakan Karantina Tumbuhan terhadap Media Pembawa OPTK Impor
Keanekaragaman hayati merupakan salah satu faktor penting sebagai indikator kebersinambungan ketersediaan plasma nutfah di wilayah NKRI. Oleh karena itu, upaya untuk mencegah masuk dan tersebarnya OPTK dari luar wilayah NKRI maupun dari suatu area ke area lain di dalam wilayah NKRI sangat penting untuk dilakukan untuk melindungi plasma nutfah yang kita miliki selama ini.
Upaya mencegah masuk dan tersebarnya OPT dari luar negeri dan dari suatu area atau pulau ke area atau pulau lain di dalam wilayah RI dilakukan melalui pelaksanaan karantina tumbuhan oleh pemerintah. Selain itu, sesuai dengan ketentuan Internasional, maka pemerintah wajib melaksanakan tindakan karantina
tumbuhan untuk mencegah masuk dan tersebarnya OPT/OPTK dari luar wilayah NKRI.
Pelaksanaan tindakan karantina tumbuhan didasarkan kepada sejumlah peraturan perundangan yang berlaku secara Nasional maupun Internasional. Tindakan Karantina Tumbuhan terhadap pemasukan (importasi) media pembawa OPT/OPTK telah dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku. Data frekuensi kegiatan operasional Karantina Tumbuhan Impor di lingkup Balai Karantina Pertanian Kelas I Denpasar dari tahun 2015 s/d 2019 dapat dilihat pada Grafik 13 :
Grafik 13. Data Frekuensi Kegiatan Impor Media Pembawa pada tahun 2015 dan 2019
Berdasarkan grafik tersebut jika dibandingkan data frekuensi tahun 2019 terjadi peningkatan frekuensi sebesar 150 %. Peningkatan frekuensi kegiatan impor terutama adanya importasi bunga potong asal China, peningkatan pengawasan di kantor pos Denpasar serta peningkatan kesadaran masyarakat untuk melaporkan rencana importasi pemasukan bibit tanaman.
Kegiatan impor untuk Bibit Tanaman (golongan A) pada tahun 2019 mengalami penurunan frekuensi dibandingkan dengan tahun 2018 sebesar 50 % yaitu dari 15 kali menjadi 9 kali. Volume peningkatan impor yaitu importasi bunga potong dari negara Tiongkok peningkatan meliputi peningkatan volume dan frekuensi. Importasi dalam satuan gram merupakan importasi cendawan fermentasi yang digunakan dalam industri wine dan bir, importasi ini merupakan jenis importasi baru yang tidak ada sejak 2015. Importasi cendawan fermentasi ini merupakan kelanjutan dari importasi bibit anggur yang diimpor tahun 2016 mulai berproduksi dan digunakan bahan produksi wine.
Pada tahun 2019, kegiatan impor untuk Hasil Tanaman Hidup (Golongan B) mengalami peningkatan frekuensi dibandingkan dengan tahun 2018 sebesar 204 %
0 100 200 300 400 500 600 700 800 TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2019 384 323 312 470 777
yaitu dari 22 kali menjadi 45 kali. Peningkatan importasi juga tampak pada volume impor tahun 2019 untuk satuan batang juga mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2019.Peningaktan volume per satuan batang dikarenakan peningkatan importasi bunga potong dari Tiongkok.
Perbandingan volume per satuan kegiatan impor media pembawa OPT/OPTK di lingkup Balai Karantina Pertanian Kelas I Denpasar tahun 2014 dengan 2018 dapat dilihat pada Tabel :
Tabel 103. Perbandingan data kegiatan Impor Media PembawaOPT/OPTK berdasarkan satuan impor dari tahun 2015 s/d 2019.
Berdasarkan data pada tabel diatas, dapat diketahui bahwa frekuensi kegiatan impor tahun 2019 dibandingkan tahun 2018 untuk Tindakan Karantina Tumbuhan Pemeriksaan meningkat 19% dari 118 kali menjadi 146 kali (untuk satuan batang, kg, m3, dan kemasan). Demikian juga dengan Tindakan Karantina Tumbuhan Pembebasan juga mengalami peningkatan sebesar 11% yaitu dari 117 kali menjadi 132 kali (untuk satuan batang, kg, m3, dan kemasan).
Jika dibandingkan frekuensi tindakan pemeriksaan dengan tindakan pembebasan maka terjadi penurunan baik pada tahun 2018 maupun tahun 2019. Pada tahun 2019, frekuensi tindakan pemeriksaan lebih tinggi dibandingkan pembebasan yaitu 118 dan 117 (sebesar 1%). Pada tahun 2019, frekuensi tindakan pemeriksaan juga lebih tinggi dibandingkan pembebasan yaitu 146 dan 132 (sebesar 10%). Adanya selisih antara frekuensi pemeriksaan dan pembebasan menandakan bahwa ada beberapa media pembawa yang belum memenuhi syarat baik dari segi teknis ( contohnya : media pembawa tidak dilengkapi Phytosanitary dan / atau Surat Ijin Pemasukan dari Menteri Pertanian) maupun resiko media pembawa itu sendiri. Terhadap media pembawa yang belum memenuhi syarat tersebut maka akan dikenakan tindakan penahanan dan diberikan waktu 14 hari untuk memenuhi persyaratan yang masih belum di penuhi tersebut. Bila dalam kurun waktu 14 hari persyaratannya belum dipenuhi maka akan dilakukan penolakan dan harus dikeluarkan dari wilayah NKRI. Bila dalam waktu 14 hari belum dikeluarkan dari wilayah NKRI maka dilakukan pemusnahan.
TAHUN SATUAN IMPOR TOTAL
BATANG BOTOL GRAM KEMASAN KILOGRAM METER KUBIK
2015 1 - 22 5.153.460 219 5.153.702 2016 19.987 - 23 20.267.807 27 20.287.844 2017 24.462 - 413.863 227 438.552 2018 61.636 3 1.800 60 5.062.860 392 5.126.751 2019 250.080 - 2.200 541.307,49 511,67 794.099 TOTAL 356.166 3 4.000 105 31.439.297 1.377 31.800.948
Adanya impor bibit tanaman dari luar negeri akan berdampak pada meningkatnya resiko akan masuknya OPTK dari luar negeri yang terbawa melalui bibit tanaman yang diimpor terebut. Untuk mengatasi hal tersebut, POPT telah berupaya mengantisipasi dengan melakukan inventarisasi bibit tanaman yang masuk serta resiko OPTK berdasarkan Permentan 55 tahun 2016 tentang jenis OPTK. Selain meningkatkan pengawasan dan pengamatan terhadap impor tanaman sesuai prosedur, juga dilakukan peningkatan kemampuan laboratorium dalam teknik dan metode pengujian serta peningkatan kemampuan SDM di bidang laboratorium. Dengan adanya antisipasi tersebut diharapkan bahwa hanya komoditas (media pembawa) yang memenuhi persyaratan dan tidak beresiko saja yang dapat masuk wilayah NKRI demi tetap mempertahankan keanekaragaman hayati dan plasma nutfah yang kita miliki.
3.2.2. Tindakan Karantina Tumbuhan terhadap Media Pembawa OPTK Ekspor
Saat ini, sektor pertanian Bali kembali menjadi sorotan. Tidak sedikit kalangan dan praktisi yang beranggapan bahwa pertanian bisa menjadi pilar pendukung bagi perekonomian Bali. Kendati demikian, pertanian Bali juga dihadapkan dengan banyak kendala. Salah satunya adalah mengenai penyesuaian dan penggunaan lahan. Bahkan beberapa tahun terakhir ini, alih fungsi lahan dari lahan pertanian ke lahan bukan pertanian mengalami peningkatan. Secara umum, penggunaan lahan dibedakan atas penggunaan lahan pertanian dan bukan pertanian. Potensi penggunaan lahan dipengaruhi oleh jenis tanah, sumber daya mineral, vegetasi, topografi, iklim, dan lokasi. Pada tahun 2019, lahan pertanian di Bali mencapai 431.787 hektar yang terdiri dari lahan sawah seluas 76.067 hektar dan lahan bukan sawah seluas 355.720 hektar. Sedangkan lahan bukan pertanian mencapai 131.880 hektar (BPS, 2019).
Penggunaan lahan bukan sawah di Bali selama tahun 2019 paling banyak diperuntukkan bagi tegal/kebun sebesar 125.827 hektar atau 35,37 persen dari 355.720 hektar lahan bukan sawah. Penggunaan lahan bukan sawah paling banyak terdapat di Kabupaten Buleleng, di mana pada tahun 2018 sebesar 116.617 hektar, disusul kabupaten karangasem dengan 67.565 hektar (BPS, 2019) penggunaan lahan bukan sawah ini digunakan untuk menanam tanaman hortikultura yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai komoditi ekspor.
Salah satu komoditas unggulan yang mengalami peningkatan produksi adalah buah jeruk. Produksi buah jeruk ini mengalami peningkatan cukup besar dibandingkan tahun 2018 adalah buah jeruk. Produksi buah jeruk selama tahun 2018 mencapai 225.584 ton atau mengalami peningkatan 33,56 persen dari tahun sebelumnya (BPS, 2019). Komoditas unggalan selain buah jeruk yaitu buah manggis , buah durian, buah mangga, buah salak dan buah papaya. Salah satu kendala dalam pengembangan buah-buahan ini adalah rendahnya nilai ekonomi buah-buahan tersebut pada saat panen raya. Pengembangan produk-produk pertanian melalui pendekatan kesisteman dari saat tanam sampai dengan saat pengiriman ekspor diperlukan untuk memperluas market akses produk pertanian sehingga pada saat panen raya ada penyerapanpasar ekspor.
Selain potensi hasil tanaman hortikultura propinsi Bali memiliki potensi di bidang hasil perkebunan , Perkebunan mempunyai kedudukan strategis dalam pengembangan sektor pertanian di Bali. Apalagi perkebunan di Bali merupakan perkebunan rakyat. Peningkatan kualitas dan produksi hasilhasil perkebunan adalah salah satu tujuan pembangunan sub sektor perkebunan. Komoditas hasil perkebunan yang potensial dikembangkan dan memiliki peluang ekspor yang tinggi di Bali adalah kelapa, kopi, cengkeh, vanili, dan jambu mete.
Tanaman perkebunan lain yang cukup potensial di Bali adalah kopi. Ada dua jenis kopi yang dihasilkan di Bali, yakni kopi arabika dan robusta. Untuk kopi arabika, luas areal tanam secara keseluruhan selama tahun 2018 mencapai 12.410 ha atau naik 1,47 persen dari tahun sebelumnya sebesar 12.230 ha. Peningkatan luas areal tanam diikuti oleh peningkatan produksi, yaitu sebesar 21,42 persen, dari 3.473 ton di tahun 2017 menjadi 4.217 ton di tahun 2018. Sedangkan untuk kopi robusta, dilihat dari luas areal tanamnya mengalami penurunan, yaitu dari 22.970 ha ditahun 2017 menjadi 22.800 ha di tahun 2018. Namun, jumlah produksinya mengalami kenaikan sebesar 13,29 persen dari 10.097 menjadi 11.439 ton. Sementara itu, untuk tanaman cengkeh, vanili, jambu mete, kapok, kakao, dan tembakau, baik untuk luas areal dan jumlah produksi bervariasi selama periode tahun 2017-2018 (BPS, 2019).
Potensi ekspor produk pertanian dan turunannya di propinsi Bali menjadi salah satu perhatian Kementerian Pertanian khususnya Badan Karantina Pertanian dalam upaya peningkatan ekspor tiga kali lipat pada tahun 2024 dengan program Gratieks. Analisa eskpor produk pertanian dan turunannya diperlukan untuk mengevaluasi upaya dalam peningkatan ekspor yang telah dilakukan, mengidentifikasi permasalahan, mengambil arah kebijakan dan langkah-langkah strategis dalam meningkatkan ekspor produk pertanian dan turunannya pada tahun 2024.
Data frekuensi kegiatan operasional Karantina Tumbuhan Ekspor di lingkup Balai Karantina Pertanian Kelas I Denpasar jika dibandingkan tahun sebelumnya tahun 2019 memiliki ada penurunan Ekspor dikarenakan musim manggis di provinsi Bali mundur (Grafik 14).
Grafik 14. Perbandingan Frekuensi Kegiatan Ekspor Media Pembawa pada tahun 2018 s/d 2019 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2019 4926 4406 4766 5337 5087
Perbandingan volume per satuan kegiatan Ekspor media pembawa OPT/OPTK lingkup Balai Karantina Pertanian Denpasar tahun 2015 sampai dengan 2019 dapat dilihat pada Tabel 104.
Tabel 104. Perbandingan Volume per Satuan Kegiatan Ekspor Media Pembawa OPT/OPTK Tahun 2014 s/d 2019
TAHUN
SATUAN EKSPOR
TOTAL
BATANG BOTOL GRAM KEMASAN KILOGRAM LITER M3
2015 4.150 939 492.408 - 29.470 526.967 2016 98.817 1.062 329.818 - 28.780 458.477 2017 255.368 800 85 205.543 - 45.429 507.225 2018 318.309 339 2.300 9.047 4.248.168 - 16.773 4.594.936 2019 380.908 1.830 4.400 26.400.437 172,335 16.414,58 26.804.162 TOTAL 1.057.552 339 5.992 14.471 31.676.374 172 136.866,58 32.891.767
BKP Kelas I Denpasar dalam melakukan akselerasi ekspor dan meningkatkan akses pasar produk pertanian dan turunannya melakukan bebeberapa tidakan atau langkah program dan kegiatan antara lain: