BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3 Karbon Tersimpan pada Tegakan Pohon
Karbon tersimpan tegakan pohon di lokasi penelitian seluas 1,5 ha adalah 94,17 tonC/ha dengan total biomassa sebesar 204,73 ton/ha. Pada tabel 4 memperlihatkan bahwa karbon tersimpan tertinggi terdapat pada plot 1 yaitu sebesar 115,5 tonC/ha dengan biomassa sebesar 251,1 ton/ha. Sementara itu karbon tersimpan terendah terdapat pada plot 6 yaitu sebesar 36,33 tonC/ha dengan biomassa sebesar 78,98 ton/ha
Berdasarkan tabel 4 terlihat bahwa terdapat perbedaan jumlah karbon tersimpan pada plot 1 dan plot 6. Hal ini berkaitan dengan jumlah biomassa,
kerapatan relatif serta DBH rata-rata kedua plot tesebut. Dalam hal ini, plot 1 memiliki karbon tersimpan tegakan pohon dan kerapatan tertinggi dibandingkan plot-plot lain yaitu sebesar 115,5 tonC/ha dan 25,6%. Hal ini dikarenakan jumlah individu pohon pada plot 1 dalam jumlah banyak yang menyebabkan plot 1 memiliki karbon tersimpan tertinggi. Selain itu, plot 1 memiliki karbon tersimpan tertinggi dikarenakan plot tersebut didominansi oleh pinus (P. merkusii) yang memiliki DBH rata-rata seluruh pohon dalam plot 1 dengan nilai tertinggi yaitu 40,76 cm serta memiliki jumlah individu pohon yang banyak sehingga pinus (P.
merkusii) memiliki indeks nilai penting (INP) yang tinggi yaitu 43,1 %.
Pinus merupakan pohon dengan laju pertumbuhan 19,9-22,4 m3/ha/th dan kisaran umur 15-25 th (Indriyanto, 2008). Dengan laju pertumbuhannya yang besar maka pinus dapat menyimpan karbon lebih besar. Pinus merupakan tumbuhan reboisasi karena beberapa sifat unggul yang dimilikinya, diantaranya sebagai tanaman pelindung tanah secara ekologis dan sebagai penghasil kayu. Selain itu, pinus juga memiliki daya kompetitif yang besar terhadap tumbuhan lain di sekitarnya sehingga mampu bersaing (Marisa, 1990). Pinus memiliki saluran resin yang dapat menghasilkan suatu metabolit sekunder bersifat alelopati sehingga mempunyai potensi sebagai bahan bioherbisida untuk mengontrol pertumbuhan gulma (Taiz dan Zeiger, 1991). Maka dari itu pinus termasuk salah satu pohon yang sering ditanam oleh pihak pengelola selain pohon palem.
Plot 6 memiliki karbon tersimpan dan KR terendah yaitu sebesar 36,33 tonC/ha dan 12,8%. Pada plot 6 terdapat 4 spesies pohon dengan total keseluruhan 8 individu pohon. Spesies-spesies tersebut yaitu kelapa (C. nucifera), jambu monyet (A. occidentale), beringin (F. benjamina) dan akasia (A. mangium). Plot 6
memiliki karbon tersimpan terendah dikarenakan plot tersebut memiliki jumlah individu pohon paling sedikit dibandingkan plot lain yaitu hanya 8 individu sehingga biomassa yang dihasilkan rendah. Meskipun beberapa pohon pada plot tersebut termasuk pohon yang memiliki kemampuan tinggi dalam menyerap karbon (Tabel 5) tetapi jumlah individunya yang sedikit menyebabkan karbon tersimpan di dalam plot ini rendah.
Setiap lokasi penelitian dapat memiliki karbon tersimpan yang berbeda-beda, tergantung pada kerapatan tumbuhan di lokasi penelitian. Selain itu, jenis spesies juga dapat mempengaruhi karbon tersimpan di lokasi penelitian tersebut.
Di Taman Wisata Pulau Situ Gintung plot 1 memiliki kerapatan tertinggi sehingga memiliki biomassa yang besar. Suatu sistem penggunaan lahan yang terdiri dari pohon dengan spesies yang mempunyai nilai kerapatan kayu tinggi, biomasanya akan lebih tinggi bila dibandingkan dengan lahan yang mempunyai spesies dengan nilai kerapatan kayu rendah (Rahayu dkk, 2007).
Tabel 6. Kemampuan Daya Serap Karbon oleh Beberapa Jenis Pohon (Sumber:
Dahlan, 2007)
No Nama Lokal Nama Ilmiah Daya Serap CO2
(Kg/pohon/tahun)
1 Beringin Ficus benjamina 535,90
2 Saga Adenanthera pavoniana 221,18
3 Nangka Arthocarpus integra 126,51
4 Akasia Acacia auriculiformis 48,68
5 Sawo Manilkara kauki 36,19
6 Angsana Pterocarpus indica 11,12
7 Asam Tamarindus indica 1,49
Di Taman Wisata Pulau Situ Gintung terdapat berbagai pohon yang termasuk memiliki daya serap karbondioksida yang tinggi. Hal ini sesuai dengan
penelitian Dahlan (2007) (Tabel 5) yang memberikan hasil bahwa terdapat berbagai jenis tanaman yang mempunyai kemampuan tinggi sebagai tanaman penyerap karbon dioksida (CO2). Pohon-pohon tersebut diantaranya adalah beringin, saga, nangka, akasia, sawo, dan angsana memiliki kemampuan menyerap karbon yang besar.
Karbon tersimpan tegakan pohon pada Taman Wisata Pulau Situ Gintung yaitu sebesar 94,17 tonC/ha. Jumlah tersebut merupakan jumlah yang besar dibandingkan pada lokasi lain yaitu Perkebunan karet Bojong Datar PTP Nusantara sebesar 39,13 tonC/ha (Cesylia, 2009). Akan tetapi jumlah tersebut jauh lebih rendah jika dibandingkan karbon tersimpan yang terdapat di Taman Kota 1 BSD yaitu sebesar 287,8 tonC/ha (Nugraha, 2010). Dari hasil penelitian ini terlihat bahwa Taman Wisata Pulau Situ Gintung dapat berperan dalam mengurangi kadar karbon dari lingkungan sekitarnya. Perbedaan besar nilai karbon tersimpan di Taman Wisata Pulau Situ Gintung dengan beberapa lokasi lain salah satunya yaitu di Taman Kota 1 Bumi Serpong Damai karena perbedaan jenis dan jumlah tegakan pohon. Semakin banyak jumlah pohon maka semakin besar jumlah biomassa yang tersimpan.
Adanya pembukaan lahan untuk pembangunan menyebabkan lahan hijau berkurang sehingga berkurang pula tumbuhan yang dapat menyerap gas CO2.
Potensi karbon setiap lahan sangat dibutuhkan dalam menanggulangi efek pemanasan global yang terjadi saat ini akibat meningkatnya gas CO2 di atmosfer.
Dengan adanya pembuatan ruang terbuka hijau seperti Taman Wisata Pulau Situ Gintung maka dapat membantu mengurangi efek dari pemanasan global tersebut.
Jenis pohon yang terdapat di Pulau Wisata Situ Gintung sengaja ditanam oleh pihak pengelola. Penambahan dan pemilihan jenis pohon yang tepat dapat meningkatkan daya serap karbon suatu area. Semakin tinggi daya serap karbon maka semakin baik pula upaya dalam mengurangi polusi udara.
Pada lokasi penelitian, suhu udara berkisar antara 27-28 oC sedangkan suhu tanah yaitu 25-26oC kemudian kelembabannya yaitu 65 % dengan derajat keasaman (pH) tanah yaitu 6,8 serta intensitas cahaya sebesar 22,8 cd. Semua nilai faktor abiotik tersebut masih dalam kisaran normal yang dapat menunjang pertumbuhan suatu vegetasi. Suhu yang baik bagi tumbuhan adalah antara 22 oC sampai dengan 37 oC. Derajat keasaman (pH) tanah menentukan kemampuan tumbuhan dalam menyerap bahan-bahan organik dalam tanah. Pada pH netral, bahan organik mudah diserap oleh tumbuhan (Hardjowigeno, 2007) Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan vegetasi tumbuhan antara lain yaitu iklim, kondisi tanah, kelembaban dan sinar matahari. Jika faktor abiotik dalam kisaran normal maka pertumbuhan tumbuhan pun akan berjalan baik.
Pertumbuhan yang baik juga akan mempengaruhi kemampuan penyerapan karbon (Daniel dkk, 1992).