BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4 Karikatur Oom Pasikom Pada Surat Kabar Kompas “Kinerja
Oktober 2010
Gambar Karikatur Oom Pasikom “Kinerja Penegak Hukum Terhadap Kasus Korupsi dan Kasus Korupsi” ditampilkan di sebuah surat kabar yaitu Kompas, merupakan surat kabar yang sasarannya umum untuk khalayak yang luas dan heterogen serta sangat menarik perhatian. Pada dasarnya karikatur tersebut menggunakan sistem tanda bahasa dan sistem tanda visual atau gambar.
Pada karikatur Oom Pasikom “Kinerja Penegak Hukum Terhadap Kasus Teroris dan Kasus Korupsi”, karikaturis menampilkan gambar beberapa ekor belut yang bertuliskan koruptor pada badannya yang berusaha membebaskan diri. Hal ini menggambarkan para koruptor sangat susah di tangkap dan tidak ada penyelesaian yang konkrit dari penegak hukum dan selalu lolos dari jeratan hukum. Contoh kasus, Kasus mantan Bupati Kutai Kartanegara Syaukani Hassan Rais yang mendapat remisi karena mengidap sakit parah walaupun ia terbukti melakukan korupsi Rp 7,18 miliar. Lalu laki-laki yang ke dua dengan membawa senjata api dan topi baja atau helm perang menodongkan senjatanya ke segerombolan belut
yang berusaha melarikan diri. Laki-laki yang memakai topi baja dan
membawa senjata menyerupai polisi Densus 88 dikatakan bahwa pemerintah sangat sulit menagkap dan menyelesaikan kasus-kasus korupsi yang terjadi. Para terdakwa kasus koruptor juga dapat bebas dengan mudah. Lebih baik di hukum dengan tembak di tempat agar masalah korupsi yang terjadi agar dapat terselesaikan atau terungkap seperti kasus teroris yang
terjadi di daerah Sumatera Utara. Bahwa polisi akan menembak mati kepda teroris yang melakukan perlawanan jika akan di tangkap. Gambar tersebut dapat di ungkapkan bahwa kinerja penegak hukum masih belum seimbang dalam menangani dan menyelesaikan antara kasus teroris dan kasus korupsi
di Indonesia.
Dengan adanya karikatur Oom Pasikom “Kinerja Penegak Hukum Terhadap Kasus Korupsi dan Kasus Teroris” ini, akan menjadi sebuah daya tarik bagi khalayak yang membaca Surat Kabar Kompas. Hal ini merupakan salah satu bentuk kritik terhadap pemerintah yang diwakili oleh karikaturis. Dapat dikatakan bahwa dengan memberi stimulus pada khalayak akan sebuah karikatur yang menjadi daya tarik dapat diingat selamanya oleh khalayak yang membaca Surat kabar Kompas, bahwa dengan memberi umpan kepada khalayak yang membaca Surat Kabar Kompas maka tergantung bagaimana respons yang diterima khalayak yang membaca Surat Kabar Kompas dan dapat memberi efek sebesar apa terhadap sebuah iklan yang disajikan karikaturis tersebut.
4.5 Karikatur Oom Pasikom Pada Surat Kabar Kompas “Kinerja Penegak Terhadap Kasus Teroris dan Kasus Korupsi” Edisi Sabtu, 2 Oktober 2010 Dalam Kategori Tanda Pierce
Menurut Pierce sebuah tanda itu mengacu pada sebuah acuan, dan representasi adalah fungsi utamanya. Hal ini sesuai dengan definisi dari
tanda itu sendiri yaitu sebagai sesuatu yang memiliki bentuk fisik dan harus merujuk pada sesuatu yang lain dari tanda tersebut. Pierce ingin mengidentifikasikan partikel dasar dari tanda dan mengembangkannya kembali semua komponen dalam struktur tunggal. Dalam pendekatan semiotik model Charles S. Pierce, diperlukan adanya 3 unsur utama yang bisa digunakan sebagai model analisis, yaitu objek, tanda, dan interpretant. Menurut pierce salah satu bentuk tanda adalah kata, sedangkan objek adalah sesuatu yang dirujuk tanda. Sementara interpretant adalah tanda yang ada dalam benak seseorang, maka muncullah makna tentang sesuatu yang diwakili oleh tanda tersebut.
Ikon, dalam tampilan karikatur Oom Pasikom adalah ditunjukkan dengan gambar :
1. Segerombolan hewan belut bertuliskan koruptor yang berusaha
melarikan diri dari laki-laki yang memakai topi karena berusaha menangkapnya. Gambar belut ini digambarkan para koruptor yang sangat mudah meloloskan diri dari penegak hukum.
Indeks, dalam tampilan karikatur Oom Pasikom ditunjukkan dengan tulisan, “NANGKAP BELUT LEBIH SULIT DARI PADA NENGKAP TRORIS, YA PAK? TEMBAK DI TEMPAT SAJA !!” yang terdapat di atas laki - laki yang memakai topi baja dan membawa senjata api dan “KORUPTOR” yang terdapat pada badan belut.
Simbol, dalam tampilan karikatur Oom Pasikom adalah :
1. Laki - laki yang memakai topi baja dan membawa senjata api
menyerupai. Laki – laki itu juga menodongkan senjata apinya ke segerombolan belut. Laki – laki itu seolah-olah menyerupai anggota Densus 88 dengan persenjataan yang lengkap dalm melakukan tugasnya dan sangat tegas dalam melakukan tugasnya.
Penempatan sebuah tanda menjadi ikon, indeks dan simbol, tergantung dari kebutuhan dan sudut pandang khalayak (point of interest) yang memaknainya.
Karikatur Oom Pasikom yang terdapat pada Surat Kabar Kompas edisi Sabtu, 2 Oktober 2010 jika digambarkan dalam model Semiotik Peirce adalah sebagai berikut :
IKON
Beberapa ekor belut yang berkeliaran yang bertuliskan KORUPTOR pada badannya. INDEKS SIMBOL SIMBOL
1. Nangkap belut lebih sulit
dari nangkap teroris, ya pak?
2. Tembak saja di tempat!!
Laki-laki memakai topi baja dan membawa
senjata api
Gambar 4.5.1
Gambar karikatur Oom Pasikom dalam kategori tanda Peirce
Gambar di atas merupakan gambar interpretasi yang dilakukan terhadap karikatur Oom pasikom pada khalayaknya atau konsumen. Karikatur Oom Pasikom merupakan suatu bentuk sistem yang merujuk pada sesuatu diluar tanda itu sendiri yang ada didalam karikatur tersebut. Karikatur Oom Pasikom digunakan oleh peneliti untuk menginterpretasikan sistem tanda dalam penelitian ini.
Gambar karikatur “Kinerja Penegak Hukum Terhadap Kasus Teroris dan Kasus Korupsi” dalam harian Kompas edisi, 2 Oktober 2010 ini akan menjadi korpus penelitian terlebih dahulu akan di bagi menjadi unsur-unsur (komponen) berdasarkan unit analisis dalam penelitian ini, yaitu :
1. Tanda (sign), dalam
gambar karikatur ini adalah setiap bentuk pemaknaan yang dapat ditimbulkan oleh gambar karikatur tersebut baik itu makna yang bersifat konotatif maupun yang bersifat denotatif.
2. Obyek (object),
dalam penelitian ini adalah keseluruhan badan gambar karikatur, mulai dari jenis gambar karikatur, bentuk gambar dan bentuk dari penyajian gambar karikatur tersebut.
3. Interpretan
(interpretant), sebagai interpretan peneliti akan menganalisa gambar karikatur yang akan dijadikan korpus, yaitu gambar karikatur “Kinerja Penegak Hukum Terhadap Kasus Teroris dan Kasus Korupsi” secara keseluruhan dengan menggunakan hubungan antar tanda dengan acuan tanda dalam model kategori tanda yang dimiliki Pierce, yaitu : ikon, indeks dan simbol sehingga akan diperoleh makna dalam gambar karikatur tersebut.
Apabila digambarkan hubungan antara tanda, obyek, dan
interpretan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Obyek
Gambar karikatur Kinerja Penegak Hukum Terhadap Kasus Teroris Dan Kasus Korupsi dalam harian Kompas edisi, 2 Oktober 2010 .
Interpretasi Tanda
Hasil interpretasi peneliti dalam melihat hubungan antara tanda dan petanda,
Setiap bentuk penggambaran yang dapat di timbulkan oleh karikatur.
Gambar 4.5.2
Hubungan Antara Objek, Tanda dan Interpretant Dalam Semiotik Pierce
Gambar karikatur “ Kinerja Penegak Hukum Terhadap Kasus
Teroris dan Kasus Korupsi” pada harian Kompas edisi, 2 Oktober 2010 merupakan obyek dalam penelitian ini dan keseluruhan dari tampilan karikatur yang berupa gambar, teks, dan warna yang menjadi latar belakang maupun visual dari gambar karikatur tersebut merupakan tanda-tanda yang terkandung dalam suatu gambar. Gambar karikatur “ Kinerja Penegak
Hukum Terhadap Kasus Teroris dan Kasus Korupsi” karikatur ini akan direpresentasikan dengan menggunakan model semiotik Pierce sebuah acuan dan representasi adalah fungsi utamanya.
4.6 Analisis Data Pemaknaan Karikatur “Oom Pasikom” Edisi, 2