BAB III : PELELANGAN SECARA PROSEDURAL
D. Kasus Posisi Atas Putusan Pengadilan Negeri
Di dalam Putusan Pengadilan Negeri Tangerang memeriksa dan mengadili perkara – perkara perdata pada tingkat pertama, mengambil putusan di bawah ini dalam perkaranya antara :
1. KASUS POSISI :
a. Sahat Maropul Gultom, SH, Hamonangan Pasaribu SH, Prayuda, SH, Advokat dan penasihat hukum pada Kantor Hukum Sahat Maropul
Gultom & associates, yang beralamat di Wisma Tiara Buncit Jl. Kemang Utara IX nomor 2 Blok D-12, Jakarta Selatan 12760, selaku kuasa khusus tertanggal 24 September 2009 (surat kuasa terlampir) dari dan oleh karenanya bertindak untuk dan atas nama serta mewakili PT. JAKARTA CEMERLANG yang berkedudukan di JL. Jembatan Tiga Raya NO. 36 FU (Ruko Tama Indah), Jakarta Utara, selanjutnya disebut sebagai - - - PENGGUGAT;
Melawan :
b. PT. Bank Negara Indonesia Setra Kredit Kecil – Tangerang berkedudukan di Karawaci Office Park (Ruko Pinangsia) Blok L No. Lt. 3,4 Lippo Karawaci Tangerang, selanjutnya disebut sebagai : --- TERGUGAT ;
c. KANTOR PELAYANAN KEKAYAAN NEGARA (KPKLN)
JAKARTA I beralamat di Jalan Prapatan No. 10 Jakarta Pusat, selanjutnya disebut sebagai : - - - TURUT TERGUGAT I:
d. PT. Balai Lelang Internusa, Komplek Permata Boulevard Business Square Blok BD Jl. Pos Pengumben Raya No. 1 Jakarta, selanjutnya disebut sebagai : - - - - -TURUT TERGUGAT II ;
2. PENGADILAN NEGERI ;
Telah membaca penetapan Ketua Pengadilan Negeri Tangerang No. 348/PDT.G/2009/PN.TNG tertanggal 9 Oktober 2009 tentang penunjukan Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara tersebut;
Telah membaca penetapan Ketua Majelis Hakim No. 348/PDT.G?2009/PN.TNG tertanggal 13 Oktober 2009 tentang penetapan hari sidang.
3. TENTANG HUBUNGAN ANTARA PENGGUGAT DENGAN
TERGUGAT, TURUT TERGUGAT I DAN TURUT TERGUGAT II :
a. Bahwa berdasarkan Surat Perjanjian Kredit No. 2000/59/TRG tanggal 19 Mei 2000 jo No. 2000/98/TRG tanggal 19 Juli 2000 jo No. 2000/270/TRG tanggal 15 Desember 2000, serta No. 2001/219/TRG tanggal 23 Agustus 2001, dibuat dihadapan Notaris & PPAT M. Handoko Halim, SH, Tergugat telah memberikan kredit kepada Penggugat dan Penggugat telah menerima kredit dari Tergugat dengan Plafon sebesar Rp. 4.500.000.000,- (empat milyard limaratus juta rupia) dengan tujuan sebagai kredit modal kerja;
b. Bahwa sebagai jaminan kredit adalah berupa tanah dan bangunan atas; 1) SHGB No. 5229 tanggal 31-01-2002 an. Jenny Wijaya
2) SHM No. 5014 tanggal 24-11-1998 an. Abdul Honi bin Saarih 3) SHM ASRS Apartemen No. 9/B1/B2.09 tanggal 17-12-1997 an.
Kang Gek Hui.
5) SHM No. 1046 tanggal 18-12-1997 an. Muhammad Solihin Harasyi.
6) SHM No. 319 tanggal 18-07-1991 an. Liong Wie Toen.
Demikian berdasarkan Sertifikat Hak Tanggungan masing – masing No. 773/2000 tanggal 3 Juli 2000,No. 72/2001 tanggal 9 Pebruari 2001, No. 73/2001 tanggal 9 Pebruari 2001, No. 160/2001 tanggal 9 Pebruari 2001, No. 161/2001 tanggal 9 Pebruari 2001, No. 363/2002 tanggal 25 Pebruari 2002;
Di samping tanah dan bangunan juga diberikan sebagai jaminan kredit oleh Penggugat yaitu berupa BPKB Mobil Daihatsu Taft No. 1755347 G tanggal 01-07-1994 an. Kang Gek Hui.
c. Bahwa sejak Penggugat menerima dan atau memperoleh fasilitas kredit dari Tergugat sampai dengan sekarang Penggugat belum pernah mendapatkan copy data – data akta perjanjian kredit dan / atau akta pengakuan hutang, Hak Tanggungan, serta dokumen – dokumen terkait lainnya yang merupakan hak mutlak dari Penggugat untuk dapat menerima dan memilikinya, walaupun pada kenyataannya Penggugat sudah beberapa kali memohon kepada Tergugat untuk dapat memperoleh dokumen – dokumen perjanjian kredit tersebut, akan tetapi tidak pernah ditanggapi;
d. Bahwa sebagai akibat dari keadaan perekonomian yang tidak kunjung baik beberapa baik beberapa tahun terakhir ini dan mengingat juga kredit yang diberikan kepada Penggugat ini jenis kredit modal kerja (yang berarti dipergunakan untuk modal kerja/usaha) yang juga
berdampak pada kondisi perusahaan Penggugat yang saat ini dalam kondisi yang sangat terpuruk, dan dengan menunjuk surat permohonan Penggugat tertanggal 21 Juli 2009 kepada Tergugat, Penggugat telah mengajukan permohonan untuk dapat diberi kesempatan dalam menyelesaikan segala permasalahan yang terjadi sehubungan dengan fasilitas kreditnya yaitu dengan cara penjualan aset – asetnya tanpa melalui pelaksanaan lelang yang memperbesar beban biaya – biaya yang timbul, akan tetapi sampai sekarang hal tersebut tidak pernah mendapatkan tanggapan dari Pihak Tergugat;
e. Bahwa Penggugat juga sudah beberapa kali mencoba memohon kepada Tergugat untuk dapat meringankan beban yang harus ditanggung Penggugat dan untuk memberikan kesempatan dan atau prioritas utama bagi Penggugat mencari jalan untuk dapat melunasi pembayaran cicilan kepada Tergugat, walaupun Penggugat telah beberapa kali mengirimkan surat kepada Tergugat memohon keringanan pembayaran, akan tetapi Tergugat justru dengan tiba – tiba melalui suratnya kepada Penggugat tertanggal 11 September 2009 memberitahukan bahwa atas jaminan – jaminan kredit dari Penggugat tersebut segera akan dilakukan pelelangan yang pelaksanaanya akan dilaksanakan di tempat PT. Balai Lelang Internusa In casu turut Tergugat II pada tanggal 15 Oktober 2009 sebagaimana yang sudah ditetapkan oleh Kantor Pelayanan Negara (KPKLN) JAKARTA I in casu Turut Tergugat I;
f.Bahwa jumlah hutang yang diperhitungkan dan ditagih oleh Tergugat kepada Penggugat adalah sebesar Rp. 5.258.364.023,- (lima milyard dua ratus limapuluh delapan juta tigaratus enam puluh empat ribu dua puluh tiga rupiah), sedangkan menurut perhitungan, jumlah tersebut hanya mencapai jumlah sebesar Rp. 4,500.000.000,- (empat milyard limaratus juta rupiah). Dari adanya perbedaan perhitungan jumlah hutang ini menunjukkan bahwa jumlah hutang Penggugat kepada Tergugat belum pasti/belum tentu jumlahnya. Padahal untuk pelaksanaan eksekusi atas barang agunan yang dipasang Hak Tanggungan adalah harus pasti besarnya jumlah hutang tersebut;
g. Bahwa terlebih lagi beberapa minggu yang lalu Penggugat dikejutkan kepada beberapa orang yang tidak jelas, yang sengaja telah mengambil gambar terhadap aset – aset Penggugat dengan tanpa ijin untuk maksud dan tujuan yang tidak jelas pula;
h. Bahwa perbuatan pelaksanaan lelang terhadap aset – aset yang menjadi jaminan PT. BNI in casu Tergugat oleh Turut Tergugat I melalui Turut Tergugat I melalui Turut Tergugat II adalah tidak berdasarkan hukum dikarenakan dengan cara – cara yang bertentangan dengan hukum dan atau tanpa melalui prosedur tata cara yang benar, dan lebih anehnya lagi Penggugat tidak pernah dipanggil dan atau diberitahu oleh Turut Tergugat I dan Turut Tergugat II melainkan langsung secara tiba – tiba Pihak Tergugat melalui suratnya tertanggal 11 September 2009 memberitahukan adanya lelang eksekusi hak tanggungan yang sudah
ditentukan tanggal dan tempatnya, dan karenanya selain bertentangan dengan hukum juga telah melanggar hak – hak Penggugat selaku Debitur untuk dapat diberi kesempatan/prioritas utama lebih dahulu untuk menjual aset – asetnya sendiri sebelum proses lelang dilakukan; i.Bahwa tindakan Tergugat ini telah dapat dikategorikan sebagai perbuatan
melawan hukum yang mengakibatkan kerugian bagi Penggugat, dimana perbuatan Tergugat telah melanggar hak – hak Penggugat selaku Debitur, yaitu dengan tidak pernah mau memberikan copy data – data akta perjanjian kredit dan/atau akta pengakuan hutang, hak tanggungan, serta dokumen – dokumen terkait lainnya tanpa alasan dan dasar yang sah, serta melakukan proses pelelangan dengan cara sepihak tanpa memanggil dan memberi kesempatan kepada Penggugat lebih dahulu untuk dapat menjual aset – asetnya sendiri sebelum dilakukan proses lelang;
4. TENTANG KERUGIAN PENGGUGAT;
Bahwa perbuatan – perbuatan yang dilakukan oleh Tergugat tersebut diatas telah merugikan Penggugat baik moril maupun materil yang diperincikan sebagai berikut :
a. Kerugian Materil:
Bahwa Tergugat adalah pihak yang telah jelas dan nyata melanggar hukum dan hak Penggugat sehingga mengakibatkan kerugian terhadap diri Penggugat akan potensi kehilangan tanah dan bangunan yang apabila dihargai dengan harga
tanah dan bangunan dalam perkara ini adalah sebesar Rp. 6.000.000.000,- (enam milyard rupiah):
b. Kerugian Immateril:
Bahwa perbuatan Tergugat telah jelas dan terang tidak menghormati dan dengan sengaja mengabaikan hak – hak Penggugat, kerugian – kerugian tersebut sulit dinilai secara materil, akan tetapi tidak kurang dari Rp. 1.000.000.000,- (satu milyard rupiah);
5. TENTANG PERMOHONAN SITA JAMINAN
Bahwa untuk menjamin gugatan ini agar tidak menjadi illusoir (sia – sia) di kemudian hari apabila gugatan ini nantinya dikabulkan oleh Pengadilan Negeri Tangerang/Majelis Hakim yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara ini, serta guna mencegah tindakan – tindakan Tergugat untuk menghindar dari kewajiban – kewajiban hukum yang diletakkan oleh putusan dalam perkara ini, maka Penggugat mohon agar Pengadilan Negeri Tangerang/ Majelis Hakim yang memeriksa. Mengadili dan memutus perkara ini berkenan meletakkan sita jaminan terhadap tanah dan bangunan atas :
a. SHGB No. 5229 tanggal 31-01-2002 an. Jenny Wijaya;
b. SHM No. 5014 tanggal 24-11-1998 an. Abdul Honi bin Saarih; c. SHM ASRS Apartemen No. 9/B1/B2.09 tanggal 17-12-1997 an.
Kang Gek Hui;
d. SHM No. 2404 tanggal 12-06-1995 an. Liong Wie Toen;
e. SHM No. 1046 tanggal 18-12-1997 an. Muhammad Solihin Harasyi;
f. SHM No. 319 tanggal 18-07-1991 an. Liong Wie Toen;
Berdasarkan seluruh uraian tersebut diatas oleh karenanya berdasarkan secara hukum apabila gugatan Penggugat terhadap Tergugat ini dinyatakan dapat diterima untuk diperiksa dan diadili oleh Pengadilan Negeri Tangerang cq. Majelis Hakim Yang Terhormat dalam perkara ini dan memanggil kedua belah pihak yang berperkara atau kuasanya yang sah untuk menghadap di muka persidangan yang telah ditetapkan guna memeriksa perkara dan memutuskannya.
6. DALAM EKSEPSI
a. EKSEPSI GUGATAN KABUR ( OBSCUUR LIBEL )
Bahwa dalil – dalil dalam gugatan Penggugat jelas terlihat adanya saling pertentangan, demikian pula antara posita dan petitum perlawanan, sehingga gugatan Penggugat menjadi kabur.
Bahwa hal tersebut dapat ditemukan diantaranya pada surat gugatan Penggugat mengakui adanya hubungan perjanjian melaui perjanjian kredit.
Bahwa selanjutnya kemudian Penggugat tidak dapat menunjukkan ketentuan mana yang telah dilanggar oleh Tergugat sebagai alasan Penggugat untuk menyatakan Tergugat sebagai alasan Penggugat untuk menyatakan Tergugat,dan Turut Tergugat I & II telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum jo Pasal 1365 KUHPerdata.
Bahwa lelang Eksekusi Hak Tanggungan dan Turut Tergugat yang dilaksanakan adalah hak sebagai pemegang hak tanggungan peringkat pertama sebagaimana diatur dalam Pasal 6 UU No. 4 tahun 1996 tentang Hak
Tanggungan. Bahwa kesempatan – kesempatan dan itikad baik yang diberikan oleh tergugat tidak pernah dipenuhi oleh Penggugat.
Bahwa ketidakjelasan ini semakin menjadi–jadi, bahwa tidak dipenuhinya teguran dari Penggugat, sehingga wajar bagi Tegugat menyatakan Penggugat wanprestasi/cidera janji. Sehingga sesuai ketentuan hukum Tergugat dengan berat hati melaksanakan eksekusi sebagai haknya di berikan Undang – Undang.
Bahwa dengan demikian atas fakta – fakta dan ketentuan tersebut, gugatan Penggugat jelas mengada – ada, dan tidak berdasarkan hukum maupun ketentuan yang berlaku. Secara nyata Penggugat berusaha menghalang – halangi proses hukum yang ada atas apa yang telah diperjanjikan sebelumnya. Hal demikian justru menunjukkan pelanggaran terhadap hak – hak Tergugat dan Penggugat.
Bahwa oleh karena itu, dan juga jelas ternyata dalam gugatan Penggugat, Tergugat berpendapat bahwa gugatan Penggugat harus dinyatakan kurang sempurna dan dapat dinyatakan tidak dapat diterima, sebab posita dan petitum tidak berhubungan/saling bertentangan. Penggugat mencampur–adukan antara hubungan hukum perjanjian dengan hubungan hukum karena perbuatan melawan hukum sebagai alasan/dasar gugatannya.
b. BahwaKEP MARI No. 67 K/SIP/1975
Karena petitum tidak sesuai dengan dalil – dalil gugatan putusan Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri harus dibatalkan.
Berdasarkan ketentuan diatas sudah cukup alasan bagi Majelis Hakim yang terhormat yang memeriksa perkara ini untuk menyatakan gugatan Penggugat kabur, oleh karenanya tidak dapat diterima.
Dan juga gugatan Penggugat terdapat cacat formal dan harus dianggap tidak sempurna karena pihak yang sangat berkaitan dengan penerbitan Hak Tanggungan yakni Kantor Pertanahan Jakarta Utara yang menerbitkan Sertifikat Hak Tanggungan tidak digugat.
c. Gugatan Penggugat harus ditolak
Mengingat dasar – dasar gugatan tersebut tidak didasari oleh kejadian yang sebenarnya serta tidak pula didukung oleh bukti – bukti maupun fakta, ataupun ketentuan hukum positif. Bahwa selanjutnya kredit tersebut macet, dan dengan berat hati Tergugat menjalankan haknya sebagaimana yang telah diberikan oleh Undang – Undang untuk memperoleh pembayaran dari pelelangan umum jaminan kredit a quo.
Bahwa jumlah yang ditagihkan oleh Tergugat adalah kewajiban Penggugat sebagaimana yang telah diperjanjikan. Bahwa Tergugat juga menolak dengan tegas dalil Penggugat pada surat gugatannya yang sangat tidak berdasarkan hukum sebagai berikut :
” Bahwa tindakan Tergugat ini dapat dikategorikan sebagai perbuatan melawan hukum ”
Bahwa dengan Penggugat mengajukan gugatannya terlihat jelas Itikad tidak baik dari Penggugat. Tindakan Penggugat mengajukan perlawanan adalah dengan sengaja mengabaikan ketentuan hukum (Undang – Undang Hak
Tanggungan), yang didalamnya mencantumkan Irah – Irah, jo. Sertifikat Hak Tanggungan yang berbunyi, ”DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA’’ yang membuatnya sama dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Dan secara nyata Penggugat yang melakukan perbuatan melawan hukum dengan menghalang – halangi Tergugat menjalankan haknya yang telah ditetapkan oleh Undang – Undang.
d. Maka diambil kesimpulan
Bahwa tergugat telah menolak dalil gugatan Penggugat dengan menyatakan bahwa Tergugat telah melakukan sesuai perjanjian dan justru Penggugat yang melakukan Perbutan Melawan Hukum dengan mengajukan alasan sebagai berikut :
1) Bahwa antara Penggugat dan Tergugat telah terjadi perjanjian kredit sebagaimana didudukkan namun tidak terbatas pada perjanjian kredit No. 2000/59/TRG tanggal 19 Mei 2000, No. 2000/98/TRG tanggal 19 Juli 2000, dan No. 2000/270/TRG tanggal 15 Desember 2000.
2) Bahwa untuk menjamin hutangnya tersebut, Penggugat telah menyerahkan jaminan kepada Tergugat.
3) Ternyata dalam perjalanannya, kredit yang diterima Penggugat tidak sebagaimana diharapkan, dan Penggugat tidak dapat memenuhi pembayaran kewajibannya sebagaimana apa yang telah diperjanjikan.
4) Bahwa selanjutnya kredit tersebut macet, dan dengan berat hati Tergugat menjalankan haknya sebagaimana yang telah diberikan oleh Undang – Undang untuk memperoleh pembayaran dari pelelangan umum jaminan kredit a quo.
5) Sebelum Tergugat melakukan lelang jaminan, terlebih dahulu telah melakukan upaya tegoran/somasi agar Pelawan memenuhi kewajibannya sebagaimana surat teguran.
6) Hak Tergugat untuk melakukan eksekusi Hak Tanggungan secara jelas diatur oleh Undang – Undang sebagaimana diatur Undang – Undang Hak Tanggungan sebagaimana penjelasan Pasal 6.
Bahwa Penggugat telah mendalilkan sejak terjadinya perjanjian kredit antara Penggugat dengan Tergugat, Penggugat tidak pernah diberikan dokumen Hak Tanggungan, fidusia padahal itu adalah hak mutlak dari Penggugat;
Bahwa terhadap hal tersebut, Majelis Hakim telah berpendapat bahwa benar hal tersebut tidak dimiliki oleh Tergugat. Maka hal itu bukanlah menjadi kewajiban Tergugat untuk memberikannya kepada Penggugat dan Penggugat dapat saja memintanya kepada Notaris yang membuat akta tersebut, dengan demikian dalil ini tidak berdasar hukum;
Bahwa Penggugat telah mendalilkan bahwa Penggugat juga sudah beberapa kali mencoba memohon kepada Tergugat untuk dapat meringankan beban yang harus ditanggung Pengugat dan untuk memberikan kesempatan dan atau prioritas utama bagi Penggugat mencari jalan untuk dapat melunasi pembayaran cicilan kepada Tergugat, walaupun Penggugat telah beberapa kali
mengirimkan surat kepada Tergugat memohon keringanan pembayaran, akan tetapi Tergugat justru dengan tiba – tiba melalui suratnya kepada Penggugat tertanggal 11 September 2009 memberitahukan bahwa atas jaminan – jaminan kredit dari Penggugat tersebut segera akan dilakukan pelelangan yang pelaksanaannya akan dilaksanakan ditempat PT. Balai Lelang Internusa in casu Turut Tergugat II pada tanggal 15 Oktober 2009 sebagaimana yang sudah ditetapkan oleh Kantor Pelayanan Kekayaan Negara (KPKNL) JAKARTA I in casu Turut Tergugat I;
Bahwa Penggugat tidak dapat membuktikan hal tersebut, baik melalui bukti surat maupun saksi, sebaliknya para Tergugat telah berhasil membuktikan melalui bukti surat telah memberikan somasi/teguran kepada Penggugat agar memenuhi kewajiban pembayaran sebelum dilaksanakan lelang;
Bahwa Penggugat juga mendalilkan bahwa Penggugat jumlah hutang yang diperhitungkan dan ditagih oleh Tegugat kepada Penggugat sebesar Rp. 5.258.364.023,- (lima milyard duaratus limapuluh delapan juta tigaratus enampuluh empat ribu duapuluh tiga rupiah), sedangkan menurut perhitungan, jumlah tersebut hanya mencapai jumlah sebesar Rp. 4.500.000.000,- (empat milyard limaratus juta rupiah).
Maka dari adanya perhitungan jumlah hutang ini menunjukkan bahwa jumlah hutang Penggugat kepada Tergugat belum pasti/ belum tentu jumlahnya. Padahal untuk melaksanakan eksekusi atas barang agunan yang dipasang Hak Tanggungan adalah harus pasti besarnya jumlah hutang tersebut;
Bahwa terhadap hal itu Majelis Hakim telah berpendapat bahwa jumlah utang Penggugat kepada Tergugat adalah telah pasti sebagaimana juga telah diberitahukan Para Tergugat kepada Penggugat sebagimana dibuktikan oleh bukti surat, dengan demikian dalil Penggugat tersebut tidak berdasar hukum;
Penggugat juga mendalilkan bahwa Para Tergugat telah melakukan lelang bertentangan dengan hukum, dimana Penggugat tidak pernah dipanggil dan atau diberitahu oleh Turut Tergugat I dan Turut Tergugat II melainkan langsung secara tiba – tiba pihak Tergugat melalui suratnya tertanggal 11 September 2009 memberitahukan adanya lelang eksekusi hak tanggungan yang sudah ditentukan tanggal dan tempatnya, dan karenanya selain bertentangan dengan hukum juga telah melanggar hak – hak Penggugat selaku Debitur untuk dapat diberikan kesempatan / prioritas utama lebih dahulu untuk melakukan menjual aset – asetnya sendiri sebelum proses lelang dilakukan. Terhadap hal ini Majelis Hakim berpendapat, oleh karena aset – aset sudah diagunkan tidaklah benar Penggugat untuk melakukan penjualan sendiri atas aset tersebut kecuali ada diperjanjikan dalam akte pengikatan, dan ternyata hal tersebut tidak dibuktikan oleh Penggugat. Disamping itu Tergugat juga sudah memberi peringatan kepada Penggugat akan outstanding kredit Penggugat per 31 Mei 2009, dengan peringatan apabila tidak diselesaikan oleh Penggugat maka akan dilakukan penjualan agunan secara lelang. Maka dengan demikian Majelis Hakim berpendapat bahwa lelang telah dilakukan sesuai dengan prosedur yang benar sesuai dengan aturan yang berhubungan dengan itu yaitu Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 2006, PERMENKEU No. 40 PMK 07/2006 Tentang
Petunjuk Pelaksanaan Lelang dan Undang – Undang No. 4 Tahun 1996 Tentang Undang – Undang Hak Tanggungan, dengan demikian dalil gugatan Penggugat ini tidak berdasarkan hukum.
Bahwa oleh karena dalil – dalil untuk mengajukan gugatan ini tidak berdasar hukum, maka petitum gugatan pun menjadi tidak berdasar hukum dan oleh karenanya gugatan Penggugat haruslah ditolak.
Mengenai kerugian lainnya karena Para Penggugat tidak dapat membuktikan dan tidak disertai bukti maka gugatan yang demikian haruslah ditolak. Dan juga karena Penggugat berada di pihak yang kalah maka Penggugat haruslah dibebani untuk membayar ongkos perkara.
Dan menyatakan eksepsi Para Tergugat tidak dapat diterima. Dalam Pokok Perkara menolak gugatan Penggugat untuk seluruhnya.
Setiap orang berhak mengajukan gugatan, apabila ada hak – haknya yang dilanggar oleh orang lain, termasuk dalam kasus ini Penggugat menggugat tanah Tergugat dengan menganggap karena Penggugat melakukan perbuatan melawan hukum. Akan tetapi, seharusnya Penggugat bukan menggugat Penggugat dengan perbuatan melawan hukum melainkan dengan menganggap Tergugat menganggap Tergugat melakukan cidera janji (wanprestasi). Karena dalam perjanjian konsensuil, kesepakatan yang dicapai oleh para pihak secara lisan, melalui ucapan saja telah mengikat para pihak. Ini berarti bahwa segera setelah para pihak menyatakan persetujuan atau kesepakatannya tentang hal – hal yang mereka bicarakan, dan akan dilaksanakan maka kewajiban telah lahir pada pihak
terhadap siapa yang telah berjanji untuk memberikan sesuatu, melakukan atau berbuat sesuatu atau untuk tidak melakukan atau berbuat sesuatu.48
Berkaitan dengan hal itu sepanjang mengenai apakah gugatan Penggugat terbukti kebenarannya atau tidak. Itulah yang akan dipertimbangkan berdasarkan bukti – bukti, surat – surat, dan saksi – saksi yang diajukan Penggugat, maka Majelis Hakim dapat menyatakan menolak gugatan Penggugat dengan menyatakan gugatan Penggugat tidak berkekuatan hukum atau berdasarkan hukum.
Catatan :
Dari kasus ini dapat menarik ” Abstrak Hukum ” demikian :
Suatu Putusan Hakim yang pertimbangan hukumnya dibuat dan disusun secara singkat seperti ini :
1. Bahwa pihak Tergugat dan Penggugat tidak mengajukan beberapa saksi-saksi dalam perkara ini.
2. Bahwa eksepsi tergugat telah masuk dalam pokok perkara dan harus dipertimbangkan, maka Majelis Hakim menyatakan eksepsi Para Tergugat tidak dapat diterima.
3. Bahwa oleh karena dalil-dalil untuk mengajukan gugatan tidak berdasar hukum, maka petitum gugatan juga menjadi tidak berdasarkan hukum, maka Majelis Hakim menolak gugatan Penggugat seluruhnya.
Putusan Judex Facti yang didasarkan atas pertimbangan hukum sebagaimana diuraikan diatas ini, oleh Pengadilan Negeri Tangerang dinilai
48
sebagai suatu Putusan perdata yang dilakukan penggugat ialah perbuatan wanprestasi bukan perbuatan melawan hukum.
Demikian catatan Penulis