BAB III PERTANGGUNGJAWABAN PPAT TERHADAP AKTA
A. Kasus Posisi
Pada awalnya kasus ini bermula atas gugatan dari Rian Pratama selaku Notaris/PPAT dengan daerah kerja Kota Bandung sebagai terbanding I dahulu penggungat berhadapan atau lawan Eva Fatimah sebagai terbanding II dahulu tergugat I, dan Yo Swie Tjin sebagai pembanding dahulu tergugat II.
Kasus ini bermula ketika pada awal bulan Mei 2012 Eva Fatimah meminta staffnya Rian Pratama yang bernama Ibu Gilang untuk datang ke kantornya dan membuat akta jual beli atas nama Yo Swie Tjin, dan pada saat itu Ibu Gilang bertemu dengan Yo Swie Tjin di kantor developer milik Eva Fatimah. Dua hari kemudian staff Eva Fatimah yang bernama Sisi memberikan dua sertipikat asli yaitu Sertipikat Hak Milik Nomor 7281/Kelurahan Cisaranten Kulon seluas 108 M2 (seratus delapan meter persegi) dan Sertipikat Hak Milik Nomor 7282/Kelurahan Cisaranten Kulon, seluas 108 M2 (seratus delapan meter persegi) keduanya atas nama Eva Fatimah.
Kemudian Rian Pratama melakukan pengecekan ke Kantor Pertanahan Kota Bandung, dan setelah dilakukan pengecekan, sertipikat asli tersebut dalam keadaan clear tidak ada pembebanan Hak Tanggungan, sitaan atau blokir dari pihak lain dan
kemudian Rian Pratama membuatkan akta jual beli atas sertipikat hak milik tersebut.
Kemudian, pada tanggal 8 Mei 2012 Eva Fatimah menelepon Ibu Gilang dan mengatakan bahwa sertipikat yang dibawa oleh stafnya yang bernama Sisi adalah salah karena sebetulnya kavling yang dibeli Yo Swie Tjin terdiri dari Sertipikat Hak
Milik Nomor 7415/Kelurahan Cisaranten Kulon seluas 97 M² (sembilan puluh tujuh meter persegi) dan Sertipikat Hak Milik Nomor 7416/Kelurahan Cisaranten Kulon seluas 103 M² (seratus tiga meter persegi) terdaftar atas nama Eva Fatimah.
Kemudian Eva Fatimah menyuruh staffnya untuk menukar sertipikat tersebut dan memberikan fotocopy Sertipikat Hak Milik Nomor 7415/Kelurahan Cisaranten Kulon dan Sertipikat Hak Milik Nomor 7416/Kelurahan Cisaranten Kulon dengan mengatakan bahwa sertipikat asli akan segera diberikan kepada Rian Pratama, dengan alasan pada saat itu Eva Fatimah baru saja pindah kantor sehingga berkas-berkasnya belum tersusun dan banyak yang terselip dan saat itu bisa juga sertipikatnya sedang dalam proses perbaikan di Badan Pertanahan Nasional (BPN).
Pada tanggal 10 Mei 2012, Eva Fatimah datang bersama dengan Yo Swie Tjin untuk menandatangani akta jual beli di kantor Rian Pratama, dan pada saat pembacaan akta jual beli, Rian Pratama mengatakan kepada para pihak bahwa sertipikat yang asli belum berada di Rian Pratama dan hanya ada fotocopynya saja, dan dari proses penandatangan akta jual beli tersebut, Eva Fatimah belum menyerahkan sertipikat asli SHM Nomor 7415 dan SHM Nomor 7416 kepada Rian Pratama. Selain itu, Eva Fatimah belum membayar pajak penjual (PPh) dan Yo Swie Tjin juga belum membayar pajak pembeli (BPHTB) sehingga Rian Pratama belum bisa memberi nomor dan tanggal pada akta jual beli tersebut. Rian Pratama akan memberikan nomor dan tanggal atas 2 (dua) draft akta jual beli yang sudah ditandatangani setelah sertipikat asli diserahkan ke Rian Pratama, selain itu pajak-pajak juga harus sudah dibayar.
Pada tanggal 19 Juni 2012, Eva Fatimah menelpon Rian Pratama untuk memberikan dulu salinan akta jual beli atas nama Yo Swie Tjin dengan alasan suami Yo Swie Tjin sudah marah dan kebetulan pada saat itu juga suami Yo Swie Tjin datang ke kantor untuk meminta salinan akta jual beli dan memaksa. Kemudian Rian Pratama menyarankan kepada suami Yo Swie Tjin untuk mengambil salinan akta jual beli di kantor developer saja milik Eva Fatimah.
Dengan janji yang disampaikan oleh Eva Fatimah, maka Rian Pratama menyerahkan salinan akta jual beli kepada staff Eva Fatimah. Akta jual beli yang dimaksud yaitu:
3. Akta Jual Beli Nomor 250 / 2012 tanggal 19 Juni 2012 untuk pengalihan hak milik atas tanah dan bangunan berdasarkan SHM Nomor 7415 / Kelurahan Cisaranten Kulon tersebut;
4. Akta Jual Beli Nomor 251 / 2012 tanggal 19 Juni 2012 untuk pengalihan hak milik atas tanah dan bangunan SHM Nomor 7416 / Kelurahan Cisaranten Kulon tersebut;
Setelah Rian Pratama menyerahkan salinan akta jual beli tersebut, Rian Pratama berusaha menayakan dan meminta asli sertipikat tersebut. Namun, jawaban dari Eva Fatimah tidak memuaskan Rian Pratama dan berbelit. Kemudian, Rian Pratama pun menyelidiki keberadaan sertipikat tersebut ke Kantor Pertanahan Kota Bandung dan ternyata setelah diselidiki sertipikat tersebut sedang dalam jaminan bank yaitu SHM Nomor 7415/ Kelurahan Cisaranten Kulon ada di Bank Nagari atas nama Ny. Andriyati sedangkan SHM Nomor 7416/ Kelurahan Cisaranten Kulon ada di Bank Mandiri atas nama Tuan Andri. Setelah mengetahui sertipikat dalam jaminan,
maka Rian Pratama memberitahukan kepada Yo Swie Tjin dan bermaksud untuk menarik akta jual beli karena sertipikat ada dalam jaminan maka akta jual beli harus dibatalkan.
Ketika dimintai pertanggungjawaban kepada Eva Fatimah, Eva Fatimah berjanji akan mengambilnya di bank. Namun, ketika ditagih janji tersebut Eva Fatimah tidak diketahui keberadaannya. Dan Rian Pratama pun telah melaporkan Eva Fatimah kepada kepolisian atas adanya dugaan tindak pidana penipuan.
Kemudian pada tanggal 2 Juli 2014, Rian Pratama meminta kepada Yo Swie Tjin dan suami untuk datang ke kantornya untuk membuat kesepakatan agar Yo Swie Tjin dapat membatalkan akta jual beli dahulu sementara dan akan bernegosiasi dengan Bank pemegang hak tanggungan namun gagal.
Dari adanya hubungan hukum dan peristiwa hukum tersebut, maka menurut Rian Pratama sebagai penggugat bahwa perjanjian yang dilakukan oleh Eva Fatimah dan Yo Swie Tjin melalui Rian Pratama adalah tidak sah karena menurut Pasal 1335 KUHPerdata, suatu perjanjian yang tidak memakai suatu sebab yang halal atau dibuat dengan suatu sebab yang palsu atau terlarang, tidak mempunyai kekuatan hukum.
Selain itu, dalam pembuatan akta jual beli tersebut tidak dilandasi iktikad baik, yaitu adanya dugaan penipuan dan penggelapan dari Eva Fatimah kepada Yo Swie Tjin dan Rian Pratama. Dan yang paling penting para pihak belum memenuhi syarat adminstratif berupa pembayaran pajak para pihak serta menghadirkan asli sertipikat dan pengecekan sertipikat ke Kantor Pertanahan Kota Bandung.
Tidak terpenuhinya syarat-syarat subyektif dan obyektif diatas dapat menyebabkan perjanjian menjadi tidak sah, perjanjian yang tidak sah karena tidak
terpenuhinya salah satu syarat subyektif akan mengakibatkan perjanjian itu dapat dibatalkan (canceling) oleh salah satu pihak atau pihak lain yang berkepentingan, sebaliknya apabila tidak sahnya perjanjian itu disebabkan karena tidak terpenuhinya syarat obyektif maka perjanjian tersebut batal demi hukum (nul and void.