• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PERTANGGUNGJAWABAN PPAT TERHADAP AKTA

B. Tuntutan (Petitum)

Berdasarkan peristiwa hukum tersebut, maka Rian Pratama mengajukan tuntutan (petitum) yakni sebagai berikut:

Primair:

1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya.

2. Akta Jual Beli Nomor 250/2012 tanggal 19 Juni 2012 dan Akta Jual Beli 251/2012 tanggal 19 Juni 2012 yang dibuat dihadapan Penggugat adalah cacat hukum.

3. Membatalkan Akta Jual Beli No. 250/2012 tanggal 19 Juni 2012 dan Akta Jual Beli 251/2012 tanggal 19 Juni 2012 yang dibuat dihadapan Penggugat sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah.

4. Menetapkan biaya perkara menurut hukum.

Subsidair;

Apabila Bapak Ketua/Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kls IA Bandung berpendapat lain, maka kami mohon putusan yang seadil-adilnya.

Berdasarkan dalil-dalil/alasan-alasan yang diajukan oleh Rian Pratama selaku penggugat, maka Yo Swie Tjin mengajukan jawaban dengan pada intinya menolak

dengan tegas seluruh dalil-dalil gugatan dan petitum Rian Pratama, kecuali yang secara tegas diakui oleh Yo Swie Tjin yakni sebagai berikut:

Dalam Eksepsi.

Bahwa, atas surat Gugatannya, angka 3 halaman 2 dan angka 9 halaman 3 adalah kurang pihak karena tidak menyertakan BPN Kota Bandung, Bank Nagari, Ny. Andriyati, Bank Mandiri dan Tn. Andri sebagai para pihak dalam perkara a quo.

Oleh karena itu bertentangan dengan adagium hukum: "lebih baik kelebihan pihak dari pada kurang pihak". Dengan demikian, gugatan Penggugat dalam perkara a quo adalah kurang pihak;

Dalam Pokok Perkara.

Dalam Konpensi:

Bahwa, yang dikatakan oleh Rian Pratama dalam surat Gugatannya, angka 3, 4, 5, 6 halaman 1 dan halaman 2, adalah Yo Swie Tjin tidak tahu-menahu, sehingga sudah sewajarnya menjadi tanggung jawab Rian Pratama dan Eva Fatimah, dan ketika dihubung-hubungkan dengan Yo Swie Tjin adalah tidak relevan, oleh karenanya harus ditolak;

Sebaliknya menurut Yo Swie Tjin, sudah sewajarnya jika Rian Pratama diberikan pertanggungjawaban hukum dikarenakan kelalaian dan kekurang hati-hatiannya yang menyebabkan tertundanya Yo Swie Tjin untuk menikmati dan atau menggunakan benda yang menjadi milik Yo Swie Tjin. Bahkan sudah sewajarnya Rian Pratama sebagai seorang pejabat publik, jika memang benar waktu itu tidak memenuhi syarat untuk dibuatkan Akta Jual Beli, maka jangan dibuatkan akta, bukan

sebaliknya. Hal tersebut adalah kelalaian yang dilakukan oleh Rian Pratama, dan harus dipertanggung jawabkan secara perdata.

Hal ini dikuatkan oleh Pasal 1366 KUHPerdata dan Yurisprudensi Mahkamah Agung yang dikutip di bawah ini:

a. "Setiap orang bertanggungjawab, bukan hanya atas kerugian yang disebabkan perbuatan-perbuatan, melainkan juga atas kerugian yang disebabkan kelalaian atau kesembronoannya"; (Pasal 1366 KUHPerdata);

b. "Bahwa perbuatan melawan hukum harus diartikan sebagai berbuat atau tidak berbuat yang bertentangan dengan atau melanggar:

Bahwa, Yo Swie Tjin adalah pembeli beritikad baik yang dilindungi oleh Undang-Undang ketika datang untuk menandatangani akta jual-beli tersebut pada tanggal 10 Mei 2012, sebagaimana yang dikatakan oleh Rian Pratama dalam surat gugatannya, angka 6 halaman 2 dan selebihnya harus ditolak.

Bahwa, yang dikatakan oleh Rian Pratama dalam surat Gugatannya, angka 16 halaman 3, adalah penafsiran sendiri dan ingin melepaskan tanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. Begitu juga yang dikatakan oleh Rian Pratama dalam surat Gugatannya, angka 17 halaman 4, adalah penafsiran sendiri dan ingin melepaskan tanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. Terkait dengan adanya dugaan penipuan, harus dibuktikan degan putusan pengadilan pidana.

Kemudian yang dikatakan oleh Rian Pratama dalam surat gugatannya, angka 18 dan 19 halaman 4, serta petitum angka 3 halaman 4 adalah tidak benar dan harus ditolak, dikarenakan Pengadilan Negeri hanya mempunyai kewenangan untuk menyatakan suatu akta notaris tidak mempunyai kekuatan hukum;

Berdasarkan hal-hal yang telah kemukakan Yo Swie Tjin di atas mohon majelis hakim perkara a quo memberikan amar putusan sebagai berikut:

Primair:

- Dalam Eksepsi.

• Mengabulkan Gugatan Tergugat II untuk seluruhnya;

- Dalam Konpensi.

• Menolak Gugatan Penggugat untuk seluruhnya;

Subsidair:

Apabila Ketua Pengadilan Negeri Bandung berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aquo etbono);

Selanjutnya Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bandung memberikan pertimbangan hukum yakni sebagai berikut:

Dalam Eksepsi:

Menimbang, bahwa setelah mempelajari eksepsi dari Yo Swie Tjin dan replik dari Rian Pratama tersebut, Majelis Hakim memberikan pertimbangan sebagai berikut:

- Bahwa opsi untuk menentukan siapa yang akan dijadikan sebagai pihak yang akan digugat dalam suatu perkara, sepenuhnya ada pada pihak Rian Pratama, yang menurut Rian Pratama pihak tersebut secara langsung dianggap telah merugikan dirinya;

- Bahwa sebagaimana telah dipertimbangkan di atas, yang menjadi objek gugatan dalam perkara ini adalah mengenai pembatalan Akta Jual Beli Nomor 250/2012 tanggal 19 Juni 2012 dan Akta Jual Beli Nomor 251/2012 tanggal

19 Juni 2012, dan pihak-pihak dalam kedua Akta Jual Beli tersebut adalah Rian Pratama selaku pembuat Akta Jual Beli, Eva Fatimah selaku penjual dan Yo Swie Tjin selaku pembeli.

- Bahwa dengan demikian Majelis berpendapat, bahwa benar gugatan dalam perkara ini tidak kurang pihak, sehingga oleh karenanya eksepsi dari Yo Swie Tjin tersebut haruslah ditolak;

Dalam Pokok Perkara:

Menimbang, bahwa setelah mempelajari dengan seksama gugatan Penggugat, jawaban Tergugat, replik Penggugat dan duplik Tergugat, majelis mendapatkan fakta yang diakui, setidak-tidaknya menjadi perbantahan hukum diantara kedua belah pihak, sehingga menurut hukum harus dianggap terbukti, yaitu bahwa benar pada tanggal 19 Juni 2012, Rian Pratama mengeluarkan salinan 2 buah akta jual beli antara Eva Fatimah dan Yo Swie Tjin untuk jual beli tanah dan bangunan.

Menimbang, bahwa sebaliknya terdapat perselisihan hukum antara kedua belah pihak yang memerlukan pembuktian, yaitu mengenai “Apakah Akta Jual Beli Nomor 250/2012 tanggal 19 Juni 2012 dan Akta Jual Beli Nomor 251/2012 tanggal 19 Juni 2012 tersebut telah memenuhi syarat-syarat suatu perjanjian ataukah belum” .

Menimbang, bahwa Majelis berpendapat oleh karena kesepakatan antara Eva Fatimah dan Yo Swie Tjin dalam mengikatkan diri dalam perjanjian jual beli tersebut ternyata dengan disertai adanya unsur “penipuan” dari pihak Eva Fatimah, maka perjanjian tersebut dapat dibatalkan.

Menimbang, bahwa walaupun menurut Pasal 1328 ayat (2) KUHPerdata, penipuan tersebut tidak dipersangkakan tetapi harus dibuktikan, namun oleh karena

ternyata sudah diakui sendiri oleh Eva Fatimah, bahwa benar kedua sertipikat tersebut sedang dijaminkan ke Bank Nagari dan Bank Mandiri, maka adanya unsur penipuan tersebut tidak perlu dibuktikan dengan putusan pidana yang sudah berkekuatan hukum tetap.

Menimbang, bahwa walaupun menurut Yo Swie Tjin, sesuai dengan ketentuan Pasal 1366 KUH Perdata, bahwa Rian Pratama harus bertanggung jawab atas kelalaian/kesembronoannya tersebut, namun menurut Majelis oleh karena yang menjadi pihak dalam perjanjian tersebut adalah Eva Fatimah dan Yo Swie Tjin, sedangkan Rian Pratama bukan merupakan pihak, maka Rian Pratama tidak dapat dimintai pertanggungjawaban berdasarkan ketentuan Pasal 1366 KUH Perdata.

Menimbang, bahwa berdasarkan alasan sebagaimana telah diuraikan di atas, Majelis berpendapat bahwa perjanjian jual beli antara Eva Fatimah dengan Yo Swie Tjin yang dituangkan dalam Akta Jual Beli Nomor 250/2012 tanggal 19 Juni 2012 dan Akta Jual Beli Nomor 251/2012 tanggal 19 Juni 2012, yang dibuat

dihadapan Rian Pratama selaku Pejabat Pembuat Akta Tanah mengandung cacat hukum, sehingga oleh karenanya haruslah dibatalkan (sebagaimana dimintakan dalam petitum kedua dan ketiga gugatan Rian Pratama).

Memperhatikan pasal-pasal dari Undang-Undang dan peraturan-peraturan lain yang bersangkutan maka, Majelis Hakim memberikan putusan dengan amar putusan sebagai berikut:

Mengadili:

1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya.

2. Menyatakan Akta Jual Beli Nomor 250/2012 tanggal 19 Juni 2012 dan Akta Jual Beli Nomor 251/2012 tanggal 19 Juni 2012 yang dibuat dihadapan Penggugat adalah cacat hukum.

3. Membatalkan Akta Jual Beli Nomor 250/2012 tanggal 19 Juni 2012 dan Akta Jual Beli Nomor 251/2012 tanggal 19 Juni 2012 yang dibuat dihadapan Penggugat sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah.

4. Menghukum Tergugat I dan Tergugat II untuk membayar biaya yang timbul dalam perkara ini, yang sampai sekarang berjumlah Rp 2.901.000,00 (dua juta Sembilan ratus satu ribu rupiah).

Tidak terima atas amar putusan yang disampaikan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bandung, maka Yo Swie Tjin mengajukan permohonan banding dan bertindak sebagai Pembanding pada tanggal 27 April 2015 atas putusan Pengadilan Negeri Kls I.A Bandung tanggal 06 April 2015,Nomor.381/Pdt.G/2014/PN.Bdg. Dalam proses banding tersebut, baik Yo Swie Tjin yang bertindak sebagai Pembanding dahulu sebagai Tergugat II mengajukan memori kasasai dan Rian Pratama yang bertindak sebagai Terbanding dahulu sebagai Penggugat juga mengajukan kontra memori kasasi.

Selanjutnya Majelis Hakim Banding memberikan dasar pertimbangan hukum sebagai berikut:

Dalam Eksepsi

Menimbang, bahwa alasan-alasan dan pertimbangan-pertimbangan Hakim tingkat pertama mengenai eksepsi yang pada pokoknya menolak eksepsi dari Yo

Swie Tjin sudah tepat dan benar, oleh karena itu putusan dalam eksepsi tersebut dapat dipertahankan dan dikuatkan;

Dalam Pokok Perkara.

Menimbang, bahwa mengenai pertimbangan hukum dan kesimpulan Hakim tingkat pertama pada petitum gugatan Rian Pratama I angka 2 sudah tepat dan benar maka pertimbangan Hakim tingkat pertama tersebut diambil alih dan dijadikan pertimbangan sendiri oleh Pengadilan Tinggi dalam memutus perkara ini pada tingkat banding sedangkan petitum gugatan Rian Pratama angka 3 yaitu membatalkan Akta Jual Beli Nomor 250/2012 tanggal 19 Juni 2012 dan Akta Jual Beli Nomor 251/2012 tanggal 19 Juni 2012 yang dibuat dihadapan Rian Pratama sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah. Pengadilan Tinggi tidak sependapat dengan alasan-alasan sebagai berikut.

Menimbang, bahwa berpedoman kepada putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia tanggal 1 Mei 1979 Nomor: 1420 K/Sip/1978, yang tidak membenarkan Pengadilan untuk membatalkan suatu Akta Notaris, maka petitum angka 3 putusan Pengadilan tingkat pertama yang membatalkan Akta Jual Beli Nomor: 250/2012 tanggal 19 Juni 2012 dan Akta Jual Beli Nomor: 251/2012 tanggal 19 Juni 2012 yang juga merupakan petitum gugatan Rian Pratama angka 3 beralasan hukum untuk dibatalkan.

Menimbang, bahwa oleh karena kontra memori banding hanya mendukung putusan Hakim tingkat pertama, maka dengan demikian kontra memori banding tersebut dipandang telah dipertimbangkan pula dalam pokok perkara.

Menimbang,bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diatas, maka putusan Pengadilan Negeri Kls I.A Bandung tanggal 6 April 2015.Nomor.381 /Pdt.G /2014/PN.Bdg harus dibatalkan dan Pengadilan Tinggi akan mengadili sendiri sebagaimana tersebut dalam Amar putusan dibawah ini.

Menimbang, bahwa oleh karena Yo Swie Tjin dipihak yang kalah,maka dihukum untuk membayar biaya perkara dalam kedua tingkat peradilan.

Mengingat, Undang-Undang Nomor 20 tahun 1947 dan peraturan Perundang Undangan lainnya yang terkait:

Mengadili:

- Menerima permohonan banding dari Pembanding semulaTergugat II;

- Membatalkan putusan Pengadilan Negeri Bandung tanggal 6 April 2015, Nomor 381/Pdt.G/2014/PN.Bdg yang dimohon banding tersebut;

Mengadili Sendiri:

Dalam Eksepsi:

- Menolak Eksepsi Pembanding/Tergugat II;

Dalam Pokok Perkara:

- Mengabulkan gugatan Penggugat/Terbanding I untuk sebagian;

- Menyatakan Akta Jual Beli Nomor: 250/2012 tanggal 19 Juni 2012 dan Akta Jual Beli Nomor: 251/2012 tanggal 19 Juni 2012 yang dibuat dihadapan Penggugat adalah cacat hukum;

- Menghukum Pembanding/Tergugat II untuk membayar biaya perkara yang timbul dalam kedua tingkat peradilan,yang dalam tingkat banding ditetapkan sebesar Rp 150.000,-- (seratus lima puluh ribu rupiah);

- Menolak gugatan Penggugat/Terbanding I untuk selebihnya.