ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
D.4. ANALISA DATA
D.4.2. Kategorisasi Berdasarkan Data Demografis
1). Jenis Kelamin
Pada penelitian ini jenis kelamin dibagi menjadi dua yaitu Perempuan dan Laki-laki.
Tabel 4.10. Kategorisasi Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis
Berdasarkan tabel 4.10, maka terlihat pada penelitian ini tingkat kecemasan pada remaja korban cyberbullying dengan jenis kelamin perempuan dengan jumlah 77 dari 91 orang masuk kedalam kategorisasi tingkat kecemasan rendah, kemudian 13
dari 91 orang subjek penelitian berjenis kelamin perempuan berada pada kategorisasi tingkat kecemasan sedang, dan 1 dari 91 orang subjek berjenis kelamin perempuan berada pada tingkat kecemasan tinggi.
Kemudian terlihat pada remaja korban cyberbullying dengan jenis kelamin laki-laki dengan jumlah 51 dari 63 orang berada pada kategorisasi tingkat kecemasan rendah, kemudian 8 dari 63 orang subjek penelitian dengan jenis kelamin laki-laki berada pada kategorisasi tingkat kecemasan sedang, 4 dari 63 orang subjek peneliti dengan jenis kelamin laki-laki berada pada kategorisasi tingkat kecemasan tinggi.
Pada tabel 4.10 juga dapat dilihat beberapa jumlah mean empirik yang didapatkan berdasarkan jenis kelamin subjek. Dari mean empirik yang telah didapat subjek dengan jenis kelamin laki-laki memiliki nilai mean emprik yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai mean empirik pada subjek berjenis kelamin perempuan . Maka remaja korban cyberbullying yang berjenis kelamin laki-laki memiliki kecemasan lebih tinggi dibandingkan dengan remaja korban Cyberbullying yang berjenis kelamin perempuan.
2) Tingkat Pendidikan
Tabel 4.12. Kategorisasi Kecemasan Korban Cyberbullying Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Berdasarkan table 4.12 maka terlihat pada penelitian ini subjek dengan tingkat pendidikan SMP memiliki tingkat kecemasan yang rendah dengan jumlah 8 dari 10 , kemudian 2 dari 10 orang subjek penelitian dalam tingkat pendidikan SMP yang
masuk dalam kategorisasi tingkat kecemasan sedang, dan pada subjek tingkat pendidikan smp yang memiliki tingkat kecemasan tinggi tidak ada.
Selanjutnya sebanyak 104 dari 123 orang subjek penelitian dengan tingkat pendidikan SMA masuk kedalam kategorisasi tingkat kecemasan rendah, kemudian sebanyak 14 dari 123 orang subjek yang memiliki tingkat pendidikan SMA memiliki tingkat kecemasan sedang, dan 5 dari 123 orang subjek yang memiliki tingkat pendidikan SMA memiliki tingkat kecemasan tinggi.
Selanjutnya 16 dari 21 orang subjek penelitian dengan tingkat pendidikan Perguruan Tinggi yang masuk kedalam kategorisasi tingkat kecemasan rendah, 5 dari 21 orang subjek penelitian dengan tingkat pendidikan perguruan tinggi yang masuk kedalam kategorisasi tingkat kecemasan sedang, dan subjek dengan tingkat pendidikan perguruan tinggi yang memiliki tingkat kecemasan tinggi tidak ada.
Pada tabel 4.12 juga dapat dilihat beberapa jumlah mean empirik yang didapatkan pada setiap tingkat pendidikan. Dari semua mean empirik yang telah didapatkan mean empirik yang tertinggi ialah subjek dengan tingkat pendidikan SMP.
Maka remaja korban cyberbullying yang memiliki tingkat pendidikan SMP akan lebih merasakan kecemasan dibandingkan dengan tingkat pendidikan SMA dan perguruan tinggi.
3) Waktu Terjadi Perilaku Cyberbullying
Tabel 4.14. Kategorisasi Kecemasan Korban Cyberbullying Berdasarkan Waktu Terjadi Perilaku Cyberbullying
Waktu Menerima Perilaku Cyberbullying
Jumlah Presentase (%) Kategori Mean Empirik
1 Hari -1 Minggu 13 76 Rendah
13,6
2 12 Sedang
2 12 Tinggi
1 Minggu –4 Minggu 16 84 Rendah
10,36
2 11 Sedang
1 5 Tinggi
1 Bulan – 3 Bulan 19 76 Rendah
13,08
4 16 Sedang
2 8 Tinggi
3 Bulan – 6 Bulan 24 77 Rendah 9,64
6 20 Sedang
Berdasarkan tabel 4.14 maka terlihat pada penelitian ini subjek yang telah menerima perilaku cyberbullying yaitu 1hari - 1minggu memiliki tingkat kecemasan yang rendah dengan jumlah 13 dari 17 orang subjek , kemudian 2 dari 17 orang subjek berada pada kategori tingkat kecemasan rendah, dan 2 dari 17 orangsubjek berada pada kategori tingkat kecemasan yang tinggi.
Selanjutnya 16 dari 19 orang subjek penelitian yang telah menerima cyberbullying 1minggu – 4minggu masuk kedalam kategorisasi tingkat kecemasan rendah, kemudian 2 dari 19 subjek penelitian masuk kedalam kategori sedang, dan 1 dari 19 subjek penelitian masuk kedalam kategori kecemasan tinggi.
Selanjutnya 19 dari 25 orang subjek penelitian yang telah menerima cyberbullying 1 bulan – 3 bulan yang masuk kedalam kategorisasi tingkat kecemasan rendah, kemudian 4 dari 25 orang subjek penelitian berada pada kategori tingkat
0 3 Tinggi
Lebih dari 1 tahun 56 87 Rendah
8,95
7 13 Sedang
0 0 Tinggi
kecemasan sedang,dan 2 dari 25 subjek berada pada kategori tingkat kecemasan tinggi
. Selanjutnya 24 dari 30 orang subjek penelitian yang telah menerima cyberbullying 3 bulan – 6 bulan masuk kedalam kategorisasi tingkat kecemasan rendah, kemudian 6 dari 30 orang subjek berada pada tingkat kecemasan sedang, dan tidak ada korban cyberbullying yang telah menerima perilaku cyberbullying 3bulan-6bulan berada pada kategori tinggi.
Selanjutnya 56 dari 63 orang subjek penelitian yang telah menerima cyberbullying Lebih dari 1 tahun masuk kedalam kategorisasi tingkat kecemasan rendah, kemudian 7 dari 63 orang subjek berada pada kategori tingkat kecemasan sedang,dan tidak ada korban cyberbullying yang telah menerima perilaku cyberbullying 3bulan lebih dari 1 tahun berada pada kategori tinggi.
Berdasarkan tabel 4.14 juga dapat dilihat besaran nilai mean empirik yang telah didapat pada setiap waktu terjadi perilaku cyberbullying pada korban. Dari semua waktu terjadinya perilaku cyberbullying pada korban, nilai mean empirik tertinggi didapati oleh subjek dengan waktu menerima cyberbullying 1 hari – 1 minggu. Maka dari ini dapat disimpulkan bahwa semakin dekat waktu terjadinya perilaku cyberbullying maka akan semakin tinggi kecemasan yang dirasakan oleh remaja korban cyberbullying.
4) Frekuensi Menerima Perilaku Cyberbullying
Tabel 4.15. Kategorisasi Kecemasan Korban Cyberbullying Berdasarkan Frekuensi Terjadi Perilaku Cyberbullying
Waktu Menerima Perilaku Cyberbullying
Jumlah Presentase (%) Kategori Mean Empirik
Tidak Pernah 0 0 Rendah
0 0 Sedang 0
0 0 Tinggi
Jarang 89 86 Rendah
9,576
14 13 Sedang
1 1 Tinggi
Kadang-Kadang 34 87 Rendah
10,487
3 8 Sedang
2 5 Tinggi
Sering 5 50 Rendah 17,3
3 30 Sedang
Berdasarkan tabel 4.14 maka terlihat pada penelitian ini subjek yang frekuensi tidak pernah menerima perilaku cyberbullying yaitu tidak memiliki tingkat kecemasan sebab tidak ada subjek yang belum pernah menerima perilaku cyberbullying
Selanjutnya 89 dari 104 orang subjek penelitian yang frekuensi jarang menerima cyberbullying masuk kedalam kategorisasi tingkat kecemasan rendah, kemudian 14 dari 104 subjek penelitian masuk kedalam kategori sedang, dan 1 dari 104 subjek penelitian masuk kedalam kategori kecemasan tinggi.
Selanjutnya 34 dari 39 orang subjek penelitian yang frekuensi kadang-kadang menerima cyberbullying yang masuk kedalam kategorisasi tingkat kecemasan rendah, kemudian 3 dari 39 orang subjek penelitian berada pada kategori tingkat kecemasan sedang,dan 2 dari 39 orang subjek berada pada kategori tingkat kecemasan tinggi
2 20 Tinggi
Sangat Sering 0 0 Rendah
26
1 100 Sedang
0 0 Tinggi
. Selanjutnya 5 dari 10 orang subjek penelitian yang frekuensi sering menerima cyberbullying masuk kedalam kategorisasi tingkat kecemasan rendah, kemudian 3 dari 10 orang subjek berada pada tingkat kecemasan sedang, dan 2 dari 10 orang subjek berada pada kategori tinggi.
Selanjutnya tidak ada subjek penelitian yang frekuensi sangat sering menerima cyberbullying masuk kedalam kategorisasi tingkat kecemasan rendah, kemudian 1 dari 1 orang subjek berada pada kategori tingkat kecemasan sedang,dan tidak ada korban cyberbullying yang frekuensi sangat sering menerima perilaku cyberbullying berada pada kategori tinggi.
Berdasarkan tabel 4.15 juga dapat dilihat besaran nilai mean empirik yang telah didapat pada setiap frekuensi menerima perilaku cyberbullying pada korban. Dari semua frekuensi terjadinya perilaku cyberbullying pada korban, nilai mean empirik tertinggi didapati oleh subjek dengan frekuensi sering menerima cyberbullying . Maka dari ini dapat disimpulkan bahwa semakin sering frekuensi menerima cyberbullying maka akan semakin tinggi kecemasan yang dirasakan oleh remaja korban cyberbullying.