• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

E.4. PEMBAHASAN PENELITIAN

Penelitian ini memberikan hasil mengenai gambaran tingkat kecemasan remaja korban cyberbullying di kota Medan. Hasil analisa data yang telah didapatkan menyatakan bahwa sebesar 83% dari 154 subjek memiliki kecemasan yang rendah sebagai korban cyberbullying. Hal ini sejalan dengan Slonje, Smith, dan Frisen (2012) yang menjelaskan tujuh ciri-ciri cyberbullying, yaitu salah satunya bergantung pada kemampuan memahami teknologi, dimana perilaku cyberbullying lebih pada gangguan tidak langsung, dan tidak jelas siapa pelakunya (anonim). Hal ini diperkuat pada data wawancara pada beberapa remaja di kota Medan, dimana peneliti mendapati bahwa remaja kurang memiliki pengetahuan yang masih minim mengenai perilaku cyberbullying dan menganggap bahwa perilaku ini hanya sebagai candaan antar teman sebaya. Sehingga remaja di kota medan tidak menyadari bahwasanya ia adalah seorang korban cyberbullying.

Walaupun nilai tingkatan kecemasan pada remaja korban cyberbullying di Medan rendah , namun dilihat dari nilai peraspek dari kecemasan pada bagian aspek kognitif memiliki mean empirik yang lebih tinggi daripada aspek yang lainya. Maka dapat disimpulkan dari semua aspek kecemasan aspek kognitif yang paling mempengaruhi pada remaja korban cyberbullying. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan Borba (dalam Edi Birowo 2015) mengenai beberapa dampak yang

terjadi pada korban cyberbullying yaitu Korban terlihat ada penurunan prestasi akademiknya.

Selanjutnya kecemasan remaja korban cyberbullying jika dilihat dari data demografis subjek penelitian. Berdasarkan jenis kelamin diketahui bahwa korban dengan jenis kelamin laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki tingkatan kecemasan yang rendah terhadap perilaku cyberbullying yang diterima. Hal ini ditunjukkan dengan hasil penelitian yang dilakukan yaitu laki-laki dan perempuan memiliki nilai dibawah rata-rata. Meskipun laki-laki atau perempuan memiliki nilai yang dibawah rata-rata peniliti menemukan terlihat perbedaan nilai mean empirik pada laki-laki lebih besar dibanding nilai mean empirik pada perempuan. Nilai mean empirik pada laki-laki sebesar 0,254 dan sedangkan untuk nilai mean empirik pada perempuan sebesar 0,199. Dari perbedaan nilai mean empirik tersebut dapat di simpulkan bahwa remaja korban cyberbullying dengan jenis kelamin laki-laki lebih cemas dibandingkan remaja korban cyberbullying dengan jenis kelamin perempuan.

Hal ini sejalan dengan pendapat Stuart dan Sundeen (dalam Darliana, 2008) yang mengatakan bahwa , laki-laki lebih tinggi kecemasannya dibandingkan dengan perempuan. Hal ini dibuktikan dari hasil pemeriksaan asam lemak bebas menunjukan nilai yang tinggi pada laki-laki dibandingkan dengan wanita.

Kemudian selanjutnya adalah berdasarkan tingkat pendidikan. Pada penelitian ini tingkat pendidikan dibagi menjadi tiga yaitu SMP, SMA dan Perguruan Tinggi.

Dari hasil penelitian diketahui bahwa korban cyberbullying dengan tingkat pendidikan SMP memiliki tingkat kecemasan yang rendah, begitu juga dengan

korban cyberbullying dengan tingkat pendidikan SMA dan Perguruan Tinggi yang memiliki tingkatan kecemasan yang rendah. Hal ini ditunjukkan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa remaja korban cyberbullying dengan tingkat pendidikan SMP , SMA dan korban cyberbullying dengan tingkat pendidikan Perguruan Tinggi memiliki nilai di bawah rata- rata. Namun jika dibandingkan dengan mean empirik yang ada ditemukan bahwa nilai mean empirik pada subjek yang memiliki tingkat pendidikan SMP lebih tinggi dari pada tingkat pendidikan yang lainya. Maka dapat disimpulkan bahwa remaja korban cyberbullying di Medan dengan tingkat pendidikan SMP lebih cemas dibanding remaja tingkat pendidikan SMA dan perguruan tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat Kaplan & Sadock mereka menemukan tingkat pendidikan yang rendah pada seseorang akan menyebabkan orang tersebut lebih mudah mengalami kecemasan dibandingkan mereka yang mempunyai status pendidikan tinggi (Kaplan & Sadock, 1997).

Selanjutnya jika dilihat berdasarkan waktu terjadinya cyberbullying pada korban , subjek dengan waktu setelah menerima perilaku cyberbullying yaitu 1hari - 1minggu, 1minggu – 4minggu, 1 bulan – 3 bulan, 3 bulan – 6 bulan, dan lebih dari 1 tahun memiliki tingkat kecemasan yang rendah. Selanjutnya jika dilihat mean empirik yang didapat dari subjek yang menerima cyberbullying lebih dari 1 tahun memiliki nilai mean paling rendah diantara waktu yang lainya . Hal ini bisa diasumsikan bahwa alasan tingkat kecemasan remaja korban cyberbullying di Medan rendah dikarena semakin jauh waktu menerima perilaku cyberbullying akan semakin rendah tingkat kecemasannya.

Selanjutnya jika dilihat berdasarkan frekuensi terjadinya cyberbullying pada korban , rata-rata subjek menjawab memimiliki frekuensi jarang menerima perilaku cyberbullying sehingga memiliki tingkat kecemasan yang rendah. Selanjutnya jika dilihat mean empirik yang didapat dari subjek dengan frekuensi jarang menerima cyberbullying memiliki nilai mean paling rendah diantara frekuensi yang lainya . Hal ini bisa diasumsikan bahwa alasan tingkat kecemasan remaja korban cyberbullying di Medan rendah dikarena jarang terjadinya perilaku cyberbullying pada mereka, dan semakin rendah frekuensi menerima perilaku cyberbullying akan semakin rendah tingkat kecemasannya.walaupun rata-rata subjek jarang menerima perilaku cyberbullying namun terdapat berbagai tingkat kecemasan yang dirasakan.hal ini dibuktikan dengan jumlah subjek yang jarang menerima cyberbullying yaitu 104 orang dimana 89 orang memiliki tingkat kecemasan rendah, 14 orang memiliki tingkat kecemasan sedang, dan 1 orang memiliki tingkat kecemasan tinggi. Hal ini dapat dijelaskan oleh Spielberger (dalam Auliani, 2010), yaitu kecemasan dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu state anxiety dan trait anxiety. State anxiety adalah gejala kecemasan yang timbul saat seseorang berhadapan dengan situasi yang mengancam, berlangsung sementara dan ditandai dengan perasaan subyektif atau tekanan-tekanan tertentu, kegugupan dan aktifnya susunan syaraf pusat. Sedangkan trait anxiety adalah kecemasan yang menetap pada diri seseorang dan menjadi pembeda antara individu yang satu dengan yang lainnya. Kecemasan ini sudah terintegrasi dalam kepribadian seseorang sehingga ia lebih mudah merasakan cemas saat menghadapi sebuah situasi. Dapat diasumsikan bahwa tiap individu memiliki

jenis kecemasan yang berbeda walaupun dikaitkan dengan frekuensi waktu terjadinya cyberbullying.

Seperti pembahasan yang sudah dilakukan, secara umum remaja korban cyberbullying di kota Medan memiliki tingkat kecemasan yang rendah. Stuart (2006) membagi kecemasan ke dalam beberapa tingkatan dan menjelaskan mengenai efek dari tiap tingkatan tersebut. Setiap tingkatan memiliki karakteristik persepsi yang berbeda-beda. Hal ini tergantung pada kemampuan individu dalam menerima informasi / pengetahuan mengenai kondisi yang ada dari dalam dirinya maupun dari lingkungannya.

Pada penelitian ditemukan bahwa remaja korban cyberbullying berada pada tingakatan kecemasan yang rendah, dimana menurut Stuart (2008) tingkatan kecemasan yang rendah atau bisa dikatakan individu yang memiliki kecemasan ringan ialah rasa kecemasan yang berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari, kecemasan ini menyebabkan individu menjadi waspada dan meningkatkan persepsinya dalam mengatasi rasa kecemasanya. Kecemasan ini dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan serta kreativitas dari individu yang mengalami kecemasan ringan.

Selanjutnya dapat disimpulkan dari tingkatan kecemasan yang rendah yang dimiliki para remaja cyberbullying bisa dikatakan memiliki efek positif kepada mereka, dimana korban remaja telah menerima perilaku cyberbullying dan dikarenakan hal ini dapat meningkatkan persepsi mereka dalam mengatasi kecemasan

yang mereka rasakan ,sehingga korban remaja mampu menemukan cara untuk mengatasi rasa kecemasan mereka dengan banyak cara tertentu yang akan mereka temukan sendiri. Dan pada tingkatan kecemasan rendah ini dapat memotivasi mereka untuk belajar dari pengalaman sebelumnya sehingga remaja korban cyberbullying lebih waspada terhadap pengguna media teknologi online.

BAB V

Dokumen terkait