BAB V. PENUTUP
B. Saran
2. Bagi Kaum Lansia di Wilayah St. Bernadetta Banteng Baru
a) Memiliki kesediaan membangun komunitas baru sebagai tempat untuk membangun semangat persaudaraan satu sama lain (antar lansia), sehingga saling mendukung dan menguatkan.
b) Melibatkan diri ikut kegiatan baik di lingkungan maupun paroki, khusus bagi kaum lansia yang masih sehat secara fisik.
c) Manfaatkan waktu luang agar tidak merasa kesepian atau sendirian tanpa kegiatan.
d) Bagi kaum lansia yang sakit atau sudah sangat tua, perlu menjalin relasi lebih intim dengan Tuhan (doa, meditasi, dll) agar tetap semangat, sabar, penuh sukacita dan merasa damai (memiliki ketenangan jiwa).
DAFTAR PUSTAKA
Alexander Aur (2014). Mengutamakan kualitas iman dan tindakandiakses tanggal 25 Februari 2014 dari http://m.hidupkatolik.com/mengutamakan-kualitas-iman-dan-tindakan.
Badudu, Sultan Mohammad Zain. (1996). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Darmojo, B. (2009). Buku Ajar Boedhi Darmojo Geriatri Ilmu Kesehatan Usia Lanjut. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI. (1993). Dokumen konsili vatikan II, (Terjemahan oleh R. Hardawiryana S.J). Jakarta : Obor.
Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat. (2001). Pedoman Pembinaan Kesehatan Jiwa Usia Lanjut Bagi Petugas Kesehatan: Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Republik Indonesia.
Kongkoh (2011).Teori perkembangan psikososial Erik Erikson / diakses 17 Februari 2014 dari http://id.shvoong.com/teori-perkembangan-psikososial-erik-erikson.
Lalu, Yosef.(2007). Katekese Umat. Yogyakarta: Kanisius
Lukman Hakim.http/ kompositisme.blogspot.com/13 Juni 2013/makalah-psikologi-perkembangan-masa dewasa-akhir: diakses tanggal 28 Maret 2014
Maryam, Siti dkk. (2008). Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta: Salemba Medika.
Mary Hester Valentine. 1995. Menapaki Usia Lanjut Di dalam Tuhan :Obor. Jakarta.
Masbow.(2010). Perkembangan dewasa akhir / diakses tanggal 17 Februari 2014 dari http://www.masbow.com/perkembangan-dewasa-akhir.
Milton Mayeroff. (1993). Mendampingi Untuk Menumbuhkan. Jakarta: Kanisius-BPK Gunung Mulia.
Mira, Sofiani. (2013). Penyesuaian Diri Para Suster Santa Perawan Maria yang Berusia 60 Tahun Ke atas Dalam Menyikapi Masa Usia Lanjut,(Skripsi), Fakultas Bimbingan Konseling, USD. Yogyakarta.
Mite, Matheus, B. (2009).Model Katekese Kontekstual. Yogyakarta: Kanisius (Anggota IKAPI)
Paus Yohanes Paulus II. (1992). Catechesi Tradendae.Jakarta: KWI Papalia. (2008). Human Development (Psikologi Perkembangan).
Jakarta: Kencana.
PKK Organ Ilir (2011).Program uji coba home care / diakses 20 Mei 2014 dari http://pkk.oganilirkab.go.id/ program-uji-coba-home-care.
Potter, P.A. & Perry, A.G. 2005. Fundamental of Nursing: Concept, Process, and Practice. Philadelphia: Mocby Years Book Inc.
Santrock, J. W. (2002). Life Spam Development: Perkembangan Masa Hidup. Terjemahan: Damanik J, dkk. Jakarta: Erlangga.
Santrock, J. W. (2005). Life Spam Development: Perkembangan Masa Hidup Edisi Kelima. Terjemahan: Chusairi. Jakarta: Erlangga.
Suardiman, Siti Partini. (2011). Psikologi Usia Lanjut: Yogyakarta: Gajah Mada University Press GMUP.
Telaumbanua Marinus. (1999). Ilmu Kateketik, Hakikat, Metode, dan Peserta Katekese Gerejawi.Jakarta: Obor.
The Liang Gie. (1996). Stratgi Hidup Sehat. Yogyakarta : Pusat Belajar Ilmu Berguna (PUBIB).
Tiara Rizky Nur Amalia (2002). Perilaku Dewasa Akhir /diakses28 Maret 2014 dari http://imamri.wordpress.com/tag/tugas-perkembangan-dewasa-akhir Tria.Ns (2012).Penerapan metode / diakses 20 Mei 2014 dari
http://unair.ac.id/web/PENERAPAN-METODE.
Tri Rusmi Widayatun. (1999). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi. Wolfgang Bock. (2007). Usia Lanjut yang Berahmat dan Berdaya Pikat.
1 Lampiran 1
DAFTAR NAMA LANSIA DI LINGKUNGAN ST. YACINTA WILAYAH ST. BERNADETTA BANTENG BARU PAROKI KELUARGA KUDUS BANTENG - YOGYAKARTA NO NAMA LANSIA L/P USIA STATUS K/J/D/T KETERANGAN KONDISI KESEHATAN
1. Emi Anggraeni P 59 K Baik
2. Maria Riesye Hartin P 68 J Baik
3. Y. Karsono L 71 K Baik
4. C. Suwarti P 69 K Baik
5. Ana Maria Singgih S L 83 J Baik
6. Engeline Suwardini S P 91 J Rentan, perlu layanan hosti di rumah
7. Maria Retno Dwi G. B P 62 J Baik
8. Ignasius Turiyo Sahirman L 63 K Baik
9. Yulia Sutini Djumadi P 62 K
Sakit stroke, perlu layanan hosti di rumah, ekonomi terbatas
10. Yohanes Djuwarno L 72 K Baik
11. Theresia Sri Wuryani P 60 K Baik
12. Yosephine Listyanyandini S P 75 J Baik
13. Maria Goreti Widiastuti P 58 J Baik
14. Caecilia Sukaptinah P 68 J Baik
15. Martinus Rusmin L 73 K Baik
16. Paulina Puyeng Dwiprapti P 64 K Baik
17. Bernadinus Djumakir L 71 K Baik
18. Yustina Suminem P 61 K Baik
19. Tjia Candra L 73 K Baik
20. Martinus Sutarmin L 59 K Baik
21. A. Sarju L 75 K Baik
22. Sri Suwarti P 72 K
Sakit jantung, tidak bisa berpergian jauh, belum baptis
23. Agnes Sumirah P 88 J
Sakit, tidak bisa menelan semua makanan padat, rentan
2
DAFTAR NAMA LANSIA DI LINGKUNGAN ST. KATARINA WILAYAH ST. BERNADETTA BANTENG BARU
PAROKI KELUARGA KUDUS BANTENG - YOGYAKARTA
NO NAMA LANSIA L/P USIA STATUS K/J/D/T KETERANGAN KONDISI KESEHATAN
1. Antonius Soegandono L 71 K Baik
2. Benedicta Indarjati P 69 K Baik
3. Th. Sri Sundari P 62 J Baik
4. Caecilia Waginah Pawanto P 78 J Baik
5. Theresia Retna Sukeksi HS P 74 J Baik
6. Agustinus Winarso PS L 76 D Baik
7. S. Maryati Wagio P 62 J Baik
8. Tan Hok Nio Santoso P 67 J Baik
9. DRCJ Soegihardjo L 72 K Baik
10. MM Sri Kuroisin S P 66 K Baik
11. Antonius Gunaedi Purnoyo L 69 K Baik
12. Ignatia Miyanani P P 62 K Baik
13. Maria Sutjiani Subroto P 60 J Baik
14. Jeanned Roswitha P 61 K Baik
15. FX Suwandi L 64 K Baik
16. Eduardus Esmartono L 65 K Baik
17. Maria Endang Kuswardani E P 63 K Baik
18. Laurentius Suprayitno L 70 K Baik
19. Christiana Lestari P 64 K Baik
20. Paulus Antonius Bambang P L 61 K Baik
21. Petrus Djungadi Sudoko L 75 K Baik
3 Lampiran 2
CATATAN LAPANGAN HASIL WAWANCARA KAUM LANSIA DI WILAYAH ST. BERNADETTA BANTENG BARU, PAROKI KELUARGA KUDUS BANTENG –YOGYAKARTA
Responden : Ibu Maria RiesyeHartin(R1)
Umur : 68 tahun
Status / kondisi : Janda / sehat
Waktu wawancara : Selasa, 22 April 2014
Alamat : Ling. St. Yacinta, wilayah St. Bernadetta Banteng Baru W : Apakah ibu punya anak atau tidak?
R : Anak saya dua, anak pertama laki-laki dan yang kedua perempuan W : Bagaimana dengan kesehatannya, apakah ada keluhan?
R : Puji Tuhan sehat, paling kalau mulai pusing-pusing saya istirahat pagitidak keGereja. Terkadang susah tidur, kalau jam 02. 00 subuh pastisudahbangun. Ya, saya doa, baca kitab suci, kadang tertidur lagi. W : Bagaimana menghadapi setiap sakit atau penyakit?
R : Karena saya tidak mengalami sakit yang serius, jadi kalau mulai pusingatau sakit perut biasanya saya cukup minum obat dan istirahat yangbanyak.
W : Apakah ibu masih mendengar dan melihat dengan baik, daya ingatnya bagaimana?
R : Pendengaran masih baik, kalau mau membaca saya perlu pakaikacamata. Kalau untuk daya ingat sudah mengalami penurunan, mudahlupa.
W : Apa aktivitas ibu sehari-hari?
R : Wah, kalau pekerjaan rutinitas saya itu ya berdoa, satu hari terkadang lima kali bahkan sampai tujuh kali kalau tidak ada aktivitas di luar.Selain itu saya mengurus kebun, nanti tanaman-tanaman itu saya ajakbicara seperti manusia, bersih-bersih rumah karena tinggal sendiri.Kalau hari Minggu setelah pulang dari gereja saya memilih di rumahsaja karena ada anak saya yang pertama datang, Senin subuh sudahpulang lagi ke tempat kerjanya di Semarang.
W : Apakah ibu sekarang masih tinggal bersama anak-anak atau tinggal sendiri?
R : Saya sudah delapan tahun tinggal sendiri, kalau dulu tinggal berduadengan bapak. Setelah beliau meninggal, ya saya tinggal sendiri Karena anak-anak sudah punya rumah sendiri.
W : Bagaimana hubungan ibu dengan lingkungan sekitar?
R : Selama ini baik-baik, dulu waktu bapaknya meninggal malah tetangga yang sibuk untuk menyiapkan semuanya termasuk tenda, kursi, snack,mereka datang salam dengan saya. Sehari-hari bersikap ramah kalauhari raya Natal ada beberapa yang datang ke rumah mengucapkan selamat Natal.Begitu juga kalau Idul Fitri, saya datang silahturahmi.
4
W : Apakah ibu masih aktif mengikuti kegiatan rohani di lingkungan atau di paroki?
R : Sampai sekarang masih aktif mengikuti kegiatan seperti pendalaman iman (APP), latihan koor, novena, kegiatan lansia(senam), worosemedi, arisan ibu-ibu, kunjungan orang sakit, dll. Kalau untuk tugas prodiakon, saya sengajamengundurkan diribiar yang muda-muda maju.
W : Berapa kali dalam sebulan mengikuti perayaan Ekaristi?
R : Tidak tentu, kalau hari Minggu rutin tapi misa harian kadang-kadangmalas berangkat.
W : Apakah anak-anaknya sudah berhasil semua, bagaimana keluarganya? R : Anaksaya sudah bekerja semua, meski yang satunya tetap memilih hidup
sendiri setelah ditinggal istrinya, ternyata dulu ituanaksaya banyak ditipu dan dibohongi oleh perempuan itu. Yah, mungkindia trauma sehingga belum mau menikah lagi.
W : Apakah ada masalah dalam hal keuangan?
R :Keuangan? Tidak, karena anak - anak sudah mandiri dan uang pensiun bapak masih cukup untuk saya.
W : Apakah masih memiliki penghasilan tetap atau ada sumber dana yanglain untuk keperluan sehari-hari?
R :Penghasilan tetap tidak punya, saya hidup dengan gaji pensiunan bapak. Kadang-kadang anak saya juga memberi uang meskipun kita tidak minta dengan mereka.
W : Bagaimana perasaan ibu dalam menghadapi masa tua?
R : Kalau sekarang saya tidak terlalu berfikir macam-macam, menjalani saja dengan rutinitas yang ada semasih mampu sendiri.
W : Apakah ibu mengalami kesepian?
R : ya kadang-kadang, apa lagi saat masih baru di tinggal suami, anak-anak mulai tinggal di rumah mereka sendiri, rasanya sepi di rumah sendiri. W : Bagaimana ibu mengisi kesendirian? Apa yang dilakukan?
R : Saya punya waktu lebih banyak untuk berdoa dan membaca Kitab Suci, selebihnya ikut kegiatan yang ada di lingkungan dan Paroki, menyelesaikan pekerjaan di rumah.
W : Apakah di rumah atau di keluarga memiliki kebiasaan doa bersama? R : ya, karena saya tinggalnya sendiri maka doanya juga sendirian. Kalau
dulu masih tinggal bersama dengan bapak dan anak-anak kami selalu doa bersama waktu mau makan dan malam hari, terkadang Rosario bersama juga.
W : Masalah apa yang paling berat ibu/bapak alami, mengapa?
R : Masalah yang pertama itu adalah ketika bapak meninggal dunia, dia meninggalnya tiba-tiba dan sehat. Saya merasa tidak percaya dan belum siap berpisah dengan dia. Makanya waktu itu wah…rasanya tidak bisa dikatakan perasaan yang dialami saat itu. Sampai tiga tahun saya masih larut dan tidak bisa berbuat apa-apa. Masalah kedua itu tentang anak saya yang diceraikan oleh istrinya. Anak saya berusaha menyelamatkan keluarganya, konsultasi dengan beberapa romo tapi mereka pun akhirnya tidak setuju kalau anak saya harus mempertahankan istrinya, dan si
5
perempuan tetap keras hati untuk tetap memilih cerai, orang tuanyapun mendukung. Maka sampai sekarang anak saya memilih tetap sendiribelum mau menikah lagi.Kalau anak saya pulang, saya tidak berani untuk menanyakan tetang pernikahan, biar saja dia sendiri yang menentukan hidupnya.
W : Apakah ada hal-hal yang masih ingin dicapai atau adakah harapan yang belum terwujud?
R : Dulu itu saya pingin liburan bersama suami dan anak-anak, ternyataTuhan punya rencana lain. Kemudian saya pingin anak saya yangpertama itu suatu saat menemukan jodohnya, yang benar-benar cintasama dia sehingga mereka bisa membangun keluarga baru yang bahagia.
W : Apa yang menjadi harapan ibu untuk kedepannya?
R : Saya berharap semoga tetap sehat supaya tidak merepotkan anak-anak, Apalagitinggal jauh dengan saya. Ingin melihat anak-anak hidup bahagia, kalausaat meninggal nanti saya pingin seperti bapak, tidak sakit lama langsungmeninggal supaya tidak merepotkan.
6
Responden : Ibu Treresia Retna Sukeksi HS (R2)
Umur : 74 tahun
Status / kondisi : Janda/ sehat
Waktu wawancara : Kamis, 24 April 2014, jam 10.00-12.00WIB
Alamat : Ling. St. Katarina, wilayah St. Bernadetta Banteng Baru W : Apakah ibu punya anak atau tidak?
R : Saya punya tiga anak, satu laki-laki dan dua perempuan. W : Bagaimana dengan kesehatannya, apakah ada keluhan?
R : Puji Tuhan sampai sekarang saya masih diberi kesehatan yang baik. W : Bagaimana menghadapi setiap sakit atau penyakit?
R : Saya belum pernah sakit yang parah dan memang jarang sakit
W : Apakah ibu masih mendengar dan melihat dengan baik, daya ingatnya bagaimana?
R : Pendengaran, penglihatan, daya ingat juga masih baik semua. Saya rajinmembaca apa saja, kalau menulis terkadang pakai kacamata kadang tidak.
W : Apa aktivitas ibu sehari-hari?
R : Kegiatan saya setiap hari selalu diawali dengan doa, jam 04.00 subuh saya sudah berangkat ke Gereja jalan kaki untuk ikut ibadat pagi dan misa setiap hari, kecuali Minggu menyesuaikan dengan jadual tugas prodiakon dan tugas dari lingkungan.
W : Apakah ibu sekarang masih tinggal bersama anak-anak atau tinggal sendiri?
R : Tidak, saya sudah lama tinggal sendiri, tapi bersama pembantu. Pembantu saya mulai dari anak-anak masih kecil sampai sekarang tidak pernah pulang lagi, karena sudah tidak punya keluarga lagi.
W : Bagaimana hubungan ibu dengan lingkungan sekitar? R :Baik, tidak ada masalah dengan lingkungan sekitar.
W : Apakah ibu masih aktif mengikuti kegiatan rohani di lingkungan atau di paroki?
R : Masih ikut semua baik di lingkungan maupun di paroki. W : Berapa kali dalam sebulan mengikuti perayaan Ekaristi?
R : Wah…..kalau mengikuti Ekaristi saya tiap hari, terkadang untuk misa hari Minggu sampai dua kali kalau kena tugas prodiakon dan harus ngantar komuni untuk orang sakit atau lansia di lingkungan.
W : Apakah anak-anaknya sudah berhasil semua, bagaimana keluarganya? R : Anak saya sudah bekerja semua, yang pertama dan terakhir
belummenikah dan yang kedua sudah menikah, punya anak dua laki-lakisemua, kadang-kadang datang ke rumah.
W : Apakah ada masalah dalam hal keuangan?
R :Oh tidak, uang pensiun bapak lebih dari cukup, saya tidak perlu beli apa-apa lagi semuanya sudah ada. Anak-anak juga sudah punya gaji sendiri. W : Apakah masih memiliki penghasilan tetap atau ada sumber dana yang
7
R : Selama ini saya masih hidup dengan uang pensiun suami saya, penghasilan lain tidak ada. Kalau anak memberi saya terima tapi kalau tidak saya juga tidak pernah minta. Untuk keperluan rumah tangga masih cukup.
W : Bagaimana perasaan ibu dalam menghadapi masa tua?
R : Ya rasanya kalau terlalu banyak mengikuti kegiatan saya mudah lelah, jadi mengikuti kegiatan disesuaikan dengan kemampuan, tidak memboroskan tenaga supaya tidak sakit. Rutin mengikuti senam lansia tiga kali dalam seminggu. Selain itu menjaga pola makan yang sehat, istirahat yang cukup dan terus aktif untuk beraktifitas sesuai kemampuan. W : Apakah ibu mengalami kesepian?
R : Tidak, saya selalu aktif dan di rumah tidak pernah sendirian, kalau ingat bapak saya mendoakan dia.
W : Bagaimana ibu mengisi kesendirian? Apa yang dilakukan?
R : Menyibukkan diri dengan banyak kegiatan, kalau di rumah semua sudah beres karena ada Yuni pembantu saya yang mengerjakannya. Paling ya tiap pagi ke gereja, senam seminggu tiga kali dengan kelompok yang berbeda, lebih banyak di paroki karena sampai sekarang masih dipercaya menjadi Dewan Paroki.Begitulah, sampai satu hari itu tidak terasa ditambah lagi kegiatan di RT dan lingkungan.
W : Apakah di rumah atau di keluarga memiliki kebiasaan doa bersama? R : Kalau dulu masih lengkap iya, tapi sekarang ya doa sendiri.
W : Masalah apa yang paling berat ibu alami, mengapa?
R : Perjuangan yang sangat berat bagi saya adalah mulai dari suami saya sakit selama tiga bulan dirawat di rumah sakit Sarjito, tetapi penyakitnya tidak diketahui. Saya tiap malam tidur di rumah sakit dan pagi menyempatkan diri ke gereja untuk misa. Sudah sering didoakan juga tidak ada perubahan, berbagai cara dilakukan pihak rumah sakit untuk memeriksa sakitnya, tetapi tidak berhasil sampai suami saya meninggal. Hari terakhir dokter mengatakan, kalau darahnya tidak keluar lagi bapak bisa sembuh. Tapi saat ke toilet, malah yang keluar darah segar, saya panik, kaget, khawatir, stres dan macam-macam. Dokter angkat tangan, tidak tahu harus berbuat apa lagi karena penyakitnya tidak jelas. Jam 10.00 pagi kondisi suami saya mulai jelek, turun, turun, dan akhirnya meninggal. Saat itu sebelum suami saya meninggal tiba-tiba ada teman-teman dari kelompok ME datang, keluarga dari bapa juga pada datang.Maka saat suami saya menghembuskan nafas terakhirnya saya pingin menanggis sekuat-kuatnya, tapi karena sudah dipesan sama Rm Saptoko MSF tidak boleh nangis akhirnya saya menahan diri dan dipeluknya erat-erat. Saat itu anak saya yang kedua belum datang dari Jakarta.Tiket pesawat semuanya penuh, tapi ada satu penumpang yang membatalkan penerbangannya maka itulah yang diambil oleh anak saya. Semua keperluan di rumah sudah diurus sama tetangga (muslim) untuk kedatangan jenazah. Anak saya tiba di rumah sekitar jam 14.00 siang, jenazah masih satu malam di rumah karena masih ada misa requiem, doa dll. Kemudian besoknya baru dimakamkan di pemakaman umum yang
8
terdekat agar saya bisa mengunjunginya kapan saja saya mau.Sebenarnya waktu itu keluarga bapak mau menguburkannya di kuburan keluarga tapi saya tidak setuju. Yah…itu lah, belum sampai dua minggu saya harus mengurus dana pensiunnya sampai ke Jakarta dan harus ada tanda tangan Ibu Megawati saat itu. Syukur kepada Tuhan tidak sampai tiga bulan, dananya sudah bisa dicairkan.Ada saja orang yang menolong dan berbaik hati untuk urusan itu, padahal yang mengurusnya anak saya karena saya tidak bisa datang sampai ke Jakarta.Itulah Kuasa Tuhan yang Maha Baik dan luar biasa.
W : Apakah ada hal-hal yang masih ingin dicapai atau adakah harapan yang belum terwujud?
R : Ya….sekarang saya tinggal menanti kapan Tuhan memanggil, pengen anak saya yang tua itu cepat menikah karena sekarang umurnya sudah 35 tahun, kok belum ada tanda-tanda. Dia malah sibuk mengurus perkawinan atau masalah rumah tangga orang lain, tapi dia sendiri belum mau nikah.
W : Apa yang menjadi harapan ibu untuk kedepannya?
R : Mudah-mudahan saya diberi kesehatan yang baik, kehidupan keluargaanak saya bahagia, mendapat pasangan hidup yang seiman dan tetapsetia kepada Yesus, agar nanti saya meninggal dengan tenang.
9
Responden : Bp Petrus Djungadi Sudoko (R3)
Umur : 75tahun
Status / kondisi : Kawin / rentan
Waktu Wawancara : Selasa, 27 Mei 2014 jam 15.00-16.00WIB
Alamat : Ling St. Katarina, wilayah St. Bernadetta BantengBaru
W : Apakah punya anak atau tidak?
R : Anak saya tiga orang dan sudah punya rumah dan pekerjaan sendiri. W : Bagaimana dengan kesehatannya, apakah ada keluhan?
R :Yah…begitulah kalau sudah tua banyak keluhan-keluhan, misalnya
susahtidur, tenaga mulai melemah, mudah sakit terkadang tekanan darah turunnaik tidak stabil.
W : Bagaimana menghadapi setiap sakit atau penyakit?
R : Kalau sakit saya tidak terlalu masalah, paling minum obat atau istirahat,kalau terlalu dipikirkan malah sakit terus.
W : Apakah bapak masih mendengar dan melihat dengan baik, bagaimana daya ingatnya?
R : Semuanya masih baik, memang tidak lagi seperti waktu muda, sekarangsudah pakai kacamata dan daya ingat pun mulai menurun. W : Apa aktivitas bapaksehari-hari?
R : Seperti biasa karena sudah punya cucu, jadi kebanyakan waktu sayahabis untuk menemani cucu bermain supaya ibunya bisa menyelesaikanpekerjaan lain di rumah.
W : Apakah bapak sekarang masih tinggal bersama anak-anak atau tinggal sendiri?
R : Saya sekarang tinggal dengan anak yang nomor dua, anak yang lainkadang datang saat liburan Natal atau Paskah.
W : Bagaimana hubungan bapak dengan lingkungan sekitar?
R : Oh, hubungan kami di sini baik dengan tetangga, tidak ada masalahsaling menerima, toleransi beragama sangat baik.
W : Apakah bapa masih aktif mengikuti kegiatan rohani di lingkungan ataudi paroki?
R : Kalau mengikuti kegiatan di lingkungan saya kadang-kadang, misalnyadoa Rosario, misa lingkungan, namun untuk kegiatan lainnya saya jarangikut, kalau malam penglihatan sudah mulai kabur, kalau jauh tidakmampu jalan cepat.
W : Berapa kali dalam sebulan bapa mengikuti perayaan Ekaristi?
R : Kalau ke Gereja saya ikut Ekaristi setiap Minggu bersama anak,menantu dan cucu-cucu.
W : Apakah anak-anaknya sudah berhasil semua, bagaimana keluarganya?
R : Yah…., sekarang puji Tuhan sudah punya kerja dan usaha
sendiri,sehingga semuanya bisa mandiri, mungkin karena situasi waktu itusangat sulit sehingga memacu mereka untuk maju dan berani berjuang.Sekolahnya selesai semua dan langsung mencari kerja.Saya banggadengan anak-anak saya.
10
W : Apakah ada masalah dalam hal keuangan?
R : Selama ini, tentang keuangan semuanya tanggung jawab anaksaya. W : Apakah masih memiliki penghasilan tetap atau ada sumber dana yang
lain untuk keperluan sehari-hari?
R : Penghasilan saya sekarang cuma sedikit dari dana pensiun, dulusayapenah menjadi guru di salah satu sekolah selama tiga puluhtahun.
W : Bagaimana perasaan bapak dalam menghadapi masa tua?
R : Selama ini saya tidak terlalu pusing dengan masa tua, semuanya dijalaniapa adanya dan melakukan pekerjaan apa yang masih bisa saya kerjakan.
W : Apakah bapak mengalami kesepian?
R : Selama ini tidak, karena banyak kegiatan yang bisa dilakukan untukmengisi waktu yang ada.
W : Bagaimana bapak mengisi kesendiriannya? Apa yang dilakukan?
R : Selain mengasuh cucu saya bisa melakukan pekerjaan yang lain dirumah. Kalau yang pribadi seperti mencuci pakaian sendiri, doa, merawat tanaman di sekitar rumah, bersihkan kandang ayam.
W : Apakah di rumah atau di keluarga bapak memiliki kebiasaan doabersama?
R :Iya, di keluarga adik saya selalu ada doa bersama seperti doa malam danRosario bersama ketika bulan Maria. Kalau anak saya kumpul, seringmengadakandoa entah bentuknya syukuran atau apa. Keluarga yangdekat kumpul semua sekalian pesta kecil untuk kebersamaan.
W : Masalah apa yang paling berat bapa alami, mengapa?
R : Masalah berat yang saya alami ketika ibu (isteri saya) sakit hingga iameninggal. Saat itu saya merasa hampir putusasa, anak-anak belum adayang berhasil, semua perlu biaya.Selain itu biaya pengobatan ibu jugamahal saat keluar masuk dari rumah sakit, kurang lebih empat tahun. W : Apakah ada hal-hal yang masih ingin dicapai atau belum terlaksana? R :Untuk saat ini tidak ada, semuanya sudah diatur oleh Tuhan dan
sayatinggal menjalaninya.Saya pasrah pada yang Kuasa. W : Apa yang menjadi harapan bapa untuk kedepannya?
R : Harapan saya, semoga kehidupan keluarga anak-anak saya tetap rukun