MODEL PENDAMPINGAN IMAN YANG RELEVAN BAGI KAUM LANSIA DI WILAYAH ST. BERNADETTA BANTENG BARU PAROKI KELUARGA KUDUS BANTENG – YOGYAKARTA
S K R I P S I
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik
Oleh: Junaidi NIM: 101124051
PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
ii S K R I P S I
MODEL PENDAMPINGAN IMAN YANG RELEVAN BAGI KAUM LANSIA DI WILAYAH ST. BERNADETTA BANTENG BARU
PAROKI KELUARGA KUDUS BANTENG – YOGYAKARTA
iii S K R I P S I
MODEL PENDAMPINGAN IMAN YANG RELEVAN BAGI KAUM LANSIA DI WILAYAH ST. BERNADETTA BANTENG BARU
PAROKI KELUARGA KUDUS BANTENG – YOGYAKARTA
Dipersiapkan dan ditulis oleh Junaidi
NIM: 101124051
iv
PERSEMBAHAN
Skripsi ini ku persembahkan dengan hati yang tulus dan bahagia kepada:
Tuhan Yesus dan Bunda Maria yang selalu memberi semangat, kekuatan, pendampingan dan sahabatku yang setia dalam hidupku.
Kongregasi Suster Cinta Kasih (SdC)
Yang telah memberikan dukungan moral, spiritual dan finansial Para pendamping lansia di Paroki Keluarga Kudus Banteng
Serta
v MOTTO
“Ketika Tuhan memanggil dan kita mendengar-Nya, Dia beri semua yang kita perlukan.”
(Let. Amons. Lecoz, 28 Feb 1813; LD p.232)
“Marilah kepada-Ku semua yang berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
(Matius 11: 28)
vi
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 18 Desember 2014
vii
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
KARYANILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Yang bertanda tangan di bawah ini, mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Junaidi
NIM : 101124051
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, penulis memberikan wewenang bagi Perpustakaan Universitas Sanata Dharma, karya ilmiah penulis yang berjudul MODEL PENDAMPINGAN IMAN YANG RELEVAN BAGI KAUM LANSIA DI WILAYAH ST. BERNADETTA BANTENG BARU PAROKI KELUARGA KUDUS BANTENG – YOGYAKARTA beserta perangkat yang diperlukan (bila ada).
Dengan demikian penulis memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin maupun memberikan royalty kepada penulis, selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini penulis buat dengan sebenarnya.
Yogyakarta, 18 Desember 2014
Yang menyatakan,
viii ABSTRAK
Skripsi ini berjudul “MODEL PENDAMPINGAN IMAN YANG
RELEVAN BAGI KAUM LANSIA DI WILAYAH ST. BERNADETTA BANTENG BARU PAROKI KELUARGA KUDUS BANTENG – YOGYAKARTA”. Judul ini dipilih berdasarkan keprihatinan penulis akan pendampingan iman lansia khususnya di wilayah St. Bernadetta Banteng Baru, Paroki Keluarga Kudus Banteng. Berdasarkan pengamatan penulis, bentuk pendampingan yang sudah dilaksanakan bagi kaum lansia masih terbatas.
Menyikapi masalah di atas, penulis mengadakan wawancara dengan beberapa kaum lansia dalam status yang berbeda, juga melibatkan pengurus lansia untuk mencari imformasi tentang jumlah dan kegiatan lansia yang sudah pernah di laksanakan selama ini, baik di paroki maupun kegiatan di luar paroki.
Setelah mengetahui tentang jumlah pendampingan yang masih terbatas, maka diajukan pendampingan kateketis. Pendampingan adalah suatu usaha membantu orang lain untuk berproses, sehingga mampu berkembang dan mandiri. Pendampingan di sini lebih diartikan sebagai suatu proses menuju kepada kematangan dan kemandirian pribadi secara utuh. Maka, di dalam skripsi ini penulis membuat sekaligus menawarkan usulan program kateketis dalam rangka pendampingan iman lansia.
ix ABSTRACT
This thesis entitled “THE RELEVANT FAITH ASSISTANCE MODEL FOR THE ELDERLY FAITH OF ST. BERNADETTA BANTENG BARU IN KELUARGA KUDUS PARISH BANTENG – YOGYAKARTA”. The title was chosen based on the writer's concerns toward elderly faith assistance, especially of St. Bernadetta Banteng Baru in Keluarga Kudus parish, Banteng - Yogyakarta. Based on the writer's observation, the assistance designs which had been implemented for the elderly there were still limited.
Responding the problem above, the writer had conducted interviews with some elderly there in different status based on the degree of age, economics, social, and health. Moreover, the writer also involved coordinators of elderly communities to find information about how many assistance activities for elderly which had already been carried so far, whether it was in the parish, region, environment, or activities outside the parish.
After knowing the elderly situation and also the number of assistances which had been done, the writer proposed a catechetical assistance. A catechetical assistance is an attempt to help people growing to be an independent. This assistance is interpreted as a process which will lead people to be mature and independent in their personality as a whole. Therefore, in this paper the writer designs and then offers some suggestions for elderly assistance in Banteng Baru region.
x
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis haturkan atas kasih Allah yang tiada hentinya dicurahkan atas penulis, sehingga skripsi yang berjudul MODEL PENDAMPINGAN IMAN YANG RELEVAN BAGI KAUM LANSIA DI WILAYAH ST. BERNADETTA BANTENG BARU PAROKI KELUARGA KUDUS BANTENG – YOGYAKARTA.
Skripsi ini penulis susun sebagai bentuk kepedulian dan keprihatinan terhadap kaum lansia serta pendampingannya baik secara jasmani maupun rohani, sebagai umat Katolik di wilayah St. Bernadetta Banteng Baru, Paroki Keluarga Kudus Banteng. Bertolak dari situasi tersebut, penulis tertarik untuk membantu pendampingan kaum lansia melalui beberapa usulan kegiatan seperti, bentuk pendampingan devosi, home care, Coffee Morning, penerapan metode Spritual Night Care, membentuk kelompok pendalaman iman.
xi
Baru, Paroki Keluarga Kudus Banteng. Selain itu, skripsi ini juga disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Berkat dukungan, bimbingan dan pendampingan serta kerjasama yang baik dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga penulisan skripsi ini bisa diselesaiakan dengan baik. Oleh karena itu dengan penuh rasa syukur perkenankanlah penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada mereka yang sangat berjasa berikut ini:
1. Yoseph Kristianto, SFK., M.Pd. selaku dosen pembimbing utama yang telah setia membimbing dan mendampingi, mengarahkan, memberikan masukan-masukan dalam menyelesaikan skripsi ini.
2. F.X. Dapiyanta, SFK., M.Pd. selaku dosen penguji sekaligus dosen pembimbing akademik yang telah memberikan banyak perhatian dan mendukung seluruh proses studi penulis di IPPAK.
3. P. Banyu Dewa. H. S, S.Ag., M.Si selaku dosen penguji ketiga yang telah berkenan memberikan dukungan dan bimbingan dalam perjalanan penyelesaian skripsi ini.
4. Drs. F.X. Heryatno Wono Wulung, SJ. M.Ed. selaku Kaprodi IPPAK-USD Yogyakarta, yang telah memberikan izin kepada penulis untuk menyusun skripsi dari awal hingga akhir proses penulisan skripsi ini.
xii
yang secara tidak langsung memberikan dukungan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
6. Segenap staf perpustakaan Kolese St. Ignatius Kotabaru dan perpustakaan IPPAK serta perpustakaan pusat Universitas Sanata Dharma yang begitu murah hati telah mengizinkan penulis menggunakan berbagai buku yang diperlukan dalam penulisan skripsi ini sampai selesai.
7. Karl-Edmund Prier, SJ. Lic. Phil. sebagai pembimbing rohani saya yang selalu setia memberikan pendampingan, semangat serta dukungan selama studi di IPPAK, sehingga saya merasa diteguhkan dan dikuatkan dalam panggilan sebagai religius.
8. Pimpinan dan anggota para Suster Cinta Kasih (SdC) dari Santa Yohana Antida Thouret yang telah memberikan kepercayaan, kesempatan serta dukungan dalam bentuk apapun bagi penulis selama studi di IPPAK.
9. Aloysius Kriswinarto, MSF selaku Romo Paroki Keluarga Kudus Banteng 10.Ign. Y. Kristio Budiasmoro selaku ketua lingkungan St. Yacinta dan Theresia
Retna Sukeksi HS selaku tim pewarta di lingkungan St. Katarina yang telah membantu penulis untuk pendataan kaum lansia di lingkungannya masing-masing.
11.Emelia Suyanti Tulus dan P. Andreas selaku koordinator kelompok lansia serta kaum lansia yang ada di Wilayah Banteng Baru
xiii
selalu bersemangat dan dikuatkan untuk terus berjuang dari awal sampai akhir studi di IPPAK.
13.Semangat persaudaraan dan kebersamaan dari teman-teman Choice yang selalu memberikan dukungan serta semangat bagi penulis untuk terus maju dan berjuang.
14.Kedua orang tua saya Hadrianus Aman dan Fransiska Supin serta adik saya Victor Julin dan Fransiskus Erdianto yang selalu memberikan dukungan lewat cinta dan perhatian mereka.
15.Teman-teman yang setia memberikan perhatiannya, dengan rela hati membantu penulis dalam proses penulisan skripsi ini, yakni, Sr Auksilia CIJ, Sr. Verena SSps, Berno Beding, Br. Hironimus MTB, Br. Poly Carpus BM. 16.Semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu yang telah
mendukung dan memberikan kontribusi positif dalam proses penulisan skripsi ini sehingga dapat penulis selesaikan.
Yogyakarta, 18 Desember 2014
Penulis,
xiv DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ……….. i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ……….…... ii
HALAMAN PENGESAHAN ………..….. iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ……….... iv
MOTTO ………. v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ……….... vi
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ……… vii
ABSTRAK ………. viii
ABSTRACT ………... ix
KATA PENGANTAR ………... x
DAFTAR ISI ……….. xiv
DAFTAR SINGKATAN ………... xxiii
BAB I. PENDAHULUAN ………. 1
A. Latar Belakang ………... 1
B. Rumusan Masalah ……….. 5
C. Tujuan Penulisan ……… 5
D. Manfaat Penulisan ……….. 6
E. Sistematika Penulisan ……… 8
BAB II. DINAMIKA KEHIDUPAN KAUM LANSIA ……… 9
xv
B. Tahap Perkembangan Kaum Lansia ……….. 10
1. Perkembangan Kaum Lansia Berdasarkan Wataknya …………. 11
a. Tipe optimis ………... 11
b. Tipe militant ………... 11
c. Tipe pemarah yang gampang frustasi ……… 11
d. Tipe putus asa ………. 11
2. Perkembangan Kaum Lansia Berdasarkan Usia ……….. 11
a. Werdha madya ………... 11
b. Werdha utama ……… 11
c. Werdha prawasana ………. 11
d. Werdha wasana ……….. 12
3. Perkembangan Kaum Lansia berdasarkan Bidang Ekonomis …. 12 a. Kelompok kaum lansia yang sudah uzur ………... 12
b. Kelompok kaum lansia yang produktif ……….. 12
C. Ciri - ciri Kaum Lansia ……….. 13
1. Kaum Lansia Merupakan Periode Kemunduran ……….. 13
2. Perubahan Individual pada Efek Menua ……….. 14
3. Menua Membutuhkan Perubahan Peran ………... 14
4. Penyesuaian yang Buruk ……….. 14
5. Keinginan Menjadi Muda Kembali ……….. 15
6. Penurunan Fungsi Kognitif dan Psikomotorik ………. 15
7. Perubahan Aspek Psikososial ………... 15
xvi
b. Tipe kepribadian mandiri ………... 16
c. Tipe kepribadian tergantung ……….. 16
d. Tipe kepribadian bermusuhan ……… 16
e. Tipe kepribadian kritik diri ……… 16
8. Perubahan Minat pada Kaum Lansia ………... 16
a. Minat pribadi ……….. 16
b. Minat untuk rekreasi ……….. 17
c. Minat sosial ……… 17
9. Perubahan dalam Peran Sosial di Masyarakat ………. 17
D. Masalah-masalah yang Dihadapi oleh Kaum Lansia ………. 19
1. Permasalahan Umum ...……… 19
a. Perubahan Fisik ……….. 19
b. Masalah kesehatan ………. 21
2. Masalah Psikologis ……….. 22
a. Dukacita (bereavement).………..…….……….. 22
b. Depresi ………... 23
c. Gangguan cemas ...………….……… 23
d. Psikosis pada usia lanjut ……… 23
e. Kaum lansia mengalami kebingungan ………... 24
3. Masalah Sosial ……….……… 25
4. Masalah Ekonomi ………..………. 26
E. Masa Lansia yang Membahagiakan ………... 27
xvii
a. Teori disengagement ……….. 28
b. Teori activity ……….. 28
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebahagiaan Kaum Lansia .. 30
a. Optimis serta perasaan efikasi diri ………. 30
b. Optimisasi secara selektif ………... 30
c. Penerimaan diri dan memiliki harapan yang kuat ………….. 30
d. Memperkuat pengaturan emosional diri ....……….…... 30
e. Menerima perubahan ……….. 30
f. Peran spritualitas dan keyakinan yang matang ……….. 30
g. Kontrol pribadi dalam hal ketergantungan dan kemandirian 30 h. Kualitas hubungan yang tinggi ……….…………. 30
i. Kepuasan hidup bagi kaum lansia ………. 30
3. Upaya untuk Menciptakan Kebahagiaan Kaum Lansia ………... 32
a. Memberi kesempatan kepada kaum lansia ………. 32
b. Perlu adanya pengawasan ……….. 32
c. Hindari kegiatan yang beresiko ……….. 32
d. Keluarga bisa aktif menciptakan suatu kegiatan ……… 33
e. Memberikan motivasi …….………... 33
4. Kesiapan Kaum Lansia dalam Menghadapi Kematian ………… 33
BAB III. GAMBARAN UMUM MODEL PENDAMPINGAN IMAN KAUM LANSIA……… 35 A. Model Pendampingan Iman Kaum Lansia ……….. 35
xviii
2. Tujuan Pendampingan Iman bagi Kaum Lansia ……….. 37
3. Manfaat Pendampingan Iman bagi Kaum Lansia ……….... 37
a. Agar kaum lansia semakin memiliki iman yang tangguh ….. 38
b. Supaya kaum lansia siap menjalani masa tuanya …………... 38
c. Supaya kaum lansia menyadari bahwa hidup adalah hadiah dari Allah ……… 38
d. Supaya kaum lansia mampu mensyukuri kepribadian yang semakin matang ……….. 38
e. Supaya kaum lansia mengalami kasih Allah yang utuh ……. 38
f. Supaya kaum lansia tidak mudah putus asa ………... 38
g. Agar kaum lansia memiliki kesiapan jiwa ………. 38
h. Kaum lansia dapat mensyukuri masa tuanya sebagai kesempatan untuk mempersiapkan diri menuju kebahagiaan abadi ………... 38
4. Syarat-syarat Pendampingan Iman ………... 39
a. Memiliki kesabaran ……… 39
b. Memiliki pengetahuan ……… 40
c. Memiliki ketulusan hati ………. 40
d. Memiliki sikap percaya ……….. 41
e. Memiliki sikap rendah hati …….………... 42
f. Mempunyai harapan yang kuat ……….. 42
g. Memiliki sikap keberanian ………. 43
xix
1. Devosi ………...………... 43
a. Pengertian Devosi ……….. 43
b. Bentuk - bentuk Devosi ……….. 45
c. Manfaat Devosi ……….. 46
2. Home Care ………... 48
a. Maksud dan Pelaksanaan Program Home Care ………. 48
b. Tujuan Pelaksanaan Program Home Care ………. 49
c. Sasaran ……….. 50
d. Kegiatan yang Dilaksanakan ……….. 51
e. Proses / Cara Pelaksanaan Program Home Care …………... 51
3. Coffee Morning ... 53
4. Penerapan Metode Spritual Night Care ………... 54
5. Kelompok Pendalaman Iman ………... 55
C. Pelayanan Pastoral Katekese bagi Kaum Lansia ………... 55
1. Pengertian Katekese Bagi Kaum Lansia ……….. 55
2. Tujuan Katekese Bagi Kaum Lansia ……… 56
3. Fungsi Katekese Bagi Kaum Lansia ……… 57
4. Isi Katekese Bagi Kaum Lansia ………... 57
5. Bentuk Katekese Bagi Kaum Lansia ………... 58
6. Peserta Katekese ………... 59
xx
A. Keadaan Kaum Lansia di Wilayah Banteng Baru Paroki Keluarga
Kudus Banteng –Yogyakarta ………... 61
1. Permasalahan Kaum Lansia Secara Kelompok dan Pribadi …… 62
a. Masalah Kesehatan ………...………. 63
b. Masalah Usia ………...………... 65
c. Masalah Ekonomi ………...…………... 67
d. Masalah sosial ……… 68
2. Harapan-harapan Kaum Lansia ……… 70
a. Mengikuti kegiatan yang ada secara rutin ……….. 71
b. Kegiatan untuk kaum lansia perlu diperbanyak lagi sesuai kebutuhan ………... 71
c. Tetap sehat dimasa tuanya ………. 72
d. Lebih mendekatkan diri pada Tuhan ……….. 73
e. Memiliki ketenangan jiwa dan berbahagia dimasa tua …….. 74
B. Pendampingan Kaum Lansia Di Wilayah St. Bernadetta Banteng Baru Paroki Keluarga Kudus Banteng –Yogyakarta ……… 75 1. Senam pagi ………... 76
2. Aktif dalam Kelompok Legio Maria ……… 77
3. Tugas koor di paroki ...………. 78
4. Mengikuti Kegiatan Khusus Bagi Kaum Lansia pada Hari Raya Natal dan Paskah ………. 78
5. Kunjungan Rohani ke Paroki-paroki lain ………. 78
xxi
7. Penyuluhan Tentang Kesehatan ………... 79
C. Berbagai Kemungkinan Program yang Dapat Ditawarkan untuk Pendampingan Kaum Lansia di Wilayah St. Bernadetta Banteng Baru ……… 79
1. Devosi ……….. 79
2. Home Care ………... 80
3. Coffee Morning ... 81
4. Penerapan Metode Spritual Nigh Care ... 81
5. Kelompok Pendalaman Iman ………... 82
BAB V. PENUTUP ……… 83
A. Kesimpulan ……… 83
1. Keadaan Kaum Lansia di Wilayah St. Bernadetta Banteng Baru, Paroki Keluarga Kudus Banteng ……….. 85
2. Harapan Kaum Lansia di Wilayah St. Bernadetta Banteng Baru, Paroki Keluarga Kudus Banteng ……….. 86
B. Saran ………... 87
1. Bagi Paroki dan Team Pastoral Paroki Keluarga Kudus Banteng Yogyakarta ……….. 87
2. Bagi Kaum Lansia di Wilayah St. Bernadetta Banteng Baru Paroki Keluarga Kudus Banteng ……….. 88
xxii
LAMPIRAN ………... 91
xxiii
DAFTAR SINGKATAN
A. Singkatan Kitab Suci
Mat : Matius
Yes : Yesaya
Ams : Amsal
Ayb : Ayub
Mzm : Mazmur
Ul : Ulangan
Rat : Ratapan
PB : Perjanjian Baru
B. Singkatan Dokumen Resmi Gereja
DV : Dei Verbum (Dokumen Konsili Vatikan II Tentang Wahyu Ilahi)
CT : Catechesi Tradendae (Ajaran Apostolik Paus Yohanes Paulus II Tentang Katekese Masa Kini
C. Singkatan Lain
SdC : Suora della Carita (Suster Cinta Kasih)
St : Santa
Let : Leter
xxiv
UU : Undang-undang
UUD : Undang-undang Dasar RI : Republik Indonesia
PBB : Perserikatan Bangsa-bangsa PIA : Pendidikan Iman Anak PIR : Pendidikan iman remaja OMK : Orang Muda Katolik
PKKI : Pertemuan Kateketik antar- Keuskupan se-Indonesia
Bdk : Bandingkan
Lam : Lampiran
No : Nomor
Hal : Halaman
Brs : Baris
Dll : Dan lain-lain
RT : Rumah Tangga
WKRI : Wanita Katolik Republik Indonesia
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kita tidak dapat memungkiri bahwa tidak jarang kita mendengar, membaca, bahkan mengucapkan sendiri kata “lansia” yang merupakan singkatan
dari “lanjut usia”. Tentunya, tergambar secara pasti dalam benak kita tentang
suatu keadaan yang sangat jauh berbeda dari keadaan semula 30 tahun sebelumnya. Kita pun menemukan beberapa istilah lain, selain “lansia” yang
Hal ini menggiring penulis pada pemahaman bahwa menjadi tua adalah suatu proses alamiah dalam tubuh manusia.
Umumnya, orang menyebut kelompok “lansia” sebagai orang yang sudah
dewasa karena mempunyai kemampuan menghadapi tantangan fisik, psikologis, sosial, moral maupun iman.Kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua lansia itu mampu menghadapi tantangan hidupnya.Karena tidak mampu menghadapi tantangan hidupnya lansia cenderung memilih jalan bunuh diri.Di Perancis kurang lebih 158 orang dari 100. 000 orang lansia di atas usia 55 tahun memilih jalan bunuh diri (Sartika, Maret 1988).
UU No.13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan "lanjut usia", terdapat pendeskripsian bahwa "lanjut usia" dibedakan menjadi "lanjut usia" potensial dan "lanjut usia" tidak potensial. Potensial atau tidaknya seorang yang lanjut usia sangat mempengaruhi perkembangan, baik secara fisik, mental, sosial, psikologis, bahkan iman yang dianutnya. Hal ini pun mempengaruhi timbulnya permasalahan pada setiap aspek tersebut sehingga mengakibatkan perubahan sikap dan mental dalam pemenuhan kebutuhan hidup setiap hari. Selain itu, usia pun dapat mempengaruhi perubahan fisik dan mental seorang yang lanjut usia. Semakin panjangnya usia, akan berimplikasi pada permasalahan sosial yang berkaitan dengan kondisi fisik, psikologis, sosial, ekonomi, bahkan iman dimana jumlah orang yang tergolong lansia semakin meningkat.
di masyarakat.Krisis ekonomi, kesepian (syndrome), minder, keinginan untuk menjadi muda kembali karena merasa ditolak dan beranggapan bahwa hidupnya sudah tidak berguna lagi, dan ketakutan menghadapi kematian juga menjadi masalah yang mendominasi kehidupan kaum lansia.
Kenyataan di atas menggerakkan setiap orang, bahkan lembaga atau institusi untuk secara khusus memperhatikan kaum lansia. Perhatian kepada kaum lansia diakui secara internasional dengan disepakatinya Vienna International Plan of Action on Aging on pada tahun 1982 oleh PBB melalui Resolusi No. 45/106,
yang menyatakan bahwa pada tanggal 1 Oktober 1982 sebagai Hari Internasional Lanjut Usia.
Perhatian dan pembinaan terhadap kaum lansia di bidang kesehatan dan sosial, sudah menjadi kesadaran publik.Hal ini terbukti dengan adanya panti-panti Werdha di seluruh Indonesia (Sartika, 1988).Namun, pembinaan di bidang iman sungguh masih memprihatinkan.Bahkan, hampir setiap keuskupan dan paroki membentuk kelompok kategorial lansia, tetapi belum maksimal dalam pelaksanaannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa kaum lansia di wilayah St. Bernadetta Banteng Baru,Paroki Keluarga Kudus Banteng memiliki harapan untuk dapat memperoleh pembinaan, khususnya pembinaan iman, agar mereka semakin mampu menghadapi tantangan dan permasalahan yang semakin kompleks.
di kelompok Legio Maria, senam pagi, serta kegiatan lainnya. Semua kegiatan tersebut tidak sepenuhnya terlaksana.Kegiatan kelompok lansia yang masih aktif sampai sekarang adalah senam pagi dan koor di Gereja.Kegiatan ini dimaksudkan agar para lansia mengisi hari-hari hidupnya dengan penuh makna dan sukacita dan siap dalam menjalani masa tuanya.
Dibalik persoalan yang dihadapi oleh kaum lansia, mereka juga memiliki harapan-harapan sehingga memacu untuk terus berjuang hidup agar tidak merasa putusasa dalam menjalani masa tuanya. Adapun yang menjadi harapan para lansia secara umum adalah mereka ingin terbebaskan dari rasa sepi (syndrome), dapat hidup bahagia “merasa diterima,” kematangan dalam iman, menemukan makna hidup, bisa ikut ambil bagian dalam kehidupan dan cinta kasih Allah, siap menghadapi panggilan Tuhan, penuh syukur dan bersukacita.
Sisi lain, berdasarkan beberapa persoalan yang dialami oleh kaum lansia di atas, penulis merasa tertantang untuk bisa ikut ambil bagian, serta memberikan perhatian bagi mereka melalui usulan model-model pendampingan yang relevan. Hal ini diharapkan agar para lansia khususnya yang ada di wilayah St. Bernadetta Banteng Baru, Paroki Keluarga Kudus Banteng, dapat menjalani masa tuanya dengan penuh kegembiraan dan siap menghadapi tantangan yang ada. Selain itu, apa yang menjadi harapan mereka dapat terpenuhi sehingga masa tua tidak menjadi beban namun merupakan persiapan untuk menuju kebahagiaan abadi yang patut disyukuri. Dengan demikian, judul skripsi yang diangkat oleh penulis
adalah “MODEL PENDAMPINGAN IMAN YANG RELEVAN BAGI KAUM
KELUARGA KUDUS BANTENG - YOGYAKARTA”.Penulis juga ingin menghadirkan suatu metode pendampingan iman, yaitu metode katekese dengan harapan bahwa iman mereka terus tumbuh dan semakin teguh. Dengan demikian, para lansia akan lebih mudah meneima masa tuanya dan menyadari bahwa hidup ini adalah sebagai hadiah Allah. Hidup dengan segala pemberian-Nya perlu diterima dengan penuh syukur.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka ada beberapa permasalahan yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan lansia?
2. Apa saja permasalahan yang dihadapi oleh para lansia, khususnya bagi lansia di wilayah St. Bernadetta Banteng Baru, Paroki Keluarga Kudus Banteng? 3. Apa yang menjadi harapan kaum lansia?
4. Bentuk pendampingan apa saja yang cocok untuk mengatasi masalah lansia, sebagai bentuk usaha yang dapat dilakukan untuk memenuhi harapan mereka, khususnya bagi kaum lansia di wilayah St. Bernadetta Banteng Baru, Paroki Keluarga Kudus Banteng?
C. Tujuan Penulisan
2. Penjelasan tentang permasalahan yang dihadapi oleh para lansia di wilayah St. Bernadetta Banteng Baru Paroki Keluarga Kudus Banteng.
3. Memaparkan harapan-harapan para lansia.
4. Mendeskripsikan model pendampingan yang relevan bagi kaum lansia, selain model pendampingan yang sudah ada di Paroki, sebagai bentuk usaha yang telah dilakukan Paroki, agar dapat memenuhi harapan-harapan lansia, khususnya yang ada di wilayah St. BernadettaBanteng Baru, Paroki Keluarga Kudus Banteng.
D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat yang diharapkan penulis dari hasil penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi Penulis
a. Membantu untuk mengetahui permasalahan yang dialami oleh kaum lansia, sekaligus sebagai bahan informasi bagi tim pewarta paroki dan keluarga dalam upaya untuk meningkatkan pendampingan iman kaum lansia.
b. Menambah pengetahuan dan pemahaman bagi penulis tentang model pendampingan iman yang relevan bagi kaum lansia.
2. Bagi Lansia
a. Supaya para lansia semakin memiliki iman yang tangguh dalam menjalani masa tuanya.
b. Supaya para lansia siap dalam menjalani masa tuanya dan mengisi hari-hari hidupnya dengan penuh makna dan sukacita.
c. Supaya para lansia menyadari bahwa hidup ini adalah sebagai hadiah Allah. d. Supaya para lansia mampu mensyukuri bahwa di masa usia lanjut mengalami
kepribadian yang semakin berkembang, menjadi semakin utuh dan arif melalui pasang surutnya hidup.
e. Supaya para lansia mengalami kasih Allah yang utuh melalui perhatian dari Gereja yakni semua yang terlibat dan bertanggung jawab atas kelangsungan hidup mereka.
f. Supaya tidak mudah putusasa dalam menghadapi tantangan hidup, tetapi semakin yakin akan kasih Allah yang menguatkan melalui orang-orang disekitarnya.
g. Supaya kaum lansia memiliki kesiapan jiwa, semakin mendekatkan diri dengan Allah dan berpasrah sehingga ia mampu menerima masa tuanya dengan tulus bukan sebagai beban.
E. Sistematika Penulisan
Gambaran umum tentang isi keseluruhan pembahasan yang akan di paparkan dalam penulisan ini, penulis deskripsikan dalam gagasan-gagasan pokok sebagai sistematika penulisan, demikian:
BAB I berisikan pendahuluan yang meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB II berisikan tentang dinamika kaum lansia yang meliputi pengertian lansia, tahap perkembangan kaum lansia,ciri-ciri kaum lansia, masalah-masalah yang dihadapi oleh kaum lansia, masa lansia yang membahagiakan.
BAB III membahas gambaran umum pendampingan kaum lansia yang meliputi pengertian pendampingan iman kaum lansia, tujuan pendampingan iman lansia, manfaat pendampingan iman lansia, unsur-unsurpendampingan iman.Kemudian membahas juga tentang pendampingan melalui devosi dan pelayanan pastoral kateketis: pengertian devosi, bentuk-bentuk devosi, manfaat devosi, model pelayanan pastoral katekese bagi kaum lansia, pendekatan kateketis, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelayanan kateketis, memperhatikan dan menggunakan waktu luang, serta bentuk pelayanan pastoral kateketis.
BAB II
DINAMIKA KEHIDUPAN KAUM LANSIA
A. Pengertian Kaum Lansia
Potter dan Perry (2005) mendefinisikan kaum lansia atau masa dewasa tua adalah seseorang baik laki-laki maupun perempuan dimulai pada tahap setelah pensiun, biasanya antara usia 65 dan 75 tahun. Pernyataan ini dipertegas oleh Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI (2001) bahwa di Indonesia batasan lansia yang tercantum dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 1998 tentang kesejahteraan kaum lansia, demikian; “Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas.Lansia adalah suatu keadaan yang ditandai oleh gagalnya seorang dalam mempertahankan keseimbangan terhadap kesehatan dan kondisi stres fisiologis.Lansia juga berkaitan dengan penurunan daya kemampuan untuk hidup serta peningkatan kepekaan secara individual.
tampak tanda-tanda penuaan, baik secara fisik maupun psikologis sehingga mengakibatkan perubahan-perubahan dalam hidup mereka.
Kusumo Putro (Suardiman, 2011:3) menyebutkan bahwa proses menua adalah proses alami yang disertai adanya penurunan fisik, psikologis, maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Artinya, penurunan fisik mempengaruhi psikis maupun sosial, sementara penurunan psikis mempengaruhi fisik dan sosial serta sebaliknya.Dengan demikian, pandangan tersebut dapat membawa dampak pada perkembangan masa lansia seseorang.Artinya, kita dapat mendeskripsikan bahwa perkembangan masa lansia merupakan tahapan akhir dari siklus perkembangan manusia.Hal ini disebut juga sebagai periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Masa ini dimulai dari usia enam puluh tahun sampai meninggal, yang ditandai dengan adanya perubahan fisik dan psikologis yang semakin menurun pada seseorang. Proses menua pada perkembangan masa lansia adalah proses alamiah yang disertai menurunnya perkembangan manusia.
B. Tahap Perkembangan Kaum Lansia
1. Perkembangan Kaum Lansia Berdasarkan Wataknya
Prof. Dr. Utoyo Sukaton mengatakan bahwa kondisi kaum lansia banyak tergantung pada watak, pengalaman hidup, kondisi fisik, sosial ekonomi dan lingkungan. Kaum lansia juga dapat dicirikan dalam empat tipe, yakni:
a. Tipe Optimis adalah tipe kaum lansia yang santai, riang (the rocking chairman atau the rocking chairwomen);
b. Tipe militant,yaitu tipe kaum lansia yang serius (the armoured man); c. Tipe pemarah yang gampang frustasi (the angry man);
d. Tipe putusasa:tipe kaum lansia yang benci pada dirinya sendiri, ingin mati saja (the self hating man/women).
2. Perkembangan Kaum Lansia Berdasarkan Usia
Badan Kesehatan Dunia (WHO) (Ciptaprawiro, 1990) menetapkan, pembagian umur kaum lansia meliputi empat tingkatan, yaitu:
a. Werdha Madya (Middle Age) untuk umur 45-59 tahun b. Werdha Utama (Elderly) untuk umur 60-70 tahun c. Werdha Prawasana (Old) untuk umur 75-90 tahun d. Werdha Wasana (Very Old) untuk usia 90 tahun ke atas.
Hal tersebut senada dengan Prayitno (1994) bahwa pembagian umur lansia meliputi empat tingkatan, yaitu:
a. Usia pertengahan (middle age) untuk usia 60-64 tahun b. Yunior old untuk usia 65-74 tahun
d. Sangat tua (very old) untuk usia 90 tahun ke atas
Sedangkan, Hurlock (2002: 241) menjelaskan bahwa tahap terakhir dalam perkembangan lansia dibagi menjadi: usia lanjut dini yakni 60 – 70 tahun, dan lansia 70 tahun hingga akhir hidup seseorang, orang tuamuda atau usia tua (usia 65 – 74 tahun) dan orang tua yang tua atau usia tua akhir (75 tahun ke atas) dan orang tua lanjut (85 tahun atau lebih) dari orang-orang dewasa lanjut yang lebih muda.
Kaum lansia tidak identik dengan kelemahan, kepikunan, kesepian, dan sakit-sakitan. Ilmu pengetahuan yang luas dan semangat untuk belajar terus-menerus akan menjadi bekal yang sangat bermanfaat dalam mengisi sisa hidup di hari tua.
3. Perkembangan Kaum Lansia Berdasarkan Bidang Ekonomis
Suardiman (2011: 11) menyatakan bahwa secara ekonomis, kaum lansia dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok, yaitu:
a. Kelompok kaum lansia yang sudah uzur, pikun (senile) yaitu mereka yang sudah tidak mampu lagi untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.
b. Kelompok kaum lansia yang produktif, yaitu mereka yang mampu memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
UUD RI No. 13 tahun 1998 (Suardiman, 2011: 2) mengutip tentang kesejahteraan kaum lansia terdapat dalam pasal 1 ayat 2 menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan kaum lansia adalah seseorang yang berusia 60 tahun ke atas. Pasal 5 ayat 1 disebutkan bahwa, kaum lansia mempunyai hak yang sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kemudian, dalam pasal 6 ayat 1 menyatakan, bahwa lansia mempunyai kewajiban yang sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa perkembangan kaum lansia merupakan periode dimana seseorang telah mencapai kematangan dalam proses kehidupan, namun telah menunjukkan kemunduran fungsi pada organ tubuh sejalan dengan bertambahnya waktu dan usia seseorang.Tahap lansia dimulai dari usia 60 tahun sampai meninggal. Tahap ini biasanya ditandai dengan adanya perubahan baik dari segi fisik maupun psikologis yang semakin menurun, namun kaum lansia tetap memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam kehidupan sosial.
C. Ciri-ciri Kaum Lansia
1. Kaum Lansia Merupakan Periode Kemunduran
mengakibatkan sikap tidak senangterhadap diri sendiri, orang lain, pekerjaan yang disebabkan karena adanya perubahan pada lapisan otak.
2. Perubahan Individual pada Efek Menua
Proses penuaan mempengaruhi setiap orang secara berbeda berdasarkan latar belakang yang berbeda pula. Namun, secara umum bahwa penuaan fisik lebih cepat dibandingkan dengan penuaan mental, walaupun hal sebaliknya juga kadang-kadang terjadi, terutama apabila seseorang sangat memikirkan proses penuaannya secara fisik dan psikologis, Hurlock (1980: 381).
3. Menua Membutuhkan Perubahan Peran
Hurlock (1980: 384) menjelaskan bahwa keterbatasan fisik yang terjadi pada kaum lansia mengakibatkan perubahan peran dalam urusan masyarakat dan sosial, demikian juga halnya dalam dunia usaha dan profesionalisme.Kaum lansia tidak bisa bersaing dengan orang-orang yang lebih muda dalam berbagai bidang tertentu.
4. Penyesuaian yang Buruk
5. Keinginan Menjadi Muda Kembali
Hurlock (1980: 385) mengungkapkan bahwa terjadinya perubahan-perubahan baik secara fisik maupun psikologis pada kaum lansia, menimbulkan keinginan baru untuk tetap menjadi muda kembali dengan melakukan berbagai cara untuk menutupi keadaan yang sesungguhnya supaya tetap terlihat muda. Namun, usaha tersebut tidak bisa menghalangi terjadinya proses menua.
6. Penurunan Fungsi Kognitif dan Psikomotorik
Menurut pendapat Hurlock (1980: 390) umumnya setelah orang memasuki lansia, maka ia mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, pengertian, pemahaman,persepsi, kreativitas dan perhatian sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku kaum lansia menjadi semakin lambat. Sementara itu, fungsi psikomotorik (konatif) meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi, yang berakibat bahwa kaum lansia menjadi kurang cekatan.
7. Perubahan Aspek Psikososial
b. Tipe Kepribadian Mandiri (independent personality); kaum lansia tipe ini ada kecenderungan mengalami post power syndrome, apalagi jika pada masa lansia tidak diisi dengan kegiatan yang dapat memberikan otonomi pada dirinya.
c. Tipe Kepribadian Tergantung (dependent personalitiy); pada tipe ini biasanya sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan keluarga selalu harmonis maka pada masa lansia tidak bermasalah, tetapi jika pasangan hidup meninggal maka pasangan yang ditinggalkan akan menjadi merana, apa lagi jika tidak segera bangkit dari kedukaannya.
d. Tipe Kepribadian Bermusuhan (hostility personality); pada tipe ini setelah memasuki lansia tetap merasa tidak puas dengan kehidupannya, banyak keinginan yang kadang-kadang tidak diperhitungkan secara seksama sehingga menyebabkan kondisi ekonominya menjadi tidak teratur.
e. Tipe kepribadian kritik diri (self hate personality); kaum lansia tipe ini umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya sendiri sulit dibantu orang lain atau cenderung membuat susah dirinya.
8. Perubahan Minat pada Kaum Lansia
Seiring bertambahnya usia, kaum lansia mengalami berbagai persoalan baik secara fisik maupun psikis. Selain itu, kaum lansia juga mengalami perubahan minat.Hurlock (1980: 394) menguraikan ada beberapa perubahan minat yang terjadi pada kaum lansia, seperti:
b. Minat untuk rekreasi: beberapa perubahan dalam kegiatan sering dilakukan karena memang tidak dapat dielakkan.
c. Minat sosial: salah satu teori sosial mengenai penuaan adalah teori pemisahan (disengagement theory) menyatakan bahwa kaum lansia secara perlahan-lahan
menarik diri dari kegiatan kemasyarakatan, yaitu suatu proses pengunduran diri secara timbal balik pada masa lansia dari lingkungan sosial.
Erikson menegaskan bahwa ada beberapa tekanan yang membuat kaum lansia menarik diri dari keterlibatan sosial, seperti:
a. Ketika masa pensiun tiba dan lingkungan berubah, orang mungkin lepas dari peran dan aktifitasnya selama ini.
b. Penyakit dan menurunnya kemampuan fisik dan mental, membuat ia terlalu memikirkan dirinya sendiri secara berlebihan.
c. Orang-orang yang lebih muda di sekitarnya cenderung menjauh dari mereka. d. Pada saat kematian semakin mendekat, orang memiliki keinginan untuk membuang semua hal yang tidak bermanfaat lagi bagi dirinya.
9. Perubahan dalam Peran Sosial di Masyarakat
beruntung karena anggota keluarga seperti anak, cucu, cicit, sanak saudara bahkan kerabat umumnya ikut membantu memelihara (care) dengan penuh kesabaran dan pengorbanan. Namun, bagi mereka yang tidak punya keluarga atau sanak saudara karena hidup membujang, atau punya pasangan hidup namun tidak punya anak dan pasangannya sudah meninggal, apalagi hidup dalam perantauan sendiri, seringkali menjadi terlantar.
Hal ini membawa dampak pada perkembangan psikis kaum lansia, mereka bisa menjadi stres.
Selain itu, Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI (2001) yang dikutip oleh Suardiman (2011: 8)memaparkan bahwa usia lanjut sehat adalah masa yang dapat mempertahankan kondisi fisik dan mental yang optimal serta tetap melakukan aktivitas sosial yang produktif. Depkes dan Kesejahteraan sosial menguraikan ciri-ciri kaum lansia yang tergolong sehat, sebagai berikut: a. Memiliki tingkat kepuasan hidup yang relatif tinggi karena merasa hidupnya bermakna, mampu menerima kegagalan yang dialaminya sebagai bagian dari hidupnya yang tidak perlu disesali dan justru mengandung hikmah yang berguna bagi hidupnya.
b. Memiliki integritas pribadi yang baik berupa konsep diri yang tepat dan terdorong untuk terus memanfaatkan potensi yang dimilikinya.
d. Memiliki kesehatan fisik dan mental yang baik, didukung oleh kemampuan melakukan kebiasaan dan gaya hidup yang sehat.
e. Memiliki kemampuan finansial yang menginginkan hidup mandiri, tidak menjadi beban orang lain, minimal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
f. Pengendalian pribadi atas kehidupan sendiri sehingga dapat menentukan nasibnya sendiri, tidak tergantung pada orang lain. Hal ini dapat menjaga kestabilan harga dirinya.
D. Masalah-masalah yang Dihadapi oleh Kaum Lansia
Secara umum, beberapa permasalahan yang terjadi pada kaum lansia dalam penyesuaian diri dan sosial, misalnya meningkatnya ketergantungan fisik dan ekonomi pada orang lain, kecenderungan membentuk kontak sosial baru, mengembangkan keinginan dan minat baru, serta kegiatan untuk memanfaatkan waktu luang yang jumlahnya meningkat. Hal tersebut dapat tersirat maupun tersurat dalam aspek-aspek permasalahan yang dipaparkan di bawah ini:
1. Permasalahan Umum
Suardiman (2011: 9-15) menyebutkan beberapa masalah umum yang tidak bisa dihindari oleh kaum lansia, yakni:
a. Masalah Perubahan Fisik
1) Otak dan sistem syaraf
Saat sudah tua, kita kehilangan sejumlah neuron, unit-unit sel dasar dari sistem syaraf.Meskipun demikian, otak dapat cepat sembuh dan memperbaiki kemampuannya.
2) Perkembangan sensori
Sistem mengalami penurunan pada masa lansia, tetapi mayoritas dari kaum lansia memiliki penglihatan yang baik sehingga mereka dapat melanjutkan kerja dan berfungsi dalam lingkungan mereka. Penurunan pendengaran yang dialami bukanlah penghalang hingga masa lansia, karena alat bantu pendengaran dapat mengurangi masalah tersebut bagi sebagian kaum lansia.
3) Sistem peredaran darah
Fozard (1992) (Suardiman, 2011:2) menegaskan bahwa jantung yang sehat dapat menjadi lebih kuat selama kita menua melewati masa-masa lansia, dengan kapasitas yang meningkat, bukan menurun. Tekanan darah dapat meningkat sesuai usia, salah satunya disebabkan karena penyakit, obesitas, kecemasan, pengerasan pembuluh darah, atau kurang olahraga. Tekanan darah yang tinggi sebaiknya dirawat untuk mengurangi resiko serangan jantung, stroke, dan penyakit ginjal. 4) Sistem pernafasan
5) Seksualitas
Penuaan menyebabkan beberapa perubahan dalam kemampuan seksualitas manusia, lebih banyak pada laki-laki dari pada wanita. Meskipun demikian tidak diketahui batasan usia untuk aktivitas seksualitas.
Beberapa pendapat di atas dipandang oleh Hurlock (1980: 387) bahwa pada tahap lansia, keadaan fisik seseorang melemah dan tidak berdaya sehingga harus bergantung dengan orang lain.Selain itu, kaum lansia juga menentukan kondisi hidup yang sesuai dengan perubahan status ekonomi dan kondisi fisiknya. Dengan demikian, aspek kesehatan sangat mempengaruhi perubahan fisik yang terjadi pada kaum lansia. Meskipun kaum lansia mengalami kemunduran pada bagian tubuh, namun tidak berarti bahwa kaum lansia sepenuhnya bergantung pada orang lain. Perubahan fisik yang terjadi pada tahap lansia, dapat disikapi dengan cara membiasakan hidup sehat, latihan-latihan kecil sesuai dengan kebutuhan tubuh, agar masa tua bukan halangan untuk mencapai kebahagiaan.
b. Masalah Kesehatan
2. Masalah Psikologis
Suardiman (2011: 15) menjelaskan masalah psikologis yang dihadapi kaum lansia secara umum meliputi: kesepian, terasing dari lingkungan, ketidakberdayaan, perasaan tidak berguna, kurang percaya diri, ketergantungan, keterlantaran terutama bagi kaum lansia yang miskin, dan post power syndroume. Kebutuhan psikologis merupakan kebutuhan akan rasa aman (the safety needs); kebutuhan akan rasa memiliki dan dimiliki serta akan kasih sayang (the bilongingness and love needs); dan kebutuhan akan aktualisasi diri (the deed for
self actualization).
Pernyataan ini senada dengan pendapat Darmojo (2009) mengenai kesehatan mengatakan,tidak jarang para lansia terpuruk dalam masalah kesehatan jiwa.Berikut ini masalah kesehatan jiwa kaum lansia yang dipaparkan oleh Darmojo, antara lain:
a. Dukacita (bereavement)
b. Depresi
Depresi bukan merupakan suatu keadaan yang disebabkan oleh patologi tinggal, tetapi biasanya bersifat multifaktorial.Usia lanjut senantiasa menghadapi stres lingkungan yang sering menyebabkan depresi dan kemampuan beradaptasi sudah menurun, akibat depresi pada usia lanjut seringkali tidak sebaik pada usia muda.
c. Gangguan cemas
Gangguan cemas dibagi atas beberapa golongan, yaitu fobia, panik, kecemasan secara umum, dan obsesif-kompulsif. Puncak insiden antara usia 20-40 tahun, dan prevalansi pada lansia lebih kecil dibandingkan pada dewasa muda. Gangguan cemas pada usia lanjut ini seringkali merupakan kelanjutan dari dewasa muda.
d. Psikosis pada usia lanjut
Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat (200:178) menegaskan, berbagai bentuk psikosis bisa terdapat pada kaum lansia, baik sebagai kelanjutan keadaan pada dewasa muda atau yang timbul saat lansia. Dasar dan jenis penatalaksanaannya hampir tidak berbeda dengan yang terdapat pada populasi dewasa muda. Walaupun beberapa jenis khusus dapat disinggung demikian:
membunuhnya.Biasanya terjadi pada individu yang terisolasi atau menarik diri dari kegiatan sosial.Sindroma diogenes adalah suatu keadaan dimana seorang lanjut usia menunjukkan penampilan dan prilaku yang sangat terganggu; rumah atau kamar yang sangat kotor, bercak, bau urin dan feses di mana-mana; tikus berkeliaran di kamar lansia, dan lain sebagainya. Penderita menumpuk barang-barangnya dengan tidak teratur.Individu kaum lansia yang menderita keadaan ini biasanya mempunyai IQ tinggi, 50 % kasus intelektualnya normal.Mereka biasanya menolak untuk dimasukkan ke institusi. Upaya untuk mengadakan pengaturan atau pembersihan rumah atau kamar, biasanya akan gagal karena setelah beberapa waktu hal tersebut akan terulang lagi.
e. Kaum lansia mengalami kebingungan
terdekatnya, menyebabkan seseorang merasa dirinya semakin tidak lagi dibutuhkan oleh lingkungan masyarakatnya. Hal ini kemudian cenderung menyeret perasaan kaum lansia ke arah ketidakbermaknaan diri.
Faktor penyebab timbulnya syndrome ini adalah karena kehilangan orang-orang yang terdekat, kemudian karena krisis peran sebagai orang-orang tua dalam keluarga.Dengan demikian, masalah-masalah yang dialami oleh kaum lansia adalah masalah fisik yang cenderung menurun, gangguan kesehatan, kehilangan pasangan hidup, menurunnya produktivitas dan kegiatan lainnya.Selain itu, penyesuaian diri terhadap peran baru yang harus dilakukan oleh kaum lansia, baik di dalam keluarga maupun di lingkungan masyarakat dan penyesuaian dimasa pensiun.
3. Masalah Sosial
Kesepian (lonetiness)juga dapat memacu munculnya afek negatif dalam diri seseorang, karena ia merasa dirinya diabaikan, tidak dipedulikan, dan tidak lagi bermakna bagi orang lain, sehingga mereka menarik diri dari lingkungan sosial.
Selain itu, hal yang berkaitan dengan pensiunan pun menjadi masalah dalam kehidupan sosial, khususnya kehidupan dalam keluarga. Artinya, sebagian kaum lansia sebenarnya menolak untuk pensiun dengan berbagai alasan, karena belum siap untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru sehingga dapat mengakibatkan stres bagi kaum lansia. Vaillant (2002) menyebutkan ada empat situasi yang menyebabkan para pensiunan mengalami stres (Suardiman, 2011: 134), yakni:
1) Apabila datangnya masa pensiun di luar keinginan dan tidak direncanakan. 2) Jika yang bersangkutan tidak memiliki dukungan/sumber lain kecuali gaji. 3) Pensiunan akan stres jika kehidupan di rumah tidak bahagia dan bekerja
memberikan makna sebagai tempat pelarian dari rumah.
4) Bila pensiun telah menimbulkan atau mempercepat hadirnya kondisi kesehatan yang buruk.
4. Masalah Ekonomi
berarti masa tuanya tidak produktif lagi dan berkurang atau bahkan tidak mempunyai penghasilan lagi. Sisi lain, kaum lansia dihadapkan kepada berbagai kebutuhan yang semakin meningkat, seperti kebutuhan akan makanan yang bergizi dan seimbang, pemeriksaan kesehatan secara rutin, perawatan bagi mereka yang menderita penyakit ketuaan, kebutuhan sosial dan rekreasi. Hal ini bagi kaum lansia yang berpenghasilan mencukupi tidak menjadi masalah, tetapi bagi mereka yang mempunyai penghasilan rendah, hal ini dapat menjadi masalah besar.
E. Masa Lansia yang Membahagiakan 1. Pengertian Kaum Lansia yang Bahagia
Selain itu, kebahagiaan menjadi tujuan utama bagi setiap individu.Artinya, kebahagiaan itu disertai dengan kepuasan.Keduanya perlu untuk dipenuhi dan saling berinteraksi. Kaum lansia akan merasa puas dan bahagia apabila mereka masih tetap aktif beraktifitas sesuai dengan kebutuhan mereka dan terpenuhinya kebutuhan hidup sehingga tetap sehat dan dapat menjalin relasi dengan sesama terlebih dengan Tuhan.
Lafrancois (1984) (Suardiman, 2011: 107) menyatakan, bahwa pada umumnya ada dua teori yang menjelaskan umur manusia yang menjadi dasar keberhasilan atau kebahagiaan kaum lansia, yakni:
a. Teori disengagement
Secara formal, teori ini diajukan oleh Cumming dan Hendry pada tahun 1961. Teori ini berpendapat bahwa semakin tinggi usia manusia akan diikuti secara berangsur-angsur oleh semakin mundurnya interaksi sosial, fisik dan emosi dengan kehidupan dunia. Individu mengundurkan diri karena kesadarannya akan menurunnya kekuatan secara fisik maupun psikis karena faktor usia. Sebaliknya masyarakat menarik diri karena mereka memerlukan orang yang lebih muda, yang lebih mandiri untuk menggantikan orang yang lebih tua.Dikatakan berhasil atau bahagia, karena kaum lansia sudah melewati masa kerjanya hingga pensiun(Suardiman, 2011: 175).
b. Teori activity, teori yang bertolak belakang dengan teori pertama
Seseorang yang tetap aktif, baik secara fisik, mental maupun sosial akan melakukan penyesuaian yang lebih baik seiring dengan bertambahnya usia. Keberhasilannya akan tampak apabila kaum lansia dapat menjaga lebih baik self image-nya, merasakan kepuasan yang lebih besar, dan dukungan sosial yang lebih
dari biasanya. Artinya, kepuasan hidup orang tua sangat tergantung pada kelangsungannya terlibat pada berbagai aktivitas. Sekalipun usia sudah lanjut, namun aktivitas tetap berlanjut.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebahagiaan Kaum Lansia
Seneca, (2002) (Suardiman, 2011: 181) berpendapat bahwa usia lanjut penuh kenikmatan jika anda tahu bagaimana memanfaatkannya (Old age is full enjoyment if you know how to use it).Pernyataan Seneca ini memang diyakini
kebenarannya, yakni menggembirakan bagi kaum lansia manapun, namun dalam kenyataannya tidak semua kaum lansia tahu bagaimana melaksanakannya.
Berk (2007) (Suardiman, 2011: 181) menyimpulkan tentang berbagai cara untuk menuju masa lansia yang membahagiakan:
a. Optimis serta perasaan efikasi diri (meyakini diri sendiri mampu berhasil dan sukses) dalam meningkatkan kesehatan dan fungsi fisik.
b. Optimisasi secara selektif dengan kompensasi untuk membangun keterbatasan energi fisik dan sumber kognitif sebesar-besarnya (selective optimization with
compensation).
c. Penerimaan diri dan memiliki harapan yang kuat.
d. Memperkuat pengertian dan pengaturan emosional diri, yang mendukung makna, dan menghadirkan ikatan sosial.
e. Menerima perubahan yang membantu perkembangan keputusan hidup. f. Peran spiritual dan keyakinan yang matang, harapan akan kematian dengan ketenangan dan kesabaran.
g. Kontrol pribadi dalam hal ketergantungan dan kemandirian. h. Kualitas hubungan yang tinggi, memberikan dukungan sosial dan persahabatan yang menyenangkan.
Topik yang menarik pula dalam penelitian pada kelompok kaum lansia, yaitu tentang penyesuaian diri dan kepuasan hidup. Konsep penyesuaian diri dikemukakan oleh Cavan, Burgess, Havighurst, dan Goldhammer (1949) dan dikutip oleh Suardiman (2011: 193) menyatakan bahwa bentuk penyesuaian itu adalah perubahan lingkungan tempat tinggal dari desa ke kota dan pelepasan peran kerja karena pensiun. Sedangkan, kepuasan hidup mengarah kepada kesejahteraan hidup secara keseluruhan (umum).Kepuasan hidup digunakan sebagai indeks kesejahteraan bagi kaum lansia. Kepuasan itu mencakup pendapatan, kesehatan, gaya hidup aktif, jaringan komunikasi dengan teman dan keluarga. Jika semuanya ini baik dan lancar, maka akan menghadirkan kepuasan bagi kaum lansia, begitu juga sebaliknya.
Konsep kepuasan hidup oleh Dreyer (1989) yang mengacu kepada Suardiman (2011: 197) memiliki lima ciri utama, yaitu:
1) Semangat; memiliki energi untuk berpartisipasi dalam berbagai wilayah kehidupan, suka mengerjakan sesuatu, dan antusias.
2) Resolusi dan keteguhan; menerima tanggung jawab sebagai milik kehidupan pribadinya.
3) Keselarasan antara keinginan dan tujuan (congruence) yang dicapai; perasaan bahwa sesuatu telah diselesaikan seperti yang diinginkan.
4) Konsep diri yang positif; berfikir tentang dirinya sebagai seseorang yang berharga.
Kaum lansia berhasil atau bahagia difasilitasi oleh konteks sosial yang memberi peluang para kaum lansia untuk mengelola perubahan hidupnya secara efektif.Kaum lansia memerlukan perencanaan jaminan sosial yang baik, layanan kesehatan yang baik, perumahan yang aman, dan layanan sosial lainnya. Akhirnya, orang berada pada usia terbaik bila mereka dapat memelihara kemampuan mengontrol hidupnya (Suardiman, 2011: 183).
3. Upaya untuk Menciptakan Kebahagiaan Kaum Lansia
Kaum lansia akan merasa senang, berbesar hati, percaya diri, bila dirinya dibutuhkan oleh orang lain. Hal yang bisa diberikan oleh lansia dapat berupa materi, uang, nasehat, petuah, saran, pertimbangan yang sangat diperlukan serta doa restunya yang selalu diharapkan bagi mereka yang paling muda. Perasaan bahwa dirinya masih berguna perlu dibangun terutama oleh kaum lansia sendiri. Selain itu, dukungan keluarga sangat diperlukan agar mereka merasa berguna. Bentuk dukungan dan perhatian keluarga terhadap kaum lansia, misalnya:
a. Memberi kesempatan pada kaum lansia, memfasilitasi, membantu dan mendukung kegiatan yang dilakukan dan disukai mereka terhadap kegiatan-kegiatan yang tidak berisiko dan bukan melarang, menolak atau menghambat. b. Perlu adanya pengawasan jika kegiatannya cenderung berisiko agar tidak menimbulkan bahaya, misalnya suka membakar sampah, mengendarai motor, menyupir sendiri.
d. Keluarga bisa aktif menciptakan suatu kegiatan yang dapat membuat mereka merasa berguna, seperti menjemput cucu dari sekolah, mendampingi cucu belajar, mendongeng.
e. Memberikan motivasi untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan di luar rumah (kegiatan sosial, keagamaan).
Kaum lansia yang tidak berdaya atau jompo cenderung merasa tidak berguna dan menjadi beban bagi keluarganya.Kondisi seperti ini menuntut kepedulian dari orang-orang terdekat khususnya kaum keluarga. Kepedulian mengandung makna bahwa di luar diri kita ada orang lain yang perlu diperhatikan. Sikap dan perilaku keluarga kepada kaum lansia menjadi teladan dan cermin bagi generasi muda, bagaimana mereka kelak memperlakukan orang tua.Sikap dan perilaku kita kepada orang tua merupakan gambaran bagi kita bagaimana kita kelak diperlakukan oleh anak.Anak jaminan hari tua sampai sekarang masih berlaku, kecuali bagi mereka yang memilih hidup tidak menikah.
Bila kaum lansia yang sudah tidak berdaya (jompo) tidak memiliki keluarga, maka kewajiban tetangga dan lingkungan sekitar, yaitu perlu memberikan perhatian.Kaum lansia tersebut juga bisa dikirim ke panti werdha agar memperoleh perawatan yang lebih baik.
4. Kesiapan Kaum Lansia dalam Menghadapi Kematian
BAB III
GAMBARAN UMUM MODEL PENDAMPINGAN IMAN KAUM LANSIA
A. Model Pendampingan Iman Kaum Lansia
1. Pengertian Model Pendampingan Iman Kaum Lansia
Model adalah contoh, acuan, pola dari sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan, Badudu (1996: 904). Sedangkan kata pendampingan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata “Damping” yang mempunyai arti dekat. Damping dalam arti tertentu juga berarti “Persaudaraan”. Kata pendampingan
berarti usaha untuk menemani orang lain sehingga orang lain tersebut mampu bertumbuh dan berkembang.
Merurut Milton Mayeroff, (1993: 15) mendampingi berarti menolong orang lain menumbuhkan dan mengaktualisasikan dirinya secara penuh. Pendampingan dilakukansebagai usaha untuk membantu orang lain dalam mencari, menemukan dan memperkembangkan diri semaksimal mungkin.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan bahwa model pendampingan adalah bentuk usaha dalam membantu orang lain untuk berproses, sehingga mampu berkembang dan mandiri. Pendampingan di sini lebih diartikan sebagai suatu proses menuju kepada kematangan dan kemandirian pribadi. Sedangkan iman berdasarkan dokumen Konsili Vatikan II dan iman menurut pandangan Kitab Suci adalah sebagai berikut:
Dei Verbum art 5, dalam Dokumen Konsili Vatikan II oleh
sikap hati manusia kepada Allah, dengan mempersembahkan kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah. Sementara itu Injil Mat 9:27-31menunjuk iman sebagai penyerahan diri secara total kepada Allah. Sikap penyerahan diri ini terungkap dalam peristiwa penyembuhan.Yesus berkata, “Percayakah kamubahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab, “ya
Tuhan kami percaya” (Mat 9:27-31).
Dari kedua hal pokok tersebut di atas, maka dapat dirumuskan bahwa iman merupakan sikap hati manusia yang ingin menyerahkan diri secara total kepada Allah. Di sinilah terjadi bentuk relasi antara manusia dengan Allah yang sungguh istimewa karena di dalam relasi tersebut terkandung misteri-misteri cinta Allah kepada manusia.Cinta Allah yang mengantar dan membawa manusia menemukan keselamatan abadi sebagaimana yang dikehendaki-Nya.Pendapat ini juga diperkuat oleh Darminta, (1995: 29) yang mengatakan bahwa iman adalah jawaban manusia atas sapaan kasih Allah yang mengerakkan pikiran dan hati manusia untuk menanggapi dan menjawab.Iman berarti menyerahkan diri pada sapaan Allah. Dari situ muncul pengenalan akan Allah, yang semakin memperdalam hubungan kasih antara Allah dan manusia.
Berdasarkan pengertian iman dan pendampingan di atas maka dapat dirumuskan pendampingan iman lansia adalah usaha untuk membantu para lansia dalam mengembangkan imannya agar mereka memiliki kematangan iman.
Pendampingan iman lansia dimaksudkan untuk membantu para lansia semakin mengenal diri sendiri. Selanjutnya diharapkan para lansia akan dapat memusatkan hidupnya secara sadar dan jujur dalam kehendak dan karya Allah, sehingga dapat memperoleh keselamatan abadi. Pendampingan iman lansia menjadi tempat dialog bagi setiap lansia untuk semakin mampu menyadari dan menanggapi cinta kasih Allah yang tak-terbatas.
1. Tujuan Pendampingan Iman Kaum Lansia
Ada pun yang menjadi tujuan pendampingan iman bagi kaum lansia adalah agar mereka memiliki kematangan iman, sehingga dengan imannya mereka mampu menyerahkan diri secara total kepada kehendak Allah.Iman pertama-tama bukanlah berarti penerimaan, tetapi terlebih sikap hati manusia dalam menanggapi cinta kasih Allah.
2. Manfaat Pendampingan Iman Bagi Kaum Lansia
tingkat lansia. Berikut ini akan dipaparkan tentang manfaat pendampingan iman bagi lansia, yakni:
a. Agar para kaum lansia semakin memiliki iman yang tangguh dalam menjalani masa tuanya.
b. Supaya para kaumlansia siap dalam menjalani masa tuanya dan mengisi hari-hari hidupnya dengan penuh makna dan sukacita.
c. Supaya para kaumlansia menyadari bahwa hidup ini adalah sebagai hadiah Allah.
d. Supaya para kaumlansia mampu mensyukuri bahwa dimasa usia lanjut mengalami kepribadian yang semakin berkembang, menjadi semakin utuh dan arif melalui pasang surutnya hidup.
e. Supaya para kaumlansia mengalami kasih Allah yang utuh melalui perhatian dari Gereja, yakni semua yang terlibat dan bertanggung jawab atas kelangsungan hidup mereka.
f. Supaya kaumlansia tidak mudah putus asa dalam menghadapi tantangan hidupnya, tetapi semakin yakin akan kasih Allah yang menguatkan melalui orang-orang disekitarnya.
g. Agarkaumlansia memiliki kesiapan jiwa, semakin mendekatkan diri dengan Allah dan berpasrah, sehingga ia mampu menerima masa tuanya dengan tulus bukan sebagai beban hidup.
4. Syarat-syarat Pendampingan Iman
Pendampingan adalah usaha membantu orang lain untuk berproses, sehingga mampu berkembang dan mandiri. Pendampingan di sini lebih diartikan sebagai suatu proses menuju kepada kematangan dan kemandirian pribadi. Milton Mayeroff, (1993: 25, 29-40), menjelaskan beberapa syarat utama dalam pendampingan, yakni sebagai berikut:
a. Memiliki kesabaran
Kesabaran adalah syarat utama dalam pendampingan. Dengan kesabaran kita membantu orang lain bertumbuh menurut saat dan caranya sendiri (bertumbuh secara bebas), serta dapat menemukan jati dirinya sendiri sesuai dengan saat yang tepat.
Sabar bukan berarti menunggu secara pasif, tetapi salah satu bentuk partisipasi dengan orang lain, dimana kita memberikan diri secara penuh. Bentuk kesabaran tersebut seperti: sabar mendengarkan keluh kesah mereka. Bisa hadir bersama mereka, kita memberikan tempat kepadanya untuk berpikir dan merasakan pengalamannya secara utuh.
b. Memiliki pengetahuan
Kita terkadang berbicara seolah-olah pendampingan itu tidak menuntut pengetahuan.Ada yang mengatakan bahwa pendampingan itu hanya merupakan suatu keinginan baik, kepedulian dan kehangatan. Tetapi sesungguhnya agar kita dapat mendampingi orang lain dengan baik, perlu mengetahui apa yang menjadi kebutuhan mereka, agar kita mampu menanggapi kebutuhan tersebut. Dengan demikian boleh dikatakan bahwa pendampingan itu mencakup pengetahuan tentang keadaan lansia dengan bertambahnya usia apakah kesehatannya baik atau tidak, persoalan-persoalan yang mereka hadapi, latarbelakang mereka.
Pengetahuan itu juga menyangkut harapan-harapan serta kerinduan untuk kehidupan yang akan datang, secara khusus bagi lansia yang didampingi.Informasi yang diperoleh dari masing-masing lansia itu, akan memudahkan kita untuk mendampingi dan menolongmereka untuk semakin bertumbuh dalam iman.
c. Memiliki ketulusan hati
Ketulusan hati dalam proses pendampingan merupakan sesuatu yang positif, karena ketulusan hati dalam hal ini tidak hanya berhubungan dengan masalah “tidak melalukan, mengatakan sesuatu, atau membohongi orang lain”
harus bisa melihat dan menerima diri sendiri apa adanya, dengan kata lain kita harus membuka diri untuk orang lain.
d. Memiliki sikap percaya
Pendampingan melibatkan sikap mempercayai orang lain bertumbuh menurut waktu dan caranya sendiri, hal ini berarti menghargai keberadaan orang lain secara bebas. Kita percaya bahwa semua orang pernah melakukan kesalahan tertentu, namun kita juga mempercayai bahwa seseorang dapat belajar dari kesalahan tersebut.Kesadaran bahwa orang yang didampingi merasa “dipercayai”
dapat menumbuhkan rasa percaya diri dalam dirinya. Mempercayai orang lain berarti membiarkan dia menjadi otonom, termasuk di dalamnya apabila mereka mengalami risiko dan memasuki keadaan yang tidak menentu; dan memang semuannya ini membutuhkan keberanian tersendiri.
e. Memiliki sikap rendah hati
Sikap kerendahan hati merupakan kesediaan, keinginan dan kesiapan untuk selalu belajar tentang orang lain dan dirinya sendiri serta hal-hal yang muncul dalam pendampingan. Kerendahan hati tampak dalam pendampingan melalui sikap peduli terhadap pendampingan orang lain, tidak sombong atau menyembunyikan diri, maka pendampingan melibatkan proses pengenalan yang berkesinambungan kepada orang lain. Kita juga membutuhkan sikap terbuka dan mau belajar dari orang lain, karena kerendahan hati merupakan bagian dari kesadaran bahwa pendampingan yang saya lakukan bukan merupakan suatu hak istimewa yang kita miliki.
f. Mempunyai Harapan yang Kuat
Dalam pendampingan kita harus mempunyai harapan bahwa “orang lain”
akan bertumbuh melalui pendampingan kita. Harapan dalam proses pendampingan tidak sama dengan khayalan atau keinginan tentang masa depan yang sulit untuk dilaksanakan. Harapan merupakan perwujudan dari sebuah keyakinan teguh akan adanya kemungkinan-kemungkinan. Harapan semacam ini menumbuhkan semangat dan mengaktifkan kekuatan batin kita, bukan merupakan penantian pasif pada sesuatu yang akan terjadi. Hal ini bukan sekedar mengharapkan orang lain, namun mengharapkan wujud nyata “orang lain”
g. Memiliki sikap keberanian
Keberanian muncul dalam perjalanan menuju situasi yang tidak dikenal. Keberanian dalam hal ini bukanlah keberanian buta, namun keberanian yang diwarnai oleh pemahaman akan pengalaman masa lalu, dan terbuka serta sensitif kepada kepercayaan orang lain untuk bertumbuh dan kepada kemampuan diri sendiri untuk mendampingi akan memberikan keberanian untuk memasuki situasi asing. Situasi asing memunculkan kepercayaan dan keberanian, semakin besar keinginan kita untuk memasuki situasi yang asing makin besar pula keberanian yang kita butuhkan dalam pendampingan.
B. Berbagai Bentuk Pendampingan Bagi Kaum Lansia 1. Devosi
a. Pengertian Devosi
Haryono (2011: 18),menyebutkan bahwa istilah devosi digunakan untuk menjelaskan beragam praktek eksternal sepertidoa, himne, mengunjungi tempat tertentu dan waktu tertentu, medali, kebiasaan serta adat istiadat. Melalui devosi umat Katolik memiliki kemampuan untuk membuat sintesis kehidupan, yakni menggabungkan secara penuh antara yang illahi dan yang manusiawi, Kristus dan Maria, roh dan tubuh, persekutuan dan institusi, pribadi dan persekutuan, iman dan tanah air, akal budi dan perasaan.
dalam berbagai bentuk kesalehan yang menyertai kehidupan Gereja.Bentuk yang dimaksud adalah penghormatan relikui, kunjungan tempat-tempat kudus, ziarah dan prosesi, jalan salib, Rosario, dan medali.Devosi yang telah dipraktekkan secara tulus dan dengan semangat yang menyentuh hati itu telah memberikan sumbangan besar bagi Gereja.
Devosi dalam bentuk lahiriahnya dimengerti sebagai rangkaian doa, beragam praktik dan ekspresi. Namun dalam bahasa Latin devotion menggambarkan sikap internal dan berarti pula pengudusan, kepasrahan, dedikasi, kemauan dan kesiapsediaan mengungkapkan semua yang dimiliki demi pelayanan Allah.Kita mencatat dua sisi yang penting, yakni devosi eksternal (rangkaian doa-doa) dan devosi internal (kepasrahan kepada Allah).Harapannya kedua sisi ini berjalan bersama.Artinya sikap batin internal mesti menjadi dasar dari devosi.Devosi yang dijalankan semestinya mengarah kepada kepasrahan yang mendalam dan dedikasi seutuhnya kepada Allah.
Garis besar
Dokumen terkait